Holiday’s Challenge: Sakura si Gadis Petani



 “akhirnya selesai juga UAS yang ngebetein..”, ujar Hyewon merasa lega sekali, ujian akhir semester genapnya selesai di laluinya.

 
“oh iya, Won..kita liburan kemana nih, kan kalo semester genap gini…liburnya lama banget n’ bikin bete…”.

 
“bentar, kita omongin sekalian ama Sakura n’ Yena..”. Hyewon dan Chaewon pun berjalan ke kelas, dimana Sakura dan Yena ujian. Hyewon, Yena, Chaewon, dan Sakura adalah 4 gadis yang menjadi bunga kampus, diidam-idamkan banyak lelaki di kampusnya. Setiap mereka berempat lewat, lelaki yang dilalui mereka akan diam terpaku dan menghentikan segala aktivitasnya hanya untuk memandangi mereka berempat berlalu. Bisa dibilang, mereka berempat memang tipe cewek yang suka menggoda lelaki. Setiap ada cowok yang menggoda mereka baik siul-siul, panggil-panggil, atau caper, pasti salah satu dari mereka akan menengok dan tersenyum manis. Mereka suka sekali dengan cowok yang sok-sok menggoda, tapi kalau ditanggapi langsung salah tingkah. Mereka pun tak pernah menolak jika diajak kenalan sehingga tak heran kalau mereka berempat punya banyak teman lelaki di kampus.

 
“Chaewon-ah, kemana nih yang enak liburannya?”.

 
“mana ya? pantai?”.

 
“bosen ..”.

 
“puncak?”.

 
“ogaah…bosen parah..”.

 
“hmm…”.

 
“terus kemana dong?”.

 
“hmm…”.

 
“ke Bali?”.

 
“hmm…gimana kalo liburan ini kita nyobain kerja-kerja kasar gitu?”.

 
“kerja kasar? maksud lo?”.

 
“yaa jadi buruh kek, petani kek, apa kek gitu, gimana?”, usul Yena.

 
“ah gila lo, apa enaknya liburan kayak gitu?”.

 
“yee justru itu…biar liburan kita beda gitu…bosen kan lo dugem, ketemu cowok-cowok ganteng n’ kaya yang suka banggain diri sendiri?”, jelas Yena yang memang agak beda dengan 3 temannya yang glamour meski dia juga tak kalah kaya dengan 3 temannya, tapi tetap saja, Yena sama ‘gila’nya dengan ketiga temannya.

 
“mm…bener juga, gue juga dari dulu pengen ngerasain jadi peternak gitu deh..”.

 
“okelah, tapi emangnya ada tempat yang kayak gitu?”.

 
“dodol lo ah…kita cari profesi beneran aja..”.

 
“hmm..gimana..sekalian aja taruhan..yang paling lama tahan, menang n’ dapet duit 5 juta, gimana?”.

 
“bener yaa? siip deh..”.

 
“tapi mesti ada bukti foto n’ video ya..”, ujar Hyewon.

 
“oke kalo gitu..DEAL !!”.

 
Hari pertama liburan, Sakura bingung dengan tantangan teman-temannya. Dia mau mencoba jadi apa, tak pernah terbayang olehnya, melakukan pekerjaan kasar. Tapi, setelah dipikir-pikir, Sakura juga penasaran tentang sisi berlawanan dari kehidupannya. Sisi kehidupan yang harus bekerja keras hanya untuk menyambung kehidupan satu hari saja. Saat sedang menggonta-ganti chanel tv, Sakura menonton acara tentang para petani yang sedang menggarap sawah.

 
“hmm…apa gue coba jadi petani ya?”.

 
“tapi ntar kulit gue jadi item..”. Entah kenapa, pertimbangan-pertimbangan tadi seperti sirna di pikiran Sakura. Sekarang, hanya ada perasaan semangat dan tak sabar. Sakura sendiri tak mengerti, kenapa dia begitu ingin merasakan jadi petani, mungkin karena dia ingin sekali mendapatkan pengalaman baru.

 
“hmm…gue tinggal ma Abah Dirman aja kali yaa?”. Sakura teringat dengan orang yang dipercaya ayah Sakura untuk mengurusi sawah keluarga Sakura yang ada di kampung halamannya.

 
Bagi Sakura, Dirman sudah seperti keluarga sendiri. Dari kecil, Sakura selalu diawasi Dirman jika main di sawah. Kalau dipikir-pikir, sudah lama ia tak bertemu Dirman. Sekalian maen aja ah, pikir Sakura. Keesokan harinya, Sakura pun mengemudikan mobilnya ke desa dimana ia menghabiskan waktu kecilnya. Saat Sakura sudah dekat dengan rumah masa kecilnya, dia melihat seorang pria tua keluar dari rumahnya dengan memakai caping. Pria tua itu berhenti, mengamati mobil sedan berwarna silver itu. Tak lama kemudian, Sakura keluar dari mobil dan berjalan ke arah pria tua itu. Keduanya saling mengamati satu sama lain. Wajahnya familiar, tapi tak kenal, pikir keduanya.

 

 
Abah Dirman
“maaf, bapak ini siapa?”.

 
“saya Dirman..neng ini siapa?”.

 
“ya ampun Abaahh…”, teriak Sakura senang dan langsung memeluk Dirman. Dirman kaget sekali, tiba-tiba dipeluk wanita cantik yang ada di depannya.

 
“maaf, neng ini siapa?”, tanya Dirman masih bingung.

 
“ya ampun..masa Abah gak kenal ama Sakura..”.

 
“ha? ini non Sakura?”.

 
“iyaa..”.

 
“ya ampun non Sakura…Abah ampe pangling non..”.

 
“masa Abah lupa sih ama Sakura?”.

 
“ya bukannya gitu non, kan udah lama banget gak ketemu non Sakura..”.

 
“oh iya ya..terakhir pas Sakura baru umur 11 yaa?”.

 
“iya non..makanya Abah pangling..non Sakura jadi cantik banget..”.

 
“ah Abah bisa aja..”.

 
“oh iya non Sakura ada apa ke sini? biasanya bapak yang kesini?”.

 
“ah nggak, Bah…Sakura pengen maen aja ke sini..ama sekalian pengen belajar jadi petani…boleh kan, Bah?”.

 
“boleh aja non, tapi kenapa tiba-tiba non pengen belajar jadi petani?”.

 
“yaa…ada tugas dari dosen tentang kehidupan petani gitu, Bah…boleh kan?”.

 
“yaa boleh lah, non…kan sawahnya bapaknya non Sakura..”.

 
“kalo gitu Sakura ganti pakaian dulu deh..Abah tunggu bentar yaa…”.

 
“sini non, Abah bawain kopernya..”.

 
“Abah masih kuat?”, canda Sakura.

 
“masih dong, biarpun udah 53, masih kuat..ngangkat non Sakura kayak dulu juga masih kuat..”.

 
“wah…jangan Bah…dulu sih Sakura demen diangkat Abah kayak kapal terbang, tapi sekarang ogah deh…hehe..”.

 
“wah..kamar Sakura masih bagus yaa..”.

 
“iyaa non, setiap hari Abah ke sini buat rapihin rumah..”.

 
“waah…makasih yaa, Bah..tapi tempat tidurnya kayaknya udah gak muat..”.

 
“kalo gitu non Sakura tidur di kamar bapak n’ ibu aja..”.

 
“oh iyaa ya..”.

 
Sakura menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur orangtuanya seperti tak menghiraukan keberadaan Dirman. Pria itu kini berusia 53 tahun, baru kali ini ia melihat pemandangan yang begitu indah dari tubuh seorang gadis cantik. Memang Dirman sering memperhatikan Sakura, tapi itu dulu saat Sakura masih kecil. Berbeda sekali dengan sekarang. Melihat wajah Sakura yang cantik, kulitnya yang putih mulus, ditambah dengan payudara Sakura yang membusung ke atas dan posisi Sakura yang terlentang pasrah memancing nafsu Dirman.



Bapak tua itu merasa batang kejantanannya mulai bereaksi, mulai berkhayal yang tidak-tidak tentang tubuh anak majikannya itu. Pikiran-pikiran kotor singgah di otak Dirman melihat setiap lekukan tubuh Sakura yang ada di pandangannya. Tentu tidak main-main kenikmatan yang bisa direngkuh dari tubuh seindah dan semulus tubuh Sakura. Ingin sekali rasanya di pikiran Diman untuk meremas-remas kedua buah payudara yang sangat ‘menantang’ itu, tapi Dirman masih sadar dengan statusnya. Tak mungkin baginya yang hanya jongos bisa menikmati tubuh anak majikannya, Sakura. Berkhayal pun, Dirman merasa tak pantas dan sangat menyesal. Tapi, di dalam hati Dirman, tentu ada khayalan tentang kenikmatan persetubuhan dengan Sakura.

 
“non Sakura..Abah tunggu di luar yaa..”.

 
“iya, Bah..makasih ya udah bawain koper Sakura..”.

 
“iyaa non…”.

 
Sakura pun tak mau membuat Dirman lama menunggu di luar. Gadis cantik itu langsung bangun dari tempat tidur. Celana jeans dan kaos yang begitu ketat membalut tubuh indahnya kini berada di lantai, hanya tinggal bra dan celana dalam yang menutupi bagian-bagian tubuh Sakura. Bagian tubuh yang tentu bisa memanjakan kaum Adam dan membuat semua lelaki merasa di surga. Sakura mengambil kaos dan hotpantsnya dari dalam koper. Sakura sengaja mengenakan hotpants dan kaos yang longgar karena dia tahu udaranya pasti panas dan pasti tak enak jika memakai pakaian yang ketat. Sakura membalurkan lotion cream ke seluruh bagian tubuhnya yang terbuka. Tentu saja dia tak ingin kulitnya yang putih mulus nan halus itu menjadi hitam dan tak sedap lagi untuk dipandang karena terbakar sinar matahari. Sakura keluar dari dalam rumah, mendekati lalu mencolek Dirman.

 
“ayo, Bah…kita ke sawah..”.

 
Dirman terbengong melihat Sakura. Sepasang kaki Sakura yang jenjang nan indah bisa dilihat Dirman dengan sangat jelas. Dari paha Sakura hingga ke betisnya benar-benar putih dan mulus, tak ada cacat atau lecet sedikitpun. Pemandangan itu membuat Dirman membayangkan nikmatnya mengelus-elus dan menciumi paha yang begitu putih mulus itu, apalagi jika sampai ke pangkal dari sepasang paha itu. Tanpa sadar, Dirman menelan ludahnya sendiri di depan Sakura.

 
“Abah kenapa?”.

 
“nggak non…ayo non, ikut Abah ke sawah…”, Dirman agak grogi takut ketahuan sedang memandangi tubuh Sakura.

 
“ayoo !”, Sakura bersemangat.

 
Selama berjalan, Dirman berusaha keras mengenyahkan khayalan-khayalan nakalnya. Tak pernah ia bayangkan kalau gadis kecil yang dulu ia ajak bermain di sawah, ia jaga, ia anggap anak sendiri akan menjelma menjadi gadis yang begitu cantik. Dari dulu, Dirman memang menduga kalau Sakura akan menjadi wanita cantik jika sudah dewasa, tapi sama sekali tak menduga kalau akan menjadi begitu cantik dan begitu seksi, sampai mampu membuat Dirman merasa muda lagi, hanya dengan melihatnya saja. Tanpa tahu diamati, Sakura berjalan di depan Dirman sambil merekam kesana kemari dengan handycamnya. Dirman pun memandangi Sakura dari belakang, bagian yang paling menarik perhatian Dirman tentu pantat Sakura. Kalau saja, kalau saja, pikir Dirman.

 
“Abah bawa apa sih tuh?”, tunjuk Sakura ke rantang dan termos yang dipegang Dirman sambil mengarahkan handycamnya ke wajah Dirman.

 
“ini non..makanan buat kita ntar..dibuatin ama Mbok Minah lho…”.

 
“waaaahh…buatan Mbok Minah yaa..udah lama gak makan makanan buatan Mbok Minah..asiiik !!”, Sakura kegirangan.

 
“ini namanya Abah Dirman, petani dari desa Kolosari, umurnya 53 tahun..”, ucap Sakura memperkenalkan sambil terus merekam Dirman.

 
“halo gitu dong, Bah…”. Sambil malu-malu, Dirman tersenyum dan melambaikan tangannya ke kamera Sakura. Tak lama kemudian, mereka berdua sampai juga di sawah. Hamparan hijau terlihat, segar sekali udaranya.

 
“waah seger banget udaranya…beda ama udara kota…”.

 
“iya donk non, makanya orang desa lebih sabar n’ gak gampang sakit..”.

 
“kok lebih sabar? hubungannya apa, Bah?”.

 
“yaa kan kalo udaranya sejuk n’ seger..bikin orang jadi rileks..jadinya gak gampang marah..gak kayak orang kota…”.

 
“oh iyaa juga yaa..bisa aja si Abah…hahaha”. Dirman dan Sakura berjalan ke saung/bale-bale, tempat yang biasa digunakan untuk istirahat.

 
“oh iya non Sakura, kok pake di rekam-rekam segala?”.

 
“ini bukti..jadi dosen Sakura percaya…”.

 
“ooh gitu…”. Mereka berdua kembali ke sawah, terlihat ada beberapa orang bapak-bapak yang sedang menanam padi dan ada yang membajak sawah.

 
Dirman memanggil semua orang yang ada di sekitar sawah itu. Ada 5 orang bapak-bapak dan 3 orang ibu-ibu.

 
“kenalin, ini namanya nona Sakura, anaknya Pak Waseso…nona Sakura pengen belajar jadi petani buat tugas kuliahnya…bantu nona Sakura..”.

 
“iyaa !!”. Setelah memperkenalkan diri masing-masing, para petani wanita kembali menanam padi. Sedangkan, para petani pria genit terhadap Sakura. Bertanya-tanya kepada Sakura. Sakura pun menjawab brondongan pertanyaan sambil terus tersenyum. Tentu saja pada genit. Jarang sekali bisa melihat gadis cantik yang begitu putih mulus. Meskipun ada kembang desa yang juga cantik, tapi tetap saja tak ada gadis di desa itu yang bisa menandingi keseksian tubuh Sakura.

 
“udah udah..sana balik kerja..”.

 
Sakura mengikuti Dirman ke petak sawah yang setengah terisi padi. Dirman pun masuk ke dalam. Dengan bantuan Dirman, Sakura juga masuk setelah memakai boot yang dibawa Dirman tadi.

 
“ayo, Bah..praktekkin caranya nanem padi..”.

 
“gampang non..nih tinggal nancepin..nih..gini doang non”, ujar Dirman setelah menancapkan satu genggam padi.

 
Dengan cepat Dirman sudah menanam sekitar 6 genggam padi.

 
“coba sini, Bah…Sakura mau coba..”. Dirman mengelap tangannya dan menerima handycam dari Sakura.

 
“ini gimana nih non?”.

 
“udah..Abah tinggal arahin ke Sakura aja kok..”.

 
“kayak gini, Bah?”.

 
“iyaa non..”. Sakura baru menancapkan 3 genggam padi, tapi sudah berpeluh keringat.

 
“susah juga yaa..hihihi..udah gitu gak lurus lagii…hehehe..”. Sakura bertolak pinggang, melihat hasil kerjanya. Sama sekali beda dengan hasil tanam Dirman yang lurus seperti satu garis.

 
“kok Abah bisa lurus gitu yaa?”, Sakura bingung, Dirman yang hanya lulusan SMP bisa menanam padi dengan sangat rapih tanpa alat ukur. Sedangkan dia yang bersekolah dari TK sampai SMA ternama dan kuliah di universitas yang juga ternama sama sekali tak bisa menanam padi dengan lurus.

 
“pake perasaan, non…”.

 
“ini juga udah pake perasaan, Bah..hehe..”.

 
“ya mungkin non belum biasa..”.

 
“iya kali yaa..”.

 
“yaudah, non tanem aja…ntar biar Abah yang benerin..”.

 
“ok deh…”. Sakura menanam beberapa genggam padi lagi hingga petak sawah itu hampir penuh. Bukannya bekerja, para petani lain malah asik melihat Sakura yang serius menanam padi. Seorang gadis cantik mau berkotor-kotoran, menanam padi, dan bercucuran keringat, tentu mereka tak mau melewatkan pemandangan yang langka ini.

 
“uuh, capek juga ternyata !”, ujar Sakura mengelap keringat yang ada di dahinya dengan punggung tangannya setelah selesai memenuhi petak sawah dengan hasil tanamnya.

 
“nih non lapnya..”.

 
“sini, Bah kameranya..”. Dirman membetulkan padi hasil tanam Sakura dengan mudah dan cepat. Sakura kagum, tadi ia susah payah mengira-ngira jarak padi, tapi tidak rapih juga, beda sekali dengan Dirman.

 
“nah udah rapi deh, non..”.

 
“iyaa, rapi banget kalo ditanem ama Abah…”.

 
“ayo non, kita ke saung yang tadi..kita istirahat, pasti non capek..”.

 
“hehe, Abah tau aja..ayo, Bah…”. Mereka berdua kembali ke saung yang tadi.

 
Dirman membuka rantang satu per satu.

 
“waah…semur daging !!”. Sakura makan dengan sangat lahap bagai orang yang tak makan berhari-hari.

 
“ati-ati non keselek..”, canda Dirman sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum.

 
“aah..kenyang !!”. Sakura dan Dirman mengobrol dan beristirahat di saung. Sesekali, Dirman curi-curi pandang ke bagian dada dan paha Sakura. Dalam posisi duduk bersila, hotpants Sakura semakin naik sehingga pahanya yang putih mulus semakin terekspos. Liur Dirman hampir menetes melihat paha yang sangat mulus itu.



 
“Bah, abis ini kita nanem lagi?”.

 
“gak usah, non..kita pulang aja..udah siang bolong..kasihan non Sakura ntar jadi gosong..”.

 
“ya elah, Bah..Sakura udah pake tabir surya kok..”.

 
“ya gak usah, non..lagian Abah pengen ngajak non ketemu Mbok Minah…”.

 
“wah..ide bagus tuh, Bah…Sakura juga udah kangen ama Mbok Minah..yuk, Bah..”.

 
Setelah beres-beres, tanpa ragu-ragu Sakura menggandeng tangan Dirman. Dirman agak kaget, tapi senang merasakan betapa halus dan lembutnya tangan Sakura. Merasa seperti anak kecil lagi, Sakura pun menggandeng Dirman dan ngelendot di bahu Dirman dengan manja. Dirman keringetan, aroma tubuh Sakura yang begitu harum seolah memancing ‘juniorn’ya untuk bangun.

 
“non, di depan jalannya sempit..”.

 
“oh yaudah, Sakura jalan duluan yaa..”.

 
“iyaa non, tapi ati-ati non..kalo kepeleset bisa masuk ke situ..banyak lintahnya..”.

 
“iya, Bah..”.

 
“aakkhhh !!”, meski sudah hati-hati, Sakura terpeleset.

 
“byuurr…”. Sakura terjerembab ke dalam kubangan yang keruh. Tubuh bagian bawahnya terendam.

 
“non Sakura !!!”. Dirman langsung menjatuhkan rantang, termos, dan handycam yang dibawanya lalu masuk ke dalam kubangan dan membantu Sakura berdiri.

 
“non Sakura gak apa-apa?”.

 
“gak apa-apa, Bah..makasih..”.

 
“jangan gerak non, ada lintah..”.

 
“waa..lepasin donk, Bah..”.

 
“tenang, non..kita ke sana dulu..”.

 
“aduuh, Bah..kaki Sakura sakit..”.

 
“sini, Abah papah..”. Dengan dipapah Dirman, Sakura pun duduk di saung terdekat. Petani yang lain pun mengerubungi saung itu, ingin tahu apa yang terjadi.

 
“pinjem korek”.

 
“nih, Bah…”. Beberapa lintah yang ada di betis Sakura pun bisa dilepaskan Dirman setelah lintah itu dibakar terlebih dulu.

 
“ini, Bah..masih ada di paha Sakura..”. Ada 4 lintah yang menempel di paha Sakura bagian dalam.

 
“maav, non..bisa diangkat dulu kakinya..”.

 
“iya, Bah..”.

 
Para petani yang mengerubungi saung pun seolah tak berkedip atau lebih tepatnya tak mau berkedip. Tentu mereka tak mau melewatkan detik-detik pembukaan ‘warung’ Sakura. Sakura mengangkat kedua kakinya ke atas saung, dan tanpa disuruh Sakura melebarkan kedua kakinya ke samping kiri dan kanan seperti huruf M. Pandangan mata para lelaki yang ada di sekitar Sakura berubah bagai pandangan serigala saat melihat ada mangsa. 5 pasang mata, semuanya tertuju ke daerah yang paling intim dari tubuh Sakura. Bukannya tak menyadari, Sakura sadar betul, semua yang ada di sekitarnya tidak memperhatikan lintah yang ada di pahanya melainkan daerah yang ada di tengah-tengah selangkangannya. Ada rasa hangat yang dirasakan Sakura muncul dari dalam tubuhnya. Rasa panik melihat lintah yang tadi dirasakan Sakura kini berubah menjadi sedikit rasa semangat dan gairah. Pandangan-pandangan liar para petani membuat Sakura merasa dirinya begitu terekspos dan begitu ‘terbuka’ seolah-olah tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya. Pikiran liar pun singgah di pikiran gadis kota yang cantik jelita itu. Di dalam pikirannya, Sakura membayangkan dirinya bugil sementara Dirman sedang memeriksa vaginanya (vagina Sakura) sebelum digunakan beramai-ramai oleh para petani yang sudah tak sabar ingin menjejalkan alat kelamin mereka ke dalam liang sempit milik Sakura. Tanpa sadar, kedua kaki Sakura semakin terbuka lebar. Bukannya melepaskan lintah, tapi Dirman malah bengong, tatapan matanya fokus ke tengah-tengah selangkangan Sakura yang ada tepat di hadapannya. Dirman ingin sekali merobek celana Sakura, penasaran ingin melihat apa yang ada di dalamnya. Pastilah indah alat kelamin yang dimiliki seorang gadis cantik seperti Sakura, pikir Dirman.

 
Otak Dirman pun kembali normal. Dirman membakar semua lintah yang ada di paha bagian dalam Sakura.

 
“udah non…”, ujar Dirman.

 
“makasih, Bah…”. Sakura mengelap sedikit sisa-sisa darah yang ada di pahanya.

 
“non Sakura gak apa-apa?”, tanya seorang petani.

 
“iya gak apa-apa kok, Pak Abdul…”, jawab Sakura sambil tersenyum.

 
“non bisa jalan?”.

 
“bentar, Bah…”. Sakura limbung ketika menapakkan kedua kakinya dan mencoba berdiri. Dengan sigap, Dirman memeluk Sakura agar Sakura tidak terjatuh.

 
“kaki Sakura sakit banget, Bah..”. Semuanya merasa iri dengan Dirman yang bisa memeluk dan memegang tubuh indah Sakura.

 
“kalo gitu Abah gendong non Sakura ampe rumah yaa?”.

 
“iya, Bah..”. Sakura pun langsung nemplok ke punggung Dirman setelah Dirman jongkok. Sakura pun mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.

 
“maaf ya non..”.

 
“iya, Bah..gak apa-apa kok..”. Dirman merapatkan kedua tangannya untuk menampung pantat montok Sakura.

 
“semuanya, Sakura pulang dulu ya..”.

 
“iyaa, non..moga cepet sembuh..”, jawab para petani seperempak yang sebenarnya sangat iri kepada Dirman.

 
“udah lama gak digendong Abah kayak gini..”.

 
“iya non..udah lama juga..”. Emang udah lama, tapi gak pernah seenak ini gendong lo, toket lo empuk banget, pikir Dirman. Payudara Sakura yang masih terbungkus bh dan baju itu menempel erat di punggung Dirman sampai kelihatan menyatu dengan punggung Dirman. Meski agak bau sinar matahari, Sakura merasa nyaman digendong Dirman sampai tak terasa tertidur, mungkin karena kelelahan juga.



 
“non udah nyampe..”.

 
“haa?? mm…”, ujar Sakura sambil mengucek-ngucek matanya. Sakura melepaskan rangkulannya di leher Dirman. Dengan bantuan Dirman, Sakura pun bisa nyaman selonjoran di kasurnya.

 
“kaki non Sakura masih sakit?”.

 
“iyaa nih, Bah…masih agak sakit..”.

 
“mau Abah pijetin kakinya?”.

 
“boleh, Bah..”.

 
“bentar yaa non, Abah pulang dulu..ambil minyak..”.

 
“iyaa, Bah..jangan lama-lama ya…”. Dirman keluar kamar, sementara Sakura memikirkan peristiwa di sawah tadi. Tak pernah ia merasa begitu nakal dan begitu liar.

 
Rasa penasaran pun muncul di benak Sakura. Entah darimana pikiran itu, tapi rasanya sekarang Sakura ingin sekali melihat kejantanan Dirman. Meski sudah tua, tapi Dirman masih terlihat bugar dan kekar. Vaginanya terasa hangat dari dalam, seperti butuh sentuhan. Tangannya mengelus-elus daerah pribadinya sendiri.

 
“hmmm”. Sebuah batang yang hitam, besar, dan berurat terbayang di pikiran Sakura. Semakin ‘gatal’ rasanya sehingga tangannya pun semakin aktif. Sebagai pemiliknya, Sakura tahu kalau daerah intimnya perlu sentuhan. Sakura pun menyusupkan tangannya ke dalam hotpantsnya.

 
“uuuhhhmmm”.

 
Usapan-usapan lembut pada bibir vaginanya sendiri terasa begitu ‘menenangkan’. Jari tengahnya naik turun tepat di tengah-tengah belahan bibir vaginanya. Sakura pun memejamkan matanya, meresapi gerakkan jarinya. Gemas dengan rangsangan ‘lembutn’ya sendiri, Sakura menyusupkan 2 jarinya masuk ke dalam liang vaginanya yang ‘panas’.

 
“eemmm…mmmm..”, 2 jarinya bergerak keluar masuk dengan penuh sensasi. Sakura sadar ada sepasang mata yang sedang mengamatinya.

 
Sakura membuka matanya. Dirman sudah ada di sebelah ranjangnya, sedang berdiri dan memandangnya. Bukannya berhenti, Sakura malah mengeluarkan tangannya dan langsung menuntun tangan Dirman masuk ke dalam hotpantsnya.

 
“Baah, tolong Sakuraa…”, desah Sakura dengan suara yang begitu menggairahkan dan begitu ‘memancing’. Dengan insting pria sejati yang berorientasi sex lawan jenis (normal), tanpa ragu-ragu Dirman mulai meremasi isi dari hotpants Sakura.

 
“ooohh yeeaahhh disiituu Baah !!! teeruuss Baahh !! uuummhhh…”, Sakura semakin menggila saat 2 jari Dirman mulai mengebor vaginanya. Tanpa ragu-ragu, tangan Dirman yang satu lagi merayap masuk ke dalam kaos Sakura dan langsung meremasi payudara yang empuk nan kenyal yang ada di dalamnya.



 
“EEENNGGHHH !!!”, lenguh Sakura panjang, tubuhnya menegang.

 
Dirman mengeluarkan tangannya. Tanpa di suruh, Dirman menarik hotpants Sakura beserta celana dalamnya dan membuangnya ke lantai. Bagai mimpi, Dirman tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tak percaya dengan pandangannya, vagina kecil yang dulu sering ia sentuh dan ia cuci kini begitu indah, begitu menggiurkan. Tanpa ragu-ragu, Dirman menempatkan kepalanya di antara selangkangan Sakura. Dirman membenamkan kepalanya di selangkangan Sakura yang sangat wangi. Merasa ada yang menginvasi daerah pribadinya, secara alami Sakura merapatkan kedua pahanya, menjepit kepala Dirman yang ada di tengahnya. Hidung Dirman menempel di belahan vagina Sakura. Dirman menarik nafas dalam-dalam, menghirup ‘aroma therapy’ yang berasal dari vagina Sakura. Beda sekali dengan punya istrinya yang bau amis. Memek cewek cakep emang beda, pikir Dirman.

 
Lidah Dirman pun menjulur keluar, menyentuh kelamin Sakura.

 
“ehhh..”, tubuh Sakura langsung bereaksi saat benda lunak dan hangat melakukan kontak fisik dengan alat kelaminnya.

 
Dengan rakusnya, Dirman melahap vagina Sakura habis-habisan. Tak henti-hentinya, lidah Dirman menyapu setiap jengkal dari daerah segitiga majikannya yang cantik itu. Mungkin hanya kali ini bisa merasakan vagina yang seharum dan seenak ini, pikir Dirman. Lidahnya terus menggali, menggali, dan menggali lebih dalam lagi ‘tambang’ yang ada di hadapannya sehingga Sakura pun menggeleng-gelengkan kepala, menggeliat-geliat, kedua pahanya semakin menjepit kepala Dirman.

 
“oooohhhh !!! teeruuusshhh Baaahhh !!!! makan memek Sakuraa seepuaasnyaaaa !!!!”, teriak Sakura lepas, tak terkontrol.

 
“iyaaaa Baahh !! jilatin memek Sakuraa !!! memek Sakuraa punya Abaaahhh !!!! ooohhhh !!!”. Mendengar perkataan-perkataan kotor yang keluar dari mulut gadis cantik seperti Sakura membuat semangat Dirman berapi-api seperti prajurit yang bersemangat menghadapi perang. Sakura menekan kepala Dirman agar lebih menempel dengan vaginanya.

 
“aaahh aahhh aaahh AAAAKKKHHHH !!!!”, Sakura mengejang hebat, kedua pahanya menjepit kepala Dirman dengan sangat kencang, perutnya agak ke atas.

 
“ssrruupphhh !!!!”, Dirman tak menyia-nyiakan ‘sumber mata air’ Sakura. Semuanya habis diseruput Dirman, cairan yang tertinggal di liang vagina Sakura pun sampai tak ada karena terserap lidah Dirman yang masuk kembali.

 
Selesai meminum inti sari dari kelamin nonanya sampai terkuras habis tak bersisa, Dirman mengangkat kepalanya menjauh dari selangkangan Sakura. Dengan sangat tergesa-gesa, Dirman membuka celana dan celana dalamnya sendiri. Kedua mata Sakura langsung tertuju ke benda yang ada di tengah-tengah selangkangan Dirman. Benda itu terlihat begitu kokoh.

 
“masukkin, Bah…”, lirih Sakura meminta Dirman untuk menyumpal vaginanya.

 
Kedua kaki Sakura terbuka dengan sangat lebar, Sakura juga menyibakkan bibir vaginanya sendiri untuk mengundang burung Dirman agar segera masuk ke dalam. Tanpa perlu disuruh, pucuk penis Dirman pun sudah mencium lubang vagina Sakura.

 
“masukkin, Baah..”, pinta Sakura dengan melirih. Dirman memajukan pinggulnya perlahan, kepala penisnya mulai mendobrak masuk ke dalam liang kewanitaan Sakura.

 
“heemmhhh….”, Sakura merasa bagian bawah tubuhnya benar-benar penuh, penuh sesak dengan batang besar milik Dirman yang semakin masuk ke dalam.

 
Sensasi yang belum pernah dirasakan Dirman, batangnya terasa begitu terjepit dan terasa seperti diurut dan dipijat. Seluruh batang Dirman telah tertancap di dalam liang vagina Sakura dengan sangat kokoh. Dirman tak bergerak, diam sejenak untuk menikmati liang vagina Sakura yang begitu hangat dan begitu sempit. Dirman merasa penisnya seperti dicengkram dengan sangat kuat oleh dinding vagina Sakura. Belum lagi rasa hangat yang menyelimuti penisnya. Desahan-desahan pelan mengalun lembut dari mulut Sakura saat Dirman mulai menggerakkan tongkatnya. Dirman agak kesusahan menarik dan juga mendorong penisnya, rasanya liang rahim Sakura terlalu sempit. Tapi dengan penuh kelembutan, Dirman terus berusaha memompa penisnya dengan perlahan.

 
“oohh ooouuhh uummhh..iyaa, Baahh !! enaak, Baahh !!!”, racau Sakura merasa nikmat yang luar biasa di bagian bawah tubuhnya.

 
Dirman terus ‘menggasak’ liang vagina Sakura. Menyodoknya dengan penuh perasaan namun cukup kuat untuk membuat Sakura tersentak-sentak.

 
“ookkhh…ookkhh..ookkhh…”, Sakura mengerang keenakan saat Dirman menyodok vaginanya sampai mentok.

 
Si pria tua itu terus menggenjot dengan ritme pelan agar si gadis cantik yang sedang digenjotnya bisa membiasakan diri terlebih dulu. Kedua tangan Dirman pun menangkup dan menggenggam ‘kemasan susu’ Sakura. Meremasi payudara Sakura yang terasa sangat empuk dan kenyal itu.

Kaki Sakura pun melingkar erat di pinggang Dirman. Keduanya masih mengenakan kaos, tapi alat kelamin mereka sudah menyatu. Berpikir Sakura sudah mulai terbiasa, Dirman mulai mempercepat genjotannya.


 
“OOOUUHHH !!!”, Sakura mengeluh panjang lagi, gelombang orgasme melanda tubuhnya.

 
“hhhh…”, nafas keduanya menderu-deru, bulir-bulir keringat Dirman jatuh membasahi tubuh Sakura yang juga tak kalah basah oleh keringat. Kedua insan itu bercinta dengan sangat bergairah, begitu menggelora. Desahan-desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut keduanya. Keduanya saling berpelukan dengan erat sementara alat kelamin mereka terus bergesekkan semakin cepat dan tanpa henti.

 
“ooh ooohh OOOKKHHH !!!!”, erang Dirman melepas orgasmenya.

 
“BAAAAAHHH !!!”, Sakura juga mengerang lepas. Keduanya sama-sama meraih puncak kenikmatan yang mereka bangun bersama-sama. Rasa hangat dan becek terasa oleh Sakura di liang kewanitaannya. Mata Sakura sayup-sayup, semakin tak jelas pandangannya. Rasa lelah karena di sawah hampir seharian ditambah habis digempur pria tua dengan ‘senjatan’ya yang bukan main membuat Sakura tak bisa menahan rasa kantuknya. Dia pun tertidur tanpa memikirkan batang Dirman yang masih ‘menyangkut’ di vaginanya. Saat Sakura terbangun, Sakura mendapati dirinya sudah berselimut. Sakura pun membuka selimutnya. Sakura tersenyum saat melihat cairan putih yang meleleh keluar dari vaginanya. Sakura bangun dan membuka kaos beserta bhnya lalu menuju kamar mandi.

 
“aah segeerrr…”. Air dingin mengucur dari pancuran membasahi tubuh indah Sakura.

 
Dia mengambil shower dan menyemprotkan air ke daerah intimnya untuk membersihkan alat kelaminnya yang telah ‘dinodai’ Dirman. Sakura menyabuni setiap jengkal dari tubuhnya. Tubuh Sakura pun kembali segar dan wangi. Sakura melilitkan handuk ke tubuhnya yang basah. Handuknya yang bisa dibilang kecil hanya bisa menutupi payudara sampai 5 cm di bawah ‘lembah’ miliknya. Saat dia duduk di kursi meja rias, handuknya pun terangkat saking pendeknya.

 
“kruuukk…”. Perut Sakura pun berbunyi kencang. Perutnya keroncongan, minta diisi dengan makanan.

 
“aduuh..pantes aja gue laper banget..udah jam segini…”. Sakura pun mengambil hpnya dan menghubungi nomor rumah Dirman.

 
“halo, siapa ini ?”.

 
“ini Sakura…ini Mbok Minah bukan ?”.

 
“ooo yaa ampun !! neng Sakura ??! apa kabar ? iyaa, ini Mbok Minah”. Sakura dan Mbok Minah pun berbicara lewat telpon bagai 2 orang sahabat yang sudah lama tak bertemu.

 
“oh iyaa, Mbok..Abah ada ?”.

 
“iyaa ada, neng…kenapa ?”.

 
“Sakura laper banget nih, Mbok..”.

 
“oh, iya neng, iya neng..nanti Mbok suruh Mas Dirman nganter makanan ke neng…”.

 
“masakan Mbok kan yaa ?”.

 
“iyaa, neng..”.

 
“asiiik ! jangan lama-lama ya, Mbok..”.

 
“iyaa, neng..”.

 
“oh iyaa..kaki neng Sakura udah agak mendingan ?”. Sakura pun menggerakkan kakinya dan berdiri, rasa sakitnya sudah hilang meski masih agak ngilu sedikit.

 
“udah nggak, Mbok…dipijitin Abah sih…”.

 
“iyaa, kata Mas Dirman, neng Sakura sampai ketiduran gara-gara dipijit kakinya”.

 
“iyaa, Mbok..habis enak siih..”, ujar Sakura senyum-senyum sendiri. Bukan ketiduran gara-gara dipijet, tapi gara-gara disodok-sodok, pikir Sakura.

 
“yaudah ya, Mbok…jangan lama-lama makanannya..hehe”.

 
“beres, neng..”. Sakura menyudahi pembicaraannya. Sakura baru sadar kakinya sudah agak mendingan, tidak terlalu nyeri seperti sebelumnya.

 
“pasti Abah mijitin kaki gue pas gue tidur”, ujar Sakura berbicara sendiri. Meski kakinya terasa agak mendingan, tapi ada bagian lain yang terasa lebih ngilu yaitu daerah selangkangannya. Tapi, rasa ngilu itu tidak terlalu terasa karena Sakura sedang duduk. Sakura bersenandung sambil terus menyisir rambutnya. Entah darimana, Sakura merasa senang sekali, tak sabar menantikan kedatangan Dirman. Sakura hanya tahu satu hal, Dirman adalah satu-satunya pria yang mampu memberikan kepuasan batin yang begitu maksimal dari semua laki-laki yang tidur dengannya. Tubuhnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh pengurus sawah ayahnya itu. Meski selangkangannya jadi terasa agak ngilu, Sakura ingin sekali merasakan sensasi sodokan-sodokan Dirman lagi. Terngiang-ngiang sensasi nikmat dari sodokan penis Dirman membuat Sakura semakin tak sabar menunggu pria tua yang tadi telah menyetubuhinya itu.

 
“tok tok tok !!”.

 
“iyaa sebentar !!”, jawab Sakura dengan agak berteriak.

 
“adu duu hh..”, rasa ngilu terasa di pusat daerah intimnya saat dia ingin berjalan cepat menuju pintu. Sakura pun berjalan pelan dengan kaki agak terbuka dari biasanya.

 
“eh, Abah…udah Sakura tungguin dari tadi..”.

 
“iya..aa, non..maaf lama..”, Dirman merasa jadi canggung berhadapan dengan majikannya apalagi hanya handuk mini yang melilit di tubuh Sakura. Ekspresi wajah Sakura tak kelihatan kesal atau marah malah kelihatan senang.

 
Masih segar ingatan Dirman akan tubuh indah Sakura yang tak tertutup apa-apa sehingga Dirman memandang Sakura seolah tembus pandang, tahu bagaimana bentuk dan setiap lekuk tubuh Sakura meski tertutup handuk.

 
“ayo, Bah..Sakura udah mau mati nih…hehe..”. Dirman pun langsung ke dapur dan segera kembali dengan piring penuh dengan nasi. Sakura yang duduk di kursi meja makan pun langsung menerima piring dari Dirman dan langsung menuang berbagai lauk yang ada di rantang yang tadi di bawa Dirman ke beberapa piring kosong yang memang sengaja disediakan di atas meja makan.

 
“ayo, Bah..kita makan yuuk…”.

 
“gak usah, non…non Sakura aja yang makan..”.

 
“ayoo dong, Bah…kita makan bareng..masa Sakura makan sendirian..”.

 
“ng..nggak usah, non..”. Dirman benar-benar merasa tak enak kepada Sakura. Padahal tadi dia telah mengambil keuntungan dari tubuhnya dan memperkosanya, tapi kenapa majikannya masih tetap baik malah seperti tak terjadi apa-apa, pikir Dirman.

 
“ayoo dong, Bah…kalo Abah gak makan, Sakura marah nih..”, ujar Sakura dengan nada agak manja.

 
“i..i..iya deh non..”. Dirman pun pergi ke dapur untuk mengambil nasi dan ikutan makan dengan Sakura. Gadis cantik itu makan dengan lahap.

 
“aahh kenyaaang !!!”. Dirman tak berani menatap mata Sakura, rasa bersalah dan takut gara-gara peristiwa itu meski Sakura tak menunjukkan ekspresi marah.

 
“non Sakura..”.

 
“iya, Bah ?”. Dirman langsung sujud di kaki Sakura.

 
“maaf..maafin Abah, non…Abah bener-bener minta maaf..Abah rela dipecat, non…tapi tolong jangan laporin Abah ke polisi…”, pinta Dirman memelas dengan nada suara orang yang hampir menangis.

 
“diri, Bah…”, ujar Sakura sambil berdiri. Dirman benar-benar takut akan dilaporkan ke polisi oleh gadis cantik yang ada di hadapannya karena telah memperkosanya. Dirman berdiri dan memberanikan diri mengangkat kepalanya untuk memandang mata Sakura.

 
“gak apa-apa kok, Bah..”, jawab Sakura dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.

 
“ha ? apa, non ?”, jawaban yang sama sekali tak diduga-duga membuat Dirman menjadi bingung.

 
Sambil tersenyum, Sakura membuka lilitan handuknya. Handuk itu pun langsung lolos turun ke bawah. Tubuh telanjang Sakura tepat berada di depan Dirman.

 
“iya, Bah..Sakura gak marah kok…”, jawab Sakura, nada suaranya begitu manja, seperti seorang istri yang sedang ingin bermanja-manjaan dengan suaminya.

 
Dirman masih tak percaya, semuanya berjalan terlalu lancar bagaikan mimpi saja, Dirman sama sekali tak pernah membayangkan keadaan ini dimana dengan keadaan sadar, Sakura telanjang bulat di hadapannya.

 
“non Sakura bener-bener gak marah ?”. Sakura tersenyum, dia menuntun kedua tangan Dirman ke belakang tubuhnya dan menaruh di bongkahan pantat kanan dan kirinya lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher Dirman.

 
“beneer, Abah…malaahh…”, nada suara Sakura kini berubah menjadi sangat ‘memancing’. Sakura mendekatkan bibirnya ke kuping Dirman.

 
“kalau Abah mau lagi..Sakura gak keberatan kok..”, bisik Sakura menggoda. Ucapan yang terlontar dari mulut Sakura terdengar begitu merdu di telinga Dirman, seperti nada-nada lagu yang sangat indah.

 
“bener, non ?”, Dirman masih tak percaya padahal jelas-jelas kedua tangannya menggenggam pantat montok gadis cantik itu.

 
“Abah masih gak percaya ?”. Tanpa ba-bi-bu, Sakura menempelkan bibirnya ke bibir Dirman yang agak hitam.

 
“eeemmhh..emmhhh..ccpphhh”. Keduanya saling pagut, saling bergantian melumat dan menghisap bibir satu sama lain. Memang beda rasanya jika cipokan dengan gadis yang masih muda dan sangat cantik, bibirnya terasa lembut dan seperti ada rasa buah anggur di bibirnya, pikir Dirman. Sakura pun tak bergerak membiarkan bibirnya dipagut, dilumat, dihisap, dan dikulum habis-habisan oleh pria tua yang ada di hadapannya sekarang. Sesekali Sakura menjulurkan lidahnya untuk menjadi ‘makanan’ Dirman. Enak sekali rasanya mencumbu bibir yang begitu lembut dan empuk sampai Dirman tak mau berhenti melumat bibir Sakura untuk waktu yang cukup lama. Sakura pun tak berusaha melepaskan diri, dia begitu meresapi dan menikmati cumbuan Dirman bahkan sampai memeluk Dirman dengan sangat erat bagai memeluk kekasihnya saja. Tangan Dirman pun sudah mulai beraktifitas. Asik sekali Dirman meremas-remas kuat bongkahan pantat Sakura yang ada di genggaman tangannya. Tabokan dan cubitan pun dilayangkan Dirman ke pantat Sakura yang memang empuk, sekel, padat, dan kenyal sehingga tak heran kalau Dirman jadi begitu gemas dibuatnya. Ternyata ini arti mimpinya kemarin, mimpi ketiban durian runtuh. Dirman kira itu artinya dia akan mendapatkan rejeki nomplok, tapi rupanya bidadari nomplok. Tak ada rezeki yang lebih baik dari sex gratis dengan gadis muda nan cantik yang mau disetubuhi dengan senang hati tanpa paksaan sedikit pun, pikir Dirman. Dirman pun menarik bibirnya setelah sangat puas mencumbu Sakura.

 
Keduanya megap-megap kekurangan oksigen. Sakura dan Dirman saling menatap mata satu sama lain. Pandangan mata Sakura adalah pandangan wanita yang sudah ‘on fire’, siap untuk digempur habis-habisan. Pandangan mata Dirman pun menunjukkan kalau dia sudah tak sabar ingin merengkuh kenikmatan dari tubuh gadis cantik yang ada di hadapannya. Tak sabar ingin menggeluti tubuh indah Sakura untuk kedua kalinya, tidak, mungkin sampai 3x, tidak, pokoknya sampai burungnya tak mampu lagi berdiri dan persediaan sperma di kantung zakarnya habis tak bersisa. Sementara itu, telah terjalin suatu chemistry antara alat kelamin Sakura dan Dirman. Vagina Sakura seperti kutub utara sementara burung Dirman bagai kutub selatan yang membentuk medan magnet yang membuatnya saling tarik menarik dan ingin bertemu. Vagina Sakura tak sabar ingin merasakan panjang dan diameter dari tongkat Dirman dan penis Dirman tak mau menunggu lagi untuk merasakan kehangatan dan sempitnya celah kecil yang ada di tengah-tengah selangkangan Sakura. Karena sudah mengantongi izin, Dirman langsung menggendong Sakura dan membawanya masuk ke dalam kamar. Tak beberapa lama kemudian, bunyi ranjang yang bergerak-gerak serta desahan, lirihan, dan rintihan keduanya pun terdengar dari dalam kamar. Hanya ada mereka berdua di dalam rumah itu sehingga mereka bisa mengekspresikan kenikmatan yang sedang mereka rasakan sesuka hati. Entah berapa jam sudah Sakura dan Dirman berada di dalam kamar. Keduanya tak keluar-keluar kamar sedari tadi. Bahkan turun dari ranjang pun keduanya tak mau. Bagai malam pertama, Sakura dan Dirman layaknya sepasang pengantin baru yang sedang bersetubuh dengan penuh gairah dan nafsu yang sangat menggelora. Dirman merasa nafsunya tak menurun malah semakin naik melihat Sakura yang terkulai pasrah di hadapannya. Sakura pun merasa puas, senang, dan ingin lagi dan lagi untuk disetubuhi Dirman. Sodokan-sodokan Dirman benar-benar membuat Sakura mabuk dalam kenikmatan.

 
“non Sakura…”, bisik Dirman yang sedang memeluk Sakura dari belakang karena sedang istirahat.

 
“iyaa, Bah ?”, jawab Sakura dengan nada manja.

 
“boleh minjem telpon sebentar ?”.

 
“iyaa, Bah..ada di meja rias..”. Dirman pun turun dari ranjang dan mengambil hp Sakura.

 
“halo, Mbok ?”.

 
“halo, ini siapa ?”.

 
“ini Mas, Mbok”.

 
“oh Mas Dirman, ada apa ?”.

 
“Mas nginep di rumah non Sakura..dia takut sendirian..”.

 
“oh ya udah..inget Mas, jangan macem-macem ama neng Sakura..”.

 
“iya, Mbok..”. Dirman pun menutup telpon dan menaruhnya kembali di tempat semula.

 
“iih..Abah boong ke Mbok..”, ledek Sakura.

 
“hehe…bosen tidur bareng Mbok..enakan tidur ama non Sakura…”.

 
“iih Abah porno iih..”.

 
“hehe…”. Dirman pun memandangi Sakura. Tubuhnya berkemilauan terkena cahaya karena keringat ditambah air liur Dirman. Belum lagi selangkangan Sakura yang belepotan sperma pria tua itu. Tak disangka, gadis kecil yang dulu dijaganya kini berubah menjadi wanita yang sangat cantik dan begitu montok. Dirman pun merasa dia sedang mengambil haknya, upahnya untuk mengambil keuntungan dari tubuh Sakura yang dijaganya.



 
“Abah kok ngeliatinnya gitu sih?”, Sakura pura-pura menutupi kedua buah payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.

 
“hehe..pake ditutupin segala, non…”. Sakura pun tersenyum dan membuka kedua tangannya ke atas seperti orang yang sudah siap dipeluk.

 
“sini, Bah…”, ajak Sakura dengan sangat menggoda yang sudah siap ‘menerima’ Dirman.

 
Tak perlu dipaksa, Dirman langsung menomplok Sakura dan menggumuli gadis cantik itu sampai larut malam, sampai staminanya habis dan tongkatnya tak mampu berdiri lagi, habis sudah persediaan spermanya seperti niat Dirman pada awalnya. Keduanya tidur dalam berpelukan, tidur mereka benar-benar pulas karena kecape’an, tapi ekspresi wajah mereka menunjukkan kepuasan yang tiada tara. Hari-hari dilalui Dirman dan Sakura dengan penuh kebahagiaan dan penuh kesenangan. Sakura pun memutuskan untuk memakai pakaian seperti ibu-ibu petani lainnya agar benar-benar meresapi menjadi ibu petani. Pagi-siang Dirman melakukan kewajibannya untuk mengajari Sakura. Sore-malam Dirman meminta haknya kepada Sakura yang dengan senang hati melakukan kewajiban lainnya dari ibu petani yaitu memberikan tubuhnya kepada bapak petani, yang tak lain dan tak bukan adalah Dirman, untuk ‘digarap’ sesukanya.

 
“iih, Abah…maen ngintip aja..”, canda Sakura saat Dirman membuka lipatan kain Sakura untuk melihat isinya.

 
“hehe…Abah pengen liat aja..”.

 
“tapi jangan di sini, Bah..ntar keliatan orang..”.

 
“iyaa deh non..hehe..”. Dirman benar-benar senang mengusili Sakura karena Sakura tak pernah marah meskipun dia sering iseng menyelipkan tangan ke dalam baju dan kain Sakura untuk menyentuh ‘onderdil’ gadis cantik itu saat sedang istirahat di saung. Tak ada yang tahu kegiatan mereka berdua selain di sawah. Hanya handycam Sakura yang menjadi saksi bisu yang meliput kegiatan Sakura di sawah dan aktifitas panasnya di ranjang bersama Dirman. Sakura pun tak sabar ingin menunjukkan rekamannya kepada teman-temannya yang sama ‘gila’ dengan dirinya.

Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya