Kang Hyewon XXX : Magically In Love
Kang Hyewon, nama yang mulai terdengar tak asing di telinga masyarakat Korea khususnya masyarakat yang sering menonton televisi. Kang Hyewon bisa disebut sebagai idol pendatang baru di dunia entertainment Korea. Begitu muncul pertama kali, Hyewon langsung menyita perhatian, khususnya kaum Adam. Wajahnya begitu cantik namun terlihat lugu dan polos, sangat memikat. Apalagi kulitnya yang benar-benar putih mulus, tak ada cacat sedikitpun, mulai dari kepala sampai kaki. Kecantikan dan kulit putih mulusnya selalu membuat para pria membayangkan bahwa tubuh Kang Hyewon pastilah ‘legit’, hangat, dan juga harum. Banyak yang menyama-nyamakan Hyewon dengan artis film panas Jepang yang sudah terkenal di Korea bernama Maria Ozawa atau lebih dikenal Miyabi karena beberapa foto wajah Hyewon sekilas agak mirip dengan Miyabi. Namun, sebenarnya, perbedaannya cukup jauh. Wajah Hyewon terlihat sangat polos, cantik natural, beda dengan Miyabi yang cantik nakal. Tapi, segera imej mirip Miyabi itu hilang dari pandangan publik.
Sebab, sikap anggun, ramah, santun, dan selalu tersenyum serta wajahnya yang cantik polos menimbulkan kesan tersendiri. Kesan yang membuat Hyewon seperti seorang dewi atau bidadari yang begitu cantik. Dan kulit Hyewon yang putih, seputih susu, sungguh sangat ‘menyilaukan’ mata para lelaki.
“umm hem hem hem”, terdengar senandung merdu dari dalam kamar mandi. Hyewon sedang asik berendam air susu sambil bersenandung. Hyewon sangat merawat kulit indahnya itu. Mandi susu, spa, pokoknya semua perawatan kulit ia lakukan untuk menjaga kulitnya tetap halus dan mulus. Hyewon keluar dari bathtub dan membuang air mandinya. Tubuh yang benar-benar sangat indah. Bukan indah dalam arti sexy atau sintal. Tubuh Hyewon tidak terlalu sexy, namun proporsional. Tak ada satu lipatan pun yang berwarna hitam atau coklat, semuanya putih mulus. Dan yang menjadi daya tarik utamanya yaitu belahan bibir vaginanya yang menutup dengan sangat rapat dan dihiasi rambut kemaluan yang lebih seperti bulu-bulu halus serta kedua putingnya yang tidak terlalu besar dan berwarna pink pucat, sangat menggemaskan.
Hyewon keluar kamar mandi, mengeringkan tubuhnya, melilitkan handuk di tubuhnya, dan duduk di depan meja riasnya. Dengan santai, Hyewon menyisir rambutnya berkali-kali tanpa bosan, sampai rambutnya kering dan rapih. Kecantikannya benar-benar alami, natural, dan polos. Dia sama sekali tak perlu mengenakan make up apapun untuk terlihat cantik. Dan Hyewon sendiri juga tak terlalu suka mengenakan make-up. Paling-paling, dia hanya sekedar memakai blast-on supaya pipinya merona dan lipgloss untuk melembapkan bibirnya. Dia memang lebih sering menggunakan lipgloss daripada lipstik. Dia tidak terlalu suka lipstik. Lagipula bibirnya memang tipis dan pink alami, buat apa memakai lipstik. Dan karena dia sering memakai lipgloss, bibirnya yang tipis terlihat sehat, lembap, dan berkilau setiap saat. Tapi, ada kalanya dia memakai lipstik, di saat dia ingin terlihat tampil sebagai wanita yang dewasa dan mandiri, pastilah ia mengenakan lipstik.
Hyewon mengenakan pakaiannya, pakaian yang feminim, mirip seperti gaun tapi lebih ke gaun untuk sehari-hari. Dia memang sangat feminim, untuk sehari-hari saja dia lebih suka mengenakan rok daripada jeans. Tapi, meski feminim, bukan berarti Hyewon adalah wanita yang manja. Wajahnya boleh terlihat lugu tapi dia lebih suka menyelesaikan masalahnya sendiri. Hari ini dia akan mengisi sebuah acara musik, menjadi MC bintang tamu di acara itu.
“wuih, ada neng cantik nih…”.
“iih. apa sih lo, Ga ?”, balas Hyewon sambil tersenyum.
“emm gemes gue kalo ngeliat cewek imut…”, Heechul mencubit kencang pipi Hyewon.
“auw. sakit tau”.
“abisnye gue gemes ngeliat muka lo..”.
“iya, tapi kan sakit..”.
“oh iya, gimana kabar bokin lo ?”.
“mau tau aja deh…”, canda Hyewon.
“ah gitu lo ye, pelit ye ma gue, Ra..”. Hyewon dan Heechul memang sudah saling kenal, tak heran mereka terlihat akrab.
“si Shindong mana ?”.
“biasa, bentar lagi juga dateng. kan die emang keong racun. jalannye lelet kayak keong ahahaha”, Heechul tertawa lebar dengan gaya tertawanya yang khas.
Hyewon dan Heechul pun memandu acara musik tersebut berdua karena Shindong belum datang. Tapi, akhirnya Shindong datang dan memandu acara bersama Hyewon dan Heechul sampai selesai.
“Hyewon !”.
“iya ?”.
“mau ke mana ?”.
“mau pulang ke rumah…”.
“ah masa langsung pulang ke rumah ? maksi bareng yuk ?”.
“ah, nggak, Fi. makasih…”, jawab Hyewon tersenyum.
“yah, ayo dong. jarang banget gue maksi sama cewek cakep..”, rayu Shindong.
“nggak, Fi. makasih..”, jawab Hyewon kembali tersenyum.
“yah. yaudah deh…”.
“maaf yaa Fi. gue balik duluan yaa…”. Tak terbayang oleh Hyewon kalau dia harus makan siang berdua dengan Shindong. Memang dia ganteng, tapi Hyewon canggung sekali kalau berbicara dengan Shindong. Bukan karena Hyewon suka, justru Hyewon kaku karena tidak mengerti apa yang dibicarakan Shindong apalagi kalau sudah melucu, pasti jayus. Lagipula, Hyewon paling tidak suka dengan cowok yang gampang gonta-ganti pacar. Hyewon masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya keluar areal stasiun tv swasta itu.
Kalau langsung pulang ke rumah, rasanya malas. Jalan bersama teman-teman juga sedang tidak ingin. Ya sudah, Hyewon memutuskan untuk pergi ke cafe favoritnya sendirian.
“srrpp…”, Hyewon menyeruput minumannya lewat sedotan sambil asik browsing dengan handphonenya. Tak lupa sesekali ia menyuap kue yang dipesannya tadi. Hyewon memang tak pernah banyak makan. Hanya dengan kue yang ia pesan, perutnya sudah terasa 3/4 kenyang. Tentu banyak yang memandang si bidadari cantik jelita itu. Tak sedikit yang mengenali Hyewon, artis pendatang baru.
“hai…”.
“hi..”.
“boleh gabung di sini nggak ?”.
“emm…iyaa..”, jawab Hyewon.
“kamu, Kang Hyewon kan ?”.
“iya, Pak..”.
“kenalkan, saya Bambang..”. Hyewon hanya tersenyum.
“kenapa kamu sendirian ?”.
“mm..maaf, Pak, saya duluan..”.
“lho ? mau ke mana ?”. Hyewon hanya tersenyum seraya meninggalkan bapak yang kelihatan kecewa itu, tak jadi berkenalan dengan si artis cantik itu. Hyewon berjalan cepat menuju tempat mobilnya diparkir.
Dia menghela nafas lega bisa menghindar dari Om-om nakal barusan. Hyewon bersender ke jok kursinya.
“huuhh…”. Kadang ia bertanya, apakah ia harus menganggap kecantikan wajahnya sebagai suatu berkah atau kutukan. Tak jarang keadaan seperti tadi, saat Hyewon sedang sendiri, ada saja pria yang ingin berkenalan. Ya memang, tak semua pria yang mengajaknya kenalan seperti bapak tadi, ada juga yang masih muda, tampan, dan kaya, namun Hyewon merasa tak nyaman berkenalan seperti itu. Dan di antara teman-temannya yang pria, Hyewon juga merasa tak ada yang cocok. Entahlah, Hyewon juga masih bingung, apakah nanti dia bisa menikah. Aneh juga, banyak wanita ingin punya wajah cantik dan kulit putih mulus seperti Hyewon agar mudah mendapat pangeran yang sempurna, tapi Hyewon malah bingung, masih belum ada yang cocok.
“ckiiiiittttt !!!!! buuugghhh !!!”. Gara-gara melamun, Hyewon menabrak orang yang menyebrang. 2 orang yang memang sedang duduk di warung dekat situ pun mendekati mobil Hyewon.
“WOII !!! KELUAR LO !!!”, kata seorang pria menggebuk-gebuk kaca mobil Hyewon dengan kencang.
Sementara pria satu lagi, memeriksa orang yang tertabrak itu.
“WOI KELUAR LO !! MENTANG-MENTANG PAKE MOBIL MAHAL. NYETIR SEENAKNYE LO !! KELUAR !!!”. Wajah Hyewon pucat, dan keringat dingin. Hyewon keluar dari mobil.
“LO NYETIR GI..MA…NE SI..H..”, orang itu langsung berhenti berbicara ketika Hyewon sudah keluar dari mobil.
“maaf maaf, Pak…saya nggak ngeliat tadi….”, wajah Hyewon benar-benar panik.
“Bapak nggak apa-apa ?”, tanya Hyewon sambil jongkok. Pria yang tadi mau menolong bapak itu malah terbengong melihat Hyewon. Meski Hyewon merapikan roknya sebelum jongkok, tapi tetap saja, sedikit betisnya terlihat. Menampakkan betapa mulus kulit Hyewon meski hanya sebatas betis. Tak heran pria itu malah jadi bengong.
“Mbak ini gimana sih nyetirnya ?”, ucap pria yang tadi menggedor kaca mobil dengan nada sok ketus. Sebenarnya pria itu masih dalam ‘tahap’ mengagumi si dara cantik yang sedang jongkok.
Namun sudah kepalang marah, jadi dia sok ketus.
“maaf Pak. saya tadi lagi ngelamun. maaf Pak..”.
“saya nggak apa-apa kok, neng…”, jawab bapak itu. Dengan dibantu 2 orang pria, bapak itu mencoba berdiri.
“aduu duuh duuhh…”.
“kayaknya kaki bapak keseleo…”.
“harus diperiksa Pak…”.
“nggak usah, Mas…”.
“saya anterin Pak ke rumah sakit…”.
“nggak usah neng, cuma keseleo sedikit…”.
“ayo, Pak…sa ya nggak tenang kalau belum bawa Bapak ke rumah sakit…”.
“bener, neng..saya nggak apa-apa..”, ucap bapak itu, tapi seperti kesakitan menapak dengan kakinya.
“udah, Pak..coba periksa aja dulu”, saran si pria yang memapah bapak itu. Akhirnya, bapak itu mau juga setelah dibujuk. Dengan dibantu 2 pria tadi, bapak itu sudah duduk di jok tengah mobil Hyewon.
“Pak. saya benar-benar minta maaf”, Hyewon mengucapkannya sambil terus menyetir. Wajahnya kelihatan cemas sekaligus bersalah.
“nggak apa-apa, neng. saya juga tadi asal nyebrang”.
“kaki Bapak terasa sakit banget ya ?”.
“sedikit. paling cuma keseleo, neng”.
“ya tapi harus diperiksa, Pak”.
“iya, neng”. Keadaan pun menjadi sepi. Jalanan menuju rumah sakit cukup jauh.
“em, maaf neng, kalau saya boleh nanya. neng ini artis ya ?”.
“umm. ya bisa dibilang begitu”, jawab Hyewon tersenyum.
“nama neng siapa ?”.
“nama saya Hyewon, Pak. Bapak ?”.
“saya Sugeun, neng. Neng Hyewon yang waktu itu pernah diwawancarai Hodong kan ya ?”.
![]() |
| Lee Sugeun |
“iya, Pak. Bapak sering nonton acara itu ?”.
“iya, neng. tiap malem sambil istirahat”.
“oh. saya boleh nanya juga, Pak ?”.
“nanya apa, neng ?”.
“Bapak ini komedian ya ?”.
“iya, neng. saya komedian. kok neng Hyewon bisa tahu ?”.
“pakaian Bapak mirip paman temen saya yang komedian”.
“oh begitu”.
“komedian aliran apa, Pak ?”.
“komedian semua aliran, neng”.
“oh….”. Aneh rasanya, Hyewon kelihatan enak sekali berbicara dengan Sugeun, suara Bapak tua itu pun membuat Hyewon menjadi tenang dan menghilangkan kecemasan dan rasa bersalahnya.
“ayo, Pak. hati-hati..”. Hyewon menunggu Sugeun yang berusaha turun dari mobil. Tanpa ragu, Hyewon memapah Sugeun yang sedikit kesusahan berjalan ke dalam rumah sakit.
Sugeun pun bisa mencium aroma tubuh Hyewon yang sangat harum. Aroma vanilla yang manis dan menggemaskan.
“gimana, Dok ?”.
“sepertinya sendi kaki Bapak Sugeun sedikit bergeser”.
“bisa disembuhin, Dok ?”.
“bisa. tapi mungkin Pak Sugeun harus istirahat di rumah 2 minggu supaya sendinya sembuh total”.
“oh begitu ya, Dok ? terima kasih, Dok”. Hyewon pun mengurus biaya administrasi sambil menunggu Sugeun keluar. Tak lama kemudian, Sugeun dengan dipapah seorang juru rawat laki-laki keluar dari ruangan menuju ruang tunggu.
“gimana, Pak ?”.
“tadi lumayan sakit, tapi sekarang enakan, neng”.
“maaf banget, Pak”.
“nggak apa-apa kok, neng”.
“ini resepnya, Pak ?”, Hyewon mengambil secarik kertas yang di genggam Sugeun.
“iya, neng. tapi sini saya aja yang bayar”.
“nggak, Pak. biar saya aja..”. Setelah membayar semuanya, Hyewon pun memapah Sugeun keluar.
“makasih, neng udah bayarin saya berobat”.
“kenapa Bapak terima kasih ? saya udah nabrak Bapak sampai Bapak harus istirahat 2 minggu..justru seharusnya saya minta maaf ke Bapak”.
“yaudah, neng. saya udah nggak apa-apa, jadi neng Hyewon nggak usah ngerasa bersalah lagi..”, petuah Sugeun untuk menenangkan Hyewon.
“iya, Pak. terima kasih”.
“ya sudah, neng. kalau begitu saya pamit pulang dulu..”.
“lho ? Bapak mau ke mana ? tas Bapak kan masih ada di dalem mobil saya ?”.
“oh iya. hampir aja…”.
“saya anter Bapak pulang ya sekalian ?”, tanya Hyewon dengan raut muka sangat manis.
“nggak usah, non. nanti ngerepotin…”, tolak Sugeun halus. Ditawari pulang bersama oleh gadis muda yang sangat cantik, belum lagi berstatuskan artis pastilah Sugeun sangat ingin menerimanya, tapi dia merasa tak enak.
“jangan membuat saya ngerasa bersalah lagi, Pak. tolong biarin saya nganter Bapak pulang ke rumah”, Hyewon agak memaksa.
“mm. iya deh, neng. boleh kalau begitu. maaf ngerepotin”. Hyewon tersenyum sebelum membantu Sugeun masuk ke dalam mobil. Karena cukup asyik mengobrol, tiba-tiba sudah sampai di depan rumah Sugeun.
Rumahnya kecil, mungil, sederhana, dan bertipe RTRB (Rumah Tipe Rakyat Biasa), namun kelihatan aman dan nyaman.
“biar saya anter sampai dalem, Pak”.
“nggak usah, neng. saya bisa kok kalau cuma jalan sedikit-sedikit”, ucap Sugeun sambil mengambil tasnya.
“ini, Pak. nomer hp saya, kalau ada apa-apa, telpon saya”.
“iya, neng. makasih neng”.
“sama-sama, Pak. saya pulang dulu ya. sekali lagi maaf, Pak”. Sugeun tersenyum sambil mengangguk. Hyewon pun pulang ke rumah. Selama di rumah, Hyewon terus memikirkan Sugeun. Bukan karena hanya kasihan dan bersalah, tapi rasanya Hyewon juga kangen dengan suara komedian tua itu. Entah ada apa dengan Hyewon, padahal baru kenal, tapi terasa sudah lama kenal, bahkan terasa seperti keluarga. Keesokan harinya.
“tok tok tok !!”.
“sebentar !”.
“lho ? neng Hyewon ? ayo masuk, neng”.
“iya, Pak. terima kasih”.
“silakan duduk, neng”.
“mau minum apa, neng ?”.
“ah nggak usah, Pak. nanti ngerepotin. saya cuma mau ngelihat keadaan Bapak. gimana, Pak ? udah enakan ?”.
“iya, neng. lumayan. balsemnya bener-bener bikin enakan”.
“oh gitu ya, Pak ? bagus deh”.
“iya, neng…”.
“obatnya udah di minum, Pak ?”.
“udah, neng. udah saya minum semua”.
“oh iya, Pak. saya bawa makanan buat Bapak”.
“ha ? kenapa neng repot-repot bawa makanan segala ?”.
“ya nggak apa-apa, Pak. piringnya dimana, Pak ?”.
“biar saya siapin sendiri, neng”.
“biar saya saja, Pak. dimana piringnya, Pak ?”.
“nggak apa-apa, neng ?”.
“iya, Pak. nggak apa-apa”.
“oh, yaudah, neng. piringnya di sana, neng”. Hyewon menyiapkan makanan yang di bawanya.
“ayo, neng Hyewon makan juga”.
“saya udah makan, Pak”, jawab Hyewon tersenyum.
“ayo, neng. saya nggak enak makan sendiri. lagian kan neng Hyewon yang beli”.
“mm…iya deh, Pak”. Hyewon dan Sugeun pun makan bersama. Seperti biasa, Hyewon makan secukupnya.
“oh iya, Pak. ngomong-ngomong istri Bapak kemana ? kok nggak keliatan ?”.
“istri saya sudah meninggal 8 tahun yang lalu, neng”.
“oh maaf, Pak. saya nggak tau, maaf”.
“nggak apa-apa, neng”. Hyewon pun menemani Sugeun sampai sore karena gadis cantik itu merasa kasihan Sugeun yang sedang dalam masa penyembuhan sendirian saja di rumah.
“Pak. maaf nih, saya pulang dulu ya”.
“oh iya, neng. silakan. makasih banget udah nemenin saya dari pagi sampai sore”.
“iya, Pak. sama-sama. saya juga lagi butuh temen ngobrol”.
“oh begitu”.
“mari, Pak. saya pulang dulu”.
“iya, neng. sekali lagi makasih, neng..”.
“iya, Pak…”, Hyewon tersenyum. Akhirnya, pemandangan indah itu hilang juga dari mata Sugeun. Semenjak istrinya meninggal 8 tahun lalu, baru kali ini Sugeun mengobrol lama dengan wanita di rumahnya lagi. Sudah begitu, bukan sekedar wanita biasa tapi artis muda yang wajahnya seperti bidadari. Kesan yang ada di benak Sugeun kalau artis itu sombong, sangat bertolak belakang dengan Hyewon. Saat mengobrol tadi, Hyewon tak segan-segan tertawa dan tersenyum bersama komedian tua itu. Cantik dan baik hati, persis seperti penggambaran seorang bidadari atau dewi, andai Hyewon menjadi istrinya, pasti akan terasa seperti di surga, dilayani wanita cantik setiap harinya.
Tunggu, memperistri Hyewon ? Sugeun tersenyum licik lalu mengambil sebuah buku catatan dari lemarinya. 5 hari sudah berlalu, Hyewon tak bisa datang karena sedang ada kerjaan, tapi dia selalu menelpon Sugeun supaya tahu kabarnya, gadis cantik itu perhatian ke Sugeun karena merasa harus bertanggung jawab ke komedian tua itu.
“halo…”.
“Pak Tanto ? ada apa, Pak ?”.
“maaf, neng ganggu. Bapak mau nanya, nama balsem yang di kasih dokter waktu itu, apa neng namanya ?”.
“lho ? emang kenapa, Pak ?”.
“ini, non. balsem Bapak udah habis, Bapak mau beli lagi”.
“oh iya, resepnya saya yang megang. ya udah, Pak. nanti biar saya aja yang beli”.
“jangan, neng. biar Bapak beli sendiri aja”.
“nggak apa-apa, Pak. saya juga mau lihat keadaan Bapak sekalian”.
“mm..yaudah neng. makasih banget ya…”.
“sama-sama, Pak…”. Hyewon langsung membeli balsem di apotik setelah selesai suting terakhirnya untuk 1 minggu ke depan, tapi dia terjebak macet parah di jalan menuju rumah Sugeun.
“Pak Tanto. maaf, saya kena macet. jadi saya masih lama nyampenya”.
“iya, neng. nggak apa-apa”.
“Bapak nggak lagi butuh banget balsemnya kan ?”.
“nggak sih, neng. Bapak cuma jaga-jaga aja, soalnya balsemnya tinggal sedikit”.
“oh yaudah, maaf ya, Pak”, jawab Hyewon lembut.
“iya, neng….”.
“oh iya, Pak. gimana kakinya ? udah mendingan ?”.
“udah, neng. udah kayak biasa lagi. paling besok, Bapak juga udah bisa ngajar lagi”.
“oh gitu. syukur deh”. Hyewon akhirnya sampai di rumah Sugeun saat senja (sore menjelang malam).
“aduh, maaf, Pak. tadi macet banget”.
“iya, neng. nggak apa-apa. sebentar, neng”. Sugeun membawa minuman.
“ini, neng. diminum”.
“kok repot-repot, Pak”.
“udah, nggak apa-apa, neng. pasti neng Hyewon haus. ayo neng diminum”.
“iya, Pak. makasih, Pak”. Hyewon mengobrol dengan Sugeun sambil melepas lelah sebentar.
“Pak, saya minjem kamar mandinya sebentar”.
“oh, iya, neng. silahkan”. Saat keluar kamar mandi, Hyewon mencari-cari Sugeun, tapi tak kelihatan.
Ya sudah, Hyewon pun memutuskan untuk pulang tanpa pamit karena sudah cukup malam.
“klk klk…”, sepertinya pintunya terkunci. Saat sedang mencoba membuka pintu, Hyewon dibekap dari belakang.
“emmpphh emmffhhhh”, Hyewon memberontak sekuat tenaga, melepaskan dirinya dari bekapan seseorang itu. Tapi, sudah bisa ditebak, tenaga gadis mungil seperti Hyewon tidak berpengaruh. Orang itu mudah mengangkat Hyewon dan membawanya ke dalam kamar.
“bugg !!”, Hyewon dilempar ke atas tempat tidur.
“Pak Tanto ?! Mau apa ??!!!”, ketika Hyewon mau bangun, Sugeun langsung menomploknya, menekan tubuh Hyewon agar tidak bisa kemana-mana.
“udah lama Bapak nggak nidurin perempuan, neng. hehehe”, seringai jahat tercetak di wajah Sugeun. Sangat berbeda 180 derajat, wajah Sugeun yang tadi kelihatan arif dan bijaksana, kini seperti wajah perompak.
“JANG, hmmpppfffh !!”, Sugeun langsung menambal mulut Hyewon dengan bibirnya.
“haph..ummm nyeemmhhh”. Hyewon menggelengkan kepalanya kesana kemari sambil berusaha untuk teriak.
Namun, bibir Sugeun sangat gigih mengejar bibir Hyewon. Dengan gemasnya, komedian tua itu mengemut-emut bibir Hyewon yang empuk dan lembut sambil berusaha menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulut Hyewon. Gadis cantik itu meronta-ronta sekuat tenaga, menutup bibirnya rapat-rapat. ‘pertahanan’ Hyewon masih kuat, insting laki-laki sejati milik Sugeun pun mengambil alih. Pria tua itu mulai mencumbui sekujur leher Hyewon.
“jangan, Pak…tolong…jangaan, Paak…”. Rupanya Hyewon sangat sensitif. Baru diciumi sebentar saja, tubuhnya sudah melemah. Mudah sekali bagi Sugeun. Lidah kasar komedian tua itu pun menjalari sekujur leher Hyewon yang mulus.
“aaahhhmmm jangaannhhh Paaakkhhh….”, lirih Hyewon begitu lemah. Terlalu mudah, Sugeun sudah membayangkan betapa nikmatnya menggumuli Hyewon yang cantik itu. Tapi, tiba-tiba.
“TAAKKK !!”, Hyewon memukul kepala Sugeun dengan sesuatu dan mendorongnya. Sepertinya itu buku pelajaran. Tenaga Hyewon seperti meningkat 3x lipat, Sugeun sampai terjatuh ke bawah.
Kunci yang tadi di kantung Sugeun terlempar keluar. Hyewon langsung mengambil kunci itu dan membuka pintu depan. Dia berlari masuk ke dalam mobilnya, menginjak pedal gas dalam-dalam. Sementara Sugeun sedikit berlari ke pintu depan rumahnya. Meski terasa lumayan sedikit nyut-nyutan, tapi Sugeun malah tersenyum. Hyewon yang sudah jauh dari rumah Sugeun memberhentikan mobilnya. Dia menangis, dia benar-benar syok berat, dirinya hampir menjadi korban perkosaan karena terlalu baik dan percaya ke Sugeun. Setelah sudah bisa mengontrol emosinya, Hyewon pulang ke rumah. Semenjak kejadian itu, Hyewon jadi sering murung dan diam. Bukan karena dia masih syok, tapi ada sesuatu yang lain. Gadis cantik itu sendiri bingung, padahal dia hampir diperkosa Sugeun, tapi kenapa dia sekarang jadi memikirkan wajah komedian tua itu terus. Bahkan sangat parah, lamunan dan mimpi Hyewon selalu menuju peristiwa waktu itu. Idol berwajah cantik natural itu kini selalu membayangkan apa yang akan terjadi kalau sampai digumuli Sugeun.
Bukan membayangkan karena takut diperkosa, tapi malah cenderung penasaran apa yang akan terjadi padanya kalau dia sampai mempasrahkan tubuhnya untuk digeluti si komedian tua. Dara cantik itu selalu gelisah, tak tenang, dan tak bisa tidur nyenyak, peristiwa waktu itu dan wajah Sugeun selalu muncul di benaknya. Ya, Hyewon telah terkena pelet dari Sugeun. Di minuman yang waktu ia minum, terdapat ramuan pelet Sugeun. 4 hari sudah, Hyewon benar-benar tak tahan dengan perasaan gelisahnya. Hyewon pun mendatangi rumah Sugeun lagi.
“tok tok tok !!”.
“lho ? neng Hyewon ? ayo masuk…”, sapa Sugeun yang membuka pintu seolah kejadian waktu itu tak pernah terjadi.
“ayo, neng, silakan duduk…”. Hyewon hanya tertunduk malu, wajahnya sangat merah. Dia sangat malu, dia mengasumsikan sendiri kalau dia sedang menyerahkan dirinya sendiri ke Sugeun untuk disetubuhi.
“ada apa, neng ?”, tanya Sugeun dengan senyuman licik.
“emm…”.
“kenapa, neng ?”.
“SAYA NGGAK BISA NGELUPAIN WAKTU ITU !”, jawab Hyewon dengan sekali nafas.
Jelas sekali, Hyewon sendiri yang bilang seperti itu. Meski dalam pengaruh pelet, tapi tetap saja bukan dalam keadaan terpaksa.
“tolong saya, Pak. saya nggak tau harus gimana….”.
“jadi, neng Hyewon mau ngelanjutin yang waktu itu ?”. Hyewon tak menjawab, dia hanya menunduk.
“diem berarti iya lho, neng ?”. Hyewon tetap hanya menunduk.
“ya udah kalo gitu. neng Hyewon ikut Bapak ke kamar”. Sugeun pun merangkul Hyewon dan ‘menggiring’ bidadari cantik itu ke kamarnya. Hyewon di dudukkan di tepi ranjang, di sebelah Sugeun.
“tapi, Pak…..”.
“tenang aja, neng…waktu itu Bapak kalap, sekarang Bapak bakal pelan-pelan…”. Sugeun mendekatkan mulutnya ke mulut Hyewon. Hyewon pun melengos ke samping.
“kenapa ngindar, neng ?”.
“saya…”, Hyewon masih ragu-ragu, akalnya sedang bertarung melawan efek pelet. Hyewon berdiri dan keluar kamar. Rasanya dia tak bisa menyerahkan keperawanannya begitu saja ke Sugeun hanya karena penasaran. Sugeun langsung mengejar ‘buruan’nya itu.
“mau ke mana, neng ?”.
“maaf, Pak. saya nggak bisa…”.
“ayo dong, neng. kita sama-sama pengen kan ?”, bujuk Sugeun. Sugeun pun mendekap Hyewon dari belakang.
“maaf, Pak….”. Pria tua itu merasa Hyewon harus mendapatkan persuasif terlebih dulu.
“ccpphh ccpphhh cup”, Sugeun mengecupi dan mencumbui tengkuk leher Hyewon.
“hemmm….jangaann, Paakk….”. Artis berwajah cantik polos itu menggeliat, merasa geli sambil berusaha melepaskan diri dari dekapan Sugeun. Namun karena Hyewon sudah terkena pelet, rasanya perlawanan Hyewon hanyalah untuk ‘memancing’ nafsu Sugeun. Si pria tua itu pun terus menciumi tengkuk leher Hyewon dan menikmati betapa harumnya tubuh artis muda itu.
“jangaan, Paak…”, Hyewon melirih pelan. Efek pelet ditambah gairah yang mulai terpancing karena ciuman-ciuman Sugeun di lehernya, membuat Hyewon mulai ‘lemah’. Kedua tangan Sugeun yang tadi melingkar di pinggang Hyewon kini mulai merayap ke atas.
“emmm…Paaakhh…”, seketika Hyewon mendesah pelan saat merasakan kedua susunya diremas-remas lembut oleh Sugeun.
Baru kali ini, Hyewon merasakan remasan pada kedua buah dadanya. Rasanya enak seperti dipijat dan memicu rasa hangat geli pada perasaannya. Sugeun menyeringai licik, bidadari itu sudah dikuasainya. Sugeun menggiring Hyewon kembali ke dalam kamar. Masih dalam posisi memeluk Hyewon dari belakang, Sugeun terus memainkan payudara artis cantik itu dengan gemasnya.
Besar dan tidak pas digenggam. Momen sunyi namun mengasyikkan bagi Sugeun yang sedang menggrepei wanita secantik Hyewon tanpa adanya perlawanan. Bahkan Sugeun bisa mendengar nafas Hyewon yang semakin cepat dan eluhan pelan keluar dari bibir tipisnya. Pria tua itu tak mau berlama-lama, dia membuka resleting baju Hyewon, meloloskan kedua tali baju dari pundaknya. Hyewon seakan tak punya kuasa lagi atas tubuhnya. Tangannya tak bisa menghentikan perbuatan pria tua cabul itu yang sekarang berencana untuk menelanjanginya. Baju Hyewon pun meluncur mulus ke lantai sehingga hanya tinggal bh dan cd yang melekat di tubuh Hyewon.
Sugeun memutar tubuh Hyewon. Dia memandangi bidadari itu dari kepala sampai kaki. Sungguh tubuh yang indah dan putih mulus !. Sugeun benar-benar tertegun dengan kemulusan tubuh Hyewon. Sementara Hyewon hanya bisa menunduk malu dan menutupi daerah dada dan pangkal pahanya dengan kedua tangannya, wajahnya sangat merah. Dia belum pernah dalam keadaan setengah telanjang di hadapan pria sebelumnya. Tonjolan langsung mencuat di celana Sugeun, air liur pun serasa hampir menetes keluar. Sugeun menyingkirkan kedua tangan Hyewon. Ada sedikit penahanan pada kedua tangan Hyewon. Sepertinya masih ada ‘kesadaran’ Hyewon di tengah pengaruh pelet Sugeun. Dengan sedikit tenaga, Sugeun berhasil menahan kedua tangan Hyewon di samping tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Sugeun membenamkan wajahnya ke buntalan daging kembar nan empuk yang putih mulus itu.
“akhh !”, Hyewon terpekik kaget.
“jangann, Paak….”, Hyewon masih menunjukkan penolakan. Ternyata batinnya masih bisa sedikit melawan pengaruh pelet komedian tua itu.
Tapi, tetap saja, harusnya Hyewon bisa menendang selangkangan Sugeun karena kedua kakinya tak terkekang apa-apa, bidadari itu malah diam saja. Bagai seekor binatang yang sudah menaklukkan ‘mangsa’nya, Sugeun mengendus-endusi tubuh Hyewon. Sungguh wangi dan sangat harum. Aroma parfum vanilla dan jeruk segar yang dipakai Hyewon menambah gelora nafsu Sugeun. Sugeun pun merogoh ke dalam bh Hyewon dan menggenggam ‘bantalan’ empuk yang ada di dalamnya.
“ummm”, gumam Hyewon pelan. Remasan-remasan pada payudaranya membuat Hyewon mulai bergumam. Empuk dan rasanya hangat sekali. Sugeun pun mengeluarkan tangannya dan segera meraih kaitan tali bh yang ada di punggung Hyewon. Begitu kait terlepas, Sugeun langsung menarik bh Hyewon dan membuangnya ke lantai. Komedian mesum itu langsung menahan kedua tangan Hyewon yang mau menutupi payudaranya.
“neng Hyewon. Bapak mau nyusu bentar. HEHEHE !”, usai berkata demikian, Sugeun langsung mencaplok payudara kiri Hyewon.
“aahmm heemmmhhh….Paaakkhhh….”, lirih Hyewon, pelan dan lembut. Kedua mata Hyewon menutup, bibir bawah dikulum olehnya sendiri. Sepertinya, kini dia sudah benar-benar ‘kalah’. Baru kali ini Hyewon merasakan sensasi basah, geli, tapi nikmat sekaligus dan juga membuat tubuhnya serasa hangat. Tak heran kalau dia kelihatan meresapi aktivitas Sugeun yang mengenyoti payudara kirinya. Payudara kanan Hyewon tentu tak dibiarkan begitu saja oleh Sugeun. Tangannya menjamah ‘kemasan’ susu nan mulus Hyewon yang satu lagi. Memijat, meremasnya, dan memilin-milin putingnya.
“uhhmmm….”, Hyewon kelihatan semakin menikmatinya. Dalam keadaan seperti ini, bukan pelet yang mengambil alih pikiran Hyewon, tapi gairah gadis cantik itu sendiri yang melemahkan akal sehatnya. Puas dengan payudara kiri, mulut Sugeun cepat bergeser dan hinggap di payudara kanan Hyewon. Pria tua itu mulai mengenyot lagi. Sudah lama Sugeun tak mengenyot payudara wanita, tak heran dia kelihatan begitu nafsu dan serakah menyusu pada Hyewon.
Lihat saja, pipi komedian cabul itu sampai kempot saat mengenyot kedua buah payudara Hyewon bergantian. Untuk semakin merangsang si bidadari cantik berkulit putih mulus, tangan Sugeun mulai bergrilya. Menyelip masuk ke dalam cd milik Hyewon dengan sangat mudah dan langsung menangkup isinya. Begitu hangat dan lembap. Persis seperti yang dibayangkan Sugeun. Tangan Sugeun mulai mengelus-elus naik-turun.
“uuummhhhhh….”, lirih Hyewon. Jari tengah Sugeun tepat di belahan bibir vagina Hyewon. Gairahnya semakin lama semakin naik. Nafas Hyewon kian memburu. Sugeun tahu kalau dara cantik ini memang sudah benar-benar terangsang. Hawa hangat tubuhnya menandakan gairah yang mulai terpancing. Dengan gerakan cepat, Sugeun melucuti satu-satunya pakaian yang menempel di tubuh Hyewon. Celana dalam Hyewon diturunkan Sugeun sampai lutut. Tatapannya nanar dan takjub melihat daerah intim Hyewon. ‘apem’ Hyewon terlihat sangat menggiurkan, mulus, rapat, dan wangi. Tanpa ragu-ragu, Sugeun langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Hyewon yang sudah tak terlindungi lagi.
“aaahhh jangaan Paakk…jangaannhh….”, dengan sisa kesadaran dan tenaganya, Hyewon menahan kepala Sugeun menjauh dari daerah pribadinya. Tentu komedian tua itu tetap bersikeras. Dia menjulurkan lidahnya, menyentuh bibir kemaluan Hyewon.
“aahmm…”, tubuh Hyewon bergetar. Tenaganya mengendur setelah ‘terbuai’ belaian lidah Sugeun pada vaginanya. Komedian cabul itu pun langsung menggunakan kesempatan dengan membenamkan kepalanya semakin masuk ke selangkangan Hyewon.
“ccpphh emmm enaakk….”, desah Sugeun terus menjilati vagina Hyewon.
“mmhhh uummm Paaaakkhhhh….”. Hyewon tak bisa menahan sensasi nikmat pada selangkangannya. Baru pertama kali ini, ada seseorang yang menciumi dan menjilati kemaluannya. Dia tak pernah menyangka kalau rasanya sungguh enak seperti ini. Meski dalam pengaruh pelet, Hyewon masih ‘dirinya’ sendiri. Dia benar-benar sadar kalau vaginanya sekarang sedang ‘diinvasi’ oleh seorang pria yang bukan suaminya, bahkan baru beberapa hari dikenalnya.
Tapi, seakan-akan dia tak mampu menghentikan perbuatan Sugeun atau mungkin lebih tepatnya, dia tak ‘mau’ menghentikan Sugeun. Itulah cara kerja pelet yang digunakan Sugeun. Membuat si korban pasrah terhadap perlakuan apapun dari si pengguna pelet, tapi korban masih dalam keadaan ‘sadar’. Mungkin pelet Sugeun lebih tepat dibilang hipnotis tingkat lanjut. Hyewon benar-benar tak berdaya lagi menahan ‘serangan’ lidah si komedian cabul pada daerah pribadinya. Yang tadinya kedua tangan Hyewon ingin menjauhkan kepala Sugeun, kini malah menekan kepala Sugeun ke selangkangannya sendiri. Dan kedua kaki Hyewon secara alami melebar, Sugeun pun semakin leluasa menggerogoti vagina Hyewon.
“aaahh ahhh aaahhh EEMMMHHHHH !!!!!”, Hyewon mengerang kencang, tubuhnya menegang, dia menekan kepala Sugeun sekencang-kencangnya sambil memajukan pinggulnya.
“srrruuppphhh ssrrpphhh”, dengan rakusnya Sugeun mengkokop ‘kuah’ vagina Hyewon. Rasanya asin, gurih, dan juga manis. Kaya akan rasa.
![]() |
| Lee Sugeun |
Sugeun pun memegangi pantat Hyewon agar alat kelamin bidadari cantik itu tetap bisa disosor olehnya.
“udaahh…udaaahhh…”, desah Hyewon memohon agar Sugeun berhenti menjilati vaginanya. Hyewon menggigit bibir bawahnya dan kembali berusaha mendorong kepala Sugeun. Wajah bidadari cantik itu merah dan terlihat sangat bergairah. Tak dapat dipungkiri, rasa kenikmatan yang memuncak lalu dilepaskan alias orgasme tadi benar-benar membuat Hyewon merasakan enak luar biasa. Bidadari cantik itu tak pernah merasakan orgasme sebelumnya, tak heran ia sangat menikmatinya.
“aahhh udaahh Paakhhh emmm udaaahhhhh”, pinta Hyewon memelas dan berusaha sekuat tenaga menjauhkan Sugeun dari kemaluannya. Namun, otak dan tubuhnya tidak sinkron. Tubuhnya ketagihan dengan rasa nikmat dari jilatan demi jilatan Sugeun. Alhasil, Hyewon seperti ogah-ogahan ‘menolak’ kemauan Sugeun.
“UUMMMHHHHH !!!”, pria tua itu pun berhasil membuat ‘sungai’ surga duniawi milik Hyewon kembali mengalir. Diminumnya seperti orang kehausan.
“memek neng Hyewon enak. hehehe”. Hyewon tak berkata apa-apa, dia hanya terduduk lemas. Wajahnya terlihat seperti orang kepayahan, nafasnya tak teratur, keringat bercucuran, dan wajah memerah. Daerah selangkangannya terasa begitu basah, namun terasa enak, dan tubuhnya pun terasa ringan. Sedang terjadi pertempuran batin di hati Hyewon. Satu pihak menyuruhnya untuk tidak mengagumi kenikmatan yang ia rasakan, di lain pihak, ia mengakui kalau tadi adalah rasa paling luar biasa yang dirasakannya. Sementara itu, Sugeun sudah melucuti celananya. ‘rudal’nya mengacung tegak mengarah ke Hyewon seakan sudah menentukan targetnya. Hyewon menatap penis Sugeun yang kelihatan besar dan kekar itu. Baru kali ini ia melihat penis pria secara langsung dengan kedua matanya sendiri. Dia terlihat ngeri dan takut, bergidik karena benda tumpul mirip pentungan itu terlihat sangat besar. Meski Hyewon tak pernah berhubungan intim satu kali pun alias perawan ting-ting, tentu dia tahu kemana kejantanan itu akan ‘berkunjung’.
Dan rasanya liang vaginanya tak akan mampu menampung benda sebesar itu. Apa? tunggu. Hyewon sadar kalau tadi dia baru saja memikirkan bagaimana jika sampai penis Sugeun menjejali vaginanya. Kenapa dia memikirkan itu ? bukankah harusnya dia bisa melawan lalu kabur, pikir Hyewon yang mulai mengalahkan pengaruh pelet dengan harga diri dan kesadarannya. Namun, terlambat. Sugeun menekan pipi Hyewon dan langsung menghujamkan penisnya ke dalam mulut Hyewon.
“ugghh ugghh”, air mata merembes keluar dari sela-sela mata Hyewon.
“ohog ohog ohog….”, Hyewon terbatuk-batuk dan merasa mual sekali. Hujaman penis Sugeun mengenai kerongkongannya berkali-kali. Saat Hyewon masih megap-megap mengambil nafas, Sugeun mencekoki Hyewon dengan penisnya lagi. Pengaruh pelet itu pun kembali menguat dan ‘meninju’ kesadaran Hyewon sampai K.O. Kini, gadis cantik itu sudah benar-benar akan menjadi mangsa nafsu Sugeun. Saat Sugeun mengeluarkan penisnya dari mulut Hyewon, dengan sendirinya, gadis cantik itu membuka mulutnya dan ‘mencaplok’ burung Sugeun.
Hyewon mengulum kemaluan Sugeun sambil terus menggumam seperti orang yang sedang menikmati ‘sajian’ yang lezat.
“mm…mm…wah, neng Hyewon demen ya sama burung Bapak ?”, ejek Sugeun sambil mengeluh-eluh keenakan. Memang teknik Hyewon masih sangat kaku, tapi emutannya cukup membuat Sugeun keenakan. Hyewon kelihatan benar-benar larut ketika mengemut-emut kepala penis Sugeun.
“udah neng. sekarang kita langsung aja….”. Sugeun membantu Hyewon berdiri. Hyewon mengangkat kedua kakinya bergantian saat cdnya yang masih menyangkut di lututnya diturunkan Sugeun. Jadilah Hyewon telanjang bulat di hadapan Sugeun. Sugeun pun sudah ngaceng berat, di depannya berdiri seorang bidadari berwajah cantik luar biasa, berkulit putih mulus, bugil, dan lebih bagus lagi, tak berdaya melakukan apapun karena dalam pengaruh peletnya. Pria tua itu sudah tak sabar ingin ‘menjarah’ tubuh menggiurkan Hyewon. Hyewon diletakkan di tempat tidur oleh Sugeun.
Sugeun pun melucuti bajunya sampai ia telanjang juga. Kini, kedua manusia itu sama-sama telanjang bulat dengan 2 kondisi berbeda. Yang satu, sadar kalau akan memperkosa seorang artis muda yang sangat cantik dan melampiaskan nafsu birahi kepadanya. Yang satu lagi, memang sadar, namun dia seperti tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri dan membiarkan dirinya diperkosa. Sugeun melebarkan kedua paha Hyewon untuk memperjelas sasaran tembaknya yang tak lain adalah alat kelamin Hyewon. Sugeun sengaja menggesek-gesekkan penisnya ke belahan vagina Hyewon yang sangat tertutup rapat.
“umm ummm”, gumam Hyewon pelan, pinggulnya naik-turun seperti ‘mencari’ pasangannya. Sugeun tersenyum licik, dia ingin mempermainkan batin si dara cantik itu terlebih dahulu.
“gimana, neng? masukin nggak?”, goda Sugeun yang terus menggesek-gesekkan alat kelaminnya ke vagina Hyewon.
“masukin, Paakhh…pleaseee….”, lirih Hyewon memelas.
“oke deh…hehe…”.
“heekh…ennggg…”, Hyewon terpaku dan matanya terbelalak saat kepala penis Sugeun mulai mendobrak bibir vaginanya masuk ke dalam.
Bejat tapi masih baik. Sugeun tak tega melihat Hyewon yang kelihatan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Dia tak bergerak, memberikan waktu agar Hyewon bisa beradaptasi. Sugeun mulai memajukan ‘cacing’ besarnya, menggali vagina Hyewon lebih dalam.
“heennn….”. Agak dalam, Sugeun bisa merasakan penisnya merobek sesuatu. Dorong perlahan hingga akhirnya, seluruh batang keperkasaannya amblas ke dalam liang kewanitaan Hyewon dan pas mentok sampai di ujung rahim Hyewon.
“oohhh…..”, desah Sugeun. Liang vagina Hyewon benar-benar hangat, sangat sempit, dan juga peret. Inilah kedahsyatan menyodok vagina yang masih perawan. Sugeun pun merem melek, penisnya seperti dicengkram kuat sekaligus dipijit-pijit oleh dinding vagina Hyewon. Selangkangannya terasa amat pedih, penuh sesak, dan rasanya seperti terbakar. Air mata Hyewon merembes keluar lagi. Baru pertama kali, tapi dinding vaginanya sudah dipaksa melar untuk benda tumpul yang sangat besar itu.
“nnhhh..”, Hyewon menggigit bibir bawahnya saat Sugeun menarik penisnya perlahan. Dara cantik itu merasa vaginanya seperti ikut tertarik. Sugeun mendorong lagi penisnya masuk ke ‘gua cinta’ milik Hyewon secara perlahan. Tarik-ulur perlahan, sengaja untuk membiasakan artis cantik itu menerima ‘tikaman’ penis pada kemaluannya. Sambil ‘melatih’ Hyewon, Sugeun pun memperhatikan batang penisnya yang berlumuran darah. Darah keperawanan dari selaput dara Hyewon yang sudah robek.
“emmmhhh….”. Lenguhan kesakitan itu mulai berubah jadi gumaman nikmat.
“umm….”. Hyewon masih merasakan perih namun sudah bercampur dengan rasa nikmat yang luar biasa sehingga dia mulai menikmati rasa enak dari penis Sugeun yang ‘menyikati’ liang vaginanya perlahan. Kian lama rasa nikmat itu semakin kuat, Hyewon mulai mengeluarkan desahan-desahan penuh kenikmatan.
“plk plk plk plk”. Sugeun mulai meningkatkan tempo tumbukan penisnya terhadap vagina Hyewon.
“aaahhh aaahhh uummhhh mmmhhh”, nafas Hyewon semakin cepat, berbanding lurus dengan kecepatan hujaman penis Sugeun.
“cllkk cllkk cllkk”. Liang vagina Hyewon semakin becek, Sugeun makin mudah mempercepat hujaman penisnya.
“plok plok plok plok”, bunyi selangkangan mereka yang beradu dengan cepat.
“emmmmhhhh mmmhhhh….”. Tubuh Hyewon pun mengejang dan memeluk Sugeun dengan erat. Pria tua itu berhenti sejenak sekedar ingin meresapi siraman vagina Hyewon yang begitu hangat pada batang kejantanannya. Tak lama kemudian, Sugeun mulai menggenjot lagi.
“ccpphhh ccpphhhh”. Sugeun melumat bibir Hyewon dengan sangat bernafsu, dan Hyewon juga membalasnya dengan begitu bergairah. Bibir mereka saling kejar mengejar, lidah mereka saling belit membelit. Bagai sepasang kekasih yang bercumbu dengan panasnya ketika bercinta, padahal Hyewon sedang dalam kondisi diperkosa. Bukan pelet yang membuat Hyewon membalas ciuman Sugeun dengan penuh gairah. Dalam tahap ini, tidak perlu pelet untuk membuat Hyewon menjadi sangat ‘bergairah’ dan kooperatif.
Nafsu birahinya sendiri yang membuat Hyewon berubah 180 derajat seperti itu.
“oohhhh…”, desah Hyewon lepas. Rasa nikmatnya tak bisa dilukiskan. Tak terbayangkan kalau bersetubuh akan senikmat ini. Kedua kaki Hyewon pun melingkar di pinggang Sugeun. Kedua tangannya merangkul leher komedian tua itu. Aroma tubuh Hyewon yang wangi bercampur keringat dari birahinya yang sedang menggelora benar-benar sangat membangkitkan hawa nafsu Sugeun. Si komedian tua semakin gencar menyodok-nyodok vagina si gadis cantik. Tak jarang juga, ia memutar pinggangnya agar penisnya bisa mengaduk-aduk rahim.
“ooouuhhh aaahhhh uummhhh….”. Nafas keduanya semakin menderu-deru, keringat mereka bercucuran semakin banyak. Desahan dan eluhan mereka pun saling bersahut-sahutan. Baik si bapak tua maupun si gadis muda sedang terengah-engah, berlomba mencapai puncak dari kenikmatan yang mereka dapatkan dari alat kelamin mereka yang terus saling bergesekkan.
“ooh aah ooh aah ouuhh !!”.
“jleb !”. Sugeun mendorong penisnya sekuat tenaga sampai Hyewon juga ikut terdorong.
“OOKKHHHH !!!!”, erang Sugeun melepaskan orgasmenya.
“OOUUUHHHH !!”, Hyewon mengerang juga. Letupan sperma Sugeun begitu kuat sampai membuat tubuh Hyewon berkedut-kedut setiap kali rahimnya ‘ditembak’.
“hhhhh….”. Keduanya mengatur nafas mereka yang tak teratur. Sugeun memandangi wajah Hyewon. Betapa puasnya dia telah menggumuli wanita yang begitu cantiknya. Dan tambah puas mengingat di dalam rahim bidadari yang sedang dipandanginya itu telah menggenang air maninya. Terbayang oleh Sugeun kalau Hyewon sampai hamil olehnya. Hyewon pun menatap kosong ke langit-langit rumah Sugeun. Hilang sudah keperawanannya. Direnggut oleh seorang pria tua yang berprofesi komedian namun cabul. Tapi Hyewon bingung, apakah dia baru saja diperkosa atau baru saja bercinta. Dibilang diperkosa, tapi tadi ia pasrah dan melayani Sugeun dengan sangat bergairah. Dibilang bercinta, tapi tadi kadang Hyewon sadar kalau dia dipaksa melakukan hubungan badan. Yang jelas Hyewon benar-benar merasa sangat lemas, namun terasa enak dan lega.
Dalam hatinya ia juga mengakui kalau sensasi tadi benar-benar sangat luar biasa. Dan rasa hangat pada rahimnya juga membuat Hyewon merasa nyaman. Inikah yang namanya surga duniawi ?, tanya Hyewon sedang mencoba berusaha menelaah sensasi terhebat yang pernah ia rasakan pada hidupnya yang baru saja ia rasakan tadi. Harga dirinya sebagai wanita terhormat dan berpendidikan mengatakan seharusnya ia bersedih karena mahkota tubuhnya alias keperawanannya telah hilang. Namun, naluri alaminya sebagai wanita mengatakan kalau pergumulan tadi adalah momen yang sangat luar biasa nikmat dan ingin merasakannya lagi. Wajah cantik Hyewon terlihat begitu polos dan alami. Sungguh wajah yang mirip bidadari, ujar Sugeun berpuitis di dalam hatinya. Penis Sugeun yang telah menumpahkan isinya ke dalam rahim Hyewon pun kian menyusut. Dia mencabut penisnya. Dan seketika cairan putih agak kemerah-merahan pun meleleh keluar dari sela-sela bibir kemaluan Hyewon.
Lendir kental yang terbuat dari cairan cinta Hyewon, darah perawan Hyewon, dan air mani Sugeun meleleh keluar dari celah sempit di selangkangan Hyewon. Lendir kehidupan, di situlah setiap manusia berasal. Sugeun pun menindih Hyewon lagi, mencumbui lehernya untuk menaikkan gairah si cantik itu lagi.
“emmhhh….”. Leher, bibir, dan payudara Hyewon menjadi target cumbuan Sugeun.
Alhasil, Hyewon bergairah kembali. Ia menunjukkannya dengan cara membalas pagutan Sugeun penuh gairah. Berhasil membuat gadis cantik seperti Hyewon terangsang kembali tentu membuat Sugeun ereksi penuh lagi. ‘tongkat pacul’nya sudah siap digunakan untuk menggarap ‘sawah’ yang ada di depannya. Malam itu, mungkin 3-4 kali Sugeun menikmati tubuh indah Hyewon. Hyewon pasrah dirinya dicabuli terus oleh Sugeun. Pertama saja dia tak bisa melawan apalagi seterusnya saat dia sudah lemas dan tak berdaya. Jadi, tak ada pilihan lain selain pasrah. Lagipula, tak bisa dipungkiri, Hyewon malah kelihatan begitu menikmati disetubuhi oleh komedian itu berkali-kali.
Tubuhnya terasa lemas sekali, bagai tak punya tulang. Hyewon pun tertidur. Burung Sugeun pun sudah lemas, tak bisa ‘meludah’ lagi. Keduanya tertidur. Sugeun yang biasa bangun pagi, bangun duluan. Ia tersenyum melihat Hyewon yang masih terlelap. Tubuhnya telanjang, tak mengenakan apapun. Sugeun geleng-geleng kepala. Kulitnya benar-benar putih mulus, indah sekali. komedian itu berencana untuk ‘memiliki’ Hyewon agar bisa menggenjot gadis cantik itu kapanpun ia mau. Saatnya strategi pembuat takluk dilaksanakan. Strategi dengan ilmu magis yang digunakan Sugeun terhadap Hyewon sebenarnya sama dengan istrinya yang telah meninggal. Ya, istrinya yang dulu merupakan kembang desa juga korban dari kehebatan ilmu magis Sugeun. Pertama, dipelet tingkat lanjut, diperkosa, lalu digumuli terus menerus sambil dicekoki ramuan agar menjadi tunduk dan patuh, sebelum akhirnya dipersunting menjadi istri. Sugeun menyiapkan sarapan untuknya sendiri dan untuk Hyewon. Setelah rapih, dia komat-kamit di depan pintu rumah lalu meludah ke pintu rumahnya.
Prosedur yang harus dilakukannya agar Hyewon tidak mau meninggalkan rumah. Hyewon terbangun. Selangkangannya terasa begitu ngilu dan juga lengket. Teringat tentang kejadian tadi malam. Hyewon menangis. Harga dirinya telah hilang. Selain itu, dia menangis karena kecewa dengan dirinya sendiri. Kecewa karena dia seharusnya tak menikmati pergumulan tadi malam. Cukup lama dia menangis, namun terhenti karena perutnya sangat lapar.
“aaww uww….”, Hyewon turun dari tempat tidur dengan perlahan. Selangkangannya terasa ngilu sekali. Tadi malam, Sugeun juga menjebol anusnya. Tak heran kalau Hyewon merasa begitu ngilu. Hyewon menuju kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya, terutama selangkangannya yang ‘kotor’. Tak ada handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Dia pun kembali ke kamar, mencari pakaiannya. Tak ditemukan. Sambil berbasah-basahan, Hyewon berjalan pelan ke semua sudut rumah untuk mencari pakaiannya, tapi tetap tak ketemu. Saat mencari, Hyewon mencium aroma makanan yang membuat perutnya bernyanyi keroncong.
Naluri alaminya membuatnya berhenti dan membuka tudung saji. Dia semakin lapar melihat nasi goreng telur yang ada di meja. Berpikir tak ada orang lain, Hyewon memutuskan untuk duduk dan menyantap nasi goreng itu dalam keadaan telanjang bulat. Hyewon makan dengan buru-buru. Dia merasa was-was, takut ada yang melihatnya telanjang. Tapi juga ada perasaan menggelitik, liar, dan begitu nakal. Baru kali ini Hyewon tak mengenakan apapun di luar kamar. Dan lebih parah lagi, Hyewon telanjang di rumah orang. Dia merasa begitu liar, sensasi yang aneh namun cukup memberi rasa gelitik di dirinya. Usai makan, Hyewon cepat-cepat masuk ke dalam kamar. Dia berusaha berpikir jernih. Lemari pakaian yang ada di dalam kamar terkunci. Tadi dia juga sudah mencari ke segala ruangan untuk menemukan sesuatu yang bisa dikenakannya, tapi tak ada. Dia memandang seprei yang acak awut dan ada bercak-bercak putih kemerah-merahan. Benarkah ia mau memakai seprei kotor yang telah menjadi saksi bisu atas hilangnya keperawanannya ?.
Di saat itulah, Hyewon melihat sarung yang ada di pojok kasur. Masa bodohlah, Hyewon pun mengenakan sarung itu dan melilitkan ke tubuhnya. Dia terlihat seperti memakai kemben. Lumayan lah, bisa menutupi dari dada sampai lututnya. Hyewon pun duduk di kasur, memikirkan nasibnya saat ini. Sebagai seorang wanita, kalau sudah tidak perawan, maka seperti tak ada masa depan lagi untuknya. Tapi, mau apa dikata, nasi sudah jadi nasi goreng. Tak bisa diubah lagi. Sekarang yang menjadi pikiran Hyewon, bagaimana caranya dia keluar dari rumah itu. Tak mungkin dia keluar menuju mobilnya yang diparkir di depan rumah Sugeun dengan hanya menggunakan sarung untuk menutupi tubuh telanjangnya. Kalaupun ia nekat, pasti akan ada orang yang melihatnya, dan tentu akan berpengaruh padanya karena ia public figure. Apa kata wartawan jika ada yang tahu kalau dia baru saja keluar dari rumah seorang duda dengan hanya mengenakan sarung saja pada tubuhnya.
Belum lagi, ia khawatir kalau komedian yang bejat itu telah mengambil gambar atau videonya saat dia tertidur tanpa mengenakan busana. Akhirnya, dengan terpaksa, Hyewon memutuskan untuk tinggal dan menunggu Sugeun datang. Itulah kegunaan mantera Sugeun tadi, membuat Hyewon secara tak sadar ingin tetap tinggal di rumah Sugeun. Batin Hyewon seperti memberi 1001 macam alasan baginya agar tak meninggalkan rumah itu padahal pintu rumah tidak dikunci Sugeun. Selama menunggu, Hyewon malah kepikiran tentang kejadian tadi malam. Ia seperti terngiang-ngiang akan ‘burung’ Sugeun dan keperkasaan komedian itu tadi malam. Seberapa keras pun Hyewon mencoba untuk menghilangkan pikiran ‘nakal’ itu, tetap saja dia kembali tersipu dan terbayang disetubuhi Sugeun lagi, seperti orang yang sedang jatuh cinta, selalu membayangkan momen-momen indah bersama orang yang dicintainya. Semakin dibayangkan, Hyewon merasa sedikit ‘lucu’ pada daerah intimnya. Rasanya gatal menggelitik. Tanpa sadar, Hyewon menggerakkan tangannya dan mulai mengelus-elus lembut miss V-nya.
“emmm….”, gumam Hyewon lembut. Elusan-elusan tangannya sendiri memberikan rasa nikmat kepadanya. Hyewon mulai semakin intens mengusap-usap bibir vaginanya.
“uummhhh hmmmmhhh….”. Semakin lama memang semakin nikmat, tapi juga semakin ‘gatal’, terutama pada bagian dalam vaginanya.
“uwwmmhhh….”, sambil menggigit bibir bawahnya, Hyewon memasukkan jari telunjuknya. Baru kali ini ia melakukan masturbasi, tapi ia kaget sendiri kenapa ia lancar sekali melakukannya. Enak sekali rasanya, semakin dipercepat gerakan jarinya, maka semakin enak.
“aahhmmm eemmhhh”. Jari tengah Hyewon menyusul masuk dan membuat dara cantik itu semakin larut dalam masturbasinya. Saking larut dan terangsangnya, Hyewon tidak sadar kalau ada yang memperhatikannya bermasturbasi.
“aaah aahh ahhh AHNNNN !!!!”, tubuh Hyewon menekuk ke atas, begitu tegang. Pinggul Hyewon sampai terangkat dari kasur.
“hhh hhh hhh…”, Hyewon mengatur nafasnya, tubuhnya terasa ringan dan sekarang menjadi rileks.
“eh neng Hyewon belum pulang ?”. Hyewon langsung kaget. Refleks dia langsung menarik kain sarungnya untuk menutupi daerah intimnya. Wajahnya makin merah, nafasnya terengah-engah.
“neng Hyewon abis ngapain ? kok ngos-ngosan gitu ?”, ejek Sugeun. Hyewon tak menjawab, dia merasa sangat malu. Pasti Sugeun tahu kalau tadi ia masturbasi.
“neng Hyewon laper ? nih Bapak bawain makanan…”.
“kok diem aja ? mau nggak nih ?”. Hyewon tetap diam.
“yaudah, Bapak makan sendiri kalau begitu…”.
“kruuuk…”, perut Hyewon bernyanyi lagi. Sudah sewajarnya, makanan terakhir yang masuk ke dalam perutnya adalah sarapan tadi pagi dan sekarang sudah sore menjelang malam. Tak bisa menahan rasa laparnya lagi, Hyewon keluar kamar. Sugeun sudah berganti baju dan membawa 2 gelas minuman.
“nah. neng Hyewon keluar juga. pasti neng Hyewon laper kan ? ayo sini, neng. Bapak beli pecel ayam nih buat kita berdua”. Sugeun begitu ramah, seperti tak terjadi apa-apa saja, menciptakan deja vu bagi Hyewon. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Hyewon makan pecel ayam ditemani Sugeun.
“Pak. tas, baju saya mana ?”, tanya Hyewon dengan nada dingin.
“oh ada di dalem lemari, neng. sebentar”.
“ini, neng…”. Hyewon mengambil pakaian dan tasnya dan masuk ke dalam kamar. Tak lama kemudian, Hyewon keluar, sudah mengenakan pakaiannya dan menjinjing tasnya.
“permisi, Pak. saya pulang dulu..”, Hyewon masih bisa berlaku sopan.
“iyaa, neng. hati-hati”, jawab Sugeun dengan santai dan tersenyum. 2 hari telah berlalu.
“tok tok tok…”. Seperti yang diduga Sugeun. Hyewon yang mengetok pintu. Bidadari imut itu berdiri di ambang pintu dengan pakaian anggun seperti biasa pada malam hari.
“Pak…”. Tiba-tiba Hyewon memeluk Sugeun. Dalam 2 hari, Hyewon yang memang sudah terkena pelet Sugeun, selalu kepikiran komedian nggak laku yang telah mengambil kegadisannya itu. Ditambah, dia sudah terkena ‘tongkat sihir’ Sugeun, tak heran kalau Hyewon jadi begitu. Tersenyum penuh kemenangan, Sugeun merangkul Hyewon masuk ke dalam, kemudian menutup dan mengunci pintu.
“ccpphh mmmhh ccpphhh mmmmhhh. neng..Hyewon..kenapa..ke..sini..ccpphh mmhh”, ucap Sugeun terputus-putus karena sambil bercumbu penuh gairah dengan Hyewon. Keduanya saling memagut begitu nafsu, lidah mereka bergantian masuk ke dalam rongga mulut satu sama lain.
“saya…ke..inget…emmhh…bapak…teruss…ccppphhh…mmmmhhh ccpphhh….”. Tanpa membalas, Sugeun pun menyingkirkan kedua tali gaun yang menyangkut di pundak Hyewon. Hyewon mengangkat kedua tangannya agar tali gaunnya bisa lepas. Gaunnya pun meluncur ke lantai dengan mudahnya. Tinggalah bra dan cd yang melekat di tubuh Hyewon.
Sambil terus asik melumat bibir Hyewon yang lembut, Sugeun membuka kaitan bra Hyewon. Dan terakhir, Sugeun memelorotkan celana dalam dara jelita itu. Hyewon pun mengangkat kedua kakinya bergantian. Jadilah ia telanjang bulat di depan Sugeun. Tubuh yang begitu indah dan putih mulus. Sugeun mendekap tubuh Hyewon dan menciumi lehernya bertubi-tubi.
“ahhmmm Bapak aahh…”, desah Hyewon begitu manja sambil menggeliat kegelian.
Hyewon tak memikirkan lagi kalau dia sudah tak mengenakan apapun sedangkan Sugeun masih berpakaian lengkap, dia malah sedang keenakan diciumi Sugeun di lehernya. Sugeun pun langsung menuntun bidadari cantik ke dalam kamar agar bisa segera menemaninya pergi ke ‘surga’. Sangat amat berbeda sekali Hyewon sekarang dengan Hyewon 2 hari lalu. 2 hari lalu Hyewon masih malu dan kaku sekali, tapi sekarang dia bergoyang begitu bersemangat. Alhasil, sepasang insan manusia itu pun bercinta penuh gairah, begitu menggelora dan sangat bernafsu. Hyewon kelihatan sangat puas bisa merasakan pentungan Sugeun lagi. Idol berwajah cantik polos itu kelihatan sangat amat menikmati sodokan demi sodokan dan goyangan-goyangan penis Sugeun pada vagina Hyewon. Tak menyia-nyiakan kesempatan, setiap penisnya sudah mampu lagi setelah orgasme, Sugeun kembali menggasak Hyewon lagi. Bagai tak ada puasnya bercinta, keduanya melakukannya berulang-ulang hingga akhirnya dini hari dan mereka benar-benar tak kuat lagi.
Mereka berdua tidur dengan batin yang puas.
“neng. Bapak berangkat dulu ya…”, bisik Sugeun pelan dan mengecup pipi Hyewon.
“mm ? iya…”, jawab Hyewon sebisanya. Sugeun pun berangkat kerja, dia sudah membuatkan sarapan untuk Hyewon yang tentu sudah dijampi-jampi supaya Hyewon semakin tergila-gila dan tunduk padanya. Tak lupa Sugeun membacakan mantera di depan pintu rumahnya seperti kemarin supaya Hyewon ‘enggan’ meninggalkan rumah. Hyewon bangun.
“nnggggg….”, dia meregangkan anggota tubuhnya alias ngulet. Dia turun dari tempat tidur, selangkangannya terasa ngilu. Tak ada angin, tak ada hujan. Hyewon senyum-senyum sendiri dan tersipu malu saat melihat sprei tempat tidur yang awut-awutan. Tak pernah dibayangkannya kalau dia begitu puas dan menikmati berhubungan intim dengan lelaki tua yang bukan suaminya dan bahkan baru dikenalnya beberapa minggu terakhir ini saja. Harusnya ia membenci Sugeun karena keperawanannya telah diambil oleh komedian nggak laku itu, tapi dia malah begitu menyukai saat diintimi oleh Sugeun.
Hyewon sama sekali tak mengerti dengan perasaannya dan ia pun sampai ke keputusan akhir kalau dia akan bodo amat dengan kejadian yang menimpanya, dia akan mengikuti nalurinya saja. Go with the flow. Lagipula, tak ada yang tahu kalau dia ditiduri oleh seorang pria tua kecuali mereka berdua saja. Hyewon menghubungi ibunya dan berpura-pura sedang bersiap-siap syuting. Tentu ibunya percaya sebab Hyewon tidak pernah bohong ke keluarganya selama ini. Hyewon bilang kalau dia akan menginap di rumah teman perempuannya dekat lokasi syuting supaya mudah dan tidak perlu pulang atau pergi larut malam. Ibunya setuju sekali kalau Hyewon menginap supaya tidak bahaya pulang atau pergi larut malam. Andai ibunya tahu kalau anaknya menginap di rumah seorang oknum komedian yang mesum. Ibunda Hyewon benar-benar tak tahu kalau anaknya telah ditiduri dan dicabuli berkali-kali oleh seorang pria tua yang tak pernah dikenalnya. Hyewon pun menutup telpon dan menaruhnya ke dalam tas yang ada di meja kecil samping tempat tidur.
Tiba-tiba ada perasaan nakal di hati Hyewon. Entah kenapa ia ingin mengulangi yang kemarin. Hyewon membuka pintu kamar perlahan, dia mengendap-endap keluar. Hatinya berdegup kencang. Sensasi luar biasa, merasa deg-degan sekaligus begitu bebas dan liar. Makan tanpa mengenakan sehelai benang pun. Apalagi, Hyewon belum membersihkan tubuhnya. Sperma Sugeun masih membekas di sekitar selangkangan Hyewon. Bau air mani pun masih tercium tajam dari tubuh Hyewon. Selama makan, selalu muncul khayalan di pikiran Hyewon. Khayalan tentang ada beberapa orang yang mendobrak masuk dan menemukannya telanjang bulat atau juga berkhayal, tiba-tiba Sugeun masuk dan ‘memperkosa’nya dengan beringas di meja makan. Hyewon tak tahu imajinasi liar dan nakal seperti itu datang darimana, tiba-tiba saja datang, dan selalu muncul meski ditolak berkali-kali oleh batin Hyewon. Tapi yang jelas, imajinasi-imajinasi nakal berdurasi pendek di pikiran Hyewon membuat bagian bawah bidadari cantik itu menjadi lembap.
Usai makan, Hyewon mandi membersihkan tubuhnya dari segala ‘noda’. Dia mengenakan pakaian santainya yang memang ia bawa. Tentu ia membawa pakaian ganti, karena kali ini, dia yang mengantarkan dirinya sendiri ke Sugeun jadi ia sudah mengantisipasi kalau-kalau ia harus ‘bermalam’. Hyewon beres-beres rumah terutama tempat tidur yang sangat berantakan. Gadis cantik itu tersipu malu sendiri. Dia mengkondisikan dirinya sendiri seperti istri Sugeun. Beres-beres sambil menunggu Sugeun pulang, dan pasti setelah Sugeun pulang, Hyewon tahu kalau dia akan digauli penuh gairah sampai larut malam. Hyewon seperti tak sabar menunggu Sugeun pulang. Idol cantik nan imut itu merasa begitu bergairah. Tubuhnya terasa panas saat membayangkan Sugeun akan mencabulinya dengan bernafsu. Pentungan Sugeun yang besar dan keras tentu akan bisa membuatnya terpuaskan. Artis cantik itu berubah dari gadis baik-baik yang polos dan bertingkah sopan menjadi gadis nakal yang hanya berpikiran tentang sex.
Sore hari, Sugeun pun pulang. Dan betapa senangnya saat Hyewon membukakan pintu untuknya sambil tersenyum manis.
“ayo, Pak. pasti Bapak laper. Hyewon udah masakkin makanan…”.
“wah neng Hyewon sampe repot-repot…”.
“nggak apa-apa, Pak..ayo kita makan”.
“iya, neng. Bapak ganti baju dulu…”. Mereka pun makan bersama. Sikap Hyewon benar-benar hangat ke Sugeun. Pria tua itu merasa seperti punya istri lagi. Dia sudah yakin kalau Hyewon sudah tunduk kepadanya. Usai makan dan mengobrol sebentar, Hyewon menunjukkan gelagat-gelagat nakal menggoda untuk memancing nafsu Sugeun. Dia enggan meminta langsung karena malu.
“Pak. saya tidur duluan ya…”.
“iya, neng…”, jawab Sugeun dingin dan melanjutkan menonton tv. Hyewon merasa kesal. Saat dia sudah menerima kehadiran Sugeun di hati dan hidupnya, pria tua itu malah dingin dan bersikap tak acuh terhadapnya. Tapi, saat Hyewon sudah masuk ke dalam kamar, Sugeun mendekapnya dari belakang dan langsung mencumbui tengkuk lehernya bertubi-tubi.
“emm….”, desah Hyewon manja sambil tersenyum.
Kedua tangan keriput Sugeun langsung menyelinap masuk ke dalam kaos yang dikenakan Hyewon. Agak terkejut juga, ternyata idol cantik itu tak mengenakan bra !. Sugeun menyeringai mesum. Tanpa ada penghalang, dia bisa meremas-remas kedua gumpalan empuk milik Hyewon secara langsung dan juga bisa memilin-milin kedua puting Hyewon yang kenyal itu.
“emm emmm…”, suara Hyewon begitu lembut namun sensual. Tubuhnya pun menggelinjang keenakan. Kelihatan sekali kalau Hyewon sudah mulai bergairah.
“neng Hyewon jangan ngambek dulu. Bapak cuma bercanda kok”, rayu Sugeun sambil terus asik menggrepei payudara Hyewon.
“umm…”, Hyewon hanya menggumam sebagai jawaban. Wajahnya memerah. Dia agak malu juga, berarti sebenarnya Sugeun tahu kalau dia sedang ‘kepingin’. Untuk memastikan, satu tangan Sugeun merayap ke bawah, daerah lembab dan hangat alias daerah intim Hyewon. Ternyata benar, idol berwajah innocent itu juga tak mengenakan celana dalam. Sepertinya Hyewon sudah sepenuh hati melayani Sugeun.
Tanpa ragu-ragu, Sugeun langsung mengobel kemaluan Hyewon.
“aahh aammhhh uuuhhh”. Malam hari biasanya waktu orang beristirahat, tapi Sugeun malah sedang asik menjamah tubuh seorang gadis muda yang cantik untuk menaikkan gairahnya. Malam itu pun berlanjut ke pergumulan yang begitu panas, bergairah, dan penuh nafsu di atas tempat tidur. Gadis belia itu melayani nafsu si pria berumur dengan sepenuh hati. Dan tentu si pria tua menggasak si dara cantik dengan penuh nafsu.
Nafsu keduanya terlampiaskan dengan sangat puas setelah keduanya kelelahan.
“dari hari Senin, muka Bapak keliatan cerah dan sering senyum ? ada apa, Pak ?”, tanya Gia, salah satu rekan kerja Sugeun yang juga komedian. Gia adalah komedian perempuan paling cantik dan muda di antara komedian perempuan lainnya. Umurnya baru sekitar 28 tahun. para komedian pria banyak yang naksir Gia, termasuk Sugeun. Tapi, Sugeun tidak menggunakan peletnya karena masih ragu. Bisa dibilang Sugeun beruntung.
Kalau saja ia menggunakan peletnya pada Gia, pasti dia tak akan mendapatkan Hyewon. Karena sudah mendapatkan Hyewon yang seperti bidadari, Gia jadi kelihatan tak menarik lagi di mata Sugeun.
“ah, nggak ada apa-apa kok bu Gia. badan saya kerasa enak aja dari kemaren”, ujar Sugeun bohong.
“abis dapet bini baru kali, Bu !! hahaha !!!”, celoteh Edi yang juga rekan kerja Sugeun.
“sembarangan kowe…”. Sugeun tak mau mengaku karena bisa repot kalau teman-teman kerjanya minta dikenalkan ke calon istrinya yang tak lain adalah Hyewon. Sugeun pulang ke rumah dengan semangat, langkahnya cepat seperti sedang berlomba jalan cepat. Rasa lelah dari mengajar seharian sama sekali tak terasa karena di benak Sugeun sudah terbayang dengan wajah cantik Hyewon, senyumannya yang indah, dan terutama, tubuh Hyewon yang putih mulus, sungguh membangkitkan hawa nafsu. Benjolan di celana Sugeun semakin besar saat dia membayangkan puting pink pucat Hyewon dan vaginanya yang merah merekah yang sangat menggugah selera.
Dan lebih baik lagi, bidadari cantik yang ada di rumahnya sekarang alias Hyewon, menerima perlakuan cabul dan mesumnya dengan senang hati dan tanpa protes sedikitpun. Sugeun terkejut ketika pintu rumahnya terbuka. Di ambang pintu, berdiri Hyewon yang tak mengenakan apapun. Tak sehelai benangpun menutupi tubuh putih mulusnya. Payudara dan vaginanya terekspos begitu saja tanpa ada yang menutupi. Hyewon pun menarik Sugeun masuk dan segera menutup pintu. Payudaranya naik-turun seiring dengan nafasnya.
Hyewon merasa deg-degan tapi begitu liarr dan hebat. Membuka pintu depan dengan bertelanjang bulat adalah hal paling gila dan liar yang pernah ia lakukan dalam hidupnya.
“neng Hyewon…”, Sugeun masih terbengong-bengong. Setelah menenangkan hatinya yang deg-degan, Hyewon pun tersenyum dan menuntun Sugeun untuk duduk di kursi. Dengan perlahan, Hyewon membukakan sepatu Sugeun. Benar-benar seperti mimpi yang sangat nakal, seorang gadis cantik membukakan sepatunya tanpa mengenakan apapun.
“kok neng Hyewon nggak pakai baju ?”. Hyewon hanya tersenyum. Setelah kedua sepatu Sugeun terlepas, Hyewon berdiri dan mendekatkan mulutnya ke telinga Sugeun.
“baju Hyewon yang kemarin kotor. Hyewon lupa bawa baju ganti lagi…”, bisik Hyewon lembut sebelum tersenyum.
“oh begitu….”, Sugeun tersenyum. Sikap Hyewon benar-benar berubah, dari yang sopan, anggun, dan polos menjadi hangat, agresif, dan nakal. Hanya dalam hitungan hari saja. Memang hebat pelet gue, pikir Sugeun. Tapi, dia ingat kalau pagi ini, dia tak menjampi-jampi makanan dan minuman Hyewon serta tak memantrai pintu rumah. Berarti Hyewon sudah kecanduan keperkasaan Sugeun, persis seperti istrinya dulu. Dan juga Hyewon tak memakai kata saya lagi, tapi sudah menggunakan nama, berarti dia sudah nyaman dekat dengan Sugeun.
“ayo neng. duduk sini..”, Sugeun merapatkan pahanya untuk alas duduk Hyewon. Dengan gerakan menggoda, Hyewon duduk di pangkuan Sugeun, berhadap-hadapan. Kedua tangan Sugeun langsung ‘menyergap’ kedua susu Hyewon dan juga menyambar bibir Hyewon.
“ccpphh ccpphh mmmhhh”, keduanya bercumbu mesra.
“Pak. mendingan kita makan dulu. udah Hyewon buatin…”, Hyewon menghentikan ciuman mereka. Dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, karena itu dia harus menghentikan Sugeun agar bisa makan dulu sebelum melakukan ‘aktivitas’ itu.
“mm…oke deh, neng…”, Sugeun sedikit kecewa. Hyewon berdiri lagi dan menuntun Sugeun ke meja makan.
“bentar ya, Pak…”. Hyewon bolak-balik mengambil piring, gelas, nasi, dan lauk pauk dari dapur. Melihat gadis cantik berkulit putih mulus berlalu-lalang di depan matanya tanpa mengenakan apapun tentu semakin memancing nafsu Sugeun. Sugeun langsung mengurung Hyewon dengan kedua tangannya dari belakang saat Hyewon akan mengambil nasi dari magic jar yang sudah ditaruh di atas meja makan. Di depannya meja makan, di belakangnya terhalang Sugeun, kanan kiri terkurung oleh kedua lengan Sugeun.
“ayo dong, neng. sekalii aja, Bapak lagi nafsu banget nih…”, bujuk Sugeun sambil menekan-nekan selangkangannya ke pantat Hyewon.
“mmm…iyaa deh…”, jawab Hyewon sambil tersenyum.
Tak mungkin Hyewon bisa menolak kemauan Sugeun. Dia juga sudah bergairah sedari tadi apalagi pantatnya disundul-sundul benjolan di celana Sugeun. Lagipula, Hyewon tak mengenakan apapun untuk menutupi tubuhnya. Secara tak langsung, Hyewon mengatakan ke Sugeun kalau dia bisa ‘diserang’ kapan saja. Sugeun mundur sedikit sambil melorotkan celananya. Hyewon memundurkan pantatnya, menyodorkan pantatnya ke Sugeun.
“awwwhhh….”, pekik Hyewon saat vaginanya ditancap cukup kencang oleh penis Sugeun.
“ooh oohh…”. Sugeun menyodok vagina Hyewon saat itu juga sampai 15 menitan.
Sugeun pun mengambil piring Hyewon yang sudah berisi nasi. Dia mencabut penisnya, mengocoknya sebentar dan akhirnya menyemburlah air mani Sugeun ke nasi Hyewon. Tanpa disuruh, Hyewon jongkok dan mengulum benda tumpul milik Sugeun itu.
“Pak. kok nasi Hyewon disiram pake punya Bapak sih ?”.
“nggak apa-apa, neng. coba aja dulu. enak kok…”.
“nggak mau ah..jorok…”.
“coba dulu..”, Sugeun menyuapi Hyewon. Sebenarnya Hyewon tidak jijik, dia sudah 5x menelan sperma Sugeun. Dia hanya merasa aneh saja, memakan nasi dengan kuah air mani. Tapi, ternyata Hyewon suka dengan rasa gurih dan asin dari sperma bercampur nasi. Dan jadinya, Hyewon makan nasi dengan kuah sperma Sugeun itu dengan lahap. Sugeun hanya tertawa-tawa saja melihat Hyewon yang berwajah innocent itu lahap memakan nasi yang berlumuran air mani. Dan setelah makan, mereka pun melakukan ‘rutinitas’ favorit mereka yaitu saling mengadu alat kelamin di atas tempat tidur. Keesokan harinya pun berlangsung sama. Meski sama, keduanya tak pernah bosan menumpahkan hasrat mereka satu sama lain. Besok adalah hari minggu, Sugeun sudah membeli amunisi, yaitu obat kuat. Dia berencana untuk menggempur Hyewon seharian penuh dan tak membiarkan gadis muda itu turun dari tempat tidur meskipun cuma sebentar.
Pagi-pagi, Sugeun sarapan dengan Hyewon. Baru kali ini, mereka bisa sarapan bersama karena biasanya Hyewon bangun agak siang, kelelahan digempur semalaman.
Setelah sarapan, barulah Sugeun meminum obat kuat yang telah dibelinya kemarin.
“Pak..itunya…”, ucap Hyewon agak malu-malu menunjuk ke burung Sugeun yang sudah berdiri tegak. Mereka berdua memang tak mengenakan apapun sehingga Hyewon bisa melihat perkakas Sugeun dengan jelas.
“iya nih, neng. hehe….”. Wajah Hyewon memerah melihat penis Sugeun bergerak-gerak tanpa dipegang oleh si pemilik. Dia tahu apa yang akan terjadi padanya kalau tongkat itu sudah berdiri tegak. Hyewon pun berlari kecil menuju kamar. Sugeun pun segera mengejar Hyewon ke dalam kamar.
“emmm…jangan, Paakhh…masih pagi…”, kilah Hyewon berusaha menyingkirkan tangan Sugeun yang menjamah vaginanya.
“justru itu, neng…kan kita belum pernah gituan pagi-pagi. hehehe…”.
“tapi..ntar ada yang ngeliat…”.
“nggak ada, neng…tenang aja…”. Dan Hyewon pun akhirnya tak bisa menolak lagi kemauan pejantan tua yang cabul itu. Dia tersenyum lalu berlutut, ‘menyerah’ pada todongan senjata Sugeun.
Lidah Hyewon pun lincah menari-nari di selangkangan Sugeun. Hyewon yang sebelum bertemu Sugeun belum pernah mengulum kemaluan pria, kini terlihat begitu lihai dan natural membelai lembut penis Sugeun dengan lidahnya. Tentu saja Hyewon jadi pandai mengulum, selama 2 hari kemarin, secara intensif, Sugeun melatih kemampuan ranjang Hyewon, mulai dari berciuman, oral seks, sampai teknik dan posisi bercinta. Lagipula, semenjak Hyewon ‘mencicipi’ burung Sugeun dengan lidahnya, dia suka dengan rasa asin dan amis dari penis Sugeun. Hyewon juga tak tahu mengapa, dia suka sekali rasa penis Sugeun, tak heran dia selalu menghayati dan menikmati saat mengulum kemaluan Sugeun. Hyewon tidak tahu kalau Sugeun minum obat kuat sampai Sugeun menyemprotkan air maninya ke dalam mulut Hyewon, tapi setelahnya, tak mengecil sedikitpun. Hyewon tak berkomentar atau bertanya, dia malah naik ke tempat tidur dan terlentang pasrah, seperti sudah menyiapkan diri untuk melayani nafsu pejantan tuanya.
Sugeun langsung menomplok bidadari cantik dan bersiap menikmati tubuh indah Hyewon seharian penuh. Desahan, nafas menderu, tetesan keringat, bunyi ranjang yang bergoyang, dan suara kecipak air mengiringi persetubuhan mereka yang sangat bergairah dan panas seperti pengantin baru di malam pertama. Dengan bantuan obat kuat, Sugeun bisa terus-terusan menyodok mulut dan vagina Hyewon tanpa jeda sehingga idol cantik itu benar-benar lemas, kewalahan karena terus menerus dibuat orgasme oleh Sugeun.
Akhirnya dari pagi-sore, setelah 6 jam, efek obat itu berakhir. Hyewon sudah tidur duluan alias pingsan saking lemasnya setelah 4 jam digempur Sugeun non-stop. Pria tua itu juga kelelahan dan tertidur memeluk tubuh Hyewon yang telah digunakannya untuk melampiaskan nafsunya dengan maksimal. Senja hari, sekitar jam 6 sore, barulah Hyewon terbangun. Tubuhnya terasa begitu pegal. Selangkangannya begitu ‘berantakan’ dan terasa ngilu sekali. Noda putih yang hampir menjadi kerak ada di mana-mana pada tubuhnya terutama daerah intimnya.
Hyewon pun ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Sementara itu, Sugeun terbangun karena suara siraman air dari kamar mandi. Tak lama kemudian, Hyewon keluar.
“eh neng Hyewon udah bangun duluan ?”.
“iya, Pak. baru aja bangun…”. Sugeun memperhatikan jalan Hyewon yang agak mengangkang.
“neng Hyewon kok jalannya ngangkang gitu ?”.
“um…ngilu, Pak…”, jawab Hyewon malu-malu.
“gara-gara Bapak ya ? maaf banget neng”.
“nggak apa-apa, Pak”, jawab Hyewon ditambah senyum manisnya.
“saya mau nyiapin makan malam dulu ya, Pak…”. Tanpa repot, Hyewon berjalan mengangkang keluar kamar tanpa mengenakan pakaian. Sambil menyiapkan makanan, Hyewon masih merasakan sodokan-sodokan penis di vaginanya seakan dia masih di genjot Sugeun. Hyewon pun hanya tersenyum saja sambil mengusap perutnya dan berpikir, pasti tak lama lagi, dia akan mengandung anak dari Sugeun. Mereka berdua melalui malam penuh kemesraan dan kehangatan. Walau Hyewon tak mengenakan apapun, di dekat Sugeun terasa hangat.
Malam semakin larut, Sugeun dan Hyewon kini sedang bermesraan di tempat tidur. Keduanya saling berhadap-hadapan, berpelukan, dan berciuman.
“Pak. besok Hyewon pulang ya”.
“kok? jangan, neng. jangan tinggalin Bapak sendirian..”.
“maaf, Pak. kalau besok Hyewon nggak dateng, kontraknya batal…”.
“hm..ya udah, neng..nggak apa-apa deh…”.
“tapi kalau ada waktu, Hyewon bakal ke sini kok..”.
“bener yaa, neng ?”.
“iyaa…”.
“makasih yaa, neng…”, Sugeun membelai rambut Hyewon lembut. Betapa cantiknya wajah yang ada di depan mata Sugeun.
“cuupphh…emmm mmmhh…”, keduanya menggumam, mereka berdua berciuman dengan mesra dan saling bertatapan. Meski kedekatan mereka terjadi karena pelet dan agak ‘pemerkosaan’, namun mata Hyewon menyorotkan sinar cinta, begitu juga Sugeun. Hyewon menetapkan kalau komedian nan mesum itu adalah lelaki pertama dan terakhir yang bisa menikmati tubuhnya. Tak ada lelaki lain yang boleh menyentuhnya, keputusan bulat dari Hyewon.
Lelaki lain yang mendekatinya akan ditolak mentah-mentah, janji Hyewon. Idol cantik itu kini sudah suka dan cinta dengan Sugeun, meski rasa cinta itu datang dari rasa takjub dan puas saat bersenggama dengan Sugeun. Mereka berdua pun tertidur sambil berpelukan erat agar tubuh mereka yang sama-sama tak tertutup sehelai benang pun terasa hangat.
“cuuphh ccpphhh…”, Hyewon mencium Sugeun setelah mobilnya sampai di depan gedung tv tempat Sugeun bekerja sebagai komedian.
“ntar Hyewon usahain abis syuting ke rumah Bapak..”. Usai mengucapkan perpisahan, Hyewon pun mengendarai mobilnya. Sugeun merasa sedih juga, ditinggal bidadarinya. Kalau nanti pulang, tak ada lagi si bidadari cantik yang menyambutnya. Sebenarnya, Hyewon belum syuting hari ini, dia baru syuting 2 hari lagi. Dia ingin membuat kejutan.
“ini, Mah, Pah…rumah kontrakan Hyewon…”.
“kok kecil ya ?”.
“ya mau gimana lagi, ini yang paling deket sama lokasi syuting…”.
“oh, ya terserah kamu..”. Hyewon menunjukkan rumah Sugeun ke kedua orang tuanya dengan berpura-pura kalau itu adalah rumah yang dikontraknya.
Hyewon yang memang sudah diberi kunci duplikat rumah oleh Sugeun, mengajak kedua orang tuanya ke dalam.
“kok masih banyak barang ?”.
“iya, kata yang punya kontrakan, biarin aja..”.
“oh…”. Setelah kedua orang tuanya melihat-lihat, Hyewon pun mengantar kedua orang tuanya pulang sekalian mengambil barang-barang pribadinya untuk ditaruh di rumah Sugeun. Ibu dan bapaknya membantu Hyewon packing barang-barang yang bisa dipakai. Mereka tidak tahu kalau anaknya bukan mengontrak melainkan tinggal bersama seorang pria tua yang mesum. Andai mereka tahu kalau anak mereka yang cantik itu sudah dijamah berkali-kali oleh pria tua yang bahkan tak pernah mereka kenal. Hyewon sendiri belum berencana untuk memberi tahu tentang hubungannya dengan Sugeun. Hyewon yakin, pasti kedua orang tuanya takkan setuju dia menjalin hubungan dengan pria yang tua dan hanya berprofesi sebagai komedian nggak laku. Ia tahu keinginan orang tuanya yang berharap ia mencari suami yang tampan dan mapan.
Atau setidaknya, suaminya berkecukupan dengan rentang umur yang tidak terlalu jauh, 3-6 tahun dengan Hyewon. Bukannya dengan pria yang umurnya hampir 2x lipat dari umur Hyewon sekarang. Hyewon segera berangkat lagi ke rumah Sugeun dengan mobilnya yang penuh dengan barang pribadinya. Kebanyakan Hyewon membawa baju, parfum, sedikit kosmetik, pokoknya dia membawa keperluan syuting, tapi dia juga membawa barang-barang lainnya seperti bed cover, selimut, guling dan bantal favoritnya, tentu juga sarung untuk guling dan bantalnya. Begitu sampai, Hyewon langsung beres-beres seorang diri. Memindahkan barang-barang dari mobilnya ke dalam rumah Sugeun. Akhirnya kamar Sugeun jadi terlihat seperti kamarnya, Hyewon merasa tambah nyaman saja. Dara jelita itu sekalian membersihkan rumah Sugeun. Tak terasa, sudah hampir jam pulang Sugeun, Hyewon merapikan makanan di meja makan lalu mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang berkeringat sehabis beres-beres seharian tadi. Sambil mandi, Hyewon merasa tak sabar sekaligus deg-degan menunggu Sugeun pulang layaknya istri yang menunggu suaminya pulang.
“cklek…”. Sugeun mengunci kembali pintu rumah setelah masuk ke dalam. Dia langsung mencari-cari sumber dari aroma sedap yang ia cium pas masuk ke dalam rumah. Ternyata ada macam-macam makanan enak yang tersedia di meja makan. Sugeun tersenyum sumringah. Dia tahu siapa yang menyiapkan makanan untuknya. Tak mungkin makanan itu muncul begitu saja atau ada peri yang membuatkan makanan seperti di dalam dongeng. Pastilah seorang bidadari cantik berkulit putih mulus nan indah, pikir Sugeun.
“neng Hyewon !! neng Hyewon !!”, panggil Sugeun tak sabar ingin melihat bidadarinya. Dia pun langsung mengecek dapur, tak ada. Saat Sugeun membuka pintu kamar untuk mencari Hyewon, pria tua itu cukup terkejut. Kamarnya berubah jadi harum, sangat rapi, dan ada beberapa boneka serta parfum. Sugeun menoleh ke belakang saat ada yang mencoleknya.
“neng Hyewon !”, Sugeun langsung tertegun melihat Hyewon yang sekarang berdiri di depannya.
Hyewon mengenakan pakaian yang bisa disebut gaun malam berwarna hitam namun sangat tipis, bahkan cenderung transparan.
Dan Hyewon tidak mengenakan apapun selain gaun itu. Sugeun bisa dengan jelas melihat lekuk-lekuk tubuh Hyewon. Keindahan tubuh rampingnya dan kemulusan kulit putihnya seakan berpadu dengan gaun indahnya membuat Hyewon kelihatan anggun tapi juga sexy menggairahkan.
“Bapak baru pulang. Hyewon udah nunggu dari tadi…”, lirih Hyewon manja sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Sugeun.
“tapi, bukannya Neng….”. Hyewon memutus ucapan Sugeun dengan mencium pria tua itu. Tak disangka, gadis cantik yang kelihatan sopan dan anggun itu bertingkah sangat manja dan agresif di depan Sugeun.
“mmm…”, keduanya begitu menikmati ciuman itu. Sangat lembut dan penuh perasaan.
“mendingan kita makan dulu, Pak…”, ucap Hyewon menghentikan ciumannya sendiri. Sugeun tersenyum senang sambil mengangguk. Sambil makan, tak henti-hentinya Sugeun memandangi Hyewon yang mengenakan gaun transparan itu.
Tubuh Hyewon begitu sintal dan montok, serta warna kulit Hyewon dengan gaun hitamnya begitu kontras, memicu gairah Sugeun. Bidadari cantik itu terlihat seksi sekali. Hyewon juga tahu kalau Sugeun terus memperhatikannya. Dia tahu harusnya dia tak mengenakan pakaian menggoda untuk Sugeun. Biasanya itu dilakukan seorang wanita untuk memancing nafsu suaminya sebelum berhubungan intim dan Hyewon sadar betul kalau Sugeun itu bukan lah suaminya malah pria tua itu lah yang telah merenggut kesuciannya dan mencabulinya hingga berkali-kali. Tapi, entah datang darimana, Hyewon memang sangat ingin memanjakan mata Sugeun dan ‘menggoda’ nafsu pria tua itu sejak tadi pagi, makanya ia membeli pakaian itu tadi siang. Tentu ia membelinya dengan menyamar agar tak ada orang yang mengenalinya. Hyewon tahu keinginannya tak seharusnya ia penuhi, tapi ia tak bisa melawan hasrat untuk ‘menggoda’ Sugeun, pria tua yang seharusnya dibenci Hyewon karena telah merenggut keperawanannya.
Hyewon sampai sekarang tak mengerti kenapa ia kepincut dengan Sugeun dan setiap ia jauh dari Sugeun, ia selalu membayangkan wajah Sugeun dan momen-momen bermesraan dengan komedian tua itu. Keinginannya sudah dilaksanakan, sekarang ia mendapatkan rasa luar biasa dari pakaiannya yang mengundang mata Sugeun terus terpaku kepadanya. Hyewon merasa begitu nakal, bangga, dan juga merasa sangat seksi. Inikah rasanya seorang istri yang berhasil menggoda suaminya dengan pakaian sexy ?, Hyewon bertanya-tanya dalam hatinya sendiri. Usai makan, tiba-tiba Hyewon berdiri dan melepaskan gaunnya hingga ia telanjang. Dia menarik kedua tangan Sugeun yang masih kotor dengan makanan lalu menaruhnya di pantatnya.
“neng..tangan Bapak kotor…”.
“nggak apa-apa, Pak…gimana kalau kita cuci tangan di kamar mandi ?”, ajak Hyewon dengan sangat menggoda. Sugeun langsung mengangguk semangat. Usai mencuci tangan, mereka pun langsung berasyik-mahsyuk di atas tempat tidur. Meluapkan gairah mereka yang begitu menggebu-gebu seakan tiada hari esok.
Sugeun tentu begitu sangat amat bernafsu menyenggamai gadis muda yang cantik seperti Hyewon. Sementara Hyewon tak enggan dan senang hati melayani pria tua dan jelek seperti Sugeun dengan tubuh indahnya karena dia sudah ‘kecantol’ dengan senjata Sugeun. Semenjak hari itu, Hyewon resmi tinggal bersama Sugeun. Sugeun merasa rumahnya seperti surga karena ada bidadari yang selalu menemaninya. Hyewon melayani Sugeun sepenuh hati, baik lahiriah maupun (terutama) bathiniah. Tak jarang Sugeun melakukan ‘serangan fajar’ ke Hyewon dan Hyewon tak pernah menolaknya. Dan jika Hyewon ada syuting lalu pulang larut malam, biasanya Sugeun menunggu Hyewon pulang untuk kemudian menyergap dan langsung ‘menculik’ bidadarinya itu ke dalam kamar. Tapi, meskipun sangat lelah setelah pulang syuting dan masih mengenakan kostum syuting bertema anak sekolah SMA, Hyewon selalu tersenyum melayani nafsu Sugeun.
Dia merasa sudah menjadi kewajibannya untuk melayani Sugeun. Ya, saking seringnya diintimi, alam bawah sadar Hyewon mengkondisikan dirinya sendiri seperti istri Sugeun yang harus siap melayani nafsu Sugeun kapan pun.
Suatu malam, Hyewon pergi ke acara penghargaan bagi perfilman Korea. Sugeun mengerti kalau Hyewon tak mengajaknya. Dia menonton tv sendirian di rumah. Hyewon menjadi salah satu host acara penghargaan itu, lebih tepatnya pembaca nominasi salah satu kategori penghargaan. Sugeun memperhatikan Hyewon dalam keadaan ‘normal’. Terlihat begitu anggun dan sangat cantik. Sugeun pun tersenyum, sementara pria-pria lainnya yang menyaksikan acara itu baik secara langsung maupun melalui tv pasti penasaran dengan kemulusan tubuh seorang Kang Hyewon yang bertampang cantik innocence, Sugeun tahu betul ‘onderdil’ yang dipunyai Hyewon yang sudah dilihatnya berkali-kali. Melihat Hyewon di tv, Sugeun jadi membayangkan tubuh indah nan putih mulus itu ada di depannya. Andai saja bidadarinya yang sedang ia pandangi di tv ada di sampingnya, pasti Sugeun sudah menyembunyikan Hyewon dalam sarungnya untuk ‘merawat’ burung miliknya.
Hyewon masuk sebagai nominasi idol wanita favorit, tapi ia tidak menang. Begitu pulang, Sugeun langsung memeluk Hyewon.
“kamu jangan sedih, sayang…itu cuma penghargaan biasa…”, ucap Sugeun menyemangati Hyewon.
“iya, Pak. Hyewon juga nggak sedih. saingan Hyewon hebat semua”.
“hmm..bagus bagus…”.
“tapi..kamu menang penghargaan kok ?”.
“penghargaan apa, Pak ?”.
“calon istri terbaik 2023 hehe…”.
“ah Bapak….”, pukul Hyewon manja.
“kamu mau lihat pialanya nggak ?”, Sugeun menatap ke benjolan di sarungnya. Sambil menggigit bibir bawahnya, Hyewon mengangguk. Sugeun pun langsung menggaet bidadarinya ke dalam kamar dan bercinta penuh nafsu. Usai bersenggama, Hyewon dan Sugeun pun bercengkrama.
“sayang…”.
“iya, Pak ?”.
“kalau bantu Bapak ngajar les mau nggak ?”, tanya Sugeun sambil memeluk Hyewon dari belakang.
“les apa, Pak ?”.
“begini, ada 3 murid Bapak yang les komedi sama Bapak. anaknya sih baik semua, gampang di atur, tapi bebel banget otaknya…”.
“eh Bapak. jangan bilang gitu ah…”.
“ya abisnya, udah Bapak ajarin paling gampang, tetep aja nggak bisa…”.
“emangnya orang tuanya nggak ngajarin di rumah ?”.
“nah itu dia, orang tua mereka bertiga aja nyerah, trus nyerahin ke Bapak. mereka orang kaya dan mau bayar Bapak berapa aja supaya anak mereka lulus sekolah komedi”.
“mereka kakak adik semua ?”.
“yang 2 kembar, yang satu lagi beda…”.
“oh, terus mereka les apa aja sama Bapak ?”.
“Cuma cara ngomong di depan orang doang. Bapak takut keteteran ngajarnya, kamu mau bantuin Bapak kan ?”.
“boleh, Pak. kapan ?”.
“senin depan. makasih ya sayang…”, ujar Sugeun setelah mengecup pipi Hyewon.
Sebenarnya Hyewon juga ingin bertanya sesuatu ke Sugeun, tapi dia masih merasa tidak enak, lagipula dia sudah sangat kelelahan. Sesuatu tentang hubungan mereka karena sebentar lagi Hyewon akan menikah dengan seorang pria berumur yang wajahnya tak jauh dengan Sugeun. Tapi karena terlalu lelah, mereka berdua pun tidur dalam keadaan bugil, namun saling berpelukan sehingga mereka tidak merasa dingin. Hyewon tidur dengan nyaman karena air mani Sugeun yang hangat menggenangi rahimnya. Dan seperti malam-malam sebelumnya, sel telur Hyewon sibuk mempertahankan diri dari serbuan berjuta-juta sperma Sugeun yang tadi diinjeksikan ke dalam rahim Hyewon. Dan sepertinya pertahanan sel telur Hyewon mulai melemah….
Hyewon menghadapi dilema, apakah dia harus menikah dengan calon suaminya yang sudah dikenalkan ke keluarga dan kerabat, ataukah dengan Sugeun, pria tua dengan kejantanan yang sangat perkasa dan membuatnya selalu merasa seperti pergi ke ‘surga’ ?. Dan tentang 3 anak didik Sugeun itu ?
![]() |
| Chul, Ho dan Sung |













.jpg)



Comments
Post a Comment