TUKANG YANG MENUKANGI
Pagi itu seperti biasa aku bangun lebih pagi dari mas rico, kusiapkan sarapan meski hanya beberapa lembar roti dan selai dan segelas kopi hitam hangat sebelum ia berangkat kerja. Begitu ia selesai berpakian ia pun sarapan dengan santai nya ditemani olehku. Sebelum tak lupa mas rico mencium keningku mesra diiringi senyumnya yg hangat dan pergi pagi-pagi sekali mengejar kereta ke tempat ia bekerja. Begitulah keseharian kami berdua. Sudah 3 tahun lamanya kami menikah. Bermodal tabungan dan sedikit bantuan orangtua kamipun bisa angkat kaki dari “Pondok Mertua Indah” dan mencicil rumah mungil di luar kota jakarta sebagai tempat tinggal kami. Sehari-hari aku bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga, meskipun memang ironisnya aku belum pantas menyandang predikat “ibu”. Mungkin memang belum rejeki, dan memang saatnya belum tepat bagi kami untuk memiliki keturunan. Jadi sehari-hari aku mengisi waktu luangku dengan membereskan rumah dan memasak. Komplek tempat tinggalku tergolong baru, da...