Parto dan Sakura: The Story Continue



 Sakura sedang duduk sambil membaca majalah khusus cewek. Ia baru selesai olahraga jogging. Namun wajahnya saat itu begitu segar dan cantik. Karena ia baru selesai mandi sehabis jogging tadi. Bahkan beberapa ujung rambutnya saat itu masih menempel dan terlihat basah. Saat itu ia memakai baju putih dan celana pendek merah dengan dadanya kelihatan menonjol di balik baju putihnya. Sementara celana merahnya itu cukup pendek sehingga menampakkan sebagian besar pahanya yang putih mulus. Selain pendek juga termasuk ketat sampai-sampai pantatnya terlihat begitu menonjol. Saat ia sedang asyik membaca, tiba-tiba muncul ayahnya yang keluar dari dalam kamar. Segera ia menghampiri dan berbicara ringan dengan putrinya sejenak. Setelah itu ia berkata dengan serius,

“Sakuchan, sebaiknya untuk sementara ini kamu jangan memakai baju yang terlalu terbuka atau terlalu pendek. Kamu harus ingat, di dalam rumah kita saat ini ada adik Mboh Minah, yang namanya…siapa itu…Parjo atau Warto. Kamu harus sadar kalau sekarang kamu sudah besar. Papi nggak mau nanti kamu diliatin sama dia yang akhirnya bikin kamu sendiri nggak nyaman. Kemarin khan Papi juga sudah bilang.”
“Ah, tapi khan dia selalu di luar, Pi. Sedangkan aku di dalam. Lagian ini khan rumah kita juga, kok sekarang malah aku yang mesti menyesuaikan diri gara-gara kita ada kedatangan seorang kacung. Masa aku mesti ngalah sama kacung.”
“Ya biar bagaimana pun khan namanya tinggal dalam satu rumah khan pasti suatu saat bisa ketemu. Sementara dia itu khan cowok dan kamu cewek. Kamu harus mengerti tentang masalah ini,” kata Papinya,” Lagian, Papi nggak mau nanti terjadi apa-apa kalau tiba-tiba dia jadi kurang ajar sama kamu, misalnya.”
“Ah, Papi terlalu mengada-ada. Lha aku jarang ketemu dia koq. Apalagi disini khan banyak pembantu cewek, ada Mbok Minah, Wati, Suminten, dll ditambah Papi disini. Masa dia berani macam-macam. Apalagi Mbok Minah adalah kakaknya.”
“Ya tetap saja kemungkinan itu ada, Sakuchan. Kamu ini kalau dinasehati selalu aja membantah. Sudah sebaiknya kamu ikuti nasehat Papi. Kamu jangan pakai celana yang pendek seperti itu kalau keluar kamar. Sebaiknya sekarang kamu ganti dengan yang lebih panjang. Dan ingat, jangan lupa selalu kunci pintu kamarmu!”

Saat itu rupanya Parto berada di taman di luar ruang tempat mereka berada. Namun posisinya tak jauh dari situ. Sehingga ia bisa mendengar semua percakapan itu. Dalam hati ia mentertawakan nasehat tuannya itu kepada Sakura, anak gadisnya.

“Ah, pake nasehat macam-macam. Itu semua nggak guna. Hehehehe. Lha wong anakmu itu sudah kadung aku bikin nggak perawan kok. Hahahahaa.” Dan penisnya seketika mengeras saat membayangkan itu. “Sekarang aja di depan lu dia sok alim. Nanti malam di belakang lu, heheheheee, bakal abis-abisan dah. Hahahahaa.”
Sementara di dalam, Sakura yang mendengar nasehat ayahnya, akhirnya bangkit berdiri. Parto, yang mengetahui cewek itu kini berdiri dan posisi ayahnya kini berjalan menjauh dari putrinya, berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan. Paling nggak sore itu ia mencoba mencuri dulu paha ayam muda dari penjagaan ayahnya. Untuk itu ia berdiri di depan pintu dan mengambil posisi yang pas supaya bisa melihat Sakura yang sedang berdiri dan membetulkan celananya itu, namun tak terlihat oleh bokapnya yang berdiri tak jauh dari sana.

“Suitt, suit, aduuhh sexy-nya,” katanya tentu dalam hati.

Dengan mata jelalatan dilahapnya pemandangan indah itu. Dilihatnya pantat menonjol “ayam muda” Sakura yang sexy itu. Juga pahanya yang putih mulus terlihat sampai ke pangkalnya. Karena memang betul perkataan ayah gadis itu, celana pendek merah yang dikenakannya itu sungguh pendek, sampai-sampai pahanya yang putih mulus terlihat sampai ke pangkalnya. Dan juga begitu ketat, sampai-sampai pantat Sakura terlihat bulat menonjol. Tentu hal seperti ini sebetulnya memang tak pantas dilihat oleh kacung rendahan seperti dirinya terhadap anak cewek majikannya yang telah berusia dewasa. Namun tentu bagi Parto hal seperti ini termasuk “rejeki” baginya. Wow! Mangstaff! Parto berdecak kagum dalam hati menyaksikan pemandangan indah itu. Apalagi bentuk figur tubuh Sakura memang indah dengan tubuh langsing, tinggi-berat yang proporsional dan payudara yang cukup menonjol di balik kaus putih yang dikenakan gadis itu. Dan wajah gadis itu juga begitu segar dan cantik. Ujung-ujung rambutnya yang masih basah dan menempel, membuat “ayam muda” itu jadi semakin sexy dan maknyuss sekali. Wajahnya yang cakep dan kinyis-kinyis seperti boneka + tubuh proporsional + rambut indah + paha putih mulus + pantat bulat menonjol + dada membusung = mupengs abisz!




Kini ia membayangkan….celana pendek merah itu digesernya supaya penisnya yang telah menegang itu bisa diselipkan ke dalam untuk masuk menembus liang vagina gadis itu dalam-dalam. Lalu penisnya maju mundur mengocok-ngocok vagina gadis berwajah oriental berkulit putih itu…hmmmm maknyoeszz-nya!! Selagi Parto berdiri menatap Sakura lekat-lekat dan berkonsentrasi penuh ke fantasinya itu, tiba-tiba…
“HEY! Ngapain kamu berdiri disana!!” sergah ayah Sakura tiba-tiba yang membuat Parto menjadi terkejut sampai-sampai ia hampir melompat. Wajah pria setengah baya itu merah padam. Nampak jelas kalau ia begitu marah karena melihat Parto kacung rendahan itu ternyata diam-diam sedang memelototi putrinya dengan tampang mupeng abis.
“Ayo balik ke belakang!!” bentaknya dengan keras sambil berdiri di tengah pintu. Rupanya ia beniat menghalangi pandangan Parto supaya tak bisa melihat putrinya. Jadi kini pandangan Parto jadi sepet karena terhalang tubuh pria setengah baya ini. Apalagi orang ini sedang marah terhadap dirinya.
“Ma-maaf Tuan. Iya. Eh, anu, tadi, saya kebetulan lewat,” kata Parto kepada tuannya.
“Sudah cepat, pergi sana!!”teriaknya. “Sakura, ayo cepat kamu masuk ke dalam!” katanya sambil memalingkan kepalanya ke dalam.
Dalam hati Parto mendongkol juga karena pemandangan indahnya tiba-tiba sirna, malah kini ia mendapat hardikan dan makian dari tuannya. Sementara Sakura segera langsung menghilang masuk ke dalam kamarnya. Ah, sialan, ngerusak kesenangan orang aja! Batinnya dalam hati. Namun ia tak berani mengucapkannya. Selama ini ia melakukan hubungan terlarang dengan Sakura secara diam-diam, karena ia tak ingin diusir dari rumah itu. Ia tak ingin kehilangan sumber uang tetap yang didapatnya dari gadis itu, juga lebih-lebih lagi ia tak mau kehilangan “hak istimewa”nya yaitu bisa menikmati kemulusan tubuh gadis majikannya itu terus berulang-ulang-ulang dan berulang-ulang terus. Sementara itu, insiden tadi tak hanya berhenti disitu saja. Karena beberapa saat setelah ia ke belakang dan masuk ke kamarnya, tiba-tiba terdengar suara kakaknya berteriak memanggilnya. Mula-mula ia tak ingin menjawabnya. Namun semakin lama teriakan itu semakin keras. Bahkan kini kakaknya itu menggedor-gedor pintu kamarnya sambil berteriak memanggilnya.

Parto

“Parto! Ayo keluar kamu!” perintah Mbok Minah. “Partooo!!!” bentak kakaknya itu.
“Iya, iya. Sebentar aku keluar, “ kata Parto akhirnya.
“Ada apa sih Mbak, teriak-teriak gitu?”
“Kamu ini! Dasar muke gile loe ya! Udah Mbak bilang berkali-kali. Disini kamu harus sopan terhadap Tuan dan Non. Ayo keluar!” kata Mbok Minah sambil menarik Parto ke depan.
“Mau ngapain Mbak?”
“Kamu harus minta maaf sama Tuan! Ayo cepat ikut aku!”
“Nah, ini orangnya Tuan,” kata Mbok Minah yang terus menarik Parto akhirnya berhenti saat bertemu dengan ayah Sakura, Pak Sutanto.
“Parto, ayo kamu minta maaf sama Tuan. Cepat!”
“Eh..”
“Ayo, cepat!!”
“Maaf, Tuan. Tadi saya nggak sengaja lewat,” kata Parto perlahan sambil menundukkan kepala. Dalam hati ia amat dongkol. Sialan, pikirnya!
“Ingat ya! Aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi!” kata Pak Sutanto sambil menatap tajam ke arah Parto.
“Iya, Tuan,” kata Parto sambil menundukkan kepalanya. Namun dalam hatinya…awas, rasain, tunggu pembalasanku nanti!
“Minah!”
“Ya Tuan,” kata kakaknya sambil membungkuk, yang membuat Parto jadi semakin sebal dengan sikap carmuk kakaknya itu.
“Hanya karena mengingat dia adalah adikmu, maka dia nggak langsung aku usir. Tapi ingat, sekali lagi terjadi, dia harus pergi! Mengerti kamu?”
“Iya, baik Tuan. Terima kasih Tuan.”
“Dan satu lagi, kamu harus bisa mendidik adikmu ini supaya mengerti sopan santun. Mengerti?”
“Mengerti Tuan. Sekali lagi maaf Tuan. Dan, tolong sampaikan permintaan maaf saya ke Non juga.”
“Baiklah, sekarang kamu boleh pergi,” kata Pak Sutanto kepada Parto.
“Parto! Ayo kamu bilang terima kasih dulu ke Tuan,” kata Mbok Minah.
“Eh, terima kasih Tuan,” kata Parto dengan terpaksa. Huh! Gerutunya dalam hati.
“Ayo, sekarang kamu kembali ke belakang,” perintah Mbok Minah.

“Dasar ular berkepala dua”, batin Parto saat berjalan ke belakang. “Di depannya membungkuk-bungkuk tapi di belakang ceritanya lain. Sekarang aku disuruh ke belakang, pasti kamu pengin ngentotan sama tuan sialan itu!” Gerutunya dalam hati karena hatinya kesal. Bahkan kakakku sendiri bukannya ngebelain adik sendiri malah carmuk dengan orang luar. Abis ini pasti “lama deh baliknya”.
Sementara itu, begitu Parto meninggalkan mereka…
“Perbuatan adikmu itu sungguh tak bisa diterima,” kata Pak Sutanto yang rupanya masih kesal dengan kejadian tadi. .
“Ya, maafkan dia, Tuan. Dia itu memang orang goblok, nggak berpendidikan. Jadi maklum kalau tindakannya konyol. Tapi dia nggak akan berani berbuat macam-macam kok, apalagi setelah kumarahi tadi.”
“Baik, kau harus bisa mendidik adikmu itu.”
“Baik Tuan. Eh, omong-omong….Tuan cape? Pengin aku pijit nggak?” tanya Minah dengan melirik genit.
“Gila kamu. Masa sekarang…masih sore gini.”
“Ah, nggak apa-apa Tuan. Apalagi Non Sakura khan sudah masuk ke kamarnya. Dan disini sekarang lagi nggak ada orang,” kata Minah memegang tangan tuannya sambil mengedipkan matanya. “ Sekalian untuk menurunkan emosi Tuan yang barusan naik.”
“Ah, ya, ya, memang pintar sekali kamu dalam urusan ginian. Hehehe,” kata tuannya tanpa basa-basi lagi. Bahkan kini tuannya itu tanpa sungkan lagi meraba-raba dagu dan pipinya. Bahkan setelah itu tangannya turun ke bawah memegang-megang dada Minah.
“Memang sekarang kamu harus melayaniku dengan baik. Tadi adikmu itu bikin darahku naik. Nah, sebagai obatnya, sekarang Mbak-nya wajib memberikan “ongkos gantinya” Hehehee…”, katanya sambil kini kedua tangannya meremas-remas buah dada Minah.
“Iiih, Tuan jangan begitu ah!” kata Minah pura-pura menolak.
“Yuk, masuk ke dalam kamar aja….” kata tuan yang telah mata gelap karena nafsu itu sambil memeluk Minah dan membawanya masuk ke dalam kamar…..

–@@@@–
Sementara di dalam kamar Parto…

“Huh! Sialan”, gerutu Parto.
Ia masih kesal karena harus minta maaf kepada tuannya yang pada dasarnya tak terlalu disukainya. Dan ia makin dongkol karena Mbak-nya juga turut memarahinya di depan tuannya. Dan kini, Mbak-nya tak kunjung datang. Tentu mereka sedang asyik di dalam kamar. Ah, sungguh bangsat bener tuan ini. Anaknya baru diliatin gitu aja sudah sewot setengah mati. Padahal dia sendiri dengan seenaknya mainin cewek. Tiba-tiba dirinya jadi bergairah. Ah, ngapain kesal. Sekarang adalah saat yang bagus. Selagi kau asyik menggarap Mbakku, akan kugarap pula anakmu yang bening itu. Heheheh… Apalagi sejak tadi memang anakmu itu telah bikin aku ngaceng. Kini Parto semakin bergairah lagi karena rasa mupengnya kini bertambah dengan keinginan membalas dendam terhadap tuan yang memarahi dirinya itu. Sekalian ini adalah sebagai ganti rugi karena si bangsat itu juga kini sedang menggarap Mbakku, pikirnya. Namun ganti rugi ini adalah ganti rugi plus plus plus yang sangat menguntungkannya, karena Sakura jauh lebih muda, lebih cakep, lebih sexy, daya tarik seksualnya jauh lebih tinggi…pokoknya kelasnya jauh diatas Mbaknya yang sudah stw. Nah, rasain kau! Batinnya.

Kupelototin anakmu, kau marah.
Kau berani pelototin anakku, kugarap kakakmu!
Kau garap kakakku, kugarap pula anakmu!
Dan, akulah yang akhirnya menang. Hehehehee….

–@@@@–
Sakura sedang duduk di ranjang di dalam kamarnya. Ia masih memakai baju yang sama seperti tadi, yaitu atasan kaus putih dan celana merah yang begitu pendek. Pahanya yang putih mulus sebagian besar terbuka dan terlihat jelas. Namun kali ini di atas pahanya yang putih itu terdapat tangan hitam yang meraba-raba paha mulusnya. Tangan itu adalah tangan Parto, kacungnya! Tanpa sungkan-sungkan lagi terhadap gadis ini, tangan Parto merayap kesana-kemari, menggerayangi seluruh bagian paha Sakura yang terekspos dan membuatnya mupeng sejak tadi. Seandainya ada orang luar yang melihat kejadian itu, tentu mereka semua tak habis pikir. Sungguh kejadian yang langka bin ajaib, seorang kacung rendahan yang kere dan sama sekali nggak ada cakep-cakepnya bisa berduaan di dalam kamar dengan anak gadis majikan dari keluarga Jepang elit. Padahal ceweknya sungguh bening dan cakep luar biasa. Malahan dengan sukarela gadis majikan ini menurut saja dirinya digrepe-grepe oleh kacungnya itu. Tentu kacung itu tak menyia-nyiakan “daging empuk” di depan matanya itu. Sementara tangannya yang satu terus meraba-raba paha mulus Sakura, tangannya yang lain memeluk bahu sambil bibirnya asyik menciumi bibir gadis itu. Mmmphhhhhh! Dengan ganas dilumatnya bibir Sakura. Parto merasa aman untuk melakukan apa pun yang diinginkan sesuka hatinya terhadap anak majikannya itu saat itu. Karena “anjing bulldog” yang menjaganya telah dijinakkan oleh Mbak-nya. Sehingga kini ia bisa dengan leluasa memakan “anak ayam” yang kinyis-kinyis ini. Memang saat itu di kamar yang lain, Pak Sutanto sedang asyik menggrepe-grepe Minah yang meski sudah 40-an tahun tapi tubuhnya masih cukup kenceng. Tentu ia tak sadar kalau pada saat yang sama Parto juga sedang asyik menggrepe-grepe anak gadisnya yang tadi bahkan baru dipelototi aja sudah protes berat. Sekarang malah lebih hancur-hancuran..Saat itu Sakura yang pahanya sedang digerayangi sambil bibirnya diciumi Parto sama sekali tak melawan, malah ia memejamkan matanya sepertinya menikmati juga perlakuan kacungnya itu terhadap dirinya. Padahal awalnya tadi ia tak ingin membuka pintu saat Parto mengetuk kamarnya dan dilihatnya melalui kaca kecil di pintu ternyata yang terlihat adalah mulut tonggos Parto. Ia tentu tak ingin perbuatan skandalnya itu ketahuan Papinya. Namun Parto terus mengetuk malah ketukannya makin keras. Tindakan Parto yang baginya sungguh nekat itu kini membuatnya semakin takut. Sehingga mau tak mau akhirnya ia membuka pintu kamarnya sedikit. Maksudnya menyuruh Parto untuk segera pergi dan tidak mengetuk kamarnya lagi. Namun begitu pintu terbuka sedikit, Parto langsung menerobos masuk ke dalam. Belum sempat ia bicara, tiba-tiba kacungnya itu langsung mendekap dan mencium bibirnya!

“Mmmpphhhhh.” Sakura berusaha berontak, namun Parto tidak mau melepaskan bibir nikmat gadis majikannya itu. Ia terus menciumi bibir gadis muda ini dengan penuh nafsu. Setelah tadi kena marah dan dipermalukan oleh ayah gadis ini, kini saatnya ia membalas dendam dengan menguasai dan menggagahi putrinya! Apalagi ia sungguh suka dengan cewek ini karena putih bening, cakep, dan sexy banget. Ditambah lagi wajahnya yang oriental sungguh menggairahkan dirinya! Apalagi selama ini ia jarang bahkan nggak pernah bergaul dengan cewek-cewek keturunan. Kapan lagi ia bisa menikmati cewek Jepang seperti sekarang. Cowok mana yang nggak pengin menikmati barang bagus seperti ini! Ditambah faktor kejadian tak menyenangkan tadi serta bayangan bokap cewek ini yang sedang menggarap kakaknya, membuat nafsunya semakin menggelora bagaikan ombak Laut Selatan yang ditiup angin topan. Sehingga kini mulutnya yang tonggos itu menyapu seluruh bagian bibir gadis Jepang yang berwajah polos ini
tanpa ada satu bagian pun yang terlewat. Sakura membiarkan saja perbuatan Parto yang sebetulnya tergolong amat kurang ajar terhadap dirinya itu. Karena ia telah betul-betul masuk ke dalam jerat perangkap pelet yang disusun oleh Mbok Minah sebelumnya (baca: Parto, Orang Desa Yang Cari Rejeki Di Kota, di folder bulan Aug 2009). Jadi kini ia betul-betul jatuh ke tangan (atau tepatnya, penis) Parto secara mutlak. Malah kini ia juga mendambakan belaian kasih Parto terhadap dirinya. Demi Parto, ia rela menyerahkan segalanya termasuk kehormatan dirinya. Terbukti sebelumnya telah ia serahkan keperawanannya untuk direnggut Parto. Ia sama sekali tak peduli dengan kenyataan bahwa Parto adalah kacungnya! Juga ia tak peduli dengan perbedaan diri mereka yang begitu besar dalam hal segalanya, termasuk ras, status sosial, kekayaan, pangkat, warna kulit, latar belakang keluarga, pendidikan, prospek masa depan, dan lain sebagainya. Juga ia tak peduli dengan wajah Parto yang jelek dan penampilannya yang amburadul. Dalam pandangannya, Parto adalah pangeran idamannya. Begitulah hebatnya khasiat ilmu pelet itu!

Kini Sakura mulai membalas ciuman Parto. Bibirnya yang lembut bergerak menjelajahi bibir Parto yang hitam tonggos. Keduanya kini saling berciuman dengan hangat. Bahkan di dalamnya, lidah keduanya juga saling bertemu dan beradu. Sambil menciumi Sakura, kedua tangan Parto menggerayangi bagian belakang tubuh gadis itu sampai akhirnya keduanya mendarat di celana merah gadis Jepang itu. Dipegang-pegang dan diremas-remasnya pantat Sakura yang menonjol di balik celana ketatnya. Sesuatu yang tadinya tak boleh dilihat, sekarang malah bebas untuk digrepe-grepe. Sementara badan Sakura menempel di tubuh Parto. Sambil terus menciumi bibir dan menggrepe-grepe pantat Sakura, ia merasakan dada empuk gadis itu yang menempel di dadanya. Aaaahhhhh. Begitu nikmatnya hidup ini, gumam Parto dalam hati. Meski gua nggak suka dengan pemilik rumah ini, tapi kalo disuguhi yang kayak gini ya kagak nolak deh. Setelah puas berciuman, Parto menuntun Sakura ke ranjang. Setelah gadis itu duduk di ranjang, makin jelas saja pahanya yang putih mulus. Sehingga, tangannya langsung meraba-raba paha gadis itu. Dan kali ini Sakura mengambil inisiatif dengan mulai menciumi Parto lagi. Sambil memejamkan mata, bibir indahnya menempel di bibir tonggos Parto, lalu dikecupnya, dan dikecupnya lagi. Kembali bibirnya menempel dan menggamut bibir Parto. Membuat Parto jadi merem melek merasakan nikmatnya dicium gadis Jepang majikannya yang cakep ini. Satu tangannya memeluk bahu Sakura, membuat gadis itu merasa disayangi. Namun tangan satunya begitu liarnya menggerayangi paha Sakura. Malah tangan itu mulai menyentuh-nyentuh bagian pribadi gadis itu. Membuat Sakura semakin “on” saja dan makin nafsu menciumi Parto. Tangan Parto kemudian lanjut menggerayangi baju putih gadis itu. Sasaran utamanya tentu tak lain adalah dadanya. Tangannya bergerak liar kesana kemari tak
jauh dari sekitar payudara gadis itu.

 Sambil terus menciumi, Sakura mengeluarkan lirihan-lirihan kecil. Apalagi Parto juga ikutan ganas dalam menciuminya. Beberapa saat mereka berciuman dengan asyik. Seolah waktu berhenti berputar….Parto kini sudah tak sabar lagi ingin melihat kemulusan tubuhnya. Apalagi ia masih mengingat tadi saat dibentak bokapnya hanya cuma sekedar melihat gadis ini dari kejauhan. Kini selain bisa melihat dari jarak close-up, juga bisa melihat gadis ini dalam keadaan polos, mulus, tanpa busana sama sekali! Segera ia menghentikan ciumannya. Kedua tangannya memegang ujung baju putih Sakura. Segera ditariknya baju itu ke atas. Semakin ditarik ke atas, semakin terekspos kulit tubuh gadis itu yang begitu putih dan halus. Sampai akhirnya Parto berhasil meloloskan baju putih itu dari kepala dan rambut Sakura dan kemudian melewati kedua tangan putih Sakura.

Dilihatnya gadis itu memakai bra warna putih juga. Nampak belahan dadanya yang sexy di atas branya. Sementara baju Sakura yang ada di tangannya langsung dilemparkan ke belakang dan mendarat di lantai. Kini ia tak cukup puas hanya sekedar melihat cleavage Sakura. Kedua tangannya langsung mengarah ke punggung Sakura. Diraihnya tali bra gadis itu dan dengan sekali gerakan terbukalah kaitan bra itu. Segera tangannya dengan cepat melucuti bra putih itu dari tubuh putih Sakura. Dalam waktu singkat bra Sakura telah berada di tangannya. Kini terbukalah dada Sakura tanpa penutup apa pun di depan mata Parto. Lagi-lagi Parto melemparkan bra itu ke belakang dan tali bra itu menggantung di ujung meja rias Sakura. Melihat Sakura yang telanjang dada, dalam diri Parto langsung terasa syuurrr! Penisnya semakin menegak kencang. Matanya melotot memandanginya. Mulutnya yang tonggos terbuka karena terpana. Meski telah melihatnya berulang-ulang kali, namun buah dada Sakura ini tak pernah gagal membuatnya terangsang abis sampai ke tulang sumsum. Sejenak ia melupakan celana pendek merah yang masih melekat di tubuh gadis itu. Karena kedua tangannya sudah tak sabar ingin merengkuh sepasang gunung kembar indah yang terbuka di depannya ini. Apalagi wajah gadis ini begitu innocent dan kinyis-kinyis. Membuatnya sungguh kontradiktif melihat gadis bertampang baik-baik seperti dia namun dadanya telanjang. Kedua tangan Parto kini memegang masing-masing buah dada Sakura. Sungguh pas sekali. Payudara Sakura dengan C cup yang cukup menonjol dan padat berisi itu begitu pas berada dalam genggamannya. Dan ia meraba-raba payudara gadis ini yang berukuran 34C itu. Sungguh kontras sekali perbedaan warna kedua tangannya yang hitam dengan tubuh gadis itu. Membuat Parto semakin menggebu nafsunya meraba-rabai dan menggoyang-goyang payudara Sakura yang putih mulus itu. Sementara itu Sakura sama sekali tak memberontak saat payudaranya digenggam dan diraba-raba oleh kacungnya ini. Malah ia memejamkan matanya seakan begitu menghayati akan nikmatnya dirinya saat diraba-raba dan diremas-remas oleh Parto. Sehingga Parto pun juga makin bernafsu.

Kini payudara gadis itu diremas-remasnya sambil kedua putingnya disentuh-sentuhnya dengan kedua telunjuknya. Sambil ia menatap wajah polos Sakura. Nampak ekspresi kepuasan tersirat dari wajah cakep gadis itu, membuatnya nampak semakin cantik saja. Membuat nafsu Parto semakin menggelora. Setelah cukup merangsang payudara Sakura, kini tangannya mulai menggeser-geser celana merah gadis itu. Sakura pun bersikap kooperatif sehingga tak lama kemudian celana merah itu pun juga terlepas dari dirinya. Parto melemparkannya ke belakang dan kali ini mendarat di kursi kecil di depan meja rias.

Saat itu Sakura memakai celana dalam warna pink yang berukuran agak mini. Oleh karena ikut tertarik ke bawah saat Parto menurunkan celana pendek Sakura tadi, maka bagian atas bulu-bulunya kini terlihat di atas celana dalam itu. Tangan hitam Parto langsung menyusup masuk ke dalam celana dalam gadis itu. Ia meraba-raba bulu-bulu vagina gadis itu. Selanjutnya tangannya itu turun ke bawah lagi di tengah-tengah selangkangan gadis itu, mengobok-obok bagian dalamnya. Entah kenapa, bagi Parto ada kepuasan dan sensasi tersendiri memasukkan tangannya ke balik celana dalam cewek. Dan tangannya langsung mengobok-obok bagian pribadi gadis ini. Rupanya ia telah
cukup berpengalaman dalam hal ini sehingga bahkan gadis berwajah se-innocent Sakura pun dibuatnya merem melek dan mendesah-desah, membuat Parto semakin puas hatinya. Sampai akhirnya saat ia mengeluarkan tangannya kembali, tangannya telah menjadi basah. Setelah itu celana dalam pink itu dipelorotkannya ke bawah. Kini seluruh bulu vagina Sakura yang begitu rapi dan indah itu nampak jelas terlihat. Sementara liang vaginanya juga sedikit kelihatan karena posisi pahanya yang agak terbuka. Sementara celana dalam pink yang halus itu kini juga dilemparkannya ke belakang. Kali ini celana dalam Sakura mendarat di atas meja rias, jatuh menutupi bingkai foto kecil dengan foto Sakura lagi berduaan dengan Roger, cowoknya. Setelah berhasil melucuti seluruh pakaian Sakura dan kini pakaian gadis itu berserakan di mana-mana, giliran Parto melepas pakaiannya sendiri satu persatu. Sampai akhirnya ia juga sama-sama telanjang bulat. Tubuhnya nampak begitu hitam dan sungguh kontras kalau dibandingkan dengan tubuh Sakura. Parto berdiri di depan Sakura yang duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Sakura dan menaruhnya di batang penisnya yang berdiri tegak ke atas. Wajah polos Sakura menatap Parto sejenak. Setelah itu ia mulai memijit-mijit penis kacungnya itu. Sambil tangan satunya lagi kini memegang buah zakar Parto dan mengelus-elusnya. Ia terus mengocok-ngocok batang penis Parto yang besar hitam dan berurat itu. Sementara wajah kinyis-kinyis Sakura tertuju ke penis yang di-massage-nya itu. Ia nampak begitu konsentrasi dengan pekerjaannya itu. Membuat Parto jadi semakin terangsang. Apalagi kini ibu jari dan telunjuk Sakura juga meraba-raba dan memencet-mencet kepala penisnya yang membesar dan disunat itu.

Orang-orang yang mengenal Sakura semuanya mempunyai kesan kalau ia adalah cewek baik-baik dan alim karena wajahnya yang cakep dan polos seperti boneka. Namun sungguh tak dinyana, dibalik kepolosan wajahnya itu, ternyata ia telah sering bermain-main dengan penis kacungnya. Sementara ia sendiri “dijadikan boneka” oleh kacungnya itu di atas ranjang. Demikian pula dengan saat itu. Ia nampak begitu mahir dan cekatan dalam urusan memainkan penis cowok. Terbukti kini Parto jadi mengerang-ngerang dan merem melek karena perbuatan gadis berwajah alim ini. Untunglah Parto termasuk cowok yang kuat dan perkasa dalam hal esek-esek sehingga ia bisa terus menikmati rangsangan Sakura tanpa mengalami ejakulasi dini. Malah kini dengan tenang ia memberi perintah ke cewek itu untuk menyepong kontolnya.
“Yuk, sekarang diemut, Sakuchan,” perintahnya tanpa ada rasa hormat dan sopan santun sama sekali ke gadis majikannya ini.
Hebatnya, Sakura langsung menanggapi permintaan kacungnya itu. Segera tangannya menghentikan kocokannya. Wajah polosnya menatap Parto sebentar saat kacung itu berkata,” Ngemutnya pake lidah ya,” sambil ia memegang rambut gadis itu. Sembari menatap Parto, Sakura menganggukkan kepalanya. Saat itu wajahnya sungguh polos seperti boneka. Namun perbuatannya sungguh kontradiktif. Karena sesaat kemudian ia menjalankan perintah Parto itu dengan penuh rasa kepatuhan.
Shleebpp…shleebbp…shleebppp….
Penis Parto yang hitam besar dan perkasa itu kini telah masuk ke dalam mulut Sakura. Kepala Sakura bergerak naik turun mengangguk-angguk saat menyepong penis Parto. Terdengar suara-suara kecipakan saat mulutnya bergerak naik turun itu. Sementara Parto mengerang-erang menikmati rangsangan mulut Sakura terhadap penisnya. Apalagi di dalamnya, lidah gadis itu bergerak-gerak kesana kemari menjelajahi setiap jengkal kepala penisnya yang disunat itu.

Bagi Parto, lidah Sakura yang menari-nari di kepala penisnya itu terasa hangat. Dan Sakura sepertinya cukup jago juga dalam melakukan ini. Seluruh bagian kepala penis Parto tak ada yang terlewat oleh lidahnya yang hangat. Bahkan leher penisnya juga tak luput dari sapuan lidah cewek itu. Di dalam mulut Sakura yang hangat, lidah gadis itu bergerak melingkari leher penisnya sampai 360 derajat. Dan gadis itu melakukannya secara variatif, kadang searah jarum jam, kadang berlawanan, kadang berpindah-pindah
tempat. Membuat Parto jadi berkelojotan karena nikmatnya yang luar biasa. Bagi orang yang tak berpengalaman tentu akan langsung ejakulasi diperlakukan seperti itu. Namun hal itu tak berlaku bagi Parto. Ia bisa terus menikmati sepongan dahsyat Sakura untuk waktu yang cukup lama. Bahkan satu tangannya ikut memegang rambut Sakura dan menggerak-gerakkan kepalanya. Maksudnya supaya gadis itu tak berhenti melakukan aksinya. Sementara tangannya yang lain berkacak di pinggangnya. Sementara ia terus menatap wajah polos Sakura saat melakukan oral service yang hebat itu. Lagak Parto saat itu mirip seperti boss gede saja. Padahal sebenarnya ia hanyalah seorang kacung rendahan biasa sementara justru cewek yang sedang mengoral dirinya ini adalah anak seorang boss gede. Setelah itu tangan Parto mulai menggerayangi tubuh mulus Sakura. Sambil terus menikmati sepongan cewek itu di penisnya, kedua tangannya meraba-raba dan memencet-mencet payudaranya terutama kedua putingnya yang dimain-mainin dengan jarinya. Sehingga birahi Sakura pun juga jadi semakin tinggi, akibatnya ia makin aktif dalam melakukan sepongannya. Namun tak lama kemudian tiba-tiba Sakura justru menghentikan aksinya.

“Eeh, kenapa kok berhenti,” protes Parto,” Ayo terusin lagi.”
“Ganti posisi donk,” kata Sakura dengan muka agak memerah. “Aku juga pengin..”
“OK, OK,” kata Parto tersenyum-senyum sambil membatin, kalo punya anak majikan kayak gini siapa yang nggak kerasan kerja disini. Apalagi ceweknya cakep lagi. Kapan lagi bisa nyicipin cewek bening kayak gini.
“Yuk, kita di ranjang aja,” kata Parto. “Kamu telentang ya.”
Sakura tak menjawab karena sebenarnya ia agak malu minta ke Parto. Tapi ya gimana lagi, soalnya dirinya sudah terangsang…
Tanpa berkata apa-apa ia tiduran telentang di atas ranjang.
“OK, kamu terusin disana, aku main disini,” kata Parto sambil menindih tubuh Sakura.

Namun dalam posisi terbalik alias 69. Ia menggeser tubuhnya sedikit supaya penisnya tepat di atas mulut Sakura sementara mulutnya bisa menyedot-nyedot vagina gadis itu. Sementara payudara Sakura terlihat menempel di perut Parto. Nampak kontras sekali perbedaan keduanya terutama warna kulitnya. Putih bening di bawah, hitam butek di atas. Tubuh Sakura begitu mulus halus, sementara tubuh Parto kasar. Yang cewek berwajah tipikal Jepang oriental, sedangkan cowoknya amat jelas bertampang Jawa. Rambut Parto hitam pendek dan agak keriting, sementara rambut Sakura panjang lurus dan disemir kecoklatan. Dan terakhir, kalau Sakura begitu cakep dan menarik, wajah Parto sama sekali nggak ada cakep-cakepnya. Meskipun begitu besar perbedaan fisik mereka, namun kini mereka berdua sama-sama merasakan kenikmatan luar biasa. Keduanya sama-sama berkejab-kejab, sama-sama mengerang dan mendesah-desah, sama-sama menggelinjang. Terutama Sakura yang sejak tadi haus akan sentuhan-sentuhan, kini nafsu itu begitu menggelora bagaikan luapan air sungai yang siap meledakkan tanggul. Tubuhnya terutama bagian pinggulnya bergoyang-goyang. Karena Parto begitu cekatan merangsang dan menjilati klitorisnya. Sambil terus melakukan sepongannya, gerakan pinggulnya itu semakin liar. Sementara vaginanya kini telah banjir. Membuat ia tak mau kalah dan semakin mengeluarkan kemampuannya dalam mengemut dan menyedot-nyedot penis Parto. Sehingga Parto pun juga merasakan kenikmatan luar biasa. Setelah beberapa saat, mereka ganti posisi. Kali ini Parto yang di bawah sementara Sakura berada di atasnya. Posisi ini buat Parto lebih nikmat dan menggairahkan dirinya karena ia bisa melihat dan meraba-raba punggung Sakura yang putih halus. Juga payudara Sakura jadi lebih terasa menempel di tubuhnya karena pengaruh gravitasi. Apalagi sejak bertukar posisi, sepongan Sakura jadi semakin menggila saja. Kini ia merasa ejakulasinya hanya tinggal menunggu waktu saja. Sehingga ia juga semakin bersemangat mengenyot-ngenyot dan menjilati klitoris dan G-spot Sakura. Rupanya ia tak ingin kehilangan muka karena kalah “keluar duluan” dibanding cewek itu. Sebaliknya Sakura pun demikian. Ia penasaran ingin membuat cowok itu keluar duluan karena selama ini ia selalu kalah darinya.

Rupanya diam-diam diantara keduanya terdapat persaingan terselubung. Masing-masing pihak berusaha membuat pihak lain mencapai klimaks duluan. Sehingga kini keduanya saling merangsang dan saling dirangsang. Tinggal menunggu saja, siapa yang nggak tahan dulu….
“Uuuhhh…Ooohhh….”
“Ooohhhh….aaahhhhh…”
“Shleebb…shleebb…”
“Cleebb..clepp….”
Dan akhirnya….
“Aaaahhhhhh…..aaaaahhhhhhh…..aaaaahhhhhhhhhh……..”
“Aaaahhhhhhhh…….aaaaaahhhhhhh…………”
Terdengar suara desahan-desahan panjang dan keras dengan nada tinggi. Suara Sakura! Karena tak tahan lagi digituin terus-terusan oleh Parto, akhirnya… bobollah tanggulnya sehingga kini ia mengalami orgasme yang sungguh nikmat sekali. Saat itu ia sama sekali tak ingat lagi dengan keadaan sekitar sehingga ia langsung meracau tak karuan sambil mendesah-desah dengan keras, dengan tubuhnya menggelinjang-gelinjang dengan hebat. Sementara vaginanya mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Membuat wajah Parto jadi ikutan basah. Parto dalam hati merasa bangga karena lagi-lagi ia akhirnya berhasil “menaklukkan” gadis majikannya ini secara mutlak dan telak. Dijilatinya vagina Sakura sambil terus merangsang titik-titik sensitif di daerah vaginanya yang telah diketahui rahasianya. Membuat Sakura semakin kuyup dan semakin liar gelinjangan tubuhnya. Sehingga skor saat ini Parto vs Sakura adalah 1-0 untuk Parto. Sementara itu Parto sendiri saat itu juga sudah hampir nggak tahan lagi. Apalagi mulut Sakura terus melakukan jurus “sepongan maut”-nya secara kontinu. Kini, setiap tarikannya jadi begitu berarti untuk secara drastis memperpendek “usia hidup” penis Parto. Sampai akhirnya kurang dari lima tarikan….
“Crottttt—-crotttttttt-crott–crotttt—–crottt——crott—-crottt———–”
Meledaklah gunung berapi yang memuntahkan seluruh lavanya. Penis Parto berejakulasi mengeluarkan sperma dalam volume yang banyak. Dan kejadian itu berlangsung saat penisnya masih di dalam mulut Sakura! Sehingga hampir seluruh “protein kocok” yang dimuntahkan penis Parto itu terminum oleh Sakura. Hanya sedikit sisa-sisanya terutama yang keluar belakangan yang kini masih tersisa di penis Parto. Sisanya terminum semuanya oleh gadis itu.

Sementara Parto nampak senyum-senyum cengengesan setelah berejakulasi. Sungguh puas sekali bisa bercinta dengan gadis secakep dan se-aduhai Sakura. Apalagi mengingat status sosial gadis itu yang jauh di atasnya. Ditambah lagi kulitnya yang putih bersih dan wajahnya yang oriental. Sungguh amat membanggakan ia bisa bercinta dengan gadis seperti ini. Dan kini, ia berhasil membuat gadis ini menenggak pejunya! Setelah itu Parto tiduran di ranjang dengan kepalanya ditaruh di tumpukan bantal. Lalu ia menyuruh Sakura membersihkan sisa-sisa sperma di penisnya itu dengan mulutnya sampai betul-betul bersih. Sampai akhirnya penisnya menjadi mengkilap dan licin kembali. Parto kini tiduran berbaring sebentar karena kecapean, sambil nonton LCD TV layar lebar yang terpasang di dalam kamar Sakura. Sementara sambil nonton, tangannya meraba-raba tubuh Sakura yang berbaring di sebelahnya. Setelah itu, tiba waktunya untuk massage. Kacung tengil ini kini menyuruh anak majikannya itu untuk me-massage punggung dan dadanya. Namun bukan sekedar massage biasa. Karena pijitan itu sama sekali tidak menggunakan tangan, tapi menggunakan payudara gadis itu.

 
Jadi kini Parto sedang enak-enakan tiduran sambil merasakan sensasi nikmat punggungnya dipijit-pijitin oleh payudara gadis majikannya itu. Tak lama kemudian mereka berdua ke kamar mandi untuk shower. Sementara Sakura menyabuni tubuh Parto yang berkulit sawo matang, Parto menyabuni seluruh tubuh putih gadis mulus itu. Saat itu penis Parto telah berdiri dengan tegaknya seperti saat sebelumnya tadi. Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi. Sakura hanya memakai handuk saja. Sedangkan Parto sama sekali telanjang bulat. Penisnya terlihat masih menegang dengan kuat. Tanpa permisi lagi Parto melepaskan kaitan handuk di depan dada Sakura, membuat handuk itu otomatis terlepas dan jatuh dari tubuh gadis itu. Mata Parto menatap ke payudaranya. Lalu ia mencium bibir Sakura. Sementara tangannya kini merayap dan mengusap-usap payudara gadis itu. Kemudian kembali mereka melakukan petting sebagai pemanasan untuk menu utamanya. Setelah puas saling merangsang dan, lagi-lagi, membuat basah vagina Sakura, Parto berdiri di belakang gadis itu. Ia menyuruh cewek itu menungging sementara tangannya berpegangan di tepi ranjang. Sehingga vagina Sakura jadi terbuka. Kemudian dijilat-jilatinya sebentar vagina gadis itu. Sebelum akhirnya didekatkannya penisnya ke vagina Sakura, sambil ia memegang kedua pantat gadis itu, dan…didorongnya tubuhnya ke depan sampai tubuh gadis itu juga ikut terdorong ke depan. Sakura menjerit saat Parto ikut mendorong tubuhnya ke depan. Karena pada saat itu masuklah penisnya ke dalam vagina Sakura sampai seluruhnya sampai-sampai tak kelihatan lagi.

Dan, setelah itu,
“Aaahhh…aahhhhhh…….aaahhhhhhh……..”
Sakura dibikin mendesah-desah saat penis Parto maju mundur di dalam vaginanya. Sementara mulut tonggos Parto ikut bergerak-gerak saat ia konsentrasi penuh “memompa” gadis itu. Sambil memegang pantat Sakura, penisnya terus bergerak maju mundur. Dengan gagah perkasa ia menunggang “kuda betina putih” yang mulus ini. Penisnya menghunjam-hunjam mengoyak-ngoyak vagina Sakura.
“Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..”
Sakura semakin keras mendesah-desah. Tubuhnya ikutan bergerak maju mundur seiring dengan irama Parto mengocok penisnya itu. Sementara payudaranya jadi bergoyang-goyang terguncang-guncang dibuatnya.

 
Membuat Parto bernafsu untuk segera menyangganya dengan kedua tangannya, menepuk-nepuk dan meremas-remasnya. Kini sambil terus menggenjot Sakura itu, Parto juga sibuk meremas-remas susunya dari belakang. Di-massage-nya payudara gadis itu sambil terus penisnya maju mundur di dalam tubuh gadis itu. Parto melepaskan tangannya. Ia menghentikan kocokannya bahkan mencabut penisnya keluar dari tubuh gadis itu. Ia memegang kedua kaki Sakura dan tiba-tiba diangkatnya keduanya. Sehingga kini Sakura hanya berpegangan pada tepi ranjang saja. Parto mendekatkan dirinya ke depan. Lalu, sambil menahan kedua paha Sakura dengan tangannya, ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Sakura kembali. Dan kembali disetubuhinya gadis itu dalam posisi seperti kuli bangunan yang sedang mendorong kereta dorong beroda satu. Mungkin Parto teringat saat ia bekerja sebagai kuli bangunan membawa kereta dorong berisi batu bata di tengah pasar. Namun bedanya kali ini yang ia “dorong-dorong” bukanlah kereta dorong tapi adalah Sakura. Sementara penisnya terus menusuk-nusuk masuk ke vagina Sakura. Membuat seluruh tubuh gadis itu lagi-lagi terdorong-dorong ke depan. Rambut Sakura yang tadinya tersisir rapi kini jadi berantakan. Dan payudaranya berguncang-guncang tak
beraturan. Membuat Parto jadi bernafsu melihat itu sehingga ia makin kuat menyodok-nyodok vagina Sakura. Sehingga kini bahkan ranjang king size besar yang tepinya dipegang Sakura itu juga ikut bergoyang-goyang.

Saat itu di dalam kamar itu benar-benar sedang terjadi gempa setempat yang begitu hebat! Untuk beberapa saat lamanya Parto bagaikan seorang cowboy menunggangi “kuda putih” berambut panjang ini. Ia terus-menerus dengan perkasa menggoyang-goyang tubuh gadis keturunan Jepang ini sambil penisnya terus menyodok-nyodok di dalam vaginanya. Kini Parto menidurkan Sakura di ranjang dan dimiringkannya tubuh gadis itu. Lalu diangkatnya satu kakinya ke atas. Dalam posisi agak serong, disetubuhinya gadis itu kembali. Posisi menyerong begini sungguh memberikan sensasi yang berbeda. Dirasakannya penisnya dijepit dengan kuat oleh otot vagina Sakura yang memang usianya masih muda dan vaginanya masih seret itu. Dikocoknya gadis itu terus menerus. Satu tangan Parto kini meraba-raba payudara Sakura. Sementara Sakura rupanya juga suka dengan posisi ini. Terbukti wajah cakepnya itu terus mengeluarkan suara desahan-desahan yang erotis. Bahkan setelah itu Sakura memejamkan matanya membiarkan tubuhnya bergerak-gerak disetubuhi Parto. Seolah ia sungguh menikmati dan begitu menghayati saat dirinya disetubuhi seperti itu oleh Parto.
“Emmhh…mmmhhh…mmmhhhh……,” demikianlah desahan-desahan tertahan Sakura yang sungguh erotis saat dirinya disetubuhi Parto sambil ia mengemut jari telunjuknya sendiri. Menyaksikan reaksi gadis yang sedang disetubuhinya itu, Parto terus-menerus mengocok-ngocok penisnya, untuk membombardir vagina gadis itu. Setelah itu posisi mereka berganti lagi. Parto duduk di tepi ranjang, dengan penisnya begitu perkasanya berdiri mengacung tegak ke atas. Dipangkunya Sakura yang putih mulus itu. Diraba-rabai kedua pundak gadis itu. Dirasakannya kulit tubuhnya begitu halus dan bersih. Sambil ia menciumi rambut dan leher gadis itu. Diciumnya bau harum menebar dari tubuh gadis itu. Diciuminya rambut lurus gadis itu. Lalu ia mengecup-ngecup leher yang putih halus itu. Membuat Sakura kegelian sehingga tubuhnya menggeliat-geliat sambil ia mendesah perlahan dengan mata terpejam. Diciuminya punggung gadis itu yang begitu mulus dan begitu putih. Sambil tangannya meraba-raba paha gadis itu yang sama putih, sama mulusnya, dan sama-sama membangkitkan gairah birahi itu. Lalu Parto kembali menciumi rambut dan leher gadis itu. Dadanya yang hitam menempel di punggung gadis itu, yang makin memperjelas perbedaan warna kulit keduanya dengan begitu kontras. Namun bagi Parto hal itu semakin membangkitkan gairah birahinya karena ia bisa mencium harum aroma tubuh Sakura.

Sambil terus menciumi rambut dan leher gadis itu, Parto kini meraba-raba payudara Sakura sambil meremas-remasnya. Kedua putingnya dimainkan dengan jari-jarinya. Apalagi puting Sakura cukup menonjol sehingga bisa digerak-gerakkan dengan jari tangannya. Tak lama kemudian Parto mengangkat tubuh Sakura sedikit, dimundurkannya sedikit dan, bleesshhh!, kini masuklah penisnya ke dalam vagina Sakura berbarengan dengan turunnya tubuh gadis itu ke pangkuannya. Kini giliran Sakura yang “menunggang” penis Parto. Digerak-gerakkannya tubuhnya naik turun, mula-mula perlahan tapi makin lama makin cepat iramanya. Sambil ia mendesah-desah. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang, terutama payudaranya yang ikutan bergerak naik turun bahkan sambil berputar-putar saat ia semakin cepat menggoyang tubuhnya mengocok penis Parto.
“Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..,” tanpa bisa menahan dirinya lagi Sakura mendesah-desah dengan suara cukup keras.

Sementara Parto di belakang juga merem melek menikmati goyangan tubuh gadis majikannya ini karena penisnya jadi dikocok-kocok oleh vaginanya yang terasa begitu sempit menjepit penisnya. Sambil menikmati “tunggangan” Sakura ini, ia menatap wajah polos Sakura yang kini sedang terangsang hebat itu melalui pantulan kaca rias. Memang Parto sengaja duduk dengan posisi menghadap meja rias, sehingga selain bisa menikmati mulusnya punggung Sakura, juga ia tak kehilangan pemandangan indah tubuh bagian depan Sakura dan juga reaksi wajah cakepnya saat sedang disetubuhinya. Sungguh menggairahkan sekali melihat tampang cakep Sakura yang kinyis-kinyis itu sedang dalam keadaan “high”. Apalagi “high”nya itu disebabkan karena menunggangi penisnya. Dan gadis itu terus menggoyang tubuhnya naik turun. Membuat rambut
gadis itu mengenai wajah dan kepalanya dengan tak beraturan. Sehingga kini Parto membenamkan wajahnya di rambut gadis itu sambil menciumi bau harumnya sambil tangannya terus memainkan payudaranya, menyentuh-nyentuh dan menggerak-gerakkan putingnya, juga melingkar-lingkarkan jarinya di sekeliling putingnya. Sementara Sakura semakin cepat dan tak terkendali menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun sambil terus mendesah-desah dan berteriak-teriak. Dunia seolah berhenti berputar bagi dua sejoli berlainan jenis yang sedang asyik main “roller-coster roller-costeran” itu. Setelah itu Sakura menghentikan gerakannya. Namun tak lama. Karena ia hanya membalikkan badannya.

Kini ia menghadap Parto sementara tubuh putih mulusnya hampir menempel ke tubuh hitam Parto. Dan lagi-lagi…bleeesshh, penis Parto amblas masuk ke dalam vaginanya. Lalu, kembali ia memulai permainan “roaler-coster” itu lagi. Kini tubuhnya bergerak naik turun mengocok penis Parto sambil mereka saling berciuman bibir dengan hangat. Setelah itu bibir Parto turun ke bawah leher putih gadis itu. Lalu turun lagi untuk menciumi payudara gadis itu bergantian kiri dan kanan. 

Kedua puting Sakura yang menonjol dan berwarna merah segar itu langsung dikenyot-kenyot dan disedot-sedot. Membuat Sakura makin liar. Ia terus menaik-turunkan tubuhnya, mengocok vaginanya dengan penis Parto di dalamnya. Sementara Parto terus mengemut-ngemut puting Sakura yang segar kemerahan itu. Sambil mengemut, lidahnya juga dijulur-julurkan menyentuh-nyentuh ujung puting yang amat sensitif itu. Sementara Sakura terus menggoyang tubuhnya, membiarkan penis Parto terus menyodok-nyodok liang vaginanya sampai akhirnya, Sakura mencapai klimaksnya dan mendapatkan orgasmenya yang kedua. Setelah itu ia menghentikan gerakannya dan melepaskan dirinya dari penis Parto. Namun rupanya penis Parto masih berdiri tegak! Sehingga kini skor Parto vs Sakura menjadi 2-0. Sakura terpana melihat penis Parto masih tegak dengan perkasanya, karena kini ia sadar apa yang mesti dilakukan selanjutnya sebagai “balas budi” untuk penis Parto. Apalagi Parto saat itu telah memberi instruksi jelas kepadanya, “Ayo emut donk!” katanya ke gadis majikannya itu sambil menunjuk penisnya. Kini mau tak mau Sakura harus melakukannya. Sambil duduk bersimpuh di depan kaki Parto, kini Sakura mengemut-ngemut penis kacungnya.
“Shleebb…shleeebb….shhleebbb….” demikian bunyi mulut Sakura saat menyepong penis Parto. Kepalanya terus mengangguk-angguk dengan penis hitam milik kacungnya itu bergerak keluar masuk mulutnya. Sementara Parto memejamkan matanya. Mulutnya yang tonggos itu bergerak-gerak seiring dengan irama sepongan Sakura yang bersimpuh di kakinya itu. Sungguh ia menikmati sepongan Sakura yang begitu nikmat.

Dan akhirnya, Parto menyuruh Sakura berhenti dan dikeluarkannya penisnya dari dalam mulut gadis itu. Nampak penisnya telah basah mengkilap karena cairan pre-cum nya bercampur dengan ludah gadis itu. Kini dikocoknya penisnya itu persis di depan wajah Sakura. Sampai tak lama kemudian akhirnya,
Crotttttttt—crottss—crotttzz–crottt–crott—–crott———-Muntahlah sperma Parto ke wajah cakep Sakura. Sehingga wajah putih cakep dan kinyis-kinyis seperti boneka itu kini jadi belepotan oleh semprotan sperma si kacung tengil ini. Alis Sakura, hidungnya, pipinya, dagunya, dan bibirnya, semuanya mendapat bagian kena semprotan sperma Parto. Bahkan ada juga sperma “nyasar” yang mendarat di rambut Sakura. Melihat itu sungguh Parto merasa puas sekali. Hatinya begitu bergelora menyaksikan itu semua. Karena cowok mana yang nggak suka menyemprotkan spermanya ke wajah cakep seorang gadis muda. Apalagi kalau gadis itu adalah anak majikannya! Beberapa saat kemudian…
“Yuk ah, aku cabut dulu,” kata Parto yang berdiri dari duduknya. Saat itu Sakura juga telah berdiri dan berjalan untuk mengambil tissue di atas meja rias. Namun Parto langsung menyelanya,
“Mau ngapain kamu?”
“Mau bersihin muka, sebelum nanti meleleh.”
“Jangan dibersihin,” perintah Parto. “Nanti saja setelah aku keluar. Sekarang ayo, kamu tiduran di ranjang donk dan berpose dulu yang sexy. Hehehehee…,” katanya sambil mengenakan celana dalamnya Parto tertawa terkekeh sambil menatap tubuh mulus Sakura yang telanjang itu. “Ayo buka pahamu lebar-lebar. Cepat!”
“Hahahaaa. Bagus, bagus,” katanya saat melihat Sakura menuruti perintahnya dengan patuh dan berpose menantang sambil membentangkan kedua kakinya dengan lebar. “Suitt…suitt….,” mulut usil Parto bersuit-suit sambil ia mengenakan seluruh pakaiannya. Sementara matanya tak lepas menatap liang vagina dan bulu-bulu kemaluan Sakura yang terbuka jelas di depan matanya itu.
“Terus dadamu asyik juga loh. Segar merangsang, padat berisi dan kenyal. Putingmu yang merah itu…cocok bener untuk diisep-isep. Hehehee…” katanya sambil menatap ke buah dada Sakura yang putih dan padat berisi dengan puting kemerahan yang menonjol itu.
Lalu Parto berjalan ke meja rias Sakura. Dibukanya tas Lous Vuitton warna hitam yang ada disana. Dikeluarkannya dompet didalamnya yang juga LV merknya dan dibukanya. “Ini aku ambil semua ya,” katanya sambil menguras habis seluruh duit yang ada disana dan dimasukkan ke kantong celananya.
“Hehehee. Liat tuh, wajahmu yang cakep sekarang jadi belepotan gitu,” katanya sesaat sebelum pergi. Saat itu memang wajah Sakura menjadi basah di beberapa tempat karena spermanya itu telah mencair dan mengalir turun. Bahkan sebagian leher dan dadanya kini juga ikutan basah karena sperma cair yang turun dari dagu dan pipinya. Sementara rambut panjangnya yang terurai nampak awut-awutan. Tapi Parto justru puas menyaksikan Sakura dalam keadaan hancur-hancuran saat itu. Juga hatinya puas karena telah merusak gadis majikannya ini untuk kesekian kalinya. “Wah kapan-kapan Papimu harus ngeliat keadaanmu seperti ini. Biar shock dianya. Hahahaaaaa……..”. Lalu keluarlah Parto dari kamar itu meninggalkan Sakura yang masih dalam pose yang sama seperti tadi sambil termenung-menung sendirian di dalam…

–@@@@–
(Continue reading at your own risk!)

Di ruang kantor yang acak-acakan dan penuh dengan asap rokok itu duduk saling berhadapan dua orang lelaki yang usianya terpaut cukup jauh. Lelaki berambut gondrong dan dikuncir yang duduk di belakang meja itu berusia sekitar 40 tahunan. Tampangnya galak seperti kepala preman. Badannya penuh tato dan kulitnya amat hitam karena sering terbakar matahari. Sementara lelaki yang duduk di hadapannya usianya baru sekitar 21-22 tahun. Tampangnya jelek dan penampilannya amburadul. Gaya bicaranya begitu tengil namun sikapnya penuh rasa kebanggaan diri.
“Demikianlah ceritanya, Pak,” kata lelaki yang lebih muda itu sambil menyeringai dan tersenyum penuh kebanggaan.
“Bagaimana menurut Bapak, hebat bukan?” katanya lagi sambil kepalanya ditegakkan untuk menatap lawan bicaranya yang umurnya lebih tua itu.
“Ya, kamu betul-betul HEBAT,” puji lawan bicaranya itu dengan intonasi yang kuat saat ia mengatakan kata HEBAT. “Sungguh LUAR BIASA sekali!” tambahnya lagi dengan suara penuh kekaguman, sehingga membuat lelaki muda, yang tak lain dan tak bukan adalah Parto, itu jadi semakin bangga dan berseri-seri.
“Tapi itu masih belum selesai, Pak Badrun. Masih ada lagi terusannya,” kata Parto makin bersemangat karena ekspresi kekaguman lawan dengarnya kini begitu jelas terlihat.
“Oh ya? Apalagi tuh?”
“Sejak itu cewek anak majikan saya itu tak henti-hentinya saya entotin terus-menerus. Tidak peduli musim kemarau atau hujan badai, pagi, siang, sore, malam… pokoknya cewek itu udah kenyang deh aku mainin. Hahahahaaaa…” kata Parto, yang mulut tonggosnya itu tertawa terkekeh-kekeh untuk beberapa saat. “Sementara aku menikmati orangnya, duitnya terus aku porotin, Pak. Sampai akhirnya aku bisa beli motor dan lain-lain.”
“Tapi setelah hampir setahun, lama-lama akhirnya aku mulai bosan sama dia. Apalagi anunya itu mulai nggak peret lagi, mungkin karena udah keseringan dipake ya. Hahahaaa. Juga bodinya nggak sebagus dulu lagi. Dadanya mulai kendor dan turun, mungkin karena gara-gara keseringan aku remes-remes dan aku goyang-goyang waktu mengetubuhinya. Hehehe. Lalu duitnya juga nggak sekenceng dulu karena mulai dibatasi oleh bokapnya gara-gara pengeluaran yang terlalu banyak. Pokoknya disana udah nggak oke lagi. Jadi akhirnya aku tinggal pergi cewek itu. Dan lucunya, kalau dulu awalnya dia yang sama sekali nggak menganggap diriku, sementara aku begitu mendambakan dia. Tapi sekarang jadi terbalik. Waktu aku tinggalin, malah dia yang memohon-mohon sambil berlutut dan nangis-nangis supaya aku tetap tinggal. Tapi akunya yang sudah nggak mau sama dia lagi. Heheheee.”

“Saat itu ceritanya aku baru keluar dari kamarnya sehabis ngentotin dia. Rupanya bokapnya ada di dekat situ. Melihat aku berjalan dari arah kamar anaknya, rupanya ia curiga dan langsung bertanya
dengan gaya bicara yang nggak enak,
“Ngapain kamu ada disini? Tempat kamu seharusnya di belakang, bukan disini!” kata bangsat itu dengan marah.
“Langsung aku jawab dengan cuek “karena aku baru keluar dari kamar Sakura, habis selesai ngentot sama dia!” kataku sambil nantangin ngeliat dia balik.”
“Bangsat! Kamu berani ngomong kurang ajar ya! Dasar kacung rendahan nggak ngerti aturan! Sekali lagi ngomong seperti itu aku tampar kamu! Ayo kamu pergi dari rumah ini! Sekarang juga!!” bentaknya dengan marah.
“Oh, hahaha. Lu nggak percaya ya?” kataku sambil berjalan mendekati kamar Sakura. Kalo lu nggak percaya boleh tanya langsung ke anakmu tuh!” kataku sambil langsung kubuka pintu kamar Sakura lebar-lebar.
“Dasar lagi beruntung, waktu kamarnya kubuka, rupanya Sakura pas menghadap pintu. Dan saat itu ia masih dalam keadaan kacau balau. Rambutnya awut-awutan seperti baru bangun tidur. Tapi yang hebatnya adalah: dirinya masih telanjang bulat dan…mukanya masih belepotan peju! HAHAHAHAHA!!”


“Ia berteriak kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lebih-lebih lagi saat berhadapan dengan bokapnya! Namun bokapnya malah lebih kaget lagi ngeliat keadaan putrinya. Tak disangka kalau putrinya dalam keadaan bugil. Dan anehnya, kok aku bisa tahu? Hehehe. Ditambah lagi ngeliat wajah cakepnya dan payudaranya yang belepotan peju sampai basah mengkilap! HUAHAHAHAHAAA. Ia langsung shock melihat itu. Kini setelah melihat sendiri tentu ia tahu kalau semua itu gara-gara ulahku. Ia jadi terbengong-bengong.”
“Sungguh puas hatiku ngeliat itu semua. Aku bicara dengan nada amat sinis, “Nah, tuh liat sendiri dan tanya sendiri sama anakmu. Kirain anakmu masih perawan, iya? Padahal memeknya sudah aku jebol beratus-ratus atau ribuan kali. Malah sekarang ia jago nenggak peju. Hahahahaa. Sekarang anakmu itu perlu ganti nama, bukan Sakuchan lagi, tapi Sakucum! Huahahahaaaa…” Aku gituin bokapnya, sampai dia nggak bisa ngomong apa-apa dan terbengong-bengong.”

“Setelah puas memaki-maki bokapnya, lalu aku mengejek cewek itu abis-abisan, sebelum akhirnya kutinggal pergi. Saat aku melangkah pergi, cewek yang tak tahu malu itu malah menahanku sambil memohon-mohon dan menangis-nangis untuk tak meninggalkannya. Bahkan ia sampai bersimpuh di depanku dan memegangi kakiku. Membuatku jadi jijik apalagi bau peju yang begitu menyengat dari tubuhnya.”
“Sementara itu bokapnya jadi semakin shock dan teler melihat itu semua. Apalagi cewek itu masih dalam keadaan telanjang bulat saat ia berlari mengejar dan memegangi kakiku. Tapi aku tetap tak tergerak. Dengan tegas ia kubentak,”Enyahlah! Soalnya sekarang kamu sudah nggak ada harganya lagi!” Setelah itu aku meninggalkan rumah itu untuk tak pernah kembali lagi selamanya.”
“Belakangan aku dengar hidup mereka jadi hancur berantakan dan mereka jatuh kere. Bokapnya jadi stress dan usahanya bangkrut abis. Rumah itu habis disita. Mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di kampung kumuh. Untuk menyambung hidup, anaknya jadi WTS kelas rendah yang mejeng di pinggir jalan. Dan yang menjadi langganannya adalah para preman, kuli bangunan, dan supir angkot,” kata Parto mengakhiri cerita panjangnya selama berjam-jam itu dengan hati puas.
“Ah, masa? Benarkah sampai sedrastis itu? Sungguh buruk sekali nasib mereka,” kata Pak Badrun yang raut wajahnya terlihat berubah karena terkejut dan heran. “Dari mulanya kelas pengusaha kaya yang elit dan mentereng lalu jatuh hancur sampai anak gadisnya kini jadi pelacur jalanan. Bukan main! Sungguh ironis!” katanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya, betul Pak. Tapi itulah pembalasan yang setimpal bagi orang yang tidak lurus dan berhati busuk! Pria itu sungguh pantas menerimanya karena selama ini ia terlalu sering mempermainkan cewek, termasuk kakak saya,” jawab Parto dengan tegas.
“Ya, ya,” kata Pak Badrun sambil manggut-manggut. “Mungkin yang kaukatakan itu ada betulnya. Tetapi gadis itu, sungguh malang sekali nasibnya karena sebenarnya ia tak bersalah apa-apa.”
“Ah, nggak juga Pak. Ia pantas menerima itu karena sikapnya yang begitu sombong. Saat pertama kali ketemu, bahkan cewek itu sama sekali tak melirikku,” kata Parto dengan nada meninggi. “Aku masih ingat saat pertama kali ketemu aku ajak dia salaman, malah dia tinggal pergi!”
“Tapi kini, ia jadi pecun betulan. Hahahaaaa,” Parto tertawa terbahak-bahak.

“Hmm, ok, ok,” kata Pak Badrun manggut-manggut dan tak berkomentar lagi. Namun terlihat di wajahnya kalau ia masih agak terbawa emosinya dengan cerita Parto itu. Keadaan saat itu sungguh kontradiktif. Karena bahkan seorang kepala preman kelas kakap yang telengas seperti dia pun jadi miris hatinya mendengar perubahan drastis kehidupan keluarga Sakura dan Sakura sendiri. Sebaliknya sikap Parto malah cuek, sama sekali tak ada rasa kasihan atau simpati sedikit pun. Menurutnya nasib amat buruk itu amat pantas diterima mereka.
“Lalu apa yang kamu lakukan setelah meninggalkan rumah itu?” tanya Pak Badrun akhirnya memecah kebisuan yang berlangsung beberapa saat.
“Sejak itu….”
Dokk! Dokk! Dokk!
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
“Sebentar,” kata Pak Badrun memberi isyarat kepada Parto.
“Ada apa?” teriak Pak Badrun.
“Pak Soleh tukang soto langganan Abang lagi lewat sini. Bang Badrun mau pesan makan?”
“Boleh, boleh…pesankan dua mangkok, Cok! Kuah campur ya.”
“Baik Bang.”
“Aah, dari tadi kamu sudah bercerita selama berjam-jam. Ayo, kita makan dulu, setelah itu dilanjutkan lagi”, kata Pak Badrun kepada Parto. Dan untuk beberapa saat mereka break makan siang…

Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya