Malangnya Sang Idol Korea


Jang Wonyoung tengah bersiap untuk pergi. Hari ini adalah jadwal keberangkatannya ke Timika, Papua. Sebagai Idol Korea dia memang diharuskan mematuhi kontrak yang sudah dia tanda tangani bahkan jika itu harus pergi ke daerah daerah yang terpencil. Kunjungannya kali ini merupakan kunjungan pertamanya ke Papua. Ditemani manajernya dan beberapa wartawan, Wonyoung berangkat ke Papua.
Setibanya di bandara Timika, Wonyoung sedikit heran dengan sambutan yang diterimanya. Secara protokoler memang tidak ada masalah, tapi dia melihat sesuatu yang ganjil. Pengawalan dari pihak TNI dan Polisi terlihat lebih ketat dari biasanya.


“Apa yang terjadi ?” Wonyoung bertanya pada manajernya, seorang perempuan yang usianya sepuluh tahun lebih tua darinya.

“Aku tak tahu,” Bertha, manajernya menggeleng. “Tunggu di sini.” Sambungnya. Dia lalu bergegas mendekati kepala penyambutan. Dari dialah Wonyoung kemudian tahu kalau akhir-akhir ini gerakan separatis OPM makin mengganas meresahkan masyarakat Papua. Tapi Wonyoung tidak mengkhawatirkan hal itu. Dia berusaha bersikap profesional. Dan Wonyoung sendiri selama beberapa hari tidak merasakan adanya gangguan yang membahayakan rombongannya. Dia bahkan mulai jatuh cinta dengan tanah Papua yang masih segar.

Pagi hari Wonyoung terlihat berada di lobby hotel Sheraton Timika tempatnya menginap. Dia memakai baju lengan pendek putih dari bahan satin dipadu dengan celana Jeans dan sepatu sneaker putih. Rambutnya yang panjang agak bergelombang diikat ekor kuda. Dari wajahnya terlihat Wonyoung sedang menunggu seseorang. Dan ketika dia melihat Bertha, manajernya datang dari arah pintu masuk utama, wajahnya langsung berubah cerah.

Wonyoung bergegas menyongsong Bertha. Langkahnya terlihat sedikit tergesa-gesa.

“Bagaimana Kak?” Wonyoung bertanya dengan nada tidak sabar. “Kita boleh pergi ?”

Bertha dengan sedikit terengah mangangkat tangannya memegang pundak Wonyoung .

“Sepertinya tidak boleh,” jawab Bertha dengan tersengal. Wonyoung sontak menampakkan wajah kecewa.

“Kenapa?” tanya Wonyoung singkat sambil menatap wajah Bertha meminta kejelasan.

“OPM diperkirakan menyerbu daerah-daerah strategi, bahaya kalau kita memaksakan diri,” jawab Bertha singkat tapi padat. Tapi jelas jawaban itu tidak memuaskan Wonyoung . Wonyoung diam saja lalu membalikkan badan dan kembali ke kamarnya.

Di dalam kamarnya Wonyoung berpikir keras bagaimana caranya bisa pergi ke tempat yang sudah dia rencanakan sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Papua. Akhirnya Wonyoung menyelinap secara diam-diam keluar dari hotel. Dia lalu bertanya pada penduduk lokal bagaimana caranya supaya bisa pergi ke Baliem. Lewat salah satu penduduk di sekitar hotel Wonyoung berhasil menemukan orang yang bisa mengantarnya. Maka tanpa sepengetahuan siapapun, Wonyoung ditemani oleh seorang pemandu menggunakan mobil sewaan pergi ke Baliem.

Wonyoung senang sekali akhirnya bisa pergi sesuai dengan rencana. Mungkin Bertha akan marah mengetahui dia pergi tanpa pamit, tapi Wonyoung sudah punya rencana untuk menghubungi Bertha melalui ponselnya. Sepanjang perjalanan Wonyoung terlihat begitu menikmati pemandangan alam Papua yang masih bersih, beda sekali dengan Kuala Lumpur yang banyak polusi. Di luar dugaan, pemandu yang merangkap sopir perjalanannya, seorang pemuda Papua asli bernama Tinus mengenalinya.

“Dari mana kamu mengenali aku?” tanya Wonyoung senang. Tinus tersenyum mendengar pertanyaan aneh Wonyoung .

“Kami memang tinggal di Papua, tapi kami tidak buta informasi,” jawab Tinus diplomatis. Seketika Wonyoung merasa malu telah meremehkan pengetahuan orang Papua. Tapi Wonyoung pintar mengubah arah pembicaraan, maka dia tidak lagi merasa bersalah pada Tinus. Dan sepanjang perjalanan keduanya terlibat berbagai pembicaraan.

Di tengah keasyikannya menikmati perjalanan tiba-tiba Tinus menghentikan mobilnya secara mendadak.

“Ada apa ni Tinus?” Wonyoung terkejut saat mobilnya berhenti mendadak. Tinus diam saja, wajahnya terlihat menegang. Tatapannya tejam menatap ke arah luar. Dalam keadaan panik Wonyoung berusaha menghubungi Bertha melalui ponsel tapi dia berada di daerah tanpa sinyal, Ponsel tidak ada lagi gunanya di tempat itu.

Wonyoung maju mendekati Tinus yang terdiam. Dia melihat ada sebatang pohon besar yang tumbang melintang di tengah jalan.

“Ada apa ini…” Wonyoung tidak sempat meneruskan ucapannya ketika dia melihat beberapa orang Papua berseragam militer dengan membawa persenjataan lengkap muncul dari balik pepohonan. Rata-rata bertampang seram dengan rambut dan jenggot tak terawat. Dan orang orang itu serentak mengepung mobil Wonyoung .

“Tinus..” Wonyoung mulai dihinggapi rasa takut. “Siapa Mereka…..”

“OPM,” Tinus menjawab singkat. Tinus membuka pintu mobilnya lalu segera melompat keluar dari mobil dan kabur meninggalkan Wonyoung sendirian. Wonyoung kebingungan ditinggal sendiri di mobil. Nalurinya segara mengatakan kalau dia harus menginggalkan tempat itu. Wonyoung lalu berusaha membuka pintu mobilnya, tapi usahanya sia-sia. Beberapa anggota OPM lebih cepat mengepungnya. Salah satu dari mereka yang berbadan tegap dan hitam dengan badan penuh bulu menarik Wonyoung keluar dari mobil. Lalu Wonyoung didorong sampai tersungkur jatuh.

Wonyoung berusaha bangkit dan melawan tapi apa dayanya melawan puluhan pria berbadan besar seperti mereka. Satu pukulan di perut Wonyoung menghentikan usahanya. Wonyoung terduduk dan meringis menahan sakit. Perutnya seperti mau pecah. Matanya berkunang-kunang, air matanya mulai meleleh membasahi pipinya yang putih mulus, karena takut dan sakit.

Orang Papua yang tadi menariknya keluar dari mobil tersenyum buas memandangi wajah dan seluruh tubuh Wonyoung .

“Cantik sekali perempuan ini…” katanya dengan tatapan mata liar. Dia menoleh ke salah satu anak buahnya yang juga tidak kalah sangar. Mereka berbicara dalam bahasa daerah Papua yang sama sekali tidak dipahami Wonyoung . Wonyoung hanya bisa memandangi mereka dengan tatapan mata ketakutan.

“Tolong jangan sakiti saya, jangan sakiti saya,” Wonyoung menangis ketakutan. Pria Papua tadi justru tertawa.

“Kawanku ini bilang kalau kamu adalah Jang Wonyoung si idol korea itu, benarkah itu?” tanyanya dengan logat Papua yang khas. Wonyoung mengangguk.

“Saya Wonyoung, tolong jangan sakiti saya,” ujar Wonyoung terbata-bata di sela tangisnya.

“Bagus,” Pria Papua itu tersenyum. “Kalau begitu pimpinan kami ingin bertemu denganmu.”

Pria Papua itu lalu memberi perintah untuk mengikat tangan Wonyoung dan menutup matanya. Kemudian secara paksa Wonyoung dinaikkan ke dalam mobilnya sendiri lalu pergi entah ke mana. Wonyoung merasa ini adalah akhir dari hidupnya. Dia menyesal tidak mengikuti saran Bertha. Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Karena kalut memikirkan nasib yang akan dialaminya, Wonyoung akhirnya pingsan.

Wonyoung baru sadar setelah badannya ditiup hembusan angin dingin yang terasa membekukan. Sontak Wonyoung gelagapan dan kebingungan. Dia melihat di sekelilingnya. Dia berada di dalam sebuah ruangan yang lembab berukuran sedang, sekitar 3 kali 3 meter, dindingnya terbuat dari kayu masif, sedangkan lantainya terbuat dari papan kayu tebal dilapisi sejenis bulu binatang. Bau kain tua segera tercium di hidung Wonyoung . Dia kemudian menyadari kalau dirinya terbaring di atas sebuah ranjang kayu kasar yang dilapisi kasur usang berupa lapisan-lapisan kain tua yang disusun secara rapi. Ranjang berukuran double itu terletak di tengah ruangan, berhimpitan dengan dinding. Tepat di atas ranjang terdapat sebuah jendela besar berteralis baja tanpa daun jendela, hanya ditutupi tirai usang yang terbuka sampai setengahnya, membuat cahaya matahari yang mulai tenggelam leluasa masuk. Sebuah meja dan kursi sederhana yang juga terbuat dari kayu masif terletak di sudut kiri ruangan.

Kebingungan Wonyoung terbuyarkan oleh suara derit pintu kayu berat yang terbuka ke arah dalam. Wonyoung serentak menoleh ke arah pintu yang tepat berada di depannya. Dilihatnya sesosok pria Papua bertubuh tinggi besar memasuki ruangan. Wajahnya jauh lebih menyeramkan daripada pria yang menculiknya. Rambutnya gimbal seperti tidak terawat, begitu juga kumis dan jenggotnya. Pria itu hanya memakai celana panjang militer dan sepatu boot tentara dengan pistol terselip di pinggangnya.

Pria itu mendekati Wonyoung dan menatapnya dengan tatapan liar. Wonyoung merasa seolah tatapan itu siap menelannya hidup-hidup.

“Benar-benar perempuan yang cantik. “Pria itu berujar dengan suara berat. “Benarkah kamu idol korea itu?” tanyanya datar. Wonyoung hanya bisa mengangguk.

“Namaku Tiber Wewengko, aku adalah pemimpin tertinggi di sini,”katanya memperkenalkan diri. Wonyoung tidak mempedulikan ucapan pria bernama Wewengko itu.

“Kenapa kamu menculik saya?” Wonyoung memberanikan diri bicara meskipun diiringi dengan isak tangis. Wewengko tersenyum, dingin.

“Tidak ada, “jawabnya pendek. Wewengko mendekati Wonyoung, Wonyoung langsung beranjak mundur tapi Wewengko memojokkan dia sampai merapat ke dinding. Wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Wonyoung .

“Nona benar-benar sangat cantik.“ kata Wewengko. “Sudah lama saya ingin bertemu dengan Nona, apalagi sejak saya tahu kalau Nona akan ke Papua. Wonyoung tercekat mendengar ucapan Wewengko. Artinya Wewengko tidak buta informasi.

“Dan Nona tahu, sudah lama sekali saya tidak merasakan kehangatan wanita, apalagi yang secantik Nona, apakah Nona mau jadi istri saya?” tanya Wewengko. Wonyoung langsung lemas mendengar ucapan itu. Dirinya tidak dapat membayangkan akan diperkosa oleh pria Papua seperti Wewengko. Dia bergidik ngeri membayangkan bila Wewengko menggagahinya.

“Jangan mimpi!” Wonyoung secara tidak sadar meludah saking jijiknya.

“Hmm.. begitu rupanya,” Wewengko menatap ludah yang dikeluarkan Wonyoung .

“Sebaiknya Nona tidak berbuat begitu, sekarang ini nasib Nona sapenuhnya ada di tangan saya, dan tidak ada satupun orang yang bisa mengeluarkan Nona dari tempat ini.” Kata Wewengko dengan dingin. Ucapan itu bagaikan palu godam yang merontokkan keberanian Wonyoung sepenuhnya. Wonyoung sadar dirinya telah sepenuhnya dikuasai oleh gerombolan OPM.

Sayup-sayup dri arah luar terdengar suara-suara gaduh seperti nyanyian tradisional Papua.

“Nona dengar itu?” kata Wewengko. “Mereka mengadakan pesta. Dan sebelum pesta itu selesai saya akan pastikan Nona akan menjadi istri saya.”

Wewengko lalu meninggalkan Wonyoung sendirian. Wonyoung hanya bisa menangis menyesali diri. Dia hanya tesimpuh di lantai, sementara angin dingin Papua terus menerus meniup tubuhnya melalui jendela. Wonyoung menggigil kedinginan, sepertinya Wewengko memang sengaja membiarkannya kedinginan seperti itu sampai malam.

Kesunyian terpecahkan saat tiba-tiba suasana kamr menjadi terang-benderang. Cahaya lampu besar yang ada di atas kamar menerangi seisi ruangan. Rupanya meskipun di tengah hutan, Wewengko memiliki peralatan yang cukup modern. Wonyoung mengejapkan matanya membiasakan cahaya masuk ke matanya. Sesaat kemudian Wewengko datang memasuki kamar membawa makanan dan minuman. Yang mambuat Wonyoung ngeri, Wewengko masuk hanya dengan mengenakan koteka di kemaluannya tanpa selembarpun benang menutupi tubuhnya. Lalu Wewengko menyodorkan makanan dan minuman itu.

“Ini minuman tradisional Papua,” kata Wewengko datar. Wonyoung melengos mengetahui menu yang disajikan berupa daging babi dan arak.

Semula Wonyoung menolak makanan dan minuman itu, tapi Wewengko memaksanya untuk makan dan minum dan Wonyoung tidak dapat menolak.

Dan Wewengkopun mulai melancarkan aksinya, dia berusaha memeluk Wonyoung dari belakang sambil menciumi puncak Wonyoung. Wonyoung meronta dan menjauhi Wewengko.

“Jangan sentuh aku bangsat..!” Wonyoung berteriak. Tapi Wewengko yang berbadan tegap langsung mendekapnya dan mulai menelusuri wajah dan leher Wonyoung dengan buas. Wonyoung mencoba meronta dan berusaha untuk tetap sadar tapi sentuhan demi sentuhan Wewengko membuatnya terhanyut. Tanpa sadar Wonyoung mulai mendesah merasakan kenikmatan sentuhan Wewengko. Wewengko makin buas. Dengan paksa dirobeknya baju Wonyoung dan dibuangnya baju itu sehingga sekarang tubuh bagian atas Wonyoung hanya ditutupi oleh BH berwarna putih transparan. Payudaranya yang putih mulus terlihat mencuat menantang. Wewengko menelipkan tangannya yang besar ke dalam mangkuk BH Wonyoung dan mulai meremas-remas payudara Wonyoung. Wonyoung merasakan sebuah sensasi yang sangat hebat melanda tubuhnya, sesuatu yang belum pernah dia alami sebelumnya.



Wewengko makin buas, dia segera merobek BH Wonyoung sehingga payudara Wonyoung yang mulus dan montok itu sekarang telanjang. Bentuknya sangat bagus dan masih kenyal dengan puting susu yang merah segar. Tidak sabar Wewengko mulai meremas-remas dan menjilati payudara Wonyoung , lalu bibir Wewengko berganti-ganti melumat dan mengulum puting susu Wonyoung . Wonyoung mengejang mendapat perlakuan itu. Kesadarannya mulai hilang, dirinya sekarang sudah dikuasai oleh dorongan seks yang makin kuat, karena itu dia diam saja saat Wewengko mulai melepas celana Jeansnya. Maka di hadapan Wewengko sekarang tampak sepasang paha yang panjang dan mulus yang berakhir pada celana dalam putih berenda. Lalu dengan kasar Wewengko menarik celana dalam Wonyoung sampai lepas. Dan Wonyoung sekarang benar-benar sempurna telanjang bulat de depan Wewengko. Wewengko memandangi kemulusan tubuh telanjang Wonyoung dengan takjub.

“Ohh.. tidak saya sangka ternyata Nona lebih cantik jika ditelanjangi seperti ini, “ kata Wewengko dangan deru nafas memburu. Lalu Wewengko mulai menelusuri sekujur tubuh telanjang Wonyoung dengan bibir dan tangannya. Bibir Wonyoung yang merah segar tidak henti-hentinya dilumat oleh Wewengko sementara tangan Wewengko tidak berhenti menggerayangi dan meremas payudara Wonyoung.

Wonyoung hanya bisa pasrah dikerjai oleh Wewengko. Wewengko lalu menjilati bagian perut Wonyoung yang rata dan licin. Kemudian dia membuka paha Wonyoung lebar-lebar hingga terkuaklah liang vagina Wonyoung yang licin tak berbulu. Rupanya Wonyoung secara rutin selelu mencukur rumbut kemaluannya.


Wewengko perlahan mendekatkan wajahnya pada vagina Wonyoung , lalu dengan menggunakan bibir dan lidahnya Wewengko mulai menjliati vagina Wonyoung . Dan jari-jari tangan Wewengko perlahan mulai mengorek-korek vagina Wonyoung . Wonyoung langsung mengejang ketika vaginanya dikerjai oleh Wewengko. Dirangsang sedemikian rupa membuat pertahanan Wonyoung akhirnya runtuh apalagi ditambah pengaruh minuman tradisional yang tadi diminumnya.

“Oohhh… aahhh… oohhhh …. aahssss… ehhsss…” Tanpa sadar Wonyoung mulai mendesah merasakan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan. Wewengko mengetahui Wonyoung mulai terangsang makin buas menggeluti tubuh yang putih mulus itu. Dia mengangkangkan kaki Wonyoung dan membenamkan wajahnya ke vagina Wonyoung . Bibir dan lidahnya terus-menerus mengorek liang kemaluan Wonyoung, sementara tangannya yang kekar dan berbulu meremas-remas payudara mulus Wonyoung. Tak tahan lagi Wonyoung akhirnya mengalami orgasme, tubuhnya mengejang sesaat sebelum akhirnya melemas lagi, dari vaginanya mengucur cairan bening kewanitaan. Wewengko segera menelan cairan vagina Wonyoung dengan buas sambil menjilati sekitar kemaluan Wonyoung karena berdasarkan keyakinan orang Papua, keperkasaan pria akan bertambah jika dia bisa meminum cairan vagina dari perempuan yang akan dia setubuhi.

Wonyoung terbaring terengah-engah di ranjang, dia baru saja mengalami orgasme yang luar biasa, tubuhnya yang putih mulus sampai berkeringat padahal udara teramat dingin. Wewengko mamandangi tubuh yang mulus itu dengan tatapan buas, matanya menatap ke arah payudara Wonyoung yang naik turun, begitu putih mulus. Dia lalu mendekati Wonyoung dan mambimbingnya untuk duduk. Perlahan dia malepaskan koteka yang dia pakai dan seketika penisnya yang hitam dan berukuran besar mencuat di depan wajah Wonyoung. Wonyoung yang dalam keadaan terangsang hanya memandangi penis itu. Penis itu berukuran besar, panjangnya mungkin sekitar 20 senti dengan diameter empat atau lima senti. Wewengko lalu menyodorkan penisnya ke bibir Wonyoung.

“Sekarang Nona emut punya saya ya.. “ perintah Wewengko pada Wonyoung. Wonyoung yang sudah dikuasai nafsu birahi menuruti perintah Wewengko, segera dia mengulum penis itu, tapi karena belum berpengalaman, Wonyoung hanya mengulum penis itu. Wewengko jengkel dengan tindakan Wonyoung. Dia menarik rambut Wonyoung.

“Wanita cantik tapi tolol, seperti ini tahu..” Wewengko menggoyangkan kepala Wonyoung maju mundur dengan demikian penis di dalam mulut Wonyoung terkocok dengan sendirinya oleh bibir Wonyoung sampai akhirnya Wonyoung mulai terbiasa, dia menggerakkan kepalanya maju mundur untuk mengocok penis Wewengko dengan bibirnya. Wewengko memejamkan mata merasakan kenikmatan kuluman bibir Wonyoung yang mungil itu sementara tangan kekarnya juga sibuk meremas-remas payudara Wonyoung dan memilin-milin puting payudara Wonyoung membuat Wonyoung kembali terangsang.



Sekitar 15 menit lamanya Wonyoung mengulum penis Wewengko sampai akhirnya Wewengko mengejang. Dia menarik Wajah Wonyoung dan membenamkan wajah cantik itu ke dalam selangkangannya. Diiringi teriakan penuh kenikmatan Wewengko menyemburkan spermanya ke dalam mulut Wonyoung. Wonyoung merasakan cairan hangat dan kental memenuhi mulutnya dan mengalir ke dalam kerongkongannya. Oleh Wewengko, Wonyoung dipaksa menelan Sperma itu.

“Ayo telan sperma saya Nona.. telan..” perintah Wewengko. Wonyoung yang masih mengulum penis Wewengko hanya bisa melirik pasrah.

“Glk.. glk.. glk…” Wonyoung akhirnya menelan seluruh sperma Wewengko. Wewengko tertawa puas. Dalam kepercayaan Papua, jika seorang wanita sudah menelan sperma sorang pria yang menyetubuhinya maka dia tidak akan bisa lepas dari pria itu selamanya.

Wewngko membiarkan saja ketika Wonyoung melepaskan kulumannya. Wonyoung lalu dibaringkan terlentang di ranjang. Dipandanginya tubuh telanjang gadis yang ayu itu.

“Nah Nona Wonyoung .. sekarang ini sesuai yang saya janjikan, Nona Wonyoung telah jadi istri saya karena Nona Wonyoung telah menelan sperma saya. Itu berarti Nona selamanya tidak bisa melepaskan diri dari saya.” Kata Wewengko.

Wonyoung hanya bisa menangis mendapatkan dirinya yang telanjang bulat bersama seorang pria yang siap untuk menyetubuhinya. Perlahan Wewengko mulai menarik paha Wonyoung yang putih mulus dan panjang sampai mengangkang lalu Wewengko mulai mengarahkan penisnya yang besar ke dalam liang kemaluan Wonyoung. Wonyoung mengerang sesaat ketika penis Wewengko menerobos liang vaginanya. Wonyoung menangis tersedu, keperawanannya yang dia jaga selama bertahun-tahun direnggut secara paksa oleh pria liar seperti Wewengko. Wewengo yang melihat Wonyoung menangis bukannya iba malah merasa senang. Didorongnya penisnya sampai amblas ke dalam vagina Wonyoung.

“Ehkkhh.. ahhhh…” Wonyoung mengerang kesakitan, vaginanya yang masih perawan terlalu sempit bagi penis Wewengko yang besar, tapi secara kasar Wewengko terus mendesakkan penisnya dalam-dalam lalu dipaksakannya penis itu memompa vagina Wonyoung. Wonyoung merintih setiap kali penis Wewengko menggenjot vaginanya tapi lama-lama penis itu makin lancar memompa vagina Wonyoung. Wewengkopun makin bersemangat menggenjotkan penisnya. Tubuh Wonyoung yang telanjang sampai tersentak-sentak setiap kali Wewengko menggenjot vaginanya. Sambil terus menyetubuhi Wonyoung , Wewengko juga melumat bibir Wonyoung dengan buas. Wonyoung yang tidak berdaya diperkosa seperti itu akhirnya ikut terhanyut dalam dorongan seksual yang sedari tadi memang sudah menggelegak, akhirnya erangan Wonyoung mulai teratur seirama dengan gerakan penis Wewengko di dalam vaginanya.

Setelah sekitar limabelas menit, Wewengko secara tiba-tiba bangkit sambil tetap mendekap tubuh bugil Wonyoung . Dipaksanya Wonyoung duduk berhadap-hadapan dengannya. Ditatapnya wajah Wonyoung yang cantik itu, wajah itu terlihat sangat memelaskan tapi tidak membuat Wewengko merasa iba, dia justru merasa kenikmatannya bertambah bila melihat Wonyoung tersiksa.

“Sekarang Nona Wonyoung yang goyang ya.. seperti kalau Nona Wonyoung menari di panggung,” kata Wewengko. Wonyoung hanya bisa mengangguk, lalu mulai menggerakkan pantatnya maju mundur sambil melingkarkan kaki mulusnya ke pinggang Wewengko. Wewengko mengimbanginya dengan mencengkeram pantat Wonyoung dan mendorong pantatnya maju mundur. Sementara bibirnya sibuk menyusu pada payudara Wonyoung sambil sesekali mengulum dan menjilati puting payudara Wonyoung.



Diperkosa sedemikian rupa akhirnya pertahanan Wonyoung jebol juga. Dengan rintihan panjang, Wonyoung merasakan sensasi kuat menjalari sekujur tubuhnya. Tubuhnya menegang dan melengkung ke belakang, tangannya dengan kuat mencengkeram punggung Wewengko. Vaginanya berdenyut kuat sekali seperti meremas penis Wewengko.

“Aahhhhhhkkkhhhhh…. Oohhhhhhh….” Wonyoung mengejang dan merintih keras, orgasmenya meledak menghantam seluruh syaraf kenikmatan seksualnya. Sesaat kemudian tubuhnya melemas kembali dan tergolek di ranjang. Nafasnya memburu membuat payudaranya naik turun. Wewengko melihat ada darah yang mengalir dari vagina Wonyoung. Itu adalah darah keperawanan Wonyoung yang direnggutnya. Dan Wewengko merasa kenikmatannya makin bertambah mengetahui wanita cantik yang disetubuhinya benar-benar seorang perawan. Tapi Wewengko segera menarik tubuh mulus itu dan mendekapnya erat-erat.

“Jangan buru-buru Nona Wonyoung, saya belum selesai, “ kata Wewengko sambil tertawa. Dia lalu membalikkan tubuh Wonyoung yang putih dan mengkilat kerena keringat lalu memaksanya menungging. Kedua kaki Wonyoung dipaksanya mengangkang.

“Sekarang saya mau coba gaya anjing pada Nona Wonyoung, “kata Wewengko datar. Wonyoung menggelengkan kepalanya.

“Jangan Tuan.., “ Wonyoung kembali menangis. “Saya tidak kuat lagi, ampuni saya Tuan, jangan setubuhi saya lagi…”

“Ah.. diam!’ Wewengko membentak. “Dasar pelacur, dimana-mana sama, bilang tidak mau tapi orgasme juga.”

Wewengko menarik paha Wonyoung dengan kasar, lalu kembali penisnya didesakkan ke dalam vagina Wonyoung, kemudian pantatnya digoyangkan maju mundur. Sembil menggenjot vagina Wonyoung, Wewengko juga meremas-remas payudara Wonyoung yang tergantung begitu bebas dan bergoyang seirama goyangan pantatnya. Wonyoung mendesah-desah setiap kali vaginanya digenjot.



“Ayo.. teruss.. terus Nona… terusss…” Wewengko makin kuat menggenjot vagina Wonyoung dengan penisnya, badan Wonyoung sampai tersentak-sentak setiap kali vaginanya digenjot.

“Akhhh.. ahhh… ohhh… shitt… shittt…” Wonyoung mulai meracau karena merasakan gelombang birahinya meledak dan akhirnya kembali Wonyoung mengalami orgasme meskipun tidak sehebat sebelumnya, kembali vaginanya berdenyut kencang. Tapi Wewengko tetap belum juga selesai, kali ini dibalikkannya tubuh Wonyoung hingga terlentang, lalu kedua paha Wonyoung diangkat dan disampirkannya ke bahunya kemudian kembali digenjotnya vagina Wonyoung dengan penisnya sambil memegangi pantat Wonyoung karana khawatir Wonyoung akan melepaskan penis itu dari vaginanya. Kali ini Wonyoung sudah tidak berdaya lagi, dia hanya bisa merintih setiap kali digenjot, payudaranya yang putih mulus bergoyang seirama genjotan Wewengko.

Air mata Wonyoung seolah sudah kering untuk menangis, Wonyoung hanya bisa menggigit bibirnya merasakan penderitaan sekaligus kenikmatan yang dia alami sampai akhirnya dia mengalami orgasme untuk kali ketiga, barulah setelah Wonyoung tiga kali orgasme Wewengko menyudahi pemerkosaannya pada Wonyoung . Diiringi erangan dahsyat Wewengko menyemburkan spermanya di dalam vagina Wonyoung.


Wonyoung merasakan dunianya sudah hancur, dirinya sudah tidak ada harganya lagi setelah diperkosa oleh Wewengko. idol korea itu sekarang merasa tidak berbeda dengan seorang pelacur. Wonyoung pun kembali menangis tersedu-sedu mengingat penderitaan yang dia alami. Tapi Wewengko tidak peduli pada nasib Wonyoung. Seorang Wonyoung baginya tidak beda dengan wanita-wanita lain yaitu sebagai pemuas nafu seksualnya. Sampai pagi Wewengko terus menerus menyetubuhi Wonyoung. Tidak kuat menahan penderitaan, Wonyoung akhirnya pingsan.

Wonyoung baru tersadar setelah matahari sudah tinggi, Dia berusaha bangun tapi sekujur badannya serasa sakit seperti habis dipukuli. Sisa-sisa sperma masih berceceran di sekitarnya, sebagian yang masuk ke dalam rahimnya meleleh keluar dan mengering. Wonyoung merasakan kemaluannya sakit sekali, perutnya juga terasa nyeri. Lalu dengan tertatih-tatih Wonyoung berusaha meraih pakaiannya. Tapi dia tidak menemukan pakaiannya di ruangan itu, pasti Wewengko telah mengambilnya. Wonyoung kemudian meraih kain usang di ranjang untuk menutupi tubuhnya lalu berusaha untuk berjalan. Belum lagi dia mencapai pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar. Seorang wanita Papua yang juga bertampang bengis masuk dan mendekati Wonyoung. Wonyoung mundur mencoba menghindar tapi wanita Papua itu mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan kuat. Wonyoung mencoba meronta tapi wanita Papua itu lebih kuat, dipelintirnya tangan Wonyoung ke belakang.

“Diam Nona.” Wanita itu berbisik ke telinga Wonyoung. “Saya hanya mau menyuruhmu mandi biar bersih..” katanya. Wonyoung yang tidak berdaya menurut saat digelandang ke luar rumah menuju ke sebuah kamar mandi terbuka yang berdekatan dengan punggungan bukit, penutupnya hanya sebatas leher, terbuat dari potongan bambu dan anyaman daun, sebuah pancuran kecil dari bambu terdapat di situ, airnya yang berasal dari atas bukit jernih dan dingin. Wanita Papua itu lalu menelanjangi Wonyoung dan menyuruh Wonyoung berlutut kemudian dia mengguyur tubuh Wonyoung dengan air, sejenak Wonyoung merasa kedinginan sampai menggigil tapi lama lama Wonyoung mulai terbiasa.

Selesai mandi, Wonyoung kembali dibawa ke dalam rumah. Perempuan Papua itu melemparkan sesuatu pada Wonyoung.

“Ini pakaian yang harus kamu pakai…” katanya sambil tersenyum jahat. Wonyoung memandangi barang yang dilemparkan oleh wanita Papua itu, pakaian yang dimaksud oleh wanita Papua itu hanya berupa potongan-potongan bahan semacam kulit binatang. Wonyoung terdiam dan menangis memandangi ‘pakaian’ itu. Dia merasa sedang mengalami pelecehan seksual yang sangat besar.

“Dasar tolol, “ wanita Papua itu marah dan menampar wajah Wonyoung. Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat Wonyoung menjerit. Dia segera menarik kain yang menutupi tubuh Wonyoung lalu memaksa Wonyoung memakai pakaian yang dia maksudkan.

“Pakai!” bentaknya. Wonyoung hanya terduduk sambil terus menangis. Kesal karena tidak mendapat tanggapan akhirnya wanita Papua itu memakaikan pakaian yang diberikannya pada tubuh Wonyoung. Sebuah pakaian yang lebih mirip bikini dari kulit hewan. Hanya terdiri dari selembar kecil penutup dada yang sama sekali tidak memadai untuk menutupi payudara Wonyoung sehingga sebagian payudara Wonyoung yang putih mulus menonjol telanjang sementara bagian bawahnya lebih mirip g-string yang terbuat dari kulit hewan yang hanya bisa menutupi kemaluan Wonyoung sementara pantat Wonyoung yang bulat padat dan putih mulus terlihat telanjang. Pahanya yang jenjang dan begitu mulus serta bagian perutnya yang juga putih mulus tidak tertutup apapun sehingga bisa bebas dinikmati oleh siapapun.



“Sekarang Tuan Wewengko ingin bertemu kamu,” kata wanita Papua itu. “Ayo Ikut.” Katanya sambil menarik tangan Wonyoung. Wonyoung mencoba bertahan tapi sekali lagi wanita Papua itu memelintir tangan Wonyoung dan memukul perut Wonyoung. Wonyoung langsung terbungkuk dan berlutut sambil memegangi perutnya yang nyeri.

“Ampun, jangan sakiti saya .. “ Wonyoung merintih sambil menahan sakit, air matanya makin deras mengalir.

“Makanya turuti perintahku!” bentak wanita Papua itu. Wonyoung hanya bisa mengangguk lalu berdiri. Dengan langkah ragu Wonyoung mulai berjalan, sementara wanita Papua yang galak itu mengikuti dari belakang sambil sesekali mendorong Wonyoung jika berjalan sedikit lambat.

Wonyoung dibawanya sampai ke sebuah ruangan besar yang berada di bagian belakang rumah, Ruangan itu cukup besar, tapi terkesan kosong. Hanya ada sebuah meja makan berukuran sekitar dua kali tiga meter dilengkapi enam kursi yang mengelilinginya, meja dan kursi itu juga terbuat dari kayu masif yang dihaluskan. Di atasnya terdapat banyak sekali makanan, yang paling menarik perhatian adalah seekor babi panggang berukuran besar di tengah meja. Di kursi paling ujung dari tempat Wonyoung berdiri terlihat Wewengko duduk sambil makan sesuatu. Begitu melihat Wonyoung berjalan mendekat Wewengko langsung berhenti, dia melotot melihat Wonyoung yang berdiri nyaris telanjang tidak jauh darinya, dipandanginya kemulusan tubuh Wonyoung dengan seksama, matanya menatap liar pada daerah payudara dan vagina Wonyoung.

“ck.. ck.. ck…” Wewengko berdecak kagum memandangi tubuh setengah telanjang Wonyoung yang nyaris sempurna. Wonyoung menunduk malu dipandangi seperti itu, tanpa sadar tangannya berusaha menutupi bagian-bagian penting tubuhnya yang terbuka meskipun usaha itu sia-sia karena tangannya jelas tidak mampu menutupi tubuhnya yang telanjang, akibatnya Wewengko dengan bebas menikmati keindahan tubuh mulus Wonyoung .

“Kamu boleh pergi Tira,” Wewengko berkata pada wanita Papua yang memandikan Wonyoung yang ternyata bernama Tira. Tira mangangguk lalu meninggalkan ruangan menuju ke tempat dia masuk.

Wewengko lalu berdiri dan berjalan mendekati Wonyoung. Wonyoung merinding ketika pria yang semalam memperkosanya berjalan mendekat. Jantungnya berdetak kencang. Sementara Wewengko tidak henti hentinya memandangi tubuh mulus Wonyoung dengan tatapan kagum bahkan ketika dia berdiri di belakang Wonyoung, tangannya sempat meremas pantat Wonyoung yang telanjang. Wonyoung hanya bisa menangis diperlakukan seperti itu.

“Jangan menangis Manisku,” Wewengko membelai rambut Wonyoung yang masih basah. “Sekarang duduklah dan makan.” Wewengko menarik sebuah kursi di dekatnya. Lalu memaksa Wonyoung duduk. Tapi Wonyoung tidak bereaksi apa-apa.

“Keras kepala ya,” Wewengko mulai jengkel. “Baiklah, terserah mau makan atau tidak, tapi setengah jam lagi Nona Wonyoung harus bekerja.”

Wonyoung tersentak mendengar ucapan Wewengko, hatinya bergetar, rasa takut mulai melanda dirinya, apakah itu berarti dirinya akan diperkosa lagi.

“Tuan mau memperkosa saya lagi..?” Wonyoung bertanya sambil menatap Wewengko dengan air mata berlinang. “Jangan.. jangan perkosa saya lagi..” Wonyoung menggeleng ketakutan. Wewengko hanya tersenyum melihat wajah Wonyoung yang memelaskan itu.

“Tidak, tidak Nona cantik.. ada sesuatu yang lain yang harus Nona lakukan.” Kata Wewengko datar. Tanpa sadar Wonyoung menghembuskan nafas lega. Dia lalu melihat Wewengko meninggalkan tempat itu. Dia kemudian menatap makanan yang ada di depannya, semula dia tidak mau menyentuh makanan di atas meja tapi perutnya yang lapar membuatnya meraih makanan di depannya. Rasanya tidak karuan, tapi karena lapar, Wonyoung menelannya juga.

Setengah jam kemudian Wewengko datang lagi dan melihat Wonyoung sudah terlihat segar. Dia yakin Wonyoung tidak tahan menahan lapar.

“Nona Wonyoung Sudah siap kan ?” tanya Wewengko. Tanpa menunggu jawaban Wonyoung, Wewengko menarik tangan Wonyoung dan membawanya ke luar ruangan, tapi sebelumnya dia menutupi tubuh Wonyoung dengan selembar kain. Wonyoung melihat kerumunan anggota OPM berjejer dengan barisan tidak teratur memenuhi halaman. Rata-rata dari mereka berpenampilan kasar dan dekil. Kerumunan itu membelah saat Wewengko dan Wonyoung berjalan menuju ke arah mereka. Di tengah kerumunan itu ternyata terdapat sebuah panggung kecil, berbentuk segi empat, sekitar lima kali lima meter dengan tinggi sekitar setengah meter terbuat dari kayu dan bambu. Wewengko lalu membawa Wonyoung naik ke panggung. Serentak kerumunan anggota OPM langsung mengerubungi panggung sambil memelototi tubuh Wonyoung . Wonyoung merasa malu sekali tubuhnya diobral Bagaikan pelacur murahan.

“Nah Nona Wonyoung, sekarang tugas Nona adalah menghibur mereka..” kata Wewengko datar, nyaris tanpa emosi. Wonyoung tersentak, seketika tubuhnya gemetar, mengira dirinya harus melayani seluruh anak buah Wewengko. Wonyoung tidak dapat membayangkan dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh orang sebanyak itu.

“Tenang Nona, Nona hanya diharuskan menari di hadapan mereka, tapi dengan catatan, Nona harus menari tanpa pakaian.” Kata Wewengko.

Wonyoung terkesiap, dia tidak mengira akan dipaksa melakukan tarian telanjang. Tapi Wonyoung menuruti perintah Wewengko, dia lebih memilih menari telanjang daripada harus digagahi secara beramai-ramai.

Wonyoung menatap kerumunan pria yang sudah tidak karuan di hadapannya.

“Apa kabar semua?” Wonyoung mencoba tersenyum. Dan melempar salam. “Bagaimana kalau hari ini Wonyoung menghibur anda semua dengan satu tarian..” sontak seluruh anggota OPM yang tidak pernah melihat wanita secantik Wonyoung bersorak.

“Bagaimana kalau Wonyoung buka baju?” kata Wonyoung lagi. Serentak semua menjawab setuju. Wonyoung lalu melepaskan lilitan kain yang menutupi tubuhnya. Seketika semua yang melihatnya langsung melotot melihat tubuh yang begitu putih dan mulus terpampang di depan mereka. Saat itu terdengar alunan musik dangdut dari sebuah speaker yang ada di atas panggung. Wonyoung lantas mulai menggoyangkan tubuhnya yang setengah bugil itu dengan gerakan gerakan erotis. Tangannya diangkat ke atas lalu pinggulnya digoyang-goyangkan membuat seluruh tubuhnya berguncang. Seluruh penonton bersuit-suit melihat goyangan pinggul dan pantat Wonyoung.

“Buka ! Buka! Buka!” teriak mereka sambil terus memelototi Tubuh Wonyoung yang bergoyang erotis.

“Kalian mau lihat payudara Wonyoung?” tanya Wonyoung di tengah tariannya yang langsung disambut gemuruh setuju. Wonyoung perlahan mulai melepas kain penutup payudaranya lalu melemparkannya ke arah penonton yang langsung berebut menerimanya. Payudara Wonyoung sekarang tergantung telanjang begitu putih mulus dan kencang. Payudara itu berguncang seirama gerakan Wonyoung. Melihat payudara yang begitu mulus itu telanjang, penonton makin liar dan berteriak meminta Wonyoung membuka celana.

“Kalian mau lihat pula vagina Wonyoung?” tanya Wonyoung, lalu Wonyoung mulai memelorotkan celananya dan melemparkannya ke arah penonton, lagi-lagi penonton berebut mengambil celana itu. Sekarang Wonyoung sudah sempurna telanjang bulat di hadapan anggota OPM yang makin brutal. Wonyoung meneruskan tariannya dengan berbagai gaya yang diingatnya. Penonton paling suka saat Wonyoung melakukan goyang ngebor ala Inul dan goyang patah-patah. Pantatnya yang montok dan mulus bergoyang-goyang secara erotis. Sesekali Wonyoung juga berpura-pura melakukan onani dengan meremas payudaranya sendiri sambil merintih-rintih dan mendesah-desah seperti orang yang terangsang nafsu seksualnya.

Selama hampir satu jam Wonyoung menghibur anggota OPM dengan tarian bugilnya, tubuhnya sampai basah karena keringat membuat tubuh yang utih mulus itu terlihat berkilat-kilat. Acara itu baru selesai setelah Wewengko naik ke panggung. Dia berdiri sambil memeluk tubuh Wonyoung yang bugil dan medekapnya erat sampai rapat dengan tubuhnya sendiri.

“Nah kawan-kawan seperjuangan, kalian suka dengan tarian tadi?” Wewengko bertanya yang disambut gemuruh senang.

“Karena kalian suka, maka Wonyoung akan memberikan hiburan tambahan.” Kata Wewengko lagi, Wonyoung terkejut dengan ucapan itu, jantungnya kembali berdebar menanti kelanjutan kalimat Wewengko. Wewengko menoleh ke arah Wonyoung.

“Sekarang Nona saya perintahkan untuk melakukan oral seks dengan mereka semua, lalu Nona telan sperma mereka semuanya..” kata Wewengko lantang membuat semua anak buahnya berteriak kegirangan, maklum mereka sudah lama tidak menyalurkan nafsu seksualnya apalagi yang dijadikan penyaluran wanita secantik Wonyoung .

Wonyoung terkesiap. Dirinya diharuskan melakukan oral seks dengan begitu banyak orang, Wonyoung menaksir ada 300 orang anggota OPM yang berkumpul.

“Jangan Tuan… ampuni saya, jangan paksa saya melakukan itu..”

“Jadi Nona lebih suka kalau saya memerintahkan mereka semua memperkosa Nona bergiliran?’ bentak Wewengko. Wonyoung langsung terdiam mendengar ancaman itu.

“Iya Tuan, saya akan menuruti kata Tuan … “ Wonyoung menangis ketakutan. Dia lalu menuruti perintah Wewengko. Satu persatu anggota OPM itu menggilir Wonyoung. Wonyoung berusaha secepat mungkin mengulum penis para anggota OPM itu. Dan satu persatu para anggota OPM itu menyemburkan Spermanya ke mulut Wonyoung, begitu banyaknya sperma yang masuk ke mulut Wonyoung sampai Wonyoung tidak mampu menelannya sehingga sebagian meleleh keluar dari sudut bibirnya yang merekah, Wonyoung merasa perutnya penuh terisi sperma membuatnya muak ingin muntah, tapi sekuat tenaga Wonyoung menahan untuk tidak memuntahkan sperma yang ditelannya. Tidak hanya di mulut Wonyoung saja anggota OPM menyemprotkan sperma mereka bahkan ada pula yang menyemprotkan spermanya ke wajah dan tubuh Wonyoung. Beberapa dari mereka ada pula yang meraba dan menggerayangi tubuh Wonyoung sambil meremas bagian tubuh Wonyoung yang sensitif seperti payudara, pantat dan vaginanya. Sambil melakukan oral Seks, Wonyoung juga dirangsang nafsu birahinya, hal itu membuat Wonyoung makin bernafsu melakukan oral seks. Bahkan Wonyoung melakukannya dengan tiga orang anggota OPM sekaligus menggunakan bibir dan kedua tangannya. Ada pula anggota OPM yang tidak sabar mengocok penisnya sendiri di depan wajah Wonyoung lalu menyemprotkan spermanya ke wajah cantik itu. Tidak hanya di wajah Wonyoung tapi juga di dada dan punggung Wonyoung. Ada yang nekad menempelkan dan menggesek-gesekkan penisnya di punggung Wonyoung sampai ejakulasi. Seluruh perlakuan itu diterima Wonyoung berulang ulang, Wonyoung sampai merasa hal ini tidak akan pernah berhenti karena banyak yang minta Wonyoung mengulum penisnya dua tiga kali.

Di tengah usaha Wonyoung melakukan oral Seks ada yang nekad mengumpulkan sperma kawan-kawannya di dalam cawan sampai penuh lalu meminta Wonyoung meminumnya

“Ini minum…” perintahnya. Wonyoung menggeleng melihat cawan yang penuh berisi cairan sperma kental dan menjijikkan itu, tapi mereka memaksa Wonyoung meminum sperma dalam cawan itu sampai habis.

Belum cukup sampai di situ seorang anggota OPM yang membawa cangkir berisi sperma menuangkan sperma itu ke rambut Wonyoung dan mengeramasi rambut Wonyoung dengan sperma. Ada pula yang mengoleskan spermanya sendiri pada payudara Wonyoung sambil meremas-remas payudara itu. Biar tambah montok katanya tenang.



Berjam-jam lamanya Wonyoung dikerjai dengan begitu brutal. Mereka baru selesai mengerjai Wonyoung saat matahari mulai turun ke arah barat. Mereka yang puas melampiaskan nafsu seksualnya pada Wonyoung meninggalkan Wonyoung yang tergolek telanjang bulat di atas panggung, sekujur tubuhnya bahkan rambutnya basah oleh cairan kental sperma seperti baru saja mandi dengan cairan sperma.

Wonyoung hanya bisa menangis mendapatkan perlakuan begitu brutal. Hidupnya seperti tidak berharga lagi. Lalu dengan tertatih-tatih Wonyoung mencoba berdiri meninggalkan tempat terkutuk itu. Tapi baru beberapa langkah Wonyoung berjalan, dia bertemu lagi dengan Tira, wanita Papua yang kasar dan kejam. Tira memandangi sekujur tubuh Wonyoung yang bermandikan sperma dengan tatapan sinis.

“tsk.. tsk.. tsk….” Tira mencibir. “Sepertinya kamu senang dijadikan pelampiasan birahi mereka…”

Wonyoung diam saja mendengar ejekan Tira meskipun hatinya terasa sakit dan sedih sekaligus malu.

“Sekarang mandi yang bersih!” Tira membentak galak, tanpa menunggu jawaban Wonyoung, tida menarik tangan Wonyoung menuju ke pancuran untuk membersihkan tubuh Wonyoung dari cairan sperma yang membasahi sekujur tubuhnya. Wonyoung hanya bisa pasrah dan menangis. Lalu setelah selesai, Tira menyelimuti tubuh telanjang Wonyoung dengan selembar kain usang yang dibawanya kemudian dia membawa Wonyoung kembali ke kamarnya, kamar dimana semalam Wonyoung diperkosa oleh Wewengko. Oleh Tira, Wonyoung hanya diberi selembar kain untuk menutupi tubuhnya yang telanjang bulat. Wonyoung hanya bisa menangis, air matanya seolah kering. Karena kelelahan akibat dipaksa melakukan oral seks selama berjam-jam, Wonyoung akhirnya tertidur.

Di tengah-tengah tidurnya, Wonyoung merasakan pipinya dibelai dan dielus-elus oleh sebuah tangan kasar. Seketika itu pula Wonyoung terbangun. Dia langsung menjerit melihat siapa yang sudah berada di sampingnya. Wewengko. Tapi kali ini Wewengko memakai pakaian lengkap. Meski begitu Wonyoung tetap merasa ketakutan. Dia segera beringsut mundur ke sudut ranjang sambil mendekap tubuhnya yang hanya tertutup selimut usang sambil menangis.

“Jangan Tuan.. jangan..” Wonyoung merapat ke dinding, sementara di luar petir meggelegar dengan keras. Rupanya malam itu turun hujan yang sangat deras sehingga suasana menjadi dingin.

“Jangan takut Sayang..” Wewengko mendekati Wonyoung dan kemudian duduk di sebelahnya sambil membelai rambutnya. “malam ini dingin sekali, kamu kedinginan?”

Wonyoung hanya mengangguk tertahan, mencoba tidak menatap wajah Wewengko yang bercambang lebat.

“Aku juga kedinginan.” Kata Wewengko. “bagaimana kalau kita saling menghangatkan..?” kata Wewengko sambil memeluk erat-erat tubuh Wonyoung.

“Jangan.. ahh…” Wonyoung meronta saat Wewengko mulai menyentuh bagian tubuhnya dengan ciumannya. Tapi Wewengko tidak melepaskan pelukannya, bahkan makin ketat memeluk tubuh Wonyoung. Kemudian kembali dia mencumbui wajah Wonyoung, bibirnya dengan rakus melumat bibir Wonyoung yang mungil, lalu dengan lidahnya dia menelusuri pipi dan leher Wonyoung.

“Ahhh… jangan…. ahhhh… Oohhh…” Wonyoung meronta sekuat tenaga, tapi rontaan tubuhnya yang putih mulus itu justru membangkitkan gairah Wewengko. Dengan ganas Wewengko menciumi sekujur leher Wonyoung. Pelan-pelan Wonyoung kembali merasakan gejolak seksualnya bangkit, dan akhirnya dia pasrah digeluti oleh tubuh hitam besar itu sehingga ketika Wewengko membuka kain yang menutupi tubuhnya, Wonyoung hanya diam saja.

“Dingin Tuan…” Wonyoung mendekapkan tangannya ke payudaranya yang putih kenyal dan telanjang.

“Jangan khawatir… Sebentar lagi juga panas…” kata Weengko tersenyum sambil menatap mata Wonyoung yang bening dengan penuh arti. Dibukanya lipatan tangan Wonyoung karena dia ingin menikmati dan merabai keindahan kedua payudara wanita itu. Wonyoung membiarkan saja Wewengko memulai aksinya dan menikmati rangsangan yang diberikan padanya. Wewengko yang mengetahui Wonyoung sudah pasrah makin bersemangat. Dengan tangannya yang besar dicengkeramnya kedua payudara Wonyoung, pas segenggaman. Payudara itu kemudian diremasnya dengan kekuatan penuh. Wonyoung meringis menahan sakit. Wewengko kemudian menggerak-gerakkan genggaman tangannya melingkar membuat payudara Wonyoung seperti adonan kue yang sedang diuleni, hal itu membuat Wonyoung merasa kegelian tapi juga sekaligus terangsang.



“Ohhh…. Ahhhh….. Ahhhhhh………” Wonyoung merintih penuh kenikmatan, sikap kepasrahannya untuk disetubuhi membuatnya bisa menikmati setiap rangsangan Wewengko, apalagi ketika Wewengko mendaratkan ciuman-ciuman dan sapuan lidahnya ke bagian puting payudaranya membuat Wonyoung tersentak-sentak dan menggeliat menahan desakan birahi yang kian meledak di dalam tubuhnya. Sekujur tubuh Wonyoung basah oleh keringat sehingga tubuhnya yang mulus itu berkilau diterpa sinar lampu yang temaram. Dan dalam waktu singkat Wewengko telah berhasil membuat Wonyoung tidak berdaya menolak apa pun yang dimintanya. Seakan wanita itu telah berada sepenuhnya dalam kekuasaannya.

“AAAAHHH…….. AAAHHHH……..” terdengar erangan dari bibir mungil Wonyoung saat dia kembali dilanda orgasme. Tubuhnya menegang kuat sekali utuk sesaat sebelum kemudian melemas kembali dan tergeletak di ranjang.

Wewengko tersenyum puas melihat wanita cantik itu terkapar tidak berdaya. Wewengko kemudian melucuti pakaiannya sendiri. Kini di atas ranjang dua tubuh telanjang berlainan jenis telah siap melakukan persetubuhan. Yang wanita adalah seorang wanita muda yang terbaring tak berdaya setelah diculik dengan tubuh yang langsing, kulit putih mulus dan wajah cantik rupawan. Seorang publik figur dengan status sebagai idol korea. Sedangkan si pria di atasnya yang siap menyetubuhinya adalah seorang dedengkot pemberontak yang selama ini dicari-cari oleh aparat penegak hukum.

Untuk kedua kalinya Wonyoung dan Wewengko melakukan hubungan badan. Kali ini permainan menjadi amat bergairah. Wonyoung sudah mulai terbiasa menerima sodokan penis Wewengko di kemaluannya. Keduanya sudah seperti pasangan yang serasi. sudah seirama dan saling beradaptasi dalam persetubuhan itu. Wonyoungpun tak melakukan perlawanan sama sekali terhadap Wewengko. Dibiarkannya gembong pemberontak itu menggenjot vaginanya dan menuju puncak kenikmatan bersama. Wonyoung yang memang wanita baik-baik dan terpelajar, kadang masih berusaha membuat kesan ia tidak begitu menikmati persetubuhan itu. Namun yang sebenarnya terjadi, Wonyoung benar-benar menikmatinya. Berkali-kali Wonyoung mengalami orgsme saat kemaluannya digenjot oleh penis Wewengko.

“OOOHHHHHH…….” Wonyoung mengerang kuat menikmati orgasmenya yang bertubi-tubi dan memabukkan. Rintihan dan ekspresi wajahnya yang erotis membuat Wewengko kian terpacu dan kian bersemangat menyetubuhi Wonyoung yang seolah sudah resmi menjadi gundiknya.

“Wonyoungaaa…… Hhhggggh….” lenguh Wewengko melepaskan semua sperma yang ditahannya dari tadi ke dalam rahim idol korea itu sebagai balasannya. Kemudian hening. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa bergejolak di dada mereka yang saling menempel. Si gembong pemberontak dan gundik barunya menyatu bugil di atas ranjang. Keduanya berpelukan erat. Wewengko di atas Wonyoung. Kaki Wonyoung yang mengapit pinggul Wewengko menekan pantat Pemberontak itu supaya tetap di tempatnya. Mereka pun berciuman dengan ganas menikmati setiap detik keintiman mereka. Kedua tubuh itu masih saling menghimpit menciptakan sebuah pemandangan yang sangat kontras, tubuh yang putih, mulus dan langsing dengan wajah yang begitu cantik ditindih oleh sosok hitam legam dan bertato serta berwajah buruk.

Wonyoung memejamkan matanya, air matanya meleleh membasahi pipinya yng putih, sementara Wewengko masih membirkan penisnya menancap di vagina Wonyoung, mencoba merasakan kenikmatan tubuh Wonyoung yang mulus itu sepuas-pusnya. Ditatapnya wajah cantik Wonyoung dengan perasaan sangat puas. Sebuah sensasi dan kenikmatan tersendiri bagi Wewengko bisa menikmati kehangatan tubuh seorang idol korea yang begitu cantik seperti Wonyoung. Tak pernah ia merasakan bersetubuh dengan wanita secantik dan seseksi Wonyoung. Bisa bersetubuh dengan Wonyoung ibarat mimpi yang menjadi kenyataan bagi Wewengko, apalagi mengingat status wanita yang sekarang sudah menjadi gundiknya itu adalah seorang idol korea, ya, idol korea, wanita cantik di negeri ginseng itu.

Ia merasakan perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan semua pelacur yang ia kenal selama ini. Ini membuatnya ketagihan. Yang diinginkannya saat ini adalah menikmati setiap jengkal tubuh Wonyoung sepuas-puasnya. Dalam pikiran Wewengko bahkan ingin bisa menghamili Wonyoung. Jika Wonyoung bisa hamil olehnya maka dia bisa mendapatkan keturunan dari rahim seorang wanita terpelajar seperti Wonyoung yang bisa meneruskan statusnya sebagai pemimpin.

Segala pikiran busuk dan jahat makin lama makin memenuhi kepala Wewengko, membuatnya tertawa penuh kemenangan, sementara tubuh Wonyoung yang putih mulus masih berada di dalam dekapannya.

Comments

Popular posts from this blog

*under construction*Skandal di Rumah 2: Pelampiasan Lily

Slutty Doll Chaewon: Diperawani Tukang Becak Langgananku

*under construction*Skandal di Rumah: Nyonya Linda dan Jongosnya