Holiday’s Challenge 3: Chaewon, si Gadis Peternak

 


Berbeda dengan 3 temannya, Chewon sudah menentukan pekerjaan apa yang akan dicobanya. Dari dulu, dia ingin sekali menjadi peternak karena dia memang suka sekali dengan boneka sapi yang lucu-lucu. Di dalam kamarnya, mungkin ada lebih dari 10 boneka sapi dengan berbagai ukuran.


 
“tok tok tok !!”.

 
“Bi Inah yaa ?”.

 
“iyaa non…”.

 
“masuk, Bi…”.

 
“ini susunya, non…”.

 
“waah…asiiik…”. Chewon langsung meneguk habis segelas susu yang dibawa Bi Inah.

 
Chewon sangat suka minum susu, tapi anehnya badannya tidak bertambah tinggi. Dibandingkan dengan 3 temannya pun, Chewon lah yang paling mungil dan imut-imut namun badannya benar-benar sekal dan begitu padat berisi. Chewon adalah anak satu-satunya dari kedua orang tuanya, tak heran kalau dia agak manja karena selalu dimanja kedua orang tuanya. Keluarga Chewon adalah keluarga yang harmonis dan sangat berada. Chewon mendapatkan kehangatan dan kasih sayang dari kecil, tapi semuanya berubah saat ayahnya meninggal dunia karena penyakit jantung. Waktu itu, Chewon baru kelas 1 SMA, awalnya Chewon berubah dari periang menjadi pendiam. Tapi, Ibunya yang sama-sama sedih, berhasil menyemangati Chewon sehingga lama kelamaan Chewon kembali periang. Chewon kesepian sekali saat ibunya harus menggantikan peran ayahnya sebagai direktur utama sebuah perusahaan sehingga otomatis ibunya menjadi super sibuk dan sering ke luar negeri. Di saat itulah Chewon terjerumus ke dalam lembaran hitam dari kehidupan seorang wanita. Chewon yang memang polos berhasil diperdaya oleh guru olahraganya sehingga keperawanannya pun terenggut. Kejadian itu membangkitkan ‘sesuatu’ yang ada di dalam diri Chewon. Sesuatu yang benar-benar liar dan nakal yang sebenarnya tak akan mungkin ada di dalam diri seorang gadis yang manja dan polos seperti Chewon. Sejak itu, sisi gelap Chewon semakin menguasainya tapi sama sekali tak mempengaruhi sifatnya.

 
“non Chewon mau kemana ?!”, tanya Bi Inah yang kaget setelah mendengar mesin mobil.

 
“Chewon mau jalan-jalan…”.

 
“jangan non…nanti kalo ibu tau..bisa marah..”.

 
“biarin…”.

 
Chewon pun langsung melaju pergi dengan mobilnya.

 
“yeey !!!”, teriak Chewon lepas dan merasa sangat senang berhasil keluar dari rumahnya. Chewon pun mencari-cari secarik kertas yang berisi sebuah alamat.

 
Alamat yang di dapat Chewon dari seorang penjual kambing di Jakarta. Chewon pun menuju alamat tersebut yang merupakan alamat dari orang yang katanya memiliki peternakan. Lumayan jauh juga perjalanan yang ditempuh gadis imut itu, tapi sekarang dia sudah sampai di perbatasan desa. Chewon pun membuka jendela.

 
“hemmhh…enak udaranya”, ujar Chewon sambil menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati segarnya udara pedesaan yang tak terkontaminasi oleh asap kendaraan.

 
“permisi, Pak…”, sapa Chewon melihat seorang bapak yang berjalan di pinggir.

 
“ada apa, neng ?”. Bapak itu agak terkejut setelah melihat wajah cantik Chewon.

 
“saya mau numpang nanya..Bapak tau alamat ini nggak ?”, dengan nada suaranya yang manja.

 
“oh ini mah rumahnya Bapak Jali…”.

 
“kalo dari sini gimana, Pak ? masih jauh nggak ?”.

 
“nggak terlalu jauh, neng..tinggal lurus aja…”.

 
“makasih yaa, Pak…”.

 
“sama-sama, neng…”. Tak sampai 5 menit, Chewon sampai di rumah yang ada bangunan-bangunan seperti kandang. Chewon pun keluar dari mobil.

 
“hst..hst…”. Beberapa orang laki-laki saling memanggil satu sama lain dengan bahasa isyarat. Semuanya pun memandangi Chewon yang berjalan ke arah Jali.

 
“ckck…cakep banget..”, hampir semua lelaki yang memandangi Chewon berdecak kagum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sisanya, memandangi Chewon dengan pikiran-pikiran jorok dengan tonjolan yang segera muncul di celana mereka.

 
“permisi, Pak…”.

 
“iya, neng ? ada keperluan apa ya ?”.

 
“saya mau ketemu Bapak Jali..dimana yaa ?”.

 
“oh, saya Pak Jali…ada perlu apa neng cari saya ?”.

 
“begini, Pak…”.

 
“sebentar neng..kita ngobrol di teras aja…mari, neng…”.

 
“iya, Pak…”. Chewon pun mengikuti Jali ke teras rumahnya.

 
“jadi, neng ini namanya siapa ? kok bisa tahu nama saya ?”.

 
“oh iyaa..nama saya Chaewon, Pak..”.

 
Jali pun menyambut tangan Chewon yang putih nan mulus itu. Alus banget tangannya nih cewek, ujar Jali dalam hati.

 
“jadi neng Chaewon ini ada keperluan apa ? kok neng Chaewon bisa tahu rumah saya ?”.

 
“mm…maaf, Pak…panggil saya neng Chewon aja..”.

 
“oh iya, neng Chewon..”.

 
“jadi gini, Pak…saya tau alamat Bapak dari penjual kambing di Jakarta, Pak…”.

 
“he emh..terus ?”.

 
“saya mau tahu caranya ternakkin hewan ternak, Pak…”.

 
“ouh begitu..”. Ada seorang wanita keluar dari dalam rumah.

 
“ada tamu ?”.

 
“permisi, Bu…”, Chewon pun berdiri dan menjabat tangan wanita itu.

 
“neng ini siapa ya ?”.

 
“saya Chewon..”.

 
“neng Chewon..ini istri saya, namanya Nunung..”.

 
“neng Chewon ada perlu apa yaa ?”.

 
“saya mau belajar ternakkin sapi dan kambing, Bu…”.

 
“ooh…”.

 
Meski agak polos, Chewon tahu kalau Nunung cemburu dengannya. Bagaimana tidak cemburu, wajah Chewon begitu cantik nan imut. Postur tubuhnya yang mungil didukung wajah imutnya memang tak diragukan lagi, Chewon bisa membuat laki-laki gemes dan gregetan terhadapnya.

 
“kalo boleh tau, rumah Pak RT dimana ya, Pak ?”, tanya Chewon.

 
“saya Pak RT, neng…”.

 
“oh..Bapak..Pak RT di sini ?”.

 
“iya, neng…kenapa neng Chewon ?”.

 
“saya…”. Belum selesai Chewon berbicara, ada seorang pria.

 
“permisi, Pak…maav saya telat..tadi saya ada urusan…”.

 
“iye gak ape-ape, Yib…”.

 
“lho ? Bapak ?”.

 
“eh neng…”.

 
“neng Chewon kenal ama Toyib ?”.

 
“tadi saya nanya ke Bapak ini…”.

 
“kebetulan banget nih ada si Toyib..”.

 
“kenapa, Pak ?”.

 
“ini neng Chewon mau belajar cara ternak…tolong di ajak ngiter, Yib…”, Jali sedikit melirik wajah istrinya yang kelihatan bt sehingga tak berani mengajukan diri untuk mengajak Chewon berkeliling.

 
“ayo neng Chewon…”.

 
“mari, Pak, Bu…”. Chewon pun berkeliling dengan dipandu Toyib. Chewon pun diajak berkenalan oleh pekerja lainnya.

 
“nah ini kandang sapi, neng…”.

 
“iih mana mana sapinya ?”.

 
“kok beda sii ?”.

 
“ha ? beda apanya, neng ?”.

 
“beda sama ini…”, Chewon menunjukkan hpnya yang ada gambar kartun sapi.

 
“hahaha…ya beda lah, neng..sapi dimana-mana yaa kayak gini, neng…”, Toyib tertawa geli.

 
Tapi, ia merasa bingung juga. Masa iya, cewek cakep gini polos n’ lugu kayak anak kecil, pikir Toyib. Chewon pun diajak melihat kandang ayam dan juga kandang kambing.

 
“neng Chewon nggak pulang ? udah sore ?”.

 
“rumah saya jauh, Pak…n’ kayaknya saya belum dapet apa-apa, Pak…”.

 
“lho ? terus ? neng Chewon mau nginep gitu ?”.

 
“iyaa, tadinya saya mau nginep di rumah Pak Jali..tapi kayaknya Bu Nunung cemburu..bisa-bisa perang dunia tiga ntar…hihi..”.

 
“haha..Ibu Nunung emang cemburuan, neng…”.

 
“oh gitu yaa, Pak..”.

 
“terus neng Chewon gimana ?”.

 
“nggak tau nih, Pak…saya juga bingung..”.

 
“ng…kalo neng mau..neng bisa nginep di rumah saya..”.

 
“di rumah Bapak ?”.

 
“tapi kalo neng gak yakin sama saya juga gak apa-apa…”.

 
“gak yakin ? maksudnya ?”.

 
“kalo neng Chewon takut di apa-apain ama saya ntar saya tanyain temen saya yang lain..”.

 
“saya sii nggak takut..Bapak orangnya baik..tapi istri Bapak nanti marah nggak ?”.

 
“saya udah cerai 5 bulan yang lalu, neng…”.

 
“maaf, Pak…saya nggak tau…”.

 
“nggak apa-apa neng…jadi gimana, neng ?”.

 
“mm…boleh deh, Pak…maaf kalo nanti saya ngerepotin..”.

 
“tenang aja, neng…”. Bagai gayung bersambut, Toyib merasa senang sekali. Serumah dengan cewek cantik, seperti mimpi rasanya. Sedari tadi, mata Toyib tak henti-hentinya memandangi kemulusan kulit Chewon. Hanya dengan dilihat, Toyib bisa membayangkan betapa mulusnya dan betapa halusnya kulit Chewon yang putih seperti susu itu. Chewon dan Toyib pun kembali ke rumah Jali.



 
“gimana, neng Chewon ?”.

 
“Pak Toyib sih banyak ngejelasin, tapi sayanya masih kurang ngerti..hehe..”.

 
“oh..Toyib emang yang paling tau peternakan saya..soalnya dia yang pertama kali kerja sama saya..”.

 
“oh gitu yaa, Pak…”.

 
“terus neng Chewon mau ke sini lagi besok ?”.

 
“nng..gini, Pak…saya mau nginep di rumah Pak Toyib…rumah saya jauh dari sini…lagian saya capek bolak balik, Pak…”.

 
“apa neng Chewon gak takut nginep di rumah Toyib ? cuma berdua sama Toyib ?”.

 
Pertanyaan yang tidak sengaja terlontar dari mulut Jali itu semakin menegaskan kalau bandot tua itu tak rela Chewon menginap di rumah Toyib.

 
“saya nggak takut, Pak…Pak Toyib orangnya baik banget…”, puji Chewon sambil memandang ke arah Toyib dan tersenyum.

 
“oh yaudah kalo gitu…”. Jali menatap Toyib dengan pandangan mata penuh rasa iri, sementara pandangan mata Toyib bersinar-sinar seperti orang yang menjuarai perlombaan dan mendapatkan hadiah yang istimewa.

 
“kalo gitu..saya ama Pak Toyib pulang dulu yaa, Pak…”, izin Chewon.

 
“bentar, neng…”. Jali masuk ke dalam rumah dan sebentar langsung keluar lagi dengan secarik kertas di tangannya.

 
“ini nomer telpon Bapak, neng…kalo neng Chewon mau nanya atau minta tolong..langsung telpon aja yaa, neng…”.

 
“okee deh, Pak…beres..”. Dasar bandot maruk, udah punya bini cakep masih aje ngincer daon muda, ujar Toyib dalam hati.

 
Pertama kali melihatnya, Toyib langsung kesemsem dengan Chewon. Toyib tak pernah membayangkan akan bertemu dengan wanita yang imut-imut dan begitu menggemaskan. Wajah Chewon sangat sedap dilihat, tentu tak akan bosan dipandangi seharian. Tapi, yang paling menarik perhatian Toyib adalah warna kulit Chewon. Begitu putih merona bagai mutiara dan terlihat sangat halus dan sangat mulus, tak ada luka atau lecet sedikit pun.

 
Bagi Toyib, Chewon benar-benar bibit unggul, kandidat yang paling tepat untuk memperbaiki keturunan. Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Baru kali ini, Toyib naik mobil mewah seperti mobil milik Chewon. Biasanya Toyib hanya naik angkot, atau paling keren, naik taksi, belum pernah pria tua itu naik mobil mewah. Joknya terasa lembut dan nyaman, aroma mobil pun harum dan membuat rileks, acnya pun sejuk sekali.

 
“rumah Bapak lewat mana nih, Pak ?”.

 
“luruuus aja, neng…ntar kalo ada belokan, saya kasih tau..”.

 
“oke, Pak…”.

 
“neng, saya boleh nanya nggak ?”.

 
“mau nanya apa, Pak ?”.

 
“neng Chewon kenapa mau belajar ternak ?”.

 
“yaa sebenernyaa sii awalnyaa mau ngerjain tugas dosen aja, Pak…tapi denger penjelasan Pak Toyib tadi..Chewon jadi tertarik juga..”.

 
“oh gitu…”.

 
“eh maaf Pak…tadi saya gak sopan…bahasain diri pake nama…”.

 
“nggak apa-apa kok, neng..”.

 
“saya kebiasaan kalo udah ngerasa deket sama orang..suka pake nama..”. Udah cantik, imut-imut, baik, sopan, n’ kaya, benar-benar cewek sempurna, pikir Toyib.

 
“gak apa-apa, neng…justru kerasa lebih deket..hehe..”.

 
“hmm…oh iyaa yaa..ngomong-ngomong Pak Toyib udah berapa lama kerja sama Pak Jali ?”.

 
“pertama mulai kerja sih umur 38..jadi kira-kira udah 5 tahunan lha, neng…”.

 
“wah lama juga yaa…kalo gitu umur Bapak 43 yaa sekarang ?”.

 
“iyaa, neng…kalo neng Chewon umurnya berapa ?”.

 
“Chewon baru mau 20, Pak..hehe”.

 
“oh baru 20…pantes masih imut-imut…”, rayuan kampung Toyib pun mulai keluar.

 
“iih Pak Toyib bisaa aja nih..”, balas Chewon dengan nada manja dan mencubit lengan Toyib.

 
“hehe..”. Toyib merasa berbunga-bunga karena Chewon tak marah digoda olehnya.

 
“nah di depan belok kanan, neng..”.

 
“nah rumah saya yang itu tuh, neng…”.

 
“oh yang itu yaa ? mobil Chewon parkir dimana nih, Pak ?”.

 
“hmm…di situ aja neng..”. Setelah mobilnya terparkir, Chewon pun mengikuti Toyib masuk ke dalam rumah.

 
“maaf neng, rumah saya kecil n’ berantakan…”.

 
“gak apa-apa, Pak…Chewon malah suka rumah kecil kok…”.

 
“bagus kalo gitu, neng..hehe..oh iyaa, neng…di sini kamar neng Chewon..”. Sebuah kamar yang rapih dan cukup bersih untuk seorang pria yang tinggal sendirian. Ada sebuah ranjang cukup besar dengan kelambu di atasnya seperti model ranjang favorit untuk pengantin dan sebuah lemari besar di pojok kamar.

 

 

Toyib
 “wah..kamarnya rapih…”.

 
“iya dong, neng..hehe…kan kamar ini kamar saya…”.

 
“lho ? terus ntar Pak Toyib tidur di mana ?”.

 
“yaa…saya mah gampang, tidur di luar juga bisa..”.

 
“tapi tetep di dalem rumah kan ?”.

 
“iya lha, neng…”.

 
Toyib pun keluar dari kamar. Chewon langsung merapikan pakaiannya ke dalam lemari.

 
“neng Chewon mau makan apa ?”, tanya Toyib ke Chewon yang baru keluar kamar.

 
“hmm…Chewon mau fried chickenn…”.

 
“apa neng? prait..prait ciken ? apa tuh, neng ?”.

 
“emm…ayam goreng yang di tepungin itu lho, Pak ?”.

 
“aduh saya gak tau, neng…tapi kalo ayam goreng biasa sih ada yang jual deket sini…”.

 
“gak apa-apa deh, Pak…ini, Pak uangnya…”.

 
“gak usah, neng…”.

 
“masa Chewon udah ngerepotin Pak Toyib, makan di bayarin juga…”. Chewon memaksa Toyib menerima uangnya.

 
“hmm..yaudah deh, neng..saya beli ayam gorengnya dulu ya neng..”.

 
“oke, Pak…”. Toyib kembali dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Toyib dan Chewon pun makan bersama sambil bercanda dan bersenda gurau. Toyib semakin kesemsem dengan si gadis imut yang ada di hadapannya. Enak sekali ngobrol dengan Chewon yang periang dan mudah tertawa. Tawa renyah Chewon membuat suasana rumah Toyib menjadi hangat. Sudah 5 bulan, rasa sepi dan dingin selalu terasa ketika Toyib pulang ke rumahnya sendiri. Jadi, tak heran kalau Toyib senang sekali dengan kehadiran Chewon.

 
“kamar mandinya dimana, Pak ?”.

 
“ayo ikutin saya, neng…”.

 
“iyaa, Pak…”.

 
“nah ini kamar mandinya, neng…”. Toyib pun meninggalkan Chewon di dalam kamar mandi dan kembali menonton tv kecilnya.

 
“Pak..Chewon tidur duluan yaa…”.

 
“iya, neng…”, jawab Toyib.

 
*******************

 
Keesokan harinya.
“hooaahhmm…eennggg !!!”, Chewon ngulet meregangkan otot-otot tubuhnya.

 
“hemm…”, Chewon menikmati segarnya udara pedesaan di pagi hari setelah membuka jendela. Chewon keluar dari kamar, Toyib pas sekali mau keluar rumah.

 
“Pak Toyib ! mau kemana ?”.

 
“eh neng Chewon udah bangun…”.

 
“iyaa, Pak…Chewon baru bangun nih…Pak Toyib mau kemana sih ?”.

 
“saya mau ke rumah Pak Jali, neng…”.

 
“kok Pak Toyib nggak bangunin Chewon sih ?”.

 
“tadi saya mau bangunin…tapi neng Chewon keliatan pules banget…makanya saya nggak enak mau bangunin neng Chewon…”.

 
“oh..yaudah, Pak Toyib tunggu sebentar yaa..Chewon mau ganti baju dulu kalo gitu…”.

 
“oke, neng…”.

 
Sambil menunggu Chewon kembali, Toyib pun berandai-andai. Pria tua itu membayangkan kalau dia berhasil mendekati Chewon untuk mau menjadi istrinya. Terbayang oleh Toyib akan kehidupan yang sangat indah jika berhasil memperistri Chewon. Pertama, tentu kehidupannya tak akan sesulit sekarang yang harus bekerja keras membanting tulang untuk kehidupan sehari-hari karena pasti dibantu oleh Chewon. Kedua, dan yang paling penting adalah memiliki istri dengan wajah begitu cantik dan imut ditambah tubuh yang sintal dan padat pasti akan membuat betah jika di rumah.

 
“kyuut…”, lama kelamaan tonjolan di celana Toyib pun semakin terlihat sebab Toyib sedang membayangkan jika menjadi suami Chewon, dia akan menyuruh Chewon untuk mengenakan daster transparan setiap harinya atau malah akan melarang Chewon mengenakan apapun jika di rumah mereka nanti agar bisa memandangi tubuh Chewon yang putih mulus.

 
“Pak Toyib ?”.

 
“e e eh neng Chewon udah selesai…”, Toyib langsung berdiri supaya Chewon tidak melihat tonjolan di celananya karena sedang ngaceng berat.

 
“ayo, Pak Toyib…kita ke tempat Pak Jali…”.

 
“ayo, neng…”. Chewon memakai kaos hitam dan celana pendek sepaha, 6 cm di atas lututnya.

 
Betis dan sedikit paha Chewon yang putih mulus sekarang bisa terlihat. buset, ni cewek emang bener-bener bening, pikir Toyib. Di dalam mobil, Toyib dan Chewon pun bercengkrama dengan hangatnya seperti keluarga.

 
“nih, neng..pake ini aja…kalo kotor kan gak apa-apa…”. Chewon melepaskan sandalnya dan mengenakan sepatu boot yang diberikan Toyib. Lucu kelihatannya, sepatu boot terlihat kebesaran ketika dipakai Chewon.

 
“ayo neng, kita ke kandang ayam dulu…”.

 
“yuuk…”. Toyib pun mengajari Chewon untuk mengganti air minum dan menyebarkan makanan ayam. Selain itu, Chewon pun belajar cara mengambil telur ayam dan menentukan mana yang baik untuk ditetaskan dan mana telur yang bisa dijual.

 
“sekarang ke kandang mbek yaa, Pak ?”.

 
“iya, neng…”. Mereka berdua masuk ke dalam kandang kambing. Ada sekitar 2 orang pria yang sedang memberi makan kambing.

 
“eh ada neng Chewon…”, goda salah satu pria.

 
“eh Pak Wawan…lagi ngasih makan mbek yaa ?”.

 
“iyaa nih neng Chewon…mau coba kasih makan gak, neng ?”.

 
“boleh juga, Pak…”.

 
“nih neng…”. Wawan menyerahkan rumput yang sedang digenggamnya.

 
“mbeknya nggak gigit kan, Pak ?”.

 
“nggak lah, neng…nggak tega ngegigit neng…hehe..”.

 
“bisa aja nih, Pak Wawan…”.

 
“aww…”, Wawan teriak kecil saat Chewon mencubit perutnya.

 
Wawan jadi semakin gemas saja dengan kelakuan gadis imut ini, meski hanya dicubit Chewon, batang Wawan bereaksi. Dengan perlahan, Chewon menjulurkan rumput yang di genggamnya ke mulut kambing yang langsung disambar kambing itu.

 
“ehhh…ampir aja…”, Chewon refleks menarik tangannya takut di sambar kambing itu.

 
“tenang aja, neng…ga bakal digigit kok…”. Chewon pun memberanikan diri dan akhirnya tenang setelah berhasil mengelus-elus kepala si kambing.

 
“Pak Sani lagi ngapain ?”, sapa Chewon dari belakang dan memegang kedua bahu Sani.

 
“ini neng..lagi merah susu kambing…”.

 
“susu kambing rasanya gimana sih, Pak ?”.

 
“neng Chewon mau nyobain ? nih, neng..”. Chewon mengambil gelas plastik yang diberikan Sani.

 
“iih…aneh Pak rasanya..anyeep..”, komentar Chewon manja.

 
“haha..yaa emang gitu rasanya, neng…anyep tapi lebih sehat lho, neng daripada susu sapi…”.

 
“emang iyaa ya, Pak ?”.

 
“iya neng…kalo abis minum susu kambing..badan neng Chewon pasti lebih seger rasanya…”.

 
“oh gitu yaa, Pak…”.

 
“makanya, neng…abisin susunya…”.

 
“iyaa deh, Pak…”.

 
“hahaha…”. Sani pun tertawa geli melihat tingkah polah Chewon yang memencet hidungnya dan memejamkan matanya bagai orang minum jamu saja. Usai dari kandang kambing, Chewon dan Toyib pun pergi ke kandang sapi. 3 orang pekerja pun langsung menggoda Chewon. Kapan lagi bisa bercanda dan menggoda cewek cantik di kandang sapi, udah gitu ceweknya gak marah digodain, gampang ketawa, bikin tambah gemes aja, semua itu dirasakan oleh 3 orang pria yang ada di kandang sapi.

 
“neng Chewon mau belajar caranya merah susu sapi gak ?”.

 
“wah mau mau mau mau, Pak…”.

 
“sini, neng…perhatiin saya..”. Toyib pun mencolek sesuatu yang berwarna kuning di gelas plastik.

 
Toyib mengolesi kedua tangannya dengan sesuatu yang berwarna kuning.

 
“Pak…itu apa sii ?”.

 
“ini mentega, neng…”.

 
“mentega buat apa, Pak ?”.

 
“supaya licin, neng..jadinya sapinya gak ngerasa sakit..soalnya kalo dia sakit..gak mau ngeluarin susu…”.

 
“oh gitu yaa, Pak…”.

 
“nah neng Chewon sekarang perhatiin…neng megangnya di sini…abis itu remes pelan-pelan sambil diurut ke bawah kayak gini, neng…”. Begitu Toyib mengurut, susu langsung terpancar menuju ember yang ada di bawah perut sapi itu. Toyib pun mencontohkan beberapa kali.

 
“sini, Pak…Chewon mauu cobaa…”. Toyib pun digantikan Chewon duduk di dingklik. Chewon melumuri kedua tangannya dengan mentega seperti yang dilakukan Toyib tadi.

 
“dari sini yaa ?”.

 
“agak ke atas neng…”.

 
“di sini ?”.

 
“iya di situ, neng…sekarang neng coba remes sambil di urut ke bawah pelan-pelan…”.

 
“mooo !!!”, tiba-tiba si sapi agak meloncat. Chewon yang kaget langsung terjungkang ke belakang.

 
“aduuwwhhh, sakiit…”.

 
“neng Chewon gak apa-apa ?”.

 
“gak apa-apa kok, Pak…”, ujar Chewon membersihkan kedua sikunya yang kotor.

 
“kok sapinya ngamuk sii, Pak ?”.

 
“neng Chewon kekencangan kali…”.

 
“iyaa kali yaa..Chewon coba lagi deh..”. Dengan lebih hati-hati, Chewon pun lancar memerah susu sapi bahkan sampai embernya penuh.

 
“asiik juga yaa merah susu sapi..hihihi…”.

 
“wah neng Chewon ada bakat jadi tukang perah susu nih kayaknya..”.

 
“pokoknya kalo ada sapi yang mau diperah..panggil Chewon aja yaa..hihihi…”.

 
“tapi neng Chewon bisa diperah juga gak ? hehe…”, celoteh jorok keluar dari mulut Maman.

 
“iih Pak Maman…masa Chewon mau diperah juga ? emangnya Chewon sapi…wee…”, balas Chewon sambil memeletkan lidahnya. Chewon benar-benar membawa suasana baru bagi para pekerja di tempat Jali sehingga mereka semua jadi giat bekerja. Selain jadi pemandangan indah untuk cuci mata, Chewon enak sekali di ajak ngobrol karena Chewon tidak marah malah menanggapi candaan-candaan para pekerja yang cenderung jorok dan vulgar, tapi Chewon masih menjaga jarak dengan semuanya, tak mau terjadi apa-apa.

 
“semuanya, Chewon pulang dulu yaa…”.

 
“iyaa neng…”.

 
“makasi udah ngajarin Chewon yaa…”.

 
“sama-sama, neng…”.

 
“ati-ati, neng Chewon…”. Chewon dan Toyib pun kembali ke rumah dan makan malam.

 
“uunnghh !! pegeell !!!”.

 
“capek ya, neng ?”.

 
“iyaa nih, Pak…capek bangeet…Chewon mau ganti pakean dulu deh..abis ituu..tiduuurr !!”.

 
“Pak Toyib…Chewon tidur duluan yaa…”.

 
“iyaa neng…”.

 
Chewon terlelap dalam kelelahan. Sementara itu, pintu kamar terbuka dan ada yang masuk ke dalam kamar.

 
“mm ??”. Meski kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya, Chewon merasa aneh. Kedua kakinya terasa terbuka lebar tapi tak bisa digerakkan, begitu juga dengan kedua tangannya. Dan ada sesuatu di dalam mulutnya. Chewon pun membuka matanya dan mendapati dirinya telah terikat ke ranjang seperti huruf X. Dan ada kain yang menyumpal mulutnya.

 
“eh neng Chewon udah bangun…”.

 
Chewon melihat pria masuk ke dalam kamarnya. Ternyata yang melakukan semua ini tak lain dan tak bukan adalah Toyib.

 
“dari tadi di tungguin akhirnya bangun juga..hehe..”.

 
“emph mmphh !!!”. Chewon kelihatan ingin berbicara sesuatu, tapi tentu tak bisa karena tersumpal kain.

 
“neng Chewon gak usah ngomong..nikmatin aja haha !!”. Toyib mengeluarkan gunting dari saku celananya.

 
“ssrtt srrt srrtt”, bunyi kain yang sedang digunting. Toyib menggunting piyama yang dikenakan Chewon mulai dari lubang lehernya terus turun sampai ke celana dalam satu garis lurus. Pakaian Chewon pun terbelah jadi dua, kiri dan kanan. Bagai orang yang mendapat gaji pertama, jantung Toyib berdetak cepat, merasa gugup dan deg-degan sekaligus tak sabar ingin melihat apa yang ada di dalam pakaian Chewon yang kemarin-kemarin hanya bisa dibayangkan dalam pikirannya yang kotor. Toyib menyibakkan baju Chewon ke kanan dan ke kiri. Mata Toyib pun terbuka lebar.

 
“gllkk…”, Toyib menelan ludahnya sendiri melihat kemulusan kulit Chewon.

 
Hanya dengan melihat perut Chewon yang rata dan payudaranya yang masih terbungkus bra, ‘adik’ Toyib sudah mencuat ke atas, membuat tonjolan di celananya.



 
Toyib pun mengelus-elus dan membelai perut Chewon.

 
“neng Chewon…kulitnya alus banget…”, Toyib pun mencubiti kecil-kecil perut Chewon saking gemasnya. Tubuh Chewon begitu mulus dan begitu harum. Bagai kue yang baru diangkat dari oven, tubuh Chewon terlihat sangat ‘segar’ dan kelihatan begitu ‘lezat’ untuk disantap.

 
“cupph cuphh cuuphh…”, Toyib menciumi perut Chewon terus menerus sebelum mulai menjilatinya.

 
Pusar Chewon pun dicolok-colok Toyib dengan lidahnya. Banyak waktu yang dimiliki Toyib membuat pria tua itu ingin menikmati ‘kelezatan’ dari setiap jengkal tubuh Chewon secara perlahan. Toyib pun melangkah ke tahap selanjutnya, dia menggunting tali bh Chewon di kedua sisi. Toyib pun dag dig dug lagi, penasaran ingin tahu bagaimana bentuk payudara dari seorang gadis imut. Toyib langsung melongo, matanya terbuka lebar, air liur hampir menetes keluar. Kemasan susu terindah yang pernah Toyib lihat seumur hidupnya. Chewon hanya bisa pasrah, kedua buah payudaranya menjadi tontonan Toyib.

 Gumpalan daging kembar yang sangat indah. Bentuknya benar-benar bulat sempurna, terlihat penuh berisi dan sangat kencang, putih mulus, dan yang sangat mengundang birahi adalah pucuk payudaranya yang berwarna pink agak pucat, sangat serasi dengan kulitnya. Tanpa ragu-ragu, Toyib langsung mencengkram kedua buah payudara yang sangat mengundang birahi itu. Toyib meremasi gunung kembar Chewon dengan kasar, semakin lama semakin kencang remasannya karena pria tua itu sangat gemas dengan keempukan, kekenyalan, dan kelembutan payudara Chewon.

 
“hmmffhh !!”, ekspresi Chewon menunjukkan orang yang sedang meringis kesakitan.

 
Toyib pun memainkan kedua puting Chewon, memencet-mencet, menarik-nari, dan memilin-milin ‘tutup’ kemasan susu Chewon. Ekspresi wajah Chewon pun berubah menjadi ekspresi nikmat. Tapi, ekspresi Chewon segera berubah lagi saat Toyib menyentil putingnya yang sudah keras dengan sangat kencang. Toyib terus menyentil kedua puting Chewon bergantian. Tubuh Chewon hanya bisa berkedut-kedut merasakan sakit.

 
“happhh !! nyymmhh !!”, Toyib langsung menyantap payudara kanan Chewon. Toyib mengemuti puting Chewon yang kenyal, menghisap dan menyedot kuat-kuat bagai bayi yang sedang lapar-laparnya.

 
“mmffhh…”. Kedua pucuk payudara Chewon dikunyah terus oleh Toyib. Kadang digigit kencang oleh Toyib lalu ditarik-tarik ke atas.



 
“cuuupphhh !! cuuupphhh !!”, Toyib pun mencupangi kedua buah payudara Chewon. Kulit payudara Chewon pun langsung kelihatan memerah di beberapa titik yang habis dicupang Toyib. Toyib tersenyum senang, dia telah berhasil membuat tanda di payudara Chewon yang menggiurkan itu.

 
“PLAAKK !!!”, sebuah tamparan sangat kencang mendarat di payudara kanan Chewon. Ekspresi wajah Chewon berubah seketika, menahan rasa pedih dan ‘panas’ di payudara kanannya.

 
“PLAAKK !!!”, payudara kiri Chewon pun ditampar kencang juga oleh Toyib yang kelihatan begitu puas melihat Chewon yang terlihat kesakitan.

 
Chewon pun tak berdaya merasakan pedih karena Toyib terus menampari kedua susunya. Gumpalan daging Chewon yang tadinya begitu putih mulus kini berubah menjadi kemerah-merahan bekas tamparan dari Toyib. Toyib mencupangi leher, lengan, dan belahan dada serta perut Chewon karena pria tua itu ingin membuat tanda di sekujur tubuh indah Chewon. Ketiak Chewon pun tak luput dari Toyib. Ketika ketiaknya diciumi dan dijilati, Chewon pun menggeliat-geliat kegelian. Karena harum, Toyib pun jadi betah di daerah itu sehingga membuat Chewon tersiksa dalam rasa geli. Ketiak Chewon pun basah kuyup karena air liur Toyib.

 
“hehe..geli ya neng ?”, ledek Toyib melihat Chewon yang uget-uget dari tadi. Toyib merasa cukup bermain dengan tubuh bagian atas Chewon, saatnya berpindah konsentrasi ke bagian bawahnya. Bagian tubuh Chewon yang paling membuat Toyib penasaran. Gunting yang dipegang Toyib pun bergerak mendekati daerah Chewon yang paling pribadi.

 
“kres kres kres…”. Dengan sangat hati-hati, Toyib mengguntingi celana Chewon yang sudah terbelah menjadi 2 sisi untuk menghilangkan sisa kain yang masih menutupi selangkangan Chewon.

 
Akhirnya daerah kewanitaan Chewon pun tak tertutup kecuali cd yang masih setia melekat. Satu-satunya kain yang memisahkan Toyib dengan ‘surga dunia’ yang ada di tengah-tengah selangkangan Chewon yang putih mulus itu. Tak sabar ingin melihat ‘hadiah’nya, Toyib langsung menggunting pinggir kanan dan kiri cd Chewon. Bagian tengah cdnya kini sudah terputus sehingga Toyib mudah melipat ke bawah.

 
“waahh…”, pandangan mata Toyib semakin berapi-api, nafasnya semakin memburu melihat lembah kenikmatan milik Chewon. Tak pernah terbayang di pikiran Toyib bisa melihat vagina seindah ini. Bentuk alat kelamin yang begitu indah, bibir vagina Chewon terlihat begitu rapat, kulit di sekitarnya pun berwarna putih mulus, warna belahan bibir vaginanya seperti warna merah muda, dan sama sekali tak ada bulu yang menghiasi kelaminnya, benar-benar bersih dan sangat mulus. Belum lagi, semerbak aroma harum yang tercium oleh Toyib. Toyib tersenyum penuh arti memandangi tengah-tengah selangkangan Chewon. Toyib tersenyum karena vagina Chewon yang menggiurkan dan sangat menggugah selera itu hanya untuk dirinya seorang. Tak akan ada orang lain yang bisa mengganggunya untuk mendapatkan kenikmatan sebanyak-banyaknya bahkan si pemilik vagina pun tak bisa mengganggu Toyib karena sudah terikat kuat ke ranjang.

 
Toyib langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Chewon, menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma harum dari vagina Chewon sebanyak-banyaknya. Tubuh Chewon langsung gemetar saat lidah Toyib mulai melakukan kontak fisik.

 
“mmffhh…”, hanya itu yang keluar dari mulut Chewon seiring tubuhnya yang berkedut-kedut. Toyib asik menyapu belahan bibir vagina Chewon dari bawah ke atas lalu kembali ke bawah dan seterusnya. Tonjolan sensitif Chewon pun disentil-sentil Toyib dengan lidahnya membuat Chewon semakin menggeliat-geliat. Lidah Toyib begitu lincah menari-nari di daerah kewanitaan Chewon. Toyib pun mencicipi sedikit cairan yang meleleh keluar dari celah sempit milik Chewon itu.

 
“ayo neng…keluarin lagi dong…enak banget…”, komentar Toyib sebelum mulai menyerbu vagina Chewon dengan lebih ganas. Chewon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tubuhnya berkedut-kedut merasakan kenikmatan yang luar biasa yang berasal dari vaginanya. Toyib semakin buas menggerogoti vagina Chewon, melahap vagina indah itu bagai tak ada hari esok. Tanpa diketahui Toyib, Chewon sebenarnya sangat menikmati ketidak-berdayaannya untuk melindungi daerah yang paling intim dari tubuhnya. Chewon sangat suka jika merasa tak berdaya di hadapan pria, Chewon akan mematuhi semua perintah pria yang menjadi teman sexnya meski kadang membuatnya tersiksa. Tapi, semakin tersiksa, Chewon akan semakin bergairah. Tubuh Chewon menegang, perutnya sedikit terangkat ke atas, Toyib langsung memasang mulutnya.

 
“ssrrppphh..ssllrrrppp…”. Sekejap saja, cairan vagina Chewon langsung habis. Toyib membuka bibir vagina Chewon dengan kedua jari telunjuknya dan langsung menggali bagian dalam vagina Chewon dengan lidahnya.

 
Mengais-ngais dan menyedot sisa-sisa cairan yang tersisa di sela-sela bibir vagina Chewon. Memang, sudah sewajarnya Toyib begitu rakus menguras vagina Chewon karena rasa vagina Chewon sangat gurih dan ada sedikit rasa manis bahkan Toyib sedang berusaha ‘menimba’ vagina Chewon lagi. Sesekali Toyib menjilati dan menciumi selangkangan Chewon yang begitu harum.

 
“hei ! senangnya dalam hati, aku beristri dua, serasa dunia, ana yang funya !!”, Toyib pun terpaksa bangun dan mencari hpnya setelah mendengar ringtonenya.

 
“siape sih ah..ganggu orang aje..gak tau ape..lagi enak-enaknye makan memek…”, Toyib ngedumel.

 
“sialan tuh Jali..lagi enak-enaknye disuruh ke sono lagi..”. Toyib pun keluar kamar, tak lama kemudian Toyib kembali. Sambil tersenyum, Toyib meremas kencang biskuit yang dipegangnya.

 
“neng Chewon…Abang pergi bentar yaa..”, ujar Toyib sambil menabur remah-remah biskuit ke selangkangan Chewon yang sudah basah kuyup oleh air liur Toyib.

 
“ati-ati neng..disini banyak tikus ama semut…hehe..”. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Toyib keluar kamar. Chewon tak bisa berbuat apa-apa untuk membersihkan vaginanya yang penuh dengan remah-remah biskuit karena kedua kaki dan tangannya masih terikat ke ranjang. Chewon dag dig dug sekali, dia berharap Toyib segera pulang sebelum tikus, semut, kecoa, atau hewan-hewan kecil lain ‘menyatroni’ dan masuk ke dalam vaginanya. Tapi, tetap saja Chewon merasa ‘panas’ apalagi saat memikirkan kalau dia sama sekali tak mampu melindungi daerah paling intim dari tubuhnya bahkan dari hewan kecil sekalipun. Rasa pegal terasa di mulut, kaki, dan tangan gadis mungil itu.

 
“cklek…”. Rasa lega dirasakan Chewon saat Toyib masuk ke kamar.

 
“alo neng Chewon…gimana ? memeknya gak apa-apa kan ? hehe..”. Toyib mendekati dan melihat daerah segitiga Chewon yang masih penuh dengan remah-remah biskuit.

 
“wah masih ada biskuitnya ya, neng ? kalo gitu Abang aja yang makan…hehe”, Toyib langsung mengambil posisi untuk ‘menyantap’ alat kelamin Chewon lagi.

 
“wah enak juga biskuit rasa memek yee hahahaha !!!”.

 
“mmffhh mfh..”.

 
“neng Chewon mau ngomong sesuatu ?”.

 
“umm..”, Chewon mengangguk.

 
“tapi neng Chewon jangan teriak ya..”. Chewon pun kembali mengangguk. Dengan hati-hati, Toyib mengeluarkan kain dari mulut Chewon dan menyiapkan tangannya yang lain untuk membekap mulut Chewon seandainya dia teriak.

 
“lepasin donk, Pak Toyib..Chewon pegel nih…”. Toyib terkejut mendengar perkataan Chewon. Nada suaranya sama sekali tak menunjukkan kalau dia marah atau ingin teriak, seolah biasa saja, tak terjadi apa-apa.

 
“tapi, neng Chewon gak bakal macem-macem kan ?”.

 
“nggak, Pak..”. Toyib melepaskan ikatan di tangan dan kaki Chewon. Chewon hanya duduk sambil mengelus-elus kedua pergelangan kakinya yang ada bekas ikatan tali.

 
“neng Chewon nggak marah ?”.

 
“nggak, Pak…”, jawab Chewon sambil tersenyum lebar.

 
“Chewon cuma pegel…”, jawaban Chewon semakin membingungkan Toyib. Chewon duduk di tepi ranjang.

 
“Chewon suka kok kayak tadi…”, Toyib sangat terkejut mendengar jawaban Chewon.

 
Toyib tak menyangka Chewon akan mengeluarkan jawaban yang membuatnya serasa di dalam mimpi. Toyib memang memiliki perilaku sex yang agak menyimpang, dia suka sekali memperlakukan wanita dengan kasar sebelum mulai bersenggama. Toyib sudah menikah 2x, dua mantan istrinya tak ada yang tahan dengan prilaku sexnya. Tak heran kalau Toyib merasa bermimpi. Kini, di hadapannya ada seorang gadis muda yang cantik dan bilang kalau dia juga suka bermain ‘kasar’.

 
“yang bener, neng ?”.

 
“bener, Pak…”.

 
“kalo gitu…”. Toyib langsung menyelinapkan tangannya ke bawah selangkangan Chewon.

 
“berarti memek ni punya siapa ?”, Toyib mengobel-obel vagina Chewon.

 
“mmm..punyaa..hh..Pak..Toyibhh…”.

 
“gak ada Pak Toyib..adanya Bang Toyib..panggil gue Bang Toyib !!”.

 
“ii..yaa, Bangg..eemmmhh..”.

 
“sekali lagi gue tanya. ni memek punya siape ?!”.

 
“punya Bang Toyib…oouummhhh..”.

 
“bagus bagus…”.

 
“ooouuhhh…oohh oohh uuuhh…”, Toyib semakin cepat mengorek-ngorek vagina Chewon.

 
“enak yaa dikobel ? hahaha !!”, ledek Toyib.

 
“enaaakk Baangghhh…ooohhhh !!”. Chewon pun memegang kencang tangan Toyib, menekan vaginanya ke bawah.

 
“OOOUUHHHHH !!!”, lenguh Chewon mendapatkan orgasmenya.

 
“bagus ya lo bikin tangan gue basah..ayo jilatin !!”.

 
“iya, Bang…”.

 
Chewon menjilati punggung tangan, telapak tangan, dan sela-sela jari tangan kiri Toyib lalu 5 jari Toyib pun dikulum dengan sangat telaten oleh Chewon. Toyib mengajak Chewon berdiri. Dipeluknya tubuh Chewon yang mungil namun sangat padat berisi itu.

 
“pokk !! pokk !!”, Toyib menampari dan meremasi kedua bongkahan pantat Chewon yang kenyal. Memang, Chewon sedikit merintih kesakitan, tapi ekspresi mukanya menunjukkan kalau dia senang bahkan kelihatan sangat bergairah dan begitu ‘ingin’.

 
“ayo sekarang lo jongkok !!”. Chewon langsung jongkok.

 
“sekarang bukain celana gue !!”. Dengan hati-hati, Chewon menelanjangi bagian bawah Toyib. Chewon mengusap-usap tonjolan yang ada di kolor Toyib lalu menciumi tonjolan itu, benar-benar seperti cewek nakal.

 
“lo demen ama kontol gue ye ? hahaha”.

 
“iyaa, Bang…”. Lidah Chewon menjalar di sekitar tonjolan itu. Bagai orang yang mempunyai 2 kepribadian, Chewon benar-benar seperti orang yang sangat berbeda. Yang tadinya kelihatan imut dan polos, sekarang kelihatan seperti cewek murahan yang begitu menyukai apa yang ada di dalam kolor bau apek itu, sebuah benda yang paling utama dalam hubungan seksual yang bisa mengantarkan ke puncak kenikmatan. Chewon tak sabar, dia langsung melorotkan kolor Toyib. Spontan, ‘senjata’ Toyib langsung menyembul keluar. Sambil terus menarik celana Toyib ke bawah, mata Chewon tak bisa lepas dari benda tumpul yang ada di selangkangan Toyib. Bukannya kenapa-kenapa, Chewon sudah lumayan banyak melihat kejantanan pria-pria, mungkin sudah sekitar 6x dia melihat ‘ular’ yang berbeda, tapi dia tak pernah melihat yang seperti ini. Leher penis seorang pria memang agak timbul dari batangnya, tapi mungkin hanya beberapa milimeter saja atau paling maksimal 1/2 cm dari batangnya. Sedangkan topi penis Toyib lebih timbul, mungkin 1,5 cm dari batangnya, sehingga terlihat seperti King Cobra yang akan menangkap mangsanya.

 
“kenapa ?? kaget ngeliat kontol gue ??”.

 
“…”. Chewon hanya bisa diam, kedua matanya tak bisa beralih dari batang aneh itu.

 
“jawab !!”.

 
“i..iya, Bang…”.

 
“biar gak kaget..lo jilatin kontol gue biar tau rasanya..”.

 
“iyaa, Bang…”.

 
Chewon mulai menggenggam penis Toyib dan mengocoknya perlahan.

 
“cupp cupp cupp…”. Chewon mencumbui helm merah muda Toyib dengan lembutnya. Bau apek memang menyengat sekali di hidung Chewon, tapi gadis mungil itu kelihatan begitu terbius, begitu asik mencumbui sekujur batang kejantanan Toyib dan tak ketinggalan buah pelirnya juga.

 
“aammhh…mmhhh..emmm…cllpphh…”. Chewon ‘menelan’ kedua telur puyuh Toyib bergantian.

 
“uuhhh…”, eluh Toyib keenakan. Sudah lama, ‘perkakas’nya itu tidak mendapat perhatian dari seorang wanita sebegitu intensnya. Chewon tak segan-segan menciumi dan menjilati bagian pangkal dari ‘tonggak’ milik Toyib.

 
Chewon sudah mulai berkaraoke. Pipinya kembang kempis seiring keluar masuknya penis Toyib.

 
“slebbh slbbhh…”.

 
“oohhhh uuuhh maantaabbhh !!!”. Nikmatnya sungguh tiada tara, Chewon benar-benar tahu cara menggunakan lidahnya. Toyib terus mengeluh-eluh keenakan, apalagi Chewon menggunakan tangannya untuk ‘mengurus’ buah pelir Toyib. Toyib menarik kepala Chewon menjauh dari selangkangannya.

 
“lo udah biasa nyepongin orang ?”.

 
“iyaa, Bang…”.

 
“wahaha !! gak nyangka, muka polos tapi udah biasa nyepong..bagus bagus…sekarang buka mulut lo !”. Chewon membuka mulutnya selebar mungkin. Toyib menggerakkan kepala penisnya mengitari mulut Chewon 3x putaran sebelum memukul-mukulkan batangnya ke kedua pipi Chewon seolah-olah sedang menampari Chewon dengan ‘pentungan’nya. Toyib memegangi kepala Chewon dan mengarahkan juniornya ke mulut Chewon.

 
“jlbbhh !!”. Toyib langsung menusukkan penisnya masuk ke dalam mulut Chewon.

 
“heegghhh !!”, mata Chewon terbelalak, dia kelojotan menerima penis Toyib yang masuk dengan tiba-tiba dan sangat dalam.

 
“ohog ohog”.

 
Air mata terlihat keluar dari sela-sela kedua mata Chewon.

 
“ohok ohok ohok !!!”, Chewon terbatuk-batuk ketika Toyib sudah mengeluarkan penisnya.

 
Penis Toyib yang menyentuh sampai ke pangkal kerongkongannya membuat Chewon jadi mual, ingin muntah. Chewon menyeka air matanya dan tersenyum sambil memandang wajah Toyib, setelah itu Chewon mengelus-eluskan penis Toyib ke pipinya sendiri seperti orang yang sedang bermanja-manja dengan hewan peliharaan kesayangannya. Dalam hati, Toyib merasa senang bukan kepalang. Inilah wanita yang dicari-carinya selama hidupnya. Begitu cantik, imut, mungil, dan montok. Dan paling penting bagi Toyib adalah sifat Chewon yang begitu penurut, menerima semua perlakuannya dengan senang hati. Chewon membuka mulutnya lagi.

 
“mau lagi ?”. Chewon mengangguk. Seakan luluh dengan sikap penurut Chewon, Toyib mendorong penisnya dengan perlahan, tak ingin menyakiti Chewon.

 
“oohhh angeetthhh !!!”. Batang kejantanan Toyib telah ditelan seluruhnya oleh Chewon.

 
Mulut Chewon mengatup di penis Toyib dengan begitu rapat, tak mau membiarkan penis itu keluar. Lidah Chewon pun membelai manja tugu milik Toyib.

 
“uaahhh…”, Chewon bisa bernafas lega, penis Toyib telah keluar dari mulutnya. Chewon menjulurkan lidahnya, mengulik lubang kencing Toyib. Toyib merinding hebat, rasa geli, sedikit ngilu bercampur dengan rasa nikmat dirasakan Toyib di pucuk alat reproduksinya. Toyib pun terpaksa menjauhkan organnya itu dari lidah Chewon yang benar-benar ‘berbahaya’. Berbahaya karena hampir membuat Toyib orgasme. Toyib pun langsung menggendong Chewon, dan menghempaskan tubuh putih mulusnya ke ranjang. Benar-benar menggiurkan melihat Chewon terkulai pasrah di atas ranjang. Tubuhnya yang mungil namun montok seakan-akan mengundang Toyib untuk mendekat. Pria tua itu langsung menerkam tubuh putih mulus itu. Dicumbuinya jengkal demi jengkal tubuh Chewon dengan penuh nafsu. Sementara si gadis mudanya pun begitu menikmati cumbuan dan cupangan Toyib yang penuh gairah. Saatnya merengkuh kenikmatan dari tubuh indah ini, pikir Toyib. Toyib mulai mendobrak masuk ke dalam pintu surga dunia milik Chewon dengan tongkatnya.

 
“hhnnmmhhhh…eeennnhhh…”, Chewon meresapi senti demi senti benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya melalui vaginanya. Sensasinya lain, kepala penis Toyib bagai payung di dalam rahim Chewon. Semakin dalam dan semakin dalam ‘jamur’ Toyib memasuki liang senggama Chewon.

 
“eegghhh oohhh !!”, Toyib mengerang keenakan, penetrasi terhadap alat kelamin Chewon begitu nikmat. Sempit dan peretnya liang kewanitaan Chewon sangat memberikan sensasi luar biasa pada Toyib.

 
Semakin panjang rudal Toyib yang menyesaki liang vagina Chewon. Terasa sangat terjepit, seperti ditarik dan dihisap masuk semakin dalam. Akhirnya, tombak Toyib sepenuhnya mengisi rongga vagina Chewon. Chewon masih membiasakan diri dengan benda besar nan tumpul yang membuat liang vaginanya terasa penuh sesak, apalagi terasa ada yang mengganjal di ujung rahimnya, sama sekali tak pernah dirasakan olehnya. Toyib langsung memagut bibir Chewon yang merah merekah.

 
“hheemmm…cpphhh…mmmm…”, gumam keduanya. Bibir Toyib melekat begitu erat dengan bibir Chewon. Keduanya saling pagut, saling lumat, dan saling membelitkan lidah. Bibir tipis Chewon habis dihisap, dikulum, dan disedot oleh Toyib. Pinggul Toyib mulai bergerak naik turun.

 
“uummm…”. Alat kelamin Toyib terasa seperti pompa gabus bagi Chewon karena kepala penis Toyib benar-benar menghalangi celah-celah di dalam liang vagina Chewon seperti tutup botol gabus.

 
“gimana, enak ??”, ejek Toyib sambil terus menggenjot dengan perlahan untuk memancing gairah Chewon agar semakin tinggi.

 
“enaak bangeed, Bangh…”, lirih Chewon. Chewon sama sekali belum pernah merasakan sensasi ini. Alat kelaminnya tak pernah terasa begitu ‘tersumbat’ seperti sekarang, gesekannya terasa lebih ‘memabukkan’, kejutan listrik terus menerus mengalir.

 
“oouuhh yeeehhhh aahhh hhuuuhhh…”, desahan Chewon diiringi nafas Toyib yang menderu-deru.

 
Hujaman tombak Toyib semakin cepat bagai piston motor yang dipacu semakin cepat, membuat Chewon semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Sungguh nikmat yang tiada duanya, Chewon sampai lupa sedang ada dimana, siapa yang sedang menggumulinya, bahkan Chewon hampir lupa siapa namanya. Rasa nikmat itu benar-benar menguasai pikiran Chewon, membuatnya serasa seperti melayang-layang di udara. Toyib mencabut batangnya keluar, wajah Chewon menunjukkan wajah ‘tanggung’ dan meminta untuk ditojos lagi.

 
“jleebbhh !!!”.

 
“HEEGGGHHH !!!”, mata Chewon terbelalak, vaginanya terasa ngilu luar biasa.

 
Toyib tersenyum melihat ekspresi Chewon yang terkejut sekaligus merasakan ngilu, pria tua itu semakin merasa berkuasa atas tubuh gadis imut yang sedang ‘dikait’nya. Berkali-kali Toyib melakukan ‘tusukan maut’nya, berkali-kali juga mata Chewon terbelalak dan tubuhnya tersentak kencang ke atas. Kedua alat kelamin itu sama-sama saling mengunci posisi masing-masing sambil terus bergesakkan.

 
“ooohh oohhh terusshh Baangghh eemmhhh ooouuhhh !!”.

 
“POKKHHH !!”.

 
“AWWHHH !!!”. Tamparan kencang mendarat di payudara Chewon. Tubuh Chewon terkejut, tapi wajah Chewon menunjukkan ekspresi nakal. Persetubuhan antara Chewon dan Toyib yang dibumbui unsur penyiksaan terus berlangsung. Pria tua itu bagai menemukan belahan jiwanya. Gadis muda yang sedang digumulinya sangat pasrah, malah semakin hot dan semakin bergairah jika semakin disiksa. Bekas-bekas cupangan bertambah di leher dan payudara Chewon. Payudara Chewon kini agak memerah karena terus ditaboki oleh Toyib. Wajah Chewon pun basah kuyup oleh air liur Toyib. Desahan dan nafas keduanya saling balap-balapan. Keringat bercucuran dari tubuh 2 insan yang sangat bertolak belakang. Sang gadis muda terlihat begitu menikmati disetubuhi sang pria tua. Sang pria tua pun begitu bersemangat menggeluti tubuh montok sang gadis muda.

 
Chewon dan Toyib sama-sama sedang tenggelam dalam lautan kenikmatan. Keduanya merasa seperti di surga, sama-sama tak ingin kenikmatan yang mereka rasakan berakhir. Tubuh keduanya bersatu dengan alat kelamin mereka sebagai penghubung. Chewon dan Toyib bergerak selaras, irama gerakan mereka berdua begitu harmonis dan serasi, seperti sudah terjalin komunikasi batin yang sangat kuat di antara mereka. Desahan Chewon tak terdengar lagi, Chewon sudah terlalu lemas. Dia sama sekali tak tau sudah berapa kali Toyib membuatnya orgasme. Semua karena bentuk tongkat Toyib yang tak biasa, memberikan kenikmatan yang juga tak seperti biasanya.

 
“AAGGHHH HEENNN OOKKHHH !!!”, kenikmatan yang dirasakan Toyib sudah mencapai puncaknya.

 
Alat reproduksi Toyib sedang mengisi rahim Chewon dengan berjuta-juta sperma. Kepuasan dan rasa bangga yang tiada tara bagi Toyib, bisa menyirami rahim gadis secantik Chewon dengan benih-benihnya. Chewon mengatur ritme nafasnya, perutnya kembang kempis karena bernafas dengan cepat. Senyuman tulus menghiasi wajah Chewon. Toyib juga tersenyum, tapi Toyib heran. Sudah dikasari dan diperkosa, tapi malah tersenyum seperti menandakan kalau dia merasa senang. Toyib pun tidur di samping dan memeluk Chewon. Keduanya tidur kelelahan, si Toyib kelelahan setelah puas melampiaskan nafsu setannya kepada Chewon dan menumpahkan semua maninya ke dalam rahim Chewon, sedangkan Chewon kelelahan akibat orgasme yang terus menerus sampai vaginanya terasa ‘pegal’, tapi sekarang rahimnya terasa hangat dan nyaman karena genangan sperma Toyib.

 
“mm..nyymm…”, mata Chewon terbuka sendiri. Dia melihat keadaan sekitar, tak ada siapapun. Hanya dia sendiri yang ada di atas ranjang yang awut-awutan itu.

 
“duuuhh…”, Chewon terasa ngilu di V-zone miliknya saat turun dari ranjang.

 
“gara-gara Bang Toyib nih…”, ujar Chewon bicara sendiri sambil tersenyum. Dia pun berjalan keluar kamar dengan sedikit mengangkang. Tak pernah rasanya sengilu ini bahkan sampai tak bisa merapatkan kedua pahanya, tapi Chewon merasa begitu senang. Sampai sekarang, Chewon baru merasakan apa arti dari hujaman dan hantaman dari sebuah batang kejantanan pria. Chewon makan makanan yang ada di meja makan, sepertinya telah disediakan Toyib dari pagi.

 
Sambil terus makan, Chewon mengenang momen-momen tadi malam. Memori yang tak bisa dilupakan oleh Chewon, dia tak pernah merasa begitu dikuasai, begitu tak berdaya, seakan Toyib memang sudah mempunyai hak penuh atas dirinya. Perlakuan kasar Toyib malah menjadi daya tarik sendiri di mata Chewon. Begitu jantan dan begitu perkasa, membuat Chewon mesem-mesem sendiri. Namanya juga Chewon, semakin dikasari malah semakin bergairah. Ketiga teman akrabnya pun sampai keheranan, mengapa Chewon begitu suka dikasari saat berhubungan intim. Padahal sifatnya manja, biasanya orang dengan sifat manja, tidak mau kalah, tapi Chewon malah mau membiarkan orang ‘menang’ atas dirinya.

 
“oh iyaa, aku telpon aja Bang Toyib…bego banget sih…”. Chewon men-dial nomer Toyib di hpnya.

 
“halo, Bang Toyib ?”.

 
“ada apa, neng ?”.

 
“Bang Toyib lagi di mana ?”.

 
“lagi di tempatnya Pak Jali, neng…”.

 
“oh..pulangnya jam berapa ?”.

 
“jam 3an kali, neng..emang kenapa, neng ?”.

 
“oh..kalo gitu Chewon tunggu yaa..Chewon mau ngomong tentang tadi malem..”.

 
“i..iyaa, neng…”. Jam dinding pun menunjukkan pukul 3, Chewon sudah mandi, tubuhnya sudah bersih dan wangi kembali. V-zonenya pun terlihat indah lagi, tapi tetap saja ada bekas-bekas cupangan di sekujur tubuh Chewon, terutama di payudaranya.

 
Toyib masuk ke dalam rumah, begitu terkejut saat melihat Chewon. Bagaimana tidak terkejut, Chewon sama sekali tak mengenakan apapun, hanya kalung yang mengekang lehernya dan tali yang menjuntai ke lantai. Toyib pun tau kalau yang dikenakan Chewon adalah kalung anjing yang biasa digunakan untuk mengekang anjing.

 
“neng ?! neng Chewon ?!”. Chewon tersenyum dan berjalan mendekati Toyib.

 
“Bang Toyib udah Chewon tunggu dari tadi…”.

 
“neng Chewon kenapa begini ?”.

 
“bukannya Bang Toyib suka kalau Chewon kayak gini ?”.

 
“tapi kenapa neng..?”.

 
“pokoknya Chewon akan nurutin Bang Toyib…”. Chewon menyerahkan tali kekangnya kepada Toyib. Masih tak percaya dengan apa yang terjadi, apakah nyata atau tidak, Toyib menerima tali kekang Chewon dengan ragu-ragu.

 
Chewon pun turun dan bertumpu pada kedua tangan dan lututnya.

 
“bener nih ?”. Chewon mendongak ke atas, tersenyum sambil mengangguk.

 
“oke kalo gitu…”. Toyib menarik tali kekang Chewon lalu duduk di bangku. Chewon duduk di bawah, pantatnya menempel di lantai.

 
“hmm..mulai sekarang gue bakal manggil lo Momon…kayak nama sapinya Pak Jali…hahaha..lo gak keberatan kan ?”. Chewon pun menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum manis.

 
“bagus bagus hahaha !!”, Toyib mengelus-elus kepala Chewon.

 
“ayo Won, sekarang bukain sepatu Abang…”. Chewon pun melepaskan sepatu boot Toyib. Kedua kaki Toyib sangat bau amis, tapi Chewon sama sekali tak terlihat jijik.

 
“kayaknya kaki Abang kotor…ayo dibersihin, Won…pake lidah..hehe..”. Chewon benar-benar menjilati kedua kaki Toyib. Telapak dan punggung kaki serta sela-sela jari-jari kaki Toyib dijilati Chewon berkali-kali. Chewon pun mengemuti kesepuluh jari kaki Toyib hingga berlumuran air liur.

 
“bagus..bagus..sekarang sebagai hadiahnya..”. Toyib berjalan ke depan kamarnya.

 
“ayo sini Won…”, Toyib memanggil Chewon seperti memanggil hewan peliharaannya.

 
“mooo !!”, jawab Chewon lalu merangkak ke kamar Toyib. Hari-hari Chewon pasti akan lebih ‘sibuk’ setelah kejadian ini dan tentu semuanya akan diabadikan lewat handycam Chewon.

Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya