*under construction*Holiday’s Challenge Epilogue : Gadis Pemenang 4 (Final)

 


Tadi malam benar-benar pengalaman yang sangat indah dan tak terlupakan untuk Malih. Seumur hidupnya, baru tadi malam dia merasakan yang namanya pesta sex. 3 pria bangkotan dengan 4 gadis belia cantik. Dalam 1 malam saja, dia bisa menikmati tubuh 3 mahasiswi-mahasiswi yang cantik jelita itu. Belum lagi tadi malam, sebelum tidur, burungnya di-'nina bobo'-kan oleh Hyewon dan Sakura. Dan pagi ini pun, Malih bisa merasakan betapa nikmat hidupnya yang sekarang. Pria tua itu tidur telanjang dengan 2 bidadari yang memeluknya dengan sangat erat. Payudara Hyewon dan Sakura melekat erat di tubuh kurus Malih bagaikan tertarik magnet. Hangat dan empuk sekali dipeluk 2 gadis sekaligus. Apalagi tubuh keduanya harum, tak mungkin Malih mau membangunkan mereka.

"emm...", tak lama Hyewon terbangun.
"pagi, non...", sapa Malih ke bidadari cantik itu.
"pagi, Pak....", jawab Hyewon dengan wajah masih mengantuk, namun tersenyum.
"emm...Sakura udah bangun, Pak ?".
"belum, nih masih tidur...". Hyewon memperat pelukannya. Dia masih mengumpulkan kesadarannya.
Si pejantan bangkotan dan si bidadari cantik itu tak berbicara namun saling menikmati kehangatan tubuh satu sama lain. Tiba-tiba, Hyewon mengelus-elus tongkat Malih yang memang berdiri karena ereksi pagi.
"emm, punya Pak Malih udah bangun juga...", ucap Hyewon dengan nada yang sangat manja dan mesem-mesem sendiri.
"iyaa non...hehe...". Meski sudah tua, namun kejantanan Malih masih seperti muda dulu, selalu ereksi setiap paginya. Hyewon tentu sudah hafal akan hal itu, setiap pagi dia selalu digagahi Malih. Aktivitas pagi yang tak pernah dilewatkan mereka berdua satu hari pun. Bahkan, Hyewon tak keberatan terlambat jika mendapat kuliah pagi hanya untuk melayani nafsu pejantannya yang sudah tua bangka itu. Hyewon selalu menyempatkan waktunya untuk bercinta dengan Malih. Gadis muda yang cantik itu ingin Malih tahu kalau dia benar-benar mencintainya sehingga pria tua nan kurus yang dicintainya itu bisa mengakses tubuhnya kapanpun dan dimanapun. Dan tadi malam, Hyewon juga sudah membuktikan kalau dia mau melakukan perintah apapun dari Malih, termasuk melayani nafsu pria lain. Memang Hyewon telah berjanji pada dirinya sendiri, tak akan ada pria lain yang bisa menjamah tubuhnya selain Malih, tapi kalau pria tersebut sudah mendapat izin dari Malih, Hyewon akan melayani pria tersebut seperti ia melayani Malih dengan tubuhnya. Sungguh cinta yang aneh. Padahal Hyewon adalah seorang mahasiswi, seorang gadis muda yang sangat cantik, kulitnya putih mulus tak ada goresan sedikitpun, dan tubuhnya yang sangat kencang, mulus, serta sexy. Para lelaki tentu akan berusaha mati-matian untuk bisa mendapatkan 'layanan' dari Hyewon, bahkan mungkin akan membayar Hyewon lebih dari Rp. 2.000.000 hanya untuk melihatnya menari striptease. Namun, Hyewon sangat mencintai Malih, dan memberikan tubuhnya sepenuhnya untuk pria tua itu. Cinta memang buta, tak mengenal usia, harta, atau golongan. Rasa nyaman dan kagum yang membuat Hyewon sangat mencintai Malih dan menyerahkan jiwa dan raganya untuk laki-laki pemulung sampah yang sekarang menjadi supirnya itu.

Buktinya, tadi malam meski Hyewon memang tak bisa mengelak kalau dia mendapatkan kenikmatan luar biasa dari Asep dan Karjo yang mengeroyoknya, tapi dia merasa ada yang kurang. Dan saat ia bercinta dengan Malih, barulah ia menemukan rasa kurang itu sehingga Hyewon merasa 'panas', lepas, liar, nakal, dan sangat bergairah. Tak hanya Hyewon, Malih juga merasa seperti itu, dia merasa 'hidup' saat bergumul dengan majikannya yang cantik itu. Tanpa berbicara, Hyewon terus memainkan 'otong' Malih. Tangannya yang halus kelihatan asik sekali bermain-main dengan batang kebanggaan Malih. Mengelus-elus, membelai, dan mengocok-ngocok tongkat Malih. Tentu Malih merasa keenakan. Tapi, ada tangan lain yang menjamah alat kawin Malih. Ya, Sakura sudah bangun dan sekarang sedang meremas-remas lembut kantung pelir Malih.
"non Sakura....?".

"pagi, Pak...". Sakura terlihat masih setengah sadar, namun tangannya tetap meremas-remas zakar Malih seakan sudah terprogram untuk melakukan itu walau masih belum sadar.
Nikmat sekali rasanya. Kedua tangan gadis belia itu begitu halus, Malih sangat menikmatinya. Pagi-pagi 'onderdil'nya sudah dielus-elus oleh 2 ABG yang cantik dan sexy. Malih sampai mencubit perutnya sendiri untuk memastikan ini bukan mimpi. Kedua gadis itu kelihatan asik sekali memainkan burung Malih dengan tangan mereka seperti sedang bermain dengan 'peliharaan' mereka.
"Sak, mandi yuk, badan gue udah gerah nih...", ujar Hyewon.
"ayuuk...".
"Pak, kita mandi dulu yaa. ccpphhh hemmm...". Hyewon dan Sakura bergantian mengecup mulut Malih sebelum turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi. Baik Hyewon atau Sakura, keduanya menengok ke Malih sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi juga dibiarkan terbuka lebar. Jelas sekali kalau kedua bidadari cantik itu 'mengundang' Malih untuk mandi bersama. Malih langsung lompat dari tempat tidur, tak mau melewatkan 'undangan' mandi bersama dari 2 bunga kampus itu. 'senapan' laras panjangnya pun sudah terisi, pria tua itu sangat siap untuk 'menginterogasi' 2 mata-mata bahenol yang ada di dalam kamar mandi.

Malih langsung tertegun ketika masuk ke dalam mandi. Pemandangan yang sungguh seksi dan porno sekaligus memanjakan mata Malih. Pemandangan Hyewon dan Sakura yang berpelukan erat dan bercumbu penuh gairah dalam keadaan basah kuyup disiram air yang keluar dari pancuran. Batang Malih langsung mengacung keras. Malih pun mendekati mereka.
"katanya mau mandi, tapi kok malah cipokan sih ? hehe...", goda Malih.
"iih, Pak Malih main masuk aja nih...", Sakura balas menggoda.
"abis pintunya gak ditutup...".
"hehe...yaudah, Pak..sini...". Hyewon dan Sakura pun menarik Malih untuk bergabung.

Sakura & Hyewon di kamar mandi

Malih pun diapit Sakura dan Hyewon dari depan dan belakang. Tangan kedua dara cantik itu menjalari tubuh kurus Malih. Mengelusnya dan mengurutnya dengan lembut. Benar-benar fantasi yang paling liar yang pernah dipikirkan Malih. Mandi bersama 2 orang gadis muda yang begitu cantik dan sexy. Apalagi keduanya sengaja menempelkan payudara mereka ke tubuh Malih dan seperti mengurut Malih dengan payudara mereka. Memang sudah berkali-kali Malih mandi bersama gadis muda nan cantik yang tak lain adalah Hyewon, namun baru kali ini pria tua itu mandi bersama 2 orang ABG sekaligus, sangat beda rasanya! Rasanya bagaikan raja yang sedang dilayani 2 selir cantiknya. Sakura dan Hyewon bergantian melumuri kedua buah payudaranya mereka dengan sabun cair sampai terlihat mengkilat, berbusa, dan sangat licin. Payudara bulat nan kenyal milik Hyewon dan Sakura tak ubahnya seperti sponge untuk menyabuni tubuh Malih. Tangan Hyewon bertugas menyabuni kantung pelir Malih sementara tangan Sakura bagian batangnya. Senjata Malih keras bagai sebatang kayu tua. Sakura bergumam sendiri, begitu keras, begitu kokoh, dia terus mengocok perlahan batang kejantanan Malih dengan gemas. Gadis hyperseks itu sudah gemas ingin merasakan vaginanya ditusuk benda tumpul yang sangat keras itu. Sakura sudah mengerti betul perasaan Hyewon. Mengapa sahabatnya itu tak pernah menolak jika Malih ingin menggumulinya. Ditusuk benda sekeras itu pasti akan membuat semua wanita tak mampu menolak untuk merasakannya lagi. Tiba-tiba Sakura jongkok.
"ummm eemmhhh mmmmhhh mmmpphhh cccppphhh". Dengan lahapnya, Sakura menyedot-nyedot 'sedotan' jumbo milik Malih. Lidah Sakura melilit di sekujur batang Malih.
"ckk ckk cckk", tak lupa Sakura mengocok kemaluan kekasih sahabatnya itu dengan mulutnya.
"ooh enaaakkhhh nooonnnn", erang Malih merem melek keenakan.
"aahhh ?", Malih merinding, dia melihat ke belakang, ternyata lubang pantatnya sedang digelitik oleh Hyewon dengan lidah. Bagian bawah tubuh pria tua itu sedang 'dibersihkan' oleh 2 wanita sekaligus. Nikmat sekali rasanya, apalagi saat Hyewon mencolok-colokkan lidahnya dan Sakura menyentil-nyentil lubang kencing Malih di saat bersamaan. Malih merasa seperti dewa yang sedang dipuja-puja oleh pengikutnya.
Payudara Hyewon yang dilumuri sabun

Malih iseng memutar tubuhnya sehingga kini Hyewon yang mengulum kemaluannya dan Sakura yang 'menceboki' pantatnya. Tak hanya Hyewon, Sakura juga tak segan-segan menjilati lubang pantat Malih. Kalau Hyewon memang sudah terbiasa memandikan Malih dan menjilati tubuh pria tua itu dari kepala sampai kaki termasuk menjilati lubang pantat Malih, tapi Sakura baru kali ini memandikan Malih, namun gadis cantik itu tak terlihat jijik sama sekali, malah terlihat sangat menikmatinya. Sesi mandi bertiga itu pun menjadi laga 'pertempuran' yang sangat panas. Desahan, erangan, dan lenguhan baik Sakura maupun Hyewon kencang sekali saat tongkat Malih mengaduk-aduk vagina mereka. Sungguh pertarungan yang sangat panas, dimana seorang pria tua dengan tongkat perkasa melawan 2 gadis belia yang sangat tergila-gila dengan kejantanan sang pria tua.

Sementara itu, di kamar lain, Yena sedang digenjot Asep di kamar mandi sementara Karjo sedang menggenjot vagina Chaewon sampai Chaewon keenakan.

Yena dan Asep

Karjo dan Chaewon



Betapa enaknya ketiga pria tua itu, pagi-pagi sudah bisa melampiaskan nafsunya ke gadis-gadis cantik yang dengan senang hati melayani mereka. Terutama Malih, tadi malam, Sakura dan Hyewon 'mengantarkan'nya untuk tidur dengan cara yang nikmat, paginya sudah bisa menggenjot kedua dara cantik itu lagi di dalam kamar mandi. Mandi pagi yang sungguh mengasyikkan bagi Malih. Setelah mengeringkan tubuhnya, Sakura langsung ngeloyor keluar.
"lho ? non Sakura ?!".
"ha ? kenapa, Pak ?", tanya Sakura berhenti di ambang pintu.
"non Sakura nggak pake baju dulu ?".
"ah nggak usah, Pak. udah pada tau ini...", ucap Sakura santai sambil mengedipkan mata dan menjulurkan lidahnya. Gadis bertubuh jenjang itu pun keluar dengan santainya. Malih terbengong-bengong sendiri. Bagaimana bisa seorang gadis muda kelihatan santai sekali keluar kamar tanpa mengenakan busana apapun ?, padahal ada 3 orang pria di dalam satu rumah yang sama? Kemarin memang nafsu Malih memuncak melihat gadis-gadis cantik seperti Sakura, Chaewon, Yena, dan Hyewon telanjang bulat di hadapannya, bahkan dia sempat mencicipi kehangatan dari tubuh keempat gadis belia itu. Namun, rasanya kini Malih malah merasa kasihan kepada 4 bidadari itu.
Sakura mau keluar dari kamar

"ayo, Pak. kita turun...", ajak Hyewon menggandeng Malih turun ke bawah.
"oh iya, non...". Tak seperti Sakura, Hyewon mengenakan pakaiannya. Ya memang bukan pakaian yang terbilang sopan, tapi setidaknya tubuh indah Hyewon tidak dipampang begitu saja seperti Sakura. Malih cukup terkejut saat sampai di bawah. Yena, Sakura, dan Chaewon tidak memakai baju secuil pun. Mereka berlalu lalang tanpa canggung meski tak ada sehelai benang pun di tubuh mereka.
"pagi, Pak...", sapa Yena sambil tersenyum.
"pa pagi, neng...", jawab Malih agak gugup. Malih bingung sendiri. Tadi malam, kecantikan dan kemolekan tubuh ketiga dara belia itu mampu membuat tongkatnya menjadi sekeras baja, bahkan beberapa saat yang lalu, nafsu Malih begitu menggelora saat menyodomi Sakura di kamar mandi bersama Hyewon, tapi sekarang Malih sama sekali tak bernafsu, dia cenderung miris dan kasihan melihat ketiga mahasiswi 'stres' tersebut. Telanjang di depan 3 pria yang seharusnya tak dibolehkan memegang, bahkan tak boleh melihat tubuh mereka. Harusnya tubuh mereka suci, hanya boleh dipegang oleh suami mereka. Tapi, kenapa Asep dan Karjo bisa seenaknya menggerayangi tubuh mereka bertiga. Lihat saja, kedua penjaga vila yang sudah bangkotan itu bisa seenaknya menepuk pantat mereka, meremas-remas payudara mereka, bahkan bisa mengobok-ngobok kemaluan ketiga dara cantik itu tanpa perlu minta izin terlebih dahulu.


Baik Yena, Chaewon, maupun Sakura hanya tertawa kecil dan mendesah manja saat Asep atau Karjo mengusili mereka sambil terus masak dan beberes vila. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Asep dan Karjo. Kedua penjaga vila itu malah santai sambil 'mengganggu' ketiga dara cantik tersebut. Benar-benar tidak ada harganya sebagai perempuan, pikir Malih. Malih melengos saat melihat Asep sedang menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya yang masih diselubungi celana ke pantat Sakura yang telanjang sambil asik menggrepei payudara kenyal gadis bertubuh jenjang itu.
"ah Mang Asep aahh...", desah Sakura manja tapi membiarkan Asep melakukan 'dry hump' ke pantatnya sambil meneruskan memotong sayuran.
Seharusnya pemandangan seorang pria tua seperti Asep yang masih berpakaian lengkap menggesek-gesekkan selangkannya ke pantat seorang gadis cantik yang telanjang bulat seperti Sakura sanggup membangkitkan gairah siapapun, khususnya pria. Namun, Malih malah merasa sangat kasihan, baik Sakura, Yena, maupun Chaewon benar-benar sudah tak ada harganya, bahkan di mata pria tua yang seharusnya tunduk kepada mereka karena mereka majikannya. Malih merasa kalau ketiga teman majikan cantiknya itu benar-benar 'sakit'. Sakit karena ketiga dara cantik itu dengan senang hati dan tanpa paksaan sedikit pun, memperbolehkan pria-pria tua seperti Asep dan Karjo untuk meniduri mereka. Pelacur yang memang di anggap rendah oleh masyarakat pada umumnya, malah lebih 'berharga' di mata Malih. Setidaknya para pelacur melayani pria hidung belang untuk mencari uang dan menyambung hidup, sedangkan mereka bertiga? Malih memandang Hyewon, tak terbayangkan kalau majikannya yang sangat dicintainya itu akan jadi 'sakit' juga.
"ada apa, Pak ?", tanya Hyewon yang merasa diperhatikan.
"ah, nggak, non...".
"Bapak duduk aja dulu atau nonton tv. Hyewon mau bantu masak dulu yaa...".
"iya, non...". Malih lebih memilih duduk menonton tv daripada melihat Asep dan Karjo asik mengusili dara-dara cantik yang sibuk memasak. Tapi, beberapa kali Malih melihat ke arah dapur, hanya untuk mengecek Hyewon. Apakah gadis pujaannya juga diperlakukan tak senonoh oleh kedua penjaga villa tua bangka itu ?. Ternyata tidak. Hyewon selalu menghindar jika Asep atau Karjo mendekatinya. Cukup lega Malih, majikannya itu tidak 'murah' seperti ketiga temannya. Tapi, Hyewon kelihatan biasa saja bercanda dan mengobrol dengan Sakura, Yena, dan Chaewon, padahal mereka bertiga tidak mengenakan pakaian, seolah-olah sudah biasa saja bagi Hyewon.
"ayo, Pak Malih ! makan ! udah siap nih !", teriak Chaewon.
"iya, non...". 3 orang pria tua duduk dan makan bersama, semeja dengan 1 orang gadis cantik yang mengenakan pakaian dan 3 orang dara belia yang telanjang bulat.
Chaewon melongok kulkas

Pemandangan yang sangat tak biasa dan cukup aneh. Senda gurau Sakura, Yena, Chaewon, Asep, dan Karjo sepertinya tidak masuk ke hati Malih dan Hyewon. Mereka berdua saling pandang jika tak diajak ngobrol. Pandangan mata Malih mengisyaratkan kalau 'dia tak ingin berada disini'. Makan siang yang tak nyaman bagi Malih dan Hyewon pun berakhir. Malih mencari tempat sepi untuk merenung, di dalam mobil Hyewon. Malih merenungkan perbuatannya, tidak hanya perbuatan di villa, tapi juga perlakuannya kepada Hyewon semenjak kenal dengan Hyewon. Awalnya, memang Hyewon sendiri yang membujuk Malih untuk bersenggama. Tapi, selanjutnya, Malih terus menikmati tubuh gadis cantik itu tanpa memikirkan kondisinya. Meski sedang capek, depresi, sedih, ataupun sedang ada masalah, Hyewon selalu tersenyum dan memberikan kehangatan tubuhnya kepada Malih. Padahal Malih hanya supirnya yang sudah tua dan juga jelek.

Malih tahu kalau Hyewon begitu mencintainya, dan Malih pun menyayangi Hyewon. Tapi, apakah aku pantas mendapatkan non Hyewon ?, tanya hati kecil Malih. non Hyewon masih muda, cantik, kaya, dan baik, apa dia harus memberikan semua kelebihannya itu kepadaku ?. Semakin menambah rasa bersalahnya, Malih ingat kejadian tadi malam, dimana dia 'menukar' Hyewon dengan tiga bidadari yang hanya cantik luar saja. Air mata merembes keluar dari mata Malih, tega-teganya membiarkan 2 orang pria menggagahi gadis yang sudah sangat baik kepadanya hanya untuk menyetubuhi 3 gadis lainnya. Benar-benar tak tahu cara membalas budi, timpal hati Malih. Hari sudah menuju malam. Sepanjang sore dihabiskan Malih di dalam mobil. Malih memutuskan untuk kembali ke dalam villa.
"Pak Malih dari mana ? kok baru keliatan ?", sapa Asep yang sedang mengobrol dengan Karjo di teras.
"iya, Mas Asep. tadi abis ketiduran di mobil...".
"oh. Pak Malih, sini bentar...".
"iya, Mas ?".
"boleh nggak kita ngentot sama non Hyewon lagi ? hehe...kita berdua ketagihan disepong non Hyewon. muanteb banget. ya nggak Jo ?".
"iya, Pak. hehehe...apalagi meki non Hyewon. sempit 'n peret minta ampun. mesti tarik-ulur 5x baru kontol saya bisa masuk semuanya".
"gimana, Pak ?".
"....".
"ya kalau Pak Malih keberatan. kita keroyok non Hyewon aja sekalian. Pak Malih dapet memeknya, saya pantatnya, nah si Asep dapet mulutnya. gimana, Pak ?".
"MAAF !! NON Hyewon BUKAN PELACUR DAN SAYA BUKAN GERMO !!!!", Malih benar-benar geram luar biasa. Majikan tercintanya dibicarakan seperti tak ada harganya. Malih masuk ke dalam dan naik ke atas, menuju kamar Hyewon.
"Pak Malih dari...ma..na....", Sakura tak jadi bertanya. Dia memandang Hyewon dan menyuruhnya menyusul Malih dengan gerakan isyarat kepala, lalu Sakura ke teras untuk mencari tahu dari Asep dan Karjo.
"tok tok tok !!". Hyewon masuk ke dalam kamar dan melihat Malih sedang memasukkan baju mereka berdua dari lemari ke dalam koper.
"Bapak kenapa ?", tanya Hyewon, suaranya lembut.
"non...". Malih langsung memeluk Hyewon sambil mengeluarkan air mata.
"...". Hyewon diam, membiarkan Malih memeluk dan menangis.
"maaf..maafin Bapak, non...".
"ayo, Pak. kita duduk dulu....".
"ada apa sebenernya, Pak ? kenapa Bapak minta maaf ? cerita ke Hyewon...", ucap Hyewon begitu lembut.
"Bapak bener-bener minta maaf..".
"iya, maaf untuk apa ?".
"kemarin malem, Bapak nyuruh non Hyewon ngelayanin Asep dan Karjo..".
"oh itu. Bapak nggak perlu minta maaf, Hyewon nggak marah sama Bapak..", Hyewon tersenyum.
"tapi non, Bapak nyerahin non Hyewon begitu aja ke Asep dan Karjo cuma buat tidur sama temen-temen non. padahal non Hyewon ngubah nasib Bapak sampai jadi seperti ini...". Hyewon langsung memeluk supirnya itu.
"yang udah lewat, jangan di omongin lagi, Pak". Tercipta momen sunyi yang damai dan menenangkan.
"udah, Pak. nggak usah ngerasa nyesel lagi. Hyewon nggak apa-apa kok. ayo, Pak. jangan sedih lagi. biasanya kan Bapak yang nasihatin Hyewon, masa sekarang gantian sih ?", canda Hyewon untuk menyemangati Malih. Malih pun tersenyum.
Yena di dapur

"Bapak mau pulang ?".
"ah..ng..nggak jadi, non....".
"kalau Bapak mau pulang, Hyewon juga...".
"tapi, non Hyewon ninggalin temen-temen non ?".
"ah, nggak apa-apa, Pak. Hyewon juga udah bosen di sini. ayo, Pak. kita packing..".
"makasih, non...".
"sama-sama, Pak...", tutur Hyewon dengan riangnya. Benar-benar gadis yang baik dan kuat. Malih sampai merinding, dia bisa merasakan cinta Hyewon yang murni. Usai membereskan pakaian ke dalam koper, mereka pun bersiap tidur. Hyewon memeluk Malih.
"non Hyewon nggak bakal berubah kan ?".
"berubah ? maksudnya ?".
"berubah jadi kayak non Sakura, non Yena, sama non Chaewon..".
"nggak, Pak. Hyewon emang nggak suci lagi, tapi Hyewon bukan penganut sex sebebas-bebasnya kayak mereka".
"tapi kenapa non Hyewon tetep temenan sama mereka ?".
"Hyewon udah pernah cerita kan kalau Hyewon cuma pernah sex sama kakek tiri n' 1 mantan pacar Hyewon ?".
"iya, udah, non...".
"nah alesannya, semenjak bosen pacaran, Hyewon ngerasa hidup Hyewon hambar, biasa aja, pas ketemu Sakura, Chaewon, Yena jadi seru. denger mereka gonta ganti cowok. seks sana, seks sini. seru aja gitu, Pak...".
"oh begitu ya, non..".
"iya, Pak. Hyewon bersukur banget ketemu Bapak".
"lho ? kenapa emangnya, non ?".
"iya, kalau nggak ketemu Bapak, mungkin Hyewon jadi kayak mereka...".
"apa hubungannya, non ?".
"iya, Bapak udah buat Hyewon nggak ngerasa kesepian lagi. Hyewon sayang Bapak".
"Bapak juga...". Mereka berdua berciuman dengan sangat mesra, hangat, dan lembut. Bercumbu berkali-kali, tapi keduanya tak ada niat untuk merangsang. Mereka hanya ingin ermesraan sebelum akhirnya benar-benar tertidur sambil berpelukan erat. Keesokan harinya, Malih mengangkat koper dan barang bawaan lainnya.
"lho ? Won, mau kemana ?", tanya Sakura yang sekarang mengenakan pakaian.
"gue sama Pak Malih mau pulang..gue lupa ada saudara yang mau dateng ke rumah...", ujar Hyewon berbohong.
"ah nggak seru lo, Hyewon...", canda Yena.
"ya abisnya gimana dong ?".
"iya, yaudah nggak apa-apa, Won...", Sakura tahu alasan yang sebenarnya.
"Pak Malih. maaf yaa, kalau selama di sini, Pak Malih ngerasa nggak nyaman".
"Mang Asep sama Mang Karjo juga minta maaf ke Pak Malih", timpal Sakura.
"iya, non. Bapak juga minta maaf, Bapak cuma nyusahin di sini. yaudah, non, Bapak mau naro barang-barang di mobil dulu...".
"iya, Pak...". Malih kembali ke villa.
"Sakura, Chaewon, Yena. gue pulang duluan yaa", Hyewon berpamitan dengan memeluk dan cipika cipiki terhadap tiga temannya itu.



"non Sakura. Bapak pulang dulu yaa...". Tiba-tiba saja Sakura langsung mencium kedua pipi kempot Malih.
"maaf ya, Pak", ucap Sakura sambil tersenyum.
"non Yena, non Chaewon...". Yena dan Chaewon memeluk Malih.
"makasih ya, Pak".
Usai berpamitan, Hyewon dan Malih pun berangkat untuk pulang ke rumahnya. 1 bidadari telah memisahkan diri dari teman-temannya hanya karena seorang pria tua yang tidak suka dengan kelakuan teman-teman sang bidadari. Tapi, Hyewon sama sekali tidak terpaksa. Dia memang ingin pulang, dia rindu menghabiskan waktu berdua dengan Malih, supirnya yang tua namun sudah di anggap Hyewon seperti belahan jiwanya, cinta sejatinya setelah kakek tiri dan mantan pacarnya.

##################################

2 minggu berlalu, minggu depan sudah masuk semester baru. Seperti biasa, Hyewon pergi ke atm untuk mengecek rekeningnya.
"tunggu bentar ya, Pak. Hyewon cuma mau ngecek doang...".
"iya, non...". Hyewon merasa bingung, rekeningnya bertambah 26 juta. Biasanya, ayahnya mengirim uang sekitar 11 juta, 8 juta untuk bayar semester dan 3 juta untuk jajan 1 bulan. Hyewon langsung sms ayahnya.
"Pah, Papah ngirim 26 ? biasanya cuma 11 ?".
"kemana kita sekarang, non ?", tanya Malih setelah Hyewon masuk ke dalam mobil.
"hmm..kita makan aja yuk, Pak..".
"oke, non...mau makan di mana ?".
"hmm.....Hyewon lagi pengen makan spagheti nih, Pak. kita ke Pasta Cafe aja yuk, Pak...".
"oke, non...". Hyewon menyenderkan kepalanya ke pundak Malih, dia kelihatan manja sekali. Majikan yang masih belia dan sangat cantik ngelendot manja ke supirnya yang sudah tua seperti sepasang kekasih yang sedang bermanja-manjaan. Rasanya enak sekali hidup Malih saat ini, bisa bermesraan dengan gadis cantik seperti Hyewon yang tak lain adalah majikannya setiap hari. Bahkan, tak hanya bisa bermesraan, tapi Malih juga bisa berhubungan intim dengan majikannya itu kapanpun, tanpa ada yang mengganggu mereka. Sedang asiknya bermanja-manjaan, sms masuk ke hp Hyewon.
"nggak sayang, Papa cuma ngirim 11 aja. emangnya kenapa ?".
"nggak tau nih, Pah. di rekening Hyewon ada 26. mungkin salah kali, Pah...", balas sms Hyewon.
"aneh deh, Pak".
"kenapa, non ?".
"Papa bilang cuma ngirim 11, tapi di rekening Hyewon ada 26. apa salah ya ?".
"mungkin salah kali, non...".
"tapi Hyewon cek 3x lho, Pak...".
"hmm. kata non Hyewon, non Sakura sering ngirim uang ke rekening non kan ?".
"oh iya..".
"halo, Sak..".
"eh ada apa Won ?", jawab Sakura lewat telpon.
"Sak..lo ngirim uang ke rekening gue ?".
"iya. lo menang taruhan".
"ha ? taruhan apa ?".
"taruhan siapa yang paling kuat ngejalanin hidup keras...awal kita taruhan waktu itu".
"kok gue yang menang ? kan gue bilang nggak ikut taruhan itu ?".
"iya, tapi yang laen pada setuju kalo lo yang menang soalnya lo yang paling serius bantu orang lain sampe ngangkat Pak Malih jadi supir lo...".
"ah nggak ah. dari pertama gue nggak ikutan. ntar gue balikin uangnya ke lo...".
"tapi, Won....". Hyewon menutup telpon. Dia agak marah, rasanya membantu Malih jadi cuma main-main bagi ketiga temannya padahal dia tulus membantu Malih.
"ya udah, kamu urus aja ya..", sms balasan dari ayahnya.
Hyewon bersiap pulang

Sudah teman-temannya tak menganggapnya serius, ayahnya tidak terlalu peduli dengannya. Tiba-tiba Hyewon memeluk Malih. Malih tak berkata apa-apa, dia cuma mengelus-elus kepala Hyewon. Dia merasa kasihan terhadap Hyewon. Padahal Hyewon begitu sempurna, wajahnya sangat cantik, tubuhnya indah dan padat berisi, sifatnya baik, dan juga kaya, tapi dia selalu merasa kesepian dan kurang perhatian dari orang-orang terdekatnya.
"maaf, non..". Hyewon melepaskan pelukannya dan menatap mata Malih. Matanya sembab, Hyewon habis menangis tadi.
"kenapa, Pak ?".
"non Hyewon jadi makan ?".
"he emh. jadi, Pak...", ucap Hyewon tersenyum dan mengelap air matanya.
"kenapa non Hyewon nangis ?".
"Hyewon ngerasa sedih, Pak. nggak ada yang peduli sama Hyewon. semuanya nggak ada yang perhatian sama Hyewon...". Kebetulan sudah sampai di parkiran resto yang dituju, Malih bisa menatap mata Hyewon.
"maaf kalau Bapak lancang, non".
"ccpphh...mmmhhh cccpphh....", Malih mencium Hyewon.
Tentu Hyewon tidak menolak ciuman Malih, dia malah membalasnya. Gadis muda dan pria tua itu sangat meresapi ciuman mereka, bibir mereka tak henti-hentinya saling pagut dan lumat, lidah mereka saling membelit. Hyewon menutup matanya, sangat meresapi ciuman lembut Malih.
"hemmm cceepphh hhemmmhh...". Tanpa perlu melepas ciumannya, keduanya saling mencengkram tangan. Ciuman Malih yang tiba-tiba dan terkesan kurang ajar malah memberi dukungan moril ke Hyewon. Hyewon jadi merasa nyaman dan seperti tahu kalau Malih adalah seseorang yang akan memberikan perhatian dan kasih sayang yang selama ini dirindukannya. Sekitar 1 menit mereka berciuman, Malih melepas emutannya terhadap bibir Hyewon. Hyewon seperti masih terpaku dengan ciuman lembut tadi, lihat saja matanya masih terpejam dan bibirnya masih setengah terbuka.
"lagi....", lirih Hyewon pelan. Tentu tanpa pikir panjang, Malih langsung mencumbu lagi majikannya yang cantik itu.
"cepphhh hmmmhh...".
"Bapak akan selalu sayang sama non Hyewon...non Hyewon jangan sedih lagi ya..".
"makasih, Pak...", Hyewon tersenyum dengan bibirnya yang masih berlumuran air liur Malih. Si pria tua mengambil tissu dan mengelap mulut Hyewon.
"Bapak janji yaa ?".
"janji...". Mereka berdua mengaitkan kelingking mereka.
"ya udah, Pak. ayo kita masuk, Hyewon udah laper. hehe...". Hyewon membasuh mukanya karena matanya terasa tidak nyaman setelah menangis tadi. Malih dan Hyewon sadar betul kalau mereka diperhatikan orang-orang lain di dalam restoran, tapi mereka tidak terlalu mengindahkannya. Tentu saja mereka diperhatikan, seorang gadis muda kelihatan mesra dan manja sekali terhadap seorang pria tua. Karena tadi menelpon Sakura, sambil makan, Hyewon jadi memikirkan ketiga temannya yang masih di villa bersama Asep dan Karjo.



Selama 2 minggu kemarin, sama sekali tak terlintas di pikiran Hyewon tentang ketiga temannya sebab dia terlalu menikmati kebersamaannya dengan Malih. Sementara itu, Sakura sebenarnya ingin menelpon Hyewon, tapi dia urung melakukannya, mengingat alasan kenapa Hyewon dan Malih pulang. Padahal Sakura ingin bercerita bagaimana Chaewon bekerja di peternakan ayam milik teman Asep selama 3 hari, tentu saja Chaewon tak diperkenankan mengenakan pakaian selama di sana sehingga dia benar-benar jadi objek pelecehan seks para pegawai di sana. Chaewon disetubuhi di kandang ayam, dimandikan seperti ayam, bahkan tubuh Chaewon dijadikan 'nampan' makanan bagi ayam-ayam, tak heran ada beberapa lecet di tubuh Chaewon karena patokan-patokan ayam di sekujur tubuhnya, pokoknya gadis mungil itu benar-benar disiksa secara seksual oleh 4 pegawai yang bekerja di peternakan ayam itu. Tapi, Chaewon malah suka sekali dilecehkan dan disiksa secara seksual seperti itu, bahkan dia mengucapkan terima kasih ke 4 pegawai tersebut.



Chaewon di bondage

Belum lagi, cerita tentang Yena, gadis manis itu diajak berkeliling oleh Karjo dengan motor tanpa mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya di siang hari. Yena dipandangi semua orang di jalan, apalagi Karjo sengaja mengemudikan motor dengan perlahan. Sepanjang jalan, Yena berusaha menutupi payudara dan vaginanya. Banyak pengendara motor atau mobil memotret bahkan merekam tubuh telanjang Yena sambil jalan. Yena merasa malu luar biasa namun ada perasaan yang sangat menggelitik yang belum pernah dirasakannya. Belum lagi, Karjo akan berhenti dan menyuruh Yena untuk melayani setiap orang yang berani mengikuti motor mereka. Bahkan, beberapa kali ketika mereka dihentikan polisi, Karjo langsung menawarkan Yena kepada polisi untuk disenggamai. Wajah Yena yang manis dan tubuhnya yang montok dan sekal tentu tak bisa ditolak pria manapun, tak terkecuali polisi. Setiap polisi yang memberhentikan mereka malah memboyong Yena ke dalam pos polisi dan menikmati tubuh gadis manis itu sepuasnya.
ntan benar-benar seperti menjadi jablay, namun jablay berkualitas yang gratis.
Yena diboyong polisi

Sakura lebih ingin lagi bercerita kepada Hyewon tentang pengalamannya dikeroyok para supir truk dan preman yang ada di warung remang-remang. Kejadiannya baru 2 hari lalu, Asep dan Karjo membawa Sakura ke warung remang-remang yang biasa mereka datangi. Sekejap warung itu langsung terdiam dan sunyi ketika Sakura masuk ke dalam dan tak perlu waktu lama bagi Sakura untuk menjadi pusat perhatian. Dan ketika Asep dan Karjo mengumumkan kalau semua orang yang ada di situ boleh menggagahi majikan mereka itu, Sakura langsung 'digrebek' semua lelaki jelek di warung itu. Semuanya berebutan ingin meraba-raba tubuh Sakura. Tak perlu waktu lebih dari semenit, Sakura sudah bugil. Tubuh Sakura menjadi bulan-bulanan empuk bagi kerumunan pria mesum di warung itu. Sudah satu-satunya perempuan di warung itu, wajah Sakura yang cantik dan tubuhnya yang jenjang nan indah menjadi magnet kuat bagi semua pria di warung itu.


Semua pria termasuk Asep dan Karjo menggilir Sakura. Secara bergantian, semua pria di warung itu yang berjumlah sekitar 20an, menggenjot vagina, anus, dan mulut Sakura. Melampiaskan nafsu binatang mereka sepuas-puasnya ke gadis cantik, mumpung ada. Mereka semua menuntaskan hajat mereka ke tubuh Sakura sepuasnya, menyiramkan air mani ke rahim, anus, mulut, ataupun ke tubuh bidadari itu. Asep dan Karjo pun membawa pulang Sakura yang sudah pingsan dan berlumuran sperma di mana-mana setelah semua pria di warung itu puas dan tak kuat lagi. Ah, andai bisa cerita ke Hyewon, pikir Sakura karena Hyewon antusias kalau diceritakan seperti itu. Tiba-tiba ada sms masuk.
"Sakura, Chaewon, Yena. cek e-mail lo..", sms dari Hyewon. Sakura menuju komputer untuk membuka emailnya.
Sakura ketika membuka email


"Dear Sakura, Yena, and Chaewon..
sori gue nggak bisa ngomong langsung atau lewat telpon. gue cuma bisa ngomong lewat e-mail.
Duit lo bertiga udah gue balikin ke rekening lo masing-masing. Maaf, gue nggak bisa nerima.
Gue ngerasa gue nggak pernah main-main ngebantu Pak Malih. Jadi gue nggak bisa nerima uang lo semua.
Setelah kenal sama Pak Malih, gue ngerasa cocok n' rasanya Pak Malih itu jodoh gue. Gue bener-bener cinta n' sayang sama Pak Malih. Gue nggak mungkin ngelanjutin gila-gilaan sama lo bertiga karena gue nggak mau ngecewain Pak Malih.
Gue juga mau bilang, apa lo nggak sedih sama keadaan lo sekarang ? lo bertiga terlalu bebas biarin cowok make lo. Akibatnya, lo jadi nggak ada harganya, bahkan di mata Mang Asep sama Mang Karjo. Apa lo semua mau begitu terus sampai lo tua nanti ?. Tolong pikirin apa yang gue omongin.
Maaf kalau gue nggak bisa temenan lagi sama lo bertiga. Mungkin nanti kita bisa sama-sama lagi kalau udah punya keluarga masing-masing.
Makasih udah mau jadi teman gue yang ngertiin gue.
Sekali lagi, maaf.

Hyewon".

Yena, Sakura, dan Chaewon langsung terdiam membaca e-mail dari Hyewon. Sementara itu, setelah mengirim e-mail, Hyewon membuka kimononya. Dia naik ke atas tempat tidur dimana Malih sudah menunggunya. Kedua insan berbeda generasi namun saling mencintai itu sudah sama-sama telanjang bulat. Mereka berdua bercumbu penuh gairah, tangan mereka saling menjamah tubuh satu sama lain. Hyewon dan Malih bisa bergumul dengan bebas karena memang cuma ada mereka berdua. Nafsu mereka begitu menggelora, mereka bergumul sangat panas dan mereka juga sempat bermain gulat dan saling piting.

Hyewon dan Malih terus ngesex setiap hari

Pokoknya, mereka berdua benar-benar menghabiskan waktu mereka sebaik-baiknya. Bagi Hyewon, penis Malih adalah suatu barang 'berharga', terlihat dari cara ia sangat menikmatinya saat mengulum kemaluan pria tua itu. Dan Hyewon juga tak sabar ingin mengandung buah cintanya bersama Malih. Hyewon dan Malih, walau mereka berdua berbeda generasi, mereka menjadi pasangan yang sangat serasi. Kadang pemenang tak harus memenangkan sesuatu, malah terkadang orang yang kehilangan adalah seorang pemenang. Hyewon berani berbicara ke tiga temannya walau kenyataan yang dibicarakannya sangat menyakitkan dan harus memutuskan persahabatannya, itulah sifat seorang pemenang, berani mengambil keputusan tepat meski harus kehilangan orang-orang yang disayang.

Tamat

Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya