Naughty Wife Hyewon 3A: Satu Minggu yang Tak Terlupakan






Badan Hyewon terasa segar setelah mandi dengan air hangat. Dirasakannya kondisi badannya sudah mulai enteng. Panas badannya sudah menurun dan pening di kepalanya pun telah menghilang. Ya, sebenarnya dia sudah merasa cukup sehat tapi dia toh beringsut lagi di balik selimut. “Kapan lagi bisa malas-malasan seperti ini...?” Pikirnya senang. Sambil tiduran dipencetnya remote televisi mencari-cari channel yang menayangkan infotainment. Setelah memilih 1 channel, diraihnya sebuah apel dari meja kecil di samping ranjangnya. “Hari ini muas-muasin manjain diri aah...” ucapnya dalam hati. Sementara itu Tejo baru saja selesai menyapu seisi rumah. Di dekatnya, Doni yang sebelumnya anteng di dalam babywalkernya mulai merengek-rengek. Tejo pun paham, botol susu yang sudah disiapkan sejak tadi segera diberikannya. Pokoknya hari ini Tejo benar-benar seperti ibu rumah tangga menggantikan Hyewon. Setelah menyapu dia mengerjakan pekerjaan lainnya dengan sigap. Dan bila Doni rewel, Tejo juga sudah tak canggung lagi memomongnya.



***

Hari kini menjelang siang. Doni yang sebelumnya aktif bermain ditemani oleh Tejo sudah tampak kelelahan. Tejo pun menggendongnya dan masuk ke kamar Hyewon. Diketuknya pintu kamar Hyewon yang tidak tertutup.

“Yaa...?” Sahut Hyewon yang masih bermalas-malasan di ranjang.

“Tante nggak tidur ya?” Tanya Tejo setelah masuk.

“Nggak Jo, tidur terus-terusan malah tambah pening...” Jawab Hyewon. Dihadiahinya Tejo dengan senyuman manis karna dia sudah membantu mengurusi rumah dan Doni.

“Sudah beres semua ya Jo, duh kamu hebat deehh... Bisa diandalkan!” Pujinya.

“Iya Tante... Ini Doninya udah ngantuk lagi, biar tidur dulu...” Jawab Tejo yang kegeeran. Hatinya melambung mendapat senyuman dari Tantenya itu. Takut salah tingkah, Tejo segera melangkah ke ruang sebelah hendak menidurkan Doni di box bayi.

“Eh, sini aja Jo, biar tidur di samping Tante. Biar Tante kelonin...” Hyewon menggelar kain perlak di sampingnya dan ditutupinya lagi dengan kain yang empuk. Disuruhnya Tejo membaringkan Doni di atasnya.

“Kamu ambilin bantalnya di box bayi...” Pinta Hyewon lagi.

“Ya Tante...” Jawab Tejo.

Setelah Tejo menyerahkan bantal Doni Hyewon pun mengeloni Doni dengan sayang. “Makasih ya Jo, kamu istirahat gih...” Ucap Hyewon lembut.

Tejo yang begitu mengagumi Tantenya itu kali ini memandangnya tanpa nafsu karna Hyewon sedang memancarkan kharisma keibuannya. Tapi, melihat ibu yang cantik begitu, Tejo pun berkhayal seandainya istrinya nanti, ibu dari anak-anaknya kelak bisa secantik Hyewon. Tejo yang sangat menghayati tanggungjawabnya kini berpikir untuk menyiapkan lagi susu Tejo untuk sore nanti. Seperti tadi pagi, dia sudah menyiapkan susu di awal sehingga ketika Doni rewel minta minum dia tinggal menyerahkan botol susunya. Tapi tiba-tiba saja muncul rasa penasaran Tejo dengan air susu itu ketika mengambilnya dari lemari es. Ditimang-timangnya botol susu itu. Ini adalah air susu Hyewon yang diperah Hyewon sendiri. Sebelumnya belum pernah Tejo membayangkan seorang ibu memerah air susunya sendiri. Air susu itu adalah yang terakhir. Hanya cukup untuk 1 botol lagi. Setelah ini jika Tantenya masih belum bisa menyusui Doni, berarti tentu dia harus memerah susunya lagi. Wajah Tejo mulai mupeng membayangkan adegan Hyewon memerah air susunya sendiri dari payudaranya yang indah itu. Terbesit ide nakal dalam benak Tejo. Dia penasaran seperti apa rasa susu ibu itu. Bukannya memindah air susu itu ke botol susu Doni, Tejo malah menuangkannya ke dalam gelas untuk diminumnya sendiri.

Awalnya Tejo agak ragu dengan rencananya itu, dalam hatinya merasa konyol. Tapi persetan, pikirnya kemudian. Ditenggak habis juga akhirnya gelas berisi air susu Tantenya itu. Tiap kali meneguk susu itu, dada Tejo berdebar kencang. Dipandangnya gelas yang sudah licin tandas itu. Tanpa memikirkan rasa susu itu, ada semacam perasaan puas dalam diri Tejo. Bahkan tanpa terasa batang Tejo mengeras di balik celananya.

“Waduh...” Keluhnya. “Bisa-bisanya bangun adik kecilku ini...?” Keluh Tejo pada dirinya sendiri dalam hati.

Ya terang saja batangnya itu mengeras. Jelas tidak mungkin kalau dia minum air susu Tantenya tanpa memikirkan sumbernya, alias buah dada Tantenya yang montok itu. Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Dia seperti ingin mengenyahkan bayangan yang kerap menyiksa batinnya itu. Tapi alih-alih hilang, bayangan itu malah makin menjadi. Batangnya malah makin menegang hingga maksimal. “Anjiir...” makinya dalam hati. Entah setan mana yang merasukinya, tiba-tiba Tejo bangkit menuju kamar Hyewon. Dia sendiri tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Kakinya seperti bergerak sendiri melangkah memasuki kamar Tantenya itu. Di dalam kamar dijumpai Tantenya sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca majalah. Di sampingnya Doni tampak telah tertidur pulas.

“Ada apa Jo?” Tanya Hyewon.

Tejo terdiam. Wajah Hyewon yang tampak segar, dengan beberapa helai rambut tipis jatuh menutupi dahi dan wajahnya, makin tampak mempesona di mata Tejo. Hyewon menyibak rambut yang jatuh menutupi wajahnya itu. Darah Tejo makin berdesir. Tiap gerakan Hyewon seperti sudah didesain untuk memanjakan mata laki-laki. Lidah Tejo pun makin kelu.

“Ngapain aku ke sini dalam keadaan ngaceng begini???” Dalam hati dia menghardik dirinya sendiri. “Kamu mau perkosa Tantemu sendiri memangnya, haah??? Buruan sana ke kamar!! Coli sanaaa...!!!” Hatinya menghardik kembali. Tapi dia sudah terlanjur masuk ke kamar Hyewon. Jelas tidak mungkin pergi begitu saja mengatakan apa-apa. Makin lama dirinya diam, makin heran Hyewon dibuatnya.

“Ngg...ga Tante, ga ada apa-apa...” Akhirnya Tejo menjawab.

Tapi jawaban macam apa itu? Kalo ga ada apa-apa ngapain masuk? Hatinya seperti menertawai dirinya sendiri. Tejo pun tersenyum kecut. Hyewon tampak heran dengan jawaban itu, matanya melirik gelas kosong yang dibawa Tejo.

“Oh mai gat!! Tantee... Cantik nian dirimuuu...” Puja Tejo dalam hatinya yang makin terbuai.

Sungguh dahsyat kharisma kecantikan Tantenya itu. Hanya dengan gerakan mata saja, dia sudah bisa membuat hati Tejo blingsatan. Tapi hanya sekejap saja dirinya terbuai. Tanpa sengaja gelas yang tadi digunakan untuk minum susu Hyewon masih dipegang di tangannya. Menyadari hal itu, Tejo pun makin bingung harus berkata apa. Lirikan Hyewon pada gelas itu seperti memberondongnya dengan pertanyaan, “gelas apa itu Jo?! Kamu baru minum apa Jo?!” Padahal Hyewon sendiri sama sekali tidak menanyakan apa-apa.

“Sini Jo...” Hyewon menyuruh Tejo mendekat.

Tangannya menepuk-nepuk sisi ranjangnya mengisyaratkan bahwa dia mempersilahkan Tejo duduk di situ. Hyewon tersenyum. Dalam hatinya bertanya ada apa dengan keponakannya itu, kok canggung seperti dulu saat awal-awal dia baru datang. Sungguh bagi Tejo saat itu lebih baik Hyewon menyuruhnya keluar kamar saja ketimbang malah menyuruhnya mendekat. Tapi sambil melangkah dikuatkan hatinya.

“Tampaknya aku sudah tak bisa mundur lagi... Maju teruuuss...” Katanya dalam hati. Lho, seperti mau ngapain aja dia itu. Gila.

Bukan Tejo namanya kalau tidak segera bisa menguasai diri.

“Ini, susunya habis Tante...” Ucapnya lancar setelah duduk di dekat Hyewon.

“Lho... Habis ya...? Kirain cukup buat 3 kali...” Jawab Hyewon.

“Eee... Iya sih tadi sebenernya masih ada buat sekali lagi Tante.” Sahut Tejo.

“Nah, trus kemana? Tumpah ya?” Tanya Hyewon.

Tejo hendak mengiyakan. Dia sudah siap berbohong tentang hal ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba muncul keberanian dalam dirinya untuk menjawab jujur.

“Tejo minum Tante...” Jawabnya polos. Hatinya pun berdebar menanti reaksi Tantenya.

Sungguh di luar dugaan, Hyewon spontan tertawa geli mendengar jawaban Tejo. Tejo meringis.

“Aduuh... Serius kamu Jo? Kok bisa-bisanya kamu minum air susu Tante itu...? Bukannya Tante udah belikan susu buat kamu sendiri? Sudah habis memangnya?” Tanya Hyewon bertubi-tubi setelah tawanya reda. Senyum lebar masih tersungging di bibir manisnya.

“Penasaran aja Tante...” Jawab Tejo cengengesan dengan muka memerah.

“Penasaran gimana?” Tanya Hyewon lagi.

“Ya yang dibelikan Tante kan susu sapi...” Jawab Tejo.

“Ya iyalah... terus kamu penasaran ya rasanya ASI? Duh, kamu ini ada-ada aja Jo... Jatah Doni gitu loh kamu minuum...” Ujar Hyewon gemas.

“Iya Tante, tadi Tejo cuma iseng aja... ga tau deh... Maaf ya Tante...” Ucap Tejo meminta maaf walau Tantenya itu sama sekali tidak menampakkan nada marah.

“Yah udah deh... Tapi gimana nanti kalo Doni haus, hayoo...? Tante belum bisa nyusuin nih... masih lemesss...” Ucap Hyewon manja.

“Diperah lagi aja Tante...” Jawab Tejo enteng.

“Huuu... Kamu ini... Dipikirnya enak?” Ujar Hyewon sambil mengusap-usap kepala Tejo dengan cepat hingga rambutnya berantakan. Tejo meringis saja sambil merapikan rambutnya. Hatinya senang diperlakukan seperti itu oleh Hyewon.

“Badan Tante ini masih pegal. Terutama leher ini loh yang paling sakit kalo masuk angin... Kalo merah susu kepalanya harus nunduk terus, Tante belum kuat...” Jelas Hyewon. Tangannya diangkat memijit-mijit tengkuknya.

“Mmm... Biar Tejo bantu Tante...” Entah angin darimana yang membuat Tejo nekat mengucapkan itu tanpa ragu sedikit pun. Hyewon agak tercengang dalam hatinya melihat ponakannya yang mulai ‘nakal’ itu. Tapi dalam hatinya malah merasa gemas dan makin ingin menggoda Tejo lebih jauh.

“Iih kamu... bantu ngapain?” Tanyanya menggoda. Tejo tersipu tak menjawab.

“Tejoo... kamu mulai genit yah? Kamu mau bantu memerah buah dada Tante iniii...?” Hyewon mencubit Tejo gemas.

“I... iyaa Tante, kan kemarin Tante sendiri yang bilang...” Tejo meringis membela diri. Cubitan Hyewon yang tidak sakit seperti cubitan sayang baginya. Jantungnya mulai berdebar-debar lagi, kali ini karena terlampau bersemangat.

“Kamu ini... Jo...” Ucap Hyewon lembut sambil membelai-belai rambut Tejo yang terdiam tidak berani menatapnya.

“Sebenarnya itu ide bagus Jo, Tante memang butuh bantuan, kalau Oom-mu ada pasti Tante udah minta ke dia... Tapi kalo sama kamu...?” Hyewon idak melanjutkan ucapannya.


Tejo
“Kenapa memangnya Tante...” Tanya Tejo berlagak polos.

Hyewon tersenyum geli mendengarnya. Dipijitnya hidung Tejo gemas,

“Kamu ini udah gede Jo...!” Ucapnya. Hyewon sebenarnya sedang mempermainkan perasaan Tejo.

Dari tadi tangannya melancarkan ‘serangan maut’ mengusap-usap kepala Tejo, mengelus rambutnya, mencubitnya, menepuk-nepuknya, kini bahkan memijit hidungnya. Belum lagi ditambah senyum manis yang bertubi-tubi dilemparkan pada Tejo dari tadi.

“Kamu udah remaja sekarang. Udah pernah ‘ngimpi’ kan Jo? Kapan pertama kali?” Tanya Hyewon serius.

“Ee...Ngimpi apa...? Ooh maksud Tante mimpi basah?” Tejo balik bertanya.Wajahnya merah padam tak menyangka Tantenya bakal menanyakan hal itu.

“Ya iya...” Jawab Hyewon. “Udah kan?” lanjutnya mengulang pertanyaan.

“Ya... Udah Tante...”

“Kapan pertama kali?”

“Yaa... Ga tahu Tante udah lama deh, pas SD...”

“Nah lo, malah udah sejak SD...!”

Tejo terdiam. Hyewon juga ikut diam sejenak memikirkan kata-kata yang akan dilontarkannya lagi.

“Artinya kamu udah matang Jo... Udah punya nafsu kamu...” Hyewon menerangkan dengan serius. “Coba Tante tanya, gimana menurutmu Tante ini?” Tanyanya kemudian.

“Ee... maksudnya? Tante... Ya Tante orangnya baik...?” Jawab Tejo masih terbata bata belum tahu arah pembicaraan Tantenya.

“Bukan gitu...” Hyewon tertawa kecil. “Maksudnya secara fisik, bagaimana penilaian kamu sebagai laki-laki dewasa terhadap Tante sebagai seorang wanita dewasa... Bagaimana kamu memandang Tante?” Tanya Hyewon lagi.

“Ta... Tante cantik...?” Jawab Tejo agak ragu.

Hyewon tersenyum. “Hanya itu?”

“Mmm...” Tejo bingung harus berkata apa lagi. Sebenarnya dengan ditanya begitu ingin sekali ditumpahkan perasaannya saat itu juga. Tapi dia segan dan ragu, di samping menerka-nerka apa sebenarnya maksud Tantenya itu.

“Jangan malu... Hayo...?” Hyewon mengusap-usap rambut Tejo lagi seperti hendak memunculkan keberaniannya.

“S... Seksi Tante...!” Jawab Tejo sambil meringis.

“Haa...?” Hyewon berlagak tak mendengar.

“Iya... Tante seksi. Cantik dan seksi!” Ucap Tejo lagi kali ini mantap.

Hyewon tertawa kecil. “Apa selama ini cuma itu yang kamu pikirkan tentang Tante?” Ucapnya. “Tante tahu, bukannya sombong ya Tante sadar dengan kecantikan Tante. Dulu Oom-mu itu banyak saingannya loh... Memperebutkan Tantemu ini. Hi hi hi...”

Tejo mangut-mangut. Hyewon melanjutkan, “Tapi kalau cuma cantik dan seksi... Mmm...” Kalimatnya terputus. Dia bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.

“Sekarang gini aja... Tante tanya, gimana menurutmu kulit Tante?” Tanya Hyewon lagi. Tejo berpikir sebentar, tapi kemudian dia tak ragu lagi.

“Putih dan mulus...” Jawabnya meringis.

Hyewon tersenyum. “Nah begitu, kalo body Tante gimana?” Kerlingnya.

“Yaaa... Itu tadi, seksi...” Sahut Tejo tak bisa menemukan kata lain.

Hyewon tertawa, “Oh iya...” Ucapnya. Tejo jadi ikut tertawa.

“Yaa ya... sudah deh nanti Tante malah kege-eran... Tapi kamu dah paham kan maksud Tante? Kamu itu udah gede, naluri seksualmu pasti udah tumbuh. Wanita dewasa dan bagian-bagian tubuhnya menjadi sangat menarik dan merangsang buat kamu... Iya kan? Buktinya kemarin kamu nonton DVD porno... Kamu bilang penasaran. Lha iya memang begitu fitrahnya. Tante juga wanita dewasa. Bukannya ge-er, tapi Tante tahu kok selama ini kamu mengagumi Tante. Kamu suka curi-curi pandang ke Tante, terutama kalo Tante lagi nyusuin si Doni... Tante nggak marah karena emang begitu normalnya. Kecuali kamu homo...” Jelas Hyewon panjang lebar.

“Buah dada memang salah satu bagian dari wanita yang paling menarik bagi laki-laki di samping wajahnya. Kalo wajah kan selalu terlihat... Sementara buah dada selalu tersembunyi, jadi memang menjadi misteri yang menyenangkan bagi laki-laki, dan sensasinya jauh lebih besar kalo sudah bisa melihatnya.” Lanjut Hyewon masih panjang lebar. “Itulah sebabnya Tante ragu kasih kamu memerah buah dada Tante Jo... Tante ga berani...” Pungkasnya.

Tejo menelan ludahnya. Mendengar Hyewon mengucap ‘buah dada’ berulang kali saja sudah membuat jantungnya blingsatan.

“Memangnya kenapa Tante?” Tejo bertanya lugu.

“Halah, masih nanya juga kamu udah dijelasin juga... Jo, kamu bukan hanya bakal melihat buah dada Tante telanjang tapi juga menyentuhnya Jo... Bahkan meremas-remas... Itu terlalu beresiko!” Jawab Hyewon gemas.

“Tapi Tejo kan ga mungkin macem-macem Tante... Kan sama Tante sendiri.” Jawab Tejo meyakinkan. Hyewon terdiam. Dipandangnya wajah Tejo yang ngenes.

“Duuh, kamu ini benar-benar kepingin yaa...?” Tanya Hyewon pelan. Dibelainya lagi kepala Tejo.

“I... Iya Tante...” Jawab Tejo tercekat. Matanya memandang Hyewon penuh harap.

“Kamu belum punya pacar Jo?” Hyewon mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Duh, ga kepikiran Tante... Lagian sejak kenal Tante rasanya cewek lain jadi ga menarik di mata Tejo...” Jawab Tejo polos.

“Waduuh, malah sudah berani merayu kamu ini... Ini Tantemu Jo...!” Tawa Hyewon meledak. Tejo seketika tersipu. Dia sama sekali tidak ada maksud merayu tadi. Ucapannya benar-benar apa adanya.

Tiba-tiba mimik Hyewon berubah serius, ditatapnya mata Tejo dalam-dalam.

“Jo......” Ucapnya.

“Ya Tante?” Sahut Tejo berdebar-debar.

“Gimanapun Doni memang butuh ASI... Kamu... Kamu bener ya janji ga macem-macem?” Tanya Hyewon agak terbata. Diam-diam dia sendiri juga mulai terangsang.

“Janji Tante!” Jawab Tejo mantap.

Hyewon terdiam sesaat. Berdebar-debar Tejo dibuatnya.

“Ya udah, kamu ambil wadah sana...” Akhirnya Hyewon memberi instruksi.

“Ja... Jadi Tante...?” Sahut Tejo seperti tak percaya. Dalam hatinya seketika berteriak girang seperti orang yang baru menang lotre.

“Tapi ingat loh Jo...! walau kamu nanti terangsang dengan buah dada Tante, ini demi Doni. Bukan buat pelampiasan nafsu kamu. Kamu kontrol diri ya, ingat Oom kamu...!” Ucap Hyewon mengingatkan.

“Siap Tante!” Sahut Tejo sambil melesat keluar kamar mengambil wadah yang diminta Tantenya.

Hyewon diam terpaku di atas ranjang. Dirinya juga berdebar membayangkan apa yang sebentar lagi bakal terjadi. Ada perasaan grogi menyelinap, di samping nafsunya juga mulai meluap-luap.

“Aah Tejo, gak nyangka secepat ini kamu sudah bisa menjamah Tante.” Ucapnya dalam hati.

Kalau saja di dapur ada kamera tersembunyi, tentu polah Tejo yang melompat-lompat kegirangan seperti orang yang lupa diri akan terekam. Ya, begitulah Tejo saat Hyewon tak lagi melihatnya di luar kamar. Kegembiraannya teramat sangat, bahkan ingin rasanya dia teriak, tapi urung karena tentu Hyewon bakal mendengarnya. “Yess, datang juga hari ini...!” Pekiknya dalam hati.

###################

Holy Cow!



Dengan membawa wadah yang dibutuhkan Tejo segera kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Hyewon duduk pasrah di tepi ranjang. Hyewon menoleh, senyumnya tersungging lagi.

“Ahh Tante...” gumam Tejo dalam hati dengan gemas. Tak membuang waktu Tejo segera duduk di ranjang berhadapan dengan Hyewon. Untuk sesaat keduanya tampak canggung. Tapi Hyewon segera angkat bicara.

“Siap Jo...?” Ucapnya tersenyum menggoda.

“Y.. ya Tante...” Tejo tampak grogi.

“Yang lembut ya...?” Melihat Tejo yang grogi Hyewon malah makin gemas menggodanya.

“I... iya Pasti Tante!” Tejo makin blingsatan.

“Tante tahu ini saat teristimewa bagimu...” Hyewon makin nekat menggoda.

Tejo terdiam.

“Ini pertama kalinya kamu lihat payudara secara langsung kan?’ Tanya Hyewon.



Tejo mengangguk cepat.

“Nah, Tante ingin kasih yang spesial buat kamu...” Kerling Hyewon. “Sekarang Tante kasih kamu kesempatan, kamu yang buka baju Tante...” Tantangnya.

Edan. Hyewon seperti lupa kata-katanya sendiri. Padahal tadi dia minta pada Tejo untuk mengontrol diri dan tidak menganggapnya sebagai pelampiasan nafsu, tapi kini malah dia sendiri menggodanya seperti itu. Tejo sendiri jelas terkesiap mendengar kata-kata Hyewon. Jakunnya naik turun, tapi belum juga berani bergeming.

“Nah lo, sekarang malah kamu yang malu-malu... Hi hi hi...” Hyewon membelai pipi Tejo, diangkat dan ditolehkannya kepala Tejo yang dari tadi menunduk supaya menghadap dirinya. Kemudian Hyewon membuka 1 kancing paling atas piyamanya lantas diam menunggu Tejo untuk meneruskannya. Tejo yang paham apa yang dikehendaki Tantenya mulai memberanikan diri. Dengan gemetar tangannya mulai melolosi kancing piyama Hyewon satu demi satu. Nafasnya menderu. Dalam hatinya geregetan sekali dia pada Tantenya. Serasa ingin langsung ditubruk dan digagahinya. Inilah yang selalu dia bayangkan saat Anton mengunjungi Tantenya itu. Bayangan yang selalu menyiksa dirinya, tentang bagaimana Anton menelanjangi Tantenya. Kini peran itu dimainkan olehnya. Sekarang dia yang jadi bintangnya! Tejo berhenti di kancing ketiga. 2 kancing paling bawah dibiarkannya tetap mengancing. Nafasnya makin memburu. Keberanian makin muncul dalam dadanya. Dibukanya piyama Hyewon dengan menyibak bagian kerahnya dan memelorotkannya dengan cepat dari atas melewati bahunya hingga berhenti di tengah lengannya. Hyewon tentu saja kaget.

“Kyaaa...!” Kedua payudaranya langsung melompat keluar karena dia tak mengenakan BH.

Tejo terkesiap melihat pemandangan yang begitu indahnya itu. Pemandangan yang selama ini menghantui jiwa remajanya, yang menjadi impian tiap laki-laki untuk memandangnya, kini terpampang jelas di hadapannya tanpa halangan apapun. Detak jantungnya mengencang bak dentuman meriam. Nafasnya tercekat, tenggorokannya menjadi gersang, dan yang pasti ‘adik kecil’nya langsung terbangun dengan tegangan super tinggi. Tejo merasa betapa beruntungnya dirinya. Pengalaman pertama melihat payudara wanita, dirinya langsung mendapat kualitas nomor satu. Payudara Hyewon memang benar-benar sempurna. Besar, namun padat dan kencang sehingga putingnya yang mungil mengacung seperti menantang minta segera dihisap. Putih tanpa noda, mulus tanpa cacat.



“Ahh...” Hyewon mendesah lirih merasakan angin dingin AC menerpa kulit payudaranya yang terbuka bebas.

Bulu kuduknya berdiri seketika. Debar jantungnya juga makin keras seperti halnya Tejo. Naluri ekshibisionisnya hari ini naik ke level yang lebih tinggi dengan mempertontonkan kedua payudaranya dengan bebas tepat di hadapan keponakannya sendiri yang buruk rupa itu.

Awalnya Hyewon mengira Tejo hanya akan menyingkap piyamanya saja. Tak disangka Tejo telah membuka dirinya dengan cara seperti itu. Bagian pundak hingga dada Hyewon kini terekspos. Secara spontan dia menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Kenapa dibuka dua-duanya Jo...? Nakal iih... Satu aja...” Ujarnya.

“Hari ini Tejo mau memeras Susu yang banyak...!” Jawab Tejo nakal.

“Satu aja cukup Jo...” Ucap Hyewon tersenyum.

Ditariknya piyamanya supaya menutupi lagi pundaknya yang terbuka. Tejo buru-buru mencegahnya.

“Jangan Tante pliss...” Ucapnya ngenes. Dia tak ingin pemandangan itu segera berakhir.

Hyewon langsung mencubit pipinya, “Nah lo, mulai nakal... Tante ini bukannya mau memuaskan nafsu kamu Jo. Hayo, tadi katanya janji mau kontrol diri...?! Lagian dingin kan, nanti Tante sakit lagi...” Sahutnya tegas.

Tejo tidak berani membantah. Geregetan perasaannya dengan sikap Hyewon yang main tarik ulur itu. Hyewon sendiri dalam hati juga menikmati permainannya itu. Dia tahu Tejo tentu terangsang berat saat itu.

“Kamu suka Jo?” Tanya Hyewon pelan.

“I.. Iya Tante, suka sekali...” Jawab Tejo polos.

Hyewon tersenyum mendengarnya. Dielusnya lagi kepala Tejo.

“Tante tahu betapa menariknya buah dada Tante buat kamu. Dan Tante nggak marah, justru itu menunjukkan kalo kamu laki-laki normal. Walaupun niat kita menyediakan ASI buat Doni, Tante tahu bagaimanapun juga nafsu kamu pasti tetap muncul. Kamu pasti terangsang kan? Itu resiko yang Tante ambil dan Tante harap kamu ikut jaga kehormatan Tante... Oke?” Ucap Hyewon, mencoba memainkan peran sebagai Tante yang bijaksana. Tejo pun mengangguk tanda menurut.

“Nah ayo dimulai Jo...” Ucap Hyewon tersenyum menggoda. Manis sekali. Tejo mulai mengulurkan tangannya.

Waktu seakan berhenti saat jemarinya menyentuh kulit payudara Hyewon. Bahkan jantungnya sendiri pun seolah berhenti berdenyut. Tejo tidak langsung menggenggam payudara itu. Dia terlebih dulu mengelusnya dengan lembut, ingin merasakan kehalusannya. Hyewon merinding saat merasakan kulit payudaranya bergesekan dengan jemari Tejo yang kasar. Dia membiarkan Tejo mengelus-elus payudaranya untuk beberapa saat. Dipandangnya wajah Tejo yang tampak tegang.

“Puas-puasin deh Jo rasa penasaran kamu dengan payudara Tante...” gumamnya dalam hati. Sesaat kemudian, tangannya meraih tangan Tejo dan digenggamkannya pada payudaranya.

“Kok malah dielus-elus Jo, ayo mulai diperas ASI Tante...” Ucapnya. Dia pun membimbing tangan Tejo dengan gerakan meremas. “Begini caranya Jo...” Jelasnya.

Hyewon mengajarkan gerakan mengurut dan memeras dengan 2 jari hingga air susunya pun mulai keluar. Tejo benar-benar takjub melihat air susu yang mengucur keluar dari puting susu Tantenya itu. Hyewon melepaskan tangannya dan menyandarkan tubuhnya. Tejo mengerti, dia pun segera meneruskan memeras payudara Hyewon. Air susu Hyewon yang mulai mengucur deras ditampungnya di wadah yang telah disiapkan. “Curr... Cuurr... Cuurrr...” Hyewon memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Bagaimanapun dia juga merasakan sensasi dari remasan tangan Tejo pada payudaranya.

“Aah... Jo jangan terlalu kencang, sakit...” Desah Hyewon manja.

“Iya Tante... Maaf...” Tejo tersipu menyadari dirinya yang terlalu bersemangat.

“Pelan aja ya sayang...” Ucap Hyewon lagi.

Lagi-lagi perasaan Tejo dilambungkan oleh godaan Hyewon yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Makin gemas dia melumat payudara Tantenya itu dengan tangannya. Betapa menakjubkannya gumpalan payudara itu. Bentuknya sangat sederhana tapi bisa membuat semua laki-laki mabuk kepayang, blingsatan, hingga lupa diri. “Duh herannya, benda ginian aja kok nggemesin banget... Hiiih...!!! Oh mai gat... indahnyaaa...!!! Ingin rasanya Tejo teriak.

“Ouuuhhh.... Joooo, pelan...!” Hyewon mendesah panjang. Matanya mulai sayu. Tanpa sadar Tejo terlalu keras lagi meremasnya. Lenguhan Hyewon terdengar merdu sekali di telinga Tejo. Penisnya pun makin meronta di balik celananya.

“Maaf Tante... Habis gemas...” Tejo meringis seperti tanpa dosa.

“Kamu ini... mau memerah susu apa mau mencabuli Tante sih...?” Hyewon merengut manja. Sekali lagi Tejo takjub mendengar kata-kata “mencabuli” dari bibir Tantenya itu. Hatinya teriak, “Iyaa Tante, Tejo pingin mencabuli Tante sekarang jugaa...!” Tapi tentu saja kalimat itu tidak sampai keluar dari mulutnya.

Dengan pelan Tejo meneruskan lagi memerah ASI dari payudara Hyewon. Sedikit demi sedikit wadah yang dibawanya pun mulai penuh. Hyewon diam saja sambil tetap menyandarkan tubuhnya. Posisinya terlihat seperti sedang pasrah. Kalau saja Doni terbangun dan bisa berpikir, tentu dia akan takjub melihat pemandangan yang ganjil itu. Mamanya yang cantik jelita bersandar pasrah sementara payudaranya yang putih mulus diremas-remas oleh tangan Tejo yang kasar dan hitam legam. Sesekali Hyewon terlihat meringis dan menggigit bibir karena Tejo masih saja kerap meremas terlalu kencang. Tapi dirinya tidak lagi memprotesnya. Diam-diam sesungguhnya dia pun menikmatinya. Tak lama kemudian wadah yang dibawanya pun penuh dengan air susu Hyewon. Tejo menghentikan perasannya. Diambilnya tisu dan diusapnya puting susu Hyewon yang basah.



“Sudah Jo?” Tanya Hyewon. Tubuhnya menggelinjang merasakan geli di putingnya yang disapu tisu.

“Iya Tante, ni yang satu udah penuh...” Tejo yang masih gemas pada payudara Hyewon ternyata sudah menyiapkan wadah kedua. Lho... Hyewon jelas tidak menyangka, tapi dirinya malah tertawa geli.

“Ya ampun Tejo, kamu bawa 2 wadah? Buat apa banyak-banyak Jo, 1 aja cukup...!” Ujarnya gemas.

“Buat persediaan Tante...” Jawab Tejo meringis. Tapi dirinya ragu juga untuk meneruskan karna tampaknya Hyewon keberatan. “Itu kan sudah bisa buat 2 kali Jo... Lagian nanti kalo habis kan bisa diperah lagi...” Ucap Hyewon lembut.

Tejo terdiam. Jelas sekali dia menahan sesuatu yang hendak disampaikannya. Mungkin karena takut. Hyewon yang mengamati raut muka Tejo pun memahami.

“Kamu mau perah buat kamu sendiri ya? Hayo...?” Terkanya.

Muka Tejo memerah. Sebenarnya dia hanya ingin lebih lama lagi menikmati menjamah payudara Tantenya itu. Tapi dirinya pun mengangguk mengiyakan.

“He eh Tante.... Bo.. leh kan Tante?” Tanyanya ragu.

Lagi-lagi Hyewon tertawa geli. “Kamu ini ada-ada aja Jo... Tante beliin kamu susu sapi, jarang sekali kamu minum. Eh, sekarang kamu malah ketagihan susu Tante...” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Tejo karena gemas.

Tejo hanya meringis saja. Dirinya masih belum berani bicara.

“Ya udah deh Tante kasih...” Akhirnya Hyewon memutuskan. “Tapi, secukupnya saja ya...?” Kerlingnya.

Tejo pun sumringah, “Baik Tante...” Sahutnya cepat.

Hyewon tersenyum geli. Tubuhnya pun bersandar lagi mempersilahkan Tejo melanjutkan. Tejo tidak buang waktu. Disingkapnya piyama Hyewon yang menutupi payudaranya yang 1 lagi. Hyewon langsung memprotesnya,

“Nah lo, kok dibuka lagi Jo...? Nakal banget sih kamu...” Ujarnya pura-pura mengomel.

“Ka... Katanya boleh 1 lagi Tante...?” Jawab Tejo ngeles. “Kan biar imbang Tante, kalo ga pindah susu nanti yang 1 kosong, yang 1 penuh kan jadi berat sebelah...” Lanjutnya.

Hyewon langsung tertawa geli mendengar logika Tejo yang lugu itu. “Huuu...! Sok tahu kamu Jo...!” Dicubitnya pipi Tejo dengan gemas. “Ya udah deh terserah kamu... Dasar genit!” Lanjutnya. Bagaimanapun juga pada akhirnya Hyewon membiarkan saja apa mau Tejo.

Tidak heran memang kalau Tejo terobsesi menelanjangi seluruh dada Tantenya itu. Payudara tentu jauh lebih indah bila tampil sepasang ketimbang hanya sebelah. Tejo hanya mesam-mesem saja melihat tingkah Tantenya yang sok jual mahal itu. Dia pun mulai nekat. Sebelum mulai memeras, dia menyingkap lagi bagian atas piyama Hyewon yang masih menutupi bahunya. Dengan 1 gerakan, bahu Hyewon pun terbuka lagi. Hyewon langsung bergidik merasakan angin AC yang kembali menerpa tubuhnya.



“Iiih Tejo...!” Protesnya.

“Biar leluasa Tante...” Tejo berdalih.

“Dingiin Joo...” Keluh Hyewon.

“AC-nya dikecilin aja Tante...” Usul Tejo.

Tanpa minta persetujuan Hyewon dia sendiri langsung meraih remote AC dan menekan tombol untuk menaikkan suhu. Hyewon terdiam menyaksikan ulah keponakannya yang mulai nakal itu. Piyamanya yang masih terbuka separuh dan menggantung di lengannya pun ia lolosi hingga terlepas sepenuhnya. Kemudian piyama itu dilemparkannya ke wajah Tejo dengan gemas.

“Niih... Puaas...? Puaaass...?” Serunya menirukan Tukul Arwana.

Tejo jelas terkesiap melihat Tantenya yang kini bertelanjang dada. Dia tak berani menjawab, hanya menelan ludah berkali-kali.

“Gila... Betapa mulus dan betapa sempurnanya...” Puja Tejo dalam hatinya.

Ingin sekali dijelajahi dan dielusnya seluruh tubuh Tantenya itu. Darah Hyewon juga makin berdesir kencang di dalam dadanya. Dia sendiri tak menyangka akan berbuat sejauh itu. Tapi ada semacam perasaan lega dan puas sekali dalam dirinya saat itu. Terjadi keheningan sesaat yang membuat mereka berdua merasa canggung satu sama lain. Akhirnya karena tidak tahan Hyewon pun angkat bicara.

“Hayo dimulai lagi... Kok malah bengong? Kalo kamu cuma mau melototi tubuh Tante, tak usah yaa...! Tante pakai lagi lho piyamanya!” Ujarnya.

Tejo tersentak. “I... Iya Tante!” Jawabnya.

Dengan sigap Tejo mulai memerah payudara Hyewon yang satunya. ASI murni nan jernih pun mulai mengucur deras dari puting susu Hyewon yang bersandar terdiam. Dirasakannya Tejo masih saja kerap meremas payudaranya dengan kasar. Tapi dia enggan memprotesnya lagi. Lagipula dirinya juga mulai merasakan keenakan dari sensasi itu.

“Aaahh...” Desahnya lirih.

Mendengar itu Tejo spontan memperlunak remasannya. “Sakit Tante? Tejo terlalu kencang ya...?” Tanyanya prihatin.

“Eh ng... Nggak Jo, terusin aja...” Jawab Hyewon dengan muka memerah. Ada perasaan malu menyelinap. Desahan tadi keluar spontan saja, tak diduganya Tejo ternyata memperhatikan.

Adegan pemerahan susu itu pun berlanjut. Suasana kamar menjadi hening karena tak satupun di antara mereka yang bersuara. Yang ada hanya suara derasnya kucuran air susu Hyewon yang tertampung dalam wadah. Baik Hyewon maupun Tejo, sama-sama saling meresapi fantasi dan kenikmatannya masing-masing. Lama kelamaan Tejo pun makin tidak konsentrasi dengan pekerjaan memerahnya. Perahan pada payudara Hyewon untuk mengeluarkan ASInya membutuhkan gerakan mengurut yang konsisten. Sementara gerakan tangan Tejo sendiri makin bervariasi, dari meremas, mengelus, bahkan memelintir-melintir puting susu Hyewon dengan gemas. Jelas air susu Hyewon tidak keluar lagi. Tejo bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak peduli. Padahal wadah yang dibawanya baru terisi separuh. Hyewon sebenarnya juga merasakan bahwa gerakan tangan Tejo mulai ‘ngaco’. Tapi dia sendiri malah mendiamkannya. Ada kepuasan tersendiri dari membiarkan jiwa remaja Tejo melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada payudaranya. Dia sendiri juga sedang melampiaskan kecenderungan ekshibisionisnya, dan kejadian hari ini sungguh memuaskan dirinya. Perasaan itu terus bergejolak, terus memuncak dan makin memuncak, makin memuncak, hingga akhirnya... “Aaahhh... hhh...” Tubuh Hyewon menggelinjang hebat. Dirinya mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di buah dadanya. Cairan cintanya memancar dengan deras di dalam rahimnya hingga membanjirinya.

Tejo tersentak. Remasannya spontan terhenti. Disaksikannya tubuh Tantenya yang melemas seakan seluruh tulang dalam tubuhnya dilolosi satu persatu. Tejo tidak menyadari bahwa Tantenya itu sedang mengalami orgasme. Dirinya pun khawatir, wajahnya memucat merasa telah melakukan kesalahan.

“T... Tante gapapa? Tante capek ya? Maafin Tejo Tante...” Ucapnya gugup.

“Nggak Jo, Tante gapapa kok...” Jawab Hyewon sambil tersenyum.

Wajahnya terlihat sendu. Matanya yang sayu menatap Tejo. Dielusnya lembut tangan Tejo yang barusan memeras payudaranya. Tejo terkesima memandang wajah Hyewon yang sayu namun memancarkan ‘kharisma’ keayuan tersendiri. Dirinya pun tak sanggup berkata.

“Jo...” Gumam Hyewon lirih.

“Iya Tante?” Jawab Tejo.

“Kalo udah, udah ya...” Ucap Hyewon tersenyum. Dielusnya pipi tejo dengan perasaan sayang. Tejo pun tersipu.

“Jangan keterusan Jo, ga bakal ada habisnya kamu mainin buah dada Tante. Kamu menyiksa diri sendiri kan dengan begitu...? Udah sana buruan dibuang, biar plong...” Lanjut Hyewon bijaksana.

Muka Tejo makin memerah mendengarnya. Tantenya ternyata mengerti betul apa yang dirasakannya. Gejolak dalam dadanya. Dia pun perlahan bangkit.

“Iya Tante...” Jawabnya lirih.

“Sana di kamar mandi Tante aja... Tapi disiram ya?” Ucap Hyewon.

Tejo menurut. Ditaruhnya kedua wadah yang berisi air susu Hyewon di atas meja dan dirinya segera ngeloyor ke kamar mandi. Hyewon melihat ke 2 wadah itu. Satunya penuh dan satunya hanya terisi separuh. Dia pun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Puas sekali dirinya sudah menyuguhkan dirinya pada keponakannya sendiri yang baru berumur belasan itu. Dia terdiam sejenak, namun kemudian pikirannya mulai membayangkan Tejo yang sedang coli di kamar mandinya. Darahnya pun berdesir kembali. Tanpa mengenakan piyamanya lagi ia pun bangkit menuju kamar mandi. Penasaran dia ingin menonton pertunjukan Tejo yang sedang menguras amunisinya di situ.

Tejo yang sedang berkonsentrasi mengocok batangnya sama sekali tidak menyangka Hyewon muncul dengan bertelanjang dada. Tantenya itu hanya berdiri di pintu kamar mandi, menatapnya sambil tersenyum manis. Namun karena mungkin setan sudah menguasai kepalanya, hal itu sama sekali tidak mengusik Tejo. Justru pemandangan Tantenya yang telanjang dada itu makin memicu kocokannya.

“Aahh... Tanteee...” Desahnya sambil menatap tubuh telanjang Hyewon.

Perasaan Hyewon bergolak lagi melihat bagaimana Tejo onani sambil melihat tubuh telanjangnya. Dirinya merasa seksi sekali dengan begitu. Terlebih lagi dia benar-benar takjub melihat ukuran penis Tejo. Sungguh tidak disangka penis keponakannya itu berukuran super. Tangan Tejo sendiri bahkan terlihat tidak cukup untuk menggenggamnya. Panjangnya mungkin 2 kali genggaman tangan Tejo. Mata Hyewon berbinar memandang batang berurat itu diurut maju mundur dengan tangan kecil Tejo. Kepalanya jamurnya yang mengkilat terlihat merah padam seakan semua darah di tubuh Tejo berkumpul di situ. Timbul kerinduan luar biasa dalam dirinya pada ‘batang ajaib’ milik laki-laki itu. Bayangan penis-penis semua pria yang pernah menidurinya pun berseliweran dalam benaknya. Wajah Hyewon memerah menyadari Tejo yang sedang memandanginya. Keponakannya itu tentu menyadari matanya tadi terpaku pada penis miliknya. Senyum manisnya pun mengembang dan dihadiahkan pada Tejo seakan mengatakan,

“Kereen Jo... Kamu punya barang bagus!” Dihadiahi senyuman maut itu Tejo pun tak kuasa menahan laharnya yang sudah di ujung. Kocokannya dipercepat, dan... “Crraaattzz...!” Sperma Tejo muncrat berkali-kali membasahi dinding kamar mandi Hyewon. Lagi-lagi Hyewon dibuat takjub melihat kekuatan orgasme Tejo. Padahal antara Tejo berdiri dan dinding kamar mandinya berjarak lebih dari 1 meter. Namun sperma Tejo mampu muncrat begitu jauh hingga mencapai dinding itu. Tak setetes pun yang jatuh mendarat di lantai kecuali yang sisa-sisa akhir saja. Dihitungnya ada 5 kali semburan yang bertubi-tubi pada dinding kamar mandinya. Semuanya berwarna putih dan kental. Benar-benar orgasme yang luar biasa. Hyewon sampai ikut berdebar melihatnya. Dia pun menyadari bahwa hari ini dirinya telah menghadiahi Tejo dengan sesuatu yang sangat luar biasa istimewa. Bangga sekali dirinya memikirkan hal itu.

“Tejoo... Tejoo... Cepet cari pacar gih...!” Candanya.

Tejo hanya tersipu tanpa menjawab. Dia sibuk menyiram spermanya hingga bersih. Hyewon pun beranjak meninggalkannya. Dirasakannya tubuhnya mulai panas dingin lagi, mungkin gara-gara nafsunya yang bergejolak. Piyamanya dikenakan lagi sebelum dia kemudian beringsut kembali di balik selimutnya.

***

Setelah itu Hyewon masih memuaskan diri bermalas-malasan sepanjang hari, sementara Tejo sendiri makin bersemangat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga menggantikannya. Hingga hari berakhir, tak ada lagi obrolan atau peristiwa yang ‘menjurus’ di antara keduanya. Baik Hyewon maupun Tejo pun saling bersikap wajar seolah pagi tadi tak terjadi apa-apa. Saat Doni bangun, ASI yang cukup untuk diminum seharian pun telah siap. Selain itu Tejo juga yang memandikannya, mengajaknya bermain, menyiapkan makan dan menyuapinya.



########################

Hari Kedua

Keesokan harinya. Hyewon masih meminta Tejo untuk tak masuk sekolah dulu. Meskipun urusan Doni sudah bisa ditanganinya sendiri, dia belum mau ditinggal sendirian di rumah. Tejo masih sering dimintai tolong mengambilkan ini-itu saat Hyewon mengurusi Doni. Dari menyiapkan air hangat, handuk, popok, bedak, dan lain-lain. Hyewon masih mudah kecapekan kalau semua itu harus ditanganinya sendiri. Di samping itu, urusan kebersihan rumah juga masih dibebankan kepada Tejo. Menjelang siang saat semua sudah beres, Hyewon bersantai-santai menemani Doni bermain-main di ruang tengah. Tejo yang baru selesai mandi ikut duduk di situ namun tidak berkata apa-apa. Dirinya seperti menunggu-nunggu kejutan apa lagi yang akan dia dapatkan dari Tantenya yang seksi itu. Wajah Hyewon tampak cerah dan segar. Agaknya kondisinya benar-benar sudah pulih seperti sedia kala. Tak bosan-bosannya Tejo memandangi dan mengaguminya.

“Sarapan gih Jo...!” Karena merasa diamati oleh Tejo, Hyewon pun angkat bicara.

“Iya Tante...” Tejo mengiyakan tapi enggan beranjak.

“Habis sarapan kamu belajar ya Jo? Yah baca-baca dikit lah... Kamu kan udah 3 hari ini bolos sekolah. Tante gak mau kamu ketinggalan pelajaran loh Jo...” Ucap Hyewon lagi.

Tejo manggut-manggut saja. Meski dia cukup bagus dalam pelajaran ada kalanya juga dia malas belajar. Dan saat-saat sekarang ini justru sedang malas-malasnya dia membuka buku pelajaran. Terlebih, berduaan dengan Tantenya yang membuat pikirannya sering melayang dan susah konsentrasi. Walau bagaimanapun, Tejo tetap tak berani membantah Hyewon. Dia pun beranjak. Saat sarapan Tejo tak banyak makan. Dirinya seperti tak bernafsu. Atau lebih tepatnya, ‘nafsu’ lainnya lebih berbicara ketimbang nafsu makan. Apalagi saat dia harus diam di kamar membaca buku. Tak satupun bab pelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Dia pun lebih banyak tiduran dan melamun, namun tak keluar kamar. Paling tidak Tantenya mengira dia sedang belajar di dalam kamar. Beberapa saat kemudian, merasa sudah lama di dalam kamar Tejo pun tidak betah lagi.

Dilihatnya jam dinding,

“Buseet, ternyata waktu baru berlalu sejam...” Keluhnya dalam hati. Padahal dirinya merasa seakan sudah berjam-jam dia di dalam kamar.

Tapi persetan, gumamnya. Dia pun melangkah keluar kamar. Kalau Tantenya menanyakan, dia akan menjawab bahwa dia sudah belajar. Betapa girangnya Tejo, di luar kamar dia menjumpai Hyewon sedang menyusui Doni. Sekali lagi dia mendapat pemandangan mulusnya kulit buah dada Tantenya itu. Agaknya dari ke hari pujaan dirinya terhadap Tantenya itu bukannya surut, tapi malah makin menjadi.

“Cepet amat belajarnya Jo?” Hyewon langsung bertanya begitu melihat Tejo.

Sama sekali bukan pertanyaan menghardik. Malahan seperti biasa Hyewon melemparkan senyuman manisnya, seperti hendak mengatakan,

“Ya sudah kalo sedang tidak ingin belajar ya tak apa.” Itulah sebabnya Tejo tak jadi berbohong menjawab pertanyaan Hyewon itu. Dengan polos dia menjawab,

“Susah konsentrasi Tante...” Dan jawaban itu ternyata memancing tawa Hyewon.

“Ya ampun Jo, awas loh nilai kamu turun...” Ucapnya. “Itulah sebabnya kemarin Tante ragu ngasih kamu buah dada Tante...!” Lanjut Hyewon. “Yang kayak begitu memang sebenarnya ga baik buat kamu yang masih remaja. Kalo bayangan-bayangan porno sudah masuk ke otak, susah banget ngilanginnya, akibatnya ya itu kamu jadi susah konsentrasi... Pikiran-pikiran kamu yang harusnya dicurahkan ke pelajaran malah teralih ke hal-hal yang mesum... Kalo saja kemarin bukan karna demi Doni, Tante pasti tegas sama kamu.”

Hyewon terus menyerocos panjang lebar. Tejo tersipu mendengarnya, walaupun sudah tidak surprise lagi dengan kalimat Tantenya itu.

“He he iya Tante... Nah itu sekarang sudah bisa nyusuin Doni, berarti ga ada acara memerah susu lagi dong Tante...?” Ucap Tejo nakal.

“Idiih kamu ini baru dibilangin malah udah genit...!” Sahut Hyewon seraya mencubit lengan Tejo. Tejo menghindar sambil meringis.

“Trus yang kemarin masih sisa loh Tante...” Ucapnya.

“Kamu minum aja... Katanya doyan?” Jawab Hyewon sekenanya.

“Ya udah Tejo minum ya...” Tejo beranjak ke ruang makan mengambil air susu Hyewon yang tersisa di dalam lemari es.

Setelah menuangkannya dalam gelas, dia pun balik lagi duduk menemani Hyewon yang masih menyusui Doni di ruang tengah. Tejo meringis mesum padanya, tapi Hyewon berlagak tak memperhatikannya. Untuk sesaat keduanya duduk tanpa memulai obrolan. Pikiran Tejo juga sudah sibuk berfantasi.

“Wah ini peristiwa unik,” pikirnya. Dia, Hyewon dan Doni duduk berkumpul.

Baik Tejo maupun Doni sama-sama minum ASI dari Hyewon, bedanya Doni minum langsung dari sumbernya, sedangkan Tejo minum dari gelas. Hyewon juga tampak canggung dengan keadaan itu. Diliriknya Tejo yang sedang minum. Ternyata Tejo juga sedang memandangi wajahnya, hingga kedua mata mereka pun bertemu.

“Enak Jo?” Tanya Hyewon spontan. Tejo yang ditanya malah cengengesan.

“Yang penting bukan rasanya Tante...” Jawabnya nakal.

Hyewon merengut mendengarnya. “Dasar kamu...” Diambilnya bantal kursi dan dilemparkan pada Tejo gemas.

Tiba-tiba mereka dikejutkan suara bel. Sesaat keduanya terdiam bertanya-tanya. “Kalo Heru mestinya baru balik 4 hari lagi...” Gumam Hyewon dalam hati.
Hyewon dan Heru



“Jo, bukain pintu sana...!” Perintahnya kesal karena Tejo tak juga beranjak.

Sambil senyam-senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal Tejo bangkit menuju pintu depan. Tak disangka ternyata teman-temannyalah yang datang. Luki cs berlima seperti biasa. Melihat Tejo sendiri yang membukakan pintu, mereka langsung menyeru nyaris bersamaan dengan suara cempreng,

“Oi Jo ngapain aja kamu bolos 3 hari??!”

Bukannya menjawab Tejo malah menghardik, “Apa-apaan sih langsung teriak aja, anak Tante lagi mau tidur tuh! Lagian kok jam segini udah pada pulang sekolah? Bolos juga ya kalian?” Selidiknya.

“Guru-guru pada rapat Jo...” Jawab Luki cs cengengesan.

“Ooh Luki dan geng... Ayo masuk masuk...!” Seru Hyewon dari dalam.

Kebetulan Doni baru saja selesai menyusu dan kini sedang terkantuk-kantuk dalam gendongan Hyewon. Kelima remaja tanggung sahabat Tejo itu nyengir kuda lebar saat bertemu Hyewon. Ya, sama seperti Tejo mereka juga sangat memuja-muja kecantikan Hyewon. Hyewon juga balas menghadiahi mereka dengan senyum manis.

Comments