Pertualangan Hyewon



 Hyewon the Stories Ch. 01 : Tergilirnya Aku 

Hyewon namaku, mahasiswi 20 tahun di salah satu universitas di Surabaya. Aku cenderung supel, senang tersenyum, periang dan aktif. Kata temanku aku adalah gadis kedua idola kelasku setelah Yungky, temanku. Aku berkulit putih dengan bibir tebal yang sensual, rambutku panjang dan berkilau dengan bau shampoo yang wangi. Aku sangat menjaga pakaianku, meski cukup sulit menemukan pakaian yang tidak menonjolkan payudaraku yg berukuran 36B. Kesalahanku adalah aku terlalu supel dan cepat dekat dengan laki-laki tanpa memikirkan bahwa mungkin saja mereka memiliki niat jahat. dan itulah yang terjadi. Siang itu teman akrab sekelasku (yang sudah kuanggap sebagai kakak sendiri) yang bernama Taufik mampir ke kostku. seperti biasanya, saat siang keadaan kostku sangatlah sepi. saat itu aku sedang tidak ada kuliah, jadi aku sendiri di kost. Taufik mengucapkan salam dan akupun membalasnya. Lalu kami ngobrol di ruang tamu yg letaknya tidak jauhdari kamarku (kamarku paling depan). Setelah duduk, Taufik menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi juice alpukat, kesukaanku.

“tumben bawa ginian?” tanyaku. “ada acara apa nih?”
“nggak, cuman tadi abis ke warung juice sama Yogi dan faruk” jawabnya santai.

Akupun membuka minuman itu dan meminumnya. Taufik lantas mengeluarkan buku pelajaran dan duduk di sampingku sambil memintaku mengajarinya. Beberapa menit kemudian aku merasa agak gerah, langsung saja kuhabiskan es juice pemberian Mas taufik.
“panas ya?” kata mas Taufik, aku cuma mengangguk.
Rasa gerah itu lama-lama berubah menjadi sebuah perasaan yg aneh, tiba-tiba saja jantungku berpacu kencang.

Tiba-tiba tangan mas taufik menyentuh pundakku dan menarikku ke pundaknya. Entah apa yang ada dalam pikirkanku saat itu tapi badanku sangat lemas dan sulit digerakkan. Belum habis heranku, tiba-tiba terasa gatal di sekitar kemaluanku, kemaluanku teras panas, dan aku dapat merasakan putingku mulai mengeras.

Tanpa menunggu jawabanku, mas Taufik sudah mencium pipiku dan lalu semakin mendekat ke bibirku hingga akhirnya dia melumat bibirku. aku tidak bisa bergerak aku hanya memalingkan wajah begitu mas Taufik menghentikan cumbuannya. Tanpa banyak kata tangan Mas Taufik turun ke payudaraku yg masih terbungkus pakaianku dan mulai meremasnya.



“jangan…” kataku lemas, tanganku mencoba menahan tangannya namun tidak bertenaga sama sekali… sedangkan di vaginaku terasa semakin panas dan gatal, putingku terasa semakin mengeras.

Perasaan aneh yang nikmat mulai terasa seiring dengan remasan remasan Mas Taufik di dadaku. Aku mencoba menggerakkan diriku tapi benar-benar  tidak mampu. Mas Taufik meneruskan remasannya sambil tangan satunya mencopoti kancing depan kemejaku. dalam hitungan menit, tangannya menyelusup ke dalam bajuku dan terus ke dalam Bra-ku, kini Mas Taufik menyentuh payudaraku langsung. Tanpa sadar aku mendesah lirih dan badanku terangkat saat Mas Taufik menyentuh dan mulai meremas payudaraku secara langsung. Kembali bibirku dilumatnya dan semakin ganas, aku mulai terbawa. Tanpa sadar aku membalas ciumannya, melupakan bahwa ini semua tidak benar. jari jemarinya memilin-milin kecil putingku hingga aku benar-benar  terangsang. Tanpa bicara dia lalu mengeluarkan payudara kananku dari sarangnya lalu mendekatkan wajahnya ke payudaraku.

“engg…”   hanya itu yang keluar dari bibirku saat Mas Taufik mulai mengulum puting kananku, menghisapnya kencang dan menjilatinya, mataku terpejam pasrah saat Mas Taufik memainkan lidahnya dan menghisap puting kananku. Hanya nikmat yang ada di dalam kepalaku hingga aku tak sadar saat mas Taufik membuka resleting jeansku.

Rasa nikmat itu semakin hebat seiring dengan erangan tertahanku saat Mas Taufik menyusupkan tangannya dan memainkan jemarinya di kemaluanku, aku benar-benar basah di bawah sana… mataku semakin terpejam, nafasku semakin tak beraturan. Aku memang tipikal yang mudah terangsang. Perlahan tapi pasti Mas Taufik menanggalkan jeansku hingga selutut, lalu menurunkan celana dalamku. kini tangannya semakin leluasa bermain-main di permukaan bibir vaginaku, sesekali menyentuh klitorisku, membuatku semakin merasakan nikmat. Wajahku semakin memerah karena terangsang.
“jangan disini” ujar Mas Taufik tiba-tiba. “nanti kelihatan orang, kita ke kamarmu saja” Dan tanpa basa-basi lagi Mas Taufik menuntunku (yang sudah sangat lemas dan terangsang) ke dalam kamarku.
Kamarku tidak memiliki daun pintu, hanya ditutup kain kelambu, itu kamar paling depan dan akses ke ruang tamu paling cepat, itu sebabnya aku memilih kamar itu, meski tidak ada pintunya. soalnya teman-temanku sering datang berkunjung. Di kamar, Mas Taufik tidak menunggu lama, dia merebahkanku di ranjang dan mulai menanggalkan jeansku dan menarik lepas celana dalamku , hingga dia dapat melihat dengan jelas vaginaku yg sudah basah. Kemejaku di singkap dan Bra-ku dinaikkan


 

sehingga kedua payudaraku juga terpampang jelas, dia mengecup dan memainkan lidahnya di payudaraku, menghisap-hisap putingku hingga aku lebih sering lagi mendesah. Beberapa menit melakukan itu, dia melepas celana panjangnya berikut CDnya. dan inilah pertama kalinya aku menyaksikan penis laki-laki. Mas Taufik meraih tanganku,  menuntunnya ke kemaluannya dan memintaku mengocoknya. aku belum tau harus bagaimana jadi yang aku lakukan malah meremas-remasnya. Tak lama kemudian Mas Taufik naik ke ranjang,  meregangkan kedua kakiku dan menggesek-gesekkan kemaluannya ke vaginaku, aku merasa sangat nikmat, detik berikutnya dia mulai mengarahkan penisnya dan melakukan penetrasi.
“AAGGHH!!!” aku tersentak karena sakit yang luar biasa! tiba-tiba kesadaranku pulih! aku mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku, tapi dia malah menahanku dengan menindihkan tubuhnya padaku!.

“ooggh!!” ujarku, penis itu terasa masuk perlahan dan semakin dalam, “jangan!!! sudah mas! jangan!” pintaku sambil meronta dan menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Ssstoop..AAKKHH!!!….”, Mas Taufik terus menekan-nekankan penisnya hingga benar-benar amblas. Aku menangis sambil terus berusaha mendorong tubuh Mas Taufik yang menindihku. Tanpa banyak kata, Mas Taufik mulai menarik kembali penisnya dan membenamkannya lebih dalam lagi. aku kembali tersentak.
“Hmmmpphh!!” desahku.

Mas Taufik melakukannya berulang-ulang sambil terus menahan tubuhku yang berontak, dia menggejotku semakin cepat dan cepat, tiba-tiba tirai pintu kamarku terbuka, kontan aku terkejut sambil menoleh dan aku  melihat dua teman sekelasku yang lain Yogi dan Faruk masuk ke kamarku.
bisa juga ternyata Hyewon dientot” komentar Yogi sambil tersenyum melihat Taufik yang menggenjotku makin keras. Aku mulai menangis sambil mengerang-erang merasakan sakitnya tusukan demi tusukan penis Mas Taufik.



“hebat kamu fik, bisa juga Hyewon kamu pake tambah Faruk.
Aku meronta tapi tak ada tenaga, Taufik mempercepat gerakannya, Yogi dan faruk duduk di kursi kecil di tepi ranjangku, menyaksikan Taufik yang semakin kencang menggenjotku, tiba-tiba ada suara langkah dari ruang tamu, lantas terdengar suara wanita dewasa, Ibu Kost! pikirku setengah panik, aku berusaha menahan desahan dan eranganku sebisa mungkin. Mengetahui itu, Mas Taufik bukannya memperlambat malah mempercepat genjotannya. Untung saja setelah itu terdengar langkah menjauh disusul pintu ditutup. Ibu kost menutup pintu rumah kost.

Rasa sakitnya mulai berkurang dan berganti dengan sensasi geli nikmat yang aneh. Sepertinya vaginaku sudah bisa beradaptasi dengan penis Mas Taufik. Namun genjotan kasar Mas Taufik membuatku tidak bisa menikmati, apalagi Yogi dan Faruk dengan santainya menonton live show ini.

“Enggh…” erangku saat tiba-tiba Mas Taufik mencabut penisnya dan mengeluarkan cairan putih kental di atas perutku.
Aku berusaha bangkit tapi Yogi dan faruk (yang entah kapan mereka melepas pakaian mereka) menekan tubuhku hingga aku terbaring kembali.
“jangan…. jangan… yog…. sudah…” ucapku sambil menangis lemas.
Tubuhku sudah sangat lemas dan entah mengapa rasanya libidoku masih tinggi.

“Emmh…ssempitnya vaginamu Won…” ujar Yogi sambil menggerakkan penisnya keluar masuk perlahan, menikmati gesekan-gesekan dinding vaginaku. Aku masih belum berhenti menangis.
“jangan dibuang didalam” ujar Taufik (yang sudah kembali berpakaian) “siapa tau dia dalam kondisi subur” tambahnya sambil ngeloyor keluar kamar.
Faruk yang dari tadi meremas-remas payudaraku mulai mendudukkanku dan menanggalkan kemejaku diikuti Bra ku. Kini aku benar-benar bugil total di depan mereka. Dengan penis Yogi mengaduk-aduk liang vaginaku.



“Ooh… cantiknya kamu Won…”  ujar Yogi sambil mempercepat genjotannya. Kali ini aku merasakan kenikmatan yang tadi tidak kudapatkan saat kehormatanku diambil Mas Taufik. Aku mendesah lirih, seiring dengan genjotan dan nafas Yogi yang terdengar sangat berat.

Yogi menggenjotku makin kencang, penisnya keluar masuk dengan cepat, tubuhku sampai sedikit terguncang. Tanpa bicara, Faruk menempelkan penis besar dan panjangnya ke bibirku dan memaksaku mengoralnya. aku menolak, tapi dia menekan terus, hingga akhirnya penisnya bisa masuk, dia menggoyangkan penisnya searah.

“ooh… enak mulutmu Won… pake lidah Won…” ujar Faruk tanpa memperdulikan penolakanku dan terus memompa mulutku. Sementara dibawah sana Yogi terus menggenjotku.
Tiba-tiba Yogi mencabut penisnya dan memberi isyarat pada Faruk, mereka berganti posisi. Aku benar-benar pasrah saat Faruk melesakkan penisnya ke vaginaku, ukurannya sangat besar hingga akumerasa ngilu, kembali aku menangis, aku digilir tiga orang sekaligus!!. Yogi mendekatkan penisnya ke mulutku, mengocoknya dan memasukkanya ke mulutku dengan paksa.

“HMMPPHH!!!” jeritku tertahan saat dengan tiba-tiba kurasakan penis Yogi menyemburkan cairannya. Aku berusaha melepaskan penisnya dari mulutku tapi Yogi menahan kuat kepalaku dan malah memasukkan penisnya semakin dalam. Apalagi saat itu Faruk memutar-mutarkan penisnya di dalam vaginaku, membuat aku tak bisa berkosentrasi. Yogi membiarkan penisnya cukup lama hingga terpaksa aku menelan seluruh spermanya. Rasa asin dan aneh menempel di lidahku. Setelah yakin aku sudah menelan semua spermanya dia mencabut penisnya dari mulutku dan duduk di kursi sambil melihat Faruk yang mengerjaiku.

Faruk mengangkat kedua kakiku dan menyandarkannya di bahunya lalu memasukkan penisnya hingga amblas seluruhnya!. Penis faruk jauh lebih panjang dan lebih besar dibandingkan penis Yogi maupun Mas Taufik membuat tubuhku tersentak.

“Auungghh!!!!….”erangku saat Faruk melesakkan seluruh penisnya. Faruk mulai menggenjotku pelan tapi pasti. Membuat ngilu di vaginaku berangsur-angsur berubah menjadi rasa nikmat. Kenikmatan-kenikmatan itu semakin terasa setiap Faruk melesakkan penisnya.

 

“Aach… sssh… mmmh….” Erangku dengan mata terpejam menikmati genjotan Faruk. Aku benar-benar lupa kalau ini adalah perkosaan. Aku terbuai dengan genjotan-genjotan penis Faruk. Kenikmatan itu semakin terasa hingga…

“NGGGHHHHHHHHOOHHH!!” aku menjerit tertahan, tubuhku terlonjak, kakiku jatuh dari bahu Faruk dan aku memeluk Faruk, gelombang itu datang lagi dan aku tanpa sadar mencengkeram bahu Faruk hingga terluka.

Beberapa detik aku terpejam, rasa hangat terasa di liang vaginaku. Setelah itu badanku melemas. Faruk mempercepat genjotannya.

“engh… hh…hhh…hhhh….” Nafasku yang benar-benar lemas saat Faruk menggenjotku. Tidak lama kemudian Faruk membalikkan tubuhku dan mengangkat punggungku hingga aku bertumpu pada dua siku tanganku. Dengan kasar Faruk melesakkan penisnya dari belakang, tangannya menggenggam pinggangku dan menhadikannya tumpuan dari pompaan penisnya ke vaginaku. Rasa nikmat itu muncul lagi….

“Oouchh…ssh…. Aaahh..ahha..ach…” aku menikmati kenikmatan pompaan penis Faruk yang semakin cepat. Bunyi alat kelamin kami yang beradu semakin terdengar kencang. Faruk menindihku dari belakang. Aku yang telungkup dan dia semakin brutal memasukkan penis panjangnya itu dari belakang.

“eengh…sseh…sssh…MMMMPPHH!!!!….” tubuhku bergetar. Aku mencapai orgasme keduaku. Faruk membiarkanku menikmati orgasmeku sebelum kembali memompaku dengan kasar. Tulang-tulangku rasanya seperti dilolosi… aku sudah benar-benar lemas.

“AAAAGGHH!!” jeritku saat satu Faruk menghentakkan penisnya dalam satu hentakan keras dan dalam. Faruk menggeram dan sedetik kemudian kurasakan penisnya berdenyut…

Aku terlambat bereaksi, saat aku sadar apa yang akan terjadi, saat itu penis Faruk sudah bergetar dan menyemburkan cairan-cairannya. Membuat vaginaku terasa hangat. Aku tersentak dan kontan mulai menangis… Aku tak bisa membayangkan kalau harus hamil!!.

“mending kamu langsung cuci  di kamar mandi biar sperma itu keluar deh Won…” ujar Faruk santai sambil mencabut penisnya.

Aku terisak semakin keras dan segera berlari keluar kamar menuju kamar mandi. Cairan kental putih terlihat menetes dari vaginaku. Taufik keheranan melihatku berlari telanjang ke kamar mandi sambil menangis. Aku tak peduli, aku langsung jongkok dan menyiram  vaginaku dengan shower hingga aku yakin semua cairan sperma Faruk benar-benar keluar. Saat aku kembali ke kamar, mereka bertiga sudah ada di ruang tamu. Untunglah saat itu sedang liburan kuliah, jadi semua anak kost sedang pulang kampung. Aku masuk ke dalam kamarku dan menangis sejadi-jadinya.

“Orgasme dua kali ya Won??”  Taufik bicara dari pintu kamarku. Aku tidak menghiraukannya dan terus terisak dengan tangisanku. Lalu kurasakan Mas Taufik duduk di ranjangku dan menarik tubuh telanjangku hingga menghadapnya.

“Nih…” katanya sambil tersenyum dan menunjukkan sebuah video di HPnya. ASTAGA!! Rupanya Yogi tadi merekamku saat digauli oleh Faruk. Apalagi dia sengaja mengclose-up wajahku saat aku orgasme!!!. Aku berusaha merebut HP itu tapi Mas Taufik dengan cekatan melemparnya ke Yogi yang juga sudah berada di kamar.

“kalau ga mau keluargamu tahu lebih baik diam dan besok layani kami lagi” ujar Mas Taufik dengan nada mengancam. “lagipula aku kan belum ngerasain isepanmu Won” tambahnya sambil beranjak pergi diikuti Yogi dan Faruk. Aku hanya bisa menangis dan menangis, vaginaku terasa panas dan ngilu. Setelah insiden itu, aku harus siap untuk dipakai mereka lagi. yang paling aku sesalkan adalah jumlah mereka terus bertambah dan berganti-ganti saat menggilirku, aku jadi budak seks mereka.. Ternyata bukan hanya aku korban mereka, satu sahabat baikku Yungky (pacar Taufik sendiri) diperawani dan digarap oleh cowok satu kelas saat berlibur di Villa Malang dulu.

*************

Hyewon the Stories Ch. 02: Road to Malang

 


Huda, si anak orang kaya masih menyodok vaginaku dalam posisi Doggy Style, desahan-desahan kecil keluar dari mulutku seiring keluar masuknya penisnya di vaginaku. Desahan nafas huda terdengar makin cepat, cengkeraman tangannya semakin kencang di kedua payudaraku.  Tak lama Huda mempererat goyangannya tangannya beralih mencengkeram pinggangku sambil memasukkan penisnya lebih dalam lagi.


“Engggh….” erangku pelan saat merasakan cairan sperma Huda yang hangat memenuhi liang senggamaku.

Ini adalah pertama kalinya Huda menyetubuhiku. Dengan ini, berarti semua pria di kelasku sudah pernah menyetubuhiku, menikmati tubuhku yang kencang ini. Tubuhku tersungkur lemas di lantai kamar Yogi yang dilapisi karpet warna hijau,


tanpa bicara sepatah katapun Huda mengambil tissue dan membersihkan ceceran sperma yang menetes di karpet, raut kepuasan terpancar dari wajahnya. Cowok kaya itu baru saja menikmati tubuhku, seorang gadis yang jadi idola kampus. Malam ini aku terpaksa (lagi) menginap di rumah Yogi, orang tuanya sedang ke rumah neneknya, jadi dia hanya tinggal dengan adik laki-lakinya yang saat ini kelas 2 SMU bernama Topan. Yang mana tanpa sepengetahuan Yogi sendiri, adiknya sering meniduriku kalau Yogi keluar,

Hyewon dan Topan ngesex diem2 di kamar, Topan tampak malu malu





bahkan pernah mengajak teman-temannya menunggangiku bersamaan. 

Hyewon digangbang dengan teman2 Topan

                                            


Kupaksakan kaki yang masih lemas untuk mengenakan kembali pakaianku, lalu keluar ke kamar mandi untuk mencuci tubuhku, seusai mandi aku meminum pil anti hamil, seperti malam-malam sebelumnya, untuk antisipasi agar aku tidak hamil jika besok ada yang menyetubuhiku.Huda sudah tidak terlihat lagi di kamar. Hanya Yogi yang dari awal menyaksikan langsung persetubuhanku dengan Huda duduk dan asyik mengedit hasil rekaman persetubuhanku dengan Huda barusan. Aku beranjak naik ke tempat tidur untuk beristirahat,  sebelum aq terlelap dalam tidur, Yogi sempat mengingatkan tentang camping bersama yang akan diadakan 2 hari dari sekarang, bersama anak-anak kelas C. Hanya 2 gadis dari kelas B yang diajak yaitu aku dan Yungky (yang juga telah menjadi budak seks mereka), jadi aku tahu sekali kalau aku akan jadi bahan pertukaran antar kelas.

———————————–
Catur membawakan tas punggungku dan menaruhnya ke dalam bak truk tentara yang akan menjadi sarana transportasi kita ke Malang. Sebenarnya tidak perlu menyewa truk, toh ini hanya camping biasa, bukan OSPEK. Anak-anak kelas C sibuk menaruh barang mereka di truk masing-masing, begitu pula kami. Siswa kelas C ada 55 orang, tapi yang saat ini ikut camping hanya sekitar 20 orang, 15 cowok dan 5 cewek. Sedangkan seluruh cowok kelas kami (kelas B) yang berjumlah 25 orang ikut semua, yang cewek hanya 4 orang, aku, Yungky, Adhelia dari kelas E dan Poppy dari kelas F. Entah bagaimana, tapi sepertinya Taufik dkk telah berhasil membuat mereka menjadi budak seks juga. Di antara pria kelas C ada seseorang yang bernama Agung, yang sering digosipkan menaruh hati padaku, setiap aku melewati kerumunan anak-anak kelas C pasti mereka menyebut nama Agung keras-keras. Agung berperawakan kecil dan pendek, kulitnya tidak terlalu gelap namun bibirnya sedikit monyong, benar=benar bukan seleraku. Dan sepertinya sebentar lagi dia akan ikut menikmati tubuhku.
“Oke Hyewon, Adhel ama Yungky ikut truk anak kelas C” komando Taufik. Aku sempat protes tapi mereka tidak peduli, sebagai gantinya, 4 cewek kelas C ikut truk kelas B. sepertinya mereka mau meraba-raba tubuh kami di sepanjang perjalanan nanti.
Walhasil aku sekarang duduk diantara cowok-cowok kelas C yang dengan sengaja menyentuh-nyentuh pantatku saat membantuku naik ke truk tadi. Dan dengan sengaja juga mereka mendudukkanku di sebelah Agung sambil menyorakinya. Agung memang pernah bilang ke teman-temannya kalau dia naksir aku sejak semester satu. Truk berjalan, akan makan waktu 3 jam untuk sampai di lokasi camping di Malang, aku dan Agung hanya mengobrol saja. Lalu Agung mulai memberanikan diri memegang tanganku, aku diam saja, Agung terlihat sangat kikuk. Yang lain mulai menyoraki Agung agar bertindak lebih jauh, Agung semakin bingung dan salah tingkah. Tidak sabar melihat sikap Agung, Anton, ketua kelas C yang bertubuh gemuk menghampiriku dan menarik tanganku sehingga aku berdiri.
“begini loh Gung!” ujar Anton sambil mendekap tubuhku dari belakang, tangan kanannya meremas-remas buah dadaku yang masih tertutup T-shirt.


“nih, terus diginiin” katanya sambil meletakkan tangan kirinya tepat di selangkanganku, lalu mulai menggerak-gerakkan jarinya dari luar rok selututku. Tak perlu waktu lama bagi libidoku untuk naik, aku memang paling tidak tahan bila daerah selangkangku dipermainkan. Apalagi saat itu semua mata di truk memandang ke arahku, menambah sensasi tersendiri bagiku. Secara refleks mataku terpejam dan aku mengeluarkan desahan halus tanda kenikmatan. Tiba-tiba Anton menghentikan aktifitasnya dan mendorongku jatuh ke pangkuan si Agung. “tuh! Gituin! Cepetan! Yang lain juga pengin!” ujar Anton sambil kembali duduk di tempatnya.

Aku kini duduk di pangkuan Agung, penisnya yang sudah tegang terasa sekali menonjol menyentuh pantatku. Tanpa banyak bicara dia meremas payudaraku dari luar, akupun menjatuhkan tubuhku pasrah dipangkuannya. Tidak perlu waktu lama bagi tangannya untuk menelusup ke balik Kaos dan BHku, meremas dan memain-mainkan putingku yang sudah dari tadi mengeras.


 

Aku memalingkan wajahku ke belakang dan bibir kamipun berpagutan, kecupan-kecupan berubah menjadi hisapan-hisapan sebelum akhirnya menjadi sapuan-sapuan lidah yang sangat menggebu-gebu. Tangan kanannya masih aktif dengan payudara kiriku sedang entah sejak kapan, tangan kirinya telah bermain menusuk-nusuk pamgkal pahaku yang masih tertutup celana dalam. Aku menjadi sangat horny, aku tidak tinggal diam, tangan kiriku meremas-remas tonjolan di celananya, tampaknya dia sangat menikmatinya. Aku sudah tidak tahan lagi, biasanya kalau sudah begini cowok di kelasku pasti sudah menyodorkan penisnya untuk ku oral. Tapi Agung tampak sangat polos.
“Aku isep ya?” akhirnya aku tidak tahan untuk tidak memintanya, Agung mengangguk dan melepas pelukannya, aku berdiri lalu berlutut di dekat selangkangannya, dan mulai membuka resleting celananya. Di sisi lain truk terdengar desahan keras, begitu kutoleh ternyata Adhelia dan Yungky sudah mulai dipakai bersamaan. Adhelia asal Madiun yang berwajah indo dengan badan sintal itu tersentak-sentak menerima genjotan Erik yang berkulit hitam sedang Yungky yang memang bunga kelas dengan wajah manis, tubuh langsing, kulit putih dan payudara kencang mengulum penis Dirman yang kurus tinggi sementara dibelakangnya Joko yang berbadan gemuk memompanya tanpa ampun. Aku jadi semakin horny melihatnya, maka begitu penis Agung yang lumayan panjang dan kurus itu keluar dari celananya aku segera mengocok dan memasukkannya ke dalam mulutku, kuhisap dan kukeluar-masukkan ke dalam mulutku dengan cepat, diiringi sapuan lidah dan ludahku.

“SShmmm… Owh… ennak Won isepanmu… mmhh….”  Agung mengerang keenakan sambil nafasnya terus memburu. Akhirnya setelah beberapa menit mengoral, Agung berdiri dan merebahkan tubuhku di kursi.
“aku nggak tahan Won, aku pakai kamu sekarang…” ujarnya dengan nafas tak teratur sambil tangannya menggulung rokku hingga ke pinggang, dan langsung melucuti celana dalamku, dia membuka celana dan celana dalamnya, lalu membimbing penisnya ke vaginaku yg sudah lumayan basah.

“EEngghh…” erangku. Dalam hitungan detik penisnya memasuki rongga kewanitaanku yang sudah basah, tubuhku menggelinjang sambil mendesah keras, detik berikutnya, dia mengeluar-masukkan penisnya dengan berirama dan sangat cepat, membuat erangan dan desahanku semakin cepat juga.
“akh akh ukh akh a…gung.. akh aaah… ssshh…” desahku mengimbangi goyangannya yang semakin cepat.
“uuuh… Won… vaginamu enak banget… ah… ah… nikmat…” ceracaunya sambil menggenjotku lebih kencang dan dalam, aku semakin menggeliat-geliat, desahanku jadi berubah menjadi sedikit berteriak. Luar biasa sekali, Agung mampu mempertahankan bahkan menambah kecepatan genjotannya dalam waktu cukup lama, kira-kira 15 menit, biasanya cowok-cowok kelasku sudah mulai tidak teratur irama genjotannya pada waktu segitu. Agung meletakkan kedua tangannya ke payudaraku yang berayun, menjadikan mereka daya tumpu genjotannya.

Hyewon dan Agung



“Aw…akh akh akh uh akh ah ahaaa ahaa akh…” desahku semakin kencang, aku hampir saja orgasme ketika kurasa Agung menghentikan genjotannya dan melesakkan penisnya lebih dalam.
“Ahhak…akh…” desisku saat penisnya menancap sangat dalam dan memuntahkan cairan hangatnya di rahimku. Sial pikirku, padahal aku hampir saja orgasme!!.
Melihat Agung telah mencapai ejakulasi, Anton (yang ternyata dari tadi memperhatikan) bergegas menarik tubuh Agung ke belakang. “Minggir loe! Lama amat dari tadi” katanya sambil menjauhkan Agung dariku. Tanpa banyak kata Anton mendekatiku dan melepas celana serta celana jeansnya. Penisnya yang kepalanya cukup besar di pegangnya dengan tangan kanan. Anton mengangkat kedua kakiku dan meregangkannya, hingga vaginaku yang sudah bercampur dengan cairan Anton terpampang jelas. Detik berikutnya aku mengerang saat kepala penisnya mulai menjarah liang senggamaku.
“augghm… ehm…” desahku. Anton menekan terus penisnya lambat-lambat hingga seluruh batangnya menyatu dengan vaginaku. Terlihat betul dia menikmati jepitan vaginaku.

“gila… bener-bener enak… hebat kamu Won” puji Anton sambil mulai menggenjotku.
“aah…akh..akh ekhm..uukh..hhh…sshhh” ceracauku saat penisnya keluar masuk dengan cepat. “augh..ugh…ugh…” jeritanku semakin kencang, begitu pula genjotan Anton. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk kembali larut dalam permainan seks, karena tadi aku sudah hampir orgasme.

Hyewon dan Anton

                                          
Wawan dan Satria bergerak menghampiri tubuhku yang sedang digenjot oleh Anton. Di tengah-tengah desahanku, dengan santai mereka membantuku duduk dan melepaskan T-shirtku diikuti BHku. Sementara Anton tidak menghentikan aksinya sama sekali, membuat tubuhku sedikit terlonjak-lonjak.
“kita gabung bro…” ujar Satria. “jadi lebih hot”.
Tubuhku direbahkan kembali, aku hanya menurut karena memang nafsuku sedang diujung tanduk. Sementara itu Anton semakin memasuk-masukkan penisnya semakin dalam, membuatku mengeluarkan teriakan-teriakan kecil.
Tidak lama kemudian Satria sudah menyodorkan penisnya ke mulutku dan memasukkannya. Sambil menikmati genjotan Anton, aku mengulum, menghisap, dan menyapu batang penis Satria sampai Satria mengerang-erang kenikmatan.
“Hmph! Hmph slurp slurp ehkmm… NGGGHHHH!!!!” tubuhku mengejang keras. Aku orgasme, Satria dan Anton menghentikan gerakan mereka ketika tahu aku mencapai orgasme. Setelah beberapa detik mengejang, aku kembali lemas. Anton mencabut penisnya lalu memberi isyarat pada Satria agar minggir. Begitu Satria minggir, Anton membalikkan tubuhku yang benar-benar sudah lemas, dan menarik pantatku, aku tahu yang dia inginkan, doggy style…
“Emmhh!!!…. akh!” jeritku saat penis Anton kembali menikmati vaginaku dari belakang.
Anton di belakang dan Satria di depan, dengan kedua tanganku bertumpu pada paha Satria Anton mengobok-obok vaginaku lagi. Dipegangnya pinggulku kencang, lalu digerak-gerakkannya dengan cepat, kembali jeritan-jeritan kecil keluar dari mulutku. Tapi jeritanku tidak lama, karena setelah itu, Satria yang penisnya tepat di wajahku, menarik kepalaku dan mengarahkan penisnya ke mulutku.

Anton menggoyangku maju-mundur, dan itu membuat penis Satria terkocok oleh mulutku. Dan semakin kencang genjotannya, semakin cepat juga penis satria terkocok. Benar saja, tidak sampai 2 menit kemudian, Satria mencengkeram kepalaku, memasukkan penis pendeknya dalam-dalam dan mengeluarkan spermanya ke dalam tenggorokanku. Aku mencoba menelan semuanya, tapi sebagian spermanya masih menetes ke daguku. Satria mencabut penisnya dan duduk tidak jauh dengan wajah penuh kepuasan. Wawan menggantikan posisinya, sambil meremas-remas buah dadaku,


dia memasukkan penisnya ke mulutku. Sementara di belakang, Anton mencengkeram dan menguatkan pegangannya pada pinggulku, membuat gerakannya semakin kencang dan dalam, Rintihan dan jeritanku tertahan oleh penis Wawan. Kemaluanku terasa perih bercampur nikmat, Anton menunggangiku dengan kasar sekali, sepertinya dia menumpahkan semua nafsu birahinya padaku.

“Wooon…. OUUGGHH!!!!” geram Anton kemudian. Tubuhnya mengejang, dibenamkannya penisnya ke vaginaku sedalam dia mampu, dan dapat aku rasakan dia menyemburkan spermanya kedalam rahimku. Sesaat ketika Anton terdiam dan menikmati ejakulasinya, Wawan mendorong kepalaku hingga penisnya terkocok mulutku. Aku menggunakan lidahku, dan tampaknya dia keenakan.
Akhirnya Anton mencabut penisnya, sebuah erangan tertahan keluar dari bibirku (yang disumpal dengan penis Wawan) saat kepala penisnya lepas dari vaginaku.
“Dasar pelacur!” katanya sambil memukul pantatku, aku sudah tidak peduli lagi, kata-kata itu sudah sering aku dengar.

Wawan mencabut penisnya, menekan pinggulku dan memasukkan penisnya ke vaginaku, masih dalam doggy style. Aku sendiri sudah sangat lemas, tubuhku aku biarkan terkulai di bangku truk, sementara Wawan terus menunggangiku, mencari kenikmatannya sendiri. Desahan dan desisanku sudah sangat lemas, meski masih jelas terdengar. Permainan Wawan cenderung tidak beraturan sehingga aku tidak bisa menikmatinya. Vaginaku mulai mengering, rasa pedih mulai menjalari vaginaku. Wawan semakin kencang menggejotku, kini penisnya benar-benar menggesek dinding vaginaku yang kering dan menyempit.

 

“oohh… mantap.. sempit banget… hh..hhh…” desahnya sambil menyenggamaiku.

Tidak berapa lama dia mencabut penisnya dan buru-buru mendekkatkan ke wajahku.
Wawan menumpahkan spermanya diwajahku, bukan mulutku, tapi wajahku, sehingga wajah cantikku jadi belepotan terkena spermanya. Cairan kental itu berceceran di hidung, pipi dan mataku. Setelah mengeluarkan semua spermanya, dia menggesek-gesekkan penisnya ke bibirku. Dan sebelum pergi, Wawan meremas payudaraku kencang sekali sampai aku meringis kesakitan. Aku lemas dan tebaring beberapa saat, sebelum akhirnya aku memaksakan diri mengambil tissue basah di tasku, lalu membersihkan sperma Wawan di wajahku, dan juga di kemaluanku. Setelah itu, aku mengenakan pakaian lengkapku lagi. Di sepanjang sisa jalan, aku diapit oleh tiga orang, Rio, Aris dan Nanang, Rio menarikku dipangkuannya dan menikmati payudaraku dari luar, sampai pakaian yang aku kenakan jadi kusut. Sementara Aris dan Nanang bergantian memacu penisnya dimulutku. Mereka tidak menunggangiku karena waktu yang tidak memungkinkan. Hanya Nanang yang sempat berejakulasi di dalam mulutku, Aris tidak. Setengah jam kemudian kami tiba di bumi perkemahan Malang, tempat pesta seks kami berikutnya.

*************************

Hyewon the Stories Ch. 03 : Hard Truck

 


Truk tentara yang kami gunakan menuju bumi perkemahan di Malang itu telah berhenti di pelataran parkir. Agung dan Anton membantu menurunkan tas ranselku. Dari kejauhan aku melihat Taufik sedang berbincang-bincang dengan kedua sopir truk itu. Dan entah apa itu perasaanku saja, tapi kedua sopir truk itu seolah melihat ke arahku. Begitu selesai menurunkan barang, teman-teman segera menuju ke kapling perkemahan yang sudah disewa, kecuali Anton dan Taufik yang sepertinya masih ada urusan dengan para sopir truk itu. Tidak lama kemudian Taufik memanggilku, kontan saja perasaanku berubah jadi tidak enak. Benar saja, setelah mendekat, Anton langsung mengambil alih barang bawaanku dan bergegas pergi, sedangkan Taufik bicara perlahan ke arahku.
“bapak-bapak ini pingin make kamu Won, kamu naik ke dalam truk gih!”. Ujar Taufik pelan, aku tahu benar, ini perintah bukan permintaan. “ini pak Basuki dan yang ini pak Aryo” ujar Taufik sambil memperkenalkan aku kepada kedua sopir itu.
Keduanya berpostur tubuh bagus meski sudah berumur sekitar 40-an, itu karena mereka adalah supir truk mariner. Potongan keduanya cepak, hanya saja Pak Aryo berkulit gelap. Akhirnya akupun naik ke bangku depan truk, diapit Pak Aryo dan Pak Basuki yang memegang kemudi. Taufik sendiri tidak ikut. Aku jadi takut, selama ini aku belum pernah melayani laki-laki yang usianya jauh lebih tua dariku, apalagi aku tidak tahu mereka akan membawaku kemana.
“kembali utuh lho pak…” pesan Taufik ketika mesin truk sudah menyala dan mereka siap pergi. Pak Basuki hanya tersenyum lebar. “beres” ucapnya. “utuh kok, paling cuman gak kuat jalan aja..”.
Mendengar kata-kata itu aku langsung dapat membayangkan kalau mereka akan membantaiku habis-habisan. Tapi aku tetap berusaha tenang. Tangan pak Basuki menggapai tuas persneling, tapi oleh dia sengaja dilarikan ke selangkanganku yang tertutup rok tipis selutut. Dia meremas kuat bagian itu, membuatku sedikit menggelinjang. Sambil terkekeh-kekeh dia melarikan truk meninggalkan areal parkir. Baru beberapa menit dari bumi perkemahan, tangan Pak Aryo sudah menjelajah di tubuhku, mulai dari paha hingga dadaku, bahkan menyelusup ke balik T-shirtku lalu meremas-remas payudaraku dari balik bra.


Remasan Pak Aryo terasa sangat kasar, namun mantap dan terasa sangat nikmat. Mataku terpejam dan ninirku setengah terbuka setiap kali Pak Aryo mempermainkan putingku. Entah sejak kapan tubuhku sudah jatuh tersandar pada dadanya yang bidang dan keras. Benar-benar berbeda dengan remasan-remasan yang kudapatkan selama ini. Libidoku cepat sekali naik dan vaginaku sudah benar-benar basah hanya karena sentuhan di payudaraku!! Aku setengah sadar saat Pak Basuki membimbing tanganku untuk membuka resleting celananya dan memainkan barangnya. Akupun menuruti kemauanya. Pak Aryo melumat bibirku ganas, bau rokok dari mulutnya menyebar ke mulutku, lidahnya menyapu dahsyat dan akupun membalasnya dengan ganas. Tangan pak Aryo beralih menyingkap rokku ke atas, jarinya menelusup ke balik CD ku dan memainkan jarinya keluar masuk kewanitaanku. Aku sudah tidak berdaya, dengan baju yang kusut dan rok yang tersingkap, aku Cuma bisa mengerang, semakin cepat permainan jari Pak Aryo, semakin keras eranganku. Tubuhku kusandarkan lemas pada dada Pak Aryo yang semakin bernafsu memainkan vaginaku, nafasku tidak teratur, vaginaku benar-benar becek. Akhirnya truk itu berhenti di sebuah jalanan sepi. Aku dan mereka berdua turun dan melanjutkan permainan ke bak belakang truk yang sebelumnya sudah ditutup. Tanpa segan mereka berdua melepas pakaiannya dan melucuti seluruh pakaianku. Aku ditelentangkan di lantai truk, sekilas aku terkejut saat melihat kemaluan Pak Basuki yang jauh lebih besar dan berotot dibandingkan punya Faruk yang sudah kurasa besar. Tanpa bicara Pak Basuki memasukkan penisnya mulutku, akupun kesulitan menghisap penis sebesar itu. Sedang Pak Aryo asyik meremas dan menjilat serta menggigit-gigit putting susuku.


Mereka melakukannya bergantian. Puas dengan mulutku, mereka mengambil posisi, Pak Basuki yang pertama, dia melebarkan selangkanganku dan menancapkan penisnya sedikit-demi sedikit, seolah-olah dia sangat menikmati hal ini.
“eghhhh…ehmmm..akkkkh……. aduuuh paaaAAKK!!….”jeritku, meski sudah sangat basah aku merasa vaginaku tidak mampu menampung penis Pak Basuki, dinding-dinding vaginaku seperti tertarik. Pak Basuki tetap tenang dan mengerang pelan sampai seluruh penisnya amblas ke dalam vaginaku. Lalu dia membiarkanku mengambil nafas. Sebelum dengan tiba-tiba dia menggenjotku dengan irama yang teratur dan cepat, aku kesakitan, meringis dan menjerit, tapi genjotan Pak Basuki malah semakin menggila. Herannya, berapa menit kemudian aku orgasme. Ini adalah orgasme tercepatku, mungkin ini bedanya kalau disetubuhi oleh orang yang lebih tua dan berpengalaman. PAk Basuki membiarkan aku sebentar, lalu kembali memompa penisnya di dalam vaginaku.

“Aggh…ah…hmm…sshh…” desahanku semakin kencang, libidoku naik kembali, tubuhku berkelenjotan digenjot Pak Basuki.
“enak banget… ehm… enak banget m3mekmu… sempit… kmu apain?” tanyanya sambil mempercepat genjotannya.
“ugh…ra..rajin…mm..minum daun sirih pak…ahh…sshh…. enak pak…” jawabku terputus-putus.
Dua puluh menit Pak Basuki menindihku, kewanitaanku benar-benar terasa perih dan panas.
“ah…aukkkh…agh..agh…agh…auwww” aku hanya menjerit sambil menggeleng-gelengkan kepalaku menahan sakit. Tubuhku benar-benar dihimpit dan kemaluanku benar-benar dipacu sangat kasar dan cepat. “sss…sssakit…agh….agh…auww…uhuhhh…” tanpa sadar aku mengeluarkan air mata. Pak Basuki tidak perduli. Waktu terasa sangat lama berjalan, rasa nikmat memang ada, tapi begitu juga rasa sakit.
“bapak keluar… keluarin di dalam ya?” katanya berbisik ditelingaku sambil menekan-nekan penisnya lebih dalam dan cepat lagi. Aku hanya mengangguk pelan, cowok-cowok memang suka banget ngeluarin di dalam, pikirku.

Hyewon dan Pak Basuki keluar di dalam


Akhirnya Pak Basuki menusukkan penisnya dalam-dalam, aku yang menyadari kalau dia mau ejakulasi menyambutnya dengan erangan keras. Dan cairan hangat menyembur ke rahimku.
Tubuhku penuh dengan keringat, keringatku dan Pak Basuki. Pak Basuki sendiri terlihat sangat puas. Pak Aryo tidak menyia-nyiakan kesempatan barang semenit, dengan santai tubuhku yang lemas dibimbingnya dan kepala juga dadaku dinaikkannya ke jok truk, dia mau menunggangiku dari belakang.
“engghh… pelan pe..lan… agghh…” Aku yang sudah lemas hanya bisa melenguh pelan saat k0ntol pak Aryo melesak masuk ke vaginaku. Mudah saja penisnya masuk, vaginaku sudah amat basah dari campuran cairan kewanitaan dan sperma pak Basuki. Pak Basuki sudah mengenakan baju lengkapnya, dan beranjak keluar. Tak lama kemudian, mesin truk menyala.

“eengh….ah…ah… ehm..ehmm…” lenguhku saat Pak Aryo asik menyetubuhiku di posisi doggy style.


Payudaraku yang terhimpit jok ikut bergoyang karena tubuhku sudah benar-benar lemas.
“Enak banget tempikmu lonte!!” kata Pak Aryo sambil mempercepat pacuannya. “Gua bakal entot loe ampe pagi! Tempik cewek kuliahan emang beda!!.” katanya. Kupingku panas mendengarnya, tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa merintih dan semakin keras merintih. Tiba-tiba Pak Aryo menarik rambutku, hingga tubuhku tertekuk ke belakang, genjotannya semakin kencang, aq bisa mendengar bunyi kocokan penisnya di kemaluanku, tangan kanannya mencengkeram pinggulku erat-erat, dan dia terus memperkuat genjotannya.
“Aaaah! Aaakh! Aakh pak! Sss..sssakit! Sakit!” jeritku.
“Diam loe lonte kuliahan!!” Bentak Pak Aryo.
Aku terus menjerit, tapi Pak Aryo tidak perduli. Setelah beberapa saat, akhirnya dia melepaskan jambakan dan genggamannya, mambalikkan tubuhku dan memerintahku.

“pakai bajumu dan ISAP!!”. Pak Aryo mengeluarkan hp-nya dan mulai menekan tombol rekam. Dia menyodorkan penisnya ke wajahku.
Tanpa disuruh, aku menghisap penisnya cepat-cepat, beberapa menit kemudian dia menarik lepas penisnya dan mengeluarkan air maninya di wajahku, sangat banyak, menetes2 hingga menodai kaosku, lalu dipaksakannya penisnya masuk ke mulutku, dan ajaib! Dia mengeluarkan air maninya sekali lagi didalam mulutku, aku menelannya dan menjilati penisnya hingga benar-benar bersih. Semuanya direkam olehnya.
“puas banget gua ngentot cewek kuliahan kayak loe!!”. Katanya, “sekarang pake baju loe semua, kecuali bra ama CD!!”. Aku menurut saja.
Setelah merapikan pakaianku aku merasa truk mulai berhenti. “ayo turun, kita mampir sebentar” ujar Pak Aryo. aku menurut saja, dan begitu melihat sekitar ternyata aku berada di sebuah Markas batalyon di Malang. tampak seorang tentara muda mendekat dan berbincang-bincang dengan Pak Aryo.

“kamu bakal kita balikin ke kamp Won” ujar Pak Basuki pelan. “tapi ga mungkin dengan keadaan kumal gitu, kamu mandi dulu disini, toh kita juga butuh mandi, dan setelah mandi ntar kamu layanin dulu tentara muda itu, dia komandan disini”
“layani dia pak?”
“iya, bersetubuh ma dia, tapi kayaknya dia bakal ajak beberapa orang kepercayaannya”
“aduh pak, saya capek, bapak tau sendiri kan tadi perjalanan Surabaya-Malang saya dipake temen-temen, trus dipake bapak-bapak”
“iya deh ntar saya coba lobby supaya dia ga ngajak temennya banyak-banyak, tapi kmu pinter ya? minum daun sirih buat ngesetin m3mek kmu?”
“saya emang dah biasa pak, dari kecil”
Pak Aryo selesai bicara dengan tentara muda itu, lalu mereka mendekatiku.
“kamu ikut mas Pras ini, mandi sana trus kita pulangin ke kamp”
Aku menurut saja, mengikuti Pras dari belakang, ia mengantarku ke sebuah kamar mandi di belakang barak, dan aku terkejut mengetahui kamar mandi itu gak ada pintunya.
“Won kmu mandi sana” ujar Pras sambil mencolek dadaku, “ntar aku sama temenku make kamu di kamar mandi itu oke?”.
“mas sendiri aja ya?, ga usah pake temen?” pintaku memelas.
“lho? kenapa?”
“saya capek mas, hri ini digilir banyak orang”
“oke deh, ya udah mandi sana, saya liatin dari sini”
Perlahan tapi pasti aku memlepaskan kuncirku, rambutku yang panjang tergerai luluh, Mas Pras masih memandangiku dengan senyum-senyum sendiri. Meski sedikit risih, aku mencoba bertahan dengan melepaskan pakaian terusanku, dan segeralah terlihat payudara dan vaginaku yang memang tak tertutup bra maupun CD. Aku maju sedikit untuk menyentuh air di bak, dingin sekali, pikirku, segera kuambil segayung air dan sambil mencoba mengacuhkan dinginnya malam itu aku mengguyur tubuhku dengan air, dan mulai mandi. Kuambil sabun batangan yang ada di dekat bak dan kugosok-gosokkan ke tubuhku. Begitu selesai aku mengambil handuk dan mengeringkan tubuhku, belum selesai aku mengeringkan tubuhku, Mas Pras sudah mengrepe2ku dari belakang, meremas-remas payudaraku lemas, aku mengerang sedikit dan pasrah dalam pelukannya.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk hanyut dalam cumbuan Mas Pras, dan juga tidak butuh waktu lama bagiku untuk menyadari kalau dia tidak lagi mengenakan celana, penisnya menegang dan menggesek-gesek belahan pantatku.
“isep!” katanya agak kasar di telingaku.
Aku segera berbalik, berlutut di depan k0ntolnya dan mulai membuka mulutku, memasukkan kepala penisnya dengan hati-hati, memainkan lidahku, dan menghisapnya sekuatku.
“ehmm… engg…” erang Mas Pras setiap kuhisap penisnya kuat-kuat.
“masukkan…hmm…. Yang dalam…” perintahnya, tanpa menunggu dia memegang kepalaku dan mengocok penisnya dalam mulutku.
Aku sedikit sulit berkosentrasi dengan tarikan di kepalaku, sekitar 2 menitan dia melepas kepalaku dan menarik k0ntolnya dari mulutku.
“pegangan ke bak, aku mau nunggangin kamu dari belakang!” perintahnya, dan segera setelah aku menungging dia melesakkan k0ntolnya ke temp1kku.
“Akkhh…” desahku kecil saat k0ntolnya menembus tiap lapis dinding luar vaginaku. Tanpa menunggu lama, mas Pras menggoyangku. Erangannya merasakan setiap kenikmatan saat menunggangiku menggema ke seluruh kamar mandi. Membuat desahanku juga jadi semakin kencang.
“ukh… enak… lama banget ga ngerasain tempikk… ukh…” ujarnya sambil mempercepat tunggangannya.
“akh! Akh!… akh… ooh… ssshh…” desahku sambil berusaha menerima goyangannya yang semakin kencang. Wajahku megap-megap dan mataku merem melek menikmati goyangannya.
Dicengkerammnya pinggulku dan ditekannya penisnya dalam-dalam sambil menarik pinggulku, sehingga pantatku menekan perutnya, aku jadi lemas, pasrah, dan lelah, kenikmatan yang kurasakan lambat-laun semakin mengambil-alih kendali atas tubuhku.

Mas Pras mengentoti Hyewon di bak mandi





“akh! Akh!…uhmm… teruss… mas… aku… samp…sampai… AAAAgH!!!” akhirnya tubuhku mengejang, Mas Pras menghentikan gerakannya sekitar lima detikan, lalu kembali menunggangiku. Setelah beberapa menit dia menghujamkan penisnya dalam-dalam dan mengejang, aku dapat merasakan hangat spermanya yang mengisi kewanitaanku. Setelah puas dia memintaku membersihkan penisnya dengan lidahku.
“enak banget!” katanya, “aku bawa ke barak ya? Biar dient0t ma temen-temenku juga?” katanya, "tapi sebelum itu, aku mau rasain kamu lagi ke kamarku" aku buru-buru menolak sambil memasang wajah lemas, dan Mas Pras tidak mengidahkan penolakanku karena nafsunya sudah diubun2.

Akhirnya aku digendong ke kamar Mas Pras sambil menyusu dadaku, "oooh aaah aaahhsss" aku keenakan dibuatnya, sesampainya di kamar, Mas Pras membaringkan tubuhku ke kasurnya yang masih bau apek. Setelah itu, Mas Pras memasang kamera di meja kerjanya dan mulai merekam ke arah kasurnya. ini hasil videonya (Mas Pras memakai topi untuk menyembunyikan wajahnya)  

Di video itu, Hyewon terlihat pasrah karena sudah kecapekan dan mau saja menikmati permainan Mas Pras "aaah aaah ah ah ah, enak sekaliiihhh" erang Mas Pras yang akhirnya mulai orgasme dan menyemburkan spermanya ke rahimku, setelah Mas Pras sudah puas, dia langsung lemas terkulai di tempat tidur dan akupun ikut tertidur telanjang bulat tanpa sehelai benangpun.

keesokan harinya, Mas Pras menggendongku dari tempat tidur, aku sedikit kaget karena baru bangun lalu Mas Pras membawaku yang masih telanjang ke barak tentara teman2nya sambil menyusu dadaku sepanjang perjalanan. "non, dadamu bulet indah banget, jadi pengen mimik susu pagi2 heheheh". akupun malu setelah mendengar kata2 itu. Sesampainya di barak, disana sudah ada beberapa teman tentara termasuk Pak Basuki dan Pak Aryo. "WoooW" teriak tentara karena kekagumannya dengan body putih mulus Hyewon yang langsing itu, setelah itu Mas Pras membawaku ke kasur big size yang cukup menampung para tentara itu di dalam barak dan langsung menerjang tubuhku dengan buasnya dimulai dari mulut, bibir, kedua telinga, leher, ketiak, payudara, perut, paha, dan kaki semua mereka jilat2 seperti zombie yang sedang memakan mangsanya, aku sangat geli sekali dengan jilatan mereka dan membuat bulu kuduk berdiri saking enaknya sampai salah satu dari mereka menjilat vaginaku dengan ganas "uuuuh aah ahh ahhh" aku sampe merem melek dibuatnya. 

Sesudah mereka puas menjilati tubuhku, mereka lalu menyetubuhiku secara bergantian baik digangbang maupun one on one dari pagi sampai sore. Setelah itu, aku di bawa kembali ke teman2ku dan tubuhku digarap lagi dari malam sampai subuh bersama teman2ku. 

Hyewon the Stories Ch. 04 : Diperawani Saudara Kandungku Sendiri


1 minggu kemudian setelah kejadian camping dari Malang kemarin, aku selalu merenung di kamar kost, "mengapa aku jadi begini?" batinku, "apakah ini karena perkosaan dengan saudara laki lakiku waktu SMU?" 

==================FLASHBACK================

Aku dan saudaraku empat bersaudara, aku anak nomor tiga. Kakakku yang paling besar, Mbak Ine sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di Jakarta. Kakakku nomor dua, Mas Doni bekerja di Batam, dan adikku Toni yang paling bungsu masih kelas satu SMP negeri di Malang.

Pertama kali aku melakukan hubungan seks dengan kakakku nomor dua saat aku masih kelas dua SMU. Saat itu kakakku sedang cuti dan pulang ke Malang, aku sangat senang sekali. Kami bertiga pergi ke Batu Flower Garden dan kami menyewa sebuah pondokan di sana. Malam harinya saat aku sedang tertidur lelap di kamarku, aku merasa ada sesuatu di kemaluanku. Mula-mula rasanya enak sekali seperti ada yang membelai dan menghisapnya, tetapi tiba-tiba rasanya sangat sakit seperti ada yang menekan dan berusaha masuk, dan kurasakan juga seperti ada yang sedang menindihku.

Saat aku membuka mataku, aku melihat kakakku sedang menindihku dan berusaha memasukkan batang kemaluannya, aku mencoba berontak tapi tenagaku kalah kuat.

“Mas Doni jangan, aduh sakit Mas.., sakit..!”

“Ah diem aja dan jangan coba teriak..!” kata kakakku.

Malam itu kegadisanku diambil oleh kakakku sendiri. Tidak ada rasa nikmat seperti yang kubaca di buku, melainkan rasanya sakit sekali. Aku hanya bisa pasrah dan menahan sakit di bagian liang kewanitaanku saat kakakku bergerak di atas tubuhku. Gerakannya kasar seperti ingin mencabik-cabik tubuhku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu. Saat kulihat tubuh kakakku mengejang dan kurasakan ada sesuatu yang hangat menyemprot ke dalam liang senggamaku, semakin hancurlah perasaan hatiku.

Pagi harinya aku hanya terdiam di kamar, karena tubuhku rasanya lemas dan sakit. Saat kakakku mengajakku pergi, aku hanya memalingkan wajahku dan menangis. Sore harinya kakakku masuk ke kamarku, dia minta maaf atas kejadian semalam dan berusaha untuk memperbaikinya, tapi aku hanya diam saja. Malam harinya kakakku datang lagi ke kamarku. Aku sangat ketakutan, tapi dia hanya tersenyum dan mencoba mencium bibirku, aku kembali berontak. Aku memaki-maki kakakku, tapi dia tidak peduli dan kembali mencium bibirku sambil meremas payudaraku, lama-lama aku menjadi terangsang karenanya. Dan malam itu kembali aku dan kakakku melakukannya, tapi lain dari malam yang kemarin, malam ini aku merasakan kenikmatan yang luar biasa dan kami melakukannya dua sampai kali.


Sebelum kakakku kembali bekerja di Batam, saat mengantar kakakku di Bandara, aku meminta hadiah perpisahan darinya.

Di kamar mandi Bandara kami melakukannya lagi, “Ah Mas Doni.., terus Mas.. akh..”

“Akh Hyewon, kamu cantik sekali, akh… Hyewon, Mas Doni mau keluar, akh..!”

“Hyewon juga Mas.., akh… Mas, Hyewon keluar Mas.., akhh..!”


Mas Doni memelukku erat-erat, begitu juga diriku. Setelah beberapa saat kami berciuman dan kembali lagi ke ruang tunggu dengan alasan habis dari kantin beli makanan. Aku hanya bisa menangis saat Mas Doni pergi, tapi aku juga sangat bahagia dengan hadiah yang diberikannya.

Sejak saat itu aku seperti ketagihan dengan seks, dan untuk melampiaskannya aku hanya dapat melakukan masturbasi di kamar mandi. Saat adikku mulai beranjak dewasa, aku melihat sosok kakakku, tapi adikku lebih tampan dan gagah bila dibandingkan dengan kakakku. Aku sering merasa terangsang, tapi hanya bisa kutahan dan lagi-lagi hanya bisa kulampiaskan dengan jalan masturbasi. Entah berapa lama aku bisa menahan keinginan untuk melakukannya dengan adikku.

Sampai suatu hari, saat orang tuaku sedang tidak ada di rumah, adikku baru pulang sekolah dan aku menyiapkan makan siang untuknya. Karena hari itu terasa panas, aku hanya menggunakan celana pendek dan t-shirt tanpa memakai BH. Saat adikku kusuruh makan, Toni menolak karena sudah makan di luar bersama teman-temannya, dan akhirnya aku makan sendiri, sedangkan adikku asyik berenang. Selesai makan aku buatkan jus jeruk dan kuantarkan ke kolam renang. Sambil meminum jus jeruk, aku melihat adikku berenang. Saat Toni keluar dari kolam renang dan duduk di sebelahku sambil meminum jus jeruk dan berjemur, jantungku berdetak semakin cepat dan aku sangat tidak tahan untuk memeluknya.

Tidak kusangka adikku yang dulunya polos, sekarang sudah berubah menjadi seorang cowok yang gagah dan tampan terlebih lagi hobinya adalah berenang. Dadanya terlihat bidang dengan bentuk yang menggairahkan, tubuhnya atletis dan bisa kutebak kalau batangnya juga lumayan besar. Aku hanya dapat memandangnya, wajahnya ditutupi oleh handuk kecil yang digunakannya untuk mengeringkan tubuhnya. Aku sudah tidak tahan lagi dan aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku membelai dada adikku dan Toni hanya menggelinjang kegelian.

“Mbak Hyewon.., apaan sih..? Geli tau..! Kurang kerjaan, mendingan bikinin aku roti bakar…”

Aku sedikit terkejut dan kucubit perutnya, Toni hanya tertawa.

“Emang aku pembantumu, enak aja.” kataku agak jengkel.

Aku sudah benar-benar tidak tahan, tanpa pikir panjang lagi kutindih tubuh adikku dan kulempar handuk dari wajahnya.

“Mbak Hyewon mau ngapain sih..?” tanyanya.

Tanpa sepatah kata pun langsung kucium mulutnya dan kuremas-remas dadanya yang bidang itu. Adikku sangat terkejut dengan apa yang kulakukan dan mendorong tubuhku. Aku tidak peduli, kucium lagi bibirnya dan kali ini adikku tidak bereaksi apa-apa dan mencoba untuk menikmatinya. Aku tahu kalau Toni mulai terangsang, karena kurasakan diantara kedua pahanya ada sesuatu yang bertambah besar.

Kuciumi terus bibir dan lehernya, adikku sedikit kewalahan tapi Toni selalu mencoba membalas ciumanku walau terasa agak kaku.

“Baru pertama dicium cewek ya..?” tanyaku.

“Ah Mbak banyak omong, terusin aja Mbak..!” katanya tidak sabar lagi.

Mendengar ucapannya aku jadi semakin bersemangat, langsung kubuka kaosku, dan adikku hanya bisa melotot melihat payudaraku yang cukup besar.


“Wah susu Mbak bagus sekali, baru kali ini Toni melihat susu cewek.” katanya.

Kusuruh Toni memegang dan meremasnya, “Aduh jangan keras-keras, sakit.. Coba sekarang kamu isep susu Mbak..”

Lalu kusodorkan payudaraku ke mulutnya, Toni mengulum dan menghisap puting payudaraku, “Akh enak sekali Ton, sshs… akhh terus Ton.., enak sekali…”

Kusuruh Toni berhenti, lalu kuciumi lagi bibir dan lehernya, kemudian kuturun ke dadanya dan kuciumi serta kugigit pelan putingnya, Toni hanya bisa mendesah lirih, “Akh.. enak Mbak, akhh…”

Dengan tergesa aku turun kebawah, kulihat batang kejantanannya yang gagah sudah sedikit tercetak dan memperlihatkan kepalanya di celana renang adikku. Dengan penuh nafsu langsung kutarik celana renang adikku sampai ke lututnya.

“Wah.., Ton punya kamu Oke juga nih, lebih bagus dari punya Mas Doni..”

Adikku hanya tersenyum dan sepertinya tidak sabar dengan apa yang akan kulakukan. Aku pun lalu membuka celanaku dan sekarang aku telanjang. Toni bangun dari kursi dan duduk, lalu Toni meraba bibir kemaluanku, kemudian kusuruh Toni menjilati bibir kemaluanku. Toni kelihatannya kaget tapi langsung kutarik kepalanya ke arah kemaluanku, dan Toni mulai menjilati permukaan lubang senggamaku.

“Akh.., Ton enak sekali terus akh… yaa disitu Ton, enak.., akhh… terus Ton terus akkhh…” desahku.

Aku menggelinjang keenakan dibuatnya, rasanya enak sekali dan aku sangat suka jika ada yang menjilati kemaluanku. Aku sudah tidak tahan, kudorong tubuh adikku ke kursi lagi, kemudian kupegang batang kejantanannya dan kuarahkan ke liang senggamaku. Toni kelihatannya sedikit tegang saat kepala kejantanannya menyentuh permukaan bibir kemaluanku. Toni menahan nafas dan mengerang saat aku menekan tubuhku ke bawah, dan batang kejantanannya masuk seluruhnya ke liang kewanitaanku.

“Akh… Mbak… enak sekali… hangat.. yeah… ayo Mbak terusin..!”

Aku lalu bergerak, menggoyangkan pantatku ke atas dan ke bawah, dan kadang kuputar-putar, tangan adikku kusuruh meremas-remas payudaraku dan Toni sangat bernafsu sekali. Aku bergerak semakin lama semaki cepat, tanganku memegang paha adikku untuk tumpuan. Beberapa saat kemudian, nafas adikku mulau memburu dan gerakannya mulai tidak karuan, kadang memegang pantatku, kadang meremas payudaraku, dan aku tahu kalau Toni sudah hampir sampai dan berusaha menahannya.

“Akh.. Mbak.., aduh… Toni mau keluar Mbak..!”

“Tahan Ton.., Mbak sebentar lagi akhh..!”


Semakin kupercepat gerakanku, aku mulai liar. Kuremas dadanya dan saat kurasa kenikmatan itu, aku menekan tubuh adikku, dan tubuhku menjadi tegang sambil kuremas paha adikku.

“Toni nggak tahan lagi Mbak… akh… Mbak, Toni keluar Mbak akhh..!”

Pantatnya terangkat ke atas seperti ingin menusuk kewanitaanku dan kurasakan semprotannya yang cukup keras beberapa kali di dalam rahimku. Begitu juga denganku, otot kemaluanku menekan batangnya dan kurasakan liangku semakin basah, baik oleh cairanku ditambah sperma adikku yang menyemprot sangat banyak di lubang senggamaku.

Tubuh kami basah oleh keringat, dan kemudian kupeluk tubuh adikku menikmati sisa-sisa kenikmatan tadi. Nafas adikku mulai teratur dan kurasakan batang kemaluannya mulai mengecil di liang kewanitaanku, namun pantatku masih tetap bergoyang di atas tubuhnya.

“Mbak, enak sekali.., makasih ya Mbak, baru pertama kali ini Toni merasakan nikmatnya tubuh perempuan dan nikmatnya melakukan hubungan badan.”

“Mbak yang harusnya makasih sama kamu, ternyata adik Mbak cukup hebat walau baru pertama kali, tapi Mbak sangat puas sekali dan Mbak pengen sekali lagi, bolehkan Ton..?”

“Wah.., Toni juga mau Mbak..!”

Kucabut batang kejantanannya dari lubang kewanitaanku dan kembali kurasakan orgasme saat mencabutnya. Batang kemaluan adikku sudah mengecil sekarang, tapi tetap telihat gagah. Toni lalu duduk di pinggir kursi dan aku kemudian menjilati batang kejantanannya, Toni kembali mendesah, “Ssshhh.., enak Mbak..!”

Tangannya membelai rambutku dan kadang meremas payudaraku. Aku kembali terangsang dan batang kemaluan Toni dengan cepatnya kembali tegak dan kokoh. Aku lalu lari dan menceburkan diriku di kolam renang, Toni menyusul setelah membuka celana renang yang masih tertinggal di lututnya. Di kolam kembali kami berciuman, tapi sekarang Toni kubiarkan lebih agresif. Sambil duduk di tangga kolam, diciuminya bibir dan leherku, kemudian dihisapnya puting payudaraku.


Kemudian kurasakan Toni berusaha memasukkan batang keperkasaannya, tapi selalu meleset. Aku hanya tertawa kecil, lalu kubantu dia. Kupegang batangnya dan kuarahkan ke kemaluanku. Toni hanya tertawa kecil dan kemudian dia menekan rudalnya ke sarangku. Toni lalu menggerakkan pantatnya dan memompa senjatannya keluar masuk liang surgaku, nafasnya juga mulai memburu. Aku menikmati tekanan yang diberikan Toni dan rasanya nikmat sekali.

“Akh.., enak sekali Ton, yang keras Ton..! Akh..!”

“Akhh Mbak.., kita pindah di kursi ya..? Di sini nggak enak.”

Toni lalu mengangkat tubuhku, kulingkarkan kakiku di pinggangnya sehingga aku masih bisa bergerak walaupun Toni berdiri dan berjalan ke arah kursi tempat kami tadi.

Di baringkannya tubuhku, lalu Toni mulai memompa batang kejantanannya lagi, semakin lama semaki cepat. Aku mengimbangi gerakakn Toni dengan mengerakkan pantatku ke kiri dan ke kanan, kadang kuremas-remas pantat adikku yang kenyal. Nafas Toni mulai tidak teratur.

“Lebih cepat Ton.. akh..!”

“Mbak.., Toni mau keluar Mbak, akh..!”

Gerakan Toni semakin cepat, dan saat kulihat tubuh Toni mulai mengejang, kulingkarkan kakiku di pinggangnya. Toni menekan dan memasukan batang kemaluannya lebih dalam lagi.

“Akh.., Mbak, Toni keluar Mbak, akhh.., Mbak.. ngeakhh…”

Tubuhnya lalu rubuh di atas tubuhku. Tanpa mengeluarkan burungnya, kusuruh Toni berbalik dan aku mulai menggerakkan pantatku di atas tubuhnya. Batang kemaluan Toni memang mengecil, tapi lama-lama mulai mengembang lagi. Aku bergerak tidak karuan di atas tubuhnya, sampai beberapa saat kemudian aku orgasme, kupeluk erat-erat tubuh Toni. Setelah agak tenang, karena aku tahu kalau Toni belum keluar, kemudian aku turun dan mengulum batang keperkasaannya. Toni menggerakkan pantatnya ke kiri dan ke kanan dan kadang menusuk ke dalam mulutku. Selang beberapa waktu kemudian, batang kemaluannya seperti mengembang di dalam mulutku.

“Akh.., Toni keluar Mbak.. akhh..!”

Spermanya menyembur di dalam mulutku dan kutelan semuanya, kemudian kami berpelukan dan berciuman. Tanpa sadar kami tertidur di kursi, kepalaku kurebahkan di dadanya dan tubuhku di atas tubuhnya.

Sore hari kami dikejutkan oleh suara klakson mobil dan kami buru-buru bangun. Aku memakai bajuku yang berserakan di pingir kolam dan Toni buru-buru mengambil celana renangnya dan berlari ke kamarnya. Saat makan malam, kakiku mengeranyangi kakinya dan jari kakiku menekan batangnya yang mulai mengembang. Kedua orang tuaku sedikit keheranan dengan kelakuan kami, tapi mereka tidak pernah tahu dengan apa yang telah terjadi di antara kami. Malamnya seusai makan malam aku langsung masuk kamar, begitu juga Toni. Tengah malam aku terbangun karena Toni menciumi bibirku dan malam itu kami melakukannya lagi.

Sejak saat itu, secara sembunyi-sembunyi kami melakukannya, Rahasia ini sampai sekarang masih kami pegang dan bahkan cinta gelap kami ini membuahkan putra pertamaku yang sekarang sudah berusia 9 tahun.

Saat pernikahan Toni aku memberikan sebuah hadiah. Setelah malam pengantinnya, kami melakukannya di gudang belakang rumah saat semua orang sudah terlelap. Toni bilang walaupun istrinya sekarang masih gadis, tapi tidak ada yang menyaingi aku. Dan kami membuat beberapa private video, ini video seks kami pas di gudang



Hyewon the Stories Ch. 05 : Di Perkosa Tukang becak 



Saat naik kelas 3 SMU, Hyewon sudah berumur 18 tahun. dia pelajar yang cukup teladan di sekolahnya, otaknya pintar dan bodynya lumayan bagus dengan payudara yang bulat padat berisi, itu terbukti dari seragam sekolah yang dikenakannya sehari-hari tampak ketat dan selalu membusung di bagian dada. Rok abu-abu yang tingginya beberapa senti di atas lutut sudah cukup menyingkapkan kedua pahanya yang putih mulus, dan ukuran roknya yang ketat itu juga memperlihatkan lekuk body tubuhnya yang sekal menggairahkan.

Penampilannya yang aduhai ini tentu mengundang pikiran
buruk para laki-laki, dari yang sekedar menikmati
kemolekan tubuhnya sampai yang berhasrat ingin
menggagahinya. Salah satunya adalah Parno, si tukang
becak yang mangkal di depan gang rumah Hyewon. Parno,
pria berusia 40 tahunan itu, memang seorang pria yang
berlibido tinggi, birahinya sering naik tak terkendali
apabila melihat gadis-gadis cantik dan seksi melintas di
hadapannya.

Parno


Sosok pribadi Hyewon memang cukup supel dalam bergaul dan
sedikit genit termasuk kepada Parno yang sering
mengantarkan Hyewon dari jalan besar menuju ke kediaman
Hyewon yang masuk ke dalam gang.

Suatu sore, Hyewon pulang dari . Seperti biasa
Parno mengantarnya dari jalan raya menuju ke rumah. Sore
itu suasana agak mendung dan hujan rintik-rintik,
keadaan di sekitar juga sepi, maklumlah daerah itu
berada di pinggiran kota YK. Dan Parno memutuskan saat
inilah kesempatan terbaiknya untuk melampiaskan hasrat
birahinya kepada Hyewon. Ia telah mempersiapkan
segalanya, termasuk lokasi tempat dimana Hyewon nanti
akan dikerjai. Parno sengaja mengambil jalan memutar
lewat jalan yang lebih sepi, jalurnya agak jauh dari
jalur yang dilewati sehari-hari karena jalannya memutar
melewati areal pekuburan.

“Lho koq lewat sini Pak?”, tanya Hyewon.
“Di depan ada kawinan, jadi jalannya ditutup”, bujuk
Parno sambil terus mengayuh becaknya.

Dengan sedikit kesal Hyewon pun terpaksa mengikuti
kemauan Parno yang mulai mengayuh becaknya agak cepat.
Setelah sampai pada lokasi yang telah direncanakan
Parno, yaitu di sebuah bangunan tua di tengah areal
pekuburan, tiba-tiba Parno membelokkan becaknya masuk ke
dalam gedung tua itu.

“Lho kenapa masuk sini Pak?”, tanya Hyewon.
“Hujan..”, jawab Parno sambil menghentikan becaknya
tepat di tengah-tengah bangunan kuno yang gelap dan sepi
itu. Dan memang hujan pun sudah turun dengan derasnya.

Bangunan tersebut adalah bekas pabrik tebu yang dibangun
pada jaman belanda dan sekarang sudah tidak dipakai
lagi, paling-paling sesekali dipakai untuk gudang warga.
Keadaan seperti ini membuat Hyewon menjadi semakin panik,
wajahnya mulai terlihat was-was dan gelisah.

“Tenang.. Tenang.. Kita santai dulu di sini, daripada
basah-basahan sama air hujan mending kita basah-basahan
keringat..”, ujar Parno sambil menyeringai turun dari
tempat kemudi becaknya dan menghampiri Hyewon yang masih
duduk di dalam becak.

Bagai tersambar petir Hyewonpun kaget mendengar ucapan
Parno tadi.

“A.. Apa maksudnya Pak?”, tanya Hyewon sambil
terbengong-bengong.
“Non cantik, kamu mau ini?” Parno tiba-tiba menurunkan
celana komprangnya, mengeluarkan penisnya yang telah
mengeras dan membesar.

Hyewon terkejut setengah mati dan tubuhnya seketika lemas
ketika melihat pemandangan yang belum pernah dia lihat
selama ini.

“J.. Jaangan Pak.. Jangann..” pinta Hyewon dengan wajah
yang memucat.

Sejenak Parno menatap tubuh Hyewon yang menggairahkan,
dengan posisinya yang duduk itu tersingkaplah dari balik
rok abu-abu seragam SMU-nya kedua paha Hyewon yang putih
bersih itu. Kaos kaki putih setinggi betis menambah
keindahan kaki gadis itu. Dan di bagian atasnya, kedua
buah dada ranum nampak menonjol dari balik baju putih
seragamnya yang berukuran ketat.


“Ampunn Pak.. Jangan Pak..”, Hyewon mulai menangis dalam
posisi duduknya sambil merapatkan badan ke sandaran
becak, seolah ingin menjaga jarak dengan Parno yang
semakin mendekati tubuhnya.

Tubuh Hyewon mulai menggigil namun bukan karena dinginnya
udara saat itu, tetapi tatkala dirasakannya sepasang
tangan yang kasar mulai menyentuh pahanya. Tangannya
secara refleks berusaha menampik tangan Parno yang mulai
menjamah paha Hyewon, tapi percuma saja karena kedua
tangan Parno dengan kuatnya memegang kedua paha Hyewon.

“Oohh.. Jangann.. Pak.. Tolongg.. Jangann..”, Hyewon
meronta-ronta dengan menggerak-gerakkan kedua kakinya.
Akan tetapi Parno malahan semakin menjadi-jadi,
dicengkeramnya erat-erat kedua paha Hyewon itu sambil
merapatkan badannya ke tubuh Hyewon.

Hyewon pun menjadi mati kutu sementara isak tangisnya
menggema di dalam ruangan yang mulai gelap dan sepi itu.
Kedua tangan kasar Parno mulai bergerak mengurut kedua
paha mulus itu hingga menyentuh pangkal paha Hyewon.
Tubuh Hyewon menggeliat ketika tangan-tangan Parno mulai
menggerayangi bagian pangkal paha Hyewon, dan wajah Hyewon
menyeringai ketika jari-jemari Parno mulai menyusup
masuk ke dalam celana dalamnya.

“Iihh..”, pekikan Hyewon kembali menggema di ruangan itu
di saat jari Parno ada yang masuk ke dalam liang
vaginanya.

Tubuh Hyewon menggeliat kencang di saat jari itu mulai
mengorek-ngorek lubang kewanitaannya. Desah nafas Parno
semakin kencang, dia nampak sangat menikmati adegan
‘pembuka’ ini. Ditatapnya wajah Hyewon yang megap-megap
dengan tubuh yang menggeliat-geliat akibat jari tengah
Parno yang menari-nari di dalam lubang kemaluannya.

“Cep.. Cep.. Cep..”, terdengar suara dari bagian
selangkangan Hyewon. Saat ini lubang kemaluan Hyewon telah
banjir oleh cairan kemaluannya yang mengucur membasahi
selangkangan dan jari-jari Parno.

Puas dengan adegan ‘pembuka’ ini, Parno mencabut jarinya
dari lubang kemaluan Hyewon. Hyewon nampak terengah-engah,
air matanya juga meleleh membasahi pipinya. Parno
kemudian menarik tubuh Hyewon turun dari becak, gadis itu
dipeluknya erat-erat, kedua tangannya meremas-remas
pantat gadis itu yang sintal sementara Hyewon hanya bisa
terdiam pasrah, detak jantungnya terasa di sekujur
tubuhnya yang gemetaran itu. Parno juga menikmati
wanginya tubuh Hyewon sambil terus meremas remas pantat
gadis itu.

Selanjutnya Parno mulai menikmati bibir Hyewon yang tebal
dan sensual itu, dikulumnya bibir itu dengan rakus bak
seseorang yang tengah kelaparan melahap makanan.

“Eemmgghh.. Mmpphh..”, Hyewon mendesah-desah di saat
Parno melumat bibirnya. Dikulum-kulum, digigit-gigitnya
bibir Hyewon oleh gigi dan bibir Parno yang kasar dan bau
rokok itu. Ciuman Parno pun bergeser ke bagian leher
gadis itu.
“Oohh.. Eenngghh..”, Hyewon mengerang-ngerang di saat
lehernya dikecup dan dihisap-hisap oleh Parno.

Cengkeraman Parno di tubuh Hyewon cukup kuat sehingga
membuat Hyewon sulit bernafas apalagi bergerak, dan hal
inilah yang membuat Hyewon pasrah di hadapan Parno yang
tengah memperkosanya. Setelah puas, kini kedua tangan
kekar Parno meraih kepala Hyewon dan menekan tubuh Hyewon
ke bawah sehingga posisinya berlutut di hadapan tubuh
Parno yang berdiri tegak di hadapannya. Langsung saja
oleh Parno kepala Hyewon dihadapkan pada penisnya.

“Ayo.. Jangan macam-macam non cantik.. Buka mulut kamu”,
bentak Parno sambil menjambak rambut Hyewon.

Takut pada bentakan Parno, Hyewon tak bisa menolak
permintaannya. Sambil terisak-isak dia sedikit demi
sedikit membuka mulutnya dan segera saja Parno mendorong
masuk penisnya ke dalam mulut Hyewon.

“Hmmphh..”, Hyewon mendesah lagi ketika benda menjijikkan
itu masuk ke dalam mulutnya hingga pipi Hyewon
menggelembung karena batang kemaluan Parno yang
menyumpalnya.
“Akhh..” sebaliknya Parno mengerang nikmat. Kepalanya
menengadah keatas merasakan hangat dan lembutnya rongga
mulut Hyewon di sekujur batang kemaluannya yang menyumpal
di mulut Hyewon.

Hyewon menangis tak berdaya menahan gejolak nafsu Parno.
Sementara kedua tangan Parno yang masih mencengkeram
erat kepala Hyewon mulai menggerakkan kepala Hyewon maju
mundur, mengocok penisnya dengan mulut Hyewon. Suara
berdecak-decak dari liur Hyewon terdengar jelas diselingi
batuk-batuk.

Beberapa menit lamanya Parno melakukan hal itu kepada
Hyewon, dia nampak benar-benar menikmati. Tiba-tiba badan
Parno mengejang, kedua tangannya menggerakkan kepala
Hyewon semakin cepat sambil menjambak-jambak rambut
Hyewon. Wajah Parno menyeringai, mulutnya menganga,
matanya terpejam erat dan..

“Aakkhh..”, Parno melengking, croot.. croott.. crroott..
Seiring dengan muncratnya cairan putih kental dari
kemaluan Parno yang mengisi mulut Hyewon yang terkejut
menerima muntahan cairan itu. Hyewon berusaha melepaskan
batang penis Parno dari dalam mulutnya namun sia-sia,
tangan Parno mencengkeram kuat kepala Hyewon. Sebagian
besar sperma Parno berhasil masuk memenuhi rongga mulut
Hyewon dan mengalir masuk ke tenggorokannya serta
sebagian lagi meleleh keluar dari sela-sela mulut Hyewon.
“Ahh”, sambil mendesah lega, Parno mencabut batang
kemaluannya dari mulut Hyewon.

Nampak batang penisnya basah oleh cairan sperma yang
bercampur dengan air liur Hyewon. Demikian pula halnya
dengan mulut Hyewon yang nampak basah oleh cairan yang
sama. Hyewon meski masih dalam posisi terpaku berlutut,
namun tubuhnya juga lemas dan shock setelah diperlakukan
Parno seperti itu.

“Sudah Pak.. Sudahh..” Hyewon menangis sesenggukan,
terengah-engah mencoba untuk ‘bernego’ dengan Parno yang
sambil mengatur nafas berdiri dengan gagahnya di hadapan
Hyewon.

Nafsu birahi yang masih memuncak dalam diri Parno
membuat tenaganya menjadi kuat berlipat-lipat kali,
apalagi dia telah menenggak jamu super kuat demi
kelancaran hajatnya ini sebelumnya. Setelah berejakulasi
tadi, tak lama kemudian nafsunya kembali bergejolak
hingga batang kemaluannya kembali mengacung keras siap
menerkam mangsa lagi.

Parno kemudian memegang tubuh Hyewon yang masih menangis
terisak-isak. Hyewon sadar akan apa yang sebentar lagi
terjadi kepadanya yaitu sesuatu yang lebih mengerikan.
Badan Hyewon bergetar ketika Parno menidurkan tubuh Hyewon
di lantai gudang yang kotor itu, Hyewon yang mentalnya
sudah jatuh seolah tersihir mengikuti arahan Parno.

Setelah Hyewon terbaring, Parno menyingkapkan rok abu-abu
seragam SMU Hyewon hingga setinggi pinggang. Kemudian
dengan gerakan perlahan, Parno memerosotkan celana dalam
putih yang masih menutupi selangkangan Hyewon. Kedua mata
Parno pun melotot tajam ke arah kemaluan Hyewon. Kemaluan
yang merangsang, ditumbuhi rambut yang tidak begitu
banyak tapi rapi menutupi bibir vaginanya, indah sekali.
Parno langsung saja mengarahkan batang penisnya ke bibir
vagina Hyewon. Hyewon menjerit ketika Parno mulai menekan
pinggulnya dengan keras, batang penisnya yang panjang
dan besar masuk dengan paksa ke dalam liang vagina
Hyewon.

“Aakkhh..”, Hyewon menjerit lagi, tubuhnya menggelepar
mengejang dan wajahnya meringis menahan rasa pedih di
selangkangannya.

Kedua tangan Hyewon ditekannya di atas kepala, sementara
ia dengan sekuat tenaga melesakkan batang kemaluannya di
vagina Hyewon dengan kasar dan bersemangat.

“Ohhss.. Hhsshh.. Hhmmh.. Eehhghh..” Parno mendesis

nikmat.

Setelah berhasil melesakkan batang kemaluannya itu,
Parno langsung menggenjot tubuh Hyewon dengan kasar.

“Oohh.. Oogghh.. Oohh..”, Hyewon mengerang-ngerang
kesakitan. Tubuhnya terguncang-guncang akibat gerakan
Parno yang keras dan kasar. Sementara Parno yang tidak
peduli terus menggenjot Hyewon dengan bernafsu. Batang
penisnya basah kuyup oleh cairan vagina Hyewon yang
mengalir deras.

Sekitar lima menit lamanya Parno menggagahi Hyewon yang
semakin kepayahan itu, sepertinya Parno sangat menikmati
setiap hentakan demi hentakan dalam menyetubuhi Hyewon,
sampai akhirnya di menit ke-delapan, tubuh Parno kembali
mengejang keras, urat-uratnya menonjol keluar dari
tubuhnya yang hitam kekar itu dan Parno pun
berejakulasi.

“Aahh..” Parno memekik panjang melampiaskan rasa puasnya
yang tiada tara dengan menumpahkan seluruh spermanya di
dalam rongga kemaluan Hyewon yang tengah menggelepar
kepayahan dan kehabisan tenaga karena tak sanggup lagi
mengimbangi gerakan-gerakan Parno.

Dan akhirnya kedua tubuh itupun kemudian jatuh lunglai
di lantai diiringi desahan nafas panjang yang terdengar
dari mulut Parno. Parno puas sekali karena telah
berhasil melaksanakan hajatnya yaitu memperkosa gadis
cantik yang selama ini menghiasi pandangannya dan
menggoda dirinya.

Setelah rehat beberapa menit tepatnya menjelang Isya,
akhirnya Parno dengan becaknya kembali mengantarkan
Hyewon yang kondisinya sudah lemah pulang ke rumahnya.
Karena masih lemas dan akibat rasa sakit di
selangkangannya, Hyewon tak mampu lagi berjalan normal
hingga Parno terpaksa menuntun gadis itu masuk ke dalam
rumahnya.

Suasana di lingkungan rumah yang sepi dan didalam rumah juga tidak ada orang karena kedua orang tuanya bekerja, membuat Parno
dengan leluasa menuntun tubuh lemah Hyewon hingga sampai
ke teras rumah dan kemudian mendudukkannya di kursi
teras, tetapi Parno penasaran dengan dada Hyewon dan ingin menikmati payudara gadis yang bulat berisi itu, lalu Parno membuka kancing baju sekolah hanya bagian dadanya saja. Hyewon yang terlihat pasrah dan diam saja saat diperlakukan seperti itu membuat Parno leluasa mengrepe grepe payudara, memilin2 putingnya, dan menyedotnya dengan buas. "aaah aahh ah oooh ohh" erang Hyewon dan membuatnya keenakan sampai orgasme.



Setelah itu Parno sudah puas menyusu dan berbisik ke telinga Hyewon bahwa dia

berjanji akan datang kembali untuk menikmati tubuhnya
yang molek itu, Parno pun kemudian meninggalkan Hyewon
dengan mengayuh becaknya dan menghilang di kegelapan malam,
meninggalkan Hyewon yang masih terduduk lemas di kursi
teras rumahnya.

Keesokan harinya, setiap pulang sekolah, Hyewon selalu memakai jasa Parno sebagai tukang becak untuk pulang ke rumahnya tetapi tentu saja sebelum pulang ke rumah, Parno selalu saja cari alasan belok sini lah, belok situ lah agar bisa leluasa menyetubuhinya, mengewenya, menggauli, mengentotinya, apapun sebutannya di tempat yang sepi seperti di tempat duduk taman pas malam,


di toilet umum (penjaga toilet juga ikutan menyetubuhinya setelah Parno selesai ooh oohs aah), di belakang rumah orang

ilustrasi ngewe dibelakang rumah

(pemilik rumah yang sudah punya anak istri pun tetap ikutan mengewe Hyewon, karena kedengaran suara sayup2 ah oh ah oh dan body Hyewon sexy banget dibanding istrinya aaaah aaah ooh oh), di kursi dekat lapangan basket tertutup pohon (pemain basket amatiran, baik yg udah tua maupun yg masih remaja yang ada disitu pun ikutan juga menggangbang Hyewon oooh aaah oooh oooh)


=======================END OF FLASHBACK=============

Hyewon the Stories Ch. 06 : Bercinta dengan anak orang kaya


Setelah selesai merenung di kost, siangnya aku harus kuliah dan setelah selesai,  jam terakhir di kampus baru saja berakhir. Jam menunjukkan pukul 18.00 dan hari pun mulai gelap. Hyewon berjalan meninggalkan kampus menuju halte depan kampus. Sesampainya di halte, Hyewon merasa agar kurang nyaman. Mata para cowok penjual rokok dan si timer memelotinya seolah ingin menelanjanginya. Tersadarlah Hyewon bahwa hari itu dia memakai pakaian yang sangat sexy. T-shirt putih lengan pendek dengan belahan rendah bertuliskan WANT THESE?, sehingga payudaranya yang berukuran 36C seolah hendak melompat keluar, akibat hari itu Hyewon menggunakan BH ukuran 36B (sengaja, biar lebih nongol). Apalagi kulit Hyewon memang putih mulus. Di tambah rok jeans mini yang digunakannya saat itu, mempertontonkan kaki jenjang & paha mulusnya karena Hyewon memang cukup tinggi, 173cm. ”Buset, baru sadar aku kalo hari ini aku pake uniform sexy aku demi ngadepin ujiannya si Hutabarat, biar dia gak konsen”, pikir Hyewon. Biasanya Hyewon bila naik angkot menggunakan pakaian t-shirt atau kemeja yang lebih tertutup dan celana panjang jeans, demi menghindari tatapan dan ulah usil cowok-cowok di jalan. Siang tadi Hyewon ke kampus datang numpang mobil temannya, Angel. Tapi si Angel sudah pulang duluan karena kuliahnya lebih sedikit. Hyewon tambah salah tingkah karena cowok-cowok di halte tersebut mulai agak berani ngliatin belahan payudaranya yang nongol lebih dekat lagi. ”Najis, berani amat sih nih cowok-cowok mlototin payudaraku”, membatin lagi si Hyewon. Hyewon menggunakan bukunya untuk menutupi dadanya, tapi mereka malah mengalihkan pandangan mesumnya ke pantat Hyewon yang memang bulat sekal dan menonjol. Makin salah tingkahlah si Hyewon. Mau balik ke kampus, pasti sudah gelap dan orang sudah pada pulang. Mau tetap di halte nungguin angkot, gerah suasananya. Apalagi kalo naik bus yang pasti penuh sesak jam segini, Hyewon tidak kebayang tangan-tangan usil yang akan cari-cari kesempatan untuk menjamahi tubuhnya. Sudah kepikiran untuk naik taxi, tapi uang tidak ada. Jam segini di kos juga kosong, mau pinjam uang sama siapa bingung. Hyewon coba alternatif terakhir dengan menelpon si Angel atau Dessy teman2nya yang punya mobil, eh sialnya HP mereka pada off.

”Buset, sial banget sih aku hari ini.” Mulailah celetukan mesum cowok-cowok di halte dimulai ”Neng, susunya mau jatuh tuh, abang pegangin ya. Kasihan, pasti eneng keberatan hehe”. Pias! Memerahlah muka Hyewon. Dipelototin si tukang ojek yang berani komentar, eh dianya malah balas makin pelototin payudara si Hyewon. Makin jengahlah si Hyewon. Tiba-tiba sebuah sedan BMW hitam berhenti tepat di depan Hyewon. Jendelanya terbuka, dan nongolah seraut wajah sambil menyeringai, si Huda. si anak orang kaya, berkulit sawo matang, gendut, tinggi 168 cm, teman sekelas terakhir yang pernah bersetubuh denganku 

Huda dengan mobil BMW hitam

”Won, jualan kamu disini?" Hehehe, tanya Huda dengan bibir nyengir

”Sialan kau, aku ga ada tumpangan neh, terpaksa tunggu bus. Hud, anter aku ya” pinta Hyewon. Hyewon sebenarnya enggan ikut bersama si Huda karena dia terkenal suka main cewek. Tapi, dilihat dari kondisi sekarang, paling baik memang naik mobil si Huda. Tapi si Huda malah bilang ”Wah sory Won, aku harus pergi jemput nyokap aku. Arahnya beda sama kosan kamu”. ”Da, please anter aku ya. Ntar aku traktir deh” rajuk Hyewon. Sambil nyengir mesum Huda berucap ”Wah kalo ada bayarannya sih aku bisa pertimbangin”. ”Iya deh, ntar aku bayar” Hyewon asal ucap, yang penting bisa pergi segera dari halte tersebut. ”Hehe sip” kata Huda sambil membuka pintu untuk Hyewon. Hyewon masuk ke dalam mobil Huda, diiringi oleh pandangan sebel para cowok-cowok di halte yang kehilangan santapan rohani.Mobil Huda mulai menembus kemacetan ibu kota. ”Buset dah kau Won, sexy amat hari ini”.

Kata Hyewon ”aku sengaja pake uniform andalanku, karena hari ini ada ujian lisannya si Hutabarat, Akuntasi Biaya. Biar dia ga konsen, n kasi aku nilai bagus hehe”.
”Gila kau, aku biarin bentar lagi, kamu udh dient*tin sama tu abang-abang di halte haha” balas Huda.

“Sial, enak aja kau ngomong Da” maki Hyewon. Sambil mengerling ke Hyewon, Huda berucap “Won, bayaran tumpangan ini, bayar sekarang aja ya”. ”Eh, aku bawa duit cuma dikit Da. Kapan2 deh aku bayarin bensin kamu balas Hyewon. “Sapa yang minta diduitin bensin, Non” jawab Huda. “Trus kamu mau apa? Traktir makan” tanya Hyewon bingung. “Ga. Ga perlu keluar duit kok. Tenang aja” ucap Huda misterius. Semakin bingung si Hyewon. Sambil menggerak-gerakan tangan kirinya si Huda berkata ”Cukup kamu puasin tangan kiri aku ini dengan megangin payudara kamu. Nepsong banget aku liatnya”. Seringai mesum Huda menghiasi wajahnya. Seperti disambar petir Hyewon kaget dan berteriak ”BANGSAT kau Da. Kamu PIKIR aku CEWE APAAN!!”. Pandangan tajam Hyewon pada wajah Huda yang tetap cengar-cengir. “Yah terserah kamu. Cuma sekenyot dua kenyot doang. Apa kamu mau aku turunin disini” kata Huda. Pada saat itu mereka telah sampai di daerah yang gelap dan banyak gubuk gelandangan. Hyewon jelas ogah. “Bisa makin runyam kalo aku turun disini. Bisa2 aku digangbang” Hyewon bergidik sambil melihat sekitarnya. ”Ya biarlah si Huda bisa seneng-seneng bentar nggranyangi payudaraku. Itung-itung amal. Kampret juga si Huda ini”. Akhirnya Hyewon ngomong ”Ya udah, cuma pegang susuku doang kan. Jangan lama-lama” Hyewon ketus. ”Ga kok Won, cuma sampe kos kamu doang” kata Huda penuh kemenangan. ”Sialan, itu sih bisa setengah jam sendiri. Ya udhlah, biar cepet beres nih urusan sialan” pikir Hyewon. Tangan kiri Huda langsung terjulur meraih payudara Hyewon sebelah kanan bagian atas yang menonjol dari balik t-shirtnya. Hyewon merasakan jari-jari kasar Huda dikulit payudaranya mulai membelai-belai pelan. Darah Hyewon agak berdesir ketika merasakan belaian itu mulai disertai remasan-remasan lembut pada payudara kanan bagian atasnya. Sambil tetap menyetir, Huda sesekali melirik ke sebelah menikmati muka Hyewon yang menegang karena sebal payudaranya diremas-remas. Huda sengaja jalanin mobil agak pelan, sementara Hyewon tidak sadar kalau laju mobil tidak secepat sebelumnya, karena konsen ke tangan Huda yang mulai meremas-remas aktif secara bergiliran kedua bongkahan payudaranya. Nafas Hyewon mulai agak memburu, tapi Hyewon masih bisa mengontrol pengaruh remasan-remasan payudaranya pada nafsunya


”Enak aja kalo aku sampe terangsang gara-gara ini” pikir Hyewon. Tapi Huda lebih jago lagi, tiba-tiba jari-jarinya menyelusup kedalam t-shirt Hyewon, bahkan langsung masuk kedalam BH-nya yg satu ukuran lebih kecil. payudara Hyewon yang sebelah kanan terasa begitu penuh di telapak tangan Huda yang sebenarnya lebar juga. ”Ahh…!” Hyewon terpekik kaget karena manuver Huda. ”Hehe buset payudara kamu Won, gede banget. Kenyal lagi.


Enak banget ngeremesinnya. Tangan aku aja ga cukup neh hehe” ujar Huda penuh nafsu. Huda melanjutkan gerakannya dengan menarik tangan kirinya beserta payudara Hyewon keluar dari BH-nya. payudara sebelah kanan Hyewon kini nongol keluar dari wadahnya dan terekspos full. ”Wuah..buset gedenya. Pentilnya juga gede neh. Sering diisep ya Won” kata Huda vulgar. ”Bangsat kau Da. Kok sampe gini segala” protes Hyewon berusaha mengembalikan payudaranya kedalam BH-nya. Tangan Hyewon langsung ditahan oleh Huda ”Eh, inget janjimu. aku boleh ngremesin payudara kamu. Mo didalam BH kek, di luar kek, terserah aku”. Sambil cemberut Hyewon menurunkan tangannya. Penuh kemenangan, Huda kembali menggarap payudara Hyewon yang kini keluar semuanya. Remasan-remasan lembut di pangkal payudara, dilanjutkan dengan belaian memutar disekitar puting, membuat Hyewon semakin kehilangan kendali. Nafasnya mulai memburu lagi. Apalagi Huda mulai memelintir-melintir puting Hyewon yang besar dan berwarna pink. Gerakan memilin-milin puting oleh jari-jari Huda yang kasar memberikan sensasi geli dan nikmat yang mulai menjalari payudara Hyewon. Perasaan nikmat itu mulai muncul juga disekitar selangkangan. Perasaan geli dan getaran-getara nikmat mulai menjalar dari bawah puser menuju ujung selangkangan Hyewon. ”Ngehek nih cowok. Putingku itu tempat paling sensitifku. Harus bisa nahan!” membatin si Hyewon. Tapi puting Hyewon yang mulai menegang dan membesar tidak bisa menipu Huda yang berpengalaman. ”Hehe mulai horny juga nih lonte. Rasain kau” pikir Huda kesenangan. Karena berusaha menahan gairah yang semakin memuncak, Hyewon tidak sadar kalau Huda sudah mengeluarkan kedua bongkah payudaranya. Tangan kiri Huda semakin ganas meremas-remas payudara dan memilin-milih kedua puting Hyewon.

Ucapan-ucapan mesum pun mulai mengalir dari Huda “Nikmatin aja Won, remasan-remasanku. Putingmu aja udh mulai ngaceng tuh. Ga usah ditahan birahimu. Biarin aja mengalir. vagina kamu pasti udah mulai basah sekarang”. Hyewon sebal mendengar ucapan-ucapan vulgar Huda, tapi pada saat yang sama ucapan-ucapan tersebut seperti menghipnotis Hyewon untuk mengikuti libidonya yang semakin memuncak. Hyewon juga mulai merasakan bahwa celana dalamnya mulai lembab. “Sial..vaginaku mulai gatel. aku biarin keluar dulu kali, biar aku bisa jadi agak tenangan. Jadi habis itu, aku bisa nanganin birahiku walopun si Huda masih ngremesin payudaraku” pikir Hyewon yang mulai susah menahan birahinya. Berpikir seperti itu, Hyewon melonggarkan pertahanannya, membiarkan rasa gatal yang mulai menjalari vaginanya menguat. Efeknya langsung terasa. Semakin Huda mengobok-ngobok payudaranya, rasa gatal di vagina Hyewon semakin memuncak. “BUSETT. Cuma diremes-remes payudaraku, udah mo keluar”. Hyewon menggigit bibir bawahnya agar tidak mendesah, ketika kenikmatan semakin menggila di bibir vaginanya. Huda yang sudah memperhatikan dari tadi bahwa Hyewon terbawa oleh birahinya, semakin semangat menggarap payudara Hyewon. Ketika melihat urat leher Hyewon menegang tanda menahan rasa yang akan meledak di bawahnya, jari telunjuk dan jempol Huda menjepit kedua puting Hyewon dan menarik agak keras kedepan. Rasa sakit mendadak di putingnya, membawa efek besar pada rasa gatal yang memuncak di vagina Hyewon. Kedua tangan Hyewon meremas jok kuat-kuat, dan keluar lenguhan tertahan Hyewon “Hmmmffhhhhhhh….”. Pada saat itu, vagina Hyewon langsung banjir oleh cairan pejunya. Pantat Hyewon mengangkat dan tergoyang-goyang tidak kuat menahan arus orgasmenya. “Oh..oh..hmmffhh” Hyewon masih berusaha menahan agar suaranya tidak keluar semua, tapi sia-sia saja. Karena Huda sudah melihat bagaimana Hyewon orgasme, keenakan karena payudaranya dipermainkan.

“Hahaha dasar lonte kau Won. Sok ga suka. Tapi keluarnya sampe kelonjotan gitu” Ngakak Huda penuh kemenangan. Nafas Hyewon masih tidak beraturan, dan agak terbungkuk-bungkuk karena nikmatnya gelombang orgasme barusan. “Kampret kau Da” maki Hyewon perlahan. “kamu boleh seneng sekarang. Tapi berikut ga bakalan aku keluar lagi. aku udah ga horny lagi” tambah Hyewon yang berpikir setelah dipuasin sekali maka libidonya akan turun. Tapi, ternyata inilah kesalahan terbesarnya. Beberapa saat setelah vaginanya merasakan orgasme sekali, sekarang malah semakin berkedut-kedut, makin gatal rasanya ingin digesek-gesek. ”Lho, kok vaginaku makin gatel. Berkedut-kedut lagi. Aduuuh..aku pengen vaginaku dikontolin sekaraangg..siaall..” sesal Hyewon dalam hati. Huda seperti tahu apa yang berkecamuk dalam diri (dan vagina) Hyewon. Walaupun Hyewon bilang dia tidak horny lagi, tapi nafasnya yang memburu dan putingnya yang semakin ngaceng mengatakan lain. Huda menghentikan mobilnya mendadak di pinggir jalan bersemak yang memang sangat sepi, dan tangannya langsung bergerak ke setelan kursi Hyewon. Tangan satunya langsung menekan kursi Hyewon agar tertidur. Hyewon yang masih memakai seatbealt, langsung ikut terlentang bersama kursi. ”EEHHH…APA-APAAN Kamu Da??” Teriak Hyewon. Tidak peduli teriakan Hyewon, tangan kiri Huda langsung meremas payudara Hyewon lagi,


sedang tangan kanannya langsung meremas vagina Hyewon. ”OOUUHHHH……….!!” lenguh Hyewon keras, karena tidak menyangka vaginanya yang semakin gatel dan berkedut-kedut keras akan langsung merasakan gesekan, bahkan remasan. Akibatnya, Hyewon langsung orgasme untuk kedua kalinya. Huda tidak tinggal diam, ketika badan Hyewon masih mengejang-ngejang, jari-jarinya menggesek-gesek permukaan celana dalam Hyewon kuat-kuat. Akibatnya, gelombang orgasme Hyewon terjadi terus-menerus. ”Oouuuhh…Aghhhh…Ouhhhhhhhh hh Hudaaahh…!! Teriak Hyewon makin keras karena kenikmatan mendadak yang menyerang seluruh selangkangan dan tubuhnya. Kedua tangan Hyewon semakin kuat meremas jok, mata memejam erat dan urat-urat leher menonjol akibat kenikmatan yang melandanya. Ketika gelombang orgasme mulai berlalu, Hyewon mulai membuka matanya dan mengatur pernafasannya. Rasanya jengah banget karena keluar begitu hebatnya di depan si Huda. ”Aseem, napa aku keluar sampe kaya gitu sih. Bikin tengsin aja. Tapi, emang enak banget. Udah semingguan aku ga ngentot” batin Hyewon. Saat Hyewon masih enjoy rasa nikmat yang masih tersisa, Huda sudah bergerak di atas Hyewon, mengangkat t-shirt Hyewon serta menurunkan BH-nya kekecilan sehingga payudara Hyewon yang bulat besar terpampang jelas di depan hidung Huda. Tersenyum puas dan napsu banget Huda berucap ”Gilaa..payudara kamu Won. Gede banget, mengkal lagi. Harus aku puas-puasin ngenyotinnya ni malem”. Huda langsung menyergap kedua payudara Hyewon yang putingnya masih mengacung tegak. Mulutnya mengenyot payudara yang sebelah kanan, sambil tangan kanannya meremas-remas & memilin-milin puting yang sebelah kiri. Diisap-isap, lidah Huda juga piawai menjilat-jilat dan memainkan kedua puting Hyewon. Gigitan-gigitan kecil dipadu remasan-remasan gemas jemari Huda, membuat Hyewon terpekik ”Ehhgghh ahh.. ahh.. Ehhtanhnn.. kahtanya.. kahtanya cuma pegang-pegang..kok.. kok sekarangg.. kamu ngeyotin payudarakuhh…ahh..ahh..” kata Hyewon sambil tersengal-sengal nahan birahi yang naik lagi akibat rangsangan intensif di kedua payudaranya.

Huda sudah tidak ambil pusing ”Hajar bleh. Kapan lagi aku bisa nikmatin payudara kaya gini bagusnya”. Sekarang kedua tangan Huda menekan kedua payudara Hyewon ketengah, sehingga kedua putingnya saling mendekat. Kedua puting Hyewon langsung dikenyot, dihisap & dimainin oleh lidah Huda. Sensasinya luar biasa, Hyewon semakin terhanyut oleh birahinya. Desahan pelan tertahan mulai keluar dari bibir ranum Hyewon. Lidah Huda mulai turun menyusuri perut Hyewon yang putih rata, berputar-putar sejenak di pusernya. Tangan kanan Huda aktif membelai-belai dan meremas paha bagian dalam Hyewon. ”Aah..ah.. emhh.. emh..Da.. kamu ngapahin sihh..” keluh Hyewon tak jelas. Dengan sigap Huda menyingkap rok mini Hyewon tinggi-tinggi. Memperlihatkan mini panty Hyewon berwarna merah. Agak transparan, dibantu cahaya lampu jalan samar-samar memperlihatkan isinya yang menggembung montok. Jembi Hyewon yang tipis terlihat hanya diatas saja, dengan alur jembi ke arah pusernya.

”Buseett..sexxyy bangett.. bikin konak aku ampir ga ketahan.” syukur Huda dalam hati. Tanpa babibu lagi jari-jari Huda langsung menekan belahan vagina Hyewon, dan Huda langsung mengetahui betapa horny-nya Hyewon ”Wah Won, vagina kamu udah becek banget neh. Celana dalam kamu aja ampe njeplak gini hehe”. Hyewon cuma bisa menggeleng-geleng lemah, sambil tetap menggigit bibir bawahnya, karena jemari Huda menenekan dan menggesek-gesek vaginanya dari atas panty. ”..Da..singkirinn tangan kamu doong….emh..emh..” keluh Hyewon perlahan, tapi matanya memejam dan gelengannya semakin cepat. ”Wah, harus cepat aku beri teknik lidahku neh, biar si Hyewon makin konak hehe” pikir Huda napsu. Cepat Huda ambil posisi di depan selangkangan Hyewon yang terbuka. Kursi Hyewon dimundurkan agar beri ruang cukup untuk manuver barunya. Paha Hyewon dibuka semakin lebar, dan Hyewon nurut saja. Jemari Huda meraup panty mungil Hyewon, dan membejeknya jadi bentuk seperti seutas tali sehingga masuk kedalam belahan vagina Hyewon. Huda mulai menggesek-gesekkan panty Hyewon ke belahan vaginanya dengan gerakan naik turun dan kiri kanan yang semakin cepat. ”Aah.. aahh…ehmm..ehhmm.. uuh.. hapaan itu Da ahh…” desah Hyewon keenakan, karena gesekan panty tersebut menggesek-gesek bibir dalam vaginanya sekaligus clitorisnya. Huda juga semakin konak melihat vagina Hyewon yang terpampang jelas.

Dua gundukan tembem seperti bakpau, mulus tanpa ada jembi di sekelilingnya, cuma ada dibagian atasnya saja. ”Won, vagina kamu ternyata mantap & montok banget. Pasti enak kalo aku makan neh. Apalagi sampe aku genjot nanti hehe” ujar Huda penuh nafsu. Panty Hyewon dipinggirkan sehingga lidah Huda dengan mudah mulai menjilati bibir vagina Hyewon. Tapi sebentar saja Huda tidak betah dengan panty yang mengesek pipinya. Langsung diangkatnya pantat Hyewon, dan dipelorotkan panty-nya. Kini antara Huda dan vagina Hyewon yang tembem dan mulus, sudah tidak ada penghalang apa-apa lagi. Huda langsung menyosorkan mulutnya untuk mulai melumat bakpao montok itu. Tapi, Hyewon yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya, karena ada jeda sesaat ketika Huda melepaskan pantynya, berusaha menahan kepala Huda dengan kedua tanggannya. ”Gila kamu Da, mo ngapain kamu?? Jangan kurang ajar ya. Bukan gini perjanjian kita!” ujar Hyewon agak keras. Tapi kedua tangan Hyewon dengan mudah disingkirkan oleh tangan kiri Huda, dan tanpa dapat dicegah lagi mulut Huda langsung mencaplok vagina Hyewon. Huda melumatnya dengan gemas, sambil sekali lidah menyapu-nyapu clitoris dan menusuk-nusuk kedalam vagina. Bunyi kecipakan ludah dan peju Hyewon terdengar jelas. Konak Hyewon yang sempat turun, langsung naik lagi ke voltase tinggi. Kepala Hyewon mengangkat dan dari bibirnya yang sexy keluar lenguhan agak keras. ”Ouuuffhhh….eeahh…ah. .ah kamu apain mehmmekku Dan..” erang Hyewon nyaris setengah sadar. Rasa gatal yang hebat menyeruak dari sekitar selangkangannya menuju bibir-bibir vaginanya. Rasa gatal itu mendapatkan pemuasannya dari lumatan bibir, jilatan lidah dan gigitan kecil Huda. Tapi, semakin Huda beringas mengobok-obok vagina Hyewon dengan mulut, dibantu dengan ketiga jarinya yang mengocok lubang vagina Hyewon, rasa gatal nikmat itu malah semakin hebat. Hyewon sudah tidak dapat membendung konaknya sehingga desahan dan erangannya sudah berubah menjadi lenguhan. ” OUUHHHHG….. HMMPPHH… ARRGGHH.. HAHHH.. OUHHH..”. Kepala Hyewon menggeleng ke kiri dan kanan dengan hebatnya. Kedua tangannya menekan kepala Huda semakin dalam ke selangkangannya. Pantatnya naik turun tidak kuat menahan rangsangan yang langsung menyentuh titik tersensitif Hyewon. Rasa ogah & jaim sudah hilang sama sekali. Yang ada hanya kebutuhan untuk dipuaskan.

”HUDAAHNN…GILLAA… HOUUUHHH.. ENAAKK…. Da…AHHH” Hyewon semakin keenakan. Huda yang sedang mengobok-obok vagina Hyewon semakin semangat karena vagina Hyewon sudah betul-betul banjir. Peju dan cairan pelumas Hyewon membanjir di mulut dan jok mobil Huda. Jempol kiri Huda menggesek-gesek clitoris Hyewon, sedang jari-jari Huda mengocok-ngocok lubang vagina dan G-spot Hyewon dengan cepat. ”Heh, ternyata kamu lonte juga ya Won. Mulut kamu bilang nggak-nggak mulu. Tapi vagina kamu banjir kaya gini. Becek banget” kata Huda dengan semangat sambil tetap ngocok vagina Hyewon. Dalam beberapa kocokan saja Hyewon sudah mulai merasakan bahwa gelombang orgasme sudah diujung vaginanya. Ketika Huda melihat mata Hyewon yang mulai merem melek, otot-otot tangan mulai mengejang sambil meremas jok mobil kuat-kuat dan pantat Hyewon yang mulai mengangkat, Huda tau bahwa Hyewon akan sampai klimaksnya. Langsung saja Huda menghentikan seluruh aktivitasnya di wilayah selangkangan Hyewon. Hyewon jelas saja langsung blingsatan ” Ah..ah napa brentii…” sambil tangannya mencoba mengocok vaginanya sendiri. Huda dengan tanggap menangkap tangan Hyewon, dan berujar ”kamu mau dituntasin?”. Hyewon merajuk ”Hiyah.. Da.. aku udah konak banggett nih. Pleasee.. kocokin lagi aku ya”. “Kalo gitu kamu nungging sekarang” kata Huda sambil menidurkan kursi sopir agar lebih lapang lagi dan ada pijakan buat Hyewon nungging. “Napa harus nungging Da” Hyewon masih merajuk dan tangannya masih berusaha untuk menjamah vaginanya sendiri. “Ayo, jangan bantah lagi” kata Huda sambil mengangkat pantat Hyewon agar segera menungging. Hyewon dengan patuh menaruh kedua tangannya di jok belakang, dengan kedua lutut berada di jok depan yang sudah ditidurkan. Posisi yang sangat merangsang Huda, demi melihat bongkahan pantat yang bulat, dan vagina tembem yang nongol mesum di bawahnya. Cepat Huda melepas sabuk dan celana panjangnya, lalu meloloskan celana dalamnya. Langsung saja kontol hitam berurat sepanjang 17cm dan berdiameter 4.5cm itu melompat tegak mengacung, mengangguk-ngangguk siap untuk bertempur. Hyewon yang mendengar suara-suara melepas celana di belakangnya, menengok dan langsung kaget melihat kontol Huda sudah teracung dengan gagahnya. ”Buset, gede juga tu kontol, hampir sama dg punya Yogi” pikir Hyewon reflek.

”Eh, kamu mo ngontolin aku Da. Enak aja!” teriak Hyewon dan mencoba untuk membalik badan. Tapi Huda lebih cepat lagi langsung menindih punggung Hyewon, sehingga Hyewon harus bertelekan lagi dengan kedua sikunya ke jok belakang. Huda menggerakkan maju mundur pantatnya sehingga kontolnya yang ngaceng, menggesek-gesek bibir vagina Hyewon. ”Sshh…Da…mmhh.. jangan macem-macem kamu ya!” ujar Hyewon masih berupaya galak, tidak mau dikentot oleh Huda. Kedua tangan Huda meraih kedua payudara besar Hyewon yang menggantung dan meremas-remasnya dengan ganas. Sambil menciumi dan menggigit tengkuk Hyewon, Huda berkata ”Udah deh, kamu ga usah sok ga doyan kontol gitu. Kan kamu yang mau dituntasin. Ini aku tuntasin sekalian dengan kontolku. Lebih mantep timbang cuma jari & lidah hehe”. Remasan & pilinan di kedua payudara dan serbuan di tengkuk dan telinga membuat gairah Hyewon mulai naik lagi.


Nafas Hyewon mulai memburu. Tapi Hyewon masih mencoba untuk bertahan. Namun, gesekan kontol yang makin intense di bibir vagina Hyewon, betul-betul membuat pertahanan Hyewon makin goyah. Kepalanya mulai terasa ringan, dan rasa gatal kembali menyerang vaginanya dengan hebat. ”Hmffh…shh…awas kau Da kalo sampe hhemm.. sampe berani masukin kontol kamu, kamu bakal aku..hmff..aku….OUUHHHHH” omongan Hyewon terputus lenguhannya, karena tiba-tiba Huda mengarahkan pal-kon nya ke lubang vagina Hyewon yang sudah basah kuyup dan langsung mendorongnya masuk, hingga kepala kontol Huda yang besar kaya jamur merah amblas dalam vagina tembem Hyewon, sehingga ada peju Hyewon yang muncrat keluar. ”Hah..hah…shhh…brengs ek kau Hudann. kontolmu…kontolmu…itu mo masuk ke vagina kuuh…” erang Hyewon kebingungan, antara gengsi dan birahi. Huda diam saja, tapi memajukan lagi pantatnya sehingga tongkolnya yang besar masuk sekitar 2 cm lagi, tapi kemudian ditarik perlahan keluar lagi sambil membawa cairan pelumas vagina Hyewon. Sekarang pantat Huda maju mundur perlahan, mengocok vagina Hyewon tapi tidak dalam-dalam, hanya dengan pal-konnya aja. Tapi, hal ini malah membuat Hyewon blingsatan, keenakan. ”HMFPHH….HEEMMFFHH…SS HH AAHH…Hudann kontolmu… kontolmu… ngocokin vaginakuuh….hhmmmff”. Rasa gatal yang mengumpul di vagina Hyewon, serasa digaruk-garuk dengan enaknya. Hyewon yang semula tidak mau dikontolin, jadi kepengen dikocok terus oleh kontol Huda. Kata Huda ”Jadi mau kamu gimana? aku stop neh”. Huda langsung mencabut kontolnya, dan hanya menggesek-gesekkan di bibir vagina Hyewon.

”Hudaa…pleasee.. kentot aku. Masukin kontol kamu ke vaginaku. aku udah ga tahan gatelnya..aku pengen dikenttooott!!!” rengek Hyewon sambil menggoyang-goyangkua pinggulnya, berusaha memundurkan pantatnya agar kontol Huda yang dibibir vaginanya bisa masuk lagi. ”Hahahaha sudah kuduga, kamu emang lonte horny Won. Dari tampang & body elo aja aku tau, kalo elo itu haus tongkol” tawa Huda penuh kemenangan. ”Ayo buka paha lebih lebar lagi” perintah Huda. Hyewon langsung menurutinya, membuka pahanya lebih lebar sehingga vaginanya makin terpampang. Huda tanpa tedeng aling-aling langsung menusukkan kontolnya kuat-kuat ke vagina Hyewon. Dan…BLESHH…seluruh tongkol hitam itu ditelan oleh vagina montok Hyewon. Air peju Hyewon terciprat keluar akibat tekanan tiba-tiba benda tumpul besar. ”AUUGGHHHH…………!!! ” pekik Hyewon yang kaget dan kesakitan. ”Hehehe gimana rasa kontolku Won” kekeh Huda yang sedang menikmati hangat dan basahnya vagina Hyewon. Hyewon masih shock dan agak tersengal-sengal berusaha menyesuaikan diri dengan benda besar yang sekarang menyesaki liang vaginanya. ”Buseet..tebel banget nih kontol, vaginaku penuh banget, keganjel. Mo buka paha lebih lebar lagi udah ga bisa.. mhhmff” erang Hyewon dalam hati. Karena Hyewon diam saja, hanya nafasnya saja yang terdengar memburu. Huda mulai menarik keluar kontolnya sampai setengahnya, kemudian mendorongnya masuk lagi. Demikian terus menerus dengan ritme yang tepat. ”Hehh..heh…mmm legit banget vagina kamu Wonnn..” desah Huda keenakan ngentotin vagina Hyewon yang peret tapi basah itu. Hanya butuh tiga kocokan, Hyewon mulai didera rasa konak dan kenikmatan yang luar biasa. Menjalari seluruh tangan, pundak, payudaranya, sampai selangkangan dan seluruh vaginanya. Rasa gatal yang sangat digemari oleh Hyewon seperti mengumpul dan menjadi berkali lipat gatalnya di vagina Hyewon. Hyewon sudah tidak mendesah lagi, tapi melenguh dengan hebat. Hilang sudah gengsi, tinggal rasa konak yang dahsyat. ”UUHHHHH…..UHHH……OUUHHGG GG… ENNAAKKNYAA…”.

”OH GODD..vaginakuuuh..”
Hyewon terbata-bata disela lenguhannya yang memenuhi mobil..

”vaginakuuh..GATELLL BANGETT….KENTTOOTTT aku TDaN…ARGGHH…” Lenguhan Hyewon semakin keras dan omongan vulgar keluar semua dari bibir sexy-nya. Kepalan tangan Hyewon menggegam keras, kepalanya menggeleng semakin cepat, pinggulnya bergerak heboh berusaha menikmati seluruh kontol Huda. Huda pun terbawa napsunya yang sudah diubun-ubun. Tangannya meremas-remas payudara Hyewon tanpa henti dengan kasarnya,


dan Huda sudah tidak menciumi pundak & tengkuk Hyewon, melainkan menggigitnya meninggalkan bekas-bekas merah. Pantatnya bergerak maju mundur dengan ritme yang berantakan, cepat lalu perlahan, kemudian cepat lagi, membuat kontol Huda mengocok vagina Hyewon seperti kesetanan. Bunyi pejuh Hyewon yang semakin membanjir menambah nafsu mereka berdua semakin menggila. SLEPP..SLEPP..SLEPP..PLAK..PLA K…suara kontol yang keluar masuk vagina dan benturan pantat Hyewon dengan pangkal kontol Huda terdengar di sela-sela lenguhan Hyewon & Huda. Tak sampai 10 menit Hyewon merasakan aliran darah seluruh tubuhnya mengalir ke vaginanya. Rasa gatal sepertinya meruncing dan semakin memuncak di tempat-tempat yang dikocok oleh tongkol Huda. ”aku KELUAARRRR DaNN……OUUUHHHHHHHHH….A HHHHHHH…” teriak Hyewon melampiaskan rasa nikmat yang tiba-tiba meledak dari vaginanya. Huda merasakan semburan hangat pada tongkolnya dari dalam vagina Hyewon. Karena Huda tetap mengocokkan kontolnya, bahkan lebih cepat ketika Hyewon mencapai klimaksnya, Hyewon bukan saja dilanda satu orgasme, melainkan beberapa orgasme sekaligus bertubi-tubi. ”OAHHH…OHHH….UUUHH..KOK..K OK.. KLUAR TERUSSS NIIIHHH…” erang Hyewon dalam klimaksnya yang berkali-kali sekaligus. Hal ini membuat Hyewon berada dalam kondisi extacy dalam 30 detik lamanya. Badan Hyewon berkelonjotan, air pejunya muncrat keluar dari dalam vaginanya. ”Gilaa..enak bener Da… aku sampe keluar berkali-kali” ujar Hyewon agak bergetar karena Huda masih dengan nafsunya mompain vagina Hyewon. ”Hehehe demen banget liat kamu keluar kaya gitu Won. Betul-betul nafsuin. Tapi ini baru setengah jalan. aku bikin kamu lebih kelonjotan lagi. aku kentot lo sampai peju lo keluar semua” kata Huda. Hyewon hanya bisa merutuk dalam hati, karena memang dia merasa keenakan dientot Huda dengan cara sekasar itu. Kemudian Huda membalik tubuh Hyewon agar terlentang dan bersandar di jok belakang. Kedua kaki Hyewon diangkat dan mengangkang lebar sehingga Huda bisa dengan jelas melihat vagina Hyewon yang chubby itu berleleran dengan peju Hyewon. ”Da, udahan dulu ya. aku lemes banget” Hyewon terengah-engah minta time-out. Tapi bukan Huda namanya kalo nurutin kemauan si cewek. Bagi Huda, si cewek harus digenjot terus sampai betul-betul lemes, baru disitu si cewek dapat klimaksnya yang paling hebat. Tidak pedulian rengekan Hyewon, Huda langsung mengarahkan kontolnya ke vagina Hyewon yang menganga, dan langsung BLEESHH..!! Dengan mudahnya vagina Hyewon menelan kontol Huda. ”Hmmffpp..sshiitt..” Hyewon cuma bisa mengumpat perlahan karena tiba-tiba saja (lagi) kontol Huda sudah amblas kedalam vaginanya. Huda langsung menggenjot Hyewon dengan kecepatan tinggi.

SLLEPP…SLEEPP… SLLEPPP…SLEPP…. kontol Huda keluar masuk vagina Hyewon dengan cepat. Hyewon yang sudah lemes dan kehabisa energy, tiba-tiba mulai merasakan sensasi horny lagi. ”Oh shit..aku kok horny lagi. Lagi-lagi vaginaku minta digaruk shhhh..” mengumpat Hyewon dalam hati. Huda yang kini berhadapan dengan Hyewon, bisa melihat perubahan mimik muka Hyewon yang dari lemes dan ogah-ogahan, menjadi mimik orang keenakan dan horny abis. ”Hehehe aku kata juga apa. kamu memang harus dikentot terus, dasar vagina lonte” ujar Huda sambil terus memompa vagina Hyewon. Kedua tangan Huda kini memegang payudara Hyewon, dan meremasnya seperti meremas balon.


”AAHH…AHH…AHH..EEMMPPHH… .EKKHH….” erang Hyewon yang merem melek keenakan dientot. Kali ini tidak sampai 5 menit, seluruh otot tubuh Hyewon sudah mengejang. Kedua tangan Hyewon memeluk dan mencakar punggung Huda kuat-kuat. Lenguhan yang keluar dari mulut Hyewon semakin keras. ”HOUUUHH….HOOOHH….UUUGGHHH …ENNAAKKKKK..TERUSSS DaN…. GENJOTTT TERUSS…. aku AMPIIRR NEEHHH……..”.

”Woe, lonte, kamu udah mo keluar lagi? Tunggu aku napa” damprat Huda tapi tetapi malah mempercepat genjotannya. Tanpa dapat dihalangi lagi, vagina Hyewon kembali berkedut-kedut keras dan meremas-remas kontol Huda yang berada didalamnya. Diiringi pekikan keras, Hyewon mencapai klimaksnya yang kesekian. ”AAGGGHHHHHHHHHHHHH……….. ………aku KLUUAARRR ……..”. Hyewon merasakan gelombang kenikmatan yang luar biasa itu lagi, dan seluruh tulangnya serasa diloloskan. ”Hhhh…..enak bangetttttt. Lemes banget aku” membatin si Hyewon. Melihat Hyewon yang sudah keluar lagi, kali si Huda agak kesal karena dia sebenernya juga sudah hampir keluar. Tapi kalo si cewek sudah nggak binal lagi, si Huda merasa kurang puas. ”Sialan kau Won. Main keluar aja kamu. Kalo gitu aku entot diluar aja kamu. Di sini sempit banget”. Maka Huda langsung membuka pintu mobil, keluar dan menarik Hyewon keluar. ”Eh..eh.. apa-apaan ni Da. aku mo dibawa kemana?” tanya Hyewon lemes. “Kakiku lemes banget Da, susah banget berdiri” tambah Hyewon. Huda langsung bopong Hyewon keluar dari mobil. Langsung dibawa kedepan mobil. Lantas badan Hyewon ditenkurapkan di kap depan BMW-nya. Posisinya betul-betul merangsang. Pinggang ke atas tengkuran di kap mobil, dengan kedua tangan terpentang. Kedua kaki Hyewon yang lemes menjejak tanah, dibuka lebar-lebar pahanya oleh Huda. Hyewon jengah sekali karena kini dia bugil di tempat terbuka. Siapa saja bisa melihat mereka. ”Da, balik dalam lagi aja yuk” ujar Hyewon sambil berupaya berdiri. Tapi dengan kuatnya tangan Huda menahan punggung Hyewon agar tetap tengkurap di kap mobil, sehinggu pantatnya tetap nungging. ”Kan aku udah bilang, aku bakal kentotin kamu sampai habis cairan kamu Won” ujar Huda yang nafsunya makin berkobar melihat posisi Hyewon. Hawa dingin malam malah membuat Huda merasa energinya kembali lagi. Kedua tangan Huda meremas bongkahan semok pantat Hyewon, dan membukanya sehingga vagina Hyewon yang masih berleleran peju ikut membuka. Huda langsung melesakkan kontolnya dalam-dalam ke vagina Hyewon. ”AHHHH…” pekik Hyewon tertahan. Kali ini Huda betul-betul seperti kesetanan. Tidak ada gigi 1, atau 2, bahkan 3. Langsung ke gigi 4 dan 5. Genjotan maju mundurnya dilakukannya sangat cepat, dan ketika menusukkan tongkolnya dilakukan dengan penuh tenaga. PLAK PLAK PLAK PLAK PLAK..bunyi pantat Hyewon yang beradu dengan badan Huda semakin keras terdengar. ”GILAA…ENAKKK BANGET NIH vaginaKK…..” Huda mengerang keenakan. Tangannya mencengkram pantat Hyewon kuat-kuat, dan kepala Huda mendongak ke atas, keenakan. Hyewon yang mula-mula kesakitan, mulai terangsang lagi. Entah karena kocokan Huda, atau karena sensasi ngentot di areal terbuka seperti ini. Perasaan seperti dilihat orang, membuat vagina Hyewon berkedut-kedut dan gatel lagi. Maka lenguhannya pun kembali terdengar. ”OUUHHH….HHHMMFFPPPPP….OHH

H..UOOHH…ENAK..ENAK..ENAAKKK ….” Hyewon meceracau. Mendengar lenguhan Hyewon, Huda tambah nafsu lagi ”Ooo.. kamu demen ya dikentot kasar gini ya Won..aku tambahin lagi kalo gitu” kata Huda dengan nafas memburu. Jari-jari Huda tetap mencengkram bongkahan montok pantat Hyewon, tapi bedanya kedua jari jempolnya dilesakkan kedalam lubang pantatnya. Dan digerakkan berputar-putar didalamnya. Lubang pantat Hyewon adalah juga merupakan titik sensitif bagi Hyewon, sehingga mendatangkan sensasi baru lagi. Apalagi 2 jari jempol yang langsung mengobok-oboknya. Hyewon makin blingsatan dan makin heboh lenguhannya. ”GILAA kamu Da…UUHHHHHH.. UHH..UHH.. OUUUUUUHHHHHHH…..! Hyewon sudah tidak bisa berkata-kata lagi, cuma lenguhan yang kluar dari mulutnya. Huda tidak sadar bahwa setelah hampir 10 menit mengocok Hyewon dari belakang, Hyewon sudah dua kali keluar lagi. Hyewon yang sudah agak lewat sensasi orgasmenya, mulai menyadari bahwa gerakan Huda mulai tidak beraturan dan tongkolnya jadi membesar. ”Oh shit, Huda mo keluar. Pasti dia pengen nyemprot dalam vagina aku. Harus aku cegah” pikir Hyewon panik. Tapi, pikiran tinggal pikiran. Badan Hyewon tidak mau diajak kerja sama. Mulutnya meneriakkan ”DAA, JANGAN NGECRET DIDALLAMM….PLEASEE!!!”. Tapi Huda yang memang sudah berniat menyemprotkan pejunya dalam vagina Hyewon, malah semakin semakin semangat menggenjot dalam-dalam vagina Hyewon. Hyewon sendiri karena vaginanya semakin disesaki oleh kontol Huda yang membesar karena hendak ngecret, jadi terangsang lagi dan langsung hendak ngecret juga. Maka, ketika Huda mencapai klimaksnya, tangannya mencengkram pantat Hyewon kuat-kuat, dan kontolnya ditekan dalam-dalam dalam vagina Hyewon, Huda meraung keras. “HMMUUUUAHHHHH….AAHHHH” cairan peju hangat Huda menyemprot berkali-kali dalam liang vagina Hyewon. Hyewon pun bereteriak keras ” OUUUAAHHHH….aku KELUARRRRR….” dan pejunya pun ikut muncrat lagi. Kedua mahluk lain jenis itu berkelonjotan menikmati setiap tetes peju yang mereka keluarkan. Cairan peju Huda dan Hyewon berleleran keluar dari sela-sela jepitan kontol & vagina Hyewon. Banyak sekali cairan yang keluar meleleh dari vagina Hyewon turun ke pahanya. Huda puas sekali bisa menembakkan pejunya dalam vagina cewek sesexy Hyewon. Apalagi si Hyewon ikutan keluar juga. ”Komplet dah” pikir Huda. Karena lemas, Huda ikut tengkurap, menindih tubuh Hyewon di atas kap mobil. kontolnya yang mulai mengecil, masih dibiarkan di dalam vagina Hyewon. Sedang Hyewon sendiri, masih memejamkan mata menikmati setiap sensasi extasy kenikmatan orgasme yang masih menjalarinya seluruh tubuhnya. Belum pernah ia ngentot sampai keluar lebih dari 4 kali seperti ini. Apalagi sebelumnya dia sempat menolak. Rasa tengsin dan malu mulai menjalar lagi, setelah gelombang kenikmatan orgasmenya memudar. Huda yang masih menindihnya berkata ”Hehehe enak kan. aku demen banget ngentot sama kamu Won. Betul-betul binal & liar. vagina kamu ga ada matinya, nyemprot peju mulu” kata Huda seenaknya. Hyewon cuma bisa diam dan ngedumel dalam hati. ”Udah, bangun kamu. Anter aku pulang sekarang. Berlebih banget nih aku bayarnya” ujar Hyewon ketus. ”Heheh ok..ok aku udah dapet apa yang aku mau. Sekarang aku anter kamu pulang” balas Huda. Huda pun bangun dari punggung Hyewon dan beranjak ke pintu mobil dan mulai memakai pakaian dan celananya. Tapi kemudian dia heran, kok si Hyewon masih tengkurapan aja di kap mobil. ”Hei, katanya mo pulang. Kok masih tengkurapan aja” tanya Huda. Hyewon tidak menjawab, hanya terdenger dengusan nafas saja. Ketika Huda menghampiri, terlihatlah betapa merahnya muka Hyewon, karena menahan malu. ”Da, bantuin aku bangun dong. Kakiku lemes banget. Selangkangan aku rasanya kaya masih ada yang ngganjel” ujar Hyewon malu-malu. ”Hahaha…KO juga kamu ya, cewe paling bahenol di kampus” tawa Huda membahana. Bertambahlah merahlah muka si Hyewon. Ketika mau bopong Hyewon, tiba-tiba pikiran mesum Huda keluar lagi.

Dikeluarkanlah Iphonenya yang terbaru . Huda ambil beberapa shot posisi Hyewon yang mesum banget itu plus dua close up vagina Hyewon yang berleleran peju. Karena Hyewon memejamkan mata untuk mengatur nafas, dia tidak sadar akan tindakan Huda. Akhirnya Huda kasihan juga, tubuh Hyewon dibopong masuk kedalam mobil. Bahkan dibantuin memakai pakaian dan roknya lagi. Tapi ketika Hyewon meminta panty-nya, Huda berkata ”Ini buat aku aja. Kenang-kenangan. kamu ga usah pake aja. vagina kamu butuh udara segar kelihatannya, habis tadi aku sumpalin pake kontolku terus”. ”Sial kau Da. Ya udah, ambil dah sana” ketus Hyewon. Hyewon langsung tertidur di kursi mobil. Baru terbagun ketika mobil Huda sudah sampai di depan pagar kos-kosan Hyewon. ”kamu bisa jalan ga Won? Kafa masih lemes, aku papah deh masuk ke kamar kamu. Itung-itung ucapan terima kasih sudah mau ngentot ama aku malam ini hehe” kata Huda nakal. Hyewon tidak bisa menolak tawaran itu, karena memang dia masih merasa lemas dikedua kakinya. Maka Huda pun memapah Hyewon berjalan menuju kosnya. Kamar Hyewon ada di lantai 2. Kamar-kamar di lantai 1 sudah pada tertutup semua. Tidak ada penghuninya yang nongkrong di luar. Diam-diam Hyewon merasa lega. Apa kata orang kafa dia pulang dipapah seperti ini. Kafa ga dibilang lagi mabok, bisa dibilang yang enggak-enggak lainnya. 

Setelah ditidurkan di ranjangnya Huda pamit ”aku cabut dulu ya Won. makasih buat malam ini. Betul-betul sex yang hebat. Baru kali ini aku ngrasain. Kalo kamu pengen, call aku aja ya. kontollku selalu siap melayani hehe”. ”Enak aja. Ini pertama dan terakhir Da. Kapok aku naik mobil kamu” balas Hyewon pedas. Huda cuma tartawa saja, lalu berbalik menutup pintu dan pergi. Sebenarnya Hyewon merasakan hal yang sama dengan Huda, betul-betul sex yang luar biasa malam ini. Hyewon ragu-ragu, bila Huda ngajak lagi, emang dia bakal langsung nolak. Kok ga yakin ya? Sialan maki Hyewon pada diri sendiri. Sekarang aku butuh tidur. Dalam sekejap Hyewon langsung terlelap, tanpa berganti pakaian.

Hyewon the Stories Ch. 07 : Korban Permainan Bapak Kost

 “Huuuh..nyebelin banget sih tuh aki-aki..” gerutu Hyewon sambil mengunci pintu kamar kostnya.

Kembali hari ini ia sebel dengan Pak Mahmud, si bapak kostnya yang sering bersikap genit dan terkadang menjurus kurang ajar terhadap dirinya. Kejadiannya tadi saat dia pulang kuliah berpapasan dengan Pak Mahmud yang sedang berusaha memaku sesuatu di dinding.
“Sore pak..lagi ngapain pak..?” sapa Hyewon demi kesopanan.
“Eh..mba Hyewon dah pulang..”sahut Pak Mahmud dengan mata berbinar. “Kebetulan aku mau minta tolong sebentar bisa?”
Hyewon yang mau buru-buru ke kamar terpaksa menghentikan langkahnya dan menoleh.
“Apaan pak?” tanyanya sekenanya, kembali ia kesal melihat pandangan mata pak tua itu yang jelalatan ke arah dadanya.
“Ini loh..kamu bisa pasangin lukisan ini ga kepaku yang dah saya pasang itu, takutnya tangganya goyang banget karena berat badan saya, maklum agak gendut gini ribet jadinya” katanya sambil cengengesan dan kembali pandangan matanya menyantap kulit leher Hyewon yang mulus.”nanti saya pegangin tangganya”
Hyewon menyanggupi dan dia menaiki tangga yang memang sudah goyang itu, gadis itu baru sadar pas naik ke pijakan kedua bahwa tangga itu memiliki jarak yang cukup lebar antara pijakan-pijakannya, jadi saat kakinya naik ke pijakan kedua, dirinya yang saat ini menggunakan rok span ketat agak kesulitan dan roknya menjadi tertarik ke atas sehingga pahanya menjadi terbuka. Kejadian itu berulang lagi saat ia ke pijakan ketiga, bahkan jaraknya makin jauh sehingga pahanya makin terbuka lebih lebar. Hyewon mengutuk dalam hati, saat melirik Pak Mahmud yang dengan senyum mesumnya menikmati pahanya yang jenjang dan berkulit mulus bersih itu.

Pak Mahmud

Melihat pemandangan indah ini, Pak Mahmud merasa nafasnya sesak sama sesaknya dengan penisnya yang jadi menegang. Sungguh indah bentuk paha gadis ini dan ia dengan bebas bisa melihat dari dekat, ingin rasanya mengelus paha montok nan mulus itu, tapi ia menahan diri. Ia menyerahkan lukisan ke Hyewon untuk dipasang, tapi karena nyantolinnya masih agak tinggi maka gadis itu harus memasangnya dengan mengangkat tangannya setinggi mungkin, ia tidak sadar bahwa karena gerakannya itu blusnya yang pendek ikut tertarik ke atas sehingga terlihat kulit pinggangnya yang ramping sampai ke perut di bawah dadanya.

Dengan sengaja Pak Mahmud menggoyangkan tangganya sehingga memperlama dirinya untuk bisa menikmati pemandangan pinggang berkulit mulus gadis itu. Setelah selesai terpasang, Hyewon menurunkan kaki kirinya ke pijakan kedua yang ternyata tanpa sepengetahuannya telah dilonggarkan pakunya. Sambil terus menikmati paha Hyewon yang terbuka kembali, Pak Mahmud bersiap-siap.
“Eiiihh…eiihh..” Hyewon menjerit kecil saat pijakannya lepas dan ia terjatuh ke belakang dan saat itu dengan sigap Pak Mahmud menangkapnya sehingga tidak sampai terjatuh lebih parah.
Merah muka gadis itu karena satu tangan yang menahan dirinya memegang tepat ke pantatnya dan sepertinya ia merasa tangan itu sedikit meremasnya. Dengan cepat ia menjauhkan badannya dari “pelukan” Pak Mahmud yang mengambil kesempatan itu.
“Waduh, untung sempet saya pegangin mba nya, kalo ngga bisa berabe tuh..” ujar Pak Mahmud cengengesan yang masih menikmati hangatnya tubuh dan kenyalnya pantat Hyewon tadi walau sesaat tadi.
“Mmm..iya pak, makasih..udah kan pak ya..” tukas Hyewon sambil ngeloyor pergi dengan diikuti pandangan Pak Mahmud yang menikmati gerakan pinggul gadis yang montok itu.
“Hmmm..tunggu aja ntar ya..lo bakal kena ama gua” pikir pria tambun setengah tua ini dalam hati.

Sudah banyak planning yang kotor dan mesum darinya yang memang punya sedikit kelainan seks ini. Di dalam kamar, Hyewon masih sebel sama kejadian tadi. Sudah terlalu sering ia mendapat perlakukan atau kata-kata yang menjurus mesum dari bandot tua itu, tapi ia berusaha menahan diri mengingat bahwa tempat kost ini cukup murah dengan fasilitas yang ada juga ditambah lagi dengan lokasi yang di tengah kota dan dekat ke tempat kuliah atau mau ke mana-mana. Maka ia memutuskan untuk tetap bertahan asalkan si mesum itu tidak terlalu kurang ajar. Bila ketemu pasti Hyewon merasa risih dan agak ngeri ngeliat mata Pak Mahmud yang seperti menelanjangi sekujur tubuhnya, tapi terkadang selain ngeri dan risih gadis itu juga merasakan bangga dan senang karena kecantikan dan tubuhnya menjadi perhatian sampai seperti itu walau Pak Mahmud bukan levelnya untuk bisa menikmati dirinya.

Beberapa kali kalau berpapasan sama Pak Mahmud dan berbincang-bincang, selalu saja tangannya tidak pernah diam menjamah, walau hanya menjamah pundak atau lengannya tetap saja gadis itu merasa risih karena sambil melakukan itu bapak kost itu merayu dengan kata-kata yang kampungan.
“Ahh..udahlah, ga penting juga..mendingan gua mandi” kata Hyewon dalam hati

Sambil berkaca ia mulai melepas satu per satu kancing blusnya dan melepasnya sehingga bagian atasnya kini hanya tertutup BH biru muda yang susah payah berusaha menutupi payudara berukuran 34D itu. Dengan pinggang yang ramping, maka buah dada itu tampak sangat besar dan indah dan karena Hyewon rajin ke fitness makin tampak kencang dan padat.


Sungguh merupakan idaman bagi semua laki-laki di dunia bagi yang dapat menikmatinya. Lalu ia melanjutkan dengan melepas rok span-nya ke bawah sehingga kini tubuh yang memiliki tinggi 168cm ini hanya ditutupi bra dan cd yang berwarna senada. Body yang akan membuat laki-laki rela untuk mati agar bisa mendapatkannya, memiliki kulit putih asia dan dihiasi dengan bulu-bulu halus nan lembut. Menjanjikan kehangatan dan kenikmatan dunia tiada tara. Hyewon melepas kaitan bra disusul dengan cd-nya yang segera dilemparkan ke ember tempat baju kotor. Ia memandang sejenak ke cermin, melihat payudaranya seperti “bernafas” setelah seharian dibungkus dengan bra. Gumpalan daging yang kenyal dan padat dengan puting berwarna coklat muda sungguh menggairahkan.
“Auuh…” gadis itu sedikit merintih atau tersentak saat ia memegang kedua putingnya, serasa ada aliran listrik menyengat lembut dan menimbulkan rasa sensasi geli pada kemaluannya yang tanpa sadar tangan kirinya turun ke arah vaginanya dan sedikit membelainya.
Sambil senyum-senyum sendiri, gadis itu membayangkan dada telanjangnya dan membusung ini selalu menjadi sasaran remasan dari Topan, adik Yogi yang  masih SMU itu tidak penah bosan juga mengulum puting dan menciumi kulit payudaranya yang mulus dan harum itu. Tidak percuma ia setiap 3 hari sekali memberikan lulur pada tubuhnya, terutama pada payudaranya yang sampai sekarang memiliki aroma yang memabukkan walaupun dalam kondisi berkeringat.
Hyewon menghela nafas panjang menahan gejolak birahi yang timbul, dan sekarang ia merasa ingin dilampiaskan. Padahal baru tadi malam ia berenang di lautan asmara yang menggelora dengan Topan. Ia merasa dirinya selalu saja haus akan belaian darinya, padahal hampir setiap ketemu mereka bercumbu dengan hot dan yang suka bikin ngiler adalah mengulum penis Topan sampe bisa keluar spermanya. Kini ia membayangkan ukuran penis Topan saja udah bikin deg-degan, ga sabar untuk ketemu dan mengemut-ngemut batang kemaluan yang kokoh itu.
“Huuuh..mending gua mandi aja deh, otak gua jadi kotor nih..”
Selesai mandi, sedikit terusir pikiran-pikiran tadi karena sudah tersiram air dingin. “Loh, kok ga bisa sih nih?” Hyewon sudah beberapa saat ngga bisa memutar kunci lemari bajunya, ia masih coba terus beberapa saat tapi masih ga bisa juga.
“Duh, mesti minta tolong ama bandot itu dong” keluhnya

Untungnya masih ada baju di keranjang yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Tapi setelah memilih-milih, di keranjang baju itu hanya ada underwear 2 pasang dan baju-baju khusus tidur yang tipis dan seksi serta baju dalaman sexy seperti tanktop dan rok mini yang mininya 20 cm dari lutut. Dari pada pakai baju tidur tipis ia memilih rok mini dan tank top yang rendah belahannya. Sebelum ke Pak Mahmud, Hyewon memilih untuk makan malam dulu di ruang makan bersama, sambil makan ia menyalakan tv dan duduk di ujung sofa.
“Ehh..mba Hyewon baru makan ya..bapak temenin ya, ga baik cewe seseksi kamu makan sendirian” tiba-tiba si bandot itu muncul, dan langsung menyantap paha Hyewon yang disilangkan itu, sungguh mulus, lalu ia duduk di samping gadis itu.
“Ia pak..sekalian makan pak…terus sama minta tolong kok lemari baju saya ga bisa dibuka yah?” pinta Hyewon sambil menggeser menjauh dan berusaha dengan sia-sia menarik turun rok mininya. “buset tuh mataaaa…abis gua..” katanya dalam hati.
“Ooo gitu, nanti saya periksa deeeh…”
“Makasih ya pak”
Hyewon buru-buru nyelesaiin makannya, saat tiba-tiba ia merasa dadanya bagian putingnya terasa gatal. Awalnya berusaha ditahan saja tapi makin lama makin meningkat rasa gatalnya, dan bukan itu saja kini ia merasakan hal yang sama pada vaginanya.

Ia masih berusaha menahan tapi sudah hampir tidak kuat, duduknya jadi gelisah dan ia berusaha menggoyangkan badannya agar rasa gatal itu hilang bergesekan dengan bahan bra-nya dan ia mempererat silangan kakinya. Tapi rasa gatalnya tidak berkurang, bahkan kini seluruh daging kenyal payudaranya terasa gatal.



“Ouuuhh..” akhirnya Hyewon tidak tahan dan ia menggaruk sedikit kedua payudaranya dengan tangannya, saat ia menggaruk terasa nyaman sekali karena gatalnya berkurang tapi sulit untuk berhenti menggaruk. Sambil memejamkan matanya karena keenakan menggaruk ia lupa ada Pak Mahmud di situ.
“Kenapa kamu? Kamu kegatelan yaah?”
“Uuuhh…sssshh..ehm, i…iya pak..” terkejut Hyewon karena baru ingat ada si bandot di sampingnya, tapi ia terus menggaruk makin cepat dan karena tak tahan ia menggaruk juga ke pangkal pahanya..
“Uuuuuffh..ssshh…” aliran darah Hyewon berdesir cepat karena sensasi menggaruknya itu selain menghilangkan rasa gatal juga membuat birahinya tergelitik. “per..permisi pak..uuffh..” sambil terus menggaruk ia mau bangkit dari kursi tapi rasa gatal itu makin menghebat yang akhirnya dia hanya teduduk kembali sambil terus menggaruk

Sedetik ia melihat Pak Mahmud hanya menonton dengan pandangan penuh nafsu setan ke dirinya yang terus menggaruk itu. Gadis itu mengutuk karena ia memberikan tontonan gratis kepada pria tua itu tanpa dapat mencegah. Gerakannya makin cepat dan tidak karuan karena kedua tangannya hanya bisa menggaruk 2 bagian dari 3 bagian tubuhnya yang terserang itu, kini rok mininya sudah tersingkap semua karena ia harus menggaruk liang kemaluannya sehingga memperlihatkan kedua pahanya yang jenjang dan berkulit putih mulus itu. Gadis itu terus merintih-rintih karena kini rasa gatalnya sepertinya tidak bisa digaruk hanya dengan garukan yang masih terhalang kaos dan bh untuk kedua payudaranya dan celana dalam tipisnya untuk vaginanya, tubuhnya serasa lemas karena rasa gatal dan birahinya yang kini membuat vaginanya menjadi basah dan ia merasa putingnya mengeras.



“Misi pak…mau ke kamar dulu niiih..uuhh..” Kata Hyewon, tapi Pak Mahmud diam saja menghalangi jalan keluarnya. Rasanya ingin marah saja tapi rasa gatal itu menghalangi rasa marahnya.
Karena akhirnya ia tidak tahan dan tidak bisa mencegah lagi, dengan serabutan dan cepat ia menarik tali tank topnya kebawah dan menarik turun branya sehingga kini buah dadanya telanjang yang segera ia menggaruk dengan cepat dua gunung indah itu terutama putingnya yang kini sudah mancung dan mengeras, kakinya bergerak blingsatan karena rasa gatal pada vaginanya makin menghebat. Pak Mamud tertawa dalam hati, ia menikmati melihat indahnya pemandangan di depannya itu, betapa buah dada Hyewon yang berbentuk bulat kencang itu tidak tertutup apapun serta baju Hyewon yang sudah tidak keruan. Senang ia melihat gadis yang cantik tapi sombong ini kini tampak tidak berdaya. Rencana awal ini berhasil dengan baik, yang ternyata ia telah mengganti kunci lemari baju Hyewon dan menaruh bubuk gatal pada pakaian dalam gadis itu dan sengaja memilihkan baju yang seksi tertinggal di luar lemari. Tangan Hyewon masih bergerak cepat berpindah-pindah mencoba menggaruk 3 bagian tubuh, makin lama makin menghebat dan dari mulutnya meracau tidak jelas. Dengan susah ia berusaha menggaruk vaginanya secara langsung tapi ia kesulitan karena harus menggaruk putingnya.
“Saya bantu ya sayang…” tanpa disuruh ia menarik turun celana dalam tipis Hyewon, sehingga sekarang terlihat “bibir” bawah tersebut yang dihiasi bulu-bulu halus. Tampak indah sekali dan menggairahkan.
“Nggeeh..ja..gan kurang ooouhh..”ia tidak dapat melanjutkan umpatannya karena ia menikmati garukan pada vaginanya walau ia harus berpindah lagi sambil merintih-rintih terus

Ia terkejut sesaat ketika tangan Pak Mahmud mengelus-elus pahanya, tapi ia tidak bisa memperdulikannya lagi yang penting ia harus terus menggaruk. Dengan leluasa Pak Mahmud menjelajahi lekuk liku tubuh montok itu tanpa penolakan, kulit pahanya terasa lembut dan daging paha sintal itu terasa kenyal dan hangat dalam usapannya. Karena belaian-belaian yang dilakukannya ini membuat Hyewon makin menggelinjang karena kini birahinya sudah melonjak.

“Biar ini aku yang bantu yaah..” dengan sigap jari-jari tangannya hinggap di vagina Hyewon dan menggeseknya dengan liar.
“Ouuuuhh…ss..stoopp…aiiieh…iyaa…ouuhh” ngga jelas Hyewon mau ngomong apa, sedetik ia tahu vaginanya sedang diobok-obok oleh orang yang dia sebel, tapi ia tidak tau dan tidak berdaya karena rasa gatal dan nafsunya yang memuncak sehingga dia tidak mampu menolak perbuatan Pak Mahmud. Kini ia fokus menggaruk payudaranya, tidak hanya digaruk tapi juga diremas-remas dan memuntir-muntir putingnya sendiri.


Dengan leluasa Pak Mahmud menggesek-gesek bagian tubuh yang paling rahasia milik gadis itu. Hampir 5 menit kini liang vagina itu sudah becek dan menimbulkan bunyi kecipak karena gerakan jari-jari Pak Mahmud yang sudah ahli itu.
“aaahh..jgn dilepas..ohh…pak..” jerit Hyewon saat tangan Pak Mahmud mengangkat tangannya dari vaginanya yg sudah basah itu dan malah “cuman” mengelus-elus pahanya dan meremas pantatnya.
“Kenapa sayang..? kamu mau aku untuk terus mengobok-obok vagina kamu..?” tanya Pak Mahmud.
“Ngeh..ngeh..iii yaaa paakk…ouufh..” diantara engahannya
“kamu yakin..??”
“uuhh…ngeh…sssh..” ia hanya mengangguk
“kamu mohon dong sama aku..paaak Pak Mahmud sayang, tolong obok-obok vagina saya…please saya mohon”
Mendengar perintah itu, sekejap Hyewon merasa malu dan marah tapi segera terganti kebutuhan body-nya yang sudah terbakar birahi secara aneh itu. Ia berusaha untuk tidak mengucapkan itu dengan terus menggaruk, tapi ia tidak kuat..
“ouuh..ngeh..Pa..Pak Mahmud sssss….sayaaang, ooh..tol..long obok…obok me…nggeh…vagina sayaaaa…pleeeeease…uuuff.. saya mohoooonn…” erang Hyewon.
“Tentu sayang…”
Lalu dengan sigap jarinya menggerayangi bibir vagina Hyewon yang becek itu dan menggesek dengan cepat. Hyewon melenguh penuh nikmat sambil meregangkan badannya, lalu tersentak hebat saat jari itu menusuk masuk dan menemukan klitorisnya
“Haaa..ternyata disitu yaaa…” dengan ahli ia memainkan jari itu pada g-spot tsb yang mengakibatkan Hyewon mendesah-desah. Gadis itu merasakan terbentuknya sensasi orgasme menanjak naik..
“Oouuhh…ja.nggaannn..” ia berusaha menahan dirinya, tapi gerakan jari Pak Mahmud makin menggila dan terus menggila, ia sudah hampir tidak tahan.

Sambil menggigit bibirnya dan memejamkan matanya ia berusaha menahan klimaksnya, tidak mengira bahwa dirinya dapat dibuat klimaks oleh Pak Mahmud.
“Ouuuuuuhhhhhh….aaaiiiieeeeeeeeeee…..” dengan teriakan panjang Hyewon mencapai puncaknya dan tubuhnya menggetar keras.

Cairan makin deras membahasai liang vaginanya, ia menikmati setiap detik sensasi luar biasa itu. Tubuhnya makin lemas dan pandangannya nanar. Ia tak mampu menolak saat Pak Mahmud menunduk dan mencium bibirnya yang tipis.
“mmmmmpphhh…..” Hyewon mengerang dan sulit menolak saat lidah Pak Mahmud memasuki rongga mulutnya dan melilit-lilit lidahnya, bahkan tanpa sadar ia membalas ciuman itu. Sementara tangan Pak Mahmud masih mengocok kencang dan gadis itu merasakan kembali orgasmenya mau menyeruak lagi..apalagi saat ciuman Pak Mahmud berpindah mencium puting kirinya..
“Auukkh..ssttopp..ssssshh…ssshh..” tapi Hyewon malah membusungkan dadanya mempermudah Pak Mahmud menikmati puting kerasnya.

Kini rasa gatalnya sudah terganti dengan desakan nafu setan yang tidak pernah terpuaskan, tangannya yang bebas dituntun oleh Pak Mahmud ke penisnya di balik sarungnya.
“oouuh..bes..bessar banget ppaakk..” gumam Hyewon tanpa sadar saat merasakan batang hangat yang berdenyut-denyut dalam genggamannya, ia melirik ke arah batang kemaluan Pak Mahmud yang ternyata lebih besar dibanding milik Yogi, pikiran nafsunya tanpa sadar membayangkan apakah ia mampu untuk mengulum penis itu dalam mulutnya atau membayangkan bagaimana rasanya bila penis itu menyerang vaginanya. Dengan birahinya yang terus membara dan terus dijaga geloranya oleh Pak Mahmud, Hyewon dengan suka rela mengocok-ngocok penis raksasa Pak Mahmud itu, ia sudah tidak ingat akan bencinya dia terhadap pria tua berumur 60 tahun itu.

Pak Mahmud mulai mendesah-desah keenakan di antara kulumannya pada kedua puting Hyewon.
“aaaaaaannggghhhhh…pppaaaakkhh……aaaaaaannggghh…” Hyewon mencapai klimaks sampai dua kali berturut-turut karena kocokan tangan Pak Mahmud, matanya makin nanar dan bibir seksinya menyeringai seperti menahan sakit.
“Sekarang kamu isep punya bapak yaa..kamu kan jago”
“ouuh..ngga ma..mau..ap…aauupphhh..mmmhh..” Hyewon yang lemas akibat klimaks tadi tak berdaya menolak saat Pak Mahmud menarik lehernya membungkuk ke arah batang “pohon” nya, tidak memperdulikan protes Hyewon yang ia tau hanya pura-pura karena sebenarnya sudah jatuh dalam genggamannya. Kini dengan dengan bibirnya yang seksi dan lidah yang hangat lembut itu mulai mengulum batang kemaluan itu.
“Oooh..enak sayaaang…kamu memang jago..sssshh…kamu suka kan..?” tanyanya
“mmmmmpph…sllluurpp..mmmmmm” hanya itu yang keluar dari mulut Hyewon, yang dengan semangat memainkan lidahnya menjilati dan menghisap penis Pak Mahmud.

Aroma dan rasa dari penis laki-laki itu telah menyihirnya untuk memberikan sepongan yang paling enak.
“Bapak tau..kamu cuman cewek sombong yang sebenarnya punya jiwa murahan dan pelacur…plaakk..!!”
Hyewon tersentak saat pantat bulatnya ditepak oleh Pak Mahmud, mukanya merah dan marah tapi sebenarnya malah membuat dia makin terangsang dan makin cepat ia mem-blow job penis Pak Mahmud. Belum pernah ia merasakan birahinya dibangkitkan dengan cara kasar ini, tapi ia tau bahwa ia sangat menikmatinya.

“Kurang ajar nih aki-aki” gerutunya dalam hati dan ia menggigit gemas ke penis Pak Mahmud yng membuatnya itu mengelinjang dan lidahnya makin cepat menyapu urat di bawah penis itu.
“Ayo..sekarang kamu naikin penis aku..”
Tanpa berucap Hyewon mulai menaiki ke atas tubuh tambun Pak Mahmud, dengan deg-degan menanti penis besar itu ia menurunkan pinggulnya dengan dibantu tangan Pak Mahmud yang memegang pinggangnya yang ramping.

“Ooooh..” Hyewon mengerang saat ujung “helm” penis itu bersentuhan dengan bibir vaginanya dan mulai memasuki liang surga. Kembali ia mengerang menahan sedikit sakit saat baru masuk sedikit, liang vaginanya berusaha mengimbangi diameter penis Pak Mahmud itu.
“Enak kan sayang?”
“Hmmmmm…nggh…” Hyewon hanya mengerang dan memjamkan mata menunggu penis itu membenam ke dalam vaginanya. Tapi Pak Mahmud hanya menggesek-gesek liang vagina Hyewon itu dengan ujung kepala “meriamnya”. Gadis itu menggoyang-goyang pinggul seksinya dan berusaha menurunkan badannya, tapi Pak Mahmud tetap menahan pinggulnya sehingga tetap belum dapat “menunggangi” penis Pak Mahmud.
“Hemmm…kenapa sayang? Udah ga sabar yaa ngerasain kontol bapak?”
“Huuh?..nggeeeh…aa..paahh…” Hyewon ngga tau harus ngomong apa, masih tersisa gengsi pada dirinya.
“Hehehe..masih sok alim uuh..kamu ya..? Kalo kamu mau kontol bapak, kamu harus memohon dengan mengaku diri kamu itu cuman perek murahan dan lakukan dengan seksi..”
“aaahh…sssh..kenapa mes..ti gitu paakk…pleaaase…” Hyewon sudah benar-benar terangsang dan tidak bisa berfikir jernih lagi, dalam pikirannya kini hanya penis Pak Mahmud saja.
Pak Mahmud mendengus dan seperti hendak memindahkan tubuh Hyewon di atasanya, merasa perbuatan itu.
“Oouuh ooke..okeeh paaak…ngeh, tega bgt sih bapak…oouf paak, tolong masukin kontol ba..ngeehh..bapak ke vaginaku paak, entotin sayaaa ooh paakk…akkuu..memang cewe murahan yang sok suci..nggeh..pleease..paakk..akuuu mohooon…” pinta Hyewon memelas sambil meremas-remas kedua payudaranya.



“Hehehehe…kamu tergila-gila ya sama kontol bapak..”
“Iyaa ppaakkh…please..aku ga tahaaan paakk…”
“Kontol teman kamu ga ada apa-apanya kan?”
“oouuh..jauuh pakkk..punya bapak lebih hebaat dan enaaaakk”
“Hehehe..good…ini dia hadiahnya..”
Pak Mahmud lalu menarik ke atas tubuh Hyewon dan menurunkannya kembali, dengan diiringi erangan Hyewon merasakan penis itu makin dalam masuknya dan sulit ia menahan diri untuk tidak klimaks yang keempat kalinya. Hyewon kembali menaikkan badannya dan menurunkan kembali sehingga sudah ¾ penis itu diemut vaginanya. Gerakannya diulangi berkali-kali, awalnya perlahan tapi makin lama makin cepat karena vaginanya sudah bisa “menerima” penis berukuran di atas rata-rata itu. Gadis itu sudah benar-benar dikuasai nafsu birahinya dan ia merasa terbang ke awang-awang merasakan gesekan-gesekan penis Pak Mahmud dengan dinding vaginanya. Tidak sampai 5 menit Hyewon sudah merasakan akan keluar lagi.
“Ouuh..gilaaa..paaakkh..oouuuhhhhhhhhh..” Hyewon mencapai klimaksnya lagi dan ia terus bergerak naik turun menunggangi penis yang masih perkasa itu.

Buah dadanya yang besar menggantung itu bergerak naik turun mengikuti irama gerakan badannya, dengan nikmat Pak Mahmud meraup gumpalan daging kenyal itu dan meremas-remasnya dengan gemas. Dengan liar ia terus menunggangi penis itu, diiring dengan bunyi “plok..plok..plok..plok..” yang makin cepat akibat beradunya badan Hyewon dengan perut buncit Pak Mahmud. Hampir 15 menit Hyewon menikmati hunjaman-hujaman penis itu, dalam periode itu Hyewon sudah mencapai orgasme sampai 4x lagi, ia tidak dapat menahan untuk tidak melenguh dan berteriak nikmat. Pikirannya sulit untuk fokus bahwa ia telah dibuat klimaks oleh seorang laki-laki yang pantas jadi ayahnya. Ia merasa lemah sekali akan nafsu yang menguasainya, tapi sungguh terasa nikmat sekali yang tidak mampu ditolaknya. Pak Mahmud juga sudah hampir mencapai puncaknya, penisnya telah mengeras sampai maksimal dah hal ini juga dirasakan oleh Hyewon, ia mempercepat gerakan naik turunnya yang menyebabkan buah dada montoknya bouncing naik turun makin cepat.
“Uuuaaahh…gilaaaaa…ooouuuhhh…” akhirnya Pak Mahmud tidak dpt menahan lagi, spermanya muncrat seiring dengan klimaksnya yang ternyata berbarengan dengan klimaks yang sangat kuat dari Hyewon.

Pak Mahmud merasakan dinding vagina Hyewon yang hangat itu bergetar menambah kenikmatan klimaksnya. Dengan lunglai Hyewon turun dari tunggangannya dan rebah di samping Pak Mahmud yang juga masih merem melek habis menikmati tubuh gadis cantik dan sexy itu.
“Kamu memang hebat hebat cantik…”
“Cukup pak..ngeh, aku ga tau kenapa bisa kaya gini tadi..ini harusnya gak terjadi, cukup sekali ini terjadi” Hyewon yang sudah mulai jernih pikirannya, ia kini sangat menyesali bahwa ia menyerahkan dirinya secara sukarela kepada Pak Mahmud. Ia memutuskan untuk pindah kost dan kejadian tadi harus dikubur dalam-dalam, tidak boleh ada yang tahu.
Melihat Hyewon yang mulai membereskan bajunya dan hendak pergi, Pak Mahmud bergerak cepat. Ia memegang leher belakang Hyewon yang sedang membungkuk hendak mengambil cdnya lalu dengan cepat membenturkannya ke meja kayu yang ada di depan mereka duduk.
“uuuugghhh….” kerasnya benturan itu membuat ia setengah pingsan.
“hehehe..ga secepat itu sayang..kamu akan jadi milikku..” Pak Mahmud lalu menarik tangan Hyewon dan gadis itu pasrah saja dibawa dengan setengah sadar masuk ke kamar Pak Mahmud. Lalu setelah melepas sisa bajunya, ia merebahkan tubuh telanjang yang masih lemas itu ke atas ranjangnya. Lalu ia mengikat kedua pegelangan kaki dan pergelangan tangan Hyewon ke ujung ranjang besi, sehingga kini tubuh telanjangnya itu dalam posisi kaki yang mengangkang lebar.
“uuuh..apa-apaan inih…lepasin paak…”dengan suara masih serak dan lemah Hyewon berontak dengan percuma, ia mulai takut apa yang hendak dilakukan.

Melihat posisi dan kondisi Hyewon yang menggairahkan itu, Pak Mahmud tidak tahan lagi ia membungkuk lalu menciumi payudara montok dan memainkan lidahnya mengecupi puting Hyewon yang sebentar saja langsung mengeras.



“Ouuh..pak..! lepasin saya pak…kalo ngga sa…aauupphh…mmbbllllmmmmm…” Hyewon tidak dapat melanjuntukan omongannya karena ditutup lakban oleh Pak Mahmud.

Kini kesadaran Hyewon sudah mulai pulih, ia masih terus berusaha memberontak untuk melepaskan ikatan kaki dan tangannya tapi ikatan itu sungguh kuat. Ia mulai takut karena kini ia tidak berdaya dan berada dlm kekuasaan Pak Mahmud. Pandangan matanya mengikuti Pak Mahmud seperti mata kelinci yang sedang ketakutan melihat serigala yang akan memangsa, dan air matanya mulai meleleh di pipinya.
“Eeeiih..kenapa nangis cantik? Aku paling ga suka liat cewe nangis…tapi sekarang kita liat film dulu ya…”ujar Pak Mahmud sambil memasang kabel menghubungkan dari handycam ke tv. Lalu ia mulai menyetelnya.

Mata Hyewon terbelalak kaget saat melihat tayangan video di layar tv, jantungnya serasa akan copot dan kepalanya tiba-tiba pusing mendadak melihat adegan per adegan dari video itu. Ternyata kejadian di sofa ruang tengah tadi semuanya direkam oleh Pak Mahmud dari tempat tersembunyi, terlihat jelas saat ia melihat dirinya mulai merasakan gatal yang menyerang, mulai mencopoti bajunya dan sampai kejadian dia berhubungan sex dengan Pak Mahmud. Perasaannya makin hancur saat ternyata Pak Mahmud tidak hanya merekam dari 1 sudut saja, terdapat 4 handicam tersembunyi yang merekam seluruh kejadian. Bahkan saat ia memohon kepada Pak Mahmud untuk mengobok-obok vaginanya dan pengakuan dia sebagai cewek murahan juga terdengar jelas. Wajah gadis yang cantik itu jadi pucat dan tubuhnya bergetar, ia sudah menduga apa yang akan diminta oleh Pak Mahmud dengan adanya video itu. Perasaannya geram, marah, benci, takut dan lain-lain bercampur aduk, kini ia hanya dapat menangis. Terlihat jelas bagaimana wajahnya menunjukkan dirinya menikmati setiap detik permainan panas itu dengan aki-aki tambun yang sudah tua.
“Percuma kau menangis..kini kamu akan merasakan akibatnya karena selama ini menjadi cewek sombong yang sok suci. Bapak tau apa yang kamu lakukan sama teman kamu selama ini, nah..sekarang kamu harus nurut apa yang bapak mau, kalo ngga bapak jamin film ini akan nyebar kemana-mana, kamu ngerti…??” tegas Pak Mahmud.
Hyewon hanya mengangguk lemah dengan pandangan sayu.
“Sekarang yang aku minta kamu tidak boleh nangis selama kamu melayani saya..bisa..?? kalo tetap nangis kamu akan terima hukuman yang berat..”
Kembali Hyewon hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa akan ada jalan keluar nantinya. Tanpa sadar ia membayangkan kejadian tadi, dan ia teringat akan ukuran penis Pak Mahmud yang memang di atas rata-rata. Dengan pikiran itu tanpa dapat dicegah terasa desiran-desiran halus di perutnya dan ia merasa putingnya agak mengeras.

“Sayang…yang punya penis si Pak Mahmud anjing itu..” pikirnya.
Hyewon melotot kaget saat Pak Mahmud mengambil sesuatu dari lemari yang ternyata merupakan dildo vibrator yang berukuran panjang.

Pak Mahmud kini duduk di ranjang di dekat kakinya yang ngangkang itu, memperlihatkan vaginanya yang terbuka menantang, lalu ia mengusap dengan tangannya yang mengakibatkan Hyewon terhentak.
“Kayanya udah basah nih..udah siap yah..” goda Pak Mahmud, lalu ia membungkuk dan wajahnya kini sudah di depan liang surga milik gadis cantik itu, tiba-tiba Hyewon menggelinjang saat lidah Pak Mahmud menciumi dan menjilati vaginanya. Untuk beberapa saat Hyewon menggelinjang-gelinjang, nafasnya kembali memburu dan pandangan matanya sayu.
“Ngggeehhhhhhhh…!” Hyewon menjerit dengan mulutnya yang tertutup lakban, saat Pak Mahmud memasukkan dildo ke dalam lubang kemaluannya yang sudah basah dan ngilu itu dan terus mengerang karena dildonya makin dalam ditusukkannya. Kembali ia menggelinjang hebat saat Pak Mahmud menyalakan vibartornyanya. Terasa sakit, tapi setelah beberapa menit rasa sakit itu berangsur-angsur menghilang tergantikan dengan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan atau pernah ia bayangkan. Kini erangannya terdengar seperti rintihan kenikmatan diiringi dengusan nafasnya yang memburu.
Hyewon melenguh panjang dan pelan, merasakan tubuhnya makin panas dan terangsang. Rasa menggelitik di perut bag bawah makin menggila dan menggelora. Dengan rasa malu dan kaget, ia mencapai klimaksnya dengan sensasi yang luar biasa..”
“nngggggghhhhh…mmmmmmmmmmhhhhh…..!!!!” Tubuh montoknya menegang sesaat ketika klimaksnya menyerang, pandangan matanya makin sayu. Tapi dildo itu tetap bergetar seperti mengoyak-ngoyak bag dalam vaginanya, dan rasa nikmat kembali dirasakan makin meningkat, nafasnya memburu dan kini pikirannya sudah tidak terkontrol, nafsu birahinya terus membara karena dildo itu.
“Naah..kamu seneng aja ya ditemenin ama dildo bapak ya…tenang aja, getarannya akan makin keras kok udah saya setting dan bapak colokin ke listrik..hehehe..bapak mau bikin back up untuk film kamu tadi ya..” kata Pak Mahmud, ia hanya ketawa melihat Hyewon memandangnya dengan tubuh telanjangnya yang menggeliat-geliat, tubuh montok yang tampak berkilat karena keringat
Pak Mahmud makin tertawa karena Hyewon mengerang lagi karena telah orgasme untuk kesekian kalinya, lalu ia meninggalkan Hyewon yang terus mengerang-erang karena getaran dildo itu. Tidak terhitung berapa kali Hyewon dipaksa untuk orgasme, tubuhnya mengkilat karena basah oleh peluhnya, gadis itu merasa lemas sekali tapi dildo yang menancap di vaginanya memaksa dia untuk terus dirangsang. Akhirnya karena tidak kuat lagi, gadis malang itu jatuh pingsan.

Hyewon the Stories Ch. 08 : Pemuda Pengangguran Yang Beruntung


Sudah seminggu sejak kejadian terkutuk itu, dan Hyewon sudah tidak berdaya apa-apa lagi untuk bisa menolak keinginan dari Pak Mahmud yang ternyata sudah merencanakan semuanya dari jauh hari, apa yang harus dia lakukan dan terima. Awalnya dimulai dengan Pak Mahmud “mengaudit” lemari baju Hyewon, ia mengambil semua celana dalam dan BH-nya, ia memilih baju-baju yang bisa digunakan, rata-rata baju yang disisakan adalah baju yang seksi, ketat atau tipis. Lalu ia mengambil atm dan kartu kreditnya, setiap hari bila berangkat kuliah ia hanya diberikan uang secukupnya untuk makan dan ongkos, dan juga secara otomatis kini gadis itu tidak pernah menggunakan underwear lagi. Semua celana panjang miliknya telah diambil juga, sehingga kini ia hanya punya rok yang minimal pendeknya 10 cm di atas lutut. Hyewon sudah pasrah, ia sudah merasa tidak ada harganya lagi sebagai wanita, harga dirinya sudah dirampas dan dipermainkan oleh Pak Mahmud. Banyak sudah permintaan dari Pak Mahmud untuk melayani dirinya, baik permintaan yang “biasa-biasa” saja atau permintaan yang aneh-aneh, seperti dia harus striptise diiringi musik, atau harus memblowjob dengan posisi tangan terikat dan macam-macam lainnya. Dengan kondisi tidak boleh menggunakan underwear, Hyewon benar-benar merasa risih sekali apalagi kalo harus berangkat kuliah atau beraktifitas. Ia merasa dirinya telanjang dan kayanya semua mata laki-laki yang berpapasan seperti mengetahui bahwa dibalik bajunya ia tidak menggunakan BH. Juga sekarang bila ke kuliah, ia diwajibkan menggunakan sepatu yang berhak tinggi, sehingga menonjolkan pantat bulatnya yang dibungkus oleh rok mininya yang ketat. Sering saat ia berdesakan dalam bis kota, ada tangan-tangan jahil yang mencoel pantatnya atau bahkan menggesek-gesek pantatnya saat berhimpitan, dan karena ia diperintah Pak Mahmud untuk tidak marah atau menolak bila dia ada yang melecehkan seperti itu, jadi ia tidak berdaya orang-orang jahil itu menikmati kenyalnya pantat bulatnya itu. Juga dengan berjalan menggunakan high heels ini membuat payudara Hyewon bergoyang-goyang seiring langkahnya, seolah-olah menantang untuk diremas dan dibelai. Yang membuat Hyewon heran, dalam kondisi yang diperbudak oleh Pak Mahmud ini malah kadang membuat dirinya terangsang, mungkin karena kondisi yang tidak berdaya ini yang menyebabkan libido-nya meningkat. Bahkan kadang-kadang ia merasa bangga karena tubuhnya yang memang seksi ini benar-benar selalu mejadi pusat perhatian orang, walau sebenarnya itu merendahkan derajatnya sebagai wanita baik-baik.

Kini sudah berjalan 3 minggu sejak kejadian itu, setiap malam ia harus melayani Pak Mahmud dengan beberapa cara dan gaya. Dan kini Pak Mahmud sudah siap untuk melanjuntukan planning kotornya ke gadis malang itu. Ia sudah cukup puas dengan setiap malam bisa menikmati kehangatan dari Hyewon yang kini seperti boneka hidup. Jadi kini ia ingin ngerjain Hyewon dengan segala rencana yang sudah dia susun. Hari ini memulai hari dengan jantung berdebar dan rasa khawatir yang luar biasa, karena tadi malam Pak Mahmud memberikan perintah yang bikin jantungnya serasa copot dan rasanya pengen mati aja. Perintahnya adalah ia tidak boleh mengatakan tidak/menolak permintaan dari semua laki-laki, apalagi yang berhubungan dengan hal-hal mesum/seks, apapun perintahnya ia harus turutin sampai laki-laki tersebut sudah mencicipi/menikmati dari apa yang diminta. Pak Mahmud juga mengatkan bahwa ia akan memasang mata-mata atau bahkan ia menyuruh teman-temannya sendiri untuk yang melakukan permintaan-permintaan itu, jadi Hyewon tidak bisa bohong bila ia berusaha menolak atau menghindar.
“haduuuuhh…mampus deh gua sekarang, anjing bener tuh si Pak Mahmud” kutuk Hyewon dalam hati, tapi ia tidak berdaya apa-apa untuk menolaknya.

Jantungnya berdebar-debar juga membayangkan hal apa yang akan menimpanya nanti, walau selama ini ia dipaksa oleh Pak Mahmud untuk melayaninya dengan segala cara. Sebenarnya secara tidak sadar Hyewon sudah menjadi wanita yang kaya pengalaman dalam hal seks dan tau bagaimana memberikan kepuasan pada lawan jenisnya. Dan ia juga tidak memungkiri, bahwa kini ia juga menikmati sensasi luar biasa dalam berhubungan seks, hanya karena lawan jenisnya saja yang seperti Pak Mahmud yang kakek buruk rupa itu yang membuat dia kesal. Dari pagi sampai sore di kuliah, Hyewon bersyukur bahwa tidak ada kejadian apapun yang membuat dia harus menuruti perintah orang dan kini sebelum pulang ia harus menelepon Pak Mahmud untuk memberi laporan.

“hemmm…belum ada ya?”kata Pak Mahmud setelah mendengar laporan Hyewon. “gapapa lah..kamu tenang aja, ga usah gugup karena baru pertama, biar kamu agak santai kamu sekarang pake baluran perangsang yang udah aku masukin ke tas kamu..”
“Waduh..yang bener pak? Uuh tega banget sih bapak..” Hyewon kaget mendengar perintah itu. Ia memang diberikan botol kecil yang berisi cairan khusus, entah dimana Pak Mahmud mendapatkan barang seperti itu.
“Udaaah jangan banyak omong, cepet pake video call pas kamu pake di 2 puting kamu, lidah dan bibir kamu dan juga di vagina kamu..cepet!!!”
Hyewon mengeluh dalam hati, tapi ia tetap melakukan perintah itu. Di kamar mandi, ia mulai membalurkan cairan itu ke tempat-tempat yang disuruh, dan sebentar saja Hyewon merasakan putingnya mengeras dan menjadi sensitive sekali. Lalu ia mulai merasakan efek baluran itu juga pada vaginanya yang langsung basah dan ada perasaan yang kuat, yaitu keinginan untuk agar vaginanya menerima usapan liar dan terutama keinginan disodok sama penis. Begitu juga dari ada keinginan kuat untuk mencicipi aroma penis agar bisa dihisap-hisap dan diemut melalui bibir seksinya. Hyewon kini benar-benar tak berdaya.
Pak Mahmud tertawa-tawa melihat reaksi Hyewon melalui video call-nya, melihat gadis itu mendesah dgn pandangan tidak focus
“Hei Hyewon..!! kamu maunya apa?” teriak Pak Mahmud secara tiba-tiba.
“Mau kontol…eeh, ngga sa..salah..ga mau apa-apa..” tanpa sadar Hyewon menjawab dengan latahnya.
“Ga mau dientot..?”
“mauu…mau..,ngeh..ngga..ngga..”
“hehehe..selamat pulang yaaah…” Pak Mahmud terkekeh melihat hasil dia ngerjain Hyewon.
Gadis itu mengeluh dalam hati, karena sepertinya akan sulit menghindar dari malapetaka pelecehan terhadap dirinya karena kondisi dirinya sekarang dan perintah dari Pak Mahmud yang harus menjadi “yes girl”. Ditambah lagi kini ia tidak punya uang untuk pulang dan mau ga mau harus jalan kaki untuk pulang ke kost.
Hyewon berjalan pulang dengan perasaan yang tidak karuan, sekuat tenaga ia menahan keinginan liar yang dibangkitkan secara tidak wajar pada bagian-bagian tubuhnya yang menjadi sangat sensitif yang sangat membutuhkan pelampiasan. Karena harus menahan nafsunya itu sering Hyewon menahan nafas dan mengerang pelan dengan wajah yang sayu dan horni, sehingga wajahnya yang cantik itu tampak menggairahkan, belum lagi tubuhnya yang seksi itu menggunakan blus yang tidak mampu menyembunyikan tonjolan dada yang membusung dan rok mininya memperlihatkan paha yang putih mulus dan jenjang itu. Sebisa mungkin gadis itu tidak memandang orang-orang yang berpapasan dengan jalan menunduk, karena setiap ia melihat laki-laki darahnya serasa berdesir dan membayangkan penis dan kenikmatannya bila ia bisa mengulum-ngulum penis itu atau digesek-gesekkan ke vaginanya sambil buah dadanya diremas-remas, kembali Hyewon mendesah pelan membayangkan itu semua. Makin lama perasaan yang meledak-ledak itu makin kuat membutuhkan pelampiasan, tapi Hyewon terus menguatkan dirinya jangan sampai ia merendahkan martabatnya, ia terus berharap tidak ada laki-laki iseng yang bakal ngajak dia aneh-aneh yang dia ga bisa tolak. Kini Hyewon malah merasakan bahwa vaginanya jadi agak basah karena gesekan 2 pahanya saat melangkah dan hal itu makin menyiksa dirinya yang makin horni, apalagi gesekan bajunya dengan putingnya yang mengeras itu juga makin membuat nafas Hyewon agak memburu dan bibirnya yang seksi seperti menahan nyeri. Hyewon terus berjalan dan berusaha untuk secepat mungkin melangkah, tapi karena gangguan rasa horninya kadang-kadang ia tampak sedikit limbung dan memelankan langkahnya karena menahan nafsunya. Sejauh ini ia masih aman dari gangguan laki-laki meskipun dia tau setiap laki-laki yang berpapasan dengan liar menatap dirinya dan tubuhnya yang aduhai, ia masih berharap walau harapannya tipis karena ia juga diberikan rute pulang oleh Pak Mahmud yang sedikit rawan untuk seorang wanita seperti dirinya pulang jalan kaki sendirian. Dan apa yang ditakutkan gadis itu benar-benar terjadi.

Dalam rute yang diberikan, Hyewon harus memotong jalan gang di belakang pasar daging dan pada saat ia masuk gang tsb di kanan kiri-nya merupakan kios-kios daging yang sudah sepi karena pasar sudah tutup. Saat baru berjalan beberapa langkah, ia mendengar suara beberapa laki-laki berbicara diselingi dengan suara tertawa. Sepertinya mereka sedang bermain sesuatu. Dugaan Hyewon tidak salah, karena saat itu memang ada beberapa pemuda pengangguran yang sedang nongkrong dan menghabiskan waktu main judi sambil minum minuman keras, dan saat ini mereka sudah mulai dipengaruhi oleh alcohol.
“Siaaall…!! Waah lo pada pasti ada yang curang niih…abis duit gua..” seloroh Tono sambil membanting kartunya, hari ini dia memang lagi sial karena kalah melulu. “Bilang apa nih ntar ama pacarku?” katanya sambil menenggak beberapa teguk bir-nya.

Tono

Teman-temannya hanya tertawa-tawa mengejek Tono dan yang ditanggapin sambil terkekeh-kekeh dan dia berdiri karena mau kencing. Saat ia berdiri itu ia melihat Hyewon yang sedang berjalan dengan sedikit terhuyung, saat ia menajamkan penglihatannya ia terbelalak melihat kecantikan dan keseksian gadis yang akan lewat di jalan sepi itu.
“Woii..woi..liat tuh, ada cewe cakep banget..cepetaan, keburu lewat loh..” serunya ke teman-temanya.
“Ahhh..palingan si Surni yang di belakang itu kan? Ga jauh deh lo Ton..”seloroh temennya sambil tetep maen kartu.
“Eeeehh..beneraaann.., ya udah gua aja yang mau ngeliat lebih deket..” kata Tono sambil berjalan dengan arah memotong arah perjalanan cewe nafsuin itu.

Teman-temannya tetep cuek dan membereskan kartu dan botol-botol lalu meninggalkan tempat itu. Hyewon terus berjalan sambil tetap menahan rasa horni-nya, dan sebentar saja dia melihat ada laki-laki yaitu si Tono sedang bersender di salah satu kios kosong sambil memandanginya. Hyewon berdoa agar laki-laki itu ngga iseng dan ia terus jalan sambil menunduk.
Saat melihat lebih dekat, Tono makin takjub melihat Hyewon terutama keindahan badannya. Ia menelan ludah melihat payudara gadis itu yang bulat dan montok dan ia melotot karena secara samar ia seperti melihat tonjolan puting dari kain blusnya yang memang agak ketat.


Dan saat ia melihat pahanya kembali ia menelan ludah melihat batang paha yang putih bersih dan jenjang itu. Karena bengong itu dan seperti orang linglung Tono tidak sengaja melepas botol minumannya sehingga jatuh dan pecah.
“Praanngg…!!”
“Eh kontol…kontol enak…!!” Hyewon tanpa sadar teriak karena latahnya dan pikirannya yang sedang kacau.
Mendengar latah itu, Tono tertawa dan jadi lebih berani ditambah lagi ia juga sudah agak mabok..
“Hehehe…emang enak ya kontol ya mba..?” pancingnya
“hmmmm…?” Hyewon mengutuk dirinya kenapa ia menjawab dengan gaya yang seksi dengan pandangan mata sayu dan suara yang serak-serak basah, dan ia memandang ke arah Tono yang merupakan laki-laki berkulit hitam dengan ukuran tubuh sedang, berusia sekitar 30-an dengan wajah yang keras karena kehidupan.

“A..apa bang?” tanya Hyewon lagi yang tidak sadar menjilat bibirnya yang ranum itu.
“Ngga…demen sama kontol emangnya…?” blingsatan Tono melihat bibir seksi yang basah dan sprt menyeringai menantang itu.
Hyewon menelan ludah beberapa kali mendengar pertanyaan itu, dan dengan sedikit gemetar ia menjawab,

“De.. demen banget bang..” pikirannya udah menerawang ga jelas karena rasa takut dan desakan birahinya yang meningkat terus.

Tubuhnya serasa lemas dan tak bertenaga sehingga 1 tangannya bersandar pada meja kayu. Ia merasa vaginanya makin basah dan serasa desiran-desiran pada perutnya yang menjalar ke bagian selangkangnnya makin kencang. Tono lebih berani lagi melihat respon gadis itu, ia merasa celana bagian selangkanganya jadi agak sesak
“Enaknya emang gimana sih?” sambil ia membenarkan arah penisnya.
“Hmmmm….oouh..enaknya diciumin, dijilat…nggg..sama diisepin bang..” jawab Hyewon sambil matanya tanpa sadar melihat ke arah penis Tono karena gerakan tangannya, dan ia makin sesak nafasnya.
Tono benar-benar ngga ngira akan ada jawaban seperti itu, jantungnya berdetak kencang karena ia jadi gugup juga ngeliat ada gadis secantik dan seseksi Hyewon berada di tempat seperti ini dan bertingkah yang di luar dugaan itu, ia lalu ngajak Hyewon untuk masuk ke tempat lebih agak ke dalam dan tertutup dari luar dan gadis itu juga tidak menolak.
“Rejeki banget nih…” pikir Tono dalam hati. Ia sekarang tidak peduli lagi asal usul gadis ”maut” ini dan juga pacarnya yang kalah sexy dibanding Hyewon, yang penting bisa dipakai.
“teruss..? selain itu enaknya apa lagi..?” tanya Tono
“uuuh..nanyanya gitu?” kesal juga Hyewon, tapi ia sudah pasrah karena tau ia tidak akan lepas sekarang “yaaah…paling enak kalo dimasukin lah bang..”
“wahahaha…tau aja kamu.., kamu..ehem..kayanya ga pake bh yah?” tanya Tono, ia sudah benar-benar ngaceng sekarang, ia kini lebih berani lagi, lalu ia menarik tangan Hyewon agar lebih dekat berhadap-hadapan sampai ia bisa mencium aroma wangi dari gadis itu
“Ngga bang..”
“Haah..bener? coba gua cek..” sambil ngomong gitu jari kedua tangan Tono ke arah puncak bukit payudara Hyewon dan saat dijamah ia segera merasakan puting yang mengeras tanpa ditutupi BH, ia melihat tubuh Hyewon menegang dan keluar rintihan lirih dari bibir seksinya, dan tubuhnya menggeliat saat ia memuntir-muntirnya dan makin cepat rintihan yang terdengar.



“enak yaaaa…”
“Ngeh..ouuh..ss..stop bang…” Hyewon masih berusaha menolak, tapi ia segera ingat pesan Pak Mahmud. “Nggeehh..iyaa…enaak bgt baaang…oouuhh…aww..kok dicubit..?” ralatnya dan juga karena birahinya sudah memuncak ia jadi berlaku seperti wanita murahan.

Kesadarannya yang sudah tipis itu, merasa terhina sekali karena ia harus merelakan putingnya dipuntir-puntir sama laki-laki asing dan berkasta rendah. Melihat erangan dan geliat tubuh Hyewon makin liar itu, Tono tau bahwa gadis di depannya ini sedang dalam keadaan horni banget. Hal ini makin membuat dirinya senang akan kenikmatan yang akan didapat, ia tidak peduli lagi kenapa gadis ini bisa horni kaya gini. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Hyewon, dan segera ia merasakan hembusan nafas Hyewon yang hangat dan cepat menerpa dan dengan cepat bibirnya menempel ke bibir gadis itu yang terasa basah dan hangat. Kelembutan bibir Hyewon makin membuat Tono bernafsu. Ia melumat dan mengulum-ngulum dengan liar, terdengar suara mengerang dari Hyewon yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan lemah, sebenarnya hampir pingsan ia mencium aroma minuman keras dan mulut apek Tono. Meski masih berupaya menolak walau hanya setengah hati, tapi sebenarnya ia merasa sangat menikmati lumatan kasar dari Tono itu, tubuhnya merespon dengan sendirinya akibat birahinya yang sudah mengalahkan logikanya. Sambil mencium, kini bukan saja memuntir putingnya tapi mulai meremas-remas dengan liar gumpalan daging kenyal yang kencang nan padat itu. Gadis itu makin merintih-rintih dalam ciuman Tono yang berpindah ke leher Hyewon yang harum memabukkan.
“Ouucchh..” Hyewon menjerit lirih saat lehernya dicupang oleh Tono dan ia makin menggelinjang saat Tono mendesah dan menggumam tak jelas di kupingnya.

Hembusan nafas Tono dan jilatan lidahnya membuat Hyewon blingsatan, tanpa sadar tangannya mengarah ke vaginanya dan langsung mengusapi liang vaginanya yang sudah becek itu.
“Ouuucchh..aaannngggghhhhhhhhhhhhhhh….” sebentar saja Hyewon mencapai klimaksnya, tubuhnya menggetar hebat dan dadanya bergerak naik turun dalam remasan-remasan Tono.
“Hohohoho..ga pake cd juga kamu ya…emang udah siap dintetot kamu kayanya..” ujar Tono setelah melirik ke bawah dan melihat tangan Hyewon yang menggeseki selangkangannya sendiri.

Gadis itu merasa wajahnya panas karena malu tapi ia tak berdaya karena nafsunya sendiri. Kini dalam otaknya hanya pengen ada penis yang bisa ia nikmati lewat mulutnya atau lewat vaginanya, ia sudah tidak perduli lagi. Tapi ia tetap berusaha menjaga gengsinya walau ia sendiri juga tidak tau gengsi apa lagi yang bisa ia pertahankan. Setelah melancarkan remasan dan ciumannya selama 15 menit, Tono melonggarkan pelukannya ke Hyewon yang kini bersandar dengan keadaan yang menggiurkan. Rambutnya terlihat sedikit awut-awutan yang malah menambah kecantikan wajahnya yang diselimuti nafsu, kancing bajunya terbuka sehingga terlihat belahan dada montok yang menyembul dibalik bajunya yang acak-acakan. Gerakan dada montok itu naik turun nafsuin karena nafas Hyewon yang terengah-engah karena perbuatan Tono dan terutama karena sehabis orgasme tadi. Rok yang sudah mini itu terangkat ke atas memperlihatkan sedikit pangkal pahanya yang malah bikin ser-seran bagi Tono. Kulit paha yang putih itu terlihat sangat mulus dan menaikkan gairah.
“Lo bilang tadi suka kontol kan?” tanya Tono, sambil mulai membuka resleting celananya dan sebentar kemudian ia mengeluarkan penisnya yang sudah ngaceng daritadi. Ukurannya tidak terlalu panjang tapi diameternya cukup besar. Melihat batangan lelaki itu, Hyewon tidak mampu mengalihkan pandangannya dan menatap penis itu dengan penuh nafsu dan beberapa kali menelan ludah. Yang ada di otaknya cuma pengen menikmati penis itu. Lututnya serasa lemas dan gemetar menahan nafsunya untuk “menerkam” penis Tono. Melihat tatapan Hyewon yang ngga lepas dr penisnya dan wajah cantiknya yang seperti singa betina kelaparan melihat daging kijang nan empuk itu, Tono tersenyum senang.
“Kamu mau kan nikmatin kontol gua?” tanyanya yang dijawab dengan anggukan cepat dan erangan Hyewon “Kalo gitu, kamu buka baju kamu sekarang”
“Oooh…” Hyewon terdiam sesaat, tapi dengan jari gemetar ia mulai melepas kancing bajunya satu per satu.


Tono menelan ludah melihat gerakan Hyewon yang perlahan itu mulai memperlihatkan sedikit demi sedikit bagian dalam tubuhnya, dimulai dengan terlihatnya payudara yang berbentuk bulat sempurna dan berukuran di atas rata-rata itu,


lalu terlihat perut yang langsing dan pinggang yang ramping tanpa lemak. Ditambah lagi kulitnya membungkus tubuh sintal itu begitu sempurna dan halus. Kini Hyewon sudah berdiri dengan tubuh bagian atas telanjang, yang membuat penis Tono terasa sakit karena saking kencangnya. “Cepat..isepin kontol gua..yang enak!!”
“Ouuuhh…” erang Hyewon, ia berlutut dan kini penis ngaceng itu sudah berada di depan wajahnya. Sambil menjilati bibirnya yang ranum ia meraih dengan lembut batang kemaluan itu, lalu ia mengecup pelan kepala penis yang bulat dan beraroma khas. Kecupan lembut itu dilanjuntukan dengan jilatan-jilatan yang menyapu seluruh bagiannya. Jilatan itu diiringi dengan erangan-erangan penuh nafsu yang keluar dari mulutnya dan sebentar kemudian gadis itu memasukkan penis itu ke rongga mulutnya. “Mmmmmmmmmmghh..”
Hyewon menikmati batang kelaki-lakian Tono yang memenuhi mulutnya, bergerak sliding keluar dan masuk dengan lancar dan cepat yang membuat laki-laki beruntung itu merem melek keenakan, dari atas ia melihat bagaimana bibir Hyewon yang merah itu menelan penisnya dan lidahnya yang seperti ular itu menjilatinya dengan penuh nafsu. Tono beberapa kali menggelinjang saat lidah gadis itu menyapu urat besar di bawah alat kemaluannya, dan Hyewon yang sudah ahli itu memainkannya dengan makin cepat dan liar. Sekejap Hyewon sadar bahwa ia dengan nafsunya memberi blowjob untuk laki-laki seperti Tono, tapi kesadaran itu langsung lenyap lagi akan kebutuhannya, nafsu yang menguasai dan rasa “laparnya” terhadap penis laki-laki, laki-laki manapun.

Hyewon terus menyepong penis itu dengan nikmat, bibir merahnya melingkar dengan ligat dan lidahnya yang basah dan panas itu terus menjilati dengan cepat dan ahli, gadis itu terus menghisap makin dalam dan dan kuat, akhirnya..
“Uuuugghhh…mantap bangeeet…jago banget lo ngisepnya” teriak Tono, spermanya membanjiri rongga mulut Hyewon yang langsung ditelannya dengan nikmat dan diteruskan menjilati batang Tono yang tetap perkasa itu.
“Oke sayang…saatnya gua cicipin vagina lo yah..” ia menarik wajah Hyewon ke belakang dan ia mencium bibir sexy itu sekali lagi.

Lalu tangannya merayap ke arah bawah perut Hyewon dan menyusup langsung ke liang vagina yang sudah basah itu. Jari-jari ahli itu langsung menemukan klitoris Hyewon yang sudah terangsang banget dan mulai memainkan jarinya dengan cepat. Hyewon langsung menggelinjang hebat.
“Uuuuuuuugggggmmmmmmmmmmm” Hyewon menjerit dalam ciuman Tono.
Kedua bola mata Hyewon yang indah itu terbelalak tak percaya, kenapa hal ini bisa terjadi. Yang awalnya dia seorang gadis cantik nan seksi yang hanya menjadi impian setiap laki-laki, kini tubuhnya berada dalam kekuasaan seseorang seperti Tono yang saat ini sedang leluasa menikmati kenikmatan surga dunia.
“Uuuuugghhmmmm..” kembali ia mengerang merasakan payudaranya mengencang dan timbul rasa geli dan makin panas hawa nafsunya.


Liang vaginanya makin banyak mengeluarkan cairan pelumas yang memudahkan gerakan jari-jari Tono. Nafasnya makin memburu melalui hidungnya dan matanya yang sayu itu bergerak liar saat ia makin dekat dengan puncak kenikmatan yang berusaha dia tahan. Lalu ia menyerah dan orgasme yang luar biasa terjadi dengan liar.
“Aaaaaaaaggghhhhhhhhhh”
“Heheheheh…enak kan?” ujar Tono sambil melihat dengan senang Hyewon yang kini berdiri dengan goyah di atas sepatu stiletto-nya berusaha menenangkan pikiran dan gejolak dirinya setelah klimaks tadi.

Ia pasrah saja saat Tono menurunkan rok mininya melalui paha jenjangnya ke bawah dan secara otomatis ia melangkahkan kakinya keluar dari roknya tersebut. Kini tubuhnya sudah polos telanjang hanya menggunakan sepatu hak tingginya saja.
“Emang seksi banget lo ya..” ujar Tono, lalu ia menggerayangi setiap lekuk liku tubuh montok itu, pantatnya yang bulat dan kencang itu menjadi sasaran remasan dan cubitan tangannya. Hyewon hanya menggeliat-geliat lemah dan tampak menikmati setiap usapan pada tubuhnya.
“Sekarang gua mau nyicipin vagina lo ya neng..” kata Tono, lalu ia mengangkat tubuh Hyewon ke atas meja kayu dan mengangkangkan kedua batang paha Hyewon sehingga kini liang vagina gadis itu terbuka menantang sejajar dengan penis Tono yang sudah siap “menggempur”.
Hyewon menelan ludah dan tanpa sadar lidahnya menjilati bibir merahnya sendiri saat melihat Tono menuntun penisnya ke arah vaginanya yang panas dan basah itu. Ia tersentak saat “helm” penis itu menyentuh bibir vaginanya dan yang segera dibenamkan masuk. Mata Hyewon membelalak dan punggungnya menegang ke belakang, tubuhnya serasa dialiri listrik tingkat tinggi, kedua tangannya meremas kuat pinggiran meja menahan serangan liar penuh nafsu itu.
“Uuuuuuuuggghhhhhhh….!”
Gadis itu melenguh-lenguh seirama dengan pompaan Tono yang maju mundur dan makin lama makin cepat, gesekan batang keras nan hangat itu dengan dinding vaginanya membuat dirinya belingsatan. Ditambah lagi remasan-remasan tangan Tono yang kasar pada payudaranya menimbulkan sensasi yang luar biasa.



“Ooouuuff…aak..akhu mau keluaaaaarr…nnggeeeehhh..” diakhiri erangan panjang ledakan orgasme menyerang sekujur tubuh Hyewon yang menggelinjang “Aaaaiiiiiiiiiieeeeeeeee….”

Otot-otot vagina Hyewon bergetar saat klimaks mebuat Tono melem melek merasakan sekujur batang penisnya seperti dipijit-pijit, menimbulkan kenikmatan tiada tara. Tono terus memompa penisnya keluar masuk dan makin cepat. 1 menit kemudian, Hyewon mencapai puncaknya lagi

“Ooouuuuuuuufffffffnngggghhh…”
“Terus bang…oouuhh….yang keras, yang ce…cepeth baangg..hhhhnnnnnnggg…” Hyewon yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh nafsunya, meracau tak karuan diselingi desahan-desahannya yang menikmati setiap sodokan penis Tono yang perkasa.

Gadis itu mengempit pinggang Tono dengan kedua pahanya yang makin membuat Tono keenakan karena lubang vagina gadis cantik itu serasa makin sempit dan memijit-mijit kemaluannya. Keperkasaan Tono benar-benar membuat Hyewon makin liar dan blingsatan, ia sampai mencapai klimaksnya sebanyak 4 kali dan setiap klimaks itu membuat dirinya makin lepas kontrol menikmati permainan panas itu, ia tidak peduli lagi sekarang dengan memeluk tubuh tegap Tono dan menciumi leher dan sesekali melumati bibir laki-laki beruntung itu. Tono juga tidak ketinggalan, sambil terus memompa penisnya maju mundur tanpa kenal lelah, tangannya tak berhenti bergerilya ke sekujur tubuh seksi Hyewon, kesintalan tubuh gadis itu sungguh menggairahkan dan daging kenyal di dada serasa hangat dan lembut dalam setiap remasannya.


Sesaat kemudian, Tono mempercepat sodokannnya dan wajahnya sedikit menegang, sambil memegang erat pinggul bulat montok itu, dengan sodokan keras akhirnya

“Uuuuuuuuuuuggggghhhhhh…..”
“Aaaaiiiiiiiieeeehhhhh….” Hyewon juga mencapai klimaksnya yang meledak kuat sekali berbarengan dengan lawan mainnya, ia merasakan “lahar” panas memenuhi liang kemaluan wanitanya. Tubuh sexynya mengejang menikmati setiap detik sensasi luar biasa yang ditimbulkan karena permainan seks mereka. Setelah beberapa saat menikmati setiap detik orgasme yang mereka alami, sambil meringis keenakan Tono mencabut penisnya dari vagina Hyewon lalu ia terduduk lemas karena keenakan, ia memandangi tubuh montok Hyewon yang telanjang di depannya dan ia menghela napas memikirkan keberuntungan dirinya dapat menikmati tubuh dari gadis secantik itu, padahal ia kalah judi tadi, seperti kata pepatah "kesialan tetap membawa nikmat keberuntungan, jadi enjoy aja menjalani hidup".  

Setelah itu, karena kecapean dan pengaruh alkohol, Tono tiduran sambil mengenyoti payudara Hyewon. Setelah terlampiaskan nafsunya yang dibangkitkan secara tidak wajar, kini Hyewon merasa tubuhnya lemas juga dan dengan perlahan ia mulai mengangkat kepala Tono yang lagi menyusui dan mengenakan kembali bajunya dan rok mininya. Lalu dengan langkah limbung ia meninggalkan tempat itu. Ia memandang ke Tono yang tertidur dan membayangkan kejadian barusan, dimana ia menikmati permainan seks dengan laki-laki seperti Tono yang dalam keadaan biasa tidak mungkin ia akan melakukannya. Dengan menghela nafas ia terus berjalan berusaha menghilangkan ingatannya mengenai dirinya yang dinikmati oleh laki-laki asing itu.


Hyewon the Stories Ch. 09 : Gairah Penjaga Kost Baru


 1 bulan berlalu sejak pindah dari kosan Pak Mahmud, Hyewon akhirnya bisa bebas dari perbudakan sex Pak Mahmud karena dia di penjara atas kasus pedophil, "weleh2, tidak hanya doyan mahasiswi, anak gadis kecil pun diembatnya juga ck ck ck" geleng Hyewon. 

Kini jarum jam di tangan Hyewon menunjukkan pukul 11.00 malam, Ia berjalan kelelahan menuju kosan barunya setelah sebelumnya digangbang Yogi dan Topan dari rumahnya, kakak beradik ini gemar sekali MMF sex dengan Hyewon setiap hari minggu, bahkan satu hari, mereka pernah kepergok bapaknya setelah pulang kerja cepat, biasanya pulang larut malam/lembur. Setelah ketahuan, kakak beradik ini bukannya dimarahi, tetapi malah membuka celananya sendiri dan penisnya konak setelah melihat tubuh telanjang Hyewon putih mulus dengan buah dada yang bulet itu. Setelah itu mereka "menggempur" Hyewon habis2an sampai entah berapa ronde, nggak kehitung. "huh, bapak dan anak sama aja, kenapa sih mereka tergila2 dengan tubuhku?" gumam Hyewon. 

Saat membuka gerbang kosan yang telah ditutup sejak 2 jam yang lalu.Hyewon lalu merogoh tas mencari kunci kamar kosannya yang baru. Saat itu penjaga kosan bernama Pak Widjaja menyapanya.

“Neng Hyewon. Baru pulang malam-malam begini?”
“Eh, Pak Widjaja.”, Ujar Hyewon dengan sedikit terkejut sambil menoleh, “Iya, Pak. Baru selesai ngerjain tugas di kosan teman.”
Pak Widjaja tidak lagi menjawab, Ia hanya menganggung sambil berjalan menuju pos jaga. Akhirnya Hyewon berhasil menemukan kunci di dalam tasnya. Ketika Ia membuka pintu, kamarnya terlihat gelap gulita, Ia baru teringat lampu kamar mati sejak pagi tadi sebelum Ia pergi.
“Pak Widjaja!” teriak Hyewon.
“Iya, Neng.” jawab Pak Widjaja sambil berdiri di depan pintu pos jaga.
Hyewon berjalan mendekat. “Pak, bisa minta tolong? Lampu kamar saya mati, tadi lupa beli.”
“Oh, bisa Neng. Warung di depan masih buka. Sini saya belikan.”
Hyewon mengeluarkan selembar uang 20rb. “Beli yang bagus ya Pak. Kembaliannya ambil saja.”
“Sip, Neng.”, Ujar Pak Widjaja sambil mengambil uang dan berjalan pergi.
“Oia, Pak. Tolong sekalian dipasang ya Pak. Langit-langitnya tinggi. Saya mau mandi, nanti langsung masuk saja. Pintunya ga dikunci.”
Pak Widjaja mengangguk sambil terus berjalan.
Pak Widjaja berusia sekitar 50 tahun. Pipinya yang tirus membuatnya terlihat tua. Selain menjadi penjaga kosan, Ia juga bertani di sawah belakang kosan. Itu sebabnya warna kulitnya terlihat sangat gelap kecoklatan. Hyewon memasuki kamar, menutup pintu, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu. Ia membuka kaos dan jins yang dipakainya sejak pagi hari. Melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor. Dengan BH dan celana dalam Hyewon berjalan ke kamar mandi kemudian menyalakan keran air. Pintu kamar mandi ditutup. Hyewon melepas BH dan celana dalam, meletakkannya di ember yang khusus disediakan untuk pakaian dalam. Ia mulai mengguyurkan air dari ujung kepala. Segar sekali rasanya ketika tetesan-tetesan air membasuh rambut, wajah, leher, pundak, dan payudaranya. Beberapa tetesan kecil menyentuh puting Hyewon yang berwarna merah muda. Ia kembali mengguyur tubuhnya, kali ini air membasuh perut, paha, dan bongkahan pantat Hyewon yang begitu mulus berwarna putih bersih.



Sedikit tetesan air dengan genitnya menjalar ke selangkangan Hyewon, menyapu kulit vagina yang tembam, merangsek ke sela-sela vagina seperti sebuah lidah yang ingin menjilat klitoris. Hyewon mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun cair. Dioleskan sabun cair di dada dan payudaranya. Ia menggosok perlahan sambil mengelus-elus payudaranya. Tiba-tiba darahnya mengalir lebih cepat. Ada gelombang nafsu yang mulai menguak dari dalam diri Hyewon. Tidak biasanya Ia menjadi nafsu karena sentuhan tangannya sendiri. Elusan tangan kanan ke payudaranya mulai berubah menjadi remasan, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh vagina yang sudah tidak sabar ingin dimanja.
“Mmpphhhh…” desah Hyewon keluar dari mulutnya.

 Hyewon bersegera menyelesaikan mandinya. Ia membasuh sabun-sabun di tubuhnya. Saat ingin mengeringkan tubuh dengan handuk, ia baru tersadar handuknya tidak ada. Ia biasa melakukan hal seperti ini – tidak membawa handuk ke kamar mandi. Hyewon membuka pintu kamar mandi. Dengan sangat terkejut, ia melihat sosok seorang pria tua, berwajah tirus, berkulit coklat tua, sedang duduk di ranjang sambil melihat tubuhnya yang tanpa busana. Tubuh Hyewon kaku tak bergerak akibat syok, wajahnya memerah karena malu. Sementara Pak Widjaja masih terus menatap Hyewon. Tubuh Hyewon yang masih basah terlihat kemilau akibat pantulan cahaya. Payudaranya membusung, meneteskan air tepat dari puting merah mudanya. Dari vaginanya yang seolah mengintip Pak Widjaja terlihat mengucurkan air sisa pembersihan tubuh Hyewon. Hyewon berusaha menguasai kembali tubuhnya. Setelah kesadarannya pulih, dengan cepat Hyewon kembali masuk ke kamar mandi. Menutup rapat pintu kamar mandinya.


“Ma… maaf Pak. Saya lupa handuknya. Bisa tolong ambilkan di meja?” minta Hyewon dengan suara gemetar. Klek.. Hyewon seperti mendengar suara pintu terkunci. Suaranya begitu samar hingga ia tidak yakin betul.
“Ini, Neng.” Ujar Pak Widjaja dari balik pintu kamar mandi.
Hyewon membuka sedikit celah kamar mandi, menjulurkan tangannya mengambil handuk dari tangan Pak Widjaja. Ia segera mengeringkan tubuhnya.
Hyewon keluar berbalut handuk – yang sialnya adalah handuk kecil. Handuk yang ia kenakan tidak mampu melilit seluruh tubuhnya. Ujung handuk ia pegang dengan tangan kiri, sementara sedikit celah memperlihatkan pinggul dan pahanya. Dada Hyewon pun tidak tertutup dengan baik, belahan indah payudara dan sedikit tepian puting berwarna merah muda mencuat begitu menggoda. Handuk bagian bawah hanya menutupi sekitar 5 cm ke bawah dari vagina Hyewon. Hyewon berjalan perlahan, mata Pak Widjaja tidak sedetik pun lepas dari tubuh Hyewon.
“Ee.. Neng, itu lampunya sudah saya pasang.” Ujar Pak Widjaja sambil berdiri memecah kebisuan.
“Iya, pakk..” jawab Hyewon pelan, “Maaf Pak, saya mau pakai baju.” Lanjut Hyewon, berharap Pak Widjaja sadar untuk meninggalkan kamarnya.
“Oh, iya Neng. Tapi saya boleh pinjam kamar mandi? Mau buang air kecil.” Pinta Pak Widjaja.
“Bukannya di luar ada pak yang biasa dipakai.” sergah Hyewon sedikit kesal.
“Kebelet Neng. Sebentar kok.” Dengan cepat Pak Widjaja masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Hyewon.
Hyewon mendengar kucuran air seni Pak Widjaja begitu deras. Segera ia mananggalkan handuk menggantinya dengan daster favoritnya.
Pak Widjaja



Tak lama Pak Widjaja keluar. Berjalan menghampiri Hyewon.
“Neng Hyewon, ada yang bisa dibantu lagi?” Tanya Pak Widjaja. Sekarang ia telah berdiri tepat di depan Hyewon. Belum sempat Hyewon menjawab pertanyaan tersebut, Pak Widjaja mengelus rambut Hyewon.
“Bapakkk…” ujar Hyewon sambil berjalan mundur menghindari tangan kasar Pak Widjaja.
Pak Widjaja terus mendekati Hyewon, sementara Hyewon terus mundur menghindar hingga tubuhnya terbentur tembok. Pak Widjaja merapatkan tubuhnya ke Hyewon yang sudah terpojok.
“Pak, jangan pak.” Lirih Hyewon. Sementara tangan Pak Widjaja kembali mengelus rambut Hyewon yang wangi itu.
“Tenang aja neng. .” Kata Pak Widjaja dengan tenang penuh keyakinan.
“Pak, tolong pak. Jangan. Saya teriak kalau bapak bagini terus.” Papar Hyewon penuh ketegaran di tengah posisinya yang tidak baik itu.
“Neng mau teriak? Lalu orang-orang datang. Saya diusir. Tapi besoknya saya ke sini sama temen-temen lho. Khusus buat Neng Hyewon.” Ancam Pak Widjaja penuh kemenangan.
Hyewon terteguh mendengar ancaman itu. Membayangkan dirinya dikroyok orang-orang sekelas Pak Widjaja. Mengerikan. Hyewon bukan termasuk wanita hipersex. Ketika ketakutan melanda pikiran Hyewon, Pak Widjaja melanjutkan kata-katanya.

Pak Widjaja terus meraba Hyewon, kali ini lengannya menjadi sasaran. Bulu kuduk Hyewon merinding ketika kulit putih mulusnya bersentuhan dengan tangan Pak Widjaja.
“Pak sudah pak. Jangan pak. Tolong.” Dengan wajah nanar Hyewon memohon.
Pak Widjaja menekan tubuh Hyewon ke bawah. “Isepin kontol bapak ya neng.” pinta Pak Widjaja.
Dalam posisi berjongkok, Hyewon kebingungan harus bagaimana. Tentu ia pernah menghisap penis tetapi bukan dalam keterpaksaan seperti ini.
“Ayo neng. Turunin dulu celana bapak. Trus isep. Ga perlu saya kasarin kan supaya neng mau. Ato ga harus saya panggil temen-temen saya kan.” Pak Widjaja kembali mengancam dengan sikap begitu tenang.
Hyewon mulai menurunkan celana pendek Pak Widjaja. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitnya. Hyewon terus menarik hingga kaki Pak Widjaja, ia menatap celana yang telah terlepas tanpa melirik ke atas.
“Ayo neng, liat ke atas dong.” perintah Pak Widjaja sambil tertawa pelan.
Hyewon mengangkat wajahnya. Terkejut melihat sebuah penis yang sudah keras tidak lagi ditutupi celana dalam mengacung tepat mengarah ke wajahnya.
“Baa… pak ga pake celana dalam?” pertanyaan polos keluar dari mulut Hyewon.
 “Itu ada di kamar mandi. Sama baju dalam kamu yang lain.” Jawab Pak Widjaja sambil terkekeh.
Pak Widjaja memajukan penisnya. Kepala penisnya menyentuh bibir Hyewon yang manis.
“Dibuka neng bibirnya.” Pinta Pak Widjaja.
Hyewon membuka mulutnya dengan penuh keraguan. Penis Pak Widjaja mulai masuk dengan perlahan ke mulutnya. Pak Widjaja mulai menggoyang-goyangkan penisnya menyodok mulut Hyewon, dengan kedua tangannya yang menggenggam kepala Hyewon. Sementara itu kedua tangan Hyewon memegang kaki Pak Widjaja sambil berusaha melepaskan diri. Mphhh….. mpphhhh… penolakan Hyewon hanya terdengar seperti lenguhan.

“Ahhh…. Achhh… bibirnya enak banget neng. Ahhh.. terus neng.” Rancau Pak Widjaja sambil terus menggoyangkan pantatnya.
Berselang 2 menit kemudian. Pak Widjaja berhenti mengocok penisnya, tetapi ia membiarkan penis hitamnya tetap di dalam mulut Hyewon. Nafas Hyewon mulai terengah-engah.
“Neng, lidahnya mainin dong di dalam.” pinta Pak Widjaja, “Achh… iyaaahhh.. gitu neng… pinter bangettt.. achhhh….”
Lidah Hyewon bergoyang-goyang mengelus-elus penis di dalam mulutnya dengan lembut. Kepala penis Pak Widjaja selalu tersentuh lidah Hyewon. Sesekali ada hisapan yang Hyewon lakukan. Pak Widjaja semakir merancau menikmati penisnya dalam mulut Hyewon.
“Sudah Neng Hyewon. Saya ga kuat sama lidah neng. Ahhh….” Pak Widjaja mengangkat tubuh Hyewon. “untung banget dapetin neng. Cantik, mulus, jago ngisep kontol.” Pak Widjaja mulai kembali mengelus lengan Hyewon yang tidak tertutupi.
“Pak sudah pa. haahhh… jangan dilanjutkan pak.” Keluh Hyewon dengan wajah memelas meminta menyudahi permainan Pak Widjaja dengan nafas terengah-engah. Pak Widjaja menyibakkan rambut Hyewon ke belakang, lehernya yang jenjang terbuka lebar. Dengan sigap Pak Widjaja mulai mencium lembut dan menjilat leher Hyewon. Sementara tangannya meraba perut Hyewon.
“Mpphhhh… pak, sudaahh.. ahh.. mpphhh..” Gejolak nafsu mulai melanda Hyewon, namun ia tetap berusaha menahannya sekuat tenaga. Pak Widjaja membalikkan tubuh Hyewon, ia menyibak rambut yang menutupi leher dan tungkuk. Pak Widjaja kembali menciumi sambil menjilat bagian sensitif Hyewon tersebut. “ahhh… pak hentikannn.. mmppphhhh.”
Pak Widjaja mendekatkan bibirnya ke kuping Hyewon. “Neng Hyewon ini seksi sekali. Tadi saya intip dari etalase waktu neng mandi. Enak ya neng ngeremes tetek sendiri. Saya bantu ya sekarang.” Bisik lebut Pak Widjaja ke telinga Hyewon.
Mendengar bisikan itu Hyewon seperti kehilangan harapan. Dilihat tanpa busana, ketahuan ML, dan sekarang ia tahu Pak Widjaja melihat saat ia akan masturbasi.



“Saya remes ya neng teteknya.” Jemari Pak Widjaja merambat menuju 2 payudara Hyewon. Saat jemari menyentuh payudara. “Lho, ga pake BH, neng?!” Tanya Pak Widjaja dengan sedikit terkejut. “Jangan-jangan?!” dengan cepat tangannya menyibak daster membuka bongkahan pantat Hyewon. “Wah, si Neng bisa aja. Bilang ga mau tapi udah siap-siap gini.” Ledek Pak Widjaja.
“Kan, mau tidur pak.” Ujar Hyewon membela diri dengan percuma sambil membalikan wajah sementara jarinya tergigit di mulutnya.
Pak Widjaja sibuk meremas pantat, sementara tangan kirinya meremas payudara Hyewon. Posisi berdiri Hyewon yang sedikit menungging semakin membuat seksi tubuhnya.
“Paakkkk…”,
“Iya neng Hyewon”,
“Sudah ya mpphhh.. pakkk..”,
“Yakin neng?” jemari Pak Widjaja menyentuh bibir vigina Hyewon.
“Achhh… paa..”. tangan Pak Widjaja menjulur ke wajah Hyewon, memperlihatkan jemarinya yang tadi menyentuh bibir vagina Hyewon.
“Neng Hyewon, ko basah ya?” canda Pak Widjaja. Hyewon menatap Pak Widjaja sambil tersenyum malu. “Bapak jahat ih.” suara manja terlontar dari mulut Hyewon yang sebelumnya diisi penis Pak Widjaja.

Tangan Pak Widjaja kembali mengelus pinggul Hyewon. Sambil menciumi leher, Pak Widjaja berbisik,
“Neng Hyewon, mau dilanjutin ga ni?”,
“Mmmpphhh.. lanjutin apa pakkk?”,
“ngentot”,
 “ih, acchhh.. bapakkk..”
tangan Pak Widjaja mulai meremas payudara Hyewon.
“Iya pakkk.. lanjutinnnn paak.. aahhh..”
“Pakkk.. aku mau ciuman yah.” Pak Widjaja mendekatkan wajah. “Mmpphhh.. pak, kontolnya aku pegang yah.. aku suka banget sama kontol bapak.” Bujuk Hyewon. Pak Widjaja dan Hyewon mulai saling berciuman. Lidah mereka saling melipat, bergesekan dengan lembut. Meningkatkan birahi keduanya. Mmpphhh…. Mmpphhhh… “Pak gendong aku ke kasur ya.”
Pak Widjaja langsung mengangkat Hyewon, merebahkannya ke atas kasur. Hyewon menapat Pak Widjaja.
“Pak, aku malu. Kayak cewe murahan.”,
“Ngga ko neng. Nikmatin aja.”, Pak Widjaja kembali melibas bibir Hyewon.
 Mmpphhhh… desah Hyewon yang mulai tidak ditahan lagi. “Pak Widjaja. Mmphhh.. telanjangi aku. Mphh..”
Pak Widjaja mulai mengangkat daster Hyewon. Vagina Hyewon yang tembam ditutupi rambut-rambut tipis tercukur rapih. Pak Widjaja tak henti menatap tubuh Hyewon yang terbuka perlahan, memperlihatkan keindahannya. Hyewon mengangkat tangannya. Membiarkan daster favoritnya terlepas dari tubuh yang sekarang tidak tertutupi sehelai kain pun. Payudara Hyewon yang besar membusung dengan puting menegang, seakan meminta dijamah. Pak Widjaja memulai kembali dengan menciumi dan menjilati leher Hyewon. Lenguhan terlepas dari mulut Hyewon. Darah mendesir lebih cepat.
Pak Widjaja menurunkan ciumannya ke payudara Hyewon. Menjilat turun di sisi payudara, berputar mengelilingi payudara Hyewon.

“eeuhhh.. pak, aku nafsu bangettt…” rancu Hyewon memohon Pak Widjaja meningkatkan agresivitas.
Pak Widjaja menjilat kecil puting Hyewon yang sudah sangat keras. Ia memberi kecupan kecil.
“Neng Hyewon, putingnya keras banget.” Ujar Pak Widjaja sambil menatap Hyewon yang sedang memejamkan mata.
“mmpphhh.. iya pak. Emut puting aku pakkk.. remesss…” pinta Hyewon.
Pak Widjaja mengemut puting Hyewon sambil memainkan lidahnya, sementara tangan kanannya merepas payudara Hyewon yang lain.
“aahhh… eemmmppp… enaakkk pakk..” Hyewon meremas rambut Pak Widjaja, menekan kepala Pak Widjaja ke payudaranya. “uughhh… pakk, mau ngentottt. Mauu kontolll.. aahhh..” rancu Hyewon tak terkendali.

Ia melepas cengkraman dari kepala Pak Widjaja. Pak Widjaja mengangkat tubuhnya melepaskan mulutnya dari puting Hyewon. Ia mendekatkan diri ke wajah Hyewon. Penisnya yang keras mengacung tepat di wajah Hyewon.
“Tadi neng ga mau, bukan?” pancing Pak Widjaja.
Hyewon mendekatkan hidungnya ke ujung penis Pak Widjaja. Menyentuh tepat di lubang kecil penis Pak Widjaja. Ia menghirup perlahan aroma penis yang khas sambil memejamkan mata. Ujung hidungnya merambat ke pangkal penis, pipi Hyewon pun menempel ke batang penis Pak Widjaja.
“Sekarang aku mau pak. Sampe masuk kontol bapak ke memek aku juga aku mau.” Nafas Hyewon mulai memelan, “aku emut lagi ya pak.”
Pak Widjaja merubah posisinya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan posisi terduduk. Hyewon menundukkan wajahnya mendekati penis dengan posisi menungging di atas kasur. Jari jemarinya yang manis mulai menyentuh lembut kulit penis Pak Widjaja. Digenggamnya penis dengan satu tangan. Hyewon mulai menggerak-gerakkan tangannya ke atas-bawah.
“aacc..chhh… eehhh.. aahhh nenggg…”
“Enak ya pakk..” ucap Hyewon sambil menatap genit ke arah Pak Widjaja.
“eemmmhhhh…” Hyewon menjulurkan lidahnya menjilat ujung kepala penis yang semakin mengeras.
Tak lama jilatannya berubah menjadi emutan dan hisapan di kepala penis dengan tangannya yang masih terus mengocok. Pak Widjaja terus mendesah semakin keras. Lidahnya bermain-main di dalam mulutnya, mengelus-elus kepala penis. Tiba-tiba Pak Widjaja bergetar kuat.
“aachhhhh….” Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya, cairan sperma meleleh dari dalam penis.
“mmpphhhh..” Hyewon masih mengocok penis dengan tangan kanannya, mulutnya masih diisi kepala penis Pak Widjaja menanti tetesan terakhir sperma. Ia melepaskan penis dari mulutnya, mengangkat kepalanya menghadap Pak Widjaja dengan wajah penuh senyum.
“Liatin sperma bapak dong, neng.” Pinta Pak Widjaja. Hyewon membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya yang dipenuhi cairan berwarna putih susu.
Hyewon kembali menutup mulutnya. Tidak segera menelan sperma, ia justru memainkan sperma itu di dalam mulutnya. Menikmati aroma dan rasa sekaligus sensasi tersebut. Glek… sperma Pak Widjaja menuju perut Hyewon. Hyewon menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan. Ia mendekat ke Pak Widjaja, melupat bibir penjaga kosannya.

“Seneng banget sih, neng?” Tanya Pak Widjaja sambil mengelus payudara yang tidak tertutupi apapun.


“Sperma bapak enak.” Ucap Hyewon dengan sedikit malu-malu sambil merebahkan tubuhnya di atas dada Pak Widjaja.
“Istirahat dulu ya neng. Nanti lanjutin.”
“Lanjutin apa pak?” Tanya Hyewon sambil melihat Pak Widjaja.
Tidak langsung menjawab, Pak Widjaja menggerakkan tangannya. Menyentuh bibir vagina Hyewon, kemudian menyelusupkan jari tengahnya ke sela bibir vagina. “lanjutin ini. Ngeringin memek kamu. Nih, basah.”
“ahhhh… mpphhhh…” eluh Hyewon sambil menggigit bibir bawahnya, “ga ah, pak. Malu aku ngentot sama penjaga kosan.” Ucap Hyewon sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di vaginanya.
“Supaya neng mau harus gimana?” Tanya Pak Widjaja.
Perlahan paha Hyewon menjepit tangan Pak Widjaja, sementara tangannya mencengkram pergelangan tangan Pak Widjaja. Tubuhnya tidak ingin jejari Pak Widjaja lepas dari vaginanya.
“Katanya tadi ga mau dilanjutin.” Protes Pak Widjaja.
“Aku binal ya pak?” Tanya Hyewon dengan wajah sayu.
“Neng Hyewon itu bispak. Bisa bapak entot kapan aja bapak mau.”
“aahhhh.. bapak jahat.. mmpphhh.. masukin jarinya pakk…”
“Lanjutin nanti ya neng. Istirahat dulu.”
“Bapak bilang yang mesum-mesum dulu dong.” Pinta Hyewon.
“Memek Neng Hyewon mau dijilatin nanti?” Hyewon mengangguk, “Dimasukin kontol bapak? Kita ngentot.”
“Mau banget, pak” jawab Hyewon dengan berbisik.
“Sampai puas!” ucap Pak Widjaja ikut berbisik. Mereka kembali berciuman. Kemudian tertidur bersama
----------------
Pukul 03.00, Hyewon masih tidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, Hyewon merasakan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah ia sedang ‘mimpi basah’ atau tidak, tetapi ada eluhan-eluhan yang keluar dari mulutnya.
“Mmpphhhh… mmpphh…”
Hyewon mulai sadar di tengah tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi Ia semakin menyadari kenikmatan di sekujur tubuhnya. Membiarkan tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Hyewon tidak ingin membuka matanya, kemudian terbangun dari tidurnya. Ia ingin menikmati tidurnya yang penuh kenikmatan. Lambat laun kesadarannya semakin menguat saat mendengar suara-suara kecupan. Hyewon mulai teringat bahwa Ia sedang tidur dengan Pak Widjaja tanpa busana yang menjanjikan kelanjutan permainan mereka. Hyewon membuka matanya untuk meyakinkan diri tentang apa yang dari tadi Ia rasakan.
“Pakkk… mmpphhhh.. curannggg..” ucap Hyewon sambil menggigit bibir bawahnya menatap Pak Widjaja yang sedang menjilat vaginanya.
Pak Widjaja mengangkat wajahnya. “Neng tidurnya nyenyak banget. Bapak ga enak banguninnya.” Tangan Pak Widjaja mengelus-elus paha Hyewon. “Jadi bapak mulai aja duluan.” Ucapnya sambil tersenyum.
Hyewon membalas dengan senyum manis, kedua tangannya menjulur ke arah Pak Widjaja. Pak Widjaja mendekat, mendekap dalam pelukan Hyewon.
“Enak ya, neng. Kayak mimpi melayang-layang.”
“Mmm..” Jawab Hyewon dengan suara menggoda.
Mereka mulai bercumbu, dengan tangan saling meraba tubuh lawannya. Mmpphhh… hhmmmm…. Eluh masing-masing. Pak Widjaja mulai menurunkan kecupannya ke leher, dada, payudara, puting, perut, hingga ia kembali berkonsentrasi ke vagina Hyewon. Diawali dengan kecupan kecil. “mmpphhh.. pakkk…” kemudian jilatan panjang, menjilat seluruh bagian luar vagina Hyewon. Hyewon mendesah semakin keras. Akhirnya Pak Widjaja memulai emutan di vagina Hyewon, lidahnya menjulur masuk menjilat-jilat bagian dalam.
“aaacchhh… ennakkk pakk.. eehhhmmpphhh…”
Slurrppp… slurrppp.. jilatan, hisapan, dan emutan Pak Widjaja bersuara semakin keras. Tubuh Hyewon tidak sanggup menahan kenikmatan dari vaginanya. Ia mengangkat pantatnya, mendorong vaginanya ke mulut Pak Widjaja yang sedari tadi menempel, seakan menginginkan lebih. Pak Widjaja paham betul, Ia mengangkat wajahnya, kemudian meletakkan jari jemarinya di bibir vagina Hyewon.

“Haahhh… aahhh..” nafas Hyewon memburu, “Iya begitu pakk.. eemmppphhh…” Hyewon menengadahkan wajahnya sambil mendesah saat jari tengah Pak Widjaja menekan dan mengelus klitorisnya.
Pak Widjaja mendekatkan wajahnya ke Hyewon, Hyewon menyambut dengan ciuman begitu ganas. Nafsu telah menguasai tubuhnya. Tangan Pak Widjaja sudah terjepit kuat paha Hyewon. Hanya jari jemarinya yang masih bisa bermain-main di vagina Hyewon. Hyewon terus menggelinjang kuat dengan suara desahan yang tertahan akibat berciuman dengan Pak Widjaja, merapatkan tangannya di punggung Pak Widjaja.
“Acchhhh… Pakkk, enakkk.. mmpphhhh..” lenguh Hyewon melepaskan ciumannya. Pak Widjaja semakin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Hyewon dipenuhi nafsu.
Membayangkan seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah usia Pak Widjaja, dipenuhi nasfu ingin bersetubuh. Pak Widjaja mempercepat gesekan jarinya di vagina Hyewon.
“Aaaaccchhhhh….” Desahan panjang Hyewon disertai tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku.
Pahanya mencengkram kuat tangan Pak Widjaja hingga tidak bisa bergerak. Cairan bening keluar dari vagina Hyewon. Wajahnya meringis. Ia melonggarkan pahanya, melepaskan tangan Pak Widjaja. Sesekali tubuhnya masih mengejang, sementara dari vaginanya masih mengeluarkan cairan kenikmatan. Wajahnya masih dipenuhi ketegangan, hingga akhirnya senyum kepuasan menghiasi wajahnya.
“Enak banget, pak.” Ucap Hyewon dengan vagina yang masih menetesnya cairannya.
“Iya, bapak suka liat kamu lagi nafsu begitu.” Pak Widjaja mendiamkan Hyewon untuk beristirahat sejenak.
5 menit berlalu, mereka berbincang-bincang tertutama mengenai pengalaman Hyewon bersetubuh dengan lelaki lain. Hyewon merasa malu membicarakan hal tersebut, tetapi karena nafsunya masih tinggi membuatnya tidak lagi peduli.
“Pak Widjaja ga nikah?” Tanya Hyewon sambil mengelus-elus penis Pak Widjaja.
“Ada yang muda-muda kayak Neng Hyewon buat apa nikah.” Jawab Pak Widjaja membiarkan penisnya tetap mengeras. Mendengar jawaban tersebut, Hyewon teringat Mbak Wulan dan 3 mahasiswi lainnya yang dulu menempati kosan ini.
“Mmm.. Pantesan Mbak Wulan sama yang lain dulu betah banget ya ngekos disini. Jadi gara-gara ini.” ucap Hyewon sambil mengocok penis Pak Widjaja, “Enak ya pak. Bisa ngentotin mahasiswi cantik terus.” ketus Hyewon.
Selain dirinya masih ada 2 mahasiswi yang saat ini menempati kosan tersebut.
“Apa Sasha dan Nadya pernah begini juga ya?” Tanya Hyewon dalam pikirannya.
Pak Widjaja merubah posisinya, jari tangannya menyentuh bibir vagina Hyewon yang masih basah. “Udah ga sabar ya neng dimasukin kontol bapak?” Hyewon hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak mampu menutupi kegembiraan atas pertanyaan Pak Widjaja.
Hyewon mengambil kondom di laci meja belajarnya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus penis Pak Widjaja kemudian mengulum, memastikan penis itu telah mengeras kuat. Kondom tipis dengan perlahan disarungkan ke penis Pak Widjaja. Hyewon tersenyum tipis, membayangkan kenikmatan yang akan didapatnya.

Pak Widjaja memposisikan diri di atas tubuh Hyewon. Dengan paha terbuka, Hyewon tidak sabar menanti penis memasuki liang vaginanya. Kepala penis Pak Widjaja menempel dan menggesek-gesek bibir vagina Hyewon. “Neng, ga mau masuk nih. Mesti dibujuk dulu.” Ucap Pak Widjaja menahan jegolak nafsunya menyetubuhi Hyewon. Hyewon paham maksud Pak Widjaja, Ia menggenggam pinggul Pak Widjaja. Tetapi bukannya langsung menarik pinggul tersebut agar penis Pak Widjaja masuk, Hyewon mengawalinya dengan raut wajah penuh nafsu. “Pakkk… Masukin kontolnya ke memek aku yah.” Ucap Hyewon dengan nada memohon, “Aku udah ga kuat. Pengen ngentot, pakk.” Hyewon mulai menarik pinggul Pak Widjaja. Nafsu Pak Widjaja meningkat mendengar permintaan Hyewon, Ia pun mulai mendorong penisnya. Penis Pak Widjaja mulai menjelajahi liang vagina Hyewon.


“Uughhh.. Neng, enak banget memeknya. Mmpphhh..”
“Dorong terus pak. Masukin semuanya. Kontol bapakk kerr..ass bangett.. mmpphhhh..” Ucap Hyewon diakhiri desahan.
Perlahan seluruh penis Pak Widjaja masuk ke dalam vagina Hyewon. Mereka berdua bercium seperti sepasang kekasih.
“Ayo, pak. Kocokin ke dalem. Aku suka kontol bapak.” Rajuk Hyewon.
Pak Widjaja tersenyum senang, kemudian mulai menarik penisnya.
“Mmpphhhh…” keduanya berdesah.
Pak Widjaja memulai persetubuhannya dengan tempo perlahan. Ia menarik dan mendorong penisnya perlahan untuk menikmati betul vagina Hyewon yang masih sempit. Sesekali Pak Widjaja mendorong dalam penisnya, hingga Hyewon mendesah panjang. Perlahan Pak Widjaja meningkatkan kecepatannya menggesek vagina Hyewon.
“Accchhhh… iya pak. Terus pak.. enakkk.. eeuuhhhh.. mmpphhhh.. kontol bapak ennaaakkk…” Hyewon mulai merancau saat gesekan penis Pak Widjaja semakin cepat.
Nafas keduanya semakin menggebu.
“Memek neng sempit banget.. aaccchhhh… mmppphhhh…”
“Iya pakkk… teruss.. uugghhhh… kocok terus pakkk..” Pak Widjaja semakin cepat mengeluar-masukkan penisnya.
“Tengkurep neng. Aahhhh…”
“Iyah pakkk… accchhh… jangan dilepas pak kontolnya.. enak bangettt…” Hyewon membalik tubuhnya tanpa melepas penis dari vaginanya.
Pak Widjaja memandangi bongkahan pantat putih bersih dengan penisnya yang keluar-masuk vagina Hyewon. Nafsunya menggila. Ia mengocok semakin cepat.
“Accchhhh, enakan pakee jari ato kontol, nenggg?” Tanya Pak Widjaja dengan nafas menggebu.
“Kontol… Hyewon suka pakkeee konn.. toll bapak.. aaaahhhh.. terus pak..”

Pak Widjaja mengangkat pinggul Hyewon, ingin Hyewon menungging. Pak Widjaja terus mengocok vagina Hyewon yang semakin basah hingga terdengar suara kecipak air.
“Uuughhhh… ga kuat pakkk… aacccchhhhh.. oooghhhh…” Tubuh Hyewon bergetar, ada lelehan cairan keluar dari vaginanya. Pak Widjaja menahan penisnya di dalam tanpa gerakan. Menidurkan Hyewon dalam posisi terkelungkup. Pak Widjaja menindih tubuh Hyewon, sambil menggoyang-goyangkan penisnya perlahan.
“hhaaahhhh… enak banget pak.” Pak Widjaja mengecup pipi Hyewon.
“Mau lagi neng?”
“Sampe bapak puas. Memek aku buat kontol bapak.” Ucap Hyewon sambil mencium bibir Pak Widjaja.
Pak Widjaja mulai kembali mengocok vagina Hyewon dengan penisnya. Tangannya menyelusup ke payudara Hyewon. Meremas kuat tetapi lembut. Nafas Hyewon kembali meningkat. Ia melirik kebelakang, melihat pantat Pak Widjaja yang hitam bergoyang naik-turun. Sementara pantatnya sendiri tertindih Pak Widjaja. Hyewon menjulurkan tangannya, mengelus pantat Pak Widjaja.
“Uuughhhh.. mmppphhh.. terusss pakk. Entotin akuuu..” rancau Hyewon sambil memejamkan matanya menikmati hujaman penis Pak Widjaja. Pak Widjaja kembali mengangkat pinggul Hyewon. Menginginkan posisi itu kembali.


“aacchhh… pakkk udah mau keluuarr?” Tanya Hyewon dengan nafsu terus menggebu. “Iya neng.. accchhh… sebentar lagii…” Pak Widjaja mempercepat kocokannya.

Hyewon menggigit bantal di depan wajahnya. Menahan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Sementara tangannya meremas-remas kain sprei hingga sangat berantakan.
“Ooohhhh,,, ooogghhh…. Pakkk ga kuaattt. Mau keluar lagiii.. oouugghhhh…” lenguh Hyewon tidak mampu menahan diri.
“Iya, nengg. Bareng sama bapak.. aacchhhh…”
Pak Widjaja menekan dalam penisnya ke vagina Hyewon. Spermanya keluar tertahan kondom yang dikenakan. Sementara vagina Hyewon kembali mengeluarkan cairan bening. Keduanya melenguh bersamaan. Panjang. Terdengar penuh kenikmatan. Hyewon kembali tertidur dengan posisi terkelungkup, sementara Pak Widjaja menindih di atasnya. Penisnya tetap berada di dalam vagina Hyewon yang masih berkedut. Tubuh keduanya dibasahi keringat yang keluar dari pori-pori.
“Enak, neng?”
“Enak banget pak. Makasih ya.” Jawab Hyewon sambil mencium bibir Pak Widjaja.
“Bapak ke kamar ya neng.” Ucap Pak Widjaja sambil mencabut kondomnya kemudian membuangnya di tempat sampah.
“Iya pak. Aku mau langsung mandi. Ada kuliah pagi.” Jawab Hyewon.
Pak Widjaja segera mengenakan pakaiannya kemudian kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mencium Hyewon. Hyewon mengambil handuknya di atas rak. Menuju kamar mandi, menutup rapat pintunya. Ia melihat tumpukan pakaian dalam yang kotor. Celana dalam Pak Widjaja ada di sana. Hyewon meremas celana dalam itu. Ia memikirkan apa yang baru saja selesai Ia dan Pak Widjaja lakukan. Memalukan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu menahan gejolak nafsu. Hyewon mendekatkan celana dalam itu ke hidungnya, teringat saat-saat hidungnya menyentuh ujung kepala penis Pak Widjaja. Hyewon tersenyum.

Hyewon the Stories Ch. 10: ABG Kost yang Nakal


Astaga! dia mengintipku! Saat aku baru melepas handuk sehabis mandi. Ya anak itu memang mengintipku! Aku tahu  persis dari kelebatan baju seragamnya dari balik kaca nako kamar kostku. Terlihat jelas itu memang dia! Firman! anak abg sebelah kamar kostku yang baru kelas 2 SMP!  Aku hanyalah mahasiswi, lalu mengapa anak abg itu nekad mengintipku?  Apakah aku harus marah? Ah tidak, aku bingung sekali karena aku tak merasakan kemarahan dalam diriku, sama sekali tidak. Aku justru bingung dengan diriku, ada apa ini? Entah kenapa aku justru merasa senang ada anak abg mengintipku ketika aku sedang dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun!  Entah kenapa aku  justru merasa tersanjung.
Duhh memalukan sekali, kenapa kewanitaanku tiba-tiba terasa geli dan lembab memikirkan kejadian barusan. Ada apa dengan diriku? Tiba-tiba aku merasakan kegatalan yang menyeruak, yang terasa nikmat. Rasa nikmat itu seperti mengalir kuat tiba-tiba, berawal dari puting buah dadaku yang mengejang lalu merambat ke sela-sela pahaku. Aku merasa enak sekali, ingin sekali rasanya kuselesaikan saat itu juga. Tapi.. tidak! Itu sesuatu yang tabu bagiku, lagipula aku harus segera berangkat kuliah, aku bisa terlambat dan kena absen jika telat kuliah. Segera kupakai bajuku, sebuah seragam berupa gaun terusan panjang biru muda dengan sabuk kecil warna coklat yang melingkar di atas pinggangku. Oh! pagi yang indah ini aku merasa manis sekali,  walaupun hatiku masih berdebar kencang akibat peristiwa "pengintipan"
 barusan. Ow. Dia sedang berdiri dengan seragam khasnya putih-biru. Tubuhnya tampak kurus, dan makin terlihat kurus setelah kulihat kakinya kering dan kecil. Innocence! keluhku. Sungguh anak abg ini seperti sosok yang tak berdosa dan terlalu muda untuk tahu soal-soal orang dewasa. Tapi siapa sangka, barusan ia kepergok mengintip ke dalam kamarku, memergoki ketelanjanganku entah untuk yang ke berapa kali. Yang aku tahu ya cuma tadi pagi itu. Aku melangkah mendekat ke arahnya. Canggung sekali rasanya ketika mendekati pelaku "kriminal" cilik ini. Aku belum memiliki keberanian untuk menginterogasinya, aku masih malu! Firman, usianya kutaksir sekitar 15 tahun. Ia tampak tenang banget ketika aku akan mendekat padanya. Dan tak kuduga sama sekali ia menyapaku dengan "ramah" banget,
"Pagi mbak Hyewon...mau berangkat kuliah ya?"
 “Sial!” aku menggerutu dalam hati.
Nyantai banget anak ini, apa memang dia gak merasa kupergoki ya? Akhirnya kupaksakan menyambut ke-"ramah"-annya dengan sewajar mungkin,
"Pagi juga Fir. Kok belum ke sekolah?"
"Bentar lagi mbak, lagi nunggu temen mau njemput neh," jawabnya tenang sambil matanya menatapku lekat-lekat.
“Eh beraninya anak ini?” pikirku, apa dia gak tahu ya kalau aku sudah mergokin perbuatan nakalnya barusan?
 Aku tak bisa melamun lama-lama karena mobil temanku pasti sudah menungguku di ujung gang.
 
"Iya deh, aku berangkat dulu'" kataku sekenanya.
 "Silakan mbakku yang cantik'" tukasnya tanpa ekspresi malu atau berdosa. Justru aku yang sekarang
 jadi salah tingkah karena pagi-pagi sudah dapet sanjungan dari cowok abg usil.
 "Iya Fir, thanks ya..dadahh!" Lagi-lagi aku kebingungan sendiri..
 "Thanks untuk apa mbak??" tanyanya sambil mencegat langkahku.
Uh sebel banget aku dibuat kikuk seperti ini, bagaimana bisa anak abg ini membuat wanita dewasa
 sepertiku mati kutu? Aku mendekatinya sekali lagi dan segera kucubit gemas pipinya..
 "Huhh kamu ini, udah sekolah sana!" kataku agak sewot.
Tapi dengan cekatan tanganku ditelikungnya sehingga dia balik memelukku
"Hehehehe..jangan marah dong mbakku nan cantik.."
 Aku sungguh merasa aneh, aku tak bisa marah dengan kenakalan anak ini dan herannya baru sekali itu aku merasa akrab dengan seseorang walaupun itu hanya seorang anak abg. Tapi cengkerama singkat pagi itu seakan memberiku semangat baru. Aku menjewer telinganya, dan dia balik menggelitik pinggangku. Lalu pada saat yang tak kuduga dia memelukku erat sehingga kepalanya menempel kuat pada dadaku. Mendadak hatiku gemuruh..ahh tidak. Dia bahkan lebih pantas jadi
 anakku. Kami berdua jadi saling goda dan tertawa. Aku berusaha keras untuk bercanda sewajarnya, layaknya seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adiknya, atau tante kepada ponakannya. Adegan itu tentu saja menjadi perhatian penghuni kos-kosan yang lain yang segera tersenyum-senyum melihat gurauan kami. Semoga saja mereka tidak berpikir yang tidak-tidak tentang kami yang berselisih usia jauh sekali. Tetapi ternyata justru aku yang terjebak untuk berpikir tidak-tidak. Karena..aduhh, tadi entah sengaja atau tidak dia Firman sempat meremas pantatku. Tiba-tiba kulitku
 meremang dan aku merasa geli sendiri. Apalagi kalau kuingat tadi kepalanya sempat menempel lama pada dadaku, dadaku serasa mengembang penuh seakan menyesak pada kain penutupnya. 

Firman
 Sepulang kuliah, berbagai perasaan dan pikiran yang aneh terus berkelindan di benakku. Sampai-sampai di dalam kamar mandi, dengan telanjang bulat aku mematut-matut tubuhku di depan cermin, benarkah aku masih menarik. Ahh..belum ada kerutan,  kuraba payudaraku juga masih terasa kencang dan berisi, perutku juga tak berlemak, lenganku masih singset,  wajahku?? Ahhh aku tak tahu. Aku jadi merinding jika mengingat dia mengintipku. Tiba-tiba aku merasa ingin pembuktian. Aku harus membuktikan diri apakah aku ini masih menarik atau tidak? tak peduli  jika itu harus kuujicobakan kepada anak abg seperti Firman. Apa boleh buat. Ini adalah pilihan yang paling kecil resikonya ketimbang jika aku membuktikannya pada lelaki yang sudah dewasa, bisa-bisa aku jatuh pamor nanti hihihihi. Kebetulan aku sedikit tahu kebiasaan Firman kalau malam hari. Dia biasa duduk-duduk sendiri sambil baca-baca koran di tangga loteng untuk menjemur pakaian. Apakah kira-kira dia masih dengan kebiasannya itu? Kusibak tirai jendelaku dan aku mengintip keluar. Uhh benar sekali, dia masih di sana, seperti sedang melamunkan sesuatu. Tapi aku bingung, aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana aku harus memulainya agar rencanaku berjalan lancar. Ahai, aku masih punya beberapa jemuran yang masih basah yang biasanya kujemur pagi-pagi sekali. Tapiii...aku harus bagaimana? Dadaku gemuruh memikirkan rencana dan sensasi-sensasi aneh yang mulai mencengkeramku. Aku jadi ingin tampil menarik di hadapan anak ingusan itu saat ini. Segera
 kupilih daster terusan pendek yang kupikir cukup sexy, karena agak ketat, berbahan tipis dan menerawang kalau kena sinar lampu. Aku ingin banget melihat reaksi Firman nanti. Adeehh..tiba-tiba saja aku merasa geli lagi pada selangkanganku, geli-geli dan gatal seperti ingin disentuh. Tiba-tiba aku merasa membersitkan cairan..duhh kenapa kok aku tiba-tiba basah ya..?? Aku ragu apakah rencana ini harus kuteruskan? apakah aku tidak terkesan murahan? Tapi hasratku makin menggebu-gebu, rasanya keingintahuanku sudah tak bisa kutahan lagi. Toh aku tidak ngapa-ngapain, aku kan cuma pengen tahu reaksi anak abg itu? Ahh..lagi-lagi berusaha mencari-cari alibi untuk pembenaran
 rencanaku. Yahh. Mau tak mau kubulatkan saja tekadku. Sekarang! atau tidak sama sekali! Kakiku goyah saat kulangkahkan menuju tangga jemuran. Semakin mendekat ke arah Firman dadaku makin gemuruh, semoga tak ada penghuni kos-kosan lain yang tahu keadaanku saat itu, seorang mahasiswi! dengan busana yang mungkin hanya cocok untuk dipakai di dalam kamar tidur! Untungnya dia tak mengetahui kehadiranku. Tapi ketika sudah dekat, tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Tak kuduga senyumnya terkembang lebar, tampaknya sumringah sekali. Tapi saat aku sudah dekat sekali, senyumnya berubah jadi melongo tatkala diriku sudah demikian jelas dalam pandangan matanya. Matanya memandang lekat tubuhku, terutama bagian dadaku. Aku terhenyak sekaligus merasa tersanjung luar biasa.
   "Hai Fir! kok melongo? minggir dikit gih! mbak mau njemur ni.." sapaku memecah kesunyian..
 Lalu kudengar sahutannya dengan nada seperti gemetar.."Iiiiya mbak..silakan.." mulutnya makin
 melongo ketika aku menapaki tangga pertama.
 "Hei!! kok melongo sih?" hardikku penuh tanya.
 "Aaa..si..si..silakan mbak..," sahutnya dengan suara yang masih gemetar.
Aku melangkah terus hingga sejajar dengannya.
"Kok kamu gemetar sihh..sakit yaa??" tanyaku sedikit kecewa.
"Ee..enggak mbak..aku..aku..kaget..kukira mbak bidadari dari mana.." jawabnya.



Kulihat kepolosan dan kejujuran di matanya. Gubraak! Aduh anak ini! Dia bercanda atau serius sih? Aku jadi salah tingkah karena terus-terusan dipuji.
"Uhh kamu ini, kecil-kecil udah pinter nggombal!" Aku menanggapi ucapan Firman dengan perasaan
 yang campur aduk.
 "Ehh..benerr mbak..suerr..mbak itu bak bidadari turun dari kahyangan..dan aku ingin jadi Jaka Tarubnya
 hehehehh.."
 Deg! Jadi?? Bukankah Jaka Tarub itu juga suka ngintip?
"Jadi kamu juga demen ngintip kayak Jaka Tarub dong?" Aku langsung mencoba menohok
 dia.
"Ya tergantung mbak.." jawabnya lugas, tak ada keraguan di
 wajahnya.
"Tergantung gimana??" aku jadi penasaran dan mengurungkan langkahku untuk menjemur pakaian.
 "Tergantung orangnya mbak...kalau orangnya cantik seperti mbak Hyewon ya emang pantas diintip," jawabnya terus terang.
Hah? beraninya anak ini ngomong seperti itu. Tapi anehnya aku tak bisa marah atau jengkel, sebaliknya perasaanku malah jadi berbunga-bunga..
 "Weew mbak Hyewon kok pipinya jadi merah sii? suka yaa??" tanyanya tiba-tiba, matanya serasa langsung
 menusuk mataku.
“Duhh beraninya anak ini. Siapa yang ngajarin kurang ajar seperti itu” pikirku?
 "Huh suka apaan?" sahutku agak gemetar.
 "Suka diintipin..hehehehehhh.." jawabnya
 Terus terang. hatiku langsung berdegup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Posisiku masih sejajar dengannya, berdiri saling berdekatan di tangga yang sempit itu.
"Ja..jadii..kamu suka mengintip ya?" tanyaku memastikan.
"Kan aku sudah bilang mbak. Tergantung siapa dulu orangnya," jawabnya lagi sambil senyum-senyum menatap mataku.
Aduh anak ini, berani banget dia ngomong yang menjurus-menjurus seperti itu. Dan matanya itu, tak henti menjelajah tubuhku bahkan menatap mataku secara langsung. Anehnya aku justru menjadi kikuk dilihatin seperti itu. Malah aku sekarang tertunduk tak berani beradu pandang dengannya. Ya ampuuunn...semua ucapannya itu jelas ditujukan langsung kepadaku. Anehnya, diperlakukan seperti itu aku mulai merasakan sensasi yang aneh, kulitku jadi merinding, pucuk-pucuk dadaku serasa menegang, dan sela-sela pahaku jadi terasa geli-geli. Malu sekali rasanya dikerjain anak ingusan ini. Aku merasa tidak kuat lagi berdekatan dengannya dan mendengar ucapan-ucapan yang menjurus mesum seperti itu. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Firman, aku harus tak peduli dengan semuanya itu, atau pura-pura tak peduli. Aku melangkah gamang, satu persatu tangga kunaiki dengan goyah. Celakanya pada anak tangga terakhir angin nakal bertiup kencang menyibak gaunku dari bawah..wussshh..cepat sekali.  Tak sempat kutahan pakaian bawahku agar tak berkibar-kibar,
 tapi aku kerepotan sendiri karena tanganku sedang membopong seember jemuran.
 
 Aku berharap Firman tak mengetahui kejadian itu, bisa malu aku dibuatnya. Tapi dugaanku salah besar. Di bawah Firman malah sedang berjongkok melihat adegan bajuku disibak angin, wajahnya tersenyum-senyum penuh arti tanpa rasa malu sedikitpun. Aku lekas-lekas naik lagi menuju loteng agar penderitaanku segera berakhir. Tapi anehnya angin nakal itu seakan mengejarku. Bahkan ketika sampai di loteng pun pakaian bawahku masih tersingkap-singkap. Aduhhh..si Firman malah jadi kegirangan, senyumnya...ya ampuun itu bukan senyuman anak belia. Itu seringai serigala..
 "Mbaaaaak!!," Firman setengah berteriak memanggilku dari anak tangga, "aku gak perlu ngintip kok mbak...sudah keliatan tuhh! ...Pink!" serunya.
Duhh malunya aku, pipiku rasa terbakar api. jantungku berdetak kencang. Anak itu jadi tahu dehh warna dalemanku, tapi berani sekali dia menggodaku seperti itu. Kurang ajar sekali dia!! Untuk beberapa saat aku ingin marah kepadanya. Tapi segera urung karena aku merasa aneh dengan tubuhku. Kulitku tiba-tiba terasa sensitif sekali. Pori-poriku meremang. Dan aku merasakan kegelian yang berkumpul enak sekali pada sela-sela pahaku. Ahh...aku merasakan basah di celana dalamku! Kenapa bisa begini?? Mengapa setelah kejadian memalukan ini aku malah menjadi begini? Entah mendapatkan keberanian darimana, mendadak terbersit keinginan agar Firman dapat melihat lebih jelas lagi bagian tubuhku yang mungkin jarang ia lihat. Aku tak berusaha membetulkan busanaku yang masih tersingkap, aku malah berpura-pura sibuk menjemur pakaianku yang cuma empat potong saja. Aku sendiri menjadi heran dengan diriku. Seolah  ada kekuatan yang memaksaku untuk memamerkan tubuhku di hadapan Firman. Seperti ada kekuatan yang menahanku agar tak cepat-cepat selesai menjemur pakaian. Aku menginginkan dia melihatku lebih jelas lagi, aku ingin dia mengintipku atau apapun! Aku ingin mendengar komentarnya mengenai tubuhku. Wusshh..angin nakal bertiup lagi. Menyingkap lebih ke atas dasterku. Tapi aku tak lagi berusaha menahannya. Aku membiarkan saja angin nakal itu. Dan saat aku menoleh ke bawah ke arah Firman dari atas loteng, Ia benar-benar melongo, matanya seakan melotot ke arahku tak berkedip sekejap pun! Hatiku pun berdegup makin kencang. Seluruh pori-pori di tubuhku terasa makin melebar dan mengembang, tubuhku terasa makin sensitif. Aku mulai menikmati adegan eksiku di depan anak belia ini. Tak bisa kupungkiri lagi aku merasa senang dengan perbuatanku ini. Ya aku merasa senang karena aku mulai merasakan kenikmatan tersendiri yang susah kuungkapkan dengan kata-kata. Aku bahkan mulai terlanda sensasi-sensasi aneh yang membuat bagian-bagian genitalku meremang geli, dan bagian paling genitalku pun membasah. Ughh kenapa bisa begini?? aku merintih tertahan. Rasa-rasa yang aneh itu terus menderaku hingga kurasakan sela-sela pahaku tidak sekedar lembap, melainkan sudah benar-benar basah dan becek. Bagaimanapun untuk hal yang satu ini orang lain tak boleh tahu, apalagi anak belia yang sedang menontonku saat ini. Segera kutangkupkan gaunku agar tak tersingkap lagi dan kutoleh anak itu. Hmmm...kemana dia? Firman sudah tak ada lagi di bawah loteng. Kemana perginya anak ingusan itu? Hhhh...entah kenapa aku merasa kecewa begitu tahu Firman sudah tak lagi menontonku, hatiku terasa hampa.
 
 Tapi..aku terkejut sekali mendengar suaranya memecah lamunanku.
 "Mbak Hyewon, mbak cantik sekali," suara Firman bergetar tepat di belakangku, jaraknya terasa sangat dekat sekali.
Begitu kutolehkan kepala, astaga! benar sekali dia telah berada di belakangku, entah sejak kapan? Mungkin karena aku tadi terlalu "sibuk" membanggakan diri sampai-sampai aku tidak menyadari kalau Firman tahu-tahu telah beberapa centimeter di belakangku.
 "Ah bisa saja kamu Fir."
 "Aku ngomong apa adanya mbak. Mbak Hyewon memang cantik."
Kurasa ia berkata dengan sungguh-sungguh, matanya menatap tajam ke mataku tanpa ragu. Tiba-tiba dengan berani ia merapat kepadaku, kudengar suaranya bergetar lirih,
"Tan, aku boleh minta sesuatu?"
 "Aapa sih Fir?" cemas rasaku menunggu pertanyaan Firman.
 "Aku minta cium, mbak.' katanya lugas.
 Aku sungguh-sungguh terkejut dengan permintaan Firman yang tanpa tedeng aling-aling itu. Aku tak tahu harus bagaimana, karena ada perasaan iba juga jika aku tak mengabulkan permintaannya, tapi mengabulkan juga salah. Aku sama sekali tak menyangka keadaan akan berlanjut seperti ini.
 "Kenapa Firman minta seperti itu?" tanyaku ragu-ragu sambil kuberanikan menatap matanya langsung. Tapi ternyata aku tak kuat berlama-lama beradu pandang dengannya.
 "Karena mbak Hyewon cantik. Aku sayang mbak sejak awal ketemu dulu." jawabnya lugas.
 Mendengar jawabannya aku benar-benar terkejut. Tak
 kusangka ternyata ia benar-benar mengagumiku. Pipiku terasa
 hangat. Agar tidak mengecewakan hatinya aku mencoba menawar,
 "Hmm iya deh. Tapi kamu merem ya?"
 "Engga mau mbak, aku pengen seperti yang di filem-filem itu. mbak aja yang merem." balasnya lagi tak kalah cerdik.
 "Iya deh kali ini mbak penuhi permintaanmu. Tapi cukup sun pipi saja, gak boleh lebih atau enggak sama sekali," jawabku tegas.


Firman terlihat ragu sejenak, tanganku tiba-tiba dipegangnya erat-erat seakan takut kalau aku lepas darinya.
"Iya deh mbak," jawabnya.
Perlahan-lahan kakinya berjinjit, lalu tangannya memelukku erat. Saat wajahnya mendekat ke pipiku, entah kenapa tanpa kusadari mataku terpejam, seperti menanti ciuman seorang pacar. Aduhh, mendadak nafasku tersengal ketika kurasakan tangannya turun ke arah pantatku, menekannya di situ kuat sekali sehingga berdempetan dengan tubuhnya. Akhirnya kurasakan nafasnya yang panas menderu di pipiku, semakin dekat. Entah bagaimana tubuhku tiba-tiba terasa geli semua,
 bulu kudukku merinding. Dan ketika bibirnya menempel pada pipiku aku gemetar tiba-tiba.
 
“Ini, ini bukan sun pipi” batinku.
Ini...ini seperti endusan hewan liar yang hendak melumatkanku. Ia, ia tak sekedar menyentuhkan bibirnya ke pipiku, tetapi mengendus-endusnya, memoles-moleskannya, mengusap-usap pipiku dengan bibirnya. Lalu entah bagaimana mulanya tiba-tiba bibirnya telah memagut bibirku, lidahnya cepat sekali menyelusup ke dalam bibirku yang terperangah dan menyentuh lidahku. Aduhh..panas sekali lidahnya. Tiba-tiba segenap tubuhku serasa lemas, jiwaku rasa melayang larut ke dalam belitan lidahnya yang menyentil-nyentil langit-langit mulutku. Ahhh..sudah lama sekali aku tak merasakan yang seperti ini. Kusadari ini salah. Ini tak boleh. Tapi anak abg ini?? Mengapa ia begitu pintar membenamkanku ke dalam sensasi yang menggelitik seluruh pembuluh syarafku. Ohhh, Aaaaahs..tidak...ia meremas pantatku, lembut sekali. Ia meremas pantatku dan merapatkanku kepada tubuhnya. Terasa selangkanganku mulai geli dibuatnya. Ohhh tak boleh ini...bibirnya merangsek leherku, menjilatnya rakus. Eghh ia menyedoti leherku..bagaimana ini...geli sekali rasanya. Aduhhh...pantatku terus diremas-remasnya dengan gemas...geli-geli terasa mulai menjalar ke selangkanganku. Ia...ia...ahhh..kenapa ini?? rahimku mulai berkedut-kedut. Kurasa...kurasa...cairanku mulai memancut-mancut mengairi relung-relung kewanitaanku. uuuuh..gelinya..ahhh..anak ini....anak ini...
 "Firrr..stopp please...sudah..sudah," aku meminta dengan memelas kepada Firman agar ia berhenti
 mencumbuku. Aku..aku...tak mau terus lagi...aku..aku sudah hampir menggapai puncak ketika anak ini terus menerus mencecar leherku, kudukku, bibirku..kakiku terasa lemas sekali dan hampir tak mampu menopang tubuhku. Tapi Firman tak mendengar permohonanku. Ia terus saja menciumi wajahku, bibirku, tengkukku, leherku...aihhhh....ia...iaa mencupangi leherku.. dan tangannya itu
 aduhh..aduhh, tangannya mulai menyingkap daster bawahku dan meremasi pantatku..ughhh tangannya tiba-tiba menyusup sela-sela pahaku.
"Firrrr sudah..sudah...cukup Firrr.." aku merintih..meminta agar ia berhenti.
 Aku...aku...tak mau  meledak di depan anak ingusan ini. Nafasku terengah, tersengal. Tubuhku makin gemetar dan lemas kala kurasa tangan anak belia ini mulai berani mengusap permukaan celana dalamku. Aghh...malu sekali rasanya.
 "Mbaak . . . ., mbak sudah basahh banget," bisiknya terengah-engah di telingaku, bibirnya terus
 menjelajah cuping-cuping telingaku.
Ini....ini...aduhh...Jarinya terasa menekan-nekan dan menggesek permukaan selangkanganku yang membecek dan mulai merembes sampai ke paha-paha. Aku merasa tak sanggup bertahan lagi ketika bagian jarinya terasa menyentil-nyentil kelenjar syarafku yang paling peka. Aku merasa goyah. Ahhhh...aku meledak. Rasanya bergalon-galon cairan serasa menyembur dari rahimku, menabraki relung-relung kewanitaanku yang lama kering. Ohhh sungguh tak terperikan rasanya...sudah begitu lama..sudah terlalu lama kudamba rasa yang ingin kupungkiri. Seiring geletar-geletar tubuhku yang masih tak bisa lagi kukendalikan, jiwaku terasa mengawang, kesadaranku sirna berganti rasa indah, nikmat, enak  yang menjalar-jalar kemana-mana. Ahh Firman...Firman...ia terus saja mencumbuku dan merangsangku sepenuh jiwa. Ia bahkan tak menyadari kalau mbaknya ini sudah merengkuhi puncak tertinggi berahi manusia.
 "Firrr sudah..stop...," aku memohon agar ia mau berhenti.
"Stop..Firrr..." aku meminta lagi, dengan tenaga yang tersisa kucoba mendorong tubuhnya. Tapi ia tak bergeming, tangannya makin liar bergerilya menyusup-nyusup ke dalam celana dalamku dan
 menyentil-nyentil klitorisku secara langsung. Bukan itu saja. Ia menyeret tubuhku ke celah loteng yang agak gelap lalu tangannya menarik turun dasterku. Tali bra ku pun ikut tertarik turun, lepas melewati pundakku. Lalu payudaraku yang menggembung karena terangsang dan putingnya yang tegak kaku tak tertahankan lagi segera menyembul begitu saja ke udara...



 Aggghhh...astagaaa. Anak abg ini benar-benar di luar dugaanku. Aku terlalu meremehkannya. Sesaat setelah buah dadaku terbebas dari kekangnya mulutnya segera melumat buah dadaku yang terbuka ke dalam mulutnya. Tubuhku makin lemas menahan rangsang yang kembali bergelora. Lututku goyah karena buah dadaku terlumat dengan buasnya. Ia benar benar... terlalu pintar mencumbu dan membangkitkan apiku yang lama terpadami. Aku tak tahan lagi. Ini sudah diluar batas kemampuanku. Dasterku makin melorot. Dadaku sudah terbuka sepenuhnya, tapi Firman terus mencoba menurunkannya dengan segala cara. Ini tak baik pikirku. 

Aku tak mau dia menganggapku murahan dengan membiarkan dia berbuat semaunya. Bagaimanapun aku masih punya harga diri. Akankah aku membiarkan saja dia mengerjaiku di loteng yang terbuka ini? Sungguh tak bermartabat rasanya. Aku harus melawan, aku harus memberontak. Tapi gimana caranya? Sedangkan tubuhku sendiri tengah menggelepar terkungkung berahi yang tinggi. Firman...Firman... ia memelorotkan celana pendeknya hingga bisa kulihat benda itu..yang tak asing lagi. Firman menubrukku hingga tubuhku terjengkang ke lantai yang dingin. Ia melumatku lagi, bibirku...buah dadaku. Aku tak bisa...tapi ughh..ini terlalu enak... aku tak bisa...sedang pelacurpun tak kan mau melakukannya di tempat seperti ini. Aku mendorong tubuh Firman agar menjauh, tapi lagi-lagi gagal karena ia bak kerasukan setan terus merangsekku dengan buas. Aku tak bisa berkutik lagi. Harga diriku ingin menentangnya, tapi tubuhku menginginkan lebih. Aahhh...aku merasakan mulutnya melumat payudara kiriku, lidah yang basah dan hangat itu menyapu putingku sehingga benda itu mengeras tanpa dapat tertahankan.
 Firman terus mencucup dan menjilatinya sambil sesekali menjepitnya gemas dengan gigi-giginya. Aku pun mulai mengelinjang, apalagi sambil menjilat, ia juga mulai meraba dan meremas-remas bulatannya. Puas dengan yang kiri, abg ini lalu berpindah ke yang kanan. Aku pun semakin merintih menerima aksinya. Terus disedot-sedotnya puting susuku sampai jadi basah semua oleh air liurnya. Sedang asyik-asyiknya menikmati payudaraku dikenyot-kenyot olehnya, tiba-tiba aku mendengar suara. Deg!!! tetanggakah itu?? Firman terlonjak kaget tetapi masih tetap menyusu puting buah dadaku dan aku merasa geli dibuatnya. 

Lalu datanglah 3 anak remaja sepantaran Firman ke loteng. "woy Fir!! gw panggil kosan lu nggak nyahut2, eh lu malah enak bener nyusu mbak cakep di loteng, kita malah nggak diajak" kata salah satu dari mereka. 

3 teman Firman

"Wow, dada mbak ini gede banget, putih dan bulet, siapa nama mbak ini?" kata teman satunya lagi. 
"nama mbak ini Hyewon" jawab Firman sambil menyusui puting Hyewon.
"eh ini anak ganas banget ngenyotinnya dan enak aja ngasih tahu namaku" batin Hyewon yang sudah terlentang pasrah sambil dadanya diliat oleh mereka bertiga. Setelah melihat pemandangan indah itu, celana mereka langsung menonjol dan masing2 memegang penis mereka sendiri untuk membetulkan celana dalamnya yang sempit. 

Mereka lalu langsung mendekati Hyewon dan Firman dengan berjalan merangkak dan ikut menyusui payudara Hyewon secara bergantian. 
ilustrasi merangkak

Dikenyotilah payudara bulat itu satu persatu, bahkan mereka juga ikut menjilati areola, ketiak, telinga, pinggang dan pusar sampai Hyewon melenguh keenakan. "ooooh... aaaahs... kalian jahngan beghiniihhh ahhhh... aaah.... uuuh...". Hyewon mendorong kepala mereka untuk menyudahi kegiatan persusuan itu, namun apa daya jumlah mereka lebih banyak, bagai gula dikerubungi semut. Setelah itu aku orgasme karena jilatan mereka membuat otakku seperti melayang di awan.

"aaaahhh.... hoosh.... hosh....., kalian betul betul jago ya sampai membuatku orgasme, ok kalau gitu mbak kasih hadiah buat kalian, buka celana kalian, aku akan emut burung kalian sampai kalian terbang keenakan" perintah Hyewon tersebut langsung dituruti ketiga remaja smp kecuali Firman yang sudah sedari tadi tanpa celana sewaktu Firman menubrukku ke lantai. Setelah itu, aku mengamati burung mereka yang sudah berdiri tegak setelah melihat tubuh seksiku dan langsung mereka dekatkan ke wajahku, lalu aku langsung mengemut burung Firman dengan gerakan kepala maju mundur teratur. "OOOH... AAAHHS.... OOH... enak sekali hisapanmu mbak" lenguh Firman keenakan, sementara 2 penis temannya yang lain aku kocokkan dengan tangan kiri dan kanan, dan 1 temannya lagi menunggu giliran dengan menggerayangi payudaraku dari belakang dan memilin2 putingku sebagai "mainan"nya.  Setelah 15 menit menghisap dan mengocok secara bergantian, burung mereka langsung keluar "muntahan" putih dan mereka cumshot ke muka disertai lenguhan mereka "AAAAAH..... AAAAH........OOOOOHH....MBAAKK GW KELUARRR", mulut dan dadaku menjadi sasaran sperma mereka. Mereka langsung lemas dan duduk bersila, sementara aku mengemut 1 temannya lagi yang sudah capek menunggu, lalu aku kasih "sedotan" spesial yaitu menggunakan tangan dan mulutku dan hasilnya dia keluar lebih cepat dibanding yang lain.


Sambil mengatur nafas haah haah haah, mereka berkata "enak banget mbak, sesuai janji mbak yang sudah membuat burung kami terbang, makasih mbak". "yeee, siapa dulu yang membuat mbak takluk duluan?? ya guelah" celetuk Firman. Hyewon pun tersenyum melihat mereka. Firman lalu mengusir mereka "hush hush udah pulang sana, sekarang gw mau "belajar bersama" dengan mbak Hyewon". "hah?? "belajar bersama"?? apa maksudnya itu?" batin Hyewon. 
Tak lama kemudian, ketiga temannya pulang dengan wajah cemberut karena tidak bisa menikmati tubuh Hyewon lebih lama lagi. Hyewon pun berpikir "hmm i see, sepertinya Firman adalah ketua "geng" di antara teman2 sekelasnya, pantesan saja aku takluk dengan rayuannya karena Firman memiliki jiwa kepemimpinan, bukankah setiap wanita harus memilih pria dengan skill leadership yang mumpuni supaya memimpin keluarganya kelak?" 

Setelah membetulkan BHnya, Hyewon pun dibawa ke kosan Firman. "Fir, aku mau dibawa kemana?" tanya Hyewon. lalu Firman menjawab "kita ke kamarku yuk, mbak, bukannya kita mau "belajar bersama"?". Sesampainya di kosan Firman yang letaknya disebelah kostku, Firman langsung mengunci pintu lalu mereka berbincang2 mengenai sex education, Firman pun tak lupa menyalakan kamera untuk keperluan pribadi dan caranya dalam mengingat "pelajaran" tadi. 

"ah jadi ini yang dimaksud Firman "belajar bersama", nih anak benar2 nakal juga" batin Hyewon

video pertama belajar mengenal tubuh wanita

lalu video kedua, praktek bagaimana cara sex dengan benar, pemainnya tentu saja Hyewon dan Firman

Hal ini terus berlanjut sampai pagi, Keesokan harinya, Firman mulai "belajar bersama" secara intensif dan detail.

 Bahkan merekapun sampai bermain "dokter"2an di kost Hyewon, dimana Firman sebagai pasien yang sakit dan Hyewon memiliki obat ajaib yaitu vaginanya, setelah muncrat, pasien tersebut sembuh seperti semula.

 "Firmann, Firman. mau sampai kapan mengerjaiku? dasar anak nakal" geleng Hyewon. Firman berpikir "hmmm, mungkin sampai aku lulus SMP, mbak, karena aku akan pindah kost setelah masuk ke SMA favorit". "ok Firman, jangan lupa rajin belajar ya hihihi" nasihat Hyewon. "ok mbak cantik" Firman pun pulang ke kamar kostnya dengan hati bangga.

Satu tahun telah berlalu, Firman sudah menginjak kelas 3 SMP dan tempat kostku sangat sepi karena beberapa penghuni kost sudah pada pindah dan tidak perpanjang kontrak, namun hanya aku dan Firman saja yang tetap menempati kost itu. Pemilik kost pun sampai heran kenapa mereka betah di kost sempit dan bau itu sampai satu tahun. Alasanku hanya satu yaitu menemani Firman sampai lulus SMP, apalagi jarak dari tempat kost ke rumah orangtuanya sangat jauh ditambah lagi kurangnya perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya. Maka aku sebagai pengganti ibunya akan memberikan "kasih sayang" lebih setiap hari, dengan memasak makanan kesukaanya, mengerjakan PR bersama, datang ke tempat sekolahnya sebagai wali murid untuk mengambil raport dan sebagainya, walau semua itu berakhir dengan permintaan aneh2 dari Firman seperti : 

1. memasak makanan kesukaanya, lalu makan bersama dimeja makan sambil telanjang bulat dan bercanda bercandaan dibawah meja dengan kaki Firman menggesek klitorisku serta kakiku juga memainkan burungnya.

2.  mengerjakan PR bersama, lalu pada akhirnya malah mengajak bersetubuh denganku sampai di rekam segala, "untuk kenang2an" kata Firman

ini rekamannya





3. datang ke tempat sekolahnya sebagai wali murid untuk mengambil raport, dengan memakai baju sexy yang memperlihatkan bentuk dada bulatku atas permintaan Firman dan saat pembagian raport, guru laki2 wali kelas Firman curi2 pandang ke arah dadaku, uuuuh aku jadi gemetar menahan gejolak birahi, yang pada akhirnya bisa dituntaskan dengan bersetubuh gaya doggy style bersama guru tersebut dan Firman di toilet sekolah itu. Persetubuhan berlangsung setelah sekolah selesai. OOOHH.... OH.. OH.. AAHS.. PLOK PLOK PLOK AAAAH.... suara pantatku dan selangkangan guru itu saling beradu dan guru tersebut mengerang sambil berkata "Non, tubuh kamu sexy banget sih OOOHS.SS.., makasih ya Fir udah bawa cewek ini jadi wali kamu" sambil meremas2 dada dan putingku.

"HAAAHH.....OOH iyah pahks sama samaAAH...." Firman meracau karena burungnya di blowjob olehku. Mereka melakukannya bersamaan sampai akhirnya sperma mereka menyembur ke pantat dan mulutku secara bersamaan juga. Setelah itu, aku merapikan kembali BH dan bajuku yang sudah awut2an akibat persetubuhan tadi.  Gurunya membisikkan sesuatu ke Firman, "Fir, kamu tiap hari ngewe sama non itu?", lalu Firman menjawab "nggak tiap hari sih pak, coz tubuh mbak juga harus istirahat karena datang bulan, sakit panas, ataupun ada masalah wanita yang tidak kumengerti". "ahh okey2, terima kasih non sudah melampiaskan hasrat saya, nama saya Kandar, siapa nama non dan boleh minta nomor telepon?" tanyanya sambil tersenyum, lalu aku kasih saja kartu namaku, lengkap dengan alamat kost dan nomor telepon tanpa memikirkan apa2 dan akupun pulang dari sekolah itu dengan Firman sambil bergandengan tangan layaknya ibu dan anak.

Sesampainya di halaman kost, kami berdua masuk ke kamar kost masing2 karena jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, kami kecapekan sampai akhirnya tertidur pulas. 2 jam berlalu, pada jam 2 pagi, tiba2 terdengar suara sayup2 samar, Firman lalu terbangun dan mencari asal suara itu, ternyata asalnya dari kamar kost sebelah tempat mbak Hyewon berada. Deg!2x, jantung Firman berdegup cepat dan mulai mengintip dari balik kaca nako tempat Firman pertama kali melihat mbak Hyewon melepas handuk setelah mandi 1 tahun yang lalu. Setelah diintip, ternyata mbak Hyewon sedang disetubuhi dikasurnya oleh laki2 yang Firman kenali. Ya laki2 itu adalah Pak Kandar, guru wali kelas Firman berumur 50 tahun. "Dasar bandot tua, masih belum puas juga ngewenya, padahal udah punya istri dan anak" batin Firman. 

“Ahh..Pak, ohh..Pak, teruskan Pak..ahh…Ooohhh…mmmhhh....." gumamku sambil merem melek keenakan.  "hahahaha akhirnya kamu takluk juga oleh penisku, oouugggh.....ooossh ohh aah" Pak Kandar membalas, lalu berkata lagi "non Hyewon, gedean mana punyaku dengan punya Firman?". lalu aku membalas "punyAAAH PAAKH Kandar lebih gedEEEHSH AH.... AHHH...." CPLOK CPLOK CPLOK CPLOK. Pak Kandar lalu menyusu payudara bulat Hyewon sambil memilin2 putingnya.

  

 Melihat persetubuhan panas itu, penis Firman jadi mengeras tegak berhasrat mau coli sambil mengintip di tempat itu sambil mikir darimana Pak Kandar dapat alamat kost ini?? lalu Firman teringat mbak Hyewon memberikan kartu namanya kepada Pak Kandar saat "beres2" dari toilet sekolah. "mbak Hyewon sih ngasih kartu nama ke bandot tua itu" ujar Firman kesal dalam hati sambil tangannya tetap mengocok penisnya sendiri. Tiba2 Firman ada ide, "gimana kalo gw rekam persetubuhan mereka dan kirim filenya ke istrinya yang kebetulan adalah kepala sekolah gw, pasti menarik heheheh" Firman tersenyum menyeringai. Setelah itu, Firman mengeluarkan smartphonenya dari saku celananya dan membuka aplikasi rekaman dengan tangan kanannya, tangan kirinya tetap mengocok.  "hahahaha mampus, ntar digugat cerai dan dipecat sama istri lu biar tahu rasa, dasar bandot tua" 

dan inilah bukti rekamannya

setelah puas merekam adegan tersebut, Firman melenguh cret cret cret, spermanya keluar dan menumpahkannya ke tembok. "ok silakan ngewe sepuasnya dengan mbak Hyewon hari ini saja, karena besok bandot tua itu sudah dipecat dan digugat cerai setelah ngasih file perselingkuhan.mp4 ke istrinya" kata Firman dalam hati sambil tersenyum sinis. heh heh hehe

3 hari setelah kejadian perselingkuhan tersebut, Pak Kandar dipecat dari pekerjaannya sebagai guru dan digugat cerai oleh istrinya. Setelah mendengar berita itu disekolah, Firman sampai tersenyum karena kemenangannya. "hahahah rasain, makanya jangan sentuh cewek gw, tapi kok lama sekali dipecatnya? apa karena dia harus berantem dulu sama istrinya selama 2 hari?" batin Firman. Tiing toong, bel tanda pulang sekolah berbunyi dan Firman pulang menuju tempat kostnya, namun sebelum ke kamar kost, dia malah masuk ke kamar kost sebelah tempat Hyewon berada dan langsung mengunci pintunya. "eeh.. Firman, bikin kaget aja, jangan tiba2 masuk dong!" ujarku. "hahaha maaf mbak, oh ya masak apa hari ini?" Firman bertanya, "oh aku sekarang lagi masak telur dicabein, kamu pasti suka" jawabku. Mendengar itu, Firman gembira karena mbaknya memasak makanan kesukaanya. Setelah itu mereka pun ke meja makan dan seperti biasa, kaki Firman mengelus2 vaginaku sambil makan, akupun terangsang dibuatnya. "uuh, Fir stoph, kita lagi makhan" aku meracau. 

Firman lalu berpikir, apakah ini waktu yang tepat untuk membongkar apa yang terjadi 3 hari yang lalu, ok deh inilah saatnya
"oh ya mbak, kudengar disekolah, Pak Kandar dipecat dan yang menyakitkan lagi, istrinya mau gugat cerai. kata Firman. aku sampai kaget "hahh.. yang bener?? emang ada masalah apa dia?" tanyaku. "katanya sih gara2 perselingkuhan" jawab Firman, lalu akupun diam tanpa sepatah katapun. Tiba-tiba Firman mengeluarkan smartphonenya dari saku celana sekolahnya, dan menunjukkan rekaman itu kepadaku, lalu terdengar suara lenguhanku "Ahh..Pak, ohh..Pak, teruskan Pak..ahh…Ooohhh…mmmhhh....punyAAAH PAAKH Kandar lebih gedEEEHSH AH.... AHHH..." akupun tertunduk malu dibuatnya. "tenang saja mbak, aku nggak marah kok, cuma marah ke bandot tua itu, dia udah punya istri dan anak malah selingkuh ke mbak" kata Firman menenangkanku. Firman lalu menimpali "soalnya body mbak sexy banget sih, apalagi dada mbak yang bulet, jadi bandot tua itu kepincut". "iiih kamu nakal ya, ok ini balasannya" kataku sambil mengangkat kakiku lalu menggesek-gesekan ke penisnya. "aah...mbak udahh aah..." kata Firman kegelian   

Setelah itu, aku membawa Firman ke kamarku, kebetulan aku punya alat2 seks seperti borgol dan kalung dengan rantai panjang untuk menambah gairah seks-ku. Lalu aku minta Firman memasang kalung itu kepadaku. Firman kini mulai menciumi bibirku dan tangannya mulai bergerilya di bagian bawah. Tangannya dimasukkan di balik dasterku, diraba-rabainya pahanya. Lalu daster itu dinaikkan ke atas sehingga nampaklah kini pahaku yang putih mulus serta CD berwarna merah menyala. Sejenak Firman memandang warna merah putih yang kontras dan indah itu. Lalu diraba-rabainya pahanya yang putih mulus. Setelah itu gantian “bagian merahnya” yang dipegang-pegang dan diraba-rabai. Jarinya dimainkan dan digesek-gesekkan di daerah sensitif itu. Firman melakukan itu sambil menciumiku dan tangan yang satunya meraba-raba payudaraku. Firman memandangi payudaraku sambil tersenyum-senyum.

Memang payudaraku benar-benar indah dan sungguh mengggoda. Jauh lebih indah dan padat berisi dibanding yang Firman intip dulu 1 tahun lalu. Belahannya begitu sempurna dan keduanya nampak simetri. Celah lekukan diantara payudaranya betul-betul indah. Putingnya berwarna segar kemerahan. Kedua ujung putingnya menonjol.

Langsung saja kedua tangan Firman merengkuh masing-masing satu payudaraku. Diraba-raba dan diremas-remasnya. Dirasakan kekenyalannya. Jari jemarinya meraba-raba dan memilin-milin kedua
putingnya terutama ujungnya yang nampak sensitif. Setelah itu, Firman mengenyot putingku seperti bayi yang sedang menyusui. Aku dibuat mendesah-desah perlahan karenanya. "OOH.... FIRH, SSSH... HAA....." Setelah cukup puas bermain-main dengan payudara, Firman melepas baju seragam sekolahnya dan juga celana dalamnya, sehingga kini ia telanjang bulat dihadapanku. Kemudian ia melepaskan CD merahku dan kini kami berdua telah telanjang bulat. Firman membuka lebar-lebar pahaku supaya bisa meloloskan penisnya ke vaginaku. Selanjutnya ini rekamannya.


Setelah percumbuan hot tersebut, aku dan Firman terbaring lemas tak berdaya dan ngos2an seperti lari2an sejarak 100 meter. "haah.. haah....haah..." dan kamipun langsung tertidur pulas sambil berpelukan.
ilustrasi mbak Hyewon tertidur di bahu Firman

Keesokan paginya, aku harus kuliah dan Firman masih tidur dengan malasnya ditempat tidur dalam keadaan telanjang. "Fir... ayo bangun, mbak mau kuliah nih" kataku. Firman lalu mengucek matanya dan melihat dadaku,

dan penis dia langsung konak. "pagi mbak, gara2 dada mbak yang montok, aku tegak lagi, mbak harus tanggung jawab dengan sepongin ini" perintah Firman. Dan akupun menurutinya, "OOOHSSSH.... mbaakh, OOOH...OH...OH.. nggak usah buruuh burruuhh" Firman meracau. Aku tidak mempedulikannya dan tetap menghisap penisnya secara cepat. Creet Croot croot crot akhirnya lahar spermanya keluar di mulutku, akupun langsung membuangnya ke kamar mandi dan sekalian mandi meninggalkan Firman yang lemas tak berdaya karena keenakan. 

Setelah selesai mandi, Firman sudah kembali berpakaian sekolah yang belum diganti sejak kemarin dan berkata "makasih ya mbak sudah menemaniku semalaman" dan Firman keluar dari kamarku lalu langsung menuju ke sekolahnya tanpa mandi. "ugh..ada ada aja anak ini, kayaknya anak ini bakal tumbuh menjadi badboy penakluk wanita pas SMA dan kuliah nanti" gumamku. Gara-gara persetubuhan tadi, aku sudah melupakan masalah perselingkuhan 3 hari yang lalu, lagipula Pak Kandar yang datang sendiri ke kamar kostku, memang aku yang bodoh memberikan kartu namaku ke orang tak dikenal, namun aku bingung mengapa diriku banyak diincar kaum laki2, apakah karena "charm"ku menarik lawan jenis, atau memang mereka aja yang mata keranjang melihat body seksiku. Ah sudahlah, aku harus berangkat kuliah cepat2 supaya tidak ketinggalan, lalu akupun mengunci pintu dan sudah meninggalkan kamar kost itu.  

Satu tahun berlalu, akhirnya hari yang dinantikan sudah tiba, yaitu hari kelulusan Firman menuju ke jenjang SMA. Sebelumnya aku suruh Firman puasa "seks" selama sebulan untuk belajar, menghapal, dan les untuk persiapan ujian kelulusan nanti. Memang sih dia maksa pengen bersetubuh karena stress belajar terus, namun hatiku luluh dan memberikan "tubuh"ku hanya hari minggu saja selama 1 bulan, jadi setiap minggu, "tubuh"ku digarap full seharian oleh Firman sebagai pelampiasan stress, dan aku pun harus minum pil penambah tenaga untuk 1 hari itu, dan tentu saja termasuk pil anti hamil. 

Setelah pulang dari sekolah, Firman datang ke kamar kostku dengan seragam SMP yang sudah penuh coret2an pilox, lalu ada yang menarik perhatianku, di salah satu coretan itu, bertuliskan "I LOVE HYEWON". Deg! akupun terkejut dan malu2 melihat tulisan itu. Apakah dia cinta kepadaku? aku hanya menyayanginya sebagai kakak saja, namun mengapa hatiku berdebar debar melihat tulisan itu?. Akupun bertanya, "Fir..apa maksud tulisan itu?", Firman menjawabnya dengan malu2 "Mbak..., selama 2 tahun ini, aku suka sama Mbak, Mbak sudah membuatkan aku makanan, sudah membantu mengerjakan PR, memberikan tips bagaimana menjadi pria sejati, bahkan sampai memuaskan "burung"ku setiap kita bersetubuh". "hahaha kalimat yang terakhir nggak usah disebutkan dong" kataku sambil tertawa. Firman melanjutkan "jadi, maukah mbak Hyewon jadi pacarku?". Akupun terdiam sejenak, "wow frontal banget nih anak" batinku, lalu aku menjawab "maaf ya Firman, bukannya aku nggak suka kamu, tapi aku suka kamu hanya sebagai kakak adik , tidak lebih dari itu" Firman menunduk malu dengan wajah kecewa, lalu aku menambahkan "tetapi aku bisa memberikan hadiah kelulusan untukmu yaitu tubuhku siap kamu "garap" kapanpun kamu mau". Mendengar hal itu, Firman pun senang dengan mulut lebar, bagai anak kecil yang gembira jika dikasih permen. Setelah itu, Firman mulai mencium bibirku, menyapu lidahku dengan mesra "hmm...hmmmm...cplk hmmm.." dan dilanjutkan dengan persetubuhan hingga larut malam dengan sedikit bumbu BDSM.  Ya seperti biasa, Firman selalu merekam dengan smartphonenya untuk kenang2an. 


Tenaga mereka terkuras habis sampai akhirnya mereka tertidur dengan pulas.

Setelah itu, Firman mulai libur 2 minggu karena sudah lulus SMP dan mulai masuk ke SMA di kotanya, lalu tubuhku disetubuhi Firman 1 minggu penuh selama liburan itu tetapi tetap beristirahat pas jam makan siang, sore dan malam sampai akhirnya tertidur malamnya. "nih anak energinya nggak abis2 ya? batinku. Sampai akhirnya tiba hari dimana Firman akan pindah ke kotanya untuk masuk ke SMA favoritnya, aku sangat sedih namun tetap tegar melepas anak nakal yang menjadi adikku selama 2 tahun ini. Dan akupun ikut membantu Firman mengepak barang2nya ke koper seperti baju, celana, laptop, hardisk eksternal 1 TB dan 5 memori hp berisi masing2 100 GB, wah selain file pelajaran, film movie biasa dan film porno, banyak juga file2 persetubuhanku dengan Firman selama 2 tahun, aku sudah mewanti wanti jangan sampai kesebar file tersebut, Firman mengiyakan dan berjanji file ini hanya untuk kenang2an dan konsumsi pribadi. Aku tetap waswas tapi biarlah coz aku juga akan pindah dari kost ini setelah lulus kuliah beberapa bulan lagi dan aku pergi keluar negeri untuk mencari perkerjaan disana.  

Setelah selesai mengepak barang, Firman berkata "Mbak Hyewon, terima kasih sudah menemani Firman selama 2 tahun, semoga mbak semakin cantik dan punya suami yang baik buat mbak". Mendengar hal itu, aku jadi menangis tersedu2 dan mulai mencium Firman terakhir kalinya, lalu Firman memulai french kiss dan bermain lidahku sampai 10 menit, kemudian tangan Firman mulai memainkan dada yang masih tertutup BH dan putingku dipilin2 setelah jarinya masuk ke BH-ku, mulutnya lalu turun ke leherku, sampai akhirnya menjilat dadaku dengan buas, serta menyusui putingku seperti bayi yang kehausan setelah membuka semua baju dan BHku.

"AAAAH EEEGHHS... OOOHS..., FIIR...akuh sHayang kamuHH AAHS..." aku meracau keenakan dibarengi dengan airmata kesedihan, lalu aku mulai membuka celananya kebawah dan mengemut penis Firman dengan ganas "AAAAHS....MBAAAKS, Firman jugaHH sayangHS sama mbaAAkSSSHHH AHHH...." Firmanpun dibuat melenguh karena aku menyedotnya dengan brutal, sampai akhirnya kami berdua telanjang bulat dan mulai persetubuhan terakhir kalinya sampai 4 ronde.

Ronde 1 Pemanasan, Firman menjilat klitoris Hyewon dengan penuh nafsu dan Hyewon sampai merangsang payudara sendiri karena keenakan


Ronde 2 HotDoggy style dilakukan dengan penuh nafsu karena permintaan terakhir adik tersayang di luar kasur Firman 


Ronde 3 Setelah itu, Hyewon masuk ke dalam kasur Firman, menjilat klitoris lagi sambil memilin puting Hyewon dan persetubuhan lanjut 

Ronde 4 Hyewon dibawa ke sofa, lalu sex sampai crot di dalam, AHHHH .....AHHH....OOOHS sampai akhirnya mereka berdua orgasme

Kami pun ambruk dengan perasaan bangga, sedih, senang bercampur menjadi satu dan suara ngos2an sampai terdengar serisi kamar kost Firman. Setelah kami berdua memakai baju dan celana masing2, Firman mulai pamit di depan pintu gerbang kost "dadahhh, Mbak Hyewon, aku sayang mbaak", sambil berpelukan dan mengoyang goyangkan pipinya di dadaku seolah-olah ingin merangsang putingku, akupun tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "hiks...hikss...dadahhh, semoga jadi anak yang rajin yaaa" lalu Firman mulai menjauh dari tempat kost dan aku balik ke kamar sambil menangis sejadi2nya.

beberapa bulan berlalu, aku sudah lulus kuliah dan mulai meninggalkan kost2an yang sudah memberiku kenangan terindah. Setelah itu, aku langsung pergi ke bandara menuju luar negeri. Sekian sudah pertualangan seksku selama ini dengan teman kuliah, tentara, tukang becak, pengangguran, penjaga kost, guru SMP, dan adikku Firman. Bye Bye.

beneran sudah selesai?? ternyata belum

Sebelum ke bandara, aku berpamitan dulu penjaga kost, namun penjaga kost malah minta "jatah" karena dia juga mengintip persetubuhanku dengan Firman. 

Setelah itu, aku menuju salah satu bandara indonesia, sesampainya disana, aku baru teringat di koperku ada dildo, bodohnya aku ini, semoga pemeriksaan indo tidak ketat, dan benar saja akhirnya aku lolos dan langsung masuk ke pesawat menuju Eropa. Setelah 15 jam perjalanan, pesawat mendarat dengan selamat, akupun turun, tiba2 petugas keamanan bule membawaku ke ruangan interogasi, sial aku ketahuan, petugas lalu memegang dildo tersebut dan meminta penjelasanku dalam bahasa inggris "what is this?" bahasa inggrisku kurang bagus dan aku menjawab seadanya, tetapi petugas itu tidak mengerti maksudku. Ya sudahlah, aku menjelaskan dalam bahasa primitif yaitu bahasa isyarat. aku merasa malu dan memperagakan cara memakai dildo, lalu aku membuka semua baju hingga telanjang bulat, petugas itupun heran apa yang kulakukan "what are you doing?", aku membuat bahasa isyarat "ssst" dengan 1 jari telunjuk di dekatkan ke hidungku. Petugas tersebut mengeluarkan smartphone untuk merekamku.

"aah i see, i understand". aku rasa dia mengerti maksudku, setelah selesai memperagakan, aku memakaikan bajuku lagi, namun dicegah oleh petugas tersebut. Sepertinya dia bernafsu dengan body sexyku, kamipun berciuman mesra, meremas2 payudaraku, hingga dibawa ke ruangan lain. Setelah itu, dia langsung membukan seragam penjaga bandara dari tubuhnya dan memperlihatkan tubuh macho ala bule. Diapun langsung memasukkan penisnya ke vaginaku "i want quicky sex because i have work today". aku hanya mengerti arti quicky sex dan mengangguk ngagguk saja. Dan bless, penis besarnya langsung masuk ke vaginaku, lalu dimulailah persetubuhan hot antara petugas bule denganku

rekaman cctv menyorot pesetubuhan hot mereka berdua

Setelah selesai quicky sex, kami memakaikan baju kami masing2 dan petugas bandara itu mempersilakanku masuk ke gate arrival. "thank you miss, your body is so hot" aku pun menjawab yes yes saja, dan akhirnya aku sudah sampai. 

Sekian pertualanganku
TAMAT    


 


















Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya