Terasa hangat, harum, dan empuk. Malih membuka matanya.
“pagi, Pak…”, sapa Hyewon dengan senyuman manis.
“eh non Hyewon..”, ujar Malih pelan sambil mengucek-ngucek matanya. Rupanya, ia tidur sambil memeluk tubuh Hyewon, pantas terasa hangat, harum, dan empuk. Hyewon bagaikan guling untuk Malih. Lihat saja, posisi kaki kiri Malih ada di atas tubuh Hyewon, persis seperti sedang mengkekep guling. Rupanya, Malih hanya bermimpi saja. Mimpi menyetubuhi Sakura lalu tertangkap basah oleh Yena, Chaewon, dan juga Hyewon ternyata hanyalah mimpi belaka. Padahal terasa begitu nyata, kenikmatannya benar-benar terasa nyata. Sepertinya, Malih tertidur setelah bercinta penuh gairah dengan Hyewon. Kaki Malih pun turun dari paha Hyewon.
“Pak Malih. Hyewon mau mandi ya..”.
“oh iya, non…”. Malih mengangkat tangannya dari tubuh Hyewon. Gadis cantik itu turun dari ranjang. Sungguh pemandangan yang indah di pagi hari. Hyewon membuka hordeng dan juga jendela, membiarkan sinar dan udara pagi masuk ke dalam kamar.
“Pak Malih mau ikut mandi sama Hyewon nggak ?”.
“nggak, non. Bapak masih lemes..”.
“oh, yaudah. Hyewon mandi dulu yaa…”.
“iya, non…”. Benar-benar terasa seperti di surga bagi Malih, melihat seorang gadis muda yang cantik bak bidadari berlenggak-lenggok di depan mata tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya. Hyewon masuk ke dalam kamar mandi, tapi dia membiarkan pintu kamar mandi tetap terbuka. Seolah-olah memberikan kemudahan bagi supir tuanya itu jikalau ingin menyelinap dan ‘menyergap’nya di kamar mandi seperti yang biasa terjadi di rumah Hyewon sehari-hari. Berbarengan dengan keluarnya Hyewon dari kamar mandi, aroma harum nan segar pun menyebar keluar dari kamar mandi. Hyewon tersenyum ke Malih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk sementara keseluruhan tubuhnya tak tertutup apapun. Acara tv sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan pemandangan yang sedang disaksikan Malih yaitu Hyewon mengenakan pakaian satu per satu.
“ayo Pak, mandi, udah siang tuh…”, ujar Hyewon duduk di tepi tempat tidur.
“mm…iya, non. ntar aja”.
“dasar bandel…”, ucap Hyewon gemas.
“ya udah kalau gitu, Hyewon turun yaa. mau buat sarapan. Pak Malih mau sarapan apa ?”.
“apa aja deh, non…”.
“oke, Pak. ntar Hyewon panggil kalau udah jadi yaa..”.
“makasih, non…”.
“hmm hmm hmm”,
Hyewon menuruni tangga sambil bersenandung senang. Mahasiswi cantik itu kelihatan senang sekali. Tadi malam dia habis bercinta penuh gairah dengan supirnya yang sudah tua itu. Rahimnya menjadi sasaran tembak bagi Malih tadi malam. Mungkin berjuta-juta sperma Malih kini masih berusaha membuahi sel telur Hyewon sejak persenggamaan mereka berdua tadi malam. Sementara Malih masih diam di tempat tidur, memikirkan mimpinya.
Sayang cuma mimpi, padahal, pasti rasanya nikmat bisa ‘mempecundangi’ Sakura. ABG yang cantik, berkulit putih mulus dan mempunyai leher serta sepasang kaki yang jenjang. Merasa sudah segar, Malih mandi dan mengenakan kemeja dan celana panjangnya yang kemarin.
“Pak ! sarapannya udah jadi !”.
“iya, non !”. Malih bergegas turun ke bawah.
Terkejut sekali Malih ketika di bawah. Yena, Chaewon, Sakura, dan Hyewon, semuanya hanya mengenakan tanktop dan hotpants saja. Seketika burung Malih langsung bangun dari tidurnya melihat pemandangan indah itu. Pria mana yang tidak ereksi melihat 4 gadis muda belia yang semuanya cantik dan memiliki tubuh seksi mengenakan tanktop ketat dan hotpants. Keseksian tubuh 4 gadis belia itu benar-benar memanjakan mata Malih.
“eh, Pak Malih udah bangun…”, sapa Chaewon.
“iya, neng Chaewon..”. Malih buru-buru duduk agar tonjolan di celananya tidak terlihat siapapun.
“ini, Pak makanannya…”, Sakura menyerahkan makanan ke Malih. Harum seperti dalam mimpi, pikir Malih saat tubuh Sakura cukup dekat dengannya. Mereka pun sarapan bersama di meja makan. 4 mahasiswi itu bercanda-canda sambil sarapan seakan tak ada Malih. Malih pun merasa bingung. Dengan mengesampingkan Hyewon, apa Yena, Sakura, dan Chaewon tidak risih hanya mengenakan tanktop dan hotpants, padahal ada dia, pikir Malih. Usai sarapan yang penuh ‘godaan’, Malih izin ke kamar mandi. Seperti kemarin, dia melepaskan ‘ketegangan’nya dengan buang air seni. Keempat bidadari sedang duduk-duduk di depan tv.
“tok tok tok !!”.
“iyaa sebentar !!”, teriak Sakura yang bergegas ke arah pintu.
“Mang Asep !”. Sakura langsung memeluk pria tua itu. Asep dengan enaknya mencengkram dan meremas-remas kedua bongkahan pantat Sakura.
“maaf non, baru bisa balik sekarang…”.
“iya, Mang..”. Asep adalah penjaga villa Sakura sejak pertama kali ia beli villa itu. Sebagai penjaga villa Sakura, tentu saja pria tua itu sudah sering menikmati tubuh majikannya itu. Mungkin, bahkan sudah berpuluh-puluh kali Asep menggagahi majikannya yang sangat menggairahkan itu. Tak heran, tadi dia enak saja langsung meremasi pantat Sakura.
“non Sakura..”.
“eh ada Mang Karjo juga…”. Sakura langsung berpindah memeluk Karjo sampai kedua payudaranya yang besar menempel ke dada Karjo.
“non Sakura makin semok aja…”, hatur Karjo nakal sambil menepok kencang pantat Sakura.
“ah Mang Karjo. Mang Karjo ke mana aja sih ?”.
“non Sakura yang kemana aja. ditungguin juga dari kemaren-kemaren, baru keliatan sekarang…”, Karjo mencubit pipi Sakura, gemas dengan gadis cantik itu.
“maaf, Mang..namanya kuliah sibuk..hehe..”.
“iya, deh..”.
Karjo, teman Asep, sama-sama penjaga villa, namun dia menjaga villa yang jauh dari villa. Karjo hanya beruntung, temannya Asep, memilik majikan seperti Sakura, cantik, bahenol, sensual, dan hyper-sex. Saat pertama kali diajak Asep untuk 3-some dengan majikannya, Karjo mengira temannya itu hanya bercanda. Tapi Karjo tak menolak. Di pikirannya, lumayanlah ngentot ama tante-tante daripada nggak ada. Tak tahunya, majikan temannya itu, Asep, adalah Sakura yang saat itu masih kelas 3 SMA, cantik, putih mulus, dan sangat montok. Awalnya, Karjo tak percaya perkataan Asep. Namun waktu itu Asep langsung membuktikan dengan menelanjangi Sakura dan tak mendapatkan perlawanan sedikit pun. Sejak saat itu, Karjo pun ikut terlibat dalam persenggamaan antara pria tua dengan seorang gadis cantik sampai sekarang.
Setiap kali Sakura akan datang dan berlibur ke villanya, pasti Karjo langsung datang ke villa Sakura, baik itu diberi kabar oleh Asep ataupun dari Sakura sendiri. Pria mana yang tidak ‘rutin’ bercinta kalau pasangannya, ABG cantik seperti Sakura, tak heran Karjo dan Asep sangat rajin ‘menemani’ Sakura di villanya.
“kita kangen nih, non…”. Asep menyingkirkan tangan Karjo dari pantat Sakura karena dia ingin menggesek-gesekkan kemaluannya ke pantat Sakura.
“hmmmm….kangen yaa…”, gerakan dan suara Sakura begitu sensual, apalagi ia menggerakkan pantatnya, merespon aktivitas Asep. Karjo tak mau kalah, dia juga menggesekkan kemaluannya ke V-zone Sakura. Bidadari bertubuh indah itu pun merasa begitu sensual dan erotis, membiarkan 2 pria menggesek-gesekkan kemaluan mereka masing-masing ke bagian bawah tubuhnya. Malih yang tadi penasaran siapa yang datang, tak percaya apa yang ia saksikan di ambang pintu. Bidadari ‘fantasi’nya berada di himpitan 2 pria tua yang jelek. Sakura terlihat terangsang dan bergairah menikmati pantat dan daerah Vnya yang masih terlindungi hotpants digesek-gesek oleh 2 pria tua dengan kemaluan mereka yang juga masih tertutup celana.
“aw”, Malih berteriak dalam hatinya seketika ia mencubit kencang tangannya sendiri, memastikan ini bukan mimpi. Pemandangan Sakura terhimpit dan digesek-gesek oleh 2 pria paruh-baya nan jelek, kontan membuat ‘telunjuk’ Malih tegak mengacung. Padahal, dia hanya dapat menggagahi Sakura dalam mimpi. Tapi kenapa 2 pria itu terlihat mudah sekali meletakkan tangan mereka di tubuh indah Sakura. Malih merasa kesal sekaligus cemburu.
“udah ah, mending masuk dulu…”.
“hehe..oke, non…”. Sakura cukup terkejut, ternyata ada Malih yang memperhatikannya.
“eh Pak Malih…”.
“e eh non Sakura…”, Malih salah tingkah dan membereskan tonjolan di celananya.
“siapa non ?”.
“oh iyaa, kenalin, ini namanya Pak Malih, supirnya Hyewon..”, Sakura memperkenalkan Malih. Dia terlihat biasa saja, kejadian gesek-menggesek di depan pintu tadi seperti tak pernah terjadi.
“Malih..”.
“Asep….”.
“Karjo…”.
“semuanya, ada Mang Asep sama Mang Karjo nih…”.
“Mang Asep !!”, teriak Yena, dia langsung bangun dan mendekap Asep.
“Maaang Karjooo !!”, teriak Chaewon yang juga langsung memeluk Karjo. Apa-apaan nih ?, pikir Malih bingung. Tak masuk akal, bidadari cantik seperti Yena dan Chaewon langsung memeluk 2 pria tua jelek seperti Asep dan Karjo begitu saja bagaikan kekasih mereka saja. Yap, bukan hanya tubuh Sakura yang pernah dinikmati Asep dan Karjo, tapi juga Yena dan Chaewon.
“eh, non Hyewon…”.
“eh Mang Asep, Mang Karjo…”, sapa Hyewon biasa saja. Hanya Hyewon yang tak pernah di icip kedua pria penjaga villa itu, Sakura sendiri yang melarangnya.
“huft…”, Malih agak merasa lega, majikannya sekaligus ‘istri-istrian’nya itu kelihatan biasa saja, tak ada reaksi spesial. Tapi, tetap saja Malih merasa sangat cemburu, Sakura, Yena, dan Chaewon menyambut Asep dan Karjo dengan ‘hangat’ bagai superstar padahal wajah mereka tak lebih tampan darinya. Asep dan Karjo pun nimbrung nonton televisi.
“non, ke dapur sebentar deh”, isi sms Malih ke nomor Hyewon. Hyewon yang selalu memegang hpnya langsung ke dapur setelah membaca sms dari Malih.
“ada apa, Pak ?”.
“itu Asep dan Karjo..siapa sih, non ?”.
“kalau Asep, penjaga villa ini. kalau Karjo temennya Asep…”.
“oh gitu. tapi kok, non, kayaknya neng Yena sama neng Chaewon keliatan deket banget sama Asep sama Karjo, langsung peluk terus cipika cipiki gitu ? udah gitu tadi di depan pintu, neng Sakura digrepe-grepe sama mereka ?”,
Malih benar-benar penasaran karena rasa cemburu ke Asep dan Karjo yang baru datang tapi langsung bisa menyentuh ketiga dara cantik itu dengan mudah. Sedangkan, ia dari kemarin hanya bisa membayangkannya.
“emm….sini Hyewon bisikkin…”.
Wajah Malih menunjukkan ekspresi terkejut mendengar jawaban dari Hyewon.
“ah yang bener, non ?!”.
“iya, bener, Pak…”.
“jadi neng Yena, neng Chaewon, sama neng Sakura itu doyan ngesex ? terus Asep ama Karjo itu udah sering ngesex sama neng Yena, Chaewon, sama neng Sakura ?”.
“iya, Sakura malah udah dari SMA, gituan sama Asep n’ Karjo…”.
“tapi non Hyewon belum pernah kan ngesex sama mereka berdua ?”.
“belum, Pak. tapi kayaknya Hyewon juga mau nyoba deh..”, goda Hyewon.
“e e eh jangan, non…”.
“loh ? kenapa, Pak ?”.
“non Hyewon cuma punya Pak Malih…”, pernyataan jantan keluar dari mulut Malih.
“hmm. Hyewon cuma bercanda kok…”, Hyewon manja sambil tersenyum “Hyewon cuma mau gituan sama Pak Malih, nggak mau sama orang lain…”, pernyataan balasan Hyewon.
Kata-kata itu terdengar indah sekali di telinga Malih sekaligus membangkitkan gairah. Tentu saja membangkitkan gairah, ucapan Hyewon tadi jelas sekali mengatakan kalau dirinya adalah milik Malih. ABG cantik itu sendiri yang secara langsung menyatakan kalau tubuhnya adalah tempat pelampiasan nafsu hanya untuk Malih.
“bener nih, non ?”.
“bener, Pak. mmm, kecuali…”.
“kecuali apa, non ?”.
“kecuali Pak Malih nyuruh Hyewon ngesex sama orang lain…”, jawab Hyewon untuk menggoda supirnya itu. Ugh, Malih benar-benar ‘gemas’ sekali dengan majikannya itu yang sedari tadi menggodanya dengan ucapan-ucapan yang nakal, membangkitkan gairah, dan tingkah manjanya.
Andai saja di rumah, mungkin Malih sudah memojokkan Hyewon ke sudut ruangan lalu melucuti atau bahkan merobek pakaian Hyewon dan langsung menggagahi majikan cantiknya itu saat itu juga karena Malih sudah benar-benar ‘gemas’, burungnya juga sudah tegangan tinggi. Hyewon yang sudah sering melayani nafsu Malih tentu tahu kalau supirnya itu sudah terangsang.
“kok di sini, Pak Malih jadi cepet bangun yaa ?”, goda Hyewon.
“dingin sih non..hehe”.
“mmm…Hyewon juga kedinginan, Pak”, gerakan-gerakan dan ucapan Hyewon benar-benar sensual. ABG cantik bertubuh sekal itu tahu benar caranya menggoda Malih. Apalagi, saat Hyewon pura-pura akan menarik turun hotpantsnya. Rasanya, Malih ingin sekali menghujamkan batang kejantanannya ke dalam tubuh ‘setan’ cantik yang sedari tadi menggodanya dengan sekuat-kuatnya.
“nggak apa-apa, non. non Hyewon nonton aja. Pak Malih nggak apa-apa, non”. Malih tahu kalau Hyewon siap untuk melayani nafsunya, tapi kasihan juga.
Tadi malam kan, Malih sudah ‘menyetrum’ majikannya yang cantik itu sampai benar-benar puas, masa sudah meminta jatah di pagi hari. Malih cukup memikirkan Hyewon juga. Hyewon kan ke villa Sakura karena ingin liburan, masa dia harus tetap terus menghabiskan waktu dengan otongnya, pikir Malih.
“yang bener, Pak ?”.
“iya, non…”.
“bener nih ?”, goda Hyewon lebih lanjut lagi dengan menurunkan hotpantsnya sampai setengah belahan pantatnya terlihat.
“iya, non…”. Hyewon benar-benar agresif, nakal, dan sangat menggoda.
“apa, Pak Malih mau…. ?”, Hyewon mendemonstrasikan seperti orang yang sedang menyepong.
“bener, non. nggak apa-apa, kasian non Hyewon. mau liburan di sini tapi malah sama Pak Malih terus…”.
“ya nggak apa-apa, Pak. kan Hyewon nggak kepaksa, berduaan sama Pak Malih…”.
“ya, tapi, Pak Malih pengen ngeliat non Hyewon seneng-seneng juga”.
“makasih yaa, Pak…”, Hyewon tersenyum, memberikan kecupan mesra ke kedua pipi Malih.
“yaudah, Pak. kalau gitu, kita nonton bareng-bareng aja yuk…”.
“ayoo, non..”.
Mereka bertujuh pun menonton bersama sampai sore. Asep, Karjo, dan Malih mulai dekat. Sesekali, Malih curi-curi pandang ke Sakura, Yena, atau Chaewon. Dia iri melihat Asep dan Karjo bisa dekat sekali dengan ketiga dara belia itu. Sementara Asep dan Karjo malah kebalikannya, ingin menjadi Malih karena Hyewon kelihatan manja sekali dengannya, maklum sampai sekarang, mereka berdua masih penasaran ingin mencicipi tubuh Hyewon.
“Pak..”, sapa Asep yang bertemu Malih di dapur saat dia mau mengambil minuman.
“eh Mas…”, bingung juga Malih memanggil apa ke Asep.
“Bapak, supirnya non Hyewon ya ?”.
“iya, Mas. saya supirnya..”.
“sudah berapa lama, Pak ?”.
“belum lama, Mas. baru beberapa minggu..”.
“oh. baru..”.
“Mas Asep udah berapa lama jadi penjaga villa neng Sakura ?”.
“sudah lama, Pak. kira-kira 7 tahunan lah…”.
“oh lama banget ya…”.
“Bapak, kayaknya umurnya 40an ya ?”.
“ah nggak, Mas. saya 58 tahun..”.
“berarti saya kalah dong, saya baru 52…”.
“oh..”.
“kalau si Karjo baru 49..”.
“oh…”.
“berarti Bapak paling sesepuh di sini. hahaha !!”, Asep berusaha mengakrabkan diri dengan Malih.
Seperti ungkapan orang-orang, “selalu ada maksud tersembunyi”. Asep berusaha akrab dengan Malih karena siapa tahu saja, jika Malih yang menyuruh, Hyewon bisa disenggamainya. Sama halnya seperti Malih yang tahu hubungan Asep dan Karjo dengan Sakura, Yena, dan Chaewon, Asep dan Karjo juga tahu hubungan Hyewon dengan Malih. Kedua penjaga villa itu diberi tahu Sakura tentang hubungan Hyewon dengan Malih, setiap harinya mereka selalu bersenggama seperti pasangan suami istri. Asep dan Karjo merasa menemukan jalan agar mereka bisa menikmati tubuh Hyewon yang sedari dulu mereka incar karena penasaran sekali. Jalannya adalah melalui Malih karena kata Sakura, Hyewon sangat mencintai Malih, tentu dia akan mematuhi perintah Malih.
 |
| Malih, si tukang sampah |
“oh iya, Pak Malih. saya denger dari non Sakura, katanya Pak Malih sama non Hyewon bukan cuma supir sama majikan. bener, Pak ?”.
“maksud Mas Asep ?”.
“ya Pak Malih sering ngentot sama non Hyewon kan ?”.
Deg, seketika Malih terdiam.
“kok Mas bisa tau ?”.
“non Sakura cerita ke saya…”.
“…”.
“Pak Malih benar-benar beruntung…”.
“kenapa emangnya, Mas ?”.
“ya bisa ngentot sama non Hyewon padahal baru kenal beberapa minggu aja…”.
“saya malah ngiri sama Mas Asep. bisa deket banget sama neng Sakura, neng Yena, n’ neng Chaewon…”. Yap ! Malih sudah terpancing oleh Asep. Pikiran kedua pria tua itu kini sudah selaras, sudah sama-sama mesum. Terbesit sebuah ide brilian di otak Asep dan Malih, sebuah ‘pertukaran’.
“saya punya ide, Pak..”.
“apa, Mas ?”.
“gimana kalau Pak Malih nyuruh non Hyewon ngentot sama saya n’ Karjo. nanti saya bilang ke non Sakura, supaya ngentot sama Pak Malih…”. Mendengar itu, Malih langsung bersemangat.
“oke oke ! deal !”. Sudah terbayang kemulusan tubuh Sakura di otak Malih. Asep dan Malih sudah sepakat, menukar ‘milik’nya yaitu Hyewon dan Sakura. Enak sekali kedua pria tua itu membuat perjanjian untuk bertukar pasangan begitu saja tanpa bertanya ke kedua gadis belia nan cantik jelita tersebut, seperti Hyewon dan Sakura cuma ‘barang’ pribadi milik mereka saja.
Asep dan Malih pun kembali ke ruang tengah.
“kok minumnya lama banget, Pak ?”, tanya Hyewon manja dan langsung ngegelendot ke bahu Malih.
“iya, non. aus banget…”. Malih bingung mau bilang apa ke Hyewon. Tak mungkin dia bilang ke Hyewon kalau dia ‘menukar’nya dengan Sakura. Sampai menjelang malam, Malih masih tak tahu harus bilang apa ke Hyewon. Asep sudah cerita ke Karjo. Dan kelihatan mereka berdua tidak sabar. Malih juga sudah membayangkan mimpinya kemarin malam akan terwujud.
“non, ikut Bapak ke dapur sebentar yuk…”. Hyewon mengangguk dan mengikuti Malih ke dapur.
“ada apa, Pak ?”.
“mm..soal yang tadi pagi..non Hyewon serius ?”.
“yang mana, Pak ?”.
“yang tadi…”.
“yang mana ?”, Hyewon bingung.
“yang soal ngesex sama orang lain…”.
“oh itu. emang kenapa, Pak ?”.
“non Hyewon serius nggak ?”.
“mm. iya, emang kenapa sih, Pak ?”.
“kalau Bapak nyuruh non Hyewon gituan sama Mas Asep n’ Mas Karjo. non Hyewon mau ?”.
“ha ? kok…? kenapa tiba-tiba Pak Malih nyuruh Hyewon gituan sama Mang Asep n’ Mang Karjo?”.
“aa ngg mm nngg…..gini, non…”. Malih merasa tak bisa bohong ke Hyewon, dia pun mengatakan yang sebenarnya.
“oh, itu alasannya. yaudah, Pak. oke deh, Hyewon nggak keberatan kok”, jawab Hyewon dengan respon yang baik.
“ha ? yang bener, non ? non Hyewon nggak marah ?”, tanya Malih keheranan yang sebenarnya sudah mempersiapkan diri kalau-kalau Hyewon marah dan ngambek.
“nggak, Pak. Hyewon tahu kok kalau Pak Malih naksir Sakura pas ngeliat Sakura…”.
“jadi non Hyewon udah tahu ?”.
“iya, Pak. Hyewon tahu, emangnya Hyewon nggak sadar..”, jawab Hyewon tersenyum manis dan mengelus pipi Malih.
“tapi, kenapa non Hyewon nggak marah ?”.
“kalau bisa bikin Pak Malih seneng, Hyewon nggak akan marah…”, ucap Hyewon penuh perasaan sebelum memeluk Malih.
“makasih banget, non. Bapak bener-bener beruntung dapet majikan kayak non Hyewon…”.
“ah, Bapak…”. Malih memang beruntung bisa mendapatkan hati Hyewon karena Hyewon akan baik sekali ke orang yang dicintainya.
“tapi, Pak…”.
“tapi apa, non ?”.
“jangan kecantol sama Sakura ya ?”.
“nggak, non. tenang aja, udah ada non Hyewon, bapak nggak bakal bener-bener naksir ke neng Sakura. hehehe…”.
“uh, dasar gombal…”, ledek Hyewon manja.
“yaudah, Hyewon mau ngomong dulu sama Sakura ya”.
“iya, non..”. Huft, lega sekali Malih. Tak disangka, majikan yang sudah seperti istrinya itu setuju dan sama sekali tidak marah kalau dia ingin bersetubuh dengan Sakura. Tak lama, Hyewon kembali ke dapur.
“Sakura juga setuju, Pak..”. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Malih tak menyangka kalau ini akan berjalan sangat sangat lancar, seperti dalam mimpi saja.
“beneran, non ?”.
“hm mh. Pak Malih duduk dulu di ruang tengah yuk…”. Dengan ditarik oleh Hyewon, Malih pun kembali ke ruang tengah dan duduk di sofa lagi. Sakura melemparkan senyuman ke Malih, seperti bahasa tubuh yang memberi tahu Malih kalau dia juga ingin diintimi olehnya.
“bapak-bapak sekalian, ditutup dulu ya matanya sebentar…”, ucap Sakura manja di depan ketiga pria tua itu.
Hyewon, Yena, dan Chaewon pun langsung menutup mata Asep, Karjo, dan Malih dengan kain.
“emang mau apa sih, non ?”, Karjo ingin tahu.
“udah, diem aja dulu, Mang. jangan ngintip yaa…”. Tidak beberapa lama.
“nah, sekarang boleh buka…”. Asep, Malih, dan Karjo langsung cepat membuka kain penutup mata mereka. Mereka bertiga terkejut, tercengang, dan terbengong-bengong melihat apa yang ada di depan mereka. Yena, Sakura, dan Chaewon telanjang bulat !. Tak ada sehelai benang pun menempel di tubuh seksi mereka bertiga.
“wah, nona-nona cantik ini mau show kayaknya nih…”, ucap Asep. Bagi Asep dan Karjo, melihat Sakura, Yena, dan Chaewon bugil sudah biasa. Tapi, beda dengan Malih. Supir Hyewon itu terbengong-bengong melihat ketiga dara itu telanjang bulat. Tubuh mereka bertiga benar-benar sangat indah. Bagai sedang mimpi, ada 3 orang ABG cantik telanjang bulat di depannya. Payudara dan selangkangan 3 dara cantik itu terlihat jelas dan tidak ditutupi sedikitpun oleh si masing-masing empunya ‘barang’.
“atas permintaan Pak Malih, sekarang Mang Asep sama Mang Karjo boleh ngesex sama Hyewon…”.
Sakura dan Chaewon pun menyingkir. Hyewon keluar dari belakang mereka. Kedua tangan Hyewon berada di belakang. Hyewon kelihatan benar-benar menggemaskan dengan pose seperti itu. Kali ini, giliran Asep dan Karjo yang tercengang melihat kemulusan tubuh Hyewon tanpa dihalangi apapun. Melihat ekspresi mupeng pada wajah Asep dan Karjo, Malih merasa bangga. Bangga karena wanita yang selama ini disenggamainya memang benar-benar cantik dan menggiurkan tak hanya baginya, tapi bagi laki-laki lain.
“bener nih, non ?”.
“kok nanya Sakura. tanya sama Pak Malih dong…”.
“bener nih, Pak ? boleh ?”. Malih mengangguk. Kedua pria tua mesum itu langsung maju, mendekati ‘hadiah’ persahabatan dari Malih untuk mereka. Hyewon langsung diapit oleh Asep dan Karjo.
“non Hyewon. kita bedua udah kebelet banget pengen ngentotin non Hyewon…”, ucap Asep lancang.
“iya, non. penasaran banget. akhirnya kesampean juga. hehehe !”. Hyewon hanya tersenyum.
Asep menuntun tangan kanan Hyewon ke selangkangannya, sementara tangan kiri Hyewon sudah ada di selangkangan Karjo.
“aa aahhmm eemmm eemmm”, Hyewon menggeliat-geliat manja kegelian. Kedua daun telinganya sedang digeluti dan dikelitik oleh Asep dan Karjo dengan lidah mereka. Tanpa disuruh, kedua tangan Hyewon mengusap-usap burung kedua penjaga villa itu yang masih terbungkus celana dan kolor. Basah dan geli, itu yang sedang dirasakan Hyewon. Dia mengulum bibir bawahnya menahan rasa geli. Asep dan Karjo senang sekali akhirnya mereka bisa menyentuh tubuh Hyewon. Payudara dan pantat Hyewon seempuk yang mereka bayangkan.
“hemmh hemmhhh emmm”, Hyewon merasakan setiap remasan-remasan kasar pada kedua buntalan daging kembarnya secara terus menerus. Kedua bongkahan pantatnya juga ditabuh-tabuh oleh Asep dan Karjo seperti gendang. Ditambah lidah 2 pria tua itu yang semakin lincah menggelitik daun telinga Hyewon. Sungguh rangsangan yang hebat. Namanya orang sudah ingin dari dulu, Asep dan Parjo begitu semangat merangsang gairah Hyewon.
“uummmm”, Hyewon terus menggumam manja. Dia belum pernah merasakan rangsangan dari 2 orang pria secara bersamaan.
“emmm emm uuhhmm hheemmhhh”, Hyewon mengangkat kepalanya, memberikan keleluasaan bagi Asep dan Karjo untuk mencupangi lehernya. Hyewon merasa begitu seksi dan sensual diciumi 2 pria sekaligus.
“ccpphh ccpphh”. Kedua pria penjaga villa itu mencumbui setiap jengkal leher Hyewon, tak ada yang terlewat sambil asik memainkan kedua daging kembar Hyewon. Mencengkram dan meremas-remasnya dengan kasar serta mencubit-cubit, memencet-memencet, dan memilin kedua puting Hyewon.
“ccpphhh hmmhhh cccpphhh”, sesekali Asep dan Karjo bergantian melumat bibir Hyewon. Lidah Hyewon terus melayani serangan demi serangan dari lidah Asep dan Karjo yang tak ada jedanya. Sekitar mulut Hyewon pun sampai basah karena air liur 2 pria tua itu. Kedua tangan Hyewon dinaikkan ke atas oleh Asep dan Karjo. Hyewon yang sudah sering ‘menyusui’ Malih tahu apa yang akan dilakukan Asep dan Karjo, pasti kemasan susunya yang akan menjadi sasaran berikutnya.
 |
| Karjo |
Hyewon pun bekerja sama, dia meletakkan kedua tangannya di belakang kepala, seperti penjahat yang menyerah pada polisi. Bedanya, Hyewon ‘menyerah’ bukan pada polisi tapi pada 2 penjahat tua yang akan banyak melakukan hal-hal mesum padanya.
“happh nyyemm”, kedua puting Hyewon langsung dicaplok Asep dan Karjo.
“aahhmmm hhemmmhhh uummmm emmmhhh !!! terusshhh Maaanggghhhh !!! oooohhmmm”, erang Hyewon. Nikmatnya sungguh luar biasa, Hyewon belum pernah merasakan sensasi seperti ini. Puting kanannya diemut-emut Asep sementara puting kirinya dikenyot-kenyot Karjo dalam waktu yang bersamaan. Sensasi yang benar-benar luar biasa dan tak pernah dirasakan Hyewon.
“pook ! pook ! pook !”, Karjo menampari pantat Hyewon beberapa kali sampai cukup berbekas di pantat Hyewon. Tangan Asep mulai menuju sasaran utamanya.
“emmm…”. Benar, tangan Asep mulai mengusik daerah pribadi Hyewon. Asep mengelus-elus dan mengucek-ngucek belahan bibir kemaluan Hyewon.
“aaahhhh uummmm eemmmm !!”, desah Hyewon dengan suara yang seksi.
Karjo juga sedang asik mengulas klitoris Hyewon. Hyewon benar-benar dirangsang habis-habisan oleh kedua pria tua itu.
“aah jangaan Maangghhh udaahh udaaahh !!”, Hyewon berusaha menutup kedua tangannya, tapi Asep dan Karjo menahan kedua tangan Hyewon dan terus menjilati ketiak Hyewon sampai majikan Malih itu menggeliat kegelian. Geli dan nikmat, sungguh campuran rasa yang benar-benar tiada duanya bagi seorang perempuan. Asep semakin bersemangat, yang tadinya dia membelai dan mengusap-usap vagina Hyewon dengan pelan dan lembut, kini dia seperti menggosok-gosok vagina Hyewon dengan tangannya. Sementara Karjo mengusap-usap klitoris Hyewon sambil ‘mengebor’ liang anus ABG cantik itu dengan jari tengah tangan kanannya.
“aaahh aahhh uuunnhhh !!”, desahan Hyewon semakin mengencang sebagai pelampiasan kenikmatan yang tengah ia rasakan sekarang.
“emmmmmm….”, gumam Hyewon merasa sesuatu sedang berusaha menyelip masuk ke dalam celah sempit miliknya. Jari telunjuk Asep masuk ke dalam vagina Hyewon dan mulai menggelitiki liang kewanitaan Hyewon.
“aaahh hhemmm uummhhh”, satu jari lagi masuk ke dalam ‘gua’ milik Hyewon, tapi bukan jari Asep melainkan jari telunjuk Karjo. Kedua pria tua nan jelek itu bekerja sama mengorek-ngorek kemaluan Hyewon. Desahan-desahan kenikmatan terus keluar dari mulut Hyewon, kedua tangannya pun memegangi bahkan menekan kepala Asep dan Karjo supaya mereka menyedot susunya itu lebih kuat lagi. Asep dan Karjo kelihatan kompak sekali ‘mengerjai’ Hyewon. Mereka kompak karena sudah biasa bekerja sama mengerjai Sakura. Sedangkan Hyewon, baru kali ini ia merasakan kenikmatan ganda seperti ini. Sudah kedua susunya dikenyot-kenyot, lubang pantatnya dicolok-colok, vaginanya pun dikorek-korek, benar-benar suatu kenikmatan yang takkan bisa ditahan lama-lama oleh Hyewon. Malih terpaku pada pemandangan yang ada di depannya. Batangnya sudah sekeras kayu, membuat tonjolan besar di celananya. Tidak mungkin kalau dia tidak terangsang melihat adegan yang tepat ada di kedua matanya.
Malih tak pernah melihat orang lain berhubungan intim secara langsung sebelumnya.
“Pak Maliiihhh…..”, Hyewon tetap mendesahkan nama supirnya itu, meskipun bukan Malih yang tengah menggerayangi tubuhnya melainkan 2 penjaga villa yang memang selama ini mengincarnya. Sambil mendesahkan nama Malih, Hyewon juga menatap Malih dengan kedua matanya yang sebentar merem sebentar melek karena keenakan, dan dia juga sempat tersenyum sebelum mengeluarkan desahan lagi. Seolah-olah Hyewon ingin mengatakan kalau dia membiarkan pria lain menyentuh tubuhnya karena permintaan Malih, dan Hyewon seperti ingin memberi tahu, walaupun pria lain yang tengah memberinya kenikmatan, namun Hyewon tetap memikirkan pria tua yang dicintainya yang tak lain adalah supirnya sendiri, Malih. Menyaksikan gadis cantik yang biasa disenggamainya sedang telanjang bulat di antara 2 pria tua berpakaian lengkap dan digerayangi oleh kedua pria tua itu, membuat Malih horny berat. Bahkan bukan hanya sekedar digerayangi saja, namun juga dirangsang. Payudara yang biasa ia kenyot setiap hari sekarang sedang disedot-sedot oleh Asep dan Karjo. Lubang pantat yang biasa ia kilik-kilik, kini sedang dicolok-colok oleh Karjo. Dan vagina yang biasa ia kobel-kobel setiap hari, sekarang Asep dan Karjo yang sedang mengorek-ngoreknya. Benar-benar pemandangan yang membuat Malih menjadi ‘panas’. Pandangan Malih pun teralihkan pada gerakan. Sakura dan Yena sedang berjalan ke arahnya. Seperti film porno, dimana ada 2 gadis muda nan cantik yang telanjang bulat sedang berjalan ke arahnya dengan gerakan yang begitu menggoda. Sedangkan Chaewon, malah merangkak perlahan mendekati Malih. Yena dan Sakura duduk mengapit Malih di tengah-tengah. Mereka berdua duduk menyamping.
“gimana, Pak ? ngeliat Hyewon digrepe-grepe Mang Asep sama Mang Karjo ?”, bisik Sakura. Malih tak menjawab, dia begitu ‘tegang’. Sudah disuguhi pemandangan yang sangat menegangkan, kini ditambah ada 2 gadis cantik yang tak mengenakan apapun duduk di samping kanan dan kirinya. Belum lagi, Chaewon yang semakin dekat dengan selangkangannya. Merasa selangkangannya terus diperhatikan Chaewon yang terus merangkak, membuat Malih merasa tongkatnya menjadi ‘buruan’ gadis imut itu.
“tenang aja, Pak. kalau Pak Malih cemburu, kita bantuin bapak supaya Hyewon cemburu juga…”, bisik Yena begitu menggoda sebelum mulai mengemut daun telinga kiri Malih. Sakura pun menjilati telinga kanan Malih. Malih merinding merasakan betapa gelinya saat kedua telinganya digeluti oleh Yena dan Sakura. Chaewon pun sampai, dia langsung membenamkan wajahnya ke selangkangan Malih. Tubuh Malih sedikit berkedut karena wajah Chaewon mengenai penisnya.
“cupp cuuphh cuupphh”, Chaewon menciumi tonjolan di celana Malih dengan seksama. Gadis imut terlihat sangat menikmatinya. Malih memang bermimpi bisa menggagahi Sakura, tapi sekarang malah melebihi mimpinya. Sekarang dia sedang ‘digoda’ oleh 3 gadis cantik sekaligus dan semuanya telanjang bulat. Sambil terus menggelitiki daun telinga Malih, Sakura menarik tangan kanan Malih dan menjepitnya dengan kedua pahanya. Yena pun melakukan hal yang sama.
Malih bisa merasakan betapa hangatnya selangkangan 2 bidadari cantik itu.
“cupphh cuphh”, Yena mulai menciumi pipi Malih. Sementara Sakura masih asik menggelitik telinga kanan Malih.
“malam ini, kita bertiga akan muasin bapak…”, desah Sakura di telinga Malih.
Malih tak percaya, 3 ABG cantik itu benar-benar sangat agresif dan nakal kepadanya, benar-benar seperti dalam mimpi saja. Tapi, kali ini Malih yakin kalau sekarang bukan cuma mimpi, karena dia merasa sedikit nyeri saat Yena menggigit telinganya agak kencang beberapa saat yang lalu. Sakura dan Yena pun menggunakan lidah mereka untuk menjilati wajah Malih. Aroma harum dari tubuh Yena, Sakura, dan Chaewon yang sedari tadi tercium oleh Malih kini tertutup oleh bau air liur Yena dan Sakura. Kedua gadis cantik itu pun menjilati bibir Malih. Secara refleks, Malih membuka mulutnya. Lidah Yena dan Sakura berebutan masuk ke dalam rongga mulut Malih. Biasanya Malih yang mengisap-isap lidah Hyewon, tapi sekarang lidahnya yang sedang diisap-isap oleh Sakura dan Yena. Kedua gadis itu bergantian menjulurkan lidah mereka ke dalam rongga mulut Malih. Sementara Chaewon mulai membuat celana Malih basah dengan lidahnya. Gadis imut itu tengah menjilati tonjolan pada celana Malih. Yena dan Sakura terus mengobok-obok rongga mulut Malih. Malih baru ingat, kedua tangannya ada di daerah ‘panas’ dari kedua gadis muda itu. Malih pun langsung mencolok masing-masing vagina Sakura dan Yena.
“uuummmmm”.
“emmm”. Keduanya pun spontan melirih pelan dan berhenti menjulurkan lidah mereka ke dalam mulut Malih. Sakura tersenyum dan perlahan mengangkat kaos Malih. Dan di bawah sana, Chaewon mulai membuka kancing dan resleting celana Malih. Malih pun menyenderkan kepalanya ke sofa sambil terus mengobel-ngobel kemaluan Yena dan Sakura. Enak sekali menjadi Malih saat ini, menengok ke kanan ada gadis cantik nan mulus, menengok ke kiri ada gadis manis nan semok, melihat ke bawah pun ada gadis imut nan menggemaskan, dan yang paling asik adalah ketiga gadis itu bugil, tak mengenakan sehelai benang pun. Malih tak menduga dia akan menjadi seperti sekarang. Dari pria tua yang hanya berprofesi sebagai tukang sampah dan tinggal sendirian, kini menjadi pejantan dengan batang kejantanan yang mampu menarik perhatian ‘kupu-kupu’ cantik dan indah seperti Hyewon dan 3 bidadari yang sekarang sedang ada di dekatnya. Andai saja teman-temannya yang dulu sering mengejek wajahnya kini melihatnya, pasti tak akan percaya, pikir Malih. Meski sedang dilayani 3 bidadari yang sekarang sedang berusaha menelanjanginya, Malih masih tetap ingat dengan Hyewon, majikan tersayangnya yang sering menemaninya di atas ranjang. Mata Malih terpaku pada tubuh Hyewon yang sedang dinikmati oleh Asep dan Karjo.
“aahhh aaahhh hhemmmhhh ooohhh OOOHHHH UUNNNGGGHHHH !!!!!”, erang Hyewon, tubuhnya mengejang, dia melepaskan puncak kenikmatannya karena sudah tak tahan lagi merasakan nikmatnya korekan-korekan di kemaluannya. Malih tak menduga, melihat Hyewon orgasme di tangan pria lain ternyata menimbulkan nafsu tersendiri baginya.
“hhh hhh hhuffhh”, Hyewon mengatur irama nafasnya setelah orgasme, namun vaginanya masih tersumbat dengan jari telunjuk Asep dan Karjo. Permukaan payudara Hyewon basah dengan air liur dan juga banyak bekas-bekas merah, akibat cupangan-cupangan 2 penjaga villa itu.
“emmm mmmhhh uummmm”, Asep dan Karjo memasukkan jari telunjuknya ke dalam mulut Hyewon. Tanpa disuruh, Hyewon mengulumnya dan mencicipi cairan vaginanya sendiri.
“gimana, non ? enak kan kita kobel-kobel memeknya ?”, Karjo melecehkan Hyewon.
“emm….”, Hyewon hanya menggumam dan sedikit mengangguk.
“HAHAHAHA !! coba dari dulu non Hyewon mau di entot sama kita bedua, pasti non Hyewon bakal ketagihan kayak non Sakura. GAHAHA !!!”, ledek Asep menambahkan sambil tertawa keras, merasa menang karena telah berhasil ‘mempecundangi’ Hyewon. Tentu saja Asep dan Karjo merasa menang. Dari pertama bertemu, Hyewon selalu menolak bahkan menjauh dari Asep dan Karjo, tapi tadi Hyewon sendiri yang mengakui kalau vaginanya terasa enak saat dikobel-kobel oleh mereka berdua.
“ayo, Sep. angkat kakinya non Hyewon. gue pengen ngejilat memeknya non Hyewon, penasaran gue dari dulu”.
“enak aje lo ! gue dulu !”.
“kagak, gue dulu !”. Hyewon tersipu malu, wajahnya agak memerah. Hyewon mungkin bukan gadis baik-baik, namun dia merasa malu, belum pernah ia diperebutkan 2 lelaki. Well, secara teknis, Hyewon memang sering diperebutkan lelaki, namun dia belum pernah mendengarkan 2 pria bertengkar untuk ‘memperebutkan’ vaginanya. Itu yang membuat Hyewon merasa malu.
“Mang Karjo aja dulu….”, ucap Hyewon tertunduk malu.
“tuh kan gue dulu. udeh, mendingan lo pegangin kakinya non Hyewon, Sep. KEKEKE !!”, ujar Karjo merasa menang. Tentu Asep kelihatan tak senang. Malih melihat Hyewon yang berbeda. Kalau dengannya, Hyewon begitu agresif dan nakal, tapi kenapa sekarang majikannya itu terlihat pemalu sekaligus tersiksa. Dengan wajah cemberut, Asep mendekap tubuh Hyewon dari belakang, menahan pinggang Hyewon saat dia mengangkat kaki kanan Hyewon setinggi-tingginya. Karjo langsung mengambil posisi di depan daerah pribadi Hyewon. Kaki kiri Hyewon yang masih menapak sementara kaki kanannya terangkat tinggi sekali, membuat kedua kaki Hyewon seperti membentuk jarum jam saat pukul 16.45. Karjo memandangi bukit indah nan menggiurkan milik Hyewon. Hidung Karjo pun dipenuhi aroma yang begitu harum dari selangkangan Hyewon. Emang udah hukum alam kali, cewek cakep pasti memeknya wangi, pikir Karjo yang sudah sering menikmati ‘surga dunia’ milik gadis-gadis cantik lainnya yakni Sakura, Yena, dan Chaewon.
“aaaahhhhmmm…”, lirih Hyewon pelan saat merasakan ada ‘kontak’ di celah sempit miliknya. Cairan vagina Hyewon yang masih sedikit ada di kemaluannya setelah orgasme sebelumnya tentu langsung dijilat habis oleh Karjo. Gurih, asin, dan cukup manis, perpaduan rasa yang asik, membuat Karjo ingin lebih banyak mendapatkannya.
“aahh hhemmm uumm oohhh”, desahan Hyewon terdengar begitu keenakan. Bagaimana tidak, Karjo sungguh lihai menggunakan lidahnya baik untuk membelai vagina Hyewon maupun mengorek-ngorek dalamnya.
Tidak mungkin kalau Karjo tidak piawai menjilati alat kelamin seorang wanita. Pria tua itu setidaknya sudah 15 kali ‘menyantap’ vagina Sakura, tak heran kalau lidahnya sudah sangat terlatih. Hyewon tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sedang keenakan. Asep membuat Hyewon menengok dan langsung menyambar bibir mungil nan lembut bidadari cantik itu. Sementara tangan satunya yang tidak memegangi kaki Hyewon, sibuk meremasi atau mungkin lebih tepatnya menikmati betapa empuk dan kenyalnya payudara Hyewon.
“hhemmmhhh”, Hyewon menggumam agak kencang,
Asep iseng memelintir puting kirinya. Karjo terlalu hebat memainkan lidahnya, Hyewon sampai tak tahan lagi menahan terpaan rasa nikmat yang berasal dari kemaluannya. Ditambah kedua putingnya yang mengeras karena terangsang, senantiasa dipilin-pilin oleh Asep secara bergantian.
“UUUUMMMHHHHH !!!!”, erang Hyewon lepas dan menekan kepala Karjo ke ‘curug’ miliknya. Curug atau air terjun yang sebentar lagi akan mengucurkan sumber mata air yang nikmat dan ‘menyegarkan’.
“OOOUUHHHHHH !!!!”, lenguh Hyewon. Karjo langsung menyeruput ‘sirup’ yang berasal dari vagina Hyewon dengan rakus. Tak hanya sekedar menyeruput, Karjo juga menyedot kuat bagai lintah yang sedang menghisap darah. Tubuh Hyewon berkedut-kedut merasa sisa-sisa kenikmatan.
“gimane rasanya, Jo ?”.
“beuh. MAKNYUUS ! LAAZIISS !!!”, ekspresi Karjo yang menunjukkan kalau rasa ‘alat kawin’ milik Hyewon benar-benar lezat. Asep pun menurunkan kaki Hyewon. Akhirnya Hyewon bisa berdiri dengan kedua kaki. Pegal sekali menahan tubuh dengan satu kaki. Selangkangan Hyewon benar-benar basah kuyup, banjir air liur Karjo.
“ayo non. sini memeknya, giliran Mang Asep yang jilatin !”, seru Asep yang sudah tidur terlentang. Seperti budak, Hyewon pun menuruti, dia sudah mengambil ancang-ancang akan jongkok tepat di atas wajah Asep. Istilah ‘ketiban memek’ yang sering diucapkan Asep benar-benar sangat tepat untuk sekarang. Hyewon semakin rendah, vaginanya akan tepat jatuh ke wajah Asep.
“aaaahhhh !!!”, pekik Hyewon agak terkejut ketika Asep menarik pinggulnya ke bawah dan langsung menyerbu vagina Hyewon dengan ganas.
“emmmm…”, Hyewon mengulum bibir bawahnya sambil melirih pelan, dia merapatkan kedua kakinya menjepit kepala Asep yang sedang didudukinya agar tak ‘longgar’. Posisi ini adalah posisi paling familiar bagi Hyewon dalam menerima ‘serangan’ pada vaginanya. Familiar karena ini posisi menjilat vagina yang paling disukai Malih. Malih suka sensasi saat wajahnya dikangkangi oleh Hyewon sebab posisi ini membuat Malih merasa begitu berkuasa atas vagina Hyewon dan vagina Hyewon hanya untuknya, ditambah wangi dan harum daerah kewanitaan Hyewon sangat tajam tercium dalam posisi ini. Saking sukanya, Malih betah dikangkangi Hyewon lebih dari 15 menit, bahkan pernah sampai 1 jam penuh Malih menikmati ‘kolong’nya Hyewon karena Hyewon juga tak mengangkat-angkat vaginanya dari wajah Malih waktu itu.
“ooohhhmmm uummmhhh iyaaaa Maaanggghhh teeruuussshhh di siituuuhhhh”, desah Hyewon begitu liar.
Saking keenakannya, Hyewon berputar dan berpegangan pada dada Asep agar bisa menggerakkan vaginanya yang terasa semakin gatal ke wajah Asep. Tak hanya maju-mundur, Hyewon pun menggoyang-goyangkan pinggulnya, sengaja ingin menggilas wajah Asep dengan vaginanya. Pemandangan yang sensual dan erotis ketika Hyewon terlihat begitu menikmati dan terus menggerakkan pinggulnya, ‘memarut’ vaginanya di wajah Asep.
“ooohhh ooohhh uuummmhhh”, desah Hyewon semakin liar menggesek-gesekkan vaginanya dengan wajah Asep. Sementara Hyewon sedang menikmati service Asep di kolongnya, Malih kini sudah sama dengan 3 ‘setan’ cantik yang sedang bersamanya, sama-sama telanjang bulat. Cuma ada 1 tongkat sakti, namun ada 3 ‘penyihir’ yang ingin memakai tongkat tersebut, cukup merepotkan. Yena, Chaewon, apalagi Sakura, tak bisa mengalihkan pandangannya pada benda tegak yang berdiri di selangkangan Malih. Ketiganya berebutan ingin menyentuh dan membelainya. Ketiga dara cantik itu tak menyangka, Malih yang umurnya sudah tua punya batang kejantanan yang sangat ‘jantan’.
Diameternya besar, panjangnya mungkin 1 jengkal, belum lagi banyak urat di batangnya. Baik Chaewon, Yena, ataupun Sakura, ketiganya merasa kagum dengan senjata Malih yang kelihatan masih dalam keadaan prima. Pantas saja, Hyewon sampai klepek-klepek, pikir Sakura sambil tersenyum. Ngomong-ngomong soal Hyewon, Sakura lupa dengan sahabatnya. Sakura kembali tersenyum melihat Hyewon yang kelihatan sangat seksi dengan menggesek-gesekkan kemaluannya sendiri di atas wajah Asep. Malih merasa bangga, penisnya kelihatan sangat menarik perhatian ketiga gadis muda yang sedang mengerubutinya.
“buka lebih lebar dong, Pak…”, pinta Chaewon.
Malih membuka pahanya lebih lebar dan memajukan pantatnya sehingga benar-benar di ujung sofa. Pria tua itu sudah tak sabar ingin merasakan alat kawinnya dijilati 3 ABG yang semuanya cantik secara bersamaan. Yena langsung menggenggam batang kejantanan Malih. Tentu dengan panjang seperti itu, satu tangan Yena saja tak cukup untuk menggenggam senjata Malih. Tangan Sakura lah yang memegang sisa panjang batang Malih sampai ke pucuk penisnya. Sementara Chaewon menampung kantung buah zakar Malih dengan tangan kanannya, dan menggunakan telunjuknya untuk mengusap-usap kedua biji kemaluan Malih seperti orang yang mengelus-elus hewan kecil. Yena dan Sakura yang memegangi batang Malih cukup terkejut. Ternyata penis pria tua itu begitu kekar, kokoh, dan juga keras, hampir mirip sebatang kayu. Benar-benar tak diduga-duga. Dengan kompak, tangan Sakura dan Yena bergerak ke atas dan ke bawah secara bersamaan.
“oooh”, Malih merasa keenakan, tangan ketiga dara cantik itu terasa halus dan lembut, sangat mengenakkan.
Sambil mengocok perlahan, Yena dan Sakura bergantian mencumbu bibir Malih. Melihat Malih sekarang seperti melihat seorang raja yang sedang dilayani oleh ketiga selirnya. Malih tinggal duduk menikmati permainan ketiga selirnya yang sangat agresif dan aktif merangsangnya. Tak lupa Malih menggerakkan jarinya untuk mengorek-ngorek vagina Yena dan Sakura.
Yena dan Sakura bisa merasakan betapa ‘panas’nya tongkat sodok milik Malih. Begitu juga Malih, dia bisa merasakan betapa hangat dan lembabnya alat kelamin Sakura dan Yena.
“cuupphh ccpphh”, di bawah sana, Chaewon mulai menciumi kantung pelir Malih.
Seperti tak mau kalah, Yena dan Sakura pun mengambil posisi untuk mendekatkan wajah mereka ke batang Malih. Terpaksa jari Malih harus keluar dari ‘mainan’nya. Sofanya ada 3 dudukan, dan Malih duduk di tengah-tengah, jadi memudahkan Sakura dan Yena untuk mengambil posisi sedemikian rupa.
“ccupp cuuphh cupphh”. Sekujur batang kejantanan Malih dikecup bertubi-tubi oleh Sakura dan Yena, dan Chaewon juga asik mengecupi kantung biji kemaluan Malih.
Sambil menikmati onderdilnya yang sedang diciumi oleh ketiga gadis cantik, Malih pun mendapatkan tontonan yang sangat sensual. Benar-benar sore yang sangat ‘panas’ bagi Malih. Namun, Malih berpikir juga. Mengapa ABG-ABG cantik dan sexy seperti Yena, Sakura, Chaewon, dan Hyewon mau-maunya melayani nafsu lelaki tua seperti Asep, Karjo, dan dirinya. Padahal, dengan wajah dan tubuh aduhai, mereka berempat tentu bisa menggaet lelaki tampan dan kaya dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Pasti ada yang salah dengan keempat bidadari tersebut, pikir Malih. Apakah terjadi sesuatu pada mereka di masa kecilnya sampai punya kelainan, suka ngesex sama pria yang jauh lebih tua dari mereka, sebab gadis normal tentu lebih suka berhubungan intim dengan pria sebaya, mungkin ada juga yang suka bersetubuh dengan pria tua, namun sepertinya tak sampai dengan pria yang hampir kakek-kakek, pikir Malih lagi.
“ooohhhh”, desah Malih tersadar dari lamunannya. Dia merasa gelitikan nan hangat pada batang dan pelirnya. Memang benar, ketiga dara cantik itu sudah mulai menggunakan lidahnya. Yena, Sakura, dan Chaewon yang sudah biasa berhadapan dengan penis laki-laki tentu tahu benar cara memanjakan kemaluan Malih dengan lidah mereka.
“ooohh oohhh”, Malih merem-melek keenakan, mendapatkan belaian dari 3 lidah sekaligus tentu memberikan kenikmatan luar biasa untuk Malih.
Kemaluan Malih seperti sedang ‘dimandikan’ oleh Chaewon, Sakura, dan Yena. Hanya ada 2 lidah yang pernah menyentuh alat kawin Malih, pertama lidah almarhum istrinya, dan kedua, lidah Hyewon. Tapi lihat sekarang, ada 3 batang lidah yang sedang melata di sekitar kemaluan Malih, 3 lidah dari 3 orang gadis muda nan cantik yang baru saja ia kenal kemarin. Kehidupan Malih benar-benar berubah 180 derajat semenjak bertemu. Sudah bisa menyenggamai Hyewon setiap hari bagai istri sendiri, sekarang Malih malah sedang dilayani 3 sahabat majikannya. Malih sungguh merasa sangat beruntung karena hidupnya yang sekarang adalah mimpi setiap pria tua sepertinya, yakni bisa menikmati tubuh ABG cantik semaunya. Rasa nikmat semakin dirasakan Malih saat kepala penisnya mulai diemut-emut Yena, sedangkan batang sampai pangkalnya sedang dijilati Sakura, dan buah pelirnya sedang di’makan’ oleh Chaewon. Kemaluannya benar-benar di’santap’ habis-habisan oleh ketiga ABG itu.
Sakura dan Yena bergantian mengemuti kepala penis Malih dan menjilati batang kejantanan Malih. Sementara Chaewon yang hanya kebagian ‘sarang’nya, melakukan yang biasa ia lakukan.
“aahhh”, tubuh Malih bergetar, merinding saat merasa nikmat tapi aneh di anusnya.
Ternyata lubang pantatnya sedang dijilati Chaewon. Meski hanya kelihatan matanya, tapi Malih tahu kalau Chaewon tersenyum, seakan dia ingin menunjukkan kalau dia menjilati lubang anus pria tua itu dengan senang hati dan dengan kemauan sendiri. Rasanya nikmat sekali, apalagi saat lidah Chaewon terasa keluar masuk lubang anusnya. Tak disangka, ABG yang mukanya paling imut malah lebih nakal dan lebih berani main ‘kotor’ dibandingkan yang lainnya, pikir Malih. Sementara itu, Hyewon masih menggoyangkan pinggulnya di atas wajah Asep. Asep pun ‘gemas’, dia memegang dan menahan pinggang Hyewon. Otomatis vagina Hyewon pun jadi diam di tempat, memudahkan Asep untuk mengubek-ubek kemaluan indah nan wangi itu dengan semaunya.
“aaahhh aaahhh aaahhhh hhummmm emmmmhhh”, desah Hyewon merasakan nikmatnya lidah Asep yang mengorek-ngorek bagian dalam vaginanya.
Karjo yang sedari tadi hanya meremasi payudara Hyewon dari belakang dan sesekali melumat bibir Hyewon, mengambil inisiatif. Karjo meletakkan kepalanya di perut Asep dengan muka menghadap ke atas. Dia menarik Hyewon ke bawah sehingga kedua buah payudara Hyewon menggantung indah tepat di depan wajahnya. Tentu Karjo langsung menggenggam satu buah payudara Hyewon dan menyambar buah payudara Hyewon yang satunya lagi dengan mulutnya, dia mulai mengenyot kemasan susu Hyewon bagai bayi yang sedang ngepeng.
“aaahh aahhh ooohhh uummhhh mmmhhh”, desahan Hyewon semakin menjadi-jadi. Belum pernah ia merasa sensasi nikmat seperti ini karena memang dia belum pernah dikeroyok seperti sekarang. Kedua tangan Hyewon yang menahan tubuhnya sendiri seakan tidak kuat menahan berat badannya sendiri sehingga Hyewon terjatuh. Karena Hyewon jatuh, tentu kedua payudaranya menimpa Karjo dan seperti ‘menimbun’ wajah Karjo. Karjo malah suka sensasi itu, dia merasa seperti sedang di’bekap’ dengan payudara Hyewon. Tapi, tetap saja, Karjo bisa kehabisan nafas. Hyewon pun mengangkat payudaranya kalau punggungnya sudah ditepuk-tepuk Karjo yang menandakan kalau dia kekurangan udara. Tubuh Hyewon seperti mobil yang sedang diservice oleh 2 montir saja. Asep seperti montir yang sedang menguras ‘oli’, sedangkan Karjo seperti montir yang sedang mengecas ‘aki’.
“AAAHHH OOOOHHH !!!! ENNNGGGHHHH !!!!!”, erang Hyewon sambil menekan vaginanya ke bawah. Vagina Hyewon mulai mengucurkan sari patinya. Tentu Asep sudah siap meminumnya dan merasakan betapa segar dan enaknya ‘sari’ rasa vagina Hyewon.
“ssllrrppp !! emmm..enaakk !!! srruuupphhhh !!”, komentar Asep di sela-sela aktivitasnya menyeruput ‘kuah’ vagina Hyewon. Lidah Asep terus mengorek-ngorek sisa cairan vagina yang mungkin masih tertinggal di liang kewanitaan Hyewon. Hyewon hanya bisa diam dan tetap dalam posisi.
“aah ahh”, desah Hyewon kecil merasakan lidah Asep terus mengorek kemaluannya.
“aahh ! non Hyewon punya memek enak gini. kenapa gak bilang sama Mamang sih, non ? HAHAHA !!”, ejek Asep.
“iye ye, Sep. non Hyewon pelit”, timpal Karjo seraya bangun setelah puas mencicipi kedua buah payudara Hyewon.
“ayo non, bangun. pokk pokk !”, Asep menepuk pantat Hyewon agar segera bangun. Dengan perlahan, Hyewon berdiri, mengangkat vaginanya yang basah kuyup karena air liur, dari wajah Asep. Karjo yang sudah telanjang bulat langsung mendekap tubuh Hyewon dari belakang.
“noon….otong Mang Karjo udah pengen masuk ke dalem niiih….”, bisik Karjo di telinga Hyewon dari belakang untuk memancing gairah dara cantik itu. Karjo pun iseng menggesek-gesekkan penisnya ke belahan pantat Hyewon.
“gimana, non ? otong Mang Karjo anget kan ? gede kan ?”.
“emmmm….”, jawab Hyewon.
“non Hyewon udah nggak sabar kan pengen disodok sama Mang Karjo ??”, leceh Karjo sambil asik menciumi pundak kanan Hyewon.
“hee emmmhhhh”, lirih Hyewon.
Tak mungkin kalau Hyewon menolak. Dia sudah dalam keadaan terangsang dan sudah 3x orgasme, tak mungkin kalau bidadari cantik itu tak mau digagahi. Lagipula, Malih yang menyuruhnya untuk melayani kedua pria tua itu, tak mungkin Hyewon membantahnya. Saat Hyewon sedang menikmati belaian penis Karjo pada pantatnya, Asep sudah berdiri di depannya, dan sudah telanjang dengan batang kejantanan yang sudah mengacung tegak, siap untuk ‘mengaduk’. Asep membelai belahan vagina Hyewon dengan kepala penisnya.
“pokoknya sekali kita tojos, non Hyewon pasti ketagihan. HEHEHEHE !!!!”, ejek Asep begitu melecehkan Hyewon.
“ehhmm mmmhhh”, Hyewon hanya mendesah pelan.
Benar-benar pemandangan yang terlihat begitu menggairahkan. Seorang gadis cantik yang masih muda, berkulit putih mulus, dan bertubuh padat berisi seperti Hyewon, sedang terjepit di antara 2 pria tua yang tengah asik merangsangnya. Hyewon kelihatan begitu tak berdaya, terjepit di antara Asep dan Karjo. Dia pasrah, namun menikmati vagina dan pantatnya digesek-gesek kedua penjaga villa yang sudah tua itu seakan-akan Hyewon suka dirangsang sekaligus di’goda’ seperti ini.
“tapi sebelum kita tuncep, non harus kenalan dulu sama otong kita berdua. hehehe !”.
“iya non. tak kenal maka tak sayang, non. KEKEKE !!”.
“emmm”. Hyewon mengangguk dan mulai turun, bersimpuh, bertumpu pada kedua lututnya di tengah-tengah Asep dan Karjo. Hyewon yang sudah biasa melayani nafsu Malih tentu tahu apa yang diinginkan pria sebelum mulai ‘perang’. Kuluman pada kemaluan adalah foreplay yang banyak diinginkan para pria.
“ayo non. seponginnya yang enak yaa. hehehe…”, pesan Karjo. Hyewon tersenyum sambil mengangguk. Dalam posisi bersimpuh seperti itu, Hyewon terlihat seperti ‘menyerah’ ditodong senjata milik Asep dan Karjo. Hyewon pun langsung menggenggam batang ‘pisang’ yang ada di kanan dan kirinya dengan kedua tangannya.
“cuupp cuupp cuuppphh”, secara bergantian, Hyewon mengecupi kedua penis itu. Sebentar penis Asep, sebentar penis Karjo.
“hemm mmm”, lidah Hyewon menjulur keluar membelit batang penis Asep dan Karjo bergantian.
“ooh enaaakk non, teruusshhh”, erang Asep. Karjo dan Asep merem-melek keenakan, Hyewon memang benar-benar piawai dalam hal ‘mengkaraoke’ kemaluan pria.
Hyewon pun mengilik-ngilik lubang kencing kedua pria tua itu. Buah pelir Asep dan Karjo pun tak luput dari belaian lidah Hyewon. 2 ‘pisang’ dan 4 ‘telur puyuh’ itu sangat dinikmati oleh Hyewon. Seolah-olah Hyewon ingin membalas budi akan kenikmatan yang mereka berikan kepadanya tadi. Hyewon kelihatan sibuk sekali, apalagi saat dia menggerakkan kepalanya maju mundur untuk mengocok penis Asep dengan mulutnya dan tak lama kemudian berpindah ke penis Karjo, dan begitu seterusnya sementara kedua tangan Hyewon juga sibuk memijati kantung zakar Asep dan Karjo. Malih sedang memegangi batangnya yang sebentar lagi akan dijepit kemaluan Yena. Ya, Chaewon dan Sakura yang sekarang ada di samping Malih, menghimpit kepala Malih dengan payudara mereka. Sementara Yena sedang memposisikan vaginanya tepat di atas penis Malih.
“emmmmm”, lirih Yena saat merasa ‘tiang’ Malih menusuk masuk.
Yena bisa merasakan tiap senti dari batang Malih yang kekar. Nikmat dan hangat liang kewanitaan Yena. Malih tak bisa melihat batangnya lagi karena sudah di’sembunyi’kan oleh vagina Yena.
“emmm…”, Yena mulai menggerakkan pinggulnya. Malih hanya tinggal diam, duduk manis, dan membiarkan 3 ABG itu yang bekerja. Benar-benar seperti raja yang sedang dilayani 3 selirnya. Malih mengelus-elus pinggang Yena yang ramping dan sesekali meremas kedua buah payudara gadis manis itu. Sementara itu, Sakura dan Chaewon senantiasa menyuguhkan kedua ‘susu’ mereka untuk dikenyot-kenyot oleh Malih. Malih hanya tinggal menengok ke kiri jika mau menyusu pada Chaewon dan tinggal menengok ke kanan jika mau menyedot payudara Sakura sambil terus menikmati vagina Yena yang sedang mengocok penisnya.
“mmm eemmm oooh oohhh oohhhh”, semakin digoyang, Yena merasa semakin nikmat. Liang kewanitaanya seolah-olah sedang disikat-sikat oleh batang kebanggaan Malih. Melihat ekspresi wajah Yena dan goyangannya yang semakin bersemangat juga desahannya membuat Sakura jadi penasaran dengan kejantanan milik Malih. Kedua tangan Malih kembali bergerilya seperti sebelumnya.“ummm”.
“emmmm..Paaak…”. Chaewon dan Sakura mendesah manja saat merasa 2 jari menusuk masuk ke liang vagina mereka. Dua-duanya terasa hangat, cenderung ‘panas’ dan juga sangat lembap.
“ck ck ck ck”, bunyi kecipak air pelan. Vagina Sakura dan Chaewon sudah becek.
“emmm umm mmhhh hmmmhh oohhh”, gumaman, lirihan, desahan ketiga bidadari itu mengalun indah di telinga Malih.
Dengan kedua tangan dan ‘toya sakti’nya, pria tua itu mampu memberikan kenikmatan ke 3 gadis belia sekaligus. Sakura, Yena, dan Chaewon pun menunjukkan ‘lesbian triangle sex live show’ milik mereka untuk memanjakan mata Malih. Ketiganya menjulurkan lidah dan saling membelit, menyangkut, dan mengulum seolah sedang membagi air liur satu sama lain. Melihat 3 gadis secantik Yena, Chaewon, dan Sakura menjilati lidah satu sama lain benar-benar pemandangan yang sungguh menggairahkan, membuat Malih semakin ‘keras’ yang tentu memberikan tambahan kenikmatan ke Yena yang sedang ‘menjepit’ penis Malih dengan vaginanya.
“aah aahh aahh aahh”, desahan Yena semakin pendek, goyangan pinggulnya semakin cepat dan seperti tak sabar.
“AAAHHH AAAAHHHHH OOOUUHHH !!!!!”, erang Yena menekan vaginanya ke bawah sehingga kepala penis Malih yang sudah mentok semakin memberikan sensasi nikmat luar biasa.
Malih merasa burungnya disiram dengan cairan yang begitu hangat. Yena mengatur nafasnya dengan penis Malih masih mengait vaginanya.
“emm mmhh”, desah Yena manja sambil tersenyum nakal saat Malih sengaja menggerakkan pinggangnya beberapa kali untuk ‘menggoda’ Yena.
Yena mengangkat vaginanya melepaskan jepitan pada penis Malih. Terlihat penis Malih yang berkemilauan karena bermandikan cairan vagina Yena. Tanpa diminta, Chaewon, si gadis imut, langsung mengangkangi penis Malih. Tubuh mungilnya menegang, namun vaginanya langsung menelan penis Malih dengan 1 kali telan. Chaewon memang merasa ngilu namun dia malah suka. Malih merasa liang vagina Chaewon sempit luar biasa. Penisnya benar-benar terjepit kencang.
“ooohh”, kali ini Malih yang mendesah. Nikmat sekali goyangan Chaewon. Gadis mungil itu tersenyum. Bertubuh mungil memang sangat menguntungkan Chaewon karena artinya anus dan liang vaginanya juga lebih ‘minimalis’ sehingga lelaki ketagihan menyenggamainya. Tubuh mungil dan wajah imut tentu membuat lelaki gemas padanya dan akan mengasarinya yang mana Chaewon sangat suka hal itu. Malih juga sama, dia gemas dengan payudara mungil namun membulat sempurna milik Chaewon. Malih pun memilin pelan kedua puting Chaewon.
“aaahhhmmm”, desah Chaewon manja dan mempercepat goyangannya. Malih semakin gemas, dia memelintir lebih kencang lagi. Chaewon malah semakin cepat menggerakkan pinggulnya. Malih bingung, padahal kedua putingnya sudah dipelintir sampai 360 derajat, tapi sama sekali tak terlihat, malah gadis imut itu terlihat semakin bergairah. Malih tak tahu kalau birahi gadis imut bertubuh mungil itu semakin terbakar jika dikasari. Tangan Yena dan Sakura merayapi tubuh Malih. Mengusap-ngusap perut dan dada Malih yang sudah keriput bagaikan 2 betina yang sedang merayu pejantannya untuk memberikan benihnya.
“emm emmm emmm”, gumam Chaewon. Gadis imut itu terus menggoyang dan mulai mempercepat goyangannya. Chaewon ‘membekap’ wajah Malih dengan payudaranya. Tentu pria tua itu langsung menyantap ‘bakpau’ Chaewon dengan lahap. Gerakan Chaewon semakin cepat seiring nafasnya yang semakin memburu.
“aah aahh aaahh aaahh EMMMMHHH !!!”. Sekali lagi, penis Malih diguyur cairan vagina. Padahal Malih cuma duduk diam, tapi senjatanya mampu memberikan nikmat kepada 2 gadis muda bahkan sampai mereka orgasme. Chaewon pun mundur, menjauhkan payudaranya dari jangkauan mulut Malih yang ‘lapar’.
“mmmhhh cccpphh ccpphhh”, Yena berciuman dengan Malih. Lidah mereka saling belit dengan asiknya. Sementara Sakura sedang mengemut-emut payudara Chaewon. Chaewon pun turun dari tongkat Malih. Kini giliran si bidadari impian Malih yang ‘mengendarai’ tongkat perkasanya. Sakura pun tersenyum nakal. Dia mengangkat kaki kirinya perlahan. Sakura memposisikan vaginanya dengan gerakan yang sensual, dia sengaja ingin merangsang birahi Malih dengan gerakan tubuhnya yang sensual. Sakura sangat mahir dalam menggoda pria dengan gerakan tubuhnya. Karjo dan Asep pun pernah menggempur Sakura dari pagi sampai malam karena ‘gemas’ dengan godaan Sakura.
“emmm….”, suara desahan Sakura dengan suara manja menggoda seraya menurunkan tubuhnya perlahan. Sakura terlihat begitu menikmati setiap jengkal penis Malih yang ditelan vaginanya.
“hemmmmhhh”, Sakura tersenyum kembali tapi kedua matanya setengah merem. Kelihatan sangat meresapi betapa ‘panas’ dan kerasnya tongkat Malih. Malih juga demikian, pria tua itu nampak begitu meresapi kehangatan liang vagina Sakura dan cengkraman dinding kewanitaan Sakura pada batang kejantanannya. Burung Malih sudah bersarang pada ‘sarang’ milik Sakura. Kini, pria tua nan kurus kering itu ‘terhubung’ dengan bidadari muda nan montok. 2 insan manusia beda generasi itu terhubung karena alat reproduksi mereka yang menyatu.
Comments
Post a Comment