Sakura Butuh Uang
“OK… siap ya. 1… 2... 3….” Terdengar bunyi klik dari sebuah kamera yang bersamaan dengan kilatan cahaya lampu.
“OK, sekali lagi. 1… 2… 3…. Cakep!”Saat itu di satu studio foto sedang dilakukan sesi pemotretan. Studionya tidak terlalu besar namun nyaman dan peralatannya juga cukup lengkap. Ada 2 buah kamera di sana dengan flash yang bagus, ada juga lampu besar berjumlah 2 buah, satu tripod dan satu payung reflektor yang digunakan untuk meredupkan pencahayaan. Ada juga beberapa kostum di sana, mulai dari gaun pesta, baju pengantin, tank top, rok mini, sampai beberapa bikini dan lingerie.
“Coba ganti posenya lebih sexy sedikit… Ya begitu… 1… 2… 3…” demikian suara yang keluar dari seorang fotografer. Fotografer itu beberapa kali mengarahkan pose sang model, yang kelihatannya masih amatir. Nama fotografer itu adalah Pandu, fotografer profesional berumur 38 tahun yang sudah 10 tahun menekuni bidang fotografi. Fotografer berbadan gempal dan berambut keriting itu sebenarnya dari tadi sudah sangat nafsu melihat model amatir yang sedang berpose di hadapannya. Maklum saja, si model itu berwajah cantik dan masih malu-malu sehingga menambah kesan tersendiri bagi sang fotografer. Apalagi saat ini si model hanya memakai kemeja putih yang 2 kancing atasnya sudah terbuka, sehingga memamerkan lekukan dadanya yang ranum. Si model bernama Sakura. Mahasiswi semester 2 jurusan ilmu komunikasi di salah satu universitas swasta di kota itu. Umurnya baru 18 tahun, baru setahun lalu lulus dari SMA. Sakura memiliki wajah yang cantik dan badan yang langsing, yang merupakan syarat dasar jadi fotomodel. Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus bak pualam. Dia sangat populer di kalangan laki-laki di kampusnya. Matanya yang bulat indah, juga bibirnya yang tipis seksi, dan hidung mancung menambah kesempurnaan gadis itu. Semua keindahan tubuh yang dimiliki Sakura akhirnya membawa dia menjadi model amatir seperti saat itu. Tapi itu juga karena terpaksa. Terpaksa karena mahasiswi cantik itu lagi kena krisis keuangan. Sakura termasuk mahasiswi yang boros. Pergaulannya dengan sosialita di kampusnya membuat dia menjadi suka hura-hura dengan teman-temannya (hangout, salon, shopping, dll) sehingga membuat uangnya cepat habis. Gaya hidupnya itu akhirnya membuat dia banyak kena tagihan kartu kredit dan tak bisa membayar uang kuliah, yang membuatnya terancam tak bisa ikut ujian semester. Untuk meminta ke orangtuanya dia tak mungkin karena dia sudah terlalu sering meminta uang, lagipula dia selalu dijatah uang bulanan yang sebenarnya lebih dari cukup. Dia akhirnya bingung cari uang ke mana. Untuk meminjam ke teman dia malu. Pacarnya juga tak bisa membantu karena juga sedang susah keuangan. Akhirnya pacarnya memberi saran untuk cari duit lewat modelling karena pacarnya kenal beberapa fotografer.
![]() |
| Pandu |
Hari itu sesi pemotretan ketiga buat Sakura dengan fotografer yang berbeda. Yang pertama sampai ketiga tidak banyak memberikan uang bagi Sakura karena hanya difoto untuk hunting foto biasa aja. Honornya juga tidak besar, hanya cukup untuk biaya makan seminggu. Lewat fotografernya yang ketiga dia akhirnya dikenalkan ke Pandu, yang katanya mau memberi honor besar asal mau difoto indoor dengan konsep apa saja. Maka sampailah Sakura di studio foto pribadi milik Pandu. Sakura sengaja tidak memberitahu pacarnya agar tidak ditanya-tanya nantinya, karena pacarnya akhir-akhir ini sangat cemburuan dan curiga kepadanya. Pokoknya gadis bertubuh sexy itu bertekad akan melakukan konsep foto apapun asal dapat banyak duit.
“Sekarang coba buka satu kancing lagi Sakura,” kata Pandu.
“Tapi malu Bang…” jawab gadis manis itu. Memang dia belum pernah difoto sampai buka kancing baju. Biasanya hanya difoto di outdoor dengan gaun biasa dan di hadapan beberapa fotogafer sekaligus.
“Gak usah malu cantik, punya body oke gak apa apa dong diexpose,” ujar Pandu.
“Iya… tapi…” jawab gadis itu ragu. Sebelumnya dia memang belum pernah foto sampai senekad ini. Kalau pacarnya tahu, pasti dia sudah dimarah-marahi habis-habisan.
“Ngapain malu sih. Lagian kan cuman ada kita berdua di studio ini. Nanti hasil fotonya buat koleksi pribadi kok,” bujuk si fotografer.
Akhirnya Sakura pun membuka 1 kancing bajunya lagi, sehingga dadanya mulai terbuka dengan lebih jelas. Dia masih mengenakan bra berwarna merah, yang menutupi payudara 34C nya yang ranum. Pandu makin bersemangat memainkan kameranya. Berbagai pose dia minta untuk dilakukan Sakura. Sekitar 20 kali jepret, Pandu mulai menaikkan tempo lagi. Dengan bujuk rayu dia meminta Sakura untuk membuka semua kancing kemeja yang tersisa. Sebagai fotografer yang sudah sering menghadapi model untuk pemotretan bertema sexy Pandu ternyata punya ilmu merayu yang ampuh; tentu saja begitu, kalau tidak pasti susah dong membuat cewek-cewek itu mau buka baju di depan kameranya? Tidak puas hanya dengan itu, setelah 20 jepretan lagi Pandu juga meminta Sakura melepas rok. Seperti sebelumnya, awalnya Sakura menolak karena alasan malu dan takut. Tapi Pandu lagi-lagi berhasil meyakinkan bahwa ini hanya foto private dan file fotonya akan disimpan sendiri. Maka akhirnya Sakura lepas rok dan tinggal mengenakan bra dan CD saja berwarna putih. Benar-benar pemandangan yang bisa membuat mata lelaki manapun melotot, termasuk si fotografer. Pandu menelan ludah melihat body putih mulus khas mahasiswi, dengan kulit mulus dada dan perut Sakura. Payudara Sakura yang montok sekarang tampak di depan Pandu dalam bra. Lengkung indah sepasang buah dada Sakura terpampang jelas. Pasti enak rasanya bisa berada di dekapan dada itu, batin Pandu.
"Udah siap mulai belum Bang?" tanya Sakura membuyarkan khayalan nakal Pandu.
“Eh udah… bentar ya…” kata Pandu sambil menyuruh Sakura duduk di sofa yang ada di studio. Dia kemudian mengarahkan 2 lampu ke tubuh Sakura. Paha Sakura yang putih mulus tanpa noda itu terpampang dengan jelas, yang membuat kepala Pandu mulai cenat-cenut.
"Posenya gimana? Aduh Sakura grogi nih Bang..." kata Sakura sambil berusaha menutupi dadanya. Tanpa sadar Sakura menggigit bibirnya, tapi itu membuat wajahnya jadi terkesan nakal di mata Pandu. Makin gemaslah Pandu.
"Terserah kamu aja. Yang penting relax," kata fotografer gempal itu.
Sakura lalu duduk dengan manis di atas sofa, kedua kakinya dirapatkan, wajahnya malu-malu. Pandu senang dengan ekspresi grogi modelnya. Sudah ingin rasanya dia menerkam gadis cantik itu. Tapi dia menahan diri. Baginya justru lebih baik dia santai-santai saja biar kelihatan profesional. 20 jepretan awal Sakura masih agak kaku, tapi selebihnya sudah mulai relax. Itu berkat kemahiran Pandu membuat rasa nyaman di hati Sakura. Apalagi Pandu membantu atur pose sang model, tentunya sambil meraba-raba sedikit, merasakan kehalusan kulit mulusnya.
“Ayo sekarang Sakura, buka lebar kakinya ya” pinta Pandu.
Mungkin karena sudah percaya dengan si fotografer, dengan santai Sakura membuka lebar pahanya, sambil berpose dengan sensual. Di balik kameranya Pandu bisa melihat bulu-bulu halus di sekitar CD si model. Pandu menelan ludah. Dengan cekatan dia langsung mengambil beberapa gambar close-up ke arah tersebut. Kemudian Pandu menyuruh Sakura berpose membelakangi kamera. Lima kali menjepret pose itu, dia kemudan menyuruh sang model merunduk kedepan dengan agak nungging. Pinggul Sakura yang bulat menantang itu benar-benar terekspos frontal ke kamera. Pandu makin gerah, AC di ruangan tak bisa menetralisir keringatnya. Si fotografer bisa melihat vagina Sakura tercetak jelas di balik CD merahnya. Batang kemaluan Pandu sudah tegang berdiri melihat Sakura menungging dengan sexy di atas sofa.
"Tahan posisinya ya Sakura," kata Pandu sambil mendekat, dia ingin meraba pantat gadis itu. Dengan alasan agar Sakura lebih menunduk, Pandu menekan-nekan pantat gadis itu ke bawah. Sungguh kenyal dan lembut sekali tubuh gadis 18 tahun itu. Ingin rasanya Pandu memperkosa Sakura dengan posisi doggy style, menunggangi gadis cantik itu sampai puas. Tapi fotografer itu menahan diri. Dia sudah punya “senjata” untuk menikmati gadis itu nantinya.
“Kata Johan kamu lagi butuh duit banget ya. Makanya mau jadi model freelance,” kata Pandu sambil tetap memainkan kameranya.
“Iya Bang.” Jawab Sakura singkat. Mereka melakukan pembicaraan di sela-sela sesi foto.
“Emang butuh berapa sih?”
“Pokoknya banyak deh bang. Buat bayar uang kuliah nih, biar bisa ujian” jawab Sakura.
“Sebenarnya saya mau bantu kamu sih, tapi…” kata Pandu menghentikan omongannya.
“Tapi apa bang? Aku mau deh asal ada duitnya. Hehe… ” jawab Sakura cepat.
“Tapi kayaknya kamu ga bakal mau.”
“Ya Abang bilang dulu apa. Kali aja bisa.”
“Tapi jangan marah ya. Ini juga kalau kamu lho. Aku dari dulu pengen banget foto cewe bugil. Konsep Nude Art gitu. Mau ga kamu jadi model bugilku yang pertama? Kalau kamu mau, aku kasih satu juta deh. Cuma foto doang.”
Ada jeda beberapa detik di antara mereka. Sakura sangat kaget sebenarnya mendengar permintaan aneh sang fotografer. Difoto bugil. Dia belum percaya sang fotografer yang baru ditemuinya itu. Masa’ baru kenal sudah berbugil ria. Di samping itu dia takut jika nanti fotonya tersebar di internet seperti foto-foto artis yang dulu-dulu. Bisa malu dia dan keluarganya.
“Tapi kalau kamu ga mau juga ga apa-apa. Gak maksa kok,” kata Pandu sambil tersenyum. “Oh iya, kamu pikir-pikir dulu bentar ya. Saya mau ke kamar mandi,” lanjut Pandu sambil pergi ke kamar mandi yang ada di belakang studio.
Sepeninggal sang fotografer, Sakura hanya diam saja. Pikiran berkecamuk di otaknya. Di satu sisi dia butuh uang banyak, di sisi lain dia masih ragu. Untuk foto hanya pakai CD dan Bra seperti sekarang saja bukan perkara gampang buat mahasiswi cantik itu. Apalagi sekarang diminta untuk telanjang bulat. Benar-benar pertarungan batin bagi Sakura.
“Gimana Sakura, mau ga?” kata Pandu dari balik pintu, yang membuyarkan lamunan gadis itu. “Ayolah, mau kan difoto gitu? Saya janji ga akan nyebarin. Buat koleksi pribadi saja,” bujuk Pandu. Dia seolah paham keraguan gadis itu.
“Lagian kamu pasti sudah pernah kan bugil di depan cowok kamu,” pancing Pandu, yang dijawab anggukan Sakura. Dalam hati Pandu tertawa, pancingannya kena.
“Nah itu dia, anggap aja aku cowokmu. Jadi ga usah malu. Janji deh ini cuma buat koleksi pribadi,” bujuk Pandu lagi dengan nada ramah menjerumuskan. “Emang sudah berapa cowok sih yang pernah lihat kamu telanjang?”
“Ehhhh… tiga orang. Pacar pertamaku, pacarku yang sekarang dan dulu ada tetangga kost,” jawab Sakura malu-malu.
“Ga masalah kan tambah satu orang lagi yang lihat kamu bugil? Lagian buat foto doang. Oke? I’m a professional photographer,” cecar Pandu dengan bertubi-tubi, menggoyahkan Sakura.
Bujuk rayu dan iming-iming duit banyak akhirnya membuat Sakura pasrah. Toh dia juga sekarang sudah setengah bugil, jadi tanggung, pikirnya. Tinggal lepas bra dan CD saja. Lagipula Sakura juga sadar kalau dia sudah bukan perawan. Sudah beberapa lelaki melihat tubuh telanjanganya mulai dari sejak SMA dulu saat mulai nakal-nakalnya. Dia cuma mengaku tiga ke Pandu, padahal sebenarnya lebih. Apalagi tawaran si fotografer sangat menggiurkan menurutnya. Satu juta untuk foto, dan itupun hanya untuk koleksi pribadi. Tidak pakai modal pula. Kapan lagi bisa dapat duit gampang seperti sekarang, pikir Sakura dalam hati.
“Tapi janji ga akan disebar kan?” Sakura memastikan sekali lagi.
Pandu tertawa penuh kemenangan. “Saya janji Sakura,” katanya. “Nah sekarang buka bra dan CD kamu ya...?” rayu Pandu.
Walaupun Sakura sudah setuju, tapi pas mau buka bra-nya, dia keliatan sangat grogi. Sambil melihat sang fotografer yang juga tegang dia sempat bertanya: “Cowokku ga bakal dikasih tahu juga kan?”
“Ya ga mungkinlah. Nanti bisa-bisa saya dihajar,” kata pandu. “Ya udah ga usah banyak tanya, sekarang tolong buka bra. Aku mau lihat tokedmu yang montok itu. Dari tadi rasanya udah pengen motret toked sexy kamu Sak.”
Dalam hati Sakura terbit rasa bangga dikomentari seperti itu. Seperti biasanya perempuan, Sakura senang kalau dianggap menarik, sexy, apalagi Pandu menyatakannya terang-terangan. Rasa bangga itu bikin Sakura makin berani. Segera kedua tangan Sakura menggapai pengait bra di punggungnya. Dengan mudah terlepaslah bra itu itu dari tubuhnya. Segera dilemparnya bra itu ke atas meja di sudut studio foto itu. Kini kedua payudara Sakura terbuka lebar-lebar dan bisa dilihat sang fotografer dengan bebasnya.
Memang payudara Sakura betul-betul putih mulus dan indah menggoda. Dada ranum khas mahasiswi. Kedua putingnya berwarna kemerahan, nampak segar menantang untuk dikulum. Sejenak Pandu memandangi diri Sakura, sebelum akhirnya menyuruh gadis itu kembali berpose di atas sofa. Dengan semangat sang fotografer menyuruh berbagai gaya yang tak lepas dari pameran buah dada Sakura yang berkualitas itu. Pandu menyuruh Sakura meremas pelan dadanya sambil meminta ekspresi mulut mendesah. Pandu lalu mendekat ke arah Sakura. Sambil merapikan rambut Sakura dia berbisik pelan ke telinga gadis itu: "Kamu seksi banget deh. Sudah kayak model majalah FHM.”
"Makasih," ucap Sakura pelan. Dipuji begitu membuat Sakura makin pede.
"Ayo sekarang lebih hot ya,” pinta si fotografer sambil kembali ke belakang kamera. Sakura tersenyum malu-malu. Gadis itu lalu membelakangi kamera dan kemudian menunggingkan badannya ke arah kamera. Dia berpegangan pada sandaran sofa. “Seperti ini?” tanya Sakura.
“ Yah, begitu, sexy banget deh badan kamu, sangat sexy...” ujar Pandu, sambil memfoto pose itu beberapa kali.
Dada Sakura yang ranum makin sexy terlihat karena dia menungging. Sakura melirik ke arah Pandu yang terkagum-kagum didepannya. Sakura juga memperhatikan adanya tonjolan yang makin lama makin besar di selangkangan Pandu.
Sesudah beberapa jepretan dalam pose itu, kemudian Pandu akhirnya tidak sabar untuk menikmati “hidangan utama” yaitu vagina gadis cantik itu. Disuruhnya Sakura melepas CD. Lagi-lagi butuh waktu lama agar Sakura untuk meng-iya-kan. Dia nampak grogi dan malu. Tapi Pandu sabar dan tidak keburu nafsu. Fotografer itu paham betul jika “mangsa”nya ini sudah dalam genggaman tangannya. 10 tahun bergelut di dunia fotografi adalah waktu yang cukup lama untuk menaklukan model-model seperti ini.
“Ayolah dibuka CD-nya. Ngapain malu. Toh sudah beberapa cowok kan yang lihat mekimu”.
Agak panas kuping Sakura mendengar kata-kata Pandu. Emang gue cewek gampangan apa? batinnya. Dia hanya diam waktu Pandu mendekat dan bilang: “Aku lepasin CD-nya ya?" Sakura tak menjawab, hanya mengangguk, wajahnya merah.
Dengan cekatan Pandu memelorotkan celana dalam mini Sakura, sampai ke lutut. Vaginanya kini begitu jelas terpampang di depan muka si fotografer. Tampaklah bulu kemaluan si model yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus. Mata Pandu seperti mau copot waktu memandang vagina Sakura. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan gadis berusia 18 tahun tersebut. Nafas laki-laki itu demikian memburu.

“Sempurna. Benar-benar sempurna tubuhmu,” puji Pandu. Batang kemaluannya sudah sangat mengeras. Dengan cekatan Pandu mengambil beberapa foto. Fokus utamanya tetap ke vagina model itu. Tampak bulu kemaluan Sakura yang cukup lebat menjadi santapan blitz kameranya.
“Kamu bakat jadi model majalah dewasa… luar biasa,” puji Pandu lagi sambil tetap menatap bagian yang paling rahasia itu.
Pandu kemudian meminta Sakura untuk membuka lebar-lebar kedua pahanya sehingga dapat melihat liang vaginanya yang bagian dalam. Vagina yang masih sempit dan berwarna merah segar. Ingin rasanya Pandu membenamkan wajahnya ke liang vagina gadis itu. Beberapa kali hasil jepretannya buram karena tangannya gemetar. Fokusnya sekarang hanya ke dada dan vagina Sakura. Sesekali tangannya meraba-raba tubuh Sakura dengan alasan memperbaiki pose. Sambil tetap nungging, Sakura disuruh agar wajahnya selalu melihat kamera dan dibuat sesensual mungkin. Sakura sekuat tenaga mengusir rasa malunya. Dia mau terlihat profesional. Sambil berpose, dibayangkannya yang melihat tubuh telanjangnya bukanlah fotografer, melainkan pacarnya sendiri. Sakura memang sudah beberapa kali ML dengan pacarnya itu, jadi telanjang di depan pacarnya adalah hal yang biasa baginya. Ternyata hal itu lumayan berhasil. Sakura sudah mulai tidak grogi lagi.
“Bagus Sakura… sexy banget… kamu mulai enjoy…” kata Pandu sambil tetap menjepret.
Sudah hampir 200 jepretan total yang dia lakukan. Saat itu benar-benar Sakura begitu sexy dan merangsang mata laki2 yang memandangnya. Tubuhnya yang mulus, putih dan kencang itu terpampang diatas sofa hingga membuat darah fotografer itu tersirap naik.
“Meki kamu kering banget. Kurang fotogenik. Harus sedikit basah,” kata Pandu seolah-olah fotografer profesional yang mengerti betul arti kata fotogenik dalam konsep foto nude.
“Saya bantu bikin sedikit basah ya… mohon maaf sebelumnya,” ujarnya dengan sok sopan minta izin. Pandu lalu mulai mengusap-usap vagina bagian luar gadis itu. Sakura awalnya kaget ada tangan di vaginanya, tapi cepat-cepat dia bayangkan bahwa yang merabanya itu adalah pacarnya. Sakura tidak menolak (dan merasa tidak punya pilihan) saat tangan gempal pandu meremas pantat dan juga menjamah liangnya. Melihat tidak ada penolakan dari Sakura, pandu kembali memain-mainkan kemaluan Sakura yang masih rapat itu. Digosok-gosoknya lubang vagina Sakura itu hingga akhirnya basah. Sakura menggigit bibirnya. Dia lambat laun horny juga. Mana ada wanita yang tak naik libidonya saat vaginanya diraba-raba seperti itu. Apalagi yang Sakura bayangkan sekarang adalah pacarnya mencumbuinya.
“Hmmmmmm...” desah gadis itu.
Melihat Sakura yang sudah mulai horny, Pandu tersenyum penuh kemenangan. Strateginya akhirnya berhasil. Dia memang sengaja merangsang vagina Sakura agar cepat horny. Sebentar lagi dia akan menyantap vagina model amatir itu. Tanpa menunggu lama kemudian jemari pandu mulai bermain-main masuk ke dalam vagina Sakura. Saat Pandu melakukan itu, Sakura tidak melawan sedikit pun. Dia hanya menutup mata dan sekuat tenaga menahan desahannya. Mahasiswi cantik itu tanpa sadar ikut meregangkan pahanya sendiri, membiarkan jari-jari Pandu serakah mengorek-ngoreknya. “Sudah bisa mulai fotonya belum bang?” tanya Sakura di tengah-tengah kesibukan si fotografer menginvasi vaginanya.
“Bentar lagi nih. Kalau sudah benar-benar basah sekali pasti bagus ditangkap kamera,” akal-akalan Pandu makin intensif sambil dia mempermainkan bagian tubuh terlarang model amatir itu.
Sakura makin menggelinjang saat jari-jari fotografer cabul itu sekarang memainkan klitorisnya. Benda seperti kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jari Pandu yang membuat Sakura menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam liang itu. Sakura sadar bahwa ini bukan lagi bagian dari pemotretan.
“Bang… Abang… ngapainnnn…?” Sakura bertanya basa-basi.
“Aku pengen cobain mekimu. Nanti kubayar dua kali lipat jadi dua juta.”
Habis berkata begitu Pandu membalikkan tubuh Sakura jadi telentang di atas sofa, lalu dia membenamkan kepalanya di selangkangan gadis itu. Kontan Sakura bergetar seperti disetrum listrik saat lidah Pandu menari-nari menyapu dinding vaginanya. Sakura tak sempat berontak karena begitu cepat Pandu memainkan titik-titik ternikmatnya. Apalagi dirinya juga sudah horny, sehingga membuat gadis itu hanya bisa pasrah.
"Ah... euh... ah... aw... " desah Sakura. “Tapi be... nar... ya Bang... du… a... ju... ta…” Sakura memastikan.
“Iya tenang aja. Sekarang kamu tiduran gitu. Biarin aku nyicip mekimu yang segar ini” kata Pandu.
Dan tanpa membuang waktu lagi dia membenamkan kepala di antara paha Sakura dan kembali menghirup aroma wangi liang kewanitaan Sakura. Pandu kembali menjilati bibir kemaluan model amatir itu. Mahasiswi yang sudah terangsang berat itu mengelus-elus kepala Pandu seraya membuka pahanya lebih lebar, kepalanya menengadah menatap langit-langit. Sakura sungguh tak menyangka dirinya bisa terlarut sedalam itu. Awalnya hanya foto, sekarang jadi persetubuhan terlarang. Walau merasa merendahkan dirinya dengan menggadaikan tubuhnya untuk duit, tapi Sakura segera membuang pikiran itu jauh-jauh. Toh dia sudah tidak perawan, dan selama ini yang menikmati tubuhnya hanya pacarnya saja. Dan Sakura merasa sedikit marah karena pacarnya tidak bertanggung jawab atas kondisi keuangannya. Pikir Sakura, kalau pacarnya tidak bisa bantu, tak masalah dia kalau fotografer ini bisa “bantu”, walau dengan kondisi harus rela dicabuli seperti saat ini. Pikiran yang berkecamuk di otak Sakura segera teralihkan karena Pandu semakin menaikkan tempo permainan. Tangan kiri sang fotografer cabul itu sekarang menjulur ke atas memijati payudara kiri Sakura,
sedangkan tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, sesekali juga ikut memainkan jarinya pada vagina Sakura. Sebentar saja badan Sakura sudah menegang.
“Oh baaaaannngggggg......!” Sakura menggigil tak berdaya sambil mencengkeram rambut keriting Pandu dengan kedua tangannya dan mencoba mendorongnya menjauh karena saking gelinya. Bahkan pacarnyanya tak berani melakukan itu padanya. Lidah si fotografer makin lama makin meningkat intensitas iramanya dan Sakura mulai kehilangan kendali pada tubuhnya. Dengan malu Sakura mulai menyadari kalau tubuhnya perlahan menikmati apa yang dilakukan oleh Pandu.
“Aaah!!” lenguh Sakura keras sambil terus mencoba mendorong kepala Pandu.
Lenguhan Sakura makin lama makin keras dan tubuhnya menggigil penuh nafsu birahi di bawah rangsangan luar biasa dari Fotografer itu. Sakura sudah tidak ingat lagi akan semua hal yang ia junjung tinggi, semua hilang ditelan nafsu (dan duit).
"Ah... Bang... Nngghh... oww... akukeluar... ahhhhhhh...!" erangnya lebih panjang di puncak kenikmatan.
Tubuhnya jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua belah paha Sakura semakin erat mengapit kepala Pandu. Tubuhnya lemas setelah sebelumnya mengejang hebat, keringatnya menetes-netes. Sakura terenggah-engah dibuatnya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa. Baru kali ini dia menerima oral sex sehebat itu. Pandu menatap tubuh telanjangnya yang sudah lemas dengan penuh nafsu. Tubuh telanjang gadis itu benar-benar sexy sehabis orgasme.
“Kamu cantik banget waktu orgasme tadi,” kata Pandu sambil mengamati wajah Sakura yang penuh keringat.
Dia mengambil kameranya sebentar dan memotret Sakura yang baru selesai orgasme. Sebenarnya Sakura malu sekali. Mukanya memerah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Aku benar-benar konak nih lihat body kamu. Sexy banget. Kontolku sudah tegang dari tadi,” kata Pandu sambil meletakkan kameranya. Dia sudah tidak sabar ingin membenanmkan kontol gendutnya ke liang gadis cantik itu. Ketika Pandu mau mendekati Sakura, tiba-tiba HP Sakura bunyi. Dari ringtonenya ketahuan kalau yang menelpon itu adalah pacar Sakura. Dengan sangat kaget Sakura segera berlari ke arah tasnya. Entah kenapa dia merasa takut dan ada perasaan bersalah. Sakura menetralkan nafasnya yang ngos-ngosan dulu baru kemudian menerima telepon itu. Ternyata pacarnya sekarang ada di depan studio dan mau menjemputnya pulang. Mereka sempat berantem di telepon karena Sakura tak bilang ada pemotretan. Pacarnya tahu alamat studio milik Pandu dari temannya. Karena tidak mau nanti jadi bermasalah, Sakura akhirnya pamit ke pandu. Pandu dalam hati kecewa tapi tak mempermasalahkan. Masih ada hari esok. Gadis manis itu segera mengumpulkan CD dan bra lalu memakainya. Begitu juga dengan bajunya. Tak lupa dia merapikan riasan wajahnya di cermin yang ada di dalam studio itu. Dia tak mau pacarnya curiga akan “kejadian” barusan di dalam studio. Semua aktivitas Sakura itu tak luput dari jepretan Pandu. Fotografer itu menikmati sekali foto hidden seperti itu: saat Sakura memakai CD, bra, dan bajunya. Apalagi dengan ekspresi rada-rada takut dari sang model, benar-benar natural sehingga sangat fotogenik. Walau dalam hati sangat dongkol karena niat jahatnya terhalang pacar Sakura, tapi pandu dengan sok cool merelakan sang calon korban pergi. Sebelum pergi Sakura dikasih 500 ribu. Sakura protes karena kurang dari yang tadi dijanjikan yaitu 1 juta. Tapi Pandu bilang sedang tak pegang duit. Dia bakal transfer sisanya besok-besok dan berjanji akan membayar lebih. Sakura percaya dan lalu menemui pacarnya yang dari tadi menunggu di depan studio foto. Sebenarnya kalau dipikir-pikir Pandu licik juga. Menawarkan satu juta hanya untuk foto NUDE. Kalau Sakura pintar dia harusnya minta lebih dari 1 juta, untuk “jasa” karena mau mekinya dinikmati fotografer gendut itu. Tidak tahu apa karena Sakura memang tolol, atau mungkin karena Sakura merasa puas dengan oral sex Pandu jadi dianggap “free”. Kadang kalau nafsu sudah memuncak, hitung-hitungan untung rugi tidak jalan.
Sepeninggal Sakura, Pandu kemudian melampiaskan nafsunya yang tertunda dengan coli sambil memandang foto hasil jepretannya barusan. Sesudah crot, Pandu lalu mengedit beberapa foto, lalu membuka laptop untuk terhubung ke internet. Satu lagi janjinya ke Sakura dilanggar: Pandu langsung masuk ke forum dewasa dan memasang satu dua foto Sakura yang sudah seksi tapi masih pakai bra dan CD. Langsung saja orang-orang mupeng di sana berkomentar mesum. “minta lagi bro” “ada yang bugil gak?” “udah diekse belum” Demikian komentar cabul mereka yang belum ditanggapi oleh Pandu, karena dia tahu ini baru langkah awal. Sedangkan Sakura dibawa pacarnya, Lucky, ke kost untuk diinterogasi. Sesampainya di kost, yang ditakutkan Sakura terjadi. Dia dimarahi Lucky karena tidak memberi tahu. Pacarnya marah-marah karena merasa Sakura tidak jujur. 10 menit tanpa henti pacarnya meluapkan kemarahan. Karena Sakura memang merasa bersalah dia hanya diam saja. Lucky memperhatikan seluruh tubuh gadis itu untuk mencari-cari sesuatu tapi tidak menemukan apapun. Yang ada malah pacarnya mulai nafsu melihat Sakura yang duduk diam di atas ranjang seolah pasrah mau dihukum apapun karena bersalah. Lagian siapa sih laki-laki yang tidak nafsu melihat kecantikan dan kesexyan gadis muda itu. Om-om senang malah akan mau membayar mahal untuk merasakan isapan mulut & jepitan vagina mahasiswi ini. Apalagi sudah seminggu pacarnya tidak mendapat jatah karena Sakura baru datang bulan, jadi wajar nafsunya tak terkontrol.
“Kamu sadar kamu salah?” Tanya Lucky, sambil mendekat.
“Iya aku salah. Ga akan ngulangin lagi” jawab Sakura, nafasnya agak tersendat-sendat dan dadanya naik turun karena masih takut.
“Karena kamu salah, kamu harus dihukum” kata Lucky.
Lucky lalu membuka celana jins yang dipakainya, berikut CD putih. Sekarang di hadapan Sakura mengacung penis yang ukurannya biasa saja. Belum sempat Sakura ngomong apa-apa, pacarnya langsung menarik kepala gadis itu dan mengarahkan ke batangnya.
“Ayo isap. Puasin aku. Ini hukuman karena sudah bikin aku galau,” paksa Lucky.
Sakura yang tak punya pilihan lain, segera memasukkan penis itu ke dalam mulutnya. Lucky mengerang nikmat saat batang penisnya dikulum-kulum dan juga diputar-putar lidah Sakura. Sakura meraih dan memijat buah zakar pacarnya dengan lembut. Sakura memasukkan lebih dalam lagi batang pacarnya sampai kepala penisnya menyentuh ujung rongga mulut gadis itu.
“Aaa… ahhh… ena... uuhhh!” desah Lucky bergetar. Wajah Lucky menegang dan cengkeramannya pada pundak Sakura makin mengeras. Sepertinya mau keluar.
“Stop sayang. Aku sudah mau keluar,” kata Lucky sambil menarik penis dari mulut gadis itu. “Sekarang buka celanamu cepatttt...”
Sebagai pacar yang penurut, Sakura lalu membuka celana dan CD-nya. Belum sempat dia membuka baju, Lucky sudah mendorongnya hingga telentang di atas ranjang. Sakura refleks mengangkang sehingga vaginanya yang segar dan sempit itu terpampang di hadapan Lucky yang sudah sangat horny. Lucky memperhatikan vagina Sakura masih basah (sisa-sisa orgasme dari Pandu yang belum dibersihkan tadi). Dia penasaran kenapa bisa basah tapi Sakura tak mau cerita. Kemudian Lucky naik ke ranjang lalu mengarahkan penisnya yang berukuran standar itu ke vagina Sakura. Sakura mendesah pelan saat vaginanya ditembus oleh penis pacarnya. Lucky mengeluarkan dan memasukkan penisnya lagi berulang-ulang, mengocok tubuh Sakura. Kocokan itu tampak membuat tubuh Sakura berguncang dan membuat buah dadanya bergerak-gerak di balik bajunya yang “lupa” dilepas. Walau sudah sering menikmati vagina gadis itu, Lucky tetap tergila-gila dengan liang sempit itu. Itu terbukti dengan kecepatan tinggi menggenjot vagina gadis itu. Akibatnya adalah Lucky hampir orgasme duluan. Tapi untuk mengulur waktu Lucky kini melepaskan diri dari tubuh Sakura. Mereka mengubah posisi. Sakura membalikkan badan dan menungging lalu ia membelakangi pacarnya. Lalu Lucky kembali menyetubuhi Sakura dengan posisi doggy style. Sakura kembali mendesah-desah saat dikocok seperti itu sementara wajah pacarnya agak memerah. Baju Sakura dan juga baju Lucky sama-sama basah oleh keringat. Apalagi mereka lupa menyalakan AC karena terburu-buru. Lucky termasuk cowok yang beruntung di antara cowok-cowok di kampusnya karena bisa ML sepuasnya dengan Sakura yang penurut. Sodokan-sodokan dengan posisi anjing kawin membuat adrenalin terpacu cepat.
“Gila nih… kok aku mau keluar lagi ya…” kata Lucky di sela-sela sodokan. “Kita ganti gaya lagi babe!” perintahnya.
“Terserah kamu aja deh babe, puasin aku,” jawab Sakura yang masih berharap kepuasan total.
Lucky lalu tidur telentang dengan penisnya berdiri tegang. Lalu Sakura berada di atasnya perlahan-lahan memasukkan penis pacarnya ke vaginanya yang sempit itu, kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun sambil ia mengerang-erang. Lucky pun juga mengeluarkan suara erangan sambil tangannya kembali meremas-remas payudara Sakura dari luar bajunya.
“Ahhhhh… ahhhhhh… ahhhhh… ” desah lirih keluar dari mulut gadis cantik itu.
Posisi woman on top adalah posisi favorit Sakura, karena dia yang memegang kendali. Gadis 18 tahun itu memang mahir menggerakkan tubuhnya. Sakura memang aktif di ekskul dance sejak SMA dan sekarang pun dia ikut kursus belly dance, sehingga tubuhnya terbentuk indah dan goyangannya erotis sensual. Sudah banyak laki-laki yang tahu tentang Sakura “si dancer” yang mengkhayalkan Sakura menari seperti itu di atas tubuh mereka. Goyangan liar Sakura membuat Lucky tak bisa bertahan lama dan dia pun menyemprotkan spermanya ke liang gadis itu. Sakura kaget mendapat semprotan itu, bukan karena dia beruntung karena bukan masa suburnya saat itu, tapi karena dia masih belum puas sedangkan pacarnya sudah ejakulasi. Sakura yang belum mencapai orgasme makin mempercepat goyangannya agar dia bisa mendapatkan orgesmenya sendiri. Tapi apa daya penis Lucky telah lemas tak sampai 10 menit mereka berpacu. Sakura yang penasaran segera menarik vaginanya dari batang yang sudah lemas itu. Dia lalu merangkak kedepan dan memposisikan mekinya di hadapan wajah pacarnya.
“Aku tanggung banget nih babe. Bantu oralin sampai keluar dong. Please,” pinta Sakura dengan wajah merah memelas.
“Aaahh… udah Sak. Aku udah capek nih. Pake tangan sendiri aja sana!” kata Lucky egois.
“Ayo dong babe. Please. Tanggung banget tau,” bujuk Sakura lagi.
“Ahhhh… malas ah. Aku mau tidur. Capek. Lagian meki kamu bau peju.” Habis berkata begiu Lucky membalikkan wajah ke bantal.
Dengan kesal Sakura meninggalkan pacarnya yang egois dan tak sanggup memuaskannya. Dia menuju ke kamar mandi yang terletak di kamar kost itu. Dalam kamar mandi, gadis cantik itu masturbasi dengan memainkan jari-jari mungilnya di dalam memeknya. Dia berusaha mencapai puncak yang gagal dia dapatkan dalam persetubuhannya dengan pacarnya. Desahannya pun mulai memenuhi kamar mandi itu.
“Aah… ahh… aah…”
Sakura mendesah nikmat. Walau tak senikmat penis yang merangsek vaginanya, jari-jarinya lumayan bisa menjadi “pengobat rindu”. Anehnya Sakura masturbasi sambil mengenang pengalamannya waktu dioral tadi oleh Pandu. Dia teringat bagaimana rasanya saat lidah fotografer itu menari-nari menyapu dinding vaginanya. Sakura masih ingat saat lidah fotografer itu menyentuh klitorisnya, saat tangan Pandu memijati payudara kiri Sakura sembari tangan kanannya mengelusi paha dan pantatnya, dan Sakura saat itu membayangkan bagaimana Pandu juga ikut memainkan jarinya pada vagina Sakura. Gadis cantik itu teringat bagaimana hanya dengan permainan lidah, Pandu bisa membuatnya mencapai orgasme. Kenangan singkat di studio foto tadi itu semakin meningkatkan birahi Sakura, sampai akhirnya dia pun menjerit keras saat orgasmenya pun datang.
*****
Part 2. Dibayar
“bang pandu kpn byr yg 500. BU nih.”
SMS itu dikirim Sakura ke nomor HP Pandu. Sudah beberapa hari sejak pemotretan yang berujung bugilnya Sakura di studio Pandu, tapi fotografer itu belum juga membayar sisa yang dijanjikan. Sebelum mengirim SMS itu Sakura ditelepon customer service kartu kredit yang mengingatkan tagihan sebesar 2,5 juta belum dibayar. Sebelumnya lagi Sakura ditagih temannya yang membayari dia beli diktat kuliah. Dan sebelumnya lagi Sakura diingatkan administrasi kampus bahwa kalau uang kuliahnya belum dilunasi, dia tak bisa ujian. Dan sebelumnya… ah sudahlah. Intinya Sakura dalam kondisi BU. Butuh Uang. Dan yang bisa dia tagih adalah janji Pandu. Pacarnya? Sebagai mahasiswa biasa yang kurang kreatif, pacarnya lagi-lagi tidak bisa bantu, dan malah mendorong Sakura untuk cari job modeling lagi. Sakura mulai merasa pacarnya sebagai cowok “mokondo” yang cuma ingin gituan gratis tanpa ngasih apa-apa. Bahkan kepuasan pun kemarin tidak dia kasih. HP Sakura bunyi lagi. MMS dari Pandu. Lho, kok malah dikirimi foto cewek berkebaya? Sesudahnya Pandu menelepon.
“Halo, Sak. Pakabar? Sibuk gak?” sapa Pandu.
“Eh, bang. Aku mau nanyain. Kapan mau…” kata Sakura, tapi langsung dipotong Pandu.
“Sudah lihat gambarnya kan? Aku mau bikinin photoshoot tema kebaya, ada teman yang mau beli. KT (koleksi terbatas) lagi. Bisa sekarang gak? Kalau bisa aku jemput deh. Soal yang kemarin, itu aku mau lunasin sekarang. Cuma adanya cash, jadi sekalian kamu datang ke sini yah?”
Dicecar seperti itu Sakura tidak sempat mikir, dan cuma bisa mengiyakan. Ketika dia bilang “mau” Pandu langsung girang dan suruh Sakura menunggu di depan kampusnya, nanti akan ada yang jemput. Lalu telepon langsung ditutup.
*****
Setengah jam Sakura menunggu di depan kampus, tiba-tiba muncul seorang laki-laki jelek di hadapannya naik motor yang sama jeleknya. Lelaki itu sudah tua, umurnya setengah baya. Rambutnya sudah mulai beruban. Tubuhnya kurus ceking.
“Non Sakura yah? Saya Kosim, disuruh jemput sama Pak Pandu. Katanya suruh cari yang paling cakep di depan kampus, hak hak hak…” kata orang itu menggombal, disambung ketawa yang juga jelek.
Giginya yang ompong dan gayanya yang sok playboy menambah kesan seram pada diri lelaki setengah baya itu. Walau ada sedikit ragu tapi Sakura naik ke motor Kosim. Keduanya pun berangkat ke tempat Pandu. Sakura sengaja tak memberitahu pacarnya, karena masih dongkol tidak dibantu. Menurut Sakura, Kosim tidak jago mengendarai motor. Kosim sering sekali mengerem mendadak dan sering salah memilih jalan yang tidak rata. Akibatnya bukan cuma satu kali payudaranya membentur punggung Kosim (yang jelas menikmati saat-saat itu). Makanya Sakura lega ketika akhirnya motor Kosim sampai di depan studio Pandu.
“Hai, welcome,” sapa Pandu yang menunggu di depan studio dengan tersenyum lebar dan penuh arti.
Dengan semangat Pandu menyalami Sakura, sekaligus curi-curi meraba tangan halus model amatir itu. Di sebelah Pandu ada seorang perempuan 22-an tahun yang Sakura belum kenal. “Sak kenalin ini Chaewon.”
“Sakura,” kata Sakura menjabat tangan Chaewon. Sepintas Sakura memperhatikan pakaian Chaewon: rok Chaewon pendek sekali, memamerkan kakinya yang jenjang dan pahanya yang masih mulus.
“Hai, aku Chaewon,” jawab Chaewon dengan nada genit. “Aku yang minta Pandu bikinin foto-foto tema kebaya. Buat salonku. Eh kamu manggil Pandu biasanya gimana, Mas apa Pak apa ‘Om Pandu’?”
“Biasanya sih Bang Pandu,” kata Sakura.
Chaewon menyikut Pandu. “Kalo sama cewek yang seumuran ini Pandu pantasnya dipanggil ‘Om’. Sakura, yuk ikut ke dalam? Kita siap-siap dulu.”
Sakura, Pandu, dan Chaewon masuk. Kosim tetap di luar, nyengir mesum melihat Sakura dan Chaewon. Lelaki setengah baya itu menatap nanar kedua buah pantat gadis itu dari belakang. Tanpa sepengetahuan mereka, Kosim meraba-raba penisnya yang dari tadi sudah berdiri tegak.
*****
Sakura merasakan tangan Chaewon memasang anting di kanan kiri kupingnya. “Nah, selesai,” kata Chaewon. Cukup lama juga Chaewon mendandaninya. Sakura sekarang mengenakan busana sesuai tema, sehelai kebaya pendek dari bahan menerawang yang cantik berhias payet, hanya sedikit menutupi kemulusan kulit bahu dan lengan Sakura. Di balik kebayanya Sakura dipakaikan kemben tipis yang oleh Chaewon ditarik turun sehingga belahan payudara Sakura yang bagus mengintip di bagian leher kebaya. Bawahannya kain—tapi bukannya panjang sampai ke mata kaki, kainnya hanya sampai setengah paha, jadi malah seperti rok mini. Secara keseluruhan kesannya lebih banyak sexy daripada anggun. Tadi selain memperhatikan rok Chaewon yang pendek dan suara Chaewon yang genit, Sakura juga menganggap pemilik salon berumur 30-an itu memakai make-up tebal. Mirip cewek nakal, pikir Sakura. Ternyata dia dibegitukan juga oleh Chaewon, dirias cukup serius. Lipstik merah dan eyeshadow biru. Sakura awalnya mau protes, tapi sesudah melihat hasil akhirnya dia suka, wajahnya jadi terkesan lebih sensual. Lagipula sehari-hari pun Sakura memang biasa pakai kosmetik untuk tampil di kampus. Rambut panjang Sakura disanggul sederhana di belakang atas kepala.
“Wuihhh… kereeen… kayak bidadari turun ke bumi…” puji Pandu ketika Chaewon mengantar Sakura masuk ruang pemotretan.
Sakura malu-malu, sambil bertanya seolah tidak percaya, “Beneran keren Bang?” yang dijawab anggukan dan senyuman Pandu. Tanggapan itu membuat Sakura tersipu-sipu, dan makin percaya diri.
“Ayo kita mulai.”
Sakura berdiri di sebelah bangku di depan latar belakang polos. Pandu mengagumi hasil karya Chaewon di penampilan si model. Sekaligus membayangkan apa yang bakal dia lakukan berikutnya. Tentu tak hanya memotret...
“Kita mulai pose duduk dulu, kamu duduk di bangkunya,” kata Sakura. Pandu memotret beberapa kali. Chaewon membantu mengarahkan Sakura berpose. Tak lama kemudian Chaewon bilang, “Aku tinggal dulu ya. Bikin foto-fotonya yang cantik. Daah.”. "tunggu" Pandu mencegah Chaewon dan meminta dirinya berpose dengan Sakura dan Chaewon, "untuk kenang-kenangan" kata Pandu
*****
Ketika Chaewon mau keluar dari ruang pemotretan, dia melihat Kosim mengintip di balik pintu.
“Heh!” kata Chaewon mengagetkan Kosim. “Hayo, lagi lihat apa?”
“Heeheeheehhee...” Kosim ketawa-ketawa tidak jelas. “Ngelihatin Non Sakura. Cakep sih.”
“Huuu, dasar mesum,” kata Chaewon sambil menoyor Kosim. “Pantesan betah banget kerja di sini. Pandu sering bawa cewek kan.”
“Iya... Iya mbak,” balas Kosim. “Apalagi Non Sakura ini. Wuiih. Tadi sih pas nganterin dia...”
“Kenapa?”
“Sempet ngerasain toketnya hihihi... Gede empuk, pasti enak tuh...”
“Emangnya kamu apain dia??”
“Tadi nyenggol-nyenggol pas di motor, mbak. Eh, kayaknya gedean punya dia deh daripada punya mbak...”
Chaewon panas. Dia langsung tarik kerah kaos Kosim.
“Enak aja panggil mbak, mbak. Lu kira gue udah setua itu hm?” katanya sambil pasang muka galak di depan Kosim yang tetap nyengir kurang ajar. Tapi lantas tangan Chaewon bergerak menggerayangi tubuh Kosim, sampai ke jendolan di depan celana Kosim. “Apa nih... Ckckck... Lu konak ya? Kenapa, konak juga sama mbak-mbak kayak gue?”
“Iya dong... biar Non Sakura toketnya lebih gede... tapi mbak Chaewon tetep seksi... ADAWW!!” Kosim menjerit karena biji-nya diremas Chaewon.
“Panggil gue mbak lagi... padahal ngaceng juga... awas lu ya?” ancam Chaewon. Tapi wajahnya berubah dari galak ke senyum nakal. Chaewon menarik Kosim pergi dari situ.
*****
“Sak, sekarang kamu pose berdiri ya,” kata Pandu sesudah sekitar 10 kali memotret Sakura yang duduk manis. Untuk membantu Sakura agar makin luwes berpose, Pandu memutar musik dance. Ternyata Sakura bereaksi; mengikuti naluri dancer-nya, Sakura tanpa malu-malu bergoyang.
“Musiknya asyik nih Bang,” kata Sakura, tersenyum-senyum.
“Tapi jangan terlalu hot goyangnya, nanti susah difoto,” Pandu tertawa melihat Sakura menari-nari, tidak tahan terbawa irama. “Eh Sak kamu bisa ngedance ya? Kelihatannya udah biasa tuh.”
“Bisa Bang, aku kan dulu idol HKT48,” kata Sakura. “Suka nggak ngelihatnya?”
“Suka, suka banget dong. Ntar kapan-kapan clubbing bareng, yuk. Pasti asyik nih ngedance bareng kamu,” ajak Pandu. “Tapi sekarang kita foto-foto dulu ya.”
Beberapa kali foto kemudian, mulailah Pandu menjalankan rencananya. “Sak, bikin foto seksi lagi yuk...”
Sakura senyum. “Dibayar lebih gak Bang?” tanyanya.
“Tenang ajaaa. Apa sih yang ga bisa buat Sakura. Gini, ngelihatin kamu pake baju itu aku jadi punya ide. Gimana kalau... Kamu pake kebaya sama kainnya aja, ga usah sama kembennya?”
“Ihh gila. Kebaya-nya kan tipis transparan gini Bang?” ujar Sakura tak percaya. “Entar tetep kelihatan dong semuanya...”
Pandu mendekati Sakura dan memegang kedua bahu Sakura. “Itu intinya Sak... bikin foto seksi pake kebaya ini.”
Sentuhan Pandu entah kenapa membikin Sakura teringat lagi orgasme waktu itu. “Tapi entar beneran dibayar yaaa...” pinta Sakura.
“Pasti Sak... sekarang buka kembennya ya?” bujuk Pandu.
Sakura masuk ke ruang ganti untuk mengubah penampilan seperti yang diminta Pandu. Agak repot berubah kostumnya karena yang diminta dibuka itu dalaman. Jadinya Sakura buka kebaya dulu, lalu buka kemben, dan memakai lagi kebaya tipisnya. Bahannya yang menerawang sama sekali tidak menutupi keindahan tubuh atas Sakura. Bahkan bentuk payudaranya terlihat jelas. Hanya saja putingnya tertutup ornamen payet di kebaya itu. Malu-malu, Sakura kembali ke tempat pemotretan dan mulai berpose. Pandu menjepret berkali-kali, sambil terus memuji keseksian Sakura. Kadang Pandu menunjukkan foto yang diambilnya ke Sakura dan bilang bahwa Sakura kelihatan cantik di foto itu. Dan sedikit demi sedikit Pandu berusaha mengurangi tutupan pakaian di badan Sakura. Pertama-tama kancing kebaya lepas satu demi satu. Kain penutup tubuh bawahnya juga diminta disingkap sehingga paha Sakura pun tampil utuh di kamera. Pandu terus mengarahkan dan memberi semangat
“Iya gitu posenya Sak” “Cakep Sak” “Yang tadi bagus banget” “Kamu bakat jadi model besar nantinya” “Senyum yang manis Sak!”
Dipuji seperti itu membuat Sakura makin pede. Sesudahnya Sakura makin santai dan foto-foto yang dibuat makin berani. Kainnya pun disuruh lepas, memperlihatkan bahwa di bawah kain itu Sakura memakai CD putih transparan. Pada satu pose, Pandu menyuruh Sakura berpose merangkak membelakanginya. Ketika berposisi itulah Pandu memperhatikan... ada yang basah! Sakura mulai terangsang! Pandu lalu menyuruh Sakura telentang dengan alasan mau memotret pose seperti itu dari atas. Sakura masih memakai kebaya tipis tapi bagian bawah tubuhnya hanya tertutup CD. Pandu berdiri mengangkang di atas tubuh telentang Sakura dan memotret terus.
“Buka kakinya Sak” perintah Pandu, sambil dia melangkah mundur. Sakura merenggangkan kedua pahanya, selangkangannya terbuka di depan pandangan Pandu. Pandu jongkok dan mengarahkan kameranya ke arah kemaluan Sakura.
“Lebarin lagi,” suruh Pandu sambil memegang dan merentangkan paha Sakura lebih lanjut. Pandu bisa mendengar nafas Sakura memburu ketika selangkangannya yang basah di balik CD dipotreti Pandu dari dekat. Si model itu malah nafsu ketika difoto dalam posisi tak senonoh. Tanpa terasa Sakura jadi nafsu lagi ketika difoto. Rasa malu sudah hilang dalam diri gadis muda itu, yang ada malah sisi liar yang pelan-pelan terkuak dalam dirinya akibat pujian dan tatapan nafsu dari si fotografer. Sakura sudah mulai berimprovisasi dengan pose yang lebih menantang. Dada ditonjolkan, bibir dibasah-basahkan dan senyum nakal menggoda. Sakura malah tak butuh berpikir lama saat sang fotografer meminta dia melepas sisa penutup tubuh sexynya. Tanpa protes Sakura mencopot kebaya tipis dan CD. Tampaklah vagina yang masih sempit dan berwarna merah segar itu. Ada jeda sebentar ketika Pandu menikmati pemandangan indah itu, sebelum akhirnya kembali lanjut mengabadikannya dalam foto. Fokus jepretan adalah ke daerah di sekitar selangkangan gadis berusia 18 tahun tersebut. Bulu kemaluan si model yang nampak kontras dengan kulitnya yang putih mulus menjadi sasaran kameranya. Sakura benar-benar enjoy dan relax saat ini. Rasa malu sudah hilang. Ada kebanggaan tersendiri di dalam diri gadis muda itu saat menyadari dirinya dikagumi oleh lelaki. Apalagi Sakura tahu kalau Pandu sudah konak melihat kepolosan tubuhnya saat itu. Dia bisa menyaksikan tonjolan di balik celana fotografer itu.
“Gimana bagus ga poseku bang?” tanya Sakura.
“Bagus banget. Sumpah, aku suka banget Sak.”
“Kalau suka berarti nanti honornya dobel dong. Hehe….”
“Asal kamu mau nurut, honor tambahan ga masalah.”
“Siap Bos…” jawab Sakura.
Kemudian Pandu mulai berani menyentuh vagina gadis itu. Diusap-usapnya liang sempit itu, dengan alasan biar basah dan bagus ditangkap kamera. Malah Pandu meminta Sakura untuk menggosok-gosok vaginanya sendiri sambil difoto. Trik si fotografer berhasil, karena Sakura makin lama makin horny. Rasa canggung melakukan masturbasi di depan orang lain sudah hilang. Yang ada malah rasa nafsu yang mulai menjalar keseluruh tubuhnya. Bagaimanapun dia adalah gadis muda normal yang nafsunya cepat naik saat berduaan telanjang seperti ini.
“Ini saatnya,” kata Pandu dalam hati.
Dia mulai berani memajukan wajahnya ke Sakura. Sakura yang sudah terangsang tak bisa menolak saat fotografer cabul itu melumat bibirnya. Mereka melakukan french kiss. Pandu kemudian mengarahkan tangan gadis itu ke celananya. Sambil berciuman dengan hot, si model amatir itu meremas batang Pandu. Pandu keluarkan penisnya dari celana, Sakura bisa melihat batang kokoh itu. Belum sempat gadis itu memegang kontol Pandu, Pandu sudah menggerakkan badan dan siap mengarahkan kontolnya ke liang gadis itu. Sakura kontan bergerak menolak saat Pandu menggesekkan batangnya.
“Jangan Bang. Ga mau sejauh itu…”
“Ayolah Sakura. Kita berdua udah sama-sama horny nih. Ayo kita tuntasin, sayang…”
Tapi Sakura masih menolak dengan tegas. Dia tak mau dicap gadis gampangan. Pandu berusaha membujuk gadis itu dengan diiming-imingi bayaran asal mau menurut. Lama-lama Sakura goyah juga. Dirinya memang sedang butuh uang.
“Okelah bang. Tapi jangan ML ya. Aku sepong aja gimana?”
“Ya udah kalau gitu,” kata Pandu sambil menarik kepala gadis itu dengan kasar ke batangnya. Dia agak kesal karena belum dapat menembus pertahanan Sakura sepenuhnya.
Sakura menatap sebentar batang hitam besar itu sebelum akhirnya memasukkan batang Pandu ke bibir mungilnya. Penis di mulutnya ia hisap, oral sex bukan hal yang aneh buat gadis seperti dia, maka ia pun menggunakan semua pengalamannya dalam urusan sex, agar semuanya cepat selesai.
“Arghhhhhhh…” desah Pandu menikmati perlakuan Sakura.
Sakura menahan bau penis itu dengan berkonsentrasi mengulum. Penis Pandu ia hisap dari pelan lalu keras lalu pelan lagi, diselingi pula dengan jilatan-jilatan yang membuat Pandu belingsatan. Kemudian Pandu minta mengubah posisi jadi 69 dengan pria di atas. Dia juga ingin menikmati vagina gadis itu. Sakura sepertinya tak punya pilihan dan membiarkan Pandu menaiki tubuhnya.
“Memek super nih…” kata fotografer itu. Pandu benar-benar mengagumi meki Sakura yang memang OK punya, masih kelihatan garis vertikalnya dengan kelentit yang sungguh imut dan mengeras. Segera Pandu meremas pantat Sakura dan menjilat perlahan paha dalam Sakura sebelum memasuki area vagina. Sakura melenguh, dan fotografer itu makin terangsang dengan suara sang model yang sendu. Sakura memainkan penis Pandu yang menggantung dengan mulutnya. Sedangkan Pandu sibuk melumat vagina Sakura, sampai membuat paha mulus Sakura menegang dan menjepit kepala fotografer cabul itu. Benar-benar pemandangan yang sanggat menggetarkan jiwa. Kalau saja cowok Sakura melihat, bisa-bisa kedua orang ini dibunuhnya karena kalap.
Sakura yang makin terangsang karena mekinya dikerjai Pandu makin lama makin meningkatkan permainannya juga. Penis si fotografer yg besar dan panjang itu dikocok dengan cepat dan kepalanya langsung dijilati, diisap-isap, dikelamuti dan diemut-emut. Kadang penisnya dimasukkan mulut sampai hampir separo dan kemudian dikenyut-kenyut dengan mulut dan lidahnya. Pandu yang sudah punya jam terbang tinggi menghentikan sejenak aktivitasnya lalu menghadap Sakura. Dia tahu Sakura sudah sangat terangsang. Ini saatnya dia menikmati hidangan utama dari semua “perjuangan”-nya beberapa hari ini. Dilihatnya wajah gadis itu sudah merah karena horny.
“Kamu sudah horny banget ya. Jadi gimana nih kelanjutannya…” Pandu menggoda Sakura dengan menggesekkan penisnya ke vagina Sakura yang basah. Sakura hanya diam saja sambil menggigit bibirnya. Walau sudah terangsang, dia masih tetap jaga image untuk tidak minta duluan.
Pandu terus menggoda Sakura, sambil membisiki Sakura, “Mau nggak… kalo mau minta dong.” Pandu mau membuat Sakura minta dicoblos sendiri. Sentuhan ujung penis Pandu di bibir vagina Sakura membuat Sakura menggeliat. Gesekan-gesekan Pandu di luar vaginanya membuat Sakura akhirnya luluh, dia sudah tak peduli dengan tawaran bayaran Pandu. Dia minta dimasuki.
“Ayo masukin Baaang… Sakura sudah ga tahan!” gadis itu meminta.
“Masukin apa sayang?” Pandu masih tetap menggoda.
“Masukin kontol abang ke memekku… Cepetan. Please!” pinta gadis itu.
Pandu tertawa penuh kemenangan. Dan perlahan tapi pasti, fotografer itu mulai mendorong pantatnya maju, membuat penisnya menyeruak masuk ke dalam vagina Sakura secara perlahan-lahan. Sakura meringis menahan sesak pada vaginanya. Vaginanya masih sempit, terlalu kecil untuk dimasuki penis yang berukuran di atas rata-rata itu. Pandu sendiri merasa kesulitan saat memasukkan penisnya ke dalam vagina Sakura. Dia merasakan jepitan vagina Sakura begitu kuat, seperti melawan desakan penisnya, tapi dengan satu dorongan kuat, penis si fotografer akhirnya amblas seluruhnya di dalam vagina Sakura.
“Ahhhkk…” Sakura merintih kecil merasakan sesuatu yang besar memenuhi liang vaginanya yang sempit.
“Ehhh… akhirnya masuk juga…” fotografer itu mengerang lirih. “Gila, memekmu masih kenceng banget… jarang dipake sama cowokmu ya?”
Pandu sedang meresapi nikmatnya jepitan vagina Sakura yang masih sempit untuk beberapa saat. Baru kemudian secara perlahan si fotografer mulai menggoyangkan pantatnya, melakukan gerakan memompa untuk menggenjot vagina Sakura dengan penisnya, mula-mula pelan, tapi saat vagina Sakura mulai terbiasa oleh penisnya, dia mulai mempercepat genjotan.
Badan Sakura terguncang-guncang keras maju mundur, kakinya mengejang-ngejang dan menyentak-nyentak, kedua payudaranya bergoyang cepat, kepalanya terdongak ke atas, dan bibirnya terkatup rapat antara menahan sakit dan sensasi yang dirasakan di dalam vaginanya. Melihat itu Pandu jadi makin nafsu, sambil terus menggenjot vagina Sakura dia juga menciumi dan menjilati payudara Sakura sambil sesekali bibirnya mengulum puting susu Sakura. Kenyotan bibir si fotografer pada payudara Sakura menimbulkan sensasi baru dalam tubuh Sakura, membuat gerakannya menjadi semakin liar.
“Aaahhh… ooohhhhh... aaahhhh... ooohhhh…” desahan keras Sakura mulai terdengar manja.
Rasa sakit pada vaginanya sudah hilang dan digantikan oleh kenikmatan yang luar biasa. Pandu sangat lihai memainkan penisnya, ditambah lagi kata-kata Pandu yang memuji sekaligus mengintimidasi Sakura yang membuat gadis itu makin melayang. Sungguh kenikmatan yang tiada tara bagi Sakura. Setelah 10 menit, si fotografer menyuruh Sakura menungging di atas sofa, lalu kembali diserangnya vagina Sakura dari belakang seperti seekor anjing. Kedua tangan kekarnya memegang pinggul Sakura dan menariknya hingga posisi pantat Sakura kini merapat dengan pinggul si fotografer, membuat penis Pandu membenam seluruhnya di dalam vagina Sakura.
“Aaghhhhh!" erang si model dengan mata terpejam ketika penis Pandu mulai memasuki tubuhnya.
Lalu mulailah Pandu menggenjot kembali vagina Sakura dengan kedua tangan memegangi pinggul Sakura. Dia mulai memaju-mundurkan kemaluannya mulai dari irama pelan kemudian makin cepat sehingga membuat tubuh Sakura tersodok-sodok dengan kencangnya.
"Aahh… aahh… aahhh… oohh… oohh…” Sakura kembali menjerit-jerit saat Pandu menggenjotnya lagi.
Tubuhnya sekarang basah oleh keringat. Payudaranya yang menggantung indah bergoyang-goyang seirama genjotan si fotografer itu. Perlahan Pandu mulai menjamah payudara Sakura dari belakang, sambil terus menggenjot vagina Sakura. Dia juga meremas-remas payudara Sakura. Erangan-erangan Sakura semakin keras, badan dan kepala semakin bergoyang-goyang tidak beraturan mencari titik-titik nikmat di dalam vaginanya.
“Ahhhhh… terus… sodok… bang… Ahhhhhh….”
Sakura semakin larut dengan permainan lelaki itu pada vaginanya. Pandu memompa vagina Sakura dengan cepat kemudian melambat dan cepat lagi, begitu seterusnya. Ini membuat Sakura semakin mendesah-desah keenakan, lelehan cairan kewanitaannya sudah keluar dan membasahi kedua paha bagian dalam Sakura.
Saking larutnya dalam permainan, tanpa sadar Sakura menggerakkan pinggulnya apabila si fotografer dengan sengaja menghentikan genjotan pada vagina Sakura. Sakura dibuat melayang-layang. Sungguh kenikmatan seks yang belum pernah dia dapatkan dari Lucky pacarnya. Kalau sedang seperti ini, Lucky pasti sudah keluar dari tadi. Tapi Pandu berbeda, dia masih bertahan memuaskan gadis muda itu. Sakura menggerakkan badannya sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam ke liangnya. Dia sepertinya sudah mau orgasme. Mengetahui Sakura sudah di ambang klimaks, tiba-tiba Pandu melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya Sakura membalikkan badan, berhadapan dengannya. Sakura harus mengakui stamina fotografer cabul ini sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsunya yang menggebu-gebu. Pandu memberi isyarat sambil menunjuk batangnya yang perkasa agar dinaiki Sakura. Sepertinya Pandu membiarkan gadis manis itu untuk mencari kepuasan sendiri dalam gaya woman on top, yang memang disenangi Sakura. Tanpa ragu si model amatir menuntun penis Pandu yang sudah mengeras ke arah vaginanya dan Sakura mengambil posisi menduduki perut Pandu yang buncit. Dengan bernafsu Sakura menggoyangkan pinggulnya diatas tubuh gempal itu. Sakura sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggama sungguh membuatnya seperti terbang ke awang-awang.
“Ahhhh… ahhhhh… ahhhhhh…” desah gadis itu sambil menaikturunkan tubuhnya. Payudaranya yang besar itu naik turun seirama goyangan tubuhnya. Benar-benar pemandangan yang menggiurkan.
"Ayo... goyang Sak... oohh!" Pandu sepertinya ketagihan dengan goyangan gadis itu. Pandu meraih kedua bukit mulus itu, meremas dan memilinnya, sehingga membuat Sakura makin liar saja.
“Hebat banget goyangan kamu Sakura. Kapan pertama kali ngentot?” tanya Pandu sambil tetap meremas dada gadis yang sedang “bekerja” itu.
Sambil menggoyangkan pinggulnya, Sakura menjawab terbata-bata, “Dulu di… SMA… hhhmmmhh… pas kelas… dua… aah…!” jawabnya.
“Sama siapa?”
“Sama… penjaga sekolah dan tukang sapu… ahhhhh…” desah Sakura dengan tertahan karena takut suaranya kedengaran sampai keluar ruangan studio foto.
Dia makin liar memacu dan menggoyangkan pinggulnya. Pandu juga ikut melenguh keras saat merasakan vagina Sakura berkontraksi hebat seolah menyempit mencengkeram penisnya. Dilihatnya wajah Sakura merah padam menahan desakan orgasme.
‘Oh… bang... Sakura… mau ke… lu… ar… rrrrr!” jerit Sakura.
Pandu juga merasakan akan segera orgasme. Sekitar 2 menit kemudian, akhirnya fotografer itu mengirimkan hentakan yang cukup keras disertai lenguhan panjang. Demikian pula halnya Sakura yang mencapai klimaks secara bersamaan, matanya membeliak dan tubuhnya berkelejotan. Ketika Sakura memandang ke depan, dilihatnya wajah fotografer itu sedang menatapnya dengan takjub, segaris senyum terlihat pada bibirnya, senyum kenikmatan karena telah berhasil menikmati modelnya sendiri.
===
Sesudah beristirahat, mereka akhirnya bangkit, bebersih, dan berpakaian. Sakura agak lama bebersih di kamar mandi karena dia sekalian menghapus rias wajahnya. Kemudian dia kembali memakai baju biasa. Ketika keluar lagi, dia melihat Pandu menonton foto-foto di kamera.
“Besok mampir sini Sak, kita lihat bareng foto-fotonya yang udah diolah,” pesan Pandu. Sakura tak memperhatikan itu.
“Bang, bayaranku?” pintanya.
“Oh, iya,” kata Pandu, lalu dia merogoh dompetnya. Sepuluh lembar seratus ribu disodorkan. Sakura menghitungnya.
“Delapan… sembilan… sepuluh… Kok cuma sejuta Bang?? Kurang nih!” protes Sakura. “Kan kemarin yang belum dibayar lima ratus, terus buat shoot yang ini lima ratus, sama tadi… tadi Bang Pandu ngejanjiin sejuta lagi kalau kita…”
“Sori banget Sak! Adanya baru segitu. Tadi Chaewon baru bayar DP aja, jadi duitnya yang ada ya segini. Makanya besok kamu datang, ntar aku bayarin deh sisanya!” Pandu ngeles, padahal sebenarnya dia sengaja mengikat Sakura.
“Awas ya Bang. Beneran dibayar loh! Kalo enggak…” ancam Sakura, tapi wajah gadis itu senyum-senyum karena merasa kemaluannya ngilu seperti masih ada penis di dalamnya.
“Kalo enggak apa?” goda Pandu.
“…Ada deeh,” Sakura balas meledek. Pandu tertawa dan merangkulnya.
“Yaudah, makasih ya buat hari ini. Ntar biar Kosim yang antar kamu pulang.”







.jpg)
Comments
Post a Comment